LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA
PUSAT PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN
TAHUN 2014
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2015
KATA PENGANTAR
Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan merupakan instansi pemerintah di bawah Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Sebagai salah satu unit kerja yang mandiri, Puslitbang Tanaman Pangan wajib membuat dan menyampaikan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) di bidang penelitian dan pengembangan pertanian khususnya tanaman pangan.
Penyusunan laporan kinerja Puslitbang Tanaman Pangan 2014 ini telah mengacu pada pedoman penyusunan LAKIP yang disusun Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia tahun 2004 serta Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Pencapaian sasaran strategis yang didukung oleh pelaksanaan berbagai program dan kegiatan di lingkup Puslitbang Tanaman Pangan merupakan wujud pertanggungjawaban atas amanah yang diembankan kepada Puslitbang Tanaman Pangan sesuai tugas pokok dan fungsinya.
Laporan ini menyajikan hasil penelitian seperti varietas unggul baru, teknologi budi daya, benih sumber, dan kegiatan penunjang dalam pencapaian tujuan dan sasaran strategis Puslitbang Tanaman Pangan.
Semoga laporan ini dapat memenuhi harapan masyarakat dan dalam rangka membangun kinerja khususnya dalam penelitian dan pengembangan tanaman pangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pengembangan IPTEK tanaman pangan.
Bogor, 3 Januari 2015 Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,
IKHTISAR EKSEKUTIF
Puslitbang Tanaman Pangan merupakan salah satu unit kerja di bawah Badan Litbang Pertanian yang memperoleh mandat melaksanakan penelitian dan pengembangan padi dan palawija. Mandat tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi di Malang, Balai Penelitian Tanaman Serealia di Maros, dan Loka Penelitian Penyakit Tungro di Lanrang, Sulawesi Selatan.
Untuk dapat menjadi lembaga rujukan iptek dan sumber inovasi teknologi yang bermanfaat sesuai kebutuhan pengguna, sasaran strategis tahunan Puslitbang Tanaman Pangan adalah: (1) Tersedianya informasi sumber daya genetik tanaman pangan, (2) Terciptanya varietas unggul baru tanaman pangan, (3) Tersedianya benih sumber varietas unggul baru tanaman pangan untuk penyebaran varietas berdasarkan SMM ISO 9001-2008, (4) Terciptanya teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan, dan (5) Tersedianya rumusan kebijakan pengembangan tanaman pangan.
Kinerja Puslitbang Tanaman Pangan tahun 2014 dapat dilihat pada pengukuran akuntabilitas kinerja yang mencapai 116,89%, terdiri dari pengelolaan sumber daya genetik, perakitan VUB, produksi benih, perakitan teknologi budi daya, dan rekomendasi kebijakan tanaman pangan.
Sebanyak 21 varietas unggul baru (VUB) telah dilepas tahun 2014 yaitu: varietas unggul baru padi Inpari 34 Salin Agritan, Inpari 35 Salin Agritan, Inpari Unsoed79 Agritan, Inpara 8 Agritan, dan Inpara 8 Agritan, VUB kedelai Demas 1, Dena 1 dan Dena 2, VUB kacang tanah Talam 2 dan Talam 3, VUB kacang hijau Vima 2 dan Vima 3, VUB ubijalar Antin 2 dan Antin 3, VUB sorgum SURI 3 Agritan dan SURI 4 Agritan, VUB jagung URI 3 H, HJ21 Agritan, dan HJ22 Agritan, VUB gandum GURI 3 Agritan, GURI 4 Agritan, dan GURI 5 Agritan.
Teknologi tanaman pangan pada tahun 2014 telah dirakit sebanyak 22 paket teknologi budi daya dan panen untuk padi, jagung, kedelai, kacang hijau, ubijalar, dan kacang tanah. Disajikan pula 11 paket rekomendasi kebijakan dalam mendukung peningkatan produksi tanaman pangan serta membangun daerah perbatasan di Kaltim, Kalbar, NTT, Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan Papua.
Pagu anggaran lingkup Puslitbang Tanaman Pangan tahun anggaran 2014 Rp. 120.869.273.000,- terdiri dari Belanja Pegawai Rp.54.856.928.000,- Belanja Barang Operasional Rp.15.087.092.000, Belanja Barang Nonperasional Rp.41.561.228.000, dan Belanja Modal Rp.9.364.025.000,-. Anggaran tersebut tersebar di Puslitbang Tanaman Pangan Rp.18.322.614.000, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Rp.42.270.201.000, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Rp.31.309.718.000, Balai Penelitian Tanaman Serealia Rp. 24.467.752.000, dan Loka Penelitian Penyakit Tungro Rp. 4.498.988.000.
Realisasi anggaran lingkup Puslitbang Tanaman Pangan sampai dengan 31 Desember 2014 Rp.115.520.864.056 (95,58%), terdiri dari Belanja Pegawai Rp. 51.425.685.687 (93,75%), Belanja Barang Operasional Rp.14.626.142.406 (96,94%), Belanja Barang Nonoperasional Rp.40.607.610.663 (97,71%), dan Belanja Modal Rp. 8.861.425.300 (94,63%). Realisasi PNBP lingkup Puslitbang Tanaman Pangan sampai Desember 2014 Rp. 4.482.875.437,- (205,21%) dari target PNBP Rp. 2.184.540.712,- terdiri dari target penerimaan umum Rp. 103.373.712,- dan penerimaan fungsional Rp. 2.081.167.000. Sedangkan realisasi penerimaan umum Rp. 344.600.412,- (333,35%) dan penerimaan fungsional Rp. 4.138.275.025,- (198,84%).
Secara umum kinerja penelitian dan pengembangan tanaman pangan yang dituangkan dalam Renstra 2010-2014 telah berhasil dicapai sesuai visi dan misi, serta mendukung 4 sukses Kementerian Pertanian dan memenuhi kebutuhan 4-F (Food, Feed, Fiber, dan Fuel). Ketersediaan varietas unggul padi (hibrida dan VUTB), jagung (hibrida dan komposit), dan kedelai untuk memenuhi kebutuhan food, feed dan fibre. Perakitan varietas unggul baru didukung oleh pengkayaan dan pengelolaan sumber daya genetik tanaman pangan terus dilakukan. Tersedia varietas unggul baru ubikayu dan sorgum, serta teknologi pemanfaatan limbah menjadi sumber energi terbarukan membangun masyarakat mandiri energi.
Data BPS ARAM II tahun 2014, produksi padi 70,61 juta ton GKG menurun 0,67 juta ton (0,94%) dibandingkan tahun 2013, namun lebih tinggi daripada produksi 2012 hanya 68,96 juta ton GKG. Produksi jagung 19,13 juta ton meningkat 3,33% dibandingkan tahun 2013 (18,51 juta ton) dan 2012 (18,97 juta ton). Produksi kedelai 921,34 ribu ton meningkat 18,12% dibandingkan tahun 2013 dan 2012 hanya 843,15 ribu ton. Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2014 secara nasional naik 0,30% dibandingkan Agustus 2014 dari
102,06 menjadi 102,36. Kenaikan NTP September 2014 disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dan keperluan produksi pertanian. Kenaikan NTP September 2014 karena naiknya NTP subsektor tanaman pangan 0,37%, hortikultura 0,59%, dan peternakan 1,08%.
Peningkatan produksi tanaman pangan dicapai melalui penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) serta pendampingan Sekolah Lapang (SL) PTT ke seluruh propinsi. Tahun 2015 guna mencapai kedaulatan pangan, Kementerian Pertanian telah mencanangkan Gerakan Penerapan PTT (GP-PTT).
Puslitbang Tanaman Pangan dalam melaksanakan penelitian sangat bergantung pada kondisi lingkungan seperti temperatur, iklim, dan musim. Pengaruh pemanasan global seperti penentuan saat musim hujan atau awal musim kemarau sulit diprediksi. Hal ini mempengaruhi saat penentuan musim tanam dan pelaksanaan penelitian di lapang. Dampak perubahan iklim menyebabkan kondisi lapang yang tak terduga seperti serangan hama dan penyakit yang meski sudah diantisipasi tetap tidak dapat terkendali karena lokasi penelitian hanya sebagian kecil dari hamparan pertanaman. Ledakan hama tikus, wereng coklat disertai penyakit virus grassy stunt dan ragged stunt yang ditularkannya pada tahun 2010 mempengaruhi hasil penelitian padi di lapang.
Menghadapi kendala dampak perubahan iklim yang dicirikan dengan musim yang sulit diprediksi, pelaksanaan penelitian diupayakan dengan optimasi pemanfaatan laboratorium, rumah kaca, dan kebun percobaan. Sarana dan prasarana penelitian terus ditingkatkan dan laboratorium yang terakreditasi.
Varietas unggul dan teknologi baru belum cepat diadopsi petani di lapang. Adopsi teknologi dipercepat dengan diseminasi multichannel melalui kerja sama dengan berbagai pihak, terutama penyuluh lapang dan dukungan pemerintah daerah. Penyebarluasan inovasi teknologi baik melalui media cetak, ekspose lapang, dan media elektronik sangat bermanfaat dengan meningkatnya adopsi teknologi yang telah dihasilkan. Termasuk pula pengembangan melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) di seluruh Indonesia. Memperbanyak jumlah Demplot di berbagai daerah ditengarai mampu meningkatkan adopsi varietas unggul baru dan teknologi produksi lainnya.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Iktisar Eksekutif ... ii
Daftar Isi ... iv
I. Pendahuluan ... 1
II. Perencanaan dan Perjanjian Kinerja..…………..………... 4
2.1. Perencanaan Strategis ……….….…….... 5
2.2. Perencanaan Kinerja..………..…………... 9
2.3. Penetapan Kinerja ... 10
III. Akuntabilitas Kinerja ………... 16
3.1. Pengukuran Capaian Kinerja ………. 17
3.2. Analisis Capaian Kinerja ... 19
3.3. Akuntabilitas Keuangan ………... 88
IV. Penutup ... 92
Lampiran:
Struktur Organisasi Realisasi Keuangan
Rencana Strategis (RS) Puslitbang Tanmaan Pangan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) tahun 2014
I. PENDAHULUAN
Puslitbang Tanaman Pangan merupakan salah satu unit kerja di bawah Badan Litbang Pertanian yang memperoleh mandat melaksanakan penelitian dan pengembangan padi dan palawija. Mandat tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi – Jawa Barat, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi di Malang – Jawa Timur, Balai Penelitian Tanaman Serealia di Maros – Sulawesi Selatan, dan Loka Penelitian Penyakit Tungro di Lanrang, Sidrap, Sulawesi Selatan.
Tugas dan fungsi Puslitbang Tanaman Pangan diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian No.61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang organisasi dan tata kerja Kementerian Pertanian. Tugas yang diemban menyiapkan perumusan kebijakan dan program serta melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Penelitian yang dilakukan bersifat mendasar dan strategis untuk mendapatkan teknologi tinggi dan inovatif yang berlaku bagi agroekologi dominan di beberapa wilayah. Penelitian yang bersifat hulu (upstream) ditujukan untuk mengembangkan teknologi dasar dan teknologi generik yang akan diuji daya adaptasi oleh BPTP sebelum disebarluaskan kepada petani.
Dalam melaksanakan tugasnya, Puslitbang Tanaman Pangan menyelenggarakan fungsi yaitu: a) penyiapan rumusan dan kebijakan penelitian dan pengembangan, b) perumusan program penelitian dan pengembangan, c) pelaksanaan kerja sama dan pendayagunaan hasil penelitian dan pengembangan, d) pelaksanaan penelitian dan pengembangan, e) evaluasi serta pelaporan pelaksanaan penelitian dan pengembangan tanaman pangan, dan f) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga di tingkat pusat.
Untuk melaksanakan mandat, tugas, dan fungsinya, Puslitbang Tanaman Pangan didukung sarana kebun percobaan dan laboratorium yang terakreditasi, serta tenaga fungsional peneliti dan administrasi. Jumlah pegawai di lingkup Puslitbang Tanaman Pangan tahun 2014 berjumlah 816 orang. SDM berkurang 85 orang selama 5 tahun jika dibandingkan dengan tahun 2010 berjumlah 901 orang. Pengurangan pegawai terjadi di seluruh satker lingkup Puslitbang Tanaman Pangan. Namun, tingkat pendidikan meningkat daripada tahun 2010, yaitu 63 orang S3 (Doktor), 95 orang S2, dan 184 orang S1 (Tabel 1). Sedangkan jumlah Profesor Riset tahun 2010 berjumlah 15 orang, saat ini hanya 10 orang karena sebagian sudah purna tugas.
Tabel 1. Distribusi SDM di lingkup Puslitbang Tanaman Pangan berdasarkan pendidikan, 31 Desember 2014. Unit Kerja S3 S2 S1 SM/ D3 D2 SLTA SLTP SD Total Puslitbang Tanaman Pangan 9 9 16 8 1 44 6 5 98 BBPadi 14 23 62 10 1 100 8 30 248 Balitkabi 24 30 58 7 1 64 17 20 221 Balitsereal 15 30 37 14 - 71 19 33 219 Lolit Tungro 1 3 11 2 - 9 - 4 30 Jumlah 63 95 184 41 3 288 50 92 816
Kontribusi nyata Puslitbang Tanaman Pangan adalah menyediakan varietas unggul baru padi dan palawija, teknologi budi daya, benih sumber, serta kebijakan tanaman pangan. Data BPS melaporkan bahwa produksi padi tahun 2014 (ARAM II) diperkirakan 70,61 juta ton GKG menurun 0,67 juta ton (0,94%) dibandingkan tahun 2013, namun lebih tinggi daripada produksi tahun 2012 hanya 68,96 juta ton GKG. Produksi jagung tahun 2014 diperkirakan 19,13 juta ton meningkat 3,33% dibandingkan tahun 2013. Demikian pula produksi kedelai tahun 2014 diperkirakan 921,34 ribu ton meningkat 18,12% dibandingkan tahun 2013.
Peningkatan produksi tanaman pangan dicapai melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman secara terpadu (PTT) serta pendampingan Sekolah Lapang (SL) PTT oleh peneliti Balitbangtan ke seluruh propinsi di Indonesia. Tahun 2015, dalam upaya mencapai kedaulatan pangan, Kementerian Pertanian telah mencanangkan Gerakan Penerapan PTT (GP-PTT).
II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
2.1. PERENCANAAN STRATEGIS Visi
Visi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian merupakan bagian integral dari visi pembangunan pertanian dan perdesaan Indonesia. Visi Badan Litbang Pertanian adalah: ”Pada tahun 2014 menjadi lembaga penelitian dan pengembangan pertanian berkelas dunia yang menghasilkan dan mengembangkan inovasi teknologi pertanian untuk mewujudkan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumber daya lokal”
Sejalan dengan visi Badan Litbang Pertanian, maka Puslitbang Tanaman Pangan merumuskan visi yaitu: ”Puslitbang Tanaman Pangan tahun 2014 menjadi lembaga rujukan Iptek dan sumber inovasi teknologi yang bermanfaat sesuai kebutuhan pengguna”.
Misi
Misi yang diemban Puslitbang Tanaman Pangan adalah:
1. Menghasilkan, mengembangkan, dan mendiseminasikan inovasi teknologi dan rekomendasi kebijakan tanaman pangan yang unggul, bernilai tambah, efisien, dan kompetitif (scientific recognition).
2. Meningkatkan kualitas sumber daya penelitian tanaman pangan serta efisiensi dan efektivitas pemanfaatannya.
3. Mengembangkan jejaring kerja sama nasional dan internasional dalam rangka penguasaan Iptek dan peningkatan peran Puslitbang Tanaman Pangan dalam pembangunan pertanian (impact recoqnition).
Tujuan dan Sasaran
Tujuan Puslitbang Tanaman Pangan pada tahun 2010 – 2014 sebagai berikut: 1. Mengembangkan dan memanfaatkan keragaman sumber daya genetik
untuk bahan perakitan varietas unggul baru guna meningkatkan produktivitas sesuai preferensi konsumen, serta adaptif terhadap cekaman faktor biotik dan abiotik dampak perubahan iklim.
2. Menghasilkan teknologi optimasi pemanfaatan sumber daya tanah (lahan dan air), tanaman, dan organisme pengganggu tanaman yang dapat merealisasikan potensi hasil dan mengurangi emisi gas rumah kaca (methan) di lahan suboptimal dan antisipasi dampak iklim ekstrim.
3. Mempercepat alih teknologi dan distribusi benih sumber tanaman pangan kepada pengguna mendukung program strategis Kementerian Pertanian. 4. Menghasilkan rekomendasi opsi kebijakan pembangunan pertanian yang
bersifat antisipatif dan responsif dalam rangka pembangunan sistem pertanian industrial.
5. Mengembangkan jejaring dan kerja sama kemitraan dengan dunia usaha, pemerintah daerah, lembaga penelitian di dalam dan luar negeri.
6. Meningkatkan kualitas dan mengembangkan sumber daya penelitian. Untuk dapat menjadi lembaga rujukan iptek dan sumber inovasi teknologi yang bermanfaat sesuai kebutuhan pengguna, sasaran strategis tahunan Puslitbang Tanaman Pangan adalah:
1. Tersedianya informasi sumber daya genetik tanaman pangan. 2. Terciptanya varietas unggul baru tanaman pangan.
3. Tersedianya benih sumber varietas unggul baru tanaman pangan untuk penyebaran varietas berdasarkan SMM ISO 9001-2008.
4. Terciptanya teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan.
5. Tersedianya rumusan kebijakan pengembangan tanaman pangan. Arah Kebijakan
Arah kebijakan dan strategi litbang tanaman pangan merupakan bagian dari arah kebijakan dan strategi litbang pertanian pada Renstra Badan Litbang Pertanian 2010 – 2014 khususnya yang terkait langsung dengan program Badan Litbang Pertanian yaitu penciptaan teknologi dan varietas unggul berdaya saing. 1. Memfokuskan penciptaan inovasi teknologi benih/bibit unggul dan
rumusan kebijakan guna pemantapan swasembada beras dan jagung serta pencapaian swasembada kedelai untuk peningkatan produksi produk
komoditas pangan substitusi impor, diversifikasi pangan, bioenergi dan bahan baku industri.
2. Memperluas jejaring kerja sama penelitian, promosi dan diseminasi hasil penelitian kepada stakeholders nasional maupun internasional untuk mempercepat proses pencapaian sasaran pembangunan pertanian (impact recoqnition) pengakuan ilmiah internasional (scientific recognition) dan perolehan sumber-sumber pendanaan penelitian lainnya di luar APBN. 3. Meningkatkan kuantitas, kualitas dan kapabilitas sumber daya penelitian
melalui perbaikan sistem rekruitmen dan pelatihan SDM, penambahan sarana dan prasarana, dan struktur penganggaran yang sesuai dengan kebutuhan institusi.
4. Mendorong inovasi teknologi yang mengarah pada pengakuan dan perlindungan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) secara nasional dan internasional.
5. Meningkatkan penerapan manajemen penelitian dan pengembangan yang akuntabel dan good governance.
Strategi
1. Menyusun cetak biru kebutuhan inovasi teknologi untuk pencapaian sasaran pembangunan pertanian dan benchmark hasil penelitian.
2. Mengoptimalkan kapasitas unit kerja untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas penelitian, memperkuat inovasi teknologi tanaman pangan berorientasi ke depan, memecahkan masalah, berwawasan lingkungan, aman bagi kesehatan dan menjamin keselamatan manusia serta dihasilkan dalam waktu yang relatif cepat, efisien dan berdampak luas.
3. Menyusun dan meningkatkan pemanfaatan rekomendasi kebijakan antisipatif dan responsif dalam kerangka pembangunan pertanian untuk memecahkan masalah dan isu aktual dalam pembangunan pertanian. 4. Meningkatkan intensitas komunikasi dan partisipasi pada kegiatan ilmiah
nasional dan internasional.
5. Meningkatkan intensitas pendampingan penerapan teknologi kepada calon pengguna.
6. Meningkatkan intensitas promosi inovasi teknologi kepada pelaku usaha industri agro.
7. Meningkatkan kerja sama penelitian dan pengembangan dengan lembaga internasional/nasional berkelas dunia dalam rangka memacu peningkatan produktivitas dan kualitas penelitian untuk memenuhi kebutuhan pengguna dan pasar. Kerja sama penelitian dan pengembangan ini juga diarahkan untuk pencapaian pengakuan kompetensi sebagai impact recoqnition yang mengarah pada peningkatan perolehan pendanaan di luar APBN.
8. Mengembangkan sistem alih teknologi berbasis HaKI hasil litbang ke dunia industri melalui lisensi.
9. Menerapkan kebijakan reformasi birokrasi secara konsisten pada semua jajaran Badan Litbang Pertanian.
Program dan Kegiatan
Sesuai dengan Pokok-pokok Reformasi Perencanaan dan Penganggaran (SEB Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menkeu, No. 0412.M.PPN/06/2009 tanggal 19 Juni 2009), bahwa program hanya berada di Eselon I, sedangkan kegiatan berada di Eselon II. Program Badan Litbang Pertanian pad periode 2010 – 2014 adalah Penciptaan teknologi dan varietas unggul berdaya saing. Sejalan dengan program tersebut, Puslitbang Tanaman Pangan menetapkan kebijakan alokasi sumber daya penelitian dan pengembangan menurut komoditas prioritas utama yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, yaitu tiga di antara lima komoditas prioritas tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai) serta ubikayu dan kacang tanah yang termasuk dalam 30 fokus komoditas lainnya dan komoditas tanaman pangan yang menjadi penting seiring dinamika pengembangan tanaman pangan.
Sesuai dengan organisasi Badan Litbang Pertanian, program Puslitbang Tanaman Pangan masuk dalam subprogram penelitian dan pengembangan komoditas dengan kegiatan penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Indikator kinerja Unit Kerja adalah Output. Kegiatan litbang tanaman pangan akan dilaksanakan oleh lima satuan kerja yaitu Puslitbang Tanaman Pangan sebagai unit kerja eselon II, didukung oleh satuan kerja BBPadi, Balitkabi, Balitsereal, dan Lolit Tungro.
Indikator Kinerja Utama
Output yang menjadi indikator kinerja (IKU) litbang tanaman pangan meliputi: 1) Jumlah varietas unggul baru padi, serealia, dan kabi, 2) Jumlah teknologi budi daya dan pascapanen primer, 3) Jumlah aksesi sumber daya genetik (SDG) padi, serealia, dan kabi terkoleksi, teridentifikasi dan terkonservasi untuk perbaikan sifat varietas, 4) Jumlah produksi benih sumber (BS, FS) padi, serealia, dan kabi dengan SMM ISO 9001-2000, atau ISO 9001-2008, dan 5) Publikasi ilmiah untuk diseminasi iptek.
2.2. PERENCANAAN KINERJA
Penyusunan rencana kinerja kegiatan penelitian diselaraskan dengan sasaran Renstra Puslitbang Tanaman Pangan 2010-2014. Sejalan dengan hal tersebut Puslitbang Tanaman Pangan setiap tahun telah menyusun Rencana Kinerja Tahunan (RKT) 2014 yang berisi: 1) Sasaran strategis kegiatan yang akan dilaksanakan, 2) Indikator kinerja berupa hasil yang akan dicapai secara terukur, efektif, efisien, dan akuntabel, dan 3) Target yang akan dihasilkan.
Rencana kegiatan penelitian dan pengembangan tanaman pangan telah dituangkan dalam RKT tahun 2014 dengan rincian sebagai berikut:
1. Tersedianya informasi sumber daya genetik (SDG) tanaman pangan yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan sifat varietas.
2. Terciptanya varietas unggul baru (VUB) tanaman pangan.
3. Tersedianya benih sumber varietas unggul baru tanaman pangan untuk penyebaran varietas berdasarkan SMM ISO 9001-2008.
4. Terciptanya teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan.
5. Tersedianya kebijakan pengembangan tanaman pangan.
Adapun matriks Rencana Kinerja Tahunan (RKT) kegiatan penelitian dan pengembangan tanaman pangan disajikan pada Tabel 2, yang akan dilaksanakan oleh satuan kerja lingkup Puslitbang Tanaman Pangan.
Tabel 2. Rencana Kinerja Tahunan Puslitbang Tanaman Pangan 2014
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1. Tersedianya informasi sumber daya genetik
Jumlah aksesi sumber daya genetik tanaman pangan yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan sifat varietas
1.405 aksesi
2. Terciptanya varietas unggul baru tanaman pangan
Jumlah varietas unggul baru tanaman pangan
19 varietas 3. Tersedianya benih sumber
varietas unggul baru tanaman pangan untuk penyebaran varietas berdasarkan SMM ISO 9001-2008.
Jumlah produksi benih sumber padi, serealia, aneka kacang dan ubi
219 ton
4. Terciptanya teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan
Jumlah teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan
13 teknologi
5. Tersedianya kebijakan pengembangan tanaman pangan
Rumusan rekomendasi kebijakan pengembangan tanaman pangan
10 rekomendasi
2.3. PENETAPAN KINERJA
Penetapan Kinerja 2014 disusun setelah disetujui dan diterbitkannya DIPA 2014. Penetapan kinerja ini merupakan wujud komitmen perjanjian kinerja antara Kepala Puslitbang Tanaman Pangan dengan Kepala Badan Litbang Pertanian sebagai tolok ukur keberhasilan dan dasar evaluasi akuntabilitas kinerja Puslitbang Tanaman Pangan pada akhir tahun anggaran.
Oleh karena itu, Puslitbang Tanaman Pangan telah menetapkan 3 (tiga) sasaran strategis yang akan dicapai 2014 guna mendukung program Badan Litbang Pertanian. Sasaran strategis Puslitbang Tanaman Pangan, yaitu (1) Terciptanya varietas unggul, galur/klon dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, (2) Terciptanya inovasi teknologi produksi dan pengelolaan sumber daya pertanian mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, dan (3) Tersedianya rekomendasi kebijakan pengembangan tanaman pangan.
Sedangkan indikator kinerja untuk mencapai 3 (tiga) sasaran strategis tersebut, yaitu (1) Jumlah varietas unggul baru padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya yang akan dilepas, (2) Jumlah benih sumber padi, jagung, dan kedelai sesuai dengan SMM ISO 9001-2008 yang akan dihasilkan, (3) Jumlah teknologi budi daya dan panen tanaman pangan, dan (4) Jumlah rekomendasi kebijakan pengembangan tanaman pangan.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diemban Puslitbang Tanaman Pangan pada tahun 2014, maka diperlukan anggaran Rp.120.869.273.000,0 untuk belanja pegawai, belanja barang operasional, belanja barang nonoperasional, dan belanja modal. Anggaran tersebut diperoleh dari APBN dan PNBP, serta kegiatan kerja sama penelitian dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun bantuan luar negeri.
Penetapan kinerja 2014 yang telah disusun pada Tabel 3 telah mengalami revisi karena adanya perubahan APBN sesuai kebijakan pemerintah akibat melonjaknya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Tabel 3. Penetapan Kinerja Puslitbang Tanaman Pangan 2014.
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1. Terciptanya varietas unggul, galur/klon dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan;
a. Jumlah varietas unggul baru padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya
b. Jumlah benih sumber padi, jagung, dan kedelai dengan SMM ISO 9001-2008
20 Varietas
203 Ton
2. Terciptanya inovasi teknologi produksi dan pengelolaan sumber daya pertanian mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan
Jumlah teknologi budi daya
dan panen 22 Teknologi
3 Tersedianya rekomendasi kebijakan pengembangan tanaman pangan
Jumlah rekomendasi kebijakan pengembangan tanaman pangan
Dalam LAKIP Puslitbang Tanaman Pangan ini dilaporkan juga perkembangan berbagai kegiatan lain, yaitu: a) Pengelolaan sumber daya genetik tanaman pangan, b) Kegiatan diseminasi hasil penelitian tanaman pangan, dan c) Laporan keuangan.
Pencapaian target indikator kinerja dilaksanakan melalui serangkaian penelitian di BBPadi, Balitkabi, Balitsereal, dan Lolit Tungro, dengan judul perakitan varietas unggul baru dan produksi benih sumber, dengan rincian sebagai berikut:
1a. Penelitian pemuliaan dan perakitan varietas unggul baru tanaman pangan, terdiri dari:
a. Perakitan varietas unggul baru padi
Perakitan varietas unggul padi dilaksanakan melalui 4 (empat) kegiatan setingkat RPTP, yaitu: a) Percepatan pelepasan varietas unggul baru padi melalui konsorsium padi nasional, b) Perakitan varietas padi sawah, c) Perakitan varietas unggul padi rawa, dan d) Perakitan varietas padi gogo. Penelitian ini telah melibatkan 56 orang peneliti dengan pagu anggaran Rp. 5.543.000.000.
b. Perakitan varietas unggul baru tanaman aneka kacang dan ubi
Perakitan varietas unggul aneka kacang dan umbi dilaksanakan melalui serangkaian penelitian setingkat RPTP dengan judul, yaitu: a) Percepatan pelepasan varietas kedelai nasional melalui konsorsium, b) Perakitan varietas kedelai tropis toleran kekeringan, naungan, pasang surut, dan toleran cekaman biotik, c) Perbaikan teknologi produksi ubikayu dan ubijalar untuk lahan sawah dan lahan kering, dan d) Perakitan varietas kacang tanah dan kacang hijau untuk lahan sawah, lahan salin, dan lahan kering masam. Penelitian ini telah melibatkan 67 orang peneliti dengan pagu anggaran sebesar Rp.1.339.510.000.
c. Perakitan varietas unggul baru jagung dan serealia lainnya Perakitan varietas unggul jagung dan serealia lainnya dilaksanakan melalui serangkaian penelitian setingkat RPTP dengan judul, yaitu: a) Perakitan Varietas Jagung Hibrida Berdaya Saing, b) Perakitan Varietas Jagung
Bersari Bebas Toleran Cekaman Lingkungan, c) Perakitan Varietas Gandum Tropis Adaptif Pada Ketinggian ≤ 400 Mdpl, d) Perakitan Varietas dan Teknologi Penekanan Hasil Sorgum. Penelitian ini telah melibatkan sekitar 35 orang peneliti dengan pagu anggaran sebesar Rp.1.582.344.000.
1b. Produksi benih sumber tanaman pangan sesuai SMM ISO 9001-2008, terdiri dari:
a. Penyediaan benih sumber varietas unggul padi.
Kegiatan penyediaan benih sumber ini dilaksanakan oleh BBPadi di Sukamandi dan Lolit Tungro di Lanrang, Sulawesi Selatan dengan target diproduksinya 130 ton benih sumber kelas BS, FS, dan SS. Pagu anggaran di BBPadi Rp.1.927.350.000 untuk memproduksi 100 ton benih sumber (kelas BS, FS, dan SS), sedangkan pagu anggaran di Lolit Tungro Rp.344.586.000 untuk memproduksi benih sumber kelas SS 30 ton. Total biaya produksi benih sumber sebesar Rp.2.271.936.000.
b. Penyediaan benih sumber varietas unggul kacang dan umbi. Kegiatan penyediaan benih sumber aneka kacang dan umbi dilaksanakan di Balitkabi Malang dengan target produksi 83 ton kelas BS dan FS. Pagu anggaran produksi benih sumber sebesar Rp.2.081.750.000.
c. Penyediaan benih sumber varietas unggul jagung dan serealia lain.
Kegiatan penyediaan benih sumber jagung dan serealia lainnya dilaksanakan di Balitsereal Maros dengan target produksi benih sumber 34 ton kelas BS dan FS. Pagu anggaran produksi benih sebesar Rp.1.091.474.000.
2. Perakitan teknologi budi daya dan panen tanaman pangan a. Teknologi budi daya tanaman padi
Kegiatan perakitan teknologi budi daya dan panen tanaman padi dilaksanakan oleh BBPadi di Sukamandi dengan target dihasilkannya 6 (enam) teknologi dan Lolit Tungro di Lanrang, Sulawesi Selatan dengan target dihasilkannya 1 (satu) teknologi.
Perakitan teknologi budi daya padi di BBPadi dilaksanakan melalui 3 (tiga) kegiatan setingkat RPTP, yaitu: a) Perbaikan komponen teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah irigasi, b) Perbaikan komponen teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi rawa, dan c) perbaikan komponen teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi gogo. Jumlah pagu anggaran kegiatan penelitian ini sebesar Rp.2.601.000.000. Sedangkan penelitian Lolit Tungro dengan judul “inovasi teknologi produksi padi tahan tungro mendukung upaya kemandirian pangan” dengan pagu anggaran sebesar Rp.421.659.000.
b. Teknologi budi daya tanaman aneka kacang dan ubi
Kegiatan perakitan teknologi budi daya tanaman aneka kacang dam umbi dilaksanakan di Balitkabi Malang melalui penelitian yaitu a) Perbaikan komponen teknologi budi daya kedelai untuk lahan sawah, lahan kering, dan pasang surut menuju swasembada kedelai, b) Perbaikan teknologi produksi ubikayu dan ubijalar untuk lahan sawah dan lahan kering, dan c) Perbaikan komponen teknologi budi daya kacang tanah dan kacang hijau lahan sawah, lahan salin, dan lahan kering. Jumlah pagu anggaran kegiatan penelitian ini sebesar Rp.834.400.000.
c. Teknologi budi daya tanaman serealia
Kegiatan perakitan teknologi budi daya tanaman serealia dilaksanakan di Balitsereal Maros melalui penelitian “Perakitan teknologi mendukung pengembangan VUB jagung” untuk menghasilkan a) Teknologi tanam tumpangsari jagung dengan kacang-kacangan pada sistem tanam legowo tanpa menurunkan produktivitas jagung dan menguntungkan petani terkait peningkatan IP, b) Teknologi pemupukan spesifik lokasi yang efisien dengan perangkat PUJS dalam pola tanam padi-jagung-jagung, c) Mikroorganisme dekomposer dan bahan tambahannya yang mempunyai daya rombak cepat dan efektif terhadap limbah tanaman jagung untuk pupuk organik, d) Sistem pemasaran jagung berdasarkan subround terkait peningkatan IP, e) Model penangkaran benih jagung hibrida silang tiga jalur berbasis komunitas, f) Formulasi fungisida hayati untuk pengendalian penyakit utama jagung, g) Formulasi yang sesuai untuk dikembangkan sebagai Bakterisida hayati sehingga memudahkan aplikasi di lapangan, h) Formulasi Virus HaNPV untuk pengendalian hama utama jagung (H.
armígera, S.litura) yang ramah lingkungan, dan i) Diketahuinya faktor utama yang berpengaruh terhadap perkembangan dan tingkat serangan hama/penyakit serta cara pengendaliannya. Jumlah pagu anggaran kegiatan penelitian ini sebesar Rp.543.917.000.
3. Analisis Kebijakan Pengembangan Tanaman Pangan
Target output penelitian ini, yaitu: 1) Analisis Kebijakan Mendukung Peningkatan Produktivitas dan Produksi Komoditas Tanaman Pangan, 2) Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Penyesuaian Varietas Dalam Sistem Jajar Legowo, 3) Evaluasi Efisiensi Teknologi Pupuk Organik Dalam Pola Tanam Padi-Kedelai, 4) Studi Rekayasa Ekologi Berbasis Tanaman Pangan dalam Pola Tanam Setahun di Lahan Sawah, 5) Studi Sosial Ekonomi Berbasis Tanaman Pangan Dalam Pola Tanam Setahun di Lahan Sawah Irigasi, 6) Keragaan Beberapa Varietas Padi Hibrida Jagung Pada Sistem Tanpa Olah Tanah Pola Tanam Padi-Jagung-Padi, 7) Optimalisasi Produksi Kedelai Melalui Penerapan Teknologi Varietas dan Beragam Pemupukan Pada Sistem Tanpa Olah Tanah.
4. Pengelolaan dan Pengkayaan Sumber Daya Genetik Tanaman
Pangan
Target kegiatan ini adalah diperolehnya informasi hasil karakterisasi dan rejuvinasi sumber daya genetik tanaman padi, jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan serealia lainnya.
5. Diseminasi Inovasi Teknologi Tanaman Pangan
Kegiatan penunjang penelitian dan pengembangan tanaman pangan adalah menyebarluaskan inovasi teknologi tanaman pangan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan antara lain: a) Publikasi hasil-hasil penelitian, b) Seminar dan pertemuan ilmiah lainnya, c) Ekspose/pameran skala nasional dan regional, d) Gelar teknologi di lapang, dan e) Penyebarluasan inovasi teknologi melalui internet (website).
III. AKUNTABILITAS KINERJA
Penelitian tanaman pangan telah memberikan kontribusi dalam mendukung 4 (empat) target sukses Kementerian Pertanian. Inovasi yang dihasilkan meliputi penciptaan varietas unggul baru, benih sumber, serta perakitan teknologi budi daya. Hasil-hasil penelitian disebarluaskan melalui berbagai pertemuan ilmiah, ekspose dan gelar teknologi di berbagai even nasional maupun regional, serta menerbitkan publikasi ilmiah tercetak dalam bentuk jurnal, prosiding, buletin, dan website yang telah terbangun di seluruh satker lingkup Puslitbang Tanaman Pangan.
Keberhasilan pencapaian sasaran kegiatan tidak terlepas dari telah diterapkannya Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di lingkup Puslitbang Tanaman Pangan. Mekanisme monitoring dan evaluasi penelitian dilakukan setiap semester melalui peninjauan lapang. Sedangkan realisasi keuangan dipantau melalui aplikasi i-Monev berbasis web yang dilakukan updating setiap hari Jumat bagi setiap satker, serta penerapan Permenkeu No. 249 tahun 2011 setiap bulan.
3.1. PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA
Dalam rangka mengukur kinerja dan keberhasilan penelitian dan pengembangan tanaman pangan secara umum dapat dilihat pada tujuan, manfaat, dan keluaran pogram penelitian dengan menggunakan indikator tolok ukur kinerja, alat verifikasi, dan asumsi/risiko yang tertuang dalam matriks kerangka logis.
Pengukuran tingkat capaian kinerja Puslitbang Tanaman Pangan tahun 2014 dilakukan dengan cara membandingkan antara target indikator kinerja sasaran dengan realisasinya. Data diperoleh dari laporan yang telah disusun oleh peneliti seluruh satker lingkup Puslitbang Tanaman Pangan dan berbagai sumber lainnya. Capaian kinerja berdasarkan hasil pengukuran disajikan secara rinci pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengukuran Kinerja Puslitbang Tanaman Pangan 2014.
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian kinerja
1. Terciptanya varietas unggul, galur/klon dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan;
a. Jumlah varietas unggul baru padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya
b. Jumlah benih sumber padi, jagung, dan kedelai dengan SMM ISO 9001-2008 20 Varietas 203 Ton 21 Varietas 256,04 Ton 105,0% 126,13%
2. Terciptanya inovasi teknologi produksi dan pengelolaan sumber daya pertanian mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan
Jumlah teknologi budi daya dan panen 22 Teknologi 22 Teknologi 100,0%
3 Tersedianya rekomendasi kebijakan
3.2. ANALISIS CAPAIAN KINERJA
Analisis dan evaluasi capaian kinerja tahun 2014 Pulitbang Tanaman Pangan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sasaran 1 : Terciptanya varietas unggul, galur/klon dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan Sasaran strategis ini dicapai menggunakan 2 (dua) indikator kinerja, yaitu (a) Jumlah varietas unggul baru padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya, dan (b) Jumlah benih sumber padi, jagung, dan kedelai dengan SMM ISO 9001-2008. Analisis capaian kinerja diuraikan sebagai berikut:
(a) Indikator kinerja varietas unggul baru (VUB) padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lainnya yang dilepas dapat dicapai melalui kegiatan penelitian pemuliaan dan perakitan varietas unggul baru tanaman pangan. Adapun target yang telah ditetapkan yaitu dilepasnya 20 varietas unggul baru tanaman pangan, sedangkan realisasi capaiannya 105%, yaitu telah dilepas 21 varietas unggul baru padi dan palawija antara lain 5 VUB padi, 9 VUB aneka kacang dan umbi, dan 7 VUB serealia (Tabel 5).
Tabel 5. Indikator tingkat capaian kinerja kegiatan tahun 2014.
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Varietas unggul baru padi 5 5 100,00
Varietas unggul baru aneka kacang dan umbi 8 9 112,50
Varietas unggul baru serealia 7 7 100,00
Secara umum, kinerja Puslitbang Tanaman Pangan dalam perakitan varietas unggul baru dapat tercapai sesuai target. Berdasarkan perbandingan selama 2010-2014 (Tabel 6) sesuai dengan Renstra yang telah ditetapkan, VUB yang dilepas sangat bervariasi. Hal ini karena perakitan VUB memerlukan proses dan waktu yang cukup lama karena dipersyaratkan harus dilakukan uji multilokasi di 16 lokasi yang berbeda, serta proses pengujian oleh evaluator ahli yang ditetapkan oleh Badan Benih Nasional (BBN).
Tabel 6. Perbandingan capaian kinerja tahun 2010 - 2014.
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Varietas unggul baru padi Target 4 4 6 7 5 Realisasi 10 (250%) 17 (400%) 12 (200%) 7 (100%) 5 (100%) Varietas unggul baru
aneka kacang dan umbi
Target 2 4 4 6 8 Realisasi 2 (100%) 4 (100%) 6 (150%) 6 (100%) 9 (112%) Varietas unggul baru
serealia Target 5 3 7 7 7 Realisasi 5 (100%) 7 (233%) 7 (100%) 9 (128%) 7 (100%) Keluaran (output) dan outcome yang telah dicapai dari VUB yang dilepas 2014 diuraikan sebagai berikut:
Padi
Tahun 2014 telah dilepas sebanyak 5 VUB padi yang sesuai untuk lahan salin, dan lahan rawa, antara lain 1) varietas Inpari 34 Salin Agritan (SK Mentan No.1252/Kpts/SR.120/12/2014), 2) varietas Inpari 35 Salin Agritan (SK Mentan No.1250/Kpts/SR.120/ 12/2014), 3) varietas Inpari Unsoed 79 Agritan (SK Mentan No.1251/Kpts/SR.120/12/2014), 4) varietas Inpara 8 Agritan (SK Mentan No.1244/Kpts/SR.120/12/2014), dan 5) varietas Inpara 9 Agritan (SK Mentan No.1245/Kpts/SR.120/12/2014).
Varietas Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan toleran salin dan berpotensi hasil tinggi dalam rangka menyediakan varietas toleran salinitas yang beradaptasi pada daerah pesisir pantai Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Kedua varietas ini memiliki toleransi terhadap salinitas pada fase bibit dan pada cekaman 12 dSm-1. Potensi hasil Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin
Agritan masing-masing 8,1 t/ha dan 8,3 t/ha yang setara dengan varietas Siak Raya, lebih tinggi daripada varietas Dendang (keduanya telah dilepas beberapa tahun lalu). Keunggulan lain, lebih tahan hama wereng batang coklat biotipe 1 dan 3, dan mutu giling setara dengan Siak Raya dan lebih baik daripada Dendang. Sedangkan Inpari Unsoed 79 Agritan mempunyai keunggulan umur 109 hari setelah sebar, potensi produksi 8,2 ton/ha, rata-rata hasil 4,9 ton/ha, tahan blas dan agak tahan HDB III, rasa nasi cukup pulen, serta toleransi terhadap salinitas pada fase bibit dan pada cekaman 12 dSm-1.
Keragaan varietas Inpari 34 Salin Agritan (Kiri) dan varietas Inpari 35 Salin Agritan (kanan)
Varietas Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan sesuai untuk dikembangkan di lahan rawa yang tersedia cukup luas di Indonesia. Inpara 8 Agritan memiliki potensi hasil 6,0 t/ha dan rata-rata hasil 4,77 t/ha, berumur genjah, toleran keracunan Fe, agak tahan penyakit blas ras 133, tahan HDB strain IV dan VIII, dan bermutu beras baik dengan kadar amilosa 25,8% dan tekstur nasi pera. Inpara 9 Agritan memiliki potensi hasil 5,6 t/ha dan rata-rata hasil 4,2 t/ha, berumur 114 HSS, toleran keracunan Fe, bermutu beras baik dengan kadar amilosa 25,7% dan tekstur nasi pera sesuai dengan selera masyarakat di daerah Kalimantan dan Sumatera.
Pertanaman di lapang Inpara 8 Agritan (Kiri) dan Inpara 9 Agritan (kanan) serta kualitas gabah dan berasnya.
Kedelai
Kedelai berpeluang ditingkatkan luas areal tanamnya terutama di lahan kering masam luasnya 102,82 juta ha yang tersedia di luar Pulau Jawa. Namun, pengembangannya terkendala keracunan Al dan Mn, serta defisiensi hara makro.. Salah satu alternatif meningkatkan produktivitas lahan kering dengan menggunakan varietas unggul toleran lahan masam.
Telah dilepas 3 VUB kedelai antara lain varietas Demas 1, Dena 1, dan Dena 2. Kedelai varietas Demas 1, memiliki keunggulan adaptif ditanam di lahan masam. Varietas ini memiliki potensi hasil 2,5 t/ha, ukuran biji 12,88g/100 biji, rata-rata produksi 1,5 t/ha, memiliki ketahanan terhadap penggerek polong dan karat daun. Varietas Dena 1 dan Dena 2 merupakan kedelai berumur genjah masing-masing 78 dan 81 hari, toleran naungan sampai 50% dengan potensi produksi 2,9 ton/ha dan 2,8 ton/ha.
VUB kedelai varietas Demas 1 untuk lahan masam, potensi hasil 2,5 t/ha.
Kacang tanah
Telah dilepas 2 VUB kacang tanah yang diberi nama varietas Talam 2 dan Talam 3. Varietas Talam 2 memiliki keunggulan potensi hasil 4,0 t/ha polong kering dengan rata-rata hasil 2,5 t/ha polong kering. Kandungan protein 25,42% (Bk), lemak 46,53% (Bk), serta agak tahan penyakit layu bakteri, karat daun dan bercak daun. Varietas ini adaptif ditanam di lahan masam (pH 4,2-4,7) dengan kejenuhan Al 10-30%.
Varietas Talam 3, mempunyai potensi hasil 3,7 t/ha polong kering dengan rata-rata hasil 2,6 t/ha polong kering. Kandungan protein 27,58% (Bk), lemak 49,62% (Bk), agak tahan terhadap penyakit layu bakteri, karat daun, dan bercak daun. Varietas ini adaptif ditanam di lahan masam (pH 4,5-5,6) dengan kejenuhan Al 10-30%.
Bentuk biji kacang tanah varietas Talam 2 (kiri) dan Talam 3 (kanan)
Kacang hijau
Kacang hijau yang dilepas dengan nama Vima 2 mempunyai potensi hasil 2,4 t/ha dan rata-rata hasil 1,8 t/ha. Warna biji hijau mengkilap, polong mudah pecah, tahan terhadap thrips dan penyakit tular tanah. Beradaptasi di lingkungan suboptimal atau lingkungan sawah tanpa irigasi. Sedangkan varietas Vima 3 mempunyai potensi hasil 2,1 t/ha dan rata-rata hasil 1,78 t/ha. Warna biji hijau kusam, polong mudah pecah, tahan terhadap penyakit tular tanah.
Keragaan VUB kacang hijau varietas Vima 2 (kiri) dan Vima 3 (kanan)
Ubijalar
Telah dilepas 2 (dua) varietas unggul ubijalar dengan nama Antin 2 dan Antin 3. Varietas Antin 2 memiliki potensi hasil 37,1 ton/ha dan umur panen 4-4,5 bulan. Keunggulan lain, kandungan antosianin tinggi, toleran kekeringan, agak tahan penyakit kudis dan boleng. Sedangkan varietas Antin 3 memiliki potensi hasil 30,6 ton/ha dan umur panen 4-4,5 bulan. Keunggulan lain, kandungan antosianin tinggi, toleran kekeringan, agak tahan penyakit kudis dan boleng. Kedua varietas ini sesuai ditanam di lahan tegalan dan lahan sawah sesudah tanam padi.
Jagung
Jagung pulut yang dilepas dengan nama varietas URI 3 H mempunyai keunggulan utama yaitu mengandung nutrisi amilosa sebesar 7,65% yang mencirikan sebagai jagung hibrida pulut dengan rasa tongkol muda yang sangat enak/gurih, kisaran perbedaan 62,8 - 64,2% terhadap varietas Bima Putih 1. Varietas ini berumur genjah (88 hst) dengan potensi produksi 10,68 t/ha dan rata-rata hasil 8,57 t/ha pada kadar air 15%. Keunggulan lain memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai dan hawar daun, serta tahan rebah.
Jagung varietas HJ 21 Agritan memiliki keunggulan umur 82 HST, potensi hasil 12,2 t/ha pipilan kering kadar air 15% dan rata-rata hasil 11,4 t/ha pipilan kering kadar air 15%. Tahan penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun, serta stay green, umur genjah, dan tahan rebah. Sedangkan varietas HJ 22 Agritan berumur genjah 80 HST, potensi hasil 12,1 t/ha pipilan kering kadar air 15% dan rata-rata hasil 10,9 t/ha pipilan kering kadar air 15%. Selain itu tahan terhadap penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun, stay green, dan tahan rebah.
Jagung hibrida HJ 21 Agritan (Kiri) dan jagung hibrida HJ 22 Agritan (Kanan)
Gandum
Telah dilepas 2 (dua) VUB gandum dengan nama GURI 3 Agritan dan GURI 4 Agritan. Calon varietas ini memiliki potensi hasil 7,5 t/ha dengan rata-rata hasil 3,5 t/ha. Dibandingkan dengan varietas Gandum yang sudah dirilis sebelumnya, calon varietas ini lebih adaptif pada dataran menengah 400 – 700 m dpl, tahan penyakit karat dan hawar daun serta hama aphis.
Gandum varietas GURI 3 Agritan pada ketinggian 1000 m dpl di Malino, Sulsel
Sorgum
Telah dilepas 2 (dua) VUB sorgum dengan nama SURI 3 Agritan dan SURI 4 Agritan. Umur panen 95 hari, potensi hasil 6,0 t/ha dan rata-rata hasil 4,5 t/ha pada kadar air 10% dengan rata-rata bobot biomas batang 21,1 t/ha. Varietas ini beradaptasi pada lingkungan suboptimal, terutama pada daerah dengan curah hujan rendah. Dengan kadar tanin rendah, varietas ini sangat sesuai untuk pangan, terutama bagi daerah rawan pangan karena sering mengalami
kekeringan. Dapat juga menjadi bahan pembuatan energi terbarukan dengan kadar gula (brix) 16,0%.
Penampilan sorgum varietas SURI 3 Agritan untuk pangan
Outcome dari VUB tanaman pangan yang telah dilepas, antara lain
perbanyakan benih sumber oleh UPBS dan disebarluaskan ke UPBS di BPTP di 34 propinsi, serta pengembangan VUB ke berbagai daerah dan luar negeri.
VUB dilisensikan kepada Swasta. Sekitar 14 varietas unggul baru
tanaman pangan telah dilisensikan kepada mitra kerja sama, yaitu Jagung varietas Bima 7 oleh PT Biogene Plantation, varietas Bima 9, Bima 10, dan Bima 11 oleh PT Tosa Agro. Padi varietas Hipa 10 dan Hipa 11 oleh PT Pterokimia Gresik, varietas Hipa 12 dan 14 oleh PT Saprotan Benih Utama.
Petani kacang hijau Indonesia tidak kalah dengan petani Australia. Varietas kacang hijau di Australia tidak sebanyak di Indonesia, yaitu
Berken, Crystal, Emerald, White Gold, Satin, Regur, Green, Diamond, dan Celera. Di antara varietas tersebut, yang paling terkenal dan banyak ditanam adalah Crystal dan Satin karena daya adaptasinya luas dan produksinya tinggi. Standar kacang hijau yang baik ukuran biji 2 mm dan warna biji hijau mengkilat. Produksi riil dicapai 1,2-1,9 t/ha, di Indonesia produksi 1,7 t/ha dengan umur panen 56-60 hari, sedangkan di Australia panen umur 105-115 hari. Kita harus lebih bersyukur, karena mempunyai kacang hijau yang berumur panen 56 hari.
Inpari 30 Ciherang Sub 1 dikembangkan di NTB. Badan Litbang
Pertanian telah merespon perubahan iklim dengan merakit varietas padi yang tahan dalam cekaman lingkungan ekstrim. Varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1
di sawah dataran rendah hingga 400 m dpl, di daerah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir dengan rendaman keseluruhan fase vegetatif selama 15 hari. Umur tanaman Inpari 30 Ciherang Sub 1 hanya 111 hari setelah semai dengan potensi hasil 9,6 ton/ha. Tekstur nasi pulen yang disukai umumnya masyarakat. Namun, varietas ini agak rentan wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, serta hawar daun bakteri patotipe III. Kini, varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1 mulai dikembangkan di NTB. Panen perdana bulan Juli 2014 di areal persawahan Gadjah Mada, Kelurahan Rabadompu, Kecamatan Raba, Bima dengan produksi 9 ton/ha gabah kering. Panen juga dilakukan di Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram bulan Agustus 2014), yang dibudi dayakan melalui teknologi PTT. Selanjutnya akan dikembangkan di wilayah pesisir sungai di Bima.
Kedelai varietas Dering 2, Detam 1, Burangrang, dan Argomulyo telah dikembangkan di Madagaskar. Pertemuan ini diinisiasi oleh Dubes RI
di Madagaskar (Artanto Salmoen Wargadinata) dengan Direktur Jenderal Teknik dari Ministere Del L‟Agriculture et du Development Rural (Voahangy Arijona). Kegiatan Balitbangtan mendapat apresiasi Menteri Pertanian Minagri bahkan oleh jajaran kepresidenan yang ditunjukkan dengan pencanangan tanam kedelai oleh Presiden Madagaskar. Diharapkan ke depan dapat diperluas komoditas pertanian lain untuk meningkatkan pendapatan petani di Madagaskar. Pengembangan kedelai dilakukan di wilayah Antsirabe seluas 6 ha yang terdiri dari uji adaptasi varietas kedelai, demplot dan demfarm budi daya kedelai. Penanaman dimulai sejak akhir November - 10 Desember 2014.
Tanam kedelai di lahan sawah setelah padi di district Ambohimangakey, Region Analamanga, 18 Juni 2014 (Kiri) dan Pertumbuhan kedelai (kanan)
Kunjungan lapang Bapak Artanto Wargadinata, KUTAP, KBRI Madagaskar beserta staf ke lokasi penelitian kedelai di lahan sawah.
Kunjungan Duta Besar dari 16 Negara. Sedikitnya 20 orang duta
besar dan perwakilan FAO berkunjung ke Maros, Sulawesi Selatan dalam rangkaian Hari Pangan Sedunia ke-34, 2014. Diplomatic tour ke Balitsereal diikuti dari Switzerland, Afrika Selatan, Kroasia, Argentina, Kazakshtan, Iraq, China, Republik Solomon, Laos, Yordania, Papua Nugini, Venezuela, Bosnia, Brunei Darussalam, India, Peru, Mongolia, dan Vietnam. Rombongan menyaksikan visitor plot yang menampilkan inovasi serealia terkini. Badan Litbang Pertanian telah melepas jagung hibrida kaya protein Bima 12Q dan Bima 13Q, serta jagung kaya vitamin A yang diberi nama hibrida Provit A. Para tamu menyatakan kekagumannya karena Balitsereal telah memanfaatkan teknologi pengairan modern hemat air yang diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan, serta fasilitas riset modern yang dimiliki Badan Litbang Pertanian.
Tabel 7. Varietas unggul baru tanaman pangan yang dilepas tahun 2014.
Nama VUB Umur
(hari) hasil (t/ha) Potensi Keterangan Padi
Inpari 34 Salin Agritan 112 8,1 Tahan wereng batang coklat biotipe 1 dan 3, mutu giling setara Siak Raya dan lebih baik daripada Dendang, sesuai untuk dikembangkan di lahan yang dipengaruhi salinitas
Inpari 35 Salin Agritan 106 8,3 Tahan blas 033, toleran lahan salin dan tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 3. Inpari Unsoed 79
Agritan 109 8,2 Tahan blas dan agak tahan HDB III, rasa nasi cukup pulen, serta toleransi terhadap salinitas pada fase bibit dan pada cekaman 12 dSm-1 Inpara 8 Agritan 115 6,0 Berumur genjah, toleran keracunan Fe, agak tahan penyakit blas ras 133, tahan HDB strain IV dan
VIII, dan bermutu beras baik dengan kadar amilosa 25,8% dan tekstur nasi pera.
Inpara 9 Agritan 114 5,6 Berumur genjah, toleran keracunan Fe, bermutu beras baik dengan kadar amilosa 25,7% dan tekstur nasi pera sesuai dengan selera masyarakat di daerah Kalimantan dan Sumatera.
Kedelai
Demas 1 84 2,5 Tahan karat daun dan penggerek, serta agak rentan hama penghisap polong dan ulat grayak, adaptif di lahan kering masam, baik ditanam di dataran rendah sampai sedang (0-600 m dpl).
Dena 1 78 2,9 Umur genjah, tahan karat daun, rentan penghisap polong dan ulat grayak, dan toleran naungan 50% Dena 2 81 2,8 Tahan karat daun dan penghisap polong, agak tahan ulat grayak, dan toleran naungan sampai 50%.
Kacang tanah
Talam 2 95 4,0 Agak tahan layu bakteri, karat daun dan bercak daun. Adaptif di lahan masam kejenuhan Al 10-30%. Talam 3 95 3,7 Agak tahan layu bakteri, karat daun, dan bercak daun. Adaptif di lahan masam kejenuhan Al 10-30%.
Kacang hijau
Vima 2 56 2,4 Warna biji hijau mengkilap, polong mudah pecah, tahan terhadap thrips dan penyakit tular tanah. Beradaptasi di lingkungan suboptimal atau lingkungan sawah tanpa irigasi
Vima 3 60 2,1 Warna biji hijau kusam, polong mudah pecah, tahan terhadap penyakit tular tanah
Ubijalar
Antin 2 135 37,1 Kandungan antosianin tinggi, toleran kekeringan, agak tahan penyakit kudis dan boleng. Antin 3 135 30,6 Kandungan antosianin tinggi, toleran kekeringan, agak tahan penyakit kudis dan boleng.
Jagung
URI 3 H 88 10,68 Kandungan nutrisi amilosa 7,65% mencirikan jagung pulut, rasa tongkol muda enak/gurih. Tahan terhadap penyakit bulai dan hawar daun, serta tahan rebah
HJ21 Agritan 82 12,2 Tahan penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun, serta stay green, dan tahan rebah HJ22 Agritan 80 12,1 Tahan penyakit bulai, hawar daun, dan karat daun, serta stay green, dan tahan rebah
Gandum
Guri 3 Agritan 125 7,5 Adaptif di dataran menengah 400 – 700 m dpl, tahan penyakit karat dan hawar daun, serta aphis Guri 4 Agritan 123 8,6 Adaptif di dataran menengah 400 – 700 m dpl, tahan penyakit karat dan hawar daun, serta aphis
Sorgum
Suri 3 Agritan 95 6,0 Adaptif di lingkungan suboptimal dengan curah hujan rendah. Kadar tanin rendah, sesuai untuk pangan. Bahan pembuatan energi terbarukan dengan kadar gula (brix) 16,0%
Suri 4 Agritan 95 6,0 Adaptif di lingkungan suboptimal dengan curah hujan rendah. Kadar tanin rendah, sesuai untuk pangan. Bahan pembuatan energi terbarukan dengan kadar gula (brix) 16,0%
b) Indikator kinerja jumlah benih sumber padi, jagung, dan kedelai dengan SMM ISO 9001-2008, dicapai melalui kegiatan perbenihan tanaman pangan sesuai SMM ISO 9001-2008.
Adapun target yang telah ditetapkan sesuai dengan PK 2014, yaitu dihasilkannya benih sumber sebanyak 203 ton kelas BS, FS, dan SS. Namun, UPBS di Lolit Tungro juga ditargetkan untuk menghasilkan benih padi kelas SS sebanyak 30 ton. Dengan demikian target produksi benih sumber padi, jagung, kedelai dan serealia lainnya sebanyak 247 ton. Realisasi capaian produksi benih sumber tanaman pangan tahun 2014 sebanyak 256,70 ton atau 103,93% (Tabel 8).
Tabel 8. Indikator tingkat capaian kinerja kegiatan tahun 2014.
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Benih padi 130 ton 135,6 ton 104,30
Benih aneka kacang dan ubi 83 ton 85,86 ton 103,44 Benih jagung dan serealia 34 ton 35,24 ton 103,65
Sebagai perbandingan atas kemajuan yang telah diperoleh dari tahun 2010-2014 disajikan pada Tabel 9. Secara umum, target produksi benih sumber tanaman pangan tercapai setiap tahunnya. Keragaman jumlah produksi benih sangat bergantung pada permintaan benih dari BPTP serta penugasan dalam mendukung 4 target sukses Kementerian Pertanian. Tabel 9. Perbandingan capaian kinerja tahun 2010 - 2014.
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Benih padi (ton)
Target 30,0 97,0 430 130,0 130,0 Realisasi 31,6
(105%) (100%) 97,0 (105%) 454,8 (102%) 133,57 (104,3%) 135,6 Benih aneka
kacang dan ubi (ton) Target 26,0 29,0 65,0 55,0 83,0 Realisasi 26,8 (103%) (126%) 36,6 (101%) 65,5 (101%) 55,41 (103,4%) 85,86 Benih jagung dan serealia lainnya (ton) Target 8,0 8,0 34,0 34,0 34,0 Realisasi 8,0 (100%) (225%) 18,0 (108%) 37,0 (101%) 34,20 (103,6%) 35,24
Adapun keluaran (output) dan outcome yang telah dicapai dari penyediaan benih sumber tanaman pangan diuraikan sebagai berikut:
Penyediaan benih sumber varietas unggul padi
Sampai dengan 2014 telah diproduksi 135,6 ton benih sumber padi (BS, FS, dan SS) untuk mendukung kegiatan SL-PTT di 33 propinsi di seluruh Indonesia serta kegiatan demfarm dan visitor plot di seluruh BPTP.
UPBS di BBPadi telah menghasilkan benih sumber sebanyak 104,9 ton, terdiri dari BS 41,89 ton, FS 22,91 ton, dan SS 40,10 ton yang terdiri berbagai varietas unggul padi. Sedangkan UPBS di Lolit Tungro menghasilkan benih sumber kelas SS sebanyak 30,78 ton, terdiri dari varietas Inpari 7 lanrang, Inpari 8, dan inpari 9 Elo yang tahan penyakit tungro untuk penyediaan dan penyebarluasan benih sumber padi tahan tungro khususnya daerah-daerah yang merupakan endemik tungro.
Penyediaan benih sumber varietas unggul aneka kacang dan umbi Sampai dengan 2014 telah diproduksi sebanyak 85,86 ton benih sumber tanaman aneka kacang dan umbi kelas NS, BS dan FS. Adapun varietas yang diproduksi benih antara lain: 1) kedelai sekitar 14 VUB yaitu Grobogan, Anjasmoro, Argomulyo, Mahameru, Dering 1, Burangrang, Wilis, Panderman, Gepak Kuning, Gema, Detam 1, Detam 2, Detam 3 Prida dan Detam 3 Prida, 2) kacang tanah 11 VUB, yaitu Hypoma 1, Hypoma 2, Kancil, Bima, Bison, Tuban Gajah, Takar 1, Takar 2, Talam 1, Domba, Kelinci dan Jerapah, dan kacang hijau 6 VUB yaitu Vima 1, Murai, Perkutut, Sriti, Kenari, dan Kutilang.
Di samping itu, UPBS di Balitkabi juga memproduksi benih sumber ubikayu sebanyak 60.000 setek terdiri dari varietas Darul Hidayah, Adira 1, Adira-4, Malang 1, Malang 4, Malang-6, Litbang UK2, UJ-3, dan UJ-5, dan ubijalar sebanyak 32.000 setek terdiri dari varietas Beta 1, Beta 2, Kidal, Papua Solossa, Sawentar, Antin1, Antin2, Antin3, dan Sari.
Penyediaan benih sumber varietas unggul jagung dan serealia lainnya Sampai dengan 2014 telah diproduksi 35,24 ton benih sumber jagung dan serealia lainnya kelas BS dan FS. Benih sumber jagung sebanyak 30,04 ton terdiri dari varietas Bisma, Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning, Srikandi Putih, Pulut URI, Gumarang, Arjuna, Anoman, dan Bima 19 URI.
Gandum sebanyak 388 kg terdiri dari varietas Selayar, Nias, dan Dewata. Sedangkan Sorgum telah diproduksi sebanyak 4,81 ton terdiri dari varietas Kawali, Numbu, Super 1, dan Super 2. Penyebaran VUB untuk padi, jagung, dan kedelai hampir tersebar di seluruh propinsi, komoditas lain sesuai keinginan petani setempat (Tabel 10).
Tabel 10. Produksi benih sumber dan varietas yang didistribusikan 2014.
Komoditas Nama varietas yang didistribusikan Penyebaran di Propinsi
Padi Batang Piaman, Batutegi, Cibogo, Cigeulis, Ciherang, , Gilirang, Cilamaya Muncul, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 7, Inpago 9, Inpago 10, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpari 7, Inpari 6, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 14, Inpari 15, Inpari 16, Inpari 17, Inpari 18, Inpari 19, Inpari20, Inpari 23, Inpari 24, Inpari 25, Inpari 28, Inpari 29, Inpari 30, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33, Pepe, Logawa, Mekongga, Widas, Towuti, Sintanur, Memberamo, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Mendawak, Sunggal, Way Apo Buru.
Tersebar di seluruh propinsi
Jagung Lamuru, Anoman, Lagaligo, Bisma, Arjuna, Srikandi Kuning, Srikandi Putih, Gumarang, Pulut UIR 1, Provita A1, Provita A2,
Tersebar di seluruh propinsi
Sorgum Super 1, Super 2, Kawali, Numbu. Sumut, Riau, Lampung, Bali, Banten, DKI, Jabar, NTT, Jatim, Jateng, Kalbar, Kaltim, Sulsel.
Gandum Nias, Selayar, Dewata Jabar, Jateng, dan Sulsel Kedelai Anjasmoro, Argomulyo, Burangrang, Wilis, Gema,
Ijen, Kaba, Sinabung, Tanggamus, Malabar, Grobogan, Panderman, Gepak Kuning, Mahameru, Dering 1, Dering 2, Detam 1, Detam 2, Detam 3.
Tersebar di seluruh propinsi
Kacang tanah Bima, Bison, Doma, Gajah, Jerapah, Kancil, Kelinci, Tuban, Talam 1, Hypoma 1, Hypoma 2, Takar 1, Takar 2,
NAD, Sumut, Sumsel, NTB, Lampung, Kep. Riau, Jambi, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Maluku, Kalsel, Kalbar, Sulsel, Gorontalo, Sulteng, Papua. Kacang hijau Betet, Kenari, Kutilang, Murai, Perkutut, Sriti,
Walet, Vima 1.
NAD, Sumut, Sumsel, Jambi, Lampung, Kep. Riau, DKI, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTT, NTB, Maluku, Kalsel, Kalbar, Sulsel, Gorontalo, Sulteng, Papua.
Outcome dari penyediaan benih sumber tanaman pangan selain telah disebarluaskan hampir di seluruh propinsi di Indonesia, juga perhatian pemerintah serta adopsi di lapang, berikut ini:.
Presiden Joko Widodo tinjau kesiapan penyediaan benih unggul padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) mendapat kunjungan
Presiden Joko Widodo untuk melihat kesiapan penyediaan benih unggul padi tanggal 26/12/2014 dalam upaya mengejar target swasembada beras pada tahun 2017. Presiden didampingi Menteri Pertanian, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Sekretaris Negara melihat berbagai fasilitas penelitian dan kesiapan benih unggul padi yang dihasilkan para peneliti Balitbangtan. Presiden mendapat penjelasan langsung dari Kepala BB Padi tentang berbagai macam varietas unggul baru padi seperti Inpari, Inpago dan melihat secara langsung Benih Sumber yang berada di BB Padi. “Saya tadi mendapat penjelasan bahwa varietas Inpari di sini bisa mencapai 8,5 ton/ha, mengapa di tingkat petani rata-rata 4,5 – 5 ton/ha,” ujar Presiden ketika memberikan sambutan. Lebih lanjut Presiden berharap agar varietas padi yang dihasilkan BB Padi memperoleh hasil 8,5 ton/ha, di tingkat petani juga sama hasilnya.
Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertanian meninjau kesiapan penyediaan benih unggul padi di BBPadi, Sukamandi.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melaksanakan MoU dengan Ditjen. Tanaman Pangan dan PT. Sang Hyang Seri. Kerja
sama untuk pemanfaatan teknologi dan kualitas profesi peneliti nasional dalam menghasilkan inovasi pertanian dan varietas unggul baru tanaman pangan. MoU telah ditandatangani pada hari Selasa 9 Desember 2014 di Jakarta. Inovasi dan
akan segera dipercepat penyebarannya ke seluruh Indonesia agar tercapai target swasembada pangan. Kerja sama ini merupakan kontribusi Balitbangtan dalam percepatan pembangunan pertanian Indonesia dan pengembangan Iptek bidang pertanian. Tahap berikutnya akan dilakukan untuk jagung dan kedelai. Balitbangtan akan menyediakan rekomendasi varietas unggul baru tanaman pangan sesuai dengan kondisi spesifik daerah pengembangan dan preferensi masyarakat, PT. SHS akan memproduksi varietas unggul baru tanaman pangan sesuai dengan hasil rekomendasi Balitbangtan, dan Ditjen TP akan mengadopsi inovasi teknologi yang diproduksi PT. SHS dalam menjalankan tugas dan fungsi. Diharapkan kerja sama ini dapat mengembangkan teknologi varietas unggul baru padi untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani di Indonesia.
Sasaran 2 : Terciptanya inovasi teknologi produksi dan pengelolaan sumber daya pertanian mendukung pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan.
Untuk mencapai sasaran tersebut diukur melalui pencapaian indikator kinerja utama dengan target yang telah ditetapkan dalam PK 2014, yaitu dihasilkannya 22 teknologi budi daya dan panen tanaman pangan dalam rangka mendukung upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Sasaran 4 tersebut telah dicapai melalui kegiatan “Perakitan teknologi budi daya, panen, dan pascapanen primer tanaman pangan.”
Indikator kinerja sasaran yang telah ditargetkan dalam tahun 2014 telah tercapai seluruhnya dengan rata-rata 100,00%. Perakitan teknologi budi daya panen tanaman pangan pada tahun 2014 telah dirakit sebanyak 22 paket (realisasi 100%) dari target dalam PK 22 paket teknologi (Tabel 11).
Tabel 11. Indikator tingkat capaian kinerja kegiatan tahun 2014
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Teknologi budi daya padi 7 7 100
Teknologi budi daya aneka kacang dan ubi 9 9 100
Sebagai perbandingan teknologi yang dihasilkan tahun 2014 sebanyak 22 paket lebih tinggi daripada tahun 2013 (14 paket). Hal ini bergantung pada sifat teknologi dan waktu penelitiannya yang memerlukan waktu pengujian dan pemantapan teknologi.
Tabel 12. Perbandingan capaian kinerja tahun 2010 - 2014.
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Teknologi budi daya padi
Target 4 5 3 5 7 Realisasi 4 (100%) 5 (100%) 6 (200%) 6 (120%) 7 (100%) Teknologi budi daya aneka
kacang dan ubi
Target 3 7 4 2 9 Realisasi 6 (200%) 8 (114%) 6 (150%) 4 (200%) 9 (100%) Teknologi budi daya tanaman
serealia Target 3 5 4 4 6 Realisasi 4 (133%) 6 (120%) 4 (100%) 4 (100%) 6 (100%)
Keluaran (output) dan outcome yang telah dicapai dari perakitan teknologi budi daya dan panen tanaman pangan diuraikan sebagai berikut:
1. Pengendalian penyakit HDB berdasarkan kesesuaian patotipe di
setiap agroekosistem
Hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit padi utama yang tersebar di berbagai ekosistem padi di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogennya dapat menginfeksi tanaman padi mulai dari pesemaian sampai menjelang panen melalui luka daun berupa stomata dan merusak klorofil daun. Akibatnya kemampuan tanaman melakukan fotosintesis menurun. Bila serangan terjadi di awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati. Pada tanaman dewasa penyakit HDB menimbulkan gejala hawar (blight). Baik gejala kresek maupun hawar, dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan, dan selanjutnya daun menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, gabah tidak terisi penuh bahkan hampa, kehilangan hasil mencapai 50-70%.
Gejala penyakit hawar daun bakteri X. oryzae pv. Oryzae
Pengendalian penyakit HDB paling efektif dengan menanam varietas tahan. Namun, hal ini terhambat oleh adanya kemampuan bakteri patogen membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen, menyebabkan ketahanan suatu varietas tidak bertahan lama. Adanya kemampuan pathogen bakteri Xoo membentuk patotipe baru ini menyebabkan pergeseran dominasi patotipe pathogen terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkan suatu varietas tahan di suatu saat tetapi rentan di saat yang lain, dan tahan di suatu wilayah tetapi rentan di wilayah lain. Oleh karena itu, pemantauan dominasi dan komposisi patotipe bakteri Xoo di suatu ekosistem padi (spatial dan temporal) sangat diperlukan sebagai dasar penentuan penanaman varietas tahan di suatu wilayah. Peta penyebaran patotipe dapat digunakan sebagai dasar penentuan penanaman suatu varietas di suatu wilayah. Pada daerah yang dominan HDB patotipe III disarankan menanam varietas tahan terhadap patotipe III, daerah dominan patotipe IV disarankan menanam varietas tahan patotipe IV dan dominan patotipe VIII disarankan menanam varietas tahan patotipe VIII.
2. Penanganan susut hasil panen padi
Panen merupakan kegiatan akhir dari suatu proses produksi padi di lapang. Selama waktu panen, susut hasil dapat terjadi karena ada padi yang rontok di lahan. Oleh karena itu, pemanenan harus dilakukan sesuai umur panen. Ketidaktepatan saat panen mengakibatkan kehilangan hasil tinggi dan mutu gabah/beras rendah. Perontokan merupakan tahap pascapanen setelah pemotongan, penumpukan, dan pengumpulan padi. Pada tahap ini, kehilangan hasil dapat mencapai lebih dari 5%. Cara