SIFAT DASAR DAN KEGUNAAN KAYU KALIMANTAN
1.
Dr. Djarwanto, M.Si
2.
Listya Mustika Dewi, S.Hut.
3.
Drs. Muhammad Muslich, M.Sc.
4.
Dra. Jasni, M.Si.
5.
Dra. Sihati Suprapti
6.
Prof. Dr. Gustan Pari, MS.
7.
Abdurachman, ST.
8.
Dian Anggraini Indrawan, S. Hut., MM.
9.
Ir. Efrida Basri, M. Sc.
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BOGOR, DESEMBER 2014
SIFAT DASAR DAN KEGUNAAN
KAYU KALIMANTAN
Bogor, Desember 2014 Mengetahui Ketua Kelti, Dr. Krisdianto, S.Hut., MSc. NIP. 19731001 199803 1 002Ketua Tim Pelaksana,
Dr.Drs. Djarwanto, MSi. NIP. 19590529 198003 1 002 Menyetujui Koordinator, Drs. Muhammad Muslich, M.Sc. NIP. 19500808 198203 1 003 Mengesahkan Kepala Pusat, Dr. Ir. Rufi’ie, MSc. NIP. 19601207 198703 1 005
iii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... vi Abstrak ... viii BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A.Latar Belakang ... 1B. Tujuan dan Sasaran ... 2
C. Luaran ... 2
D. Hasil yang Telah Dicapai ... 2
E. Ruang Lingkup ……….3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 5
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 7
A.Lokasi Penelitian ... 7
A.Bahan dan Peralatan ... 7
B. Prosedur Kerja ... 7
C. Analisa Data ... 21
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……… ,,, 22
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………,,,41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil penelitian sifat dasar kayu tahun 2009 s.d 2013 2 Tabel 2. Kriteria kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas 11
Tabel 3. Spesifikasi mesin penguji sifat pemesinan 13
Tabel 4. Klasifikasi sifat pemesinan 14
Tabel 5. Penilaian derajat serangan rayap 14 Tabel 6. Klasifikasi ketahanan kayu tehadap rayap kayu kering
berdasarkan penurunan berat
15
Tabel 7. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat
15
Tabel 6. Klasifikasi ketahanan kayu tehadap rayap kayu kering berdasarkan penurunan berat
15
Tabel 7. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat
15
Tabel 8. Kelas keawetan kayu berdasarkan umur rata-rata pemakaian 16
Tabel 9. Kelas ketahanan kayu terhadap jamur 17
Tabel 10. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut 17
Tabel 11. Klasifikasi keterawetan kayu 18
Tabel 12. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan persentase cacat pecah ujung dan atau permukaan contoh uji kayu
19
Tabel 13. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan perbedaan 2 ukuran tebal (cacat deformasi) pada arah radial contoh uji kayu
19
Tabel 14. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan jumlah cacat pecah pada bagian dalam contoh uji kayu
19
Tabel 15. Jenis kayu asal Kalimanatan Timur yang diteliti tahun 2014 22 Tabel 16. Daftar ciri makroskopis dan mikroskopis kayu 27
Tabel 17. Rata-rata dimensi serat 2 jenis kayu 27
Tabel 18. Nilai turunan dimensi dan kualitas serat 28 Tabel 19. Nilai rata-rata sifat fisis kayu yang diteliti 28 Tabel 20. Nilai rata-rata hasil pengujian sifat mekanis kayu meranti merah
dan meranti putih yang diteliti
v
Tabel 21. Rata-rata pengurangan berat, kelas ketahanan, jumlah rayap tanah yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu
31
Tabel 22. Rata-rata pengurangan berat, kelas ketahanan, jumlah rayap kayu kering yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu
32
Tabel 23. Persentase kehilangan berat kayu Jawa dan kelas resistensinya 33 Tabel 24. Intensitas serangan penggerek kayu di laut terhadap 2 jenis
kayu
33
Tabel 25. Kelas keterawetan bahan pengawet CCB terhadap dua jenis kayu
34
Tabel 26. Sifat pengeringan suhu tinggi dua jenis kayu
Tabel 27. Jenis kayu Kalimantan Timur yang diteliti terhadap sifat pengkaratan
36
Tabel 28. Rata-rata pengurangan berat sekrup pada kayu yang diteliti TH 2013 selama 12 bulan pemasangan
37
Tabel 29. Rata-rata pengurangan berat sekrup pada kayu Parashorea selama 12 minggu pemasangan
37
Tabel 30. Hasil analisis kimia kayu dari Kalimantan 2014 [%] 38 Tabel 31. Konsumsi alkali & bilangan kappa sifat dasar kayu kalimantan
2014
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagian-bagian pohon untuk sampel penelitian. ... 9
Gambar 2. Parashorea tomentella (Sym.) Meijer . ... 9
Gambar 3. Struktur anatomi Parashorea tomentella. ... 9
Gambar 4. Parashorea smythiesii Wyatt.Sm ex P.S. Ashton. . ... 9
vii
Abstrak
Hutan Kalimantan merupakan pusat keanekaragaman jenis-jenis tumbuhan. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan Kalimantan adalah jenis dari suku Dipterocarpaceae. Jenis kayu dari suku Dipterocarpaceae merupakan kayu komersial yang dalam kegiatan eksploitasinya pada umumnya hanya berdasarkan pada nama kelompok saja seperti meranti merah, meranti kuning dan meranti putih. Padahal antar jenis memungkinkan adanya sifat yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui sifat dasar kayu sehingga pemanfaatannya lebih efektif dan efisien. Selain itu, informasi yang diperoleh dapat dijadikan rekomendasi untuk budidaya jenis untuk tujuan sesuai sifat dan kegunaannya. Sifat dasar kayu yang diteliti meliputi sifat anatomi dan dimensi serat; fisis mekanis; kimia; keawetan kayu terhadap serangga, keawetan kayu terhadap jamur, keawetan kayu terhadap penggerek laut; keterawetan; pemesinan; pengkaratan dan pulp kertas dari 2 jenis kayu Kalimantan.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kalimantan merupakan pusat keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Untuk jenis flora, vegetasi hutan di Kalimantan didominasi oleh suku Dipterocarpaceae. Dipterocarpaceae merupakan unsur utama dalam hutan hujan tropis yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Suku Dipterocarpaceae di Indonesia terdiri dari 9 marga dan sekitar 386 jenis. Kesembilan marga tersebut adalah Anisoptera, Cotylelobium, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Parashorea, Shorea, Upuna dan Vatica. Kalimantan mempunyai jumlah terbanyak yaitu terdiri dari 9 marga, 268 jenis, dan 27 anak jenis yang tercatat dalam Newman et al. (1999a). Sumatera secara keseluruhan memiliki 8 marga dan 109 jenis (Newman et al., 1999b).
Pulau Jawa dan Nusa Tenggara memiliki 5 marga dan 10 jenis, Sulawesi mempunyai 4 marga dan 7 jenis, Maluku memiliki 4 marga dan 7 jenis dan Nugini memiliki 3 marga dan 15 jenis (Newman et al., 1999c). Jenis-jenis dalam suku Dipterocarpaceae sebagian besar merupakan pohon penghasil kayu komersil tinggi yang digunakan sebagai bahan baku industri kayu dan non kayu. Dalam kegiatan eksploitasi pada umumnya hanya berdasarkan pada nama kelompok perdagangan saja yaitu meranti merah, meranti putih, meranti kuning, balau, dan lain-lain. Variasi jenis yang sangat banyak menyebabkan identifikasi sampai tingkat jenis sulit dilakukan di lapangan. Hal ini menyebabkan jenis-jenis yang kurang dikenal ikut tereksploitasi sehingga banyak jenis Dipterocapaceae yang terancam punah dan belum diketahui sifat-sifat dasar kayunya serta masuk dalam Red List IUCN. Data yang tercatat saat ini, masih sebanyak 140 jenis belum diteliti sifat dasar kayunya secara lengkap. Diantaranya terdapat 5 jenis yang mempunyai beberapa sub species yang belum diteliti. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sifat dasar kayu untuk mengetahui karakteristik masing-masing jenis sehingga dapat disusun petunjuk penggunaan yang tepat dan pedoman pengenalan jenisnya.
Penelitian sifat dasar kayu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kekhawatiran adanya kehilangan jenis yang sudah terancam punah namun belum diketahui sifat dasarnya. Selain itu, diketahuinya potensi kegunaan suatu jenis kayu dapat dijadikan dasar atau rekomendasi untuk dikembangkannya budidaya jenis tersebut dalam skala besar.
B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan
Menyediakan informasi sifat dasar dan kemungkinan penggunaan 2 jenis kayu Kalimantan sebagai dasar diversifikasi penggunaan bahan baku untuk berbagai tujuan pemakaian.
2. Sasaran
Sasaran penelitian adalah tersedianya informasi ilmiah sifat dasar dan kegunaan 2 jenis kayu Kalimantan.
C. Luaran
1. Laporan hasil penelitian yang berisi data dan informasi tentang sifat dasar 2 jenis kayu Kalimantan dan kemungkinan penggunaannya. 2. Draft karya tulis ilmiah.
D. Hasil yang Telah Dicapai
Hasil yang telah dicapai dari penelitian sifat dasar kayu jenis Dipterocapaceae tahun 2010 s.d. 2013 disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil penelitian sifat dasar kayu tahun 2009 s.d 2013
Tahun Jenis Hasil Penelitian Sifat Dasar Rekomend asi Kegunaan 2010 Dipterocarpus stellatus
Kualitas serat I; Kelas kuat II-III; Kelas Ketahanan I terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering; Kelas Ketahanan I terhadap penggerek laut; keterawetan sedang (agak mudah diawetkan); sifat pemesinan (pengetaman, pembentukan, pengampelasan, pemboran) sangat baik; sifat pembubutan baik; sulit dikeringkan
KB, PK, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B, BL D. glabrigemmatus
Kualitas serat I; Kelas kuat II-III; Kelas Ketahanan I terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering; Kelas Ketahanan I terhadap penggerek laut; keterawetan rendah (sulit diawetkan); sifat pemesinan (pengetaman, pembentukan, pengampelasan, pemboran) sangat baik; sifat pembubutan baik; sulit dikeringkan
KB, PK, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B, BL D. pachyphyllus
Kualitas serat I; Kelas kuat II; Kelas Ketahanan I terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering; Kelas Ketahanan II terhadap penggerek laut; keterawetan sedang (agak mudah diawetkan); sifat pemesinan (pengetaman, pembentukan, pengampelasan, pemboran, pembubutan) sangat baik; sulit dikeringkan KB, PK, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B, BL
3 Shorea
hopeifolia
Kualitas serat I, kelas kuat IV, Kelas Ketahanan V terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering, Kelas Ketahanan V terhadap penggerek laut, mudah diawetkan; sifat pemesinan (pengetaman, pengampelasan, pembubutan) sangat baik; sifat pembentukan dan pemboran baik.
KB, PK, KL, PP, PS, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B Vatica nitens
Kualitas serat I, Kelas Kuat I-II, Kelas Ketahanan I terhadap rayap tanah dan rayap kayu kering, Kelas Ketahanan II; terhadap penggerek laut, keterawetan sedang (agak mudah diawetkan); sifat pemesinan (pengetaman, pembentukan, pengampelasan) sangat baik, sifat pemboran dan pembubutan baik. KB, PK, PS, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B, BL 2011 V. umbonata
Kelas kuat III; sifat pengampelasan sangat baik; sifat pengetaman; pembentukan, pemboran dan pembubutan baik; kelas awet V terhadap rayap tanah; rayap kayu kering dan penggerek laut; mudah diawetkan; mudah dikeringkan
KS, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B Hopea nervosa
Kelas kuat IV; sifat pemesinan baik; kelas awet V terhadap rayap tanah, RKK dan penggerek laut; mudah diawetkan; mudah dikeringkan KR, Pn, Dm, PD, LL, L, M, U, SP, J/B 2012 S. almon
Kualitas serat I, kelas kuat III, sifat pengetaman dan pemboran sangat baik; kelas ketahan I terhadap rayap kayu kering; kelas ketahanan V terhadap rayap tanah, sukar diawetkan, KS, PK, Pn, Dm, PD, LL, L, SP, Mb S. agamii
Kualitas serat I; kelas kuat II; sifat pengetaman dan pemboran sangat baik; kelas ketahan I terhadap rayap kayu kering; kelas ketahanan V terhadap rayap tanah; cukup mudah diawetkan KB, PK, Pn, Dm, PD, LL, L, SP, Mb 2013 Hopea rudiformis
Kualitas serat II, kelas kuat II, sifat pemesinan baik, kelas ketahanan II terhadap rayap kayu kering, kelas ketahanan IV terhadap rayap tanah dan jamur, keawetan kayu di lapangan sangat buruk; kelas ketahanan IV-V terhadap penggerek laut; mudah diawetkan; sifat pengeringan sedang; kadar selulosa dan kalor tinggi
KB, PK, Pn, Dm, PD, L, LL, M, U, SP, J/B, Mb S. parvistipulata ssp. albifolia
Kualitas serat II; kelas kuat III-IV; sifat pengetaman dan pengampelasan baik; sifat pembentukan, pemboran dan pembubutan sedang; kelas ketahanan III terhadap rayap kayu kering; kelas ketahanan IV terhadap rayap tanah dan jamur; keawetan kayu di lapangan buruk; kelas ketahanan V terhadap penggerek laut; mudah diawetkan; sifat pengeringan buruk; kadar selulosa, nilai kalor, silika tinggi
KS, PK, Pn, Dm, PD, L, LL, Mb
Keterangan:
K: Konstruksi Berat, KS: Konstruksi sedang, KR: Konstruksi ringan, PK: Pulp dan Kertas, KL: kayu lapis, PP: Papan Partikel, PS: Papan serat, Pn: Panel, Dm: Daun meja, PD: Pelapis dinding, LL: Langit-langit, L: Lantai, M: Moulding, Mb: Mebel U: Ukiran, SP: Sambungan pasak, J/B: Jeruji/bubutan, BL: Bangunan Laut
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian terdiri dari penelitian sifat dasar dan kegunaan kayu Kalimantan yang belum diteliti. Area geografi penelitian di pulau Kalimantan. Aspek yang diteliti meliputi:
1. Struktur anatomi dan dimensi serat kayu 2. Sifat fisis dan mekanis kayu
3. Sifat keawetan kayu terhadap serangga 4. Sifat keawetan kayu terhadap jamur
6. Sifat keterawetan kayu yaitu mudah tidaknya kayu ditembus bahan pengawet
7. Sifat pengeringan kayu 8. Sifat pengkaratan kayu 9. Sifat kimia dan nilai kalor
10. Sifat dan pengolahan pulp dan kertas
Dalam dokumen Rencana Penelitian Integratif (RPI), ruang lingkup penelitian mencakup juga pengujian sifat venir dan kayu lapis. Namun, dalam kegiatan penelitian Sifat Dasar dan Kegunaan Kayu Kalimantan tidak dapat dilakukan karena kendala keterbatasan sampel dan pengangkutan, Selain itu, Sifat Pengerjaan hanya sebagian saja dipilih aspek yang benar-benar penting saja, karena berdasarkan kajian rapat faktor peralatan dan mesin yang sangat menentukan hasil. Jadi kualitas pengerjaan selain dipengaruhi operator ditentukan oleh kualitas mesin dan ketajaman pisau.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kayu sangat penting di negara-negara Asia Tenggara dalam tahap pembangunan ekonomi negara. Malaysia dan Indonesia memimpin negara-negara pengekspor kayu-kayu tropis dari tahun 1988-1992. Dari tahun 1988-1992, nilai kayu yang diekspor meningkat karena adanya pungutan atau pajak. Apalagi beberapa negara tropis melarang ekspor kayu non olahan untuk mendukung industri pengolahan kayu domestik. Hal ini membuat harga kayu yang diekspor meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan ekspor kayu gergajian, veneer, dan kayu lapis menjadi sumber devisa penting (Soerianegara dan Lemmens, 1994).
Jenis-jenis kayu yang berasal dari hutan alam dan biasa dipakai untuk keperluan bahan bangunan, mebel, barang kerajinan, kayu lapis serta bahan industri pulp dan kertas makin terbatas dan tidak seimbang dengan kebutuhan yang makin meningkat. Untuk memenuhi keperluan tersebut harus digunakan jenis kayu lain yang mudah didapat, seperti jenis kayu kurang dikenal dari hutan alam dan tanaman masyarakat, hasil pemuliaan yang sudah dibudidayakan dan jenis kayu komersial yang sudah ditanam. Kayu hasil budidaya dan pemuliaan perlu diketahui sifat dasar dan pemanfaatannya yang lebih luas karena kemungkinan sifat dasarnya berubah akibat umur pohon, lingkungan dan tempat tumbuh (Haygreen and Bowyer, 1982). Sifat dasar sangat penting diketahui sebelum suatu jenis kayu digunakan untuk suatu tujuan, karena setiap jenis kayu memiliki sifat yang berbeda dan setiap penggunaannya membutuhkan persyaratan tertentu (Martawijaya dan Kartasudjana, 1977).
Sejak tahun 1915, untuk mengenal jenis kayu yang terdapat di Indonesia telah dilakukan pengumpulan material herbarium dan contoh kayu yang autentik dari berbagai petak contoh yang sengaja dibuat di beberapa wilayah hutan tertentu. Di samping itu untuk maksud yang sama dilakukan pula berbagai ekspedisi ke seluruh pelosok tanah air, dan kegiatan ini masih juga terus dilakukan sampai sekarang. Berdasarkan material herbarium dan contoh kayu autentik yang telah terkumpul sampai sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, diperkirakan di seluruh
Indonesia terdapat sekitar 4.000 jenis kayu dengan diameter pohon 40 cm ke atas. Untuk suku Dipterocarpaceae di Indonesia terdiri dari 9 marga dan sekitar 386 jenis. Kesembilan marga tersebut yaitu Anisoptera, Cotylelobium, Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Parashorea, Shorea, Upuna dan Vatica. Dipterocarpaceae merupakan unsur utama dalam hutan hujan tropis yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Pulau Sumatera secara keseluruhan memiliki 8 marga dan 109 jenis (Newman et al., 1999a). Kalimantan memiliki 9 marga dan 268 jenis (Newman et al., 1999b), Jawa dan Nusa Tenggara memiliki 5 marga dan 10 jenis, Sulawesi mempunyai 4 marga dan 7 jenis, Maluku memiliki 4 marga dan 7 jenis dan Nugini memiliki 3 marga dan 15 jenis (Newman et al., 1999c).
Jenis-jenis Dipterocarpaceae yang telah diteliti sifat dasar dan kegunaannya ditulis dalam Atlas Kayu Indonesia Jilid I (Martawijaya et al., 2005a) dan Atlas Kayu Jilid II (Martawijaya et al., 2005b).
Genus parashorea terdaftar dalam CITES sebagai tumbuhan langka keberadaannya (Purwaningsih, 2004). Sehingga dengan diketahuinya sifat dasar dan kegunaan kayu dari jenis parashorea diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan penaganannya lebih lanjut.
7
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Contoh kayu diambil dari kawasan hutan alam yang dikelola oleh PT. Hutansambang Labanan Lestari yaitu di Desa Labanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pelaksanaan seluruh aspek kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium ligkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor.
B. Bahan dan Peralatan
Bahan utama penelitian yang digunakan adalah 2 jenis kayu Kalimantan yang belum diteliti sifat dasarnya. Jenis kayu ditentukan pada saat survey lapangan dengan bentuan ahli botani. Hal ini disebabkan karena informasi mengenai jenis kayu Dipterocarpaceae yang kurang dikenal sangat terbatas. Berdasarkan informasi di lapangan, data yang ada pada umumnya hanya berdasarkan pada nama kelompok perdagangan dan nama daerah. Contoh uji yang digunakan adalah bagian batang bebas cabang. Sebelum dilakukan penebangan dilakukan pengenalan pohon dengan cara mengambil daunnya untuk diidentifikasi. Untuk memperoleh daun tersebut harus dilakukan dengan menggunakan ketapel karena pohonnya cukup tinggi dan sulit dipanjat. Pohon pertama yang berhasil diidentifikasi yaitu Parashorea
smytiesii Wyatt. Sm ex P.S. Aston. yang terletak pada 01o85’06,1’’ bujur
Timur dan 117o04”56,7’’ lintang Utara. Diameter batang mencapai 52 cm dan panjang batang bebas cabang mencapai 18 m. Pohon kedua yaitu
Parashorea parvifolia Wyatt. Sm ex P.S. Aston. yang didapatkan tidak jauh
dari lokasi pohon pertama yang terletak pada 117°04’55,3”. Diameter pohon mencapai 43 cm dan panjang batang bebas cabang 15,35 m.
Bahan kimia yang dipakai yaitu alkohol, benzene, asam asetat, toluene, karboxylol/xylene, sulfuric acid, Na2S, bacto agar, malt extract,
hidrogen peroksida, asam sulfat, bahan pengawet CCB, curcumin, dan lain-lain. Peralatan yang digunakan antara lain GPS, gergaji potong, gergaji
belah, timbangan, autoklaf, oven, kaliper, mikrotom, mikroskop, cutter, kamera, vakum tekan, alat pengering, salinometer dan mesin UTM. Sedangkan bahan gelas kaca yang diperlukan antara lain object glass, cover
glass, tabung reaksi, botol timbang, pipet, jampot, loupe, gelas ukur, piala kolle, beaker glass, soxhlet, labu didih, cawan porselen dan lain-lain.
C. Prosedur Kerja
Kegiatan yang dilakukan pada penelitian sifat dasar kayu ini yaitu kegiatan lapangan dan laboratorium. Kegiatan lapangan terdiri dari survey, identifikasi jenis, pengamatan morfologi pohon, pengambilan sampel pohon, pembagian batang, penyaradan, dan pengangkutan kayu yang akan diteliti. Kegiatan laboratorium meliputi pembuatan, pengukuran dan pengujian contoh uji.
1. Identifikasi Jenis dan Pengamatan Morfologi Pohon
Jenis pohon target diidentifikasi melalui pengambilan herbarium sesuai metode eksploratif yang kemudian diidentifikasi berdasarkan kunci identifikasi dan koleksi herbarium di laboratorium yang relevan.
Pengamatan ciri morfologi pohon meliputi bentuk batang, tinggi total, tinggi bebas cabang, diameter batang, bentuk tajuk, permukaan kulit, sistem percabangan, daun, perbungaan, buah, dan biji.
2. Pembuatan Contoh Uji
Pohon yang dipilih adalah pohon yang berdiameter ± 30 cm, berbentuk lurus, tidak bengkok, tidak cacat, dan dalam keadaan sehat. Penebangan dilakukan pada bagian pangkal pohon atau 20 cm di atas banir dengan menggunakan chain saw. Setelah ditebang selanjutnya diambil sampel batang pohon seperti terlihat pada Gambar 1.
Contoh uji untuk pengujian sifat fisis mekanis, anatomi dan kimia kayu diambil pada bagian pangkal, tengah dan ujung batang bebas cabang agar hasilnya mewakili. Pengujian sifat mekanis, bagian batang yang diambil mengikuti pola salib sumbu seperti pada Gambar 1 berupa balok berukuran 200 cm x 5 cm x 5 cm, sedangkan untuk sampel pengujian sifat anatomi dan kimia kayu diambil dalam bentuk lempengan dengan ketebalan 10 cm. Untuk membedakan antar jenis dan bagian, pada setiap pohon diberi tanda
9
(kode). Jenis pohon diberi lambang huruf sesuai namanya. Untuk bagian batang diberi lambang huruf A (pangkal), B (tengah), dan C (ujung).
Gambar 1. Bagian-bagian pohon untuk sampel penelitian
3. Pengujian Sifat Dasar Kayu
a. Pengenalan Struktur Anatomi dan Dimensi Serat
Pengenalan ciri jenis kayu dilakukan dengan dua pendekatan yaitu secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil yang diperoleh dikombinasikan menjadi satu kesatuan ciri pengenalan suatu jenis kayu. Pengamatan ciri
C → 10 cm → Disk Ujung C1 → 200 cm C2 C3 C4 B3 B1 → 200 cm B → 10 cm → Disk Tengah B2 → 200 cm B4 A4 A3 A2 A1 → 200 cm
A → 10 cm → Disk Pangkal Keterangan:
A : Bagian Pangkal B : Bagian Tengah C : Bagian Ujung
makroskopis dilakukan langsung pada contoh uji yang telah diketam. Ciri makroskopis atau ciri umum yang diamati dengan mata telanjang atau dengan bantuan loup dengan perbesaran 5-10 kali meliputi warna, corak, tekstur, arah serat, kesan raba, kilap, kekerasan, bau, dan ciri khusus lainnya.
Pengamatan ciri mikroskopis dilakukan pada sayatan mikrotom dan preparat maserasi yang dipersiapkan secara khusus. Pengamatan mikroskopis dilakukan tiga tahap yaitu pembuatan preparat, pengamatan, pengolahan, dan analisa data.
Untuk pembuatan preparat sayatan, sampel diambil dari lempengan bagian pangkal, tengah, dan ujung batang. Dari setiap bagian batang diambil 1 sampel berukuran 2 x 2 x 2 cm yang terletak di tengah-tengah antara kulit dengan empulur (3 sampel per batang). Untuk memudahkan penyayatan, sampel uji dilunakkan terlebih dahulu dengan merebus dalam air suling dengan suhu ≤ 60o C selama 10 menit, kemudian didinginkan. Perebusan dilakukan berulang-ulang sampai contoh kayu tenggelam, sehingga kayunya menjadi lunak dan jenuh air. Sesudah itu dilakukan perendaman dalam campuran alkohol-gliserin, berturut-turut dengan perbandingan 2:1; 1:1, dan 1:2 dengan selang 2 – 3 hari. Kayu dibiarkan dalam campuran terakhir sampai lunak sehingga mudah disayat. Dari setiap contoh uji kayu dibuat sayatan mikrotom setebal 15-20 mikron pada arah radial, tangensial, dan transversal. Dari sejumlah sayatan yang diperoleh dipilih masing-masing 5 sayatan terbaik untuk ketiga arah. Sayatan ini selanjutnya dicuci dengan air suling dan didehidrasi secara bertingkat dengan alkohol teknis absolut (96%), 70%, 50%, 30% masing-masing selama ± 3 menit, kemudian diwarnai dengan safranin menurut metode dalam Sass (1961). Setelah itu didehidrasi kembali secara bertingkat dengan alkohol 30%, 50 %, 70%, dan 96%. Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan cara merendamnya selama 3 menit, berturut-turut dalam karboxylol/xylene dan toluen sebanyak 2 kali. Setelah itu sayatan direkat dengan Entelan pada gelas obyek secara pelan-pelan agar tidak ada gelembung udara kemudian dibiarkan mengering pada udara terbuka.
Untuk pembuatan preparat maserasi dilakukan berdasarkan metode
11
lempeng batang sebanyak 3 contoh uji yaitu dekat empulur, tengah, dan dekat kulit (9 sampel per batang). Cacahan kayu sebesar batang korek api yang diambil dari masing-masing contoh uji tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang diberi larutan 60% asam asetat glasial dan 30% hidrogen peroksida dengan perbandingan 1:1 kemudian direbus dalam waterbath dengan suhu ± 80C selama 1-2 hari atau sampai cacahan berubah menjadi bubur serat dengan warna putih dan lunak. Bubur serat kemudian dicuci dengan air kran sampai bebas asam. Setelah itu disimpan dalam tabung plastik bekas film dengan ditetesi safranin (±3-5 tetes) dan dibiarkan selama kurang lebih 3 jam. Serat-serat yang akan diukur kemudian ditetesi dengan safranin dan dibiarkan selama kurang lebih 3 jam. Serat-serat yang diukur kemudian diletakkan pada gelas obyek yang sudah ditetesi gliserin dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak menumpuk satu dengan lainnya. Lalu ditutup dengan gelas penutup. Setelah itu dilakukan pengukuran dimensi serat dan pembuluh berdasarkan IAWA (Wheeler et al., 1989).
Dimensi yang diukur adalah panjang serat sebanyak 30 contoh serta diameter serat dan diameter lumen masing-masingnya sebanyak 15 contoh. Sedangkan untuk pembuluh diukur panjang dan diameternya sebanyak 25 contoh. Penetapan dimensi serat dan perhitungan nilai turunnya dilakukan berdasarkan Silitonga et al. (1972), sedangkan kualitas seratnya ditetapkan dengan mengikuti laporan Rachman dan Siagian (1976). Turunan dimensi serat meliputi Runkel Ratio (RR), Felting Power (FP), Muhlsteph Ratio (MR),
Coefficient Rigidity (CR), dan Flexibility Ratio (FR).
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
dimana, w: tebal dinding; l: diameter lumen; L: panjang serat; d : diameter Kualitas serat diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kriteria kualitas serat kayu untuk bahan baku pulp dan kertas
Kriteria Kelas I Kelas II Kelas III
Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai L (mm) > 2.000 100 1.000-2.000 50 < 1.000 25 RR < 0,25 100 0,25-0,50 50 0,50-1,0 25 FP > 90 100 50-90 50 < 50 25 d L FP ( ) 100% 2 2 2 d l d MR d l FR d w CR l w RR2
MR < 30 100 30-60 50 60-80 25 FR > 0,80 100 0,50-0,80 50 < 0,50 25 CR < 0,10 100 0,10-0,15 50 > 0,15 25
Interval 450-600 225-449 < 225
Sumber: Rachman dan Siagian (1976)
Pengamatan ciri mikroskopis dilakukan dengan bantuan mikroskop berkekuatan 25 – 1000 kali meliputi:
a) Pori/pembuluh: susunan, bentuk, sebaran, diameter, frekuensi, tipe bidang porforasi, dan tipe ceruk
b) Jari-jari: tipe, ukuran, frekuensi, isi sel, dan ada tidaknya susunan bertingkat
c) Parenkim: tipe, bentuk, frekuensi, isi sel, dan tipe ceruk d) Saluran interselular, ukuran, susunan, dan isi
e) Dimensi serat
Di luar pengukuran dimensi serat, untuk ciri-ciri mikroskopis yang diukur dilakukan 30 pengamatan. Persentase pori soliter diperoleh dari lima kali penetapan perbandingan jumlah pori soliter terhadap jumlah pasangan, gabungan atau kelompok pori. Setiap penetapan dilakukan pada seluruh bidang pandang lensa okuler pada penampang lintang.
Pengamatan ciri-ciri anatomi dilakukan bedasarkan standar identifikasi dari International Association of Wood Anatomists (IAWA) dalam Wheeler et al. (1989). Nilai rata-rata, nilai maksimum dan kisaran suatu ciri anatomi ditetapkan menurut petunjuk Metcalfe dan Chalk (1983), sedangkan untuk jumlah atau frekuensi digunakan klasifikasi menurut Den Berger (1923).
b. Pengujian Sifat Fisis dan Mekanis
Pengambilan pohon, dolok, dan contoh uji dilakukan mengikuti standar ASTM D 5536-94 (reapproved 2004) dalam ASTM (2006a) yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pembuatan contoh uji, ukuran, dan pengujian sifat fisis dan mekanis kayu mengacu pada ASTM D 143-94 (reapproved 2000) dalam ASTM (2006b). Pengujian tersebut dilakukan pada contoh uji dalam keadaan basah dan kering udara.
Pengujian sifat fisis meliputi kadar air kayu segar; berat jenis berdasarkan berat basah dan volume basah, berat kering tanur dan volume
13
basah, berat dan volume kering udara, berat dan volume kering tanur; penyusutan arah radial dan tangensial dari basah ke kering udara dan dari basah ke kering tanur. Pengujian sifat mekanis meliputi keteguhan lentur statis; keteguhan pukul; keteguhan tekan sejajar dan tegak lurus serat; keteguhan tarik; geser, belah, dan kekerasan.
Nilai hasil pengujian dihitung rata-rata, standar deviasi dan koefisien variasinya kemudian dibandingkan dengan klasifikasi kekuatan kayu Indonesia (Den Berger, 1923 dalam Oey, 1990).
c. Pengujian Sifat Pemesinan
Sifat pemesinan yang diuji meliputi sifat pengetaman, pembentukan, pemboran, pembuatan lubang persegi, pengampelasan dan pembubutan. Metode pengujian, ukuran, bentuk dan cara pengambilan contoh uji dilakukan menurut metode ASTM D1666-87 (ASTM, 2004) yang disesuaikan dengan kondisi bahan dan peralatan yang tersedia.
Setiap jenis kayu disediakan 25 buah contoh uji bebas cacat berukuran 125 x 12,5 x 2 cm. Contoh uji tersebut dikeringkan di udara terbuka sampai mencapai kadar air lebih kurang 15%, lalu diuji dengan mesin seperti tertera dalam Tabel 3.
Tabel 3. Spesifikasi mesin penguji sifat pemesinan
No. Pemesinan Tipe Rpm
Merk 1. Pengetaman 130/02 2880 Schutteco 2. Pemboran FS.70 05/2 11350/17400 Penske 3 Pengamplasan T.2 2800 Enach
Hasil pemesinan diamati secara okuler dengan bantuan loupe berukuran sepuluh kali. Cacat yang diamati meliputi serat terangkat, berbulu, tersobek, dan bekas serpih. Setiap contoh uji yang mengandung salah satu dari keempat cacat tersebut di atas dianggap cacat. Untuk tiap cara pemesinan pada masing-masing jenis kayu ditetapkan banyaknya contoh yang cacat dari 25 contoh yang diuji. Sifat pemesinan ditetapkan menurut metode klasifikasi yang tertera dalam Tabel 4.
Tabel 4. Klasifikasi sifat pemesinan
Jumlah contoh yang cacat Nilai cacat Sifat mesin
0 – 10 5 Sangat baik
11 – 20 15 Baik
21 – 30 25 Sedang
31 – 40 35 Buruk
41 – 50 45 Sangat buruk
d.Pengujian Sifat Keawetan Terhadap Serangga
Pengujian ketahanan kayu terhadap serangga dilakukan secara laboratoris. Pengujian dilakukan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes
cynocephalus Light.) dan rayap tanah (Coptotermes curvignathus
Holmgren).
1) Pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering
Pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering dilakukan sesuai dengan metode SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Contoh uji yang berukuran 5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm, pada salah satu sisi yang terlebar dipasang tabung gelas yang berdiameter 1,8 cm dengan ukuran tinggi 3 cm. Ke dalam tabung gelas tersebut dimasukkan 50 ekor kasta pekerja rayap kayu kering yang sehat dan aktif, kemudian contoh uji yang sudah berisi rayap itu disimpan di tempat yang gelap selama 12 minggu.
Pada akhir pengujian ditetapkan jumlah rayap yang hidup (natalitas), penurunan berat akibat serangan rayap, dan derajat serangan mengacu pada SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006) dan AWPA (1972) yang dimodifikasi.
Penilaian terhadap derajat serangan rayap disajikan pada Tabel 5 dan klasifikasi ketahanan rayap berdasarkan penurunan berat seperti pada Tabel 6.
Tabel 5. Penilaian derajat serangan rayap
Tingkat Kondisi Contoh Uji Nilai
A Utuh, tidak ada serangan (<5 %) 0
B Ada bekas gigitan rayap (6 % - 15 %) 40
C Serangan ringan berupa saluran yang tidak dalam dan lebar (16 % - 35 %)
70 D Serangan berat, berupa saluran yang dalam dan lebar
(36 % – 50 %)
90 E Kayu hancur, kayu habis dimakan rayap (> 50 %) 100
15
Tabel 6. Klasifikasi ketahanan kayu tehadap rayap kayu kering berdasarkan penurunan berat
Kelas Ketahanan Penurunan Berat
(%)
I Sangat tahan < 2,0
II Tahan 2,0 – 4,4
III Sedang 4,4 – 8,2
IV Tidak tahan 8,2 – 28,1
V Sangat tidak tahan >28,1
2) Pengujian Keawetan Terhadap Rayap Tanah
Pengujian ketahanan terhadap rayap tanah dilakukan sesuai dengan metode SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Contoh uji berukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 0,5 dimasukkan ke dalam jampot dengan cara berdiri pada dasar jampot dan disandarkan sedemikian rupa sehingga salah satu bidang terlebar contoh uji tersebut menyentuh dinding jampot. Ke dalam jampot tersebut dimasukkan pasir sebanyak 200 gram yang mempunyai kadar air 7% di bawah kapasitas menahan air (water holding capacity). Selanjutnya ke dalam setiap jampot dimasukkan 200 ekor rayap yang sehat dan aktif terdiri dari 90% pekerja, kemudian jampot yang sudah berisi rayap disimpan ditempat gelap selama 4 minggu. Jika kadar air pasir turun 2% atau lebih, maka ke dalam jampot tersebut ditambahkan air secukupnya sehingga kadar air kembali seperti semula. Pengujian dibuat 10 jampot sebagai ulangan, masing-masing satu jampot berisi satu sampel. Pengamatan contoh uji dilakukan setelah mencapai waktu pengujian selama 4 minggu. Pada akhir pengujian ditetapkan jumlah rayap yang hidup (natalitas), penurunan berat akibat serangan rayap, dan derajat serangan yang mengacu pada SNI 01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 2006), ASTM D 3345-74 (ASTM, 1999) dan AWPA (1972) yang dimodifikasi. Klasifikasi ketahanan terhadap rayap tanah seperti Tabel 7.
Tabel 7. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat
Kelas Ketahanan Penurunan Berat (%)
I Sangat tahan < 3,52
II Tahan 3,52 – 7,50
III Sedang 7,50 – 10,96
IV Tidak tahan 10,96 – 18,94
3) Pengujian Keawetan di Lapangan
Pengujian keawetan di lapangan (graveyard test) menggunakan metode ASTM D 1758-02 (ASTM, 2002). Contoh uji berukuran (50 x 2 x 2) cm sebanyak 10 buah dikubur secara vertikal di lapangan terbuka sedalam 25 cm di dalam tanah dan dibiarkan 25 cm tetap timbul di atas permukaan, dengan jarak di antara masing-masing contoh uji 15 cm. Masing-masing contoh uji pada setiap pemeriksaan diukur kedalaman pelapukannya yang dinyatakan dalam satuan mm dan ditetapkan derajat serangan rayapnya dengan menggunakan skala sebagai berikut:
ta = tidak ada serangan tps = tipis sekali tp = tipis sd = sedikit sdn = sedang hb = hebat hbs = hebat sekali
Pengujian dianggap selesai jika contoh uji sudah lapuk atau sudah diserang rayap dengan kriteria sebagai berikut:
1) Paling sedikit 50% dari volumenya rusak dimakan rayap (derajat serangan hb atau hbs).
2) Dalamnya pelapukan sudah mencapai 25 mm.
3) Patah jika dipukulkan ke lantai karena lapuk dan pada saat itu ditetapkan umur pakai contoh uji tersebut yang dinyatakan dalam bulan atau tahun dan ditetapkan nilai rata-ratanya.
Berdasarkan nilai rata-rata tersebut ditetapkan kelas awet jenis kayu yang bersangkutan berdasarkan kriteria Martawijaya (1990) pada Tabel 8. Tabel 8. Kelas keawetan kayu berdasarkan umur rata-rata pemakaian
Kelas Keawetan Umur rata-rata (tahun)
I Sangat awet > 8
II Awet 5 – 8
III Sedang 3 – 5
IV Kurang awet 15 – 3
V Tidak awet < 1,5
e.Pengujian Sifat Keawetan Terhadap Jamur
Contoh uji kayu berukuran 5 cm x 2,5 cm x 1,5 cm dari bagian teras kayu. Jamur penguji yang digunakan yaitu Schizophyllum commune HHBI-204, Pycnoporus sanguineus HHBI-324, Polyporus sp. HHBI-209, dan
17
Tyromyces polustris HHBI-232. Media yang digunakan adalah malt ekstrak
agar (MEA). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Kolle-flask, sesuai dengan pengujian pelapukan kayu terhadap jamur, menurut standar DIN-52176 yang dimodifikasi oleh Martawijaya (1975) dan Suprapti et al. (2011). Media yang telah dilarutkan secara homogen dimasukkan ke dalam piala kolle sebanyak 80 ml per piala. Mulut piala disumbat dengan kapas steril, kemudian disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 121oC, tekanan 1,5 atmosfer selama 30 menit. Setelah dingin media diinokulasi dengan biakan murni jamur penguji, selanjutnya disimpan di ruang inkubasi sampai pertumbuhan miseliumnya merata dan menebal. Contoh uji yang telah diketahui berat kering mutlaknya dimasukkan ke dalam piala yang berisi biakan jamur tersebut. Setiap piala diisi dua buah contoh uji yang diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak saling bersinggungan, dan diinkubasikan selama 12 minggu. Untuk setiap jenis kayu dan jenis jamur disediakan 5 buah piala, sehingga masing-masing diperlukan 10 contoh uji. Pada akhir percobaan contoh uji dikeluarkan dari piala, dibersihkan dari miselium yang melekat secara hati-hati, dan ditimbang pada kondisi sebelum dan sesudah dikeringkan, guna mengetahui kehilangan beratnya.
Rata-rata penurunan berat kayu dikelompokkan dengan menggunakan nilai atau skala kelas ketahanan menurut Martawijaya (1975) dan Suprapti et al. (2011) seperti dalam Tabel 9.
Tabel 9. Kelas ketahanan kayu terhadap jamur
Kelas Ketahanan Penurunan berat (%)
I Sangat tahan < 0,5
II Tahan 0,5 - < 5
III Agak tahan 5 - < 10
IV Tidak tahan 10 – 30
V Sangat tidak tahan >30
f.Pengujian Sifat Keawetan Terhadap Penggerek di Laut
Contoh uji kayu berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm diuji ketahanannya terhadap penggerek di laut yang direndam secara horizontal di perairan Pulau Rambut. Setelah 3 dan 6 bulan diambil dan diamati intensitas serangannya dan diidentifikasi organisme yang menyerangnya (Turner, 1966). Pengamatan contoh uji dilakukan dengan membelah menjadi dua bagian dan dinilai intensitas serangannya menurut standar SNI
01-7207-2006 (Badan Standardisasi Nasional, 01-7207-2006). Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut Kelas Intensitas serangan (%) Selang intensitas serangan
I < 7,3 Sangat tahan
II 7,3 - 27,1 Tahan
III 27,1 - 54,8 Sedang
IV 54,8 - 79,1 Buruk
V > 79,1 Sangat buruk
Jenis organisme penggerek yang menyerang dapat dikenali dengan melihat bekas lubang gerek, bentuk palet dan struktur cangkuk pada contoh uji menurut Turner (1971).
g. Pengujian Sifat Keterawetan
Pengujian sifat keterawetan dilakukan dengan metode IUFRO (Smith dan Tamblyn, 1970). Contoh uji berukuran 100 cm x 5 cm x 5 cm sebanyak 5 ulangan dikeringkan sampai mencapai kadar air kering udara. Bahan pengawet yang digunakan yaitu CCB dengan komposisi sebagai berikut: CuSO4 34% w/w, K2CrO7 38% w/w, H3BO3 25% w/w. Garam CCB tersebut
dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 3% untuk selanjutnya diimpregnasikan ke dalam contoh uji dengan proses sel penuh menurut bagan sebagai berikut:
Vakum awal : 50 cm Hg 15 menit Tekanan : 10 atm 60 menit Vakum akhir : 50 cm Hg 15 menit
Absorpsi larutan bahan pengawet dan berat jenis larutan pada konsentrasi yang sama pada masing-masing contoh uji digunakan untuk menetapkan retensi bahan pengawet dalam kayu yang dinyatakan dalam kg/m3. Contoh uji yang sudah diawetkan diangin-anginkan di dalam ruangan sampai mencapai kadar air kering udara untuk kemudian diukur penetrasinya.
Penetrasi diukur pada permukaan potongan melintang yang dibuat di bagian tengah contoh uji. Dalamnya penetrasi dinyatakan dalam persentase luas bidang yang ditembus bahan pengawet. Batas penembusan bahan pengawet diperjelas dengan jalan melabur penampang contoh uji dengan
19
pereaksi chrome azural atau rubeanic acid. Klasifikasi keterawetan kayu ditetapkan berdasarkan kriteria seperti pada Tabel 11.
Tabel 11. Klasifikasi keterawetan kayu
Kelas Keterawetan Luas Penetrasi (%)
I Mudah >90
II Sedang 50-90
III Sukar 10-50
IV Sangat sukar <10
h. Pengujian Sifat Pengeringan
Pengujian kualitas pengeringan kayu mengacu pada metode Terazawa (1965) yang telah dimodifikasi oleh Basri (2011). Contoh uji kayu segar dibuat dari papan tangensial (tanpa empulur) dengan ukuran 2,5 cm (T) x 10 cm (L) x 25 cm (P) setelah diserut, sebanyak 10 sampel pada setiap jenis kayu. Percobaan diawali dengan mengeringkan contoh kayu segar uji dalam oven menggunakan suhu konstan 100oC. Pada percobaan tersebut, data retak dan pecah di permukaan maupun ujung kayu (end & surface checks) diambil setiap 3-4 jam hingga tingkat kerusakan contoh uji maksimum, sedangkan data pecah di bagian dalam kayu (honeycomb checks), termasuk perubahan bentuk pada arah tebal kayu (deformation) dilakukan setelah contoh uji mencapai berat kering oven (kadar air kayu 0%). Kualitas pengeringan kayu didasarkan pada hasil penilaian kehadiran 3 jenis cacat dan tingkat kerusakannya sebagaimana disajikan dalam Tabel 12-14, serta memperhatikan rasio penyusutan tangensial terhadap arah radial kayu.
Tabel 12. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan persentase cacat pecah ujung dan atau permukaan contoh uji kayu
Nilai cacat, % Kualitas pengeringan Kelas
0 – 5 Sangat baik I
> 5 – 10 Baik II
> 10 –20 Agak baik III
> 20 - 30 Sedang IV
> 30 – 50 Agak buruk V
> 50 – 70 Buruk VI
> 70 Sangat buruk VII
Berdasarkan klasifikasi dan kualitas pengeringan kemudian ditetapkan bagan pengeringan dasar kayu yang diteliti. Bagan pengeringan yang telah diperoleh dalam pengembangannya perlu dimodifikasi dan
disesuaikan dengan kondisi kayu, alat pengeringan yang digunakan dan kapasitas atau volume ruang pengering.
Tabel 13. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan perbedaan 2 ukuran tebal (cacat deformasi) pada arah radial contoh uji kayu Perbedaan 2 ukuran tebal
(cacat deformasi), mm
Kualitas pengeringan Kelas
0 – 0,3 Sangat baik I
0,3 – 0,6 Baik II
0,6 – 1,2 Agak baik III
1,2 – 1,8 Sedang IV
1,8 – 2,5 Agak buruk V
2,5 – 3,5 Buruk VI
> 3,5 Sangat buruk VII
Tabel 14. Klasifikasi dan kualitas pengeringan berdasarkan jumlah cacat pecah pada bagian dalam contoh uji kayu
Jumlah cacat Kualitas pengeringan Kelas
0 Sangat baik I
1 besar atau 2 kecil Baik II
2 besar atau 4 – 5 kecil Agak baik III
4 besar atau 7 – 9 kecil Sedang IV
6 – 8 besar atau 15 kecil Buruk V
> 8 besar atau 17 kecil Sangat buruk VI
i. Pengujian Sifat Pengkaratan
Pengujian pengkaratan dilakukan menggunakan metode jampot seperti yang dilakukan Kadir dan Barly (1974) dan Djarwanto (2009). Contoh uji berukuran 5 cm x 2,5 cm x 1,5 cm yang masing-masing disekrup pada bagian tengah dengan sekrup yang telah diketahui beratnya. Balok kayu diikat dengan benang nylon dan digantung sedemikian rupa di dalam botol jampot yang berisi 25 ml 2N H2SO4 agar kelembaban udara di dalam jampot
tetap tinggi, konsentrasi uap akan bertahan sekitar 90%. Botol ditutup rapat dan disimpan pada suhu kamar. Pengamatan dilakukan setiap 3 bulan untuk mengamati adanya korosi. Pada akhir percobaan sekrup dilepas dari balok kemudian ditimbang kembali. Adanya korosi didasarkan atas rupa paku sekrup dan perubahan beratnya.
j. Pengujian Sifat Kimia dan Nilai Kalor
Analisis komponen kimia kayu dilakukan menurut metode standar sebagai berikut:
21
b) Kadar lignin menurut standar SNI 14-0492-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989a).
c) Pentosan menurut standar TAPPI T 19 m-50 (TAPPI, 1992).
d) Kadar abu menurut standar SNI 14-1031-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989b).
e) Kadar silika menurut standar SNI 14-1031-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989b).
f) Kelarutan dalam alkohol benzena menurut standar SNI 14-1032-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989c).
g) Kelarutan dalam air dingin dan panas standar SNI 14-1305-1989 (Badan Standardisasi Nasional, 1989d).
h) Kelarutan dalam NaOH 1% menurut standar SNI 14-1838-1990 (Badan Standardisasi Nasional, 1990).
Selain itu ditetapkan juga nilai kalor kayu dan data-data lain yang diperoleh dalam proses destilasi kering. Untuk pengujian destilasi kering diambil lempengan kayu dari ujung dolok setebal 10 cm, lalu dibelah melalui titik pusatnya menjadi beberapa potong juring. Potongan juring tersebut dibiarkan beberapa waktu atau dikeringkan dalam oven sampai mencapai kadar air sekitar 20%. Nilai kalor ditetapkan dengan kalorimeter.
k. Pengujian Sifat dan Pengolahan Pulp dan Kertas
Pulp dari setiap jenis kayu diolah dengan proses sulfat. Sifat yang diuji pada masing-masing jenis adalah sifat pengolahan dan sifat pulp yang dihasilkan. Sifat pengolahan yang diamati meliputi rendemen pulp, konsumsi alkali, dan bilangan kappa. Rendemen ditetapkan menurut standar TAPPI T 214 su 71 (TAPPI, 1972 dan 1993), bilangan kappa menurut standar SNI 14-0409-2008 (Badan Standardisasi Nasional, 2008) dan konsumsi alkali menurut standar TAPPI T 525 hm 85 (TAPPI, 1993). Metode yang digunakan pada setiap pengujian berdasarkan metode terbaru yang dilaksanakan oleh Laboratorium Terpadu Pustekolah dalam rangka
C. Analisa Data
Hasil pengujian setiap sifat yang diteliti dihitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya kemudian diklasifikasikan sesuai dengan standar yang digunakan pada masing-masing pengujian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis kayu yang diteliti pada tahun 2014 yaitu meranti merah (Parashorea smythiesii Wyatt.Sm ex P.S.Ashton) dan meranti putih
(Parashorea tomentella (Sym.) Meijer.) keduanya dari famili Dipetrocarpaceae dan berasal dari Kalimantan Timur.
Tabel 15. Jenis kayu asal Kalimanatan Timur yang diteliti tahun 2014
No Register Jenis kayu Famili
1 34405 Meranti putih Parashorea tomentella
(Sym.) Meijer
Dipt.
2 34406 Meranti merah Parashorea smythiesii
Wyatt.Sm ex P.S. Ashton
Dipt.
1. Struktur anatomi dan dimensi serat kayu a. Ciri botani
1). Parashorea tomentella (Sym.) Meijer – Dipterocarpaceae
a. Pohon b. Daun c. Kulit d. Kayu
Gambar 2. Parashorea tomentella (Sym.) Meijer.
b. Pengenalan Struktur Anatomi dan Dimensi Serat Ciri Umum
23
Warna: coklat muda.Corak: polos.Tekstur: agak halus dan merata.
Arah serat: lurus hingga berpadu. Kilap: kusam. Kesan raba: agak halus. Kekerasan: agak lunak. Bau: tidak ada.
Ciri Anatomi
Lingkaran tumbuh: tidak jelas (ciri 2). Pembuluh : baur (ciri 5), pembuluh hampir seluruhnya soliter (ciri 9). Diameter pembuluh 100-200 mikron (ciri 42) dan >200 mikron (ciri 43); frekuensi pembuluh per-mm2 sekitar 5 atau kurang (ciri 46); terdapat trakeida vaskisentrik dan vaskular (ciri 60). Bidang perforasi sederhana (ciri 13).Ceruk antar pembuluh selang-seling (ciri 22), ukurannya kecil>4-7 mikron, (ciri 25). Ceruk antar pembuluh dan jari-jari dengan halaman yang jelas, serupa dalam ukuran dan bentuk dengan ceruk antar pembuluh (ciri 30). Parenkim: parenkim vaskisentrik (ciri 79) dan paratrakea sepihak (ciri 84). Panjang untai parenkim 2 sel per-untai (ciri 91). Jari-jari : lebar jari-jari 1-3 seri (ciri 97), dan ditemukan jari-jari besar umumnya 4-6 seri (ciri 98), komposisi seluruhnya sel baring (ciri 104) dan tubuh jari-jari sel baring dengan sel baring dan bujur sangkar bercampur (ciri 109). Frekwensi jari-jari > 4-12 per mm (ciri 115). Serat : jaringan serat dasar dengan ceruk berhalaman yang jelas (ciri 62). Dinding serat tipis sampai tebal (ciri 69). Inklusi material : kristal primatik dijumpai (ciri 136) dalam sel baring (ciri 138), dalam sel tegak berbilik (ciri 140), dan dalam parenkim aksial berbilik (ciri 142).Saluran interseluler: aksial tersebar (ciri 129).
Struktur makro penampang melintang
Parashorea tomentella
Struktur mikro penampang melintang Parashorea
Struktur mikro penampang radial Parashorea tomentella
Struktur mikro penampang tangensial Parashorea
tomentella
Gambar 3. Struktur anatomi Parashorea tomentella
a. Ciri botani
2). Parashorea smythiesii Wyatt.Sm ex P.S. Ashton
a. Pohon b. Daun c. Kulit d. Kayu
25
b. Pengenalan Struktur Anatomi dan Dimensi Serat Ciri umum
Warna: coklat kekuningan,Corak: polos, pada bidang radial bercorak lurik seperti pita pendek. Tekstur: agak halus dan merata. Arah serat: lurus hingga berpadu. Kilap: kusam. Kesan raba: agak kasar. Kekerasan: agak keras. Bau: tidak ada.
Ciri Anatomi
Lingkaran tumbuh: tidak jelas (ciri 2). Pembuluh : baur (ciri 5), pembuluh sebagian besar soliter (ciri 9). Diameter pembuluh 100-200 mikron (ciri 42); frekuensi pembuluh per-mm2 sekitar 5 atau kurang (ciri 46); terdapat tilosis (ciri 56), terdapat trakeida vaskisentrik dan vaskular (ciri 60). Bidang perforasi sederhana (ciri 13).Ceruk antar pembuluh selang-seling (ciri 22), ukurannya sedang>7-10 mikron, (ciri 26). Ceruk antar pembuluh dan jari-jari dengan halaman yang jelas, serupa dalam ukuran dan bentuk dengan ceruk antar pembuluh (ciri 30). Parenkim: parenkim aksial apotrakea tersebar dalam kelompok (ciri 77), vaskisentrik (ciri 79), aliform (ciri 80), konfluen (ciri 83) dan paratrakea sepihak (ciri 84). Panjang untai parenkim 2 sel per-untai (ciri 91) dan 3-6 sel per untai (ciri 92, 93). Jari-jari : lebar jari-jari 1-3 seri (ciri 97), dan jari-jari besar umumnya 4-6 seri (ciri 98), komposisi tubuh jari-jari sel baring dengan 1-2 jalur sel tegak atau sel bujur sangkar marjinal (ciri 106,107). Frekuensi jari-jari > 4-12 per mm (ciri 115). Serat : jaringan serat dasar dengan ceruk berhalaman sangat kecil (ciri 61). Dinding serat tipis sampai tebal (ciri 69), kadang ditemui sangat tebal (ciri 70). Inklusi material : kristal primatik dijumpai (ciri 136) dalam sel baring (ciri 138), dan dalam parenkim aksial berbilik (ciri 142).Saluran interseluler: aksial tersebar (ciri 129).
Struktur makro penampang melintang
Parashorea smythiesii
Struktur mikro penampang melintang Parashorea
smythiesii
Struktur mikro penampang radial Parashorea smythiesii
Struktur mikro penampang tangensial Parashorea
smythiesii
27
Rangkuman ciri umum dan ciri anatomi disajikan pada Tabel 3. Penulisan ciri dengan menggunakan kode dalam daftar IAWA 1989 untuk menyesuaikan format data base yang ada dalam Xylarium Bogoriense 1915, sehingga mudah dalam melakukan identifikasi menggunakan komputer sampai tingkat species. Hasil pengukuran dan perhitungan dimensi serat disajikan dalam Tabel 17. Hasil perhitungan nilai turunan dimensi serat, disajikan dalam Tabel 18.
Tabel 16. Daftar ciri makroskopis dan mikroskopis kayu No kayu Nama kayu 34.405 Parashorea tomentella 34.406 Parashorea smythiesii
Ciri Kodifikasi sesuai IAWA List, 1989
Ciri umum Warna: coklat muda.Corak:
polos.Tekstur: agak halus dan merata. Arah serat: lurus hingga berpadu. Kilap: kusam. Kesan raba: agak halus. Kekerasan: agak lunak. Bau: tidak ada.
Warna: coklat kekuningan,Corak: polos, pada bidang radial bercorak lurik seperti pita pendek. Tekstur: agak halus dan merata. Arah serat: lurus hingga berpadu. Kilap: kusam. Kesan raba: agak kasar. Kekerasan: agak keras. Bau: tidak ada. Lingkar tumbuh 2 2 Pembuluh 5, 9, 42, 43, 46, 60,13, 22, 25, 30 5, 9, 42, 46, 56, 60, 13, 22, 26, 30 Parenkim 79, 84, 91 77, 79, 80, 83, 84, 91, 92, 93 Jari-jari 97, 98, 104, 109, 115 97,98, 106,107, 115 Serat 62, 69 61, 69, 70 Inklusi mineral 136, 138, 140, 142 136, 138, 142 Saluran interseluler 129 -
Tabel 17. Rata-rata dimensi serat 2 jenis kayu
Nama lokal Panjang(L) Diameter (d) Lumen (e) Tebal dinding(w) (μm) (μm) (μm) (μm) Parashorea tomentella 1501.0±148.9 27.4±3.2 20.6±3.3 3.4±0.6 Parashorea smythiesii 1682.8±172.5 27.7±3.2 18.3±3.1 4.7±0.8
Tabel 18. Nilai turunan dimensi dan kualitas serat
Jenis Kayu Panjang serat (µ) Bilangan Runkel Daya Tenun Perbandingan Fleksibilitas Kekakuan Koefisien Perbandingan Muhlsteph Total Skor Kualitas Kelas
Parashorea tomentella 1501 ±148.9 0.3±0.1 55.4±9.0 0.8±0.0 0.1±0.0 43.3±7.2 Nilai 50 50 50 100 100 50 400 II Parashorea smythiesii 1682.8±172 .5 0.5±0.1 61.1±9.8 0.7±0.1 0.2±0.0 56.6±7.7 Nilai 50 25 50 50 25 50 250 II Keterangan :
1) Bilangan Runkel = 2w/l L = Panjang serat
2) Daya tenun = L/d d = Diameter serat
3) Perbandingan Fleksibilitas = l/d l = Diameter lumen
4) Koefisien kekakuan = w/d w = Tebal dinding
5) Perbandingan Muhlstep = (d2-l2) x 100 %
d2
(Sumber Nur Rachman & Siagian, 1976)
2. Sifat fisis dan mekanis kayu
Nilai rata-rata hasil pengujian sifat fisis yang meliputi kadar air, berat jenis dan penyusutan disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19. Nilai rata-rata sifat fisis kayu yang diteliti
Jenis
kayu No
Kadar Air (%) Berat Jenis Berdasar Penyusutan
B - KU B - KO Basah KU Bb/Vb Bu/Vu Bo/Vo Bo/Vu Bo/Vb R T R T
Parashorea smythiesii n 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Rata2 89,31 13,63 0,86 0,55 0,50 0,48 0,46 1,41 2,98 3,44 6,32 Min 73,65 12,73 0,62 0,36 0,33 0,32 0,30 1,07 2,85 3,18 4,67 Max 105,00 14,02 0,99 0,61 0,57 0,54 0,51 1,96 3,43 3,91 7,31 Parashorea tomentella n 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Rata2 56,23 14,59 0,90 0,71 0,66 0,62 0,58 1,58 4,18 4,42 9,11 Min 48,75 13,79 0,81 0,62 0,59 0,55 0,52 1,28 3,91 3,97 8,08 Max 66,83 15,63 0,97 0,74 0,70 0,64 0,61 1,80 4,43 4,71 9,54
Kadar air basah kayu yang diteliti berkisar antara 48,75-105,00% dan kadar air kering udara berkisar antara 12,73-15,63%. Pada Tabel 19, terlihat bahwa kayu meranti merah mempunya kadar air basah yang lebih tinggi dibandingkan meranti putih, tetapi kadar air kering udaranya lebih rendah daripada meranti putih. Hal ini
29
kemungkinan karena kayu meranti putih lebih berat dari kayu meranti merah (BJ meranti puth lebih tinggi dibanding BJ merant merah), sehingga air bebas lebih banyak di dalam rongga sel meranti merah, sedangkan pada saat kayu mengering, maka kayu yang lebih berat, lebih banyak mengandung zat kayu dapat mengikat air dibandingkan kayu yang lebih ringan (Haygreen and Bowyer, 1983). Kayu meranti putih tergolong kayu ringan, sedangkan kayu meranti merah tergolong sedang.
Penyusutan meranti merah lebih rendah dibandingkan penyusutan meranti putih, hal ini sebanding dengan beratnya kayu, dimana kayu yang lebih berat, lebih tebal dinding selnya, lebih banyak zat yang dapat mengikat dan melepaskan air (melalui ikatan hidrogen).
Nilai rata-rata hasil pengujian sifat mekanis kayu meranti putih dan meranti merah disajikan pada Tabel 20. Tabel tersebut menunjukkan bahwa secara umum kayu meranti putih lebih kuat dibanding meranti merah yang diteliti. Berdasarkan nilai rata-rata kerapatan, dan sifat mekanisnya, maka kayu meranti putih tergolong kelas kayu kelas kuat II sedangkan kayu meranti merah tergolong kayu kelas kuat III. Kayu meranti putih dapat dimanfaatkan untuk kayu konstruksi atau bahan bangunan, sedangkan meranti merah hanya sesuai untuk konstruksi ringan atau kegunaan yang tidak mensyaratkan kekuatan tinggi.
Dari hasil penelitian sifat fisis dan mekanis, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Kadar air basah kayu yang diteliti berkisar antara 48,75-105,00% dan kadar air
kering udara berkisar antara 12,73-15,63%.
2. Kayu meranti merah tergolong kayu ringan, sedangkan kayu meranti putih tergolong sedang.
3. Kayu meranti putih tergolong kelas kayu kelas kuat II sedangkan kayu meranti
merah tergolong kayu kelas kuat III.
Berdasarkan sifat fisis dan mekanis tersebut, maka kayu meranti putih dapat dimanfaatkan untuk kayu konstruksi atau bahan bangunan, sedangkan meranti merah hanya sesuai untuk konstruksi ringan atau kegunaan yang tidak mensyaratkan kekuatan tinggi. Karena penyusutan kayu yang diteliti tergolong sedang-agak tinggi, maka kayu-kayu tersebut perlu dikeringkan secara hati-hati agar tidak terjadi cacat kayu karena pengeringan.
Tabel 20. Nilai rata-rata hasil pengujian sifat mekanis kayu meranti merah dan meranti putih yang diteliti Jenis Kayu No Ket.Lentur Statis (kg/cm2) Ket. Tekan (kg/cm2) Ket. Geser (kg/cm2) Ket. Belah (kg/cm) Ket. Tarik ┴ (kg/cm2) Ket. Tarik // (kg/cm2) Kekerasan (kg/cm2) Ket. Pukul (kgm/dm3)
MPL MOE MOR // ┴ R T R T R T R T Ujung Sisi R T
Parashorea smythiesii n 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Rata2 229,64 37.719,93 308,80 335,23 78,45 75,29 89,47 42,93 49,60 18,76 30,82 811,22 640,68 342,40 274,80 47,84 56,82 Min 212,80 33.800,64 295,31 321,94 72,24 56,48 73,67 35,27 35,82 11,99 12,31 337,02 330,19 319,00 258,50 43,26 51,73 Max 246,41 40.232,34 318,69 352,77 82,44 86,25 101,30 56,05 60,00 30,03 52,05 1314,83 968,71 384,00 291,50 51,62 68,40 Stdev 15,74 2.435,56 10,83 13,14 4,10 12,75 13,40 8,38 8,88 6,90 14,24 409,16 252,87 25,77 14,32 3,02 6,66 Parashorea tomentella n 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Rata2 241,67 38.428,01 311,63 377,68 126,24 86,80 90,58 38,68 48,31 34,80 29,28 1181,84 1192,88 499,80 438,80 63,60 65,40 Min 187,51 30.270,25 263,58 353,02 103,41 72,84 75,36 14,06 21,71 26,19 18,98 1040,99 833,88 410,00 398,00 54,42 61,21 Max 311,86 45.454,93 375,27 407,47 140,71 98,28 100,22 63,22 62,60 42,21 48,07 1465,17 1440,36 580,00 480,00 74,25 71,23 Stdev 44,74 6.314,95 41,94 20,41 16,87 9,47 9,26 19,02 15,89 7,44 11,89 169,65 222,96 63,47 38,74 8,33 4,90
31
3. Pengujian Sifat Pemesinan
Pengujian sifat permesinan meranti putih dan meranti merah meliputi sifat pengetaman dan pemboran. Merk mesin ketam yang dipakai yaitu DELTA OJ’5 sedangkan mesin bornya adalah INVICTA DELTA. Hasil pengujian secara umum kayu meranti merah termasuk kelas baik untuk pengerjaan pengetaman dan pemboran dengan nilai cacat sedikit, sedangkan meranti putih agak sukar karena agak keras dan liat. Martawijaya et al. (2005), menyatakan bahwa kayu meranti merah pada umumnya mudah dikerjakan, mudah digergaji, dibor dan dibubut serta diampelas dengan baik. Sifat pembentukan menunjukkan bahwa kayu tersebut baik untuk moulding, namun dalam penggunaannya harus diperhitungkan dengan sifat lainnya yaitu kelas kuat, kelas awet dan sebagainya. Dalam pengerjaannya kayu meranti putih harus menggunakan mata pisau tertentu karena agak liat dan keras.
4. Sifat keawetan kayu terhadap serangga
Hasil pengujian terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignatus) dan rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus ) dapat dilihat pada Tabel 21. dan Tabel 22.
Tabel 21. Rata-rata pengurangan berat, kelas ketahanan, jumlah rayap tanah yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu.
Jenis kayu Pengurangan berat (%) Natalitas (%) Derajat serangan (%) Nilai serangan Kelas ketahanan Parashorea tomentella 12,85 82,5 25,7 70 IV Parashorea smythiesii 7,70 46 18,8 70 III
Ketahanan kedua jenis kayu Meranti putih dan Meranti merah terhadap rayap tanah (Tabel 21). Untuk ketahanan terhadap rayap tanah kayu Meranti putih termasuk kelas ketahanan IV, sedangkan kayu Meranti merah termasuk kelas ketahanan III. Disini terlihat kayu Meranti merah lebih baik dari kayu Meranti putih, baik dilihat dari natalitas (jumlah rayap yang hidup) 46% sedangkan kayu Meranti putih 82,5 % ( hidupnya sangat banyak). Namun derajat serangan (kerusakan) untuk kayu Meranti merah
adalah 18,8% dan kayu Meranti putih 25,7 % keduanya termasuk dengan nilai 70 (kerusakan sedang, berupa saluran-saluran yang dangkal dan sempit: 16-30%),
Tabel 22. Rata-rata pengurangan berat, kelas ketahanan, jumlah rayap kayu kering yang hidup (Natalitas) dan derajat serangan pada dua jenis kayu
Jenis kayu Pengurangan berat (%) Natalitas (%) Derajat serangan (%) Nilai serangan Kelas ketahanan Parashorea tomentella 6,39 56 19,6 70 III Parashorea smythiesii 7,68 56,8 24,8 70 III
Ketahanan kedua jenis kayu Meranti putih dan Meranti merah terhadap rayap kayu kering (Tabel 22) masing-masing termasuk kelas III. Hal ini menunjukkan kedua jenis kayu mempunyai ketahan yang sama terhadap rayap kayu kering. Dilihat dari jumlah yang hidup, dimana kedua jenis rayap ini hampir sama jumlah yang hidup (56 % untuk kayu Meranti putih dan 56,8 % untuk kayu Meranti merah). Sedangkan derajat serangan (kerusakan), untuk kayu Meranti putih 19,6 % dan kayu Meranti merah 24,8 %, namun keduanya masuk nilai 70 (kerusakan sedang, berupa saluran-saluran yang dangkal dan sempit: 16-30%).
Berdasarkan penelitian kedua jenis kayu terhadap rayap tanah maupun rayap kayu kering, kayu meranti merah lebih baik dari kayu meranti putih. Oey Djoen Seng (1990) melaporkan bahwa kayu Meranti putih (Parashorea tomentella) termasuk kelas IV. Menurut Martawijaya dan Barly (2010), kayu kelas awet/ketahanan III, IV dan V perlu diawetkan sebelum digunakan untuk keperluan bahan bangunan maupun mebel dan barang kerajinan.
5. Sifat keawetan kayu terhadap jamur
Rata-rata kehilangan berat kayu oleh empat jenis jamur pelapuk tercantum pada Tabel 23. Berdasarkan ketahanan atau resistensi kayu terhadap jamur pelapuk di laboratorium maka kayu Parashorea tomentella termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV), dan Parashorea smythiesii
33
termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III). Kayu Parashorea tomentella memiliki kelas ketahanan yang sama yaitu kelas IV, yang dinilai berdasarkan umur pakai kayu dengan tidak disebutkan organisme yang menyerang secara spesifik (Oey, 1990). Kehilangan berat tertinggi didapatkan pada kayu Parashorea tomentella yang diumpankan pada biakan jamur
Schizophyllum commune. Sedangkan kehilangan berat terendah terjadi pada
kayu Parashorea smythiesii yang diumpankan pada biakan jamur
Pycnoporus sanguineus. Kemampuan melapukkan kayu tertingi dijumpai
pada jamur S. commune, kemudian diikuti oleh P. sanguineus dan kemampuan terendah terjadi pada jamur Polyporus sp.
Tabel 23. Persentase kehilangan berat kayu Kalimantan dan kelas resistensinya
Jenis kayu Persentase kehilangan berat kayu oleh jamur dan kelas
resistansinya Rata-rata Polyporus sp. Pycnoporus sanguineus Schizophyllum commune Tyromyces palustris Kb Kr Kb Kr Kb Kr Kb Kr Kb Kr Parashorea tomentella (Sym.) Meijer (kode T) 3,79 II 9,94 III 24,02 IV 6,74 III 11,12 IV (II-IV) Parashorea smythiesii Wyatt. Sm ex P.S. Ashton 6,91 III 2,82 II 18,71 IV 4,77 II 8,30 III (I(II-IV)
Keterangan: Kb = kehilangan berat, Kr = kelas resistensi
Dari dua jenis kayu asal Kalimantan Timur yang diteliti maka kayu kayu Parashorea tomentella (Sym.) Meijer termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV) dan Parashorea smythiesii Wyatt. Sm ex P.S. Ashton termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III). Kemampuan melapukkan kayu dari yang tertingi yaitu pada jamur S. commune P. sanguineus,
Tyromyces palustris dan Polyporus sp.
6. Sifat keawetan kayu terhadap penggerek di laut
Hasil pengujian dua jenis kayu yang dipasang di perairan Pulau Rambut selama 3 bulan tertera pada Tabel 24.
Tabel 24. Intensitas serangan penggerek kayu di laut terhadap 2 jenis kayu
No Nama botanis Derajat kerusakan (%) Rata-rata 1 2 3 4 5 1 Parashorea tomentella 90 90 90 90 90 90 2 Parashorea smythiesii 20 90 90 90 40 70
Pengujian keawetan kayu terhadap penggerek di laut dilakukan di Pulau Rambut Kepulauan Seribu. Pantainya berkarang, salinitas perairan pada waktu pemasangan contoh uji 30 per mil, tinggi gelombang sampai 0,5 m lebih, temperatur 29oC, angin 180 m/mt, arus 0,70 m/det, pasang surut 1,0 m, Ph 8 dan BOD 21,15. Waktu pengambilan contoh uji, salinitasnya 29 per mil, tinggi gelombang sampai 1,0 m lebih, temperatur 29oC, angin 227 m/mt, arus 0,75 m/det, pasang surut 1,0 m, Ph 8 dan BOD 21,5. Kondisi yang demikian sangat menguntungkan bagi perkembangan organisme penggerek di laut.
Pengujian kedua jenis kayu di laut baru berjalan 6 bulan, ternyata kedua jenis kayu tidak tahan terhadap organisme perusak di laut atau termasuk kelas awet V. Intensitas serangan dari kedua jenis kayu dapat dilihat pada Tabel 24. Jenis organisme penggerek yang menyerang yaitu
Martesia striata Linne. dari famili Pholadidae dan Teredo bartchi Clapp., Diccyathifer manni Wright., Bankia cieba Clench/Turner dari famili
Teredinidae.
Pada waktu yang bersamaan telah dicoba pula pada jenis-jenis kayu tersebut yang telah diperlakukan dengan pengawetan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kayu yang diawetkan dengan tembaga-khrom-boron (CCB) 3% melalui proses vakum tekan (sel penuh). Vakum awal yang diberikan 50 cm Hg selama 15 menit, tekanan 10 atm selama 120 menit dan vakum akhir 15 menit. Hasil pengamatan selama 6 bulan direndam di laut, ternyata tidak mendapat serangan dari penggerek kayu. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil pengawetan dengan bahan pengawet CCB dapat menahan serangan penggerek kayu di laut.