• Tidak ada hasil yang ditemukan

International Conference on Global Education V Global Education, Common Wealth, and Cultural Diversity

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "International Conference on Global Education V Global Education, Common Wealth, and Cultural Diversity"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN HUKUM DAN HAM BERBASIS KEARIFAN LOKAL DENGAN PENDEKATAN

JURISPRODENTIAL INQUIRY

Dr. Akmal, SH, M.Si dan Prof.Dr.Azwar Ananda,MA1,

Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIS UNP, Jalan Prof.Dr.Hamka Air Tawar ,Padang 25131, Telp/ fax.0751-, 7055671, 7055628, 08126721527

E-mail: [email protected]

RINGKASAN

Tujuan penelitian adalah : (1) mengembangkan model pembelajaran

Jurisprodential Inquiry dalam bidang hukum dan HAM berbasis kasus kearifan lokal,

(2) menghasilkan bahan ajar pembelajaran hukum dan HAM pada bidang studi PPKn di SMA yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku dengan pendekatan Jurisprodential

Inquiry, Penelitian ini dilakswanakan pasa SMA Kota Padang, pendekatan R & D

(penelitian dan pengembangan). Prosedur penelitian yang digunakan adalah design and

development research. Hasil penelitian ini menghasilkan model pembelajaran yang

efektif dan tepat dalam meningkatkan kompetensi bidang keahlian guru PPKn dalam bidang hukum dan HAM berbasis kearifan lokal dan pendekatan Jurisprodential Inquiry (Telaahan hukum) , sehingga siswa SMA sebagai pencetak generasi muda menjadi yang taat asas, konsisten berpikir dan bertindak, sebagai calon intelektual yang akan berfikir secara konseptor, mampu meningkatkan daya saing sekolah untuk memasuki perguruan tinggi dan dunia kerja serta penanggulangan paham radikalisme dan terorisme. Penelitian ini juga menghasilkan bahan ajar yang dapat dipakai sesuai dengan standar kurikulum (K-13) bidang hukum dan HAM pada matapelajaran PPKn diseluruh SMA di Indonesia.

Kata Kunci: Pengembangan, Model Pembelajaran, Kompetensi Kesadaran Hukum dan HAM, kearifan lokal, Jurisprodential Inquiry

A. PENDAHULUAN

Tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia pada umur SLTA khususnya siswa SMA adalah kurang memahami hukum yang berlaku dan kesadaran akan hak asasi munusia, sehingga tidak taat asas, tidak konsisten, sering melanggar kesepakatan bersama, dan yang paling berbahaya mudah masuk pada pemikiran-pemikiran yang melawan hukum seperti kekerasan, anti agama, radikalisme, terorisme, dan paham-pahammyang bertentanagn dengan hukum nasional, agama, dan hukum adat sebagai nilai kearifan lokal. Tujuan pendidikan Indonesia tidak hanya cerdas intelektual, tetapi

(2)

juga cerdas spritual, emosional dan kepribadian.

Asep Saefuddin dalam Rusman (2010) menyatakan bahwa tuntutan lulusan sekolah seluruh starata, sedang dan akan terus menghadapi tantangan persaingan dunia kerja yang semakin ketat dan kompleks. Dunia kerja secara objektif akan menuntut suberdaya manusia yang profesional, berketerampilan (skillful), kreatif, inovatif, mampu bekerjasama (cooperative) dalam tim, cepat, tepat, berkemampuan berkomunikasi yang baik secara lisan dan tulisan. Untuk itu nilai jual atau manfaat apa yang diperoleh siswa selesai mengikuti pembelajaran harus jelas dan dapat dipakai di dunia kerja. Tugas ini diberikan kepada guru sebagai pengampu mata pelajaran PPKN.

Menurut BNSP (2011) kompetensi yang diharapkan dalam dunia pendidikan: berfikir kritis, bekerjasama dan berkomunikasi, pembaharuan, dan kontektual dalam melihat daya saing bangsa, dengan berpijak pada wawasan kebangsaan. Pendidikan kesadaran hukum dan HAM dalam matapelajaran PPKn diharapkan punya kemampuan mengatasi masalah dengan tidak melawan hukum, cerdas dalam mencari solusi, taat asas, dan konsisten. Secara khusus tujuan pendidikan hukum dan HAM melalui matapelajaran PPKn adalah: (1) kepatuhan pada hukum, taat asas, (2) kecintaan pada tanah air, (3) memiliki kemampuan kepada penguasaan nilai sejarah perjuangan bangsa, (4) kemampaun berfikir lintas sektoral (tidak ego sektoral). (5) menghormati dan menghargai orang lain, dan (5) kemampuan memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional jo UU No.14 Tahun 2005 bahwa tujuan pembelajaran hukum dan HAM dalam PPKn adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa, bertanggunjawab, dan lainya. Sedangkan tujuan PPKn dalam kurikulum sekolah adalah menjadi manusia yang dapat melansungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembelajaran CE (Civic Education) atau Pendidikan Kewarganegaraan, Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai kompetensi utamanya menuntut terjadinya kemampuan siswa sebagai seorang yang pahm akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, investigasi, advokasi, dan menyelesaikan kasus-kasus CE, hukum, HAM biasa dan menganalisis kasus kehidupan nyata seperti kebebasan pers, cara berorganisasi, dan semua aspek kehidupan nyata. Siswa tidak hanya memahami teori-teori dan konsep pemikiran tentang CE, hukum dan HAM, tetapi dituntut juga memahami aplikasi teoritisi dalam kehidupan nyata, sehingga siswa punya

(3)

kesadaran CE, hukum dan HAM dan berbuat untuk penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tujuan utama pembelajaran adalah memberikan pengetahuan tentang konsep CE, hukum dan HAM, pembagian, fungsi, dan peranan hukum dan HAM di Indonesia, sehingga pemahaman sesuai dengan RPP yang sudah ditetapkan tim guru. Dengan Standar Kompetensi yang diharapkan siswa mampu memahami, dan menerapkan konsep-konsep CE, hukum dan HAM dalam menganalisis tentang kasus, dan mempunyai keterampilan dalam strategi sebagai seorang investigator dan melakukan advokasi, dan penyelesaian sengketa seluk beluk kasus di tingkat daerah dan nasional (Kurikulum PPKn, 2013). Kurikulum 2013 menekan pada pengembangan potensi diri siswa agar menjadi manusia utuh.

Keterburukan bangsa pada generasi muda hari ini adalah tidak taat asas dan tidak patuh pada hukum dan HAM, dimana pemahaman hukum dan HAM belum dipahami melalui kewajiban menghormati hak orang lain, hukum yang berlaku, sistem sosial, nilai agama, dan ketertiban umum (International Human Rights Law, ICPCR and ICECR,

2005). Penyakit peserta didik diatas diobati melalui pendekatan Jurisprodential Inquiry/Telaahan Hukum untuk membangun kemampuan kesadaran hukum dan HAM

siswa, antara lain:

 siswa konsisten (tetap bertahan) atau berubah (tidak konsisten), tergantung dari hasil atau argumentasi yang terjadi pada tahap sintax. Jika argumen siswa kuat, mungkin konsisten. Jika tidak, mungkin siswa mengubah sikapnya (posisinya) yang didukung argumen yang jelas.

 pengujian asumsi faktual yang mendasari sikap yang diambil siswa. Dalam tahap ini guru mendiskusikan apakah argumentasi yang digunakan untuk mendukung pernyataan sikap tersebut relevan dan saih (valid).

Penerapan metode Jurisprodential inquiry (Telaahan Hukum) dalam proses pembelajaran hukum dan HAM sangat penting untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berfiikir yang komprehensif/lintas sektoral dalam mengambil putusan, taat asas, kriotis, mandiri dalam belajar. Sebagap suatu pembelajaran yang konstruktif, JI atau Telaaahan Hukum menyediakan pembelajaran dalam situasi problem yang nyata bagi siswa sehingga dapat melahirkan pengetahuan yang bersifat permanen.

Jurisprodential Inquiry menjadikan peserta didik yang inovatif, kreatif, menghormati

teman sejawat, mencari kebenaran dengan objektif, ada dasar hukum, patuh hukum dan menghormati hak asasi manusia, serta mampu mengintegrasikan masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan

(4)

kepribadian terbangun secara terintegrasi (Joice, 1996).

Realitas disiplin siswa belum sesuai dengan kondisi yang diharapkan seperti terlihat pada penjelasan tabel berikut:

Tabel 1: Realitas Kesadaran Hukum dan HAM Melalaui Disiplin Siswa SMA Kota Padang

No Kelompok SMA Bentuk Pelanggaran Sanksi Jumlah 1 SMA Kelompok A Terhadap guru, teman, dan

sekolah,

Surat perjanjian

24 2 SMA Kelompok B Terhadap guru, teman, dan

sekolah,

Surat perjanjian dan pindah

63

3 SMA Kelompok C Terhadap guru, teman, dan sekolah, Surat perjanjian, pindah, dan dikeluarkan 86

Sumber: Pengelohan Data Badan Akriditasi Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar 2014 Ketentuam klasifikasi SMA oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat berdasarkan penilaian nilai angka akreditasi kelembagaan dalam memenuhi standarisasi. Ternyata ada kaitan antara peringkat akriditasi kelembagaan dengan disiplin siswa, kecencerungan pelanggaran disiplin terjadi terhadap guru adalah seperti keterlambatan dalam pembuatan tugas yang diberikan guru, kehadiran, ancaman pada guru karena posisi orang tua yang dibanggakan siswa. Terhadap teman seperti penyelesaian tugas-tugas kelompok, terlibat tawuran, pemerasan, mencelakakan teman, dan pengambilan hak teman. Pelanggaran terhadap sekolah seperti seperti terlambat datang ke sekolah dan saat pertukaran jam pelajaran, cabut dalam PBM, duduk di warung saat jam pelajaran, memalsukan surat izin, dan mengunakan HP waktu belajar, merokok dalam lingkungan sekolah, membawa barang terlarang seperti gambar porno, dan kedisplinan pakaian seperti tidak pakai atribut sekolah, bahan dan model pakaian tidak sesuai dengan aturan sekolah, begitu juga sepatu dan kaus kaki. Untuk SMA kelompok B ditambah dengan pelanggaran seperti tidak ikut upacara bendera, kultum hari Jumat,

class meeting, dan MOS. Kemudian kelompok C ditambah dengan kecenderungan

melanggar disiplin lingkungan sekolah seperti merusak sarana dan prasarana sekolah, membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak melakukan tugas piket, dan menggangu masyarakat sekitar sekolah.

(5)

pada tabel berikut:

Tabel 2: Perkembangan Disiplin Siswa SMA Negeri Kota Padang No Kelompok SMA Bentuk Pelanggaran Disiplin Sanksi Jumlah ( 2014) Jumlah ( 2015) Jumlah ( 2016) 1 SMA Kelompok A Terhadap guru, teman, dan sekolah, Surat perjanjian 8 12 10 2 SMA Kelompok B Terhadap guru, teman, dan sekolah, Surat perjanjian dan pindah 18 19 23 3 SMA Kelompok C Terhadap guru, teman, dan sekolah, Surat perjanjian, pindah, dan dikeluarkan 35 30 43

Sumber: Pengelohan Data kepsek SMA Kota Padang 3 tahun Terakhir

Ketidak disiplinan siswa SMA Kota Padang juga didukung oleh hasil penelitian Sufyarma Marsidin (1993) bahwa siswa di Sumatera Barat melakukan pelanggaran disiplin yang serius baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Hal senada diungkapkan pada studi Akmal (2009) bahwa kecenderungan siswa melanggar tata tertib sekolah sebagai hal yang biasa serta ada unsur pembiaran (volation by

Ommission) dari orang tua atau wali siswa. Bentuk pelanggaran itu seperti melawan

kepada orang tua dan guru, memeras, terlibat dalam minuman keras dan berbagai jenis pelanggaran norma kesusilaan, adat, dan agama, juga perkelahian antar siswa, temuan ini diperkuat laporan aparat keamanan (Laporan Polresta Kota Padang, 2008). Komnas HAM Sumatera Barat (2009 selanjutnya mengungkapkan berbagai kasus pengaduan dalam katagori pelanggaran ringan atau biasa yang terjadi di anak sekolah di Sumatera Barat antara lain; kekerasan, pengerusakan lingkungan hidup, berkembangnya narkoba, judi & film-film porno, pelanggaran kasus pelecehan seksual, penipuan, dan pidana lainnya.

KAJIAN PUSTAKA

1 Pembelajaran Hukum dan HAM Pada Matapelajaran PPKn SMA

(6)

dan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai kompetensi utamanya menuntut terjadinya kemampuan siswa sebagai seorang memahamai hak dan kewajiban sebagai warga negara, investigasi, advokasi, dan menyelesaikan kasus-kasus CE, hukum, HAM biasa dan menganalisis kasus kehidupan nyata seperti kebebasan pers, cara berorganisasi, dan semua aspek kehidupan nyata. Pesesrta didik tidak hanya memahami teori-teori dan konsep pemikiran ahli tentang CE, hukum dan HAM, tetapi dituntut juga memahami aplikasi teoritisi dalam kehidupan nyata, sehingga anak didik punya kesadaran CE, hukum dan HAM dan berbuat untuk penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Tujuan utama pembelajaran adalah memberikan pengetahuan tentang konsep CE, hukum dan HAM, pembagian, fungsi, dan peranan hukum dan HAM di Indonesia, sehingga pemahaman sesuai dengan RPP yang sudah ditetapkan tim guru. Dengan standar kompetensi yang diharapkan siswa mampu memahami, dan menerapkan konsep-konsep CE, hukum dan HAM dalam menganalisis tentang kasus, dan mempunyai keterampilan dalam strategi sebagai seorang investigator dan melakukan advokasi, dan penyelesaian sengketa seluk beluk kasus di tingkat daerah dan nasional.

Pemikiran sebagai konsep pengembangan civic education seperti yang dikemukakan Chamim dalam Sabirin (2003) dapat pula dijadikan acuan basis kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan yang diharapkan yaitu antara lain: (1) pengembangan nilai-nilai demokrasi, diantaranya meliputi keadilan, taat pada hukum (rule of law) kebebasan berpendapat dan berasosiasi, keterwakilan dan mayority rules, (2) pengembangan kehidupan kewargaan dan nilai-nilai komunitas (civic value and

cummunity values), diantaranya meliputi penghargaan atas hak-hak individual, local need, dan common good, (3) pengembangan pemerintahan yang bersih (clean goverment), diantaranya meliputi partisipasi, hak untuk mendapatkan pelayanan secara

adil, fairness, dan checks and balances, (4) pembentukan identitas nasional (national

identity), diantaranya berupa reorientasi nation building dalam bentuk bhinneka tunggal

ika (unity in difference), indefendence, dan kebanggaan nasional (national pride), (5) pengembangan ikatan sosial (social cohesion) dan keberagaman (diversity), dinataranya toleransi (tolerance), keadilan sosial (social justice), dan acceptence, (6) pengembangan kehidupan pribadi (self cultivation), meliputi kecenderungan pada kebenaran (truth), tunduk pada hukum (law abiding), jujur (honesty), kesopanan (civility), saling tolong menolong (helping others), (7) pengembangan kehidupan ekonomi (economic life), dinataranya persaingan yang sehat (competition), kesejahteraan (wealth), dan pasar yang

(7)

bebas (free markets), dan (8) pengembangan nilai-nilai keluarga (family values) diantaranya rasa tanggungjawab (respect), dukungan (support), perlindungan (protection), akhlak (moral bihavior), dan kebersamaan (togetherness).

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia menunjukan bahwa pendidkan diarahkan bagaimana mempersiapkan warga negara yang: mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulai, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (amanat UU No.20 tahun 2003). Kemudian amanat itu dijabarkan dalam berbagai kurikulum, misi utama banyak diemban oleh bidang studi pendidikan kewarganegaraan sesuai dengan cita-cita nasional melalui pendidkan kewarganegaraan diharapkan terbentuk watak warganegara yang demokratis dengan pendekatan multidisiplin. Untuk mencapai itu terjadi beberapa kali perubahan baik metode, substansi kajian, hukum dan HAM di Indonesia dan diikuti dengan pembaharuan buku ajar di sekolah. perhatikan SK Dep P & K No.1224/S tanggal 10 Desember 1959 tentang buku pedoman tentang hak dan kewajiban warga negara. Bila dibandingkan dengan pendidkan warga negara di USA dapat dikutip pendapat Thomas Jefferson sebagai penulis Deklerasi Kemerdekaan Amerika yang menyatakan bahwa ”that the

knowledge, skill and behaviors of democratic citizenship do not just occur natullay in oneself—but rather they must be taught consciously through schooling to teach new generation – they are learned behaviors”. Untuk mendidik warga negara yang

demokratis John F Kennedy memperkuat pendepat Jefferson dengan mengatakan bahwa ” There is an old saying that the course of civilization is a race between catastrophe

and education. In a democracy such as ours, we must make sure that education wins the rase”. Artinya bahwa ketiga ranah (kognisi, psikomotorik dan affensi) sekaligus

dikemas dalam upaya membangun karakter bangsa.

Menurut Wahab (1999) bahwa dalam upaya pengembangan kurikulum civic

education pada kurikulum ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang antara lain:

1) Sejauh manakah materi topik-topik yang ada dalam kurikulum relevan dengan semangat bangsa, dengan memanfatkan momentum reformasi

2) Mengkaji materi mana yang dapat dikeluarkan, digabungkan dirampingkan dan yang benar-vbenar esensial bagi subjek didik

3) Metodelogi penyampaian dirubah dari yang bersifat doktriner kearah yang demokratis.

(8)

warga bangsa kearah yang mengerti hak dan kewajibannya. Menurut pemikir Merton (1957) ada 5 pola respon masyarakat terhadap keberhasilan membangun watak bangsa ke depan: (1) comformity (ketaatan) yakni menerima tujuan kultural dan cara-cara yang telah melembaga untuk mencapainya (merupakan bagian terbesar masyarakat kelas menengah Amerika, (2) innovation (inovatif), yakni menerima tujuan kultural akan tetap menemukan cara-cara baru untuk mencapainya, (3) ritualism (ritmis), yakni menolak tujuan kultural tetapi berpegang teguh kepada cara-cara yang telah melembaga untuk mencapainya, (4) retreatism (berpaling), yakni menolak atau meninggalkan keduanya baik tujuan kultural maupun cara-cara yang telah melembaga untuk mencapainya, dan (5) rebellion (pemeberontakan), yakni menolak tujuan kultural dengan mengajukan gantinya, dan menolak cara-cara untuk mencapainya dengan mengajukan gantinya.

Langkah-langkah lain yang harus dilakukan dalam pembenahan pembentukan watak bangsa dengan paradigma kurikulum baru antara lain: (1) memasukan orientasi berbagai keilmuan untuk memperkaya khasanah pembelajaran, (2) pemberdayaan warga negara, (3) revitalisasi orientasi kewarganegaraan, (4) pengembangan budaya politik dari parochial menjadi partsisipan, dan (5) pengembagan sikap kritis dan kreatif warga negara dan bebas dari rasa takut (Cholisin, 2000). Sebagai bidang studi yang diturunkan dari kajian akademik-ilmiah, pendidikan kewarganegraaan tidak semestinya berfungsi seperti gerobak sewaan yang dapat memuat apa saja menurut keinginan penyewanya termasuk barang rongsokan sekalipun. sebagai wahana khusus bagi ’nation and character building’ dalam arti yang sesungguhnya (Ace suryadi, 2000). Wacana pendidikan kewarganegaraan berfokus kepada tiga komponen dasar pengembangan yaitu: (1) civic knowledge, (2) civic

skils, dan (3) civic disposition/traits. Menurut Udin (1999) bahwa yang paling menonjol

dalam masalah PKn adalah: (1) kelemahan dalamn konseptualisasi pendidikan kewarganegaran, (2) penekanan yang sangat berlebihan pada proses pendidikan moral behaviristik, terperangkat pada proses penanaman nilai nilai yang cenderung indoktrinatif (value inculcation), (3) ketidakkonsistenan penjabaran dimensi tujuan pendidikan kewarganegaraan ke dalam kurikulum pendidikan kewarganegraan, dan (5) keterisolasian proses pembelajaran dari konsteks disiplin keilmuan dan lingkungan sosial budaya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakunan upaya dengan mengimplementasikan suatu model pembelajarn menuju pembelajaran yang berkualiatas yaitu siswa yang taat asas, konsisten dalam bersikap dan bertindak, dan siswa sebagai

(9)

pusat pembelajaran Kondisi peyimpangan perilkau yang menyimpang harus cepat diatasi dan mendesak..

2 Model Pembelajaran Jurisprodential Inquiri

Pembelajaran dengan model Jurisprodential Inquiry (JI) atau disebut juga metode Telaahan Hukum menitiberatkan siswa taat asas, konsisten dalam pengambilan keputusan dimana keunggulan metode ini adalah: keberhasilan model ini adalah melalui metode dialog Socrates (debat konfrontatif) sebagaimana yang dikutip Joice (1976). Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi: (1) orientasi terhadap kasus, (2) mengidentifikasi isu, (3) pengambilan posisi (sikap), (4) menggali argumentasi untuk mendukung posisi (sikap) yang telah diambil, (5) memperjelas ulang dan memperkuat posisi (sikap), dan (6) menguji asumsi tentang fakta, defenisi, dan konsekuensi.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dipakai adalah Research and Development atau R&D. Menurut Gall, Gall dan Borg (2003:569) mengungkapkan bahwa penelitian pengembangan dalam bidang pendidikan adalah: An industry-based development

model in which the finding of research are used to design new products and

procedures, which then systematically field-tested, evaluated, and refined until they meet specified criteria if effectiveness, quality, or similar standards.

Penelitian pengembangan ini dilaksanakan untuk mengembangan produk berupa model pembelajaran kompetensi kesadaran hukum dan HAM bermafaat mengantisipasi paham radikalisme dan terorisme dikalangan siswa SMA. Komponen model difokuskan pada metode dan strategi pembelajaran. Alasan diadakan pengembangan model ini, karena pembelajaran kompetensi kesadaran hokum dan HAM di SMA merupakan tema mata pelajaran pokok pada bidang studi PPKn bagi semua siswa untuk menjadi warga negara yang baik sekaligus mengatasi radikalisme dan terorisme di dikalangan generasi muda.

Dalam upaya mengembangkan model pembelajaran dan menguji kefektifan model pembelajaran yang telah dikembangkan maka penelitian ini akan dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap 1 penelitian deskriptif, tahap 2 penelitian pengembangan dan tahap 3 pengujian/validasi model. Untuk menguji kualitas produk secara teoritis (uji ahli), uji kelompok kecil, dan uji coba kelompok besar. Untuk menjaring informasi dari berbagai sumber, digunakan metode pengumpulan data berupa angket. Metode angket digunakan pada uji ahli hukum dan HAM, ahli radikalisme dan terorisme, ahli pembelajaran Jurisprodential Inquiry (Telaahan Hukum), ahli radikalisme/terorisme, dan

(10)

ahli pendidikan PPKn tentang kelayakan dan ketetapan metode pembelajaran yang terapkan pada siswa SMA. Selain itu juga dipakai tes essay (pre tes dan pos tes) kesadaran hukum dan HAM pada tingkat SLTA. Data yang bersifat kuantitatif yang diperoleh selama penelitian dianalisis dengan mengunakan statistrik deskriptif dan statistic inferensial. Statistik infrensial mengunakan uji beda dengan t-test untuk meleihat perbedaan sebelum dan sesudah treatment.

Gambar 2. Tahapan Penelitian Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Pendekatan Fishbone Diagram

B. Pembahasan

1. Pengembangkan model pembelajaran Jurisprodential Inquiry dalam bidang hukum dan HAM berbasis kasus kearifan lokal.

Pada tahap pertama, guru memperkenalkan kepada siswa materi-materi kasus sesuai kurikulum (K-13 bidang studi PPKn SMA) dengan cara membaca cerita, menonton film yang menggambarkan konflik nilai, atau mendiskusikan kejadian-kejadian hangat dalam kehidupan sekitar, kehidupan sekolah atau suatu komunitas masyarakat adat Minangkabau dank e Indonesiaan. Langkah kedua yang termasuk ke dalam tahap orientasi adalah mengkaji ulang fakta-fakta dengan menggambarkan peristiwa dalam kasus kearifan lokal, menganalisis siapa yang melakukan apa, dan mengapa terjadi seperti demikian. Pada tahap kedua, siswa mensintesis fakta, mengaitkannya dengan isu-isu umum dan mengidentifikasi nilai-nilai lokal yang terlibat dalam kasus tersebut (misalnya, isu tersebut berkaitan dengan kebebasan mengemukakan pendapat, otonomi daerah, persamaan hak, dan Iain-lain). Dalam tahap

TAHAP I (2016) Penelitian deskriptif TAHAP II (2017) Penelitian pengembangan TAHAP III (2018) Pengujian Validasi dan LANGKAH 1 Analisis (Analisa proses pembelajaran) LANGKAH 2 Desain model LANGKAH 3 Development (pengembangan model pembelajaran hukum dan HAM pada PPKn berbasis kompetensi kasus dan kearifan lokal LANGKAH 4 Implementasi (Uji Coba Model secara terbatas) LANGKAH 5 Evaluation (uji validitas model)

(11)

satu dan dua ini, siswa belum diminta untuk mengekspresikan pendapat atau sikapnya terhadap kasus tersebut. Pada tahap ketiga, siswa diminta untuk mengambil posisi (sikap/pendapat) terhadap isu tersebut dan menyatakan sikapnya. Misalnya dalam kasus bayaran uang sekolah, siswa menyatakan sikapnya bahwa seharusnya pemerintah tidak menentukan besar biaya sekolah yang harus diberlakukan untuk setiap sekolah karena hal itu melanggar hak otonomi sekolah. Pada tahap keempat, sikap (posisi/pendapat) siswa digali lebih dalam. Guru sekarang memainkan peran ala Socrates. Memperdebatkan pendapat yang diajukan siswa dengan pendapat-pendapat konfrontatif. Dalam hal ini siswa diuji konsistensi dalam mempertahankan sikap/pendapat yang telah diambilnya. Di sini siswa dituntut untuk mengajukan argumentasi logis dan rasional yang dapat mendukung pernyataan (posisi) yang telah dibuatnya. Tahap kelima adalah tahap penentuan ulang akan posisi (sikap) yang telah diambil siswa. Dalam tahap ini sikap (posisi) yang telah diambil siswa mungkin konsisten (tetap bertahan) atau berubah (tidak konsisten), tergantung dari hasil atau argumentasi yang terjadi pada tahap keempat. Jika argumen siswa kuat, mungkin konsisten. Jika tidak, mungkin siswa mengubah sikapnya (posisinya). Tahap keenam adalah pengujian asumsi faktual yang mendasari sikap yang diambil siswa. Dalam tahap ini guru mendiskusikan apakah argumentasi yang digunakan untuk mendukung pernyataan sikap tersebut relevan dan valid.

Metode ini bagian dari Teori pembelajaran Gestalt dirintis Max Wertheimer bersama Kurt Koffka dan W.Kohler yang dikutip Rusman (2010).

Penyempurnaan pembelajaran dilakukan dengan mengimplementasikan model pembelajaran berbasis Jurisprodential Inquiri (Telaahan Hukum) dengan pendekatan kasus hukum dan HAM berbasis lokal. Dalam hal ini pembelajaran didesain dengan mencari solusi dengan mengunakan argumentasi berbasis hukum, teori, konsep yang diyakini. Kenapa mereka teguh dengan pendapat atau pendirian siswa setelah mempertimbangkan berbagai informasi, data yang kuat.

2. Analisis bahan ajar pembelajaran hukum dan HAM pada bidang studi PPKn di SMA yang sesuai dengan kurikulum (K-13) dengan pendekatan Jurisprodential Inquiry.

Analisa bahan ajar hukum dan HAM pada bidang studi PPKn di SMA dikaji melalui Buku ajar yang digunakan sekolah dalam Kota Padang dan penjabaran pada RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Berdasarkan temuan penelitian menunjukan

(12)

bahwa syarat bahan ajar dalam bentuk buku ajar masih banyak yang memenuhi syarat sebagai buku ajar yang baik.

Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap. Pengembangan kurikulum 2013, dapat meningkatkan kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Ketiga komptetensi tersebut harus saling mendukung satu sama lain agar dihasilan lulusan yang berkualitas. Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum 2013 menjelaskan bahwa kurikulum dikembangkan sesuai dengan ciri khas, potensi, keunggulan, kearifan lokal, dan kebutuhan daerah. Hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum adalah potensi daerah. Potensi daerah berguna sebagai sumber pembelajaran yang ditujukan bagi peserta didik agar memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakteristik daerah dalam pembelajaran. Pembelajaran dapat berlangsung di kelas secara kondusif apabila kondisi lingkungan belajarnya nyaman dengan berbasis lokal.

Proses pembelajaran terpusat pada siswa bukan pada guru. Permendikbud No.65 tahun 2013 pasal 1 tentang standar proses menyatakan bahwa kriteria pelaksaanaan pembelajaran pada pendidikan dasar dan menegah adalah mencapai kompetensi lulusan. Proses pembelajaran harus mengunakan model, metoda dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi PPKn serta kondisi siswa, agar kompetensi siswa dapat dicapai. Pembelajaran dengan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi satu sama lain. Pembelajaran harus mencerminkan keutuhan ketiga aspek kompetensi, pemilihan bahan ajar, model, dan pendekatan pembelajaran.

Hasil analisis buku ajar PPKN SMA 2017 yang dilakukan peneliti di SMA Padang menunjukan bahwa guru masih belum dapat memaksimalkan bahan ajar yang dipakai, ketika guru menjelaskan materi. Selanjutnya model dan pendekatan pembelajaran yang dipilih belum sesuai dengan karateristik materi, serta belum tercantumnya indikator dan tujuan pembelajaran yang terintegrasi potensi daerah salah satunya materi kejatuhan meteor. Guru masih mengunakan metode konvensional seperti tanya jawab, ceramah, tentang konsep dan bersifat menghafal konsep, tanpa menumbuhkan aplikasi-aplikasi konsep tersebut kepada peserta didik. Hal ini membuat siswa belum memilki kemapuan dalam memecahkan masalah gejala kehidupan ke PPKn nan di masyarakat kehidupannya secara ilmiah.

Fakta lain menunjukan siswa di lapangan kurang memiliki pengetahuan untuk meanalisis fenomena yang terjadi dan dampak dari fenomena. Materi kearifan lokal

(13)

dapat diintegrasikan pada materi ajar PPKn. Tuntutan kurikulum dalam pengintegrasian kearifan lokal dalam materi PPKn dapat diwujudkan dengan sumber belajar. Sumber belajar yang sesuai dengan kriteria kurikulum 2013 salah satunya adalah buku teks. Peran penting buku teks ajaran masih dibaikan dalam pembelajaran. Buku teks merupakan satu kesatuan dengan pembelajaran, karena menjadi sumber belajar siswa, agar siswa memahami konsep. Kelebihan buku teks antara lain terdapat banyak informasi aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mencapai kompetensi siswa. Oleh karena itu, pengembangan buku teks yang layak perlu sesuai dengan kelayakan isi, kontruk, kebahasan, dan kegrafikan.

Kenyataan yang ditemukan peneliti di sekolah bahwa analisis kebutuhan buku teks yang digunakan dalam pembelajaran belum sesuai dengan harapan. Kondisi ini dibuktikan oleh bahasa yang rumit dan sulit dipahami, sehingga perlu analisis bahasa yang tinggi dalam memahaminya. Kesesuaian buku teks dengan langkah saintifik belum terlihat karena pendekatan saintifik penting dalam kurikulum 2013. Selanjutnya kesesuaian buku teks dengan SKL pada aspek sikap dan keterampilan termasuk dalam kategori sedang. Buku teks yang ada cenderung menonjolkan aspek pengetahuan saja. Buku teks belum menciptakan interaksi dengan peserta didik dan guru. Observasi menunjukan bahwa ketersediaan buku teks di sekolah, ditemukan terdapat beberapa kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Buku teks yang tersedia di sekolah perlu direvisi dengan memperhatikan ketersediaan langkah-langkah saintifik pada buku teks yang menjadi tuntutan kurikulum 2013,

. Format buku teks belum mencakupi kriteria buku teks. Buku teks yang baik memiliki ketercakupan komponen-komponen penyusun buku teks. Namun kenyataannya, komponen buku teks belum lengkap Prinsip penyusunan buku teks format buku teks berupa judul, indikator, peta pikiran, cakupan materi, paparan materi, lembar kerja, latihan, dan penilaian. Format buku teks yang telah diobservasi belum mencakup bagian indikator, lembaran kerja, dan penilaian. Buku teks yang diharapkan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga kompetensi memerlukan tujuan pembelajaran yang jelas. Namun buku teks yang tersedia belum merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas.

Tujuan pembelajaran sebaiknya disusun berdasarkan KI, KD, dan indikator yang telah dirumuskan sehingga menghasilkan tujuan pembelajaran yang khusus dan detail dengan harapan seluruh kompetensi dapat dicapai dengan optimal. Selanjutnya buku

(14)

teks yang digunakan tidak dimulai dengan fakta dan konsep di sekolah, bahkan langsung menjelaskan tentang prinsip. Buku teks yang baik adalah buku teks yang disusun berdasarkan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Selain itu, buku teks yang berkualitas memiliki integrasi dengan kearifan lokal atau bencana yang terjadi pada belahan daerah negara bersangkutan. Bencana kejatuhan meteor terjadi banyak di pulau jawa dan sebagian sumatera seperti Aceh. Kearifan lokal yang diintegrasikan pada buku teks adalah materi kejatuhan meteor. Hal ini disebabkan materi yang diintegrasikan belum ada dalam buku teks sekolah. Observasi yang dilakukan buku teks perlu diperbaiki agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Hasil analisis pada buku teks PPKn (2016) menunjukan bahwa pada buku teks ini mendekati buku teks sebagai tuntutan kurikulum 2013. Materi pembelajaran harus memiliki kegiatan tugas dan tantangan untuk mendapatkan konsep.

Selain analisis kebutuhan dan buku teks, analisis lainnya antara lain analisis awal akhir, analisis materi, analisis peserta didik, dan analisis potensi daerah. Analisis awal-akhir mendapatkan hasil bahwa performa guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dalam kategori cukup. Analisis materi mendapat hasil bahwa peserta didik harus memilki kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Analisis cakupan materi harus memiliki fakta, prinsip, konsep, dan prosedur. Analisis peserta didik didapatkan dari aspek sikap sosial, keterampilan dalam menalar dan menyajikan, dan pengetahuan prosedural perlu ditingkatkan. Analisis tersebut menunjukkan bahwa perlunya merumuskan tujuan pembelajaran berupa desain pembelajaran yang digunakan dalam mendesain buku teks.

Analisis Potensi Daerah

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Sesuai amanat undang-undang tersebut maka dalam pengembangan buku teks hendaknya memperhatikan potensi daerah (8 Gatra dalam konsep ketahanan Nasional).

Analisis potensi daerah mencakup rona fisik dan rona sosial ekonomi. Rona fisik daerah mencakup lokasi daerah baik relatif maupun absolut, luas wilayah, bentuk lahan, kondisi tofografi, kondisi lereng, kondisi tanah, kondisi iklim, kondisi hidrologi, kondisi geologi , kondisi lahan, dan kondisi fisik lainnya. Selain rona fisik daerah juga terdapat

(15)

kondisi sosial ekonomi.

Menganalisis potensi daerah menggunakan analisis SWOT. Menurut Daniel Start (2002) menjelaskan manfaat analisa SWOT diantaranya yakni sebagai berikut : 1) Melakukan perencanaan dalam upaya mengantisipasi masa depan dengan

melakukan pengkajian berdasarkan pengalaman masa lampau ditopang sumber daya dan kemampuan yang dimiliki saat ini yang akan diproyeksikan kemasa depan. 2) Menganalisa kesempatan/ peluang dan kekuatan dalam membuat rencana jangka

panjang.

3) Mengatasi ancaman dan kelemahan yang mempunyai kecenderungan menghasilkan rencana jangka pendek, yaitu rencana untuk perbaikan

4) Mengidentifikasi faktor eksternal (O dan S) dan faktor internal (S dan W). Kualitas Pengembangan Buku Teks

Buku teks yang telah dikembangkan perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah buku teks telah baik digunakan ataukah masih ada hal yang perlu diperbaiki. Komponen evaluasi suatu buku mencakup: kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikan (Depdiknas, 2008:28). Setelah dilakukan evaluasi terhadap buku teks, langkah selanjutnya adalah merevisi buku teks. Apabila evaluasi dan revisi telah dilakukan maka diperoleh buku teks yang baik dan dapat digunakan.

Evaluasi yang dilakukan terhadap produk pengembangan yang dihasilkan terdiri dari tiga kriteria. Kriteria tersebut adalah kevalidan, kepraktisan dan keefektifan. Hal ini sejalan dengan Rochmad (2012) yang menyatakan bahwa , “Untuk menentukan kualitas hasil pengembangan model dan perangkat pembelajaran diperlukan tiga kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.”

Untuk mengetahui produk yang dihasilkan valid atau tidak, produk tersebut harus diuji validitasnya, kepraktisannya dan keefektifannya. Kualitas suatu produk dalam hal ini adalah buku teks ditentukan oleh validitas , praktikalitas, dan efektivitas buku teks tersebut. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai kriteria valid, praktis, dan efektif suau buku teks.

a. Kriteria Valid

Validitas merupakan penilaian produk dari segi materi dan tampilan. Sumarna (2005), menyatakan “Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur.” Bentuk validitas yang dinilai adalah validitas konstruk (construct validity) Dari hasil uji validitas akan diketahui kekuatan

(16)

dan kelemahan dari produk yang dihasilkan.

Uji validitas dilakukan oleh tenaga ahli. Menurut Sugiyono (2011),” Validitas produk dapat dilakukan oleh beberapa tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai kelemahan dan kekuatan produk yang dihasilkan”. Tenaga ahli yang dimaksud adalah orang yang dianggap mengerti maksud dan substansi pemberian buku teks atau dapat juga orang yang profesional dibidangnya seperti dosen. Menurut Ahmad Fauzan (2002) “validity rever to the extent that design of the intervention is based on state of

the art knowledge (content validity) and that the various component of the intervention are consistenly linked to each other (construct validity).” Validitas mengacu pada

desain dari intervensi yang berdasrkan kebaharuan ilmu pengetahuan(validitas isi) dan berbagai macam komponen dari intervensi yang terkait satu sama lain (validitas konstuk)

Validitas yang diuji dalam pengembangan buku teks adalah validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi berkenaan dengan isi dan format dari buku teks yang dikembangkan, sedangkan validitas konstruk berkenaan dengan struktur dan karakteristik dari buku teks yang dikembangkan. Selain validitas isi dan validitas konstruk, juga perlu dilakukan uji validasi bahasa untuk melihat pemakaian bahasa yang digunakan di dalam buku teks sesuai dengan EYD yang benar.

Berdasarkan penjelasan para ahli mengenai validitas di atas dapat disimpulkan bahwa validitas adalah sejauh mana alat ukur cermat dengan kesesuaian alat ukur (butir) untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Secara umum validitas terbagi atas dua yaitu validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis terdiri dari validitas isi dan validitas konstruk, validitas empiris terdiri dari validitas sekarang dam masa depan. Validitas empiris digunakan untuk melakukan uji instrument atau test untuk mengukur instrument berdasarkan pengalaman. Mengukur validitas suatu produk digunakan validitas isi yang mengukur kesesuaian isi dengan kurikulum, validitas konstruk yang menunjukan konsistensi dan keterkaitan antara komponen-komponen produk, selain itu validitas suatu produk juga ditinjau dari aspek bahasa dan aspek tampilan.

b. Kriteria Praktis

Praktikalitas merupakan tingkat keterpakaian sebuah produk oleh pengguna yang berkaitan dengan kemudahan dan kesesuaian dengan waktu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) praktis, artinya mudah dan senang dalam pemakaiannya. Arikunto (2010) mengartikan kepraktisan dalam evaluasi pendidikan

(17)

merupakan kemudahan-kemudahan yang ada pada instrumen evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/ memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpannya.

Kepraktisan berkaitan dengan kemudahan menggunakan buku ajar oleh guru dan siswa. Menurut Rochmad (2012) “Tingkat kepraktisan dilihat dari apakah guru (dan pakar-pakar lainnya) mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan oleh guru dan siswa “. Uji kepraktisan dilakukan untuk menilai tingkat kepraktisan suatu produk. Menurut Zainal Arifin (2012:264) keoraktisan mengandung arti kemudahan baik dalam mempersiapkan, menggunakan, mengolah, dan menafsirkan maupun mengdministrasikannya. Selanjutnya menurut Ahmad Fauzan (2002) “practically rever to extend tha user (teacher and pupil) and other expert consider the intervention as appealing an usable innormal condition”. Praktikalitas adalah melihat sejauh mana (guru/ murid) dan ahli lainnya mempertimbangkan intervensi apakah sebuah produk menarik dan dapat digunakan dalam kondisi normal.

Menurut Sukardi (2008:52) ada beberapa pertimbangan praktikalitas yang dapat dilihat dari aspek-aspek berikut, yaitu:

1) Kemudahan penggunaan, meliputi :mudah diatur, mudah disimpan, dan dapat digunakan sewaktu-waktu.

2) Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan sebaiknya setingkat, cepat, dan tepat 3) Daya tarik peseta didik

4) Mudah diinnterpretasikan oleh ahli maupun pendidik lain

5) Memiliki ekivalensi yang sama sehingga bisa digunakan sebagai pengganti atau variabel

Uji kepraktisan dinilai dari angket kepraktisan melalui respon guru dan siswa setelah perangkat digunakan. Menurut Yusuf (2005) beberapa pegangan yang menjadi patokan suatu produk dinyatakan praktis adalah biaya yang digunakan tidak terlalu tinggi, mudah diadministrasikan, mudah diskor, mudah diinterpretasikan, dan waktu yang digunakan tidak terlalu lama.

Instrumen pratikalitas yang dapat digunakan yaitu angket respon guru dan siswa terhadap pratikalitas buku teks yang dikembangkan angket respon guru dan siswa digunakan untuk mendapatkan respon guru dan siswa terhadap pratikalitas buku teks yang dikembangkan. Instrumen ini diisi oleh guru dan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

(18)

c. Kriteria Efektif

Keefektifan merupakan tingkat pengaruh yang ditimbulkan oleh produk yang dihasilkan terhadap hasil pembelajaran. Menurut Depdiknas (2002), “Efektivitas adalah tingkatan keberhasilan suatu tindakan atau usaha terhadap nilai: harga/hal-hal/sifat-sifat yang penting bagi kemanusiaan.” Menurt Wena (2011) “Keefektivan diukur dari tingkat pencapaian siswa.” Dari pengertian tersebut terlihat bahwa suatu buku teks dapat diatakan efektif apabila buku teks digunakan dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil pembelajaran.

Evaluasi Buku teks ( evaluation

Setelah melakukan implementasi buku teks yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan tahap evaluasi. Tahapan evaluasi terdiri dari dua yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif telah dilakukan pada setiap tahap berupa revisi buku teks terhadap saran dan masukan tenaga ahli, serta kepraktisan dalarn pelaksanaanya.Evaluasi sumatif adalah uji efektifitas yang.incliputi aspek sikap pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Proses pembelajaran penilaian harus dilakukan terhadap semua kompetensi siswa, yaitu kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Hasil belajar siswa diambil selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan perangkat penilaian kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah dikembangkan. Untuk menentukan kualitas perangkat pembelajaran digunakan kriteria yang dikemukakan Nieven (1999), yang meliputi validitas (valiclity), kepraktisan (practicality) dan keefektifan (efektivity).Adapun efektifitas produk dapat dilihat dari manfaat produk sesuai dengan fungsinya.

Hasil dari aspek pengetahuan peserta didik sebahagian besar diatas KKM.Berdasarkan data dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan nilai kompetensi sikap dan keterampilan disetiap perternuan. Penilaian keterampilan dilakukan saat siswa melakukan kegiatan pemecahan masalah.Hal ini menunjukan keluaran yang baik setelah diberikan buku teks, seiring dengan Supriyono (2009) “Efektivitas merupakan hubungan antara keluaran suatu pusat tanggung jawab dengan sasaran yang mesti dicapai. Semakin besar konstribusi daripada keluaran yano, dihasilkan terhadap nilai pencapaian sasaran tersebut, maka dapat dikatakan efektif pula unit tersebut”.

(19)

Kompetensi peserta didik terjadi peningkatan maka kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan dikatakan efektif.

Menurut Otteveger (2001) dikutip dari Suhaidi (2011: 36) mengemukakan bahwa efektifitas buku teks dapat dilihat dari konsistensi antara tipologi harapan dan pengalaman, serta tipologi harapan dan perolehan. Efektifitas buku teks ditentukan oleh: penilaian ahli atau praktisi berdasarkan pengalarnannya menyatakan bahwa buku teks tersebut efektif, dan dalam operasionalnya buku teks tersebut memberikan hasil yang sesuai dengan harapan pengen-ibang. Harapan yang dimaksud adalah harapan kefektivan buku teks dilihat dari peningkatan aspek sikap dan keterampilan setiap pertemuan. Selanjutnya, aspek pengetahuan yang tuntas secara klasikal.

Aspek sikap dan keterampilan diobservasi pada setiap pertemuan. Pertemuan pertama dan kedua terjadi peningkatan aspek sikap, namun peningkatan tersebut kurang signifikan dimana aspek tersebut terlihat pada aspek kreatif dan peduli lingkungan. Hal ini disebabkan oleh peserta didik masih penyesuaian dalam menggunakan buku teks.Pertemuan ketiga dan keempat telah terjadi peningkatan signifikan yang menandakan bahwa buku teks yang dikembangkan dalam kategori efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Akmal. 2010. Hak Asasi Manusia Teori dan Praktek. UNP Press: Padang

Akmal, Azwar Ananda. (2016). Pengembangan Model Pembelajaran Kompetensi Kesadaran Hukum dan HAM Berbasis Jurisprodentiula Inquiry Pada Matapelajaran PPKn SMA Kota Padang. Laporan Hasil Penelitian Tahun Pertama Hibah Pasca 2016.

Asep Saefuddin. 2002. Sistem Perencanaan Perguruan Tinggi Untuk Meningkatkan

Kualitas Pendidikan, Makalah, Kerjasama PKSDM, UNP, IPB, 2002.

Dept Pend.Nasional. 2000. Panduan Pendidikan Hak Asasi Manuasia untuk Guru

SMU/MA, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasionala

FH. Unand. 2008. Kurikulum Pembelajaran Hukum. Hasil Seminar Dosen Hukum Se Sumatera Barat: Fakultas Hukum Unand

Joyce Bruce. 1976. Model Of Teaching. Prentice-Hall, Ich, Englewood Clifft.: New Jersey.

Kirkpatrick,D.L.1998. Evaisco: Evaluating Training Programs:The four Levels (2nd ed).

San Francisco: Berrett-koehler Publisher, Inc.

Komnas HAM Perwakilan Sumbar. 2009. Laporan Pengkajian dan Pemantauan

Kondisi Masyarakat Sumatera Barat Pasca Gempa 30 September 2009. Padang.

L.C. Gay, Peter Airasian. 2000. Educational Research. Competencies for Analysis and

Application. Sixth Edition: Columbus, OhioNew Jersey. Upper Saddle River.

M.D Dahlan. 1990. Model-Model Mengajar. Bandung: CV Dipenogoro.

Nadj.E.S. 2000. Menumbuhkan Daya Kritis Rakyat, Kurikulum Pendidikan HAM dan

Kewarganagaraan, CESDA-LP3ES

(20)

Jakarta: Rajawali Pers

Ronald J. Bonnstetter and Jon E. Pedersen. 2011. The Jurisprudential Inquiry Model for

STS University of Nebraska and University of Oklahoma.

Slavin, R. E. 1989. Research on cooperative learning: Consensus and

controversy.Educational Leadership.

Pusham UII. 2007. Metode Pembelajaran Hukum. Kumpulan Makalah Pada Seminar Internasional kerjasama Oslo University dengan Pusham UII.

Orlich,D.C,at al. 2007. Teaching Strategies: A Guide to Effective Instruction. New York: Houghton Miffin Comoany.

Pedersen, J. E. 1990. The effects of science, technology and societal issues, Implemented

as a cooperative controversy, on attitudes toward science, Anxiety toward science, problem solving perceptions and achievements in Secondary science.

Unpublished doctoral dissertation, University of Nebraska, Lincoln. Yani, Ahmad. 2014. Mindset Kurikulum 2013. Bandung: Alfabeta.

Yusuf, A Muri. 2005. Dasar-dasar dan Teknik Evaluasi Pendidikan. Padang UNP Undang-Undang RI No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

Gambar

Tabel 1: Realitas Kesadaran Hukum dan HAM Melalaui Disiplin Siswa SMA   Kota Padang
Tabel 2: Perkembangan Disiplin Siswa SMA Negeri Kota Padang  No  Kelompok  SMA  Bentuk  Pelanggaran  Disiplin  Sanksi  Jumlah ( 2014)  Jumlah  ( 2015)  Jumlah  ( 2016)  1  SMA  Kelompok  A  Terhadap guru,  teman, dan sekolah,  Surat  perjanjian  8  12  10
Gambar 2. Tahapan Penelitian Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan    Pendekatan Fishbone Diagram

Referensi

Dokumen terkait

Pada indikator 2 kedua subjek dengan IQ tinggi mampu membuat simbol- simbol matematika saat menuliskan informasi yang diperoleh dari soal (M1 dan M2) dan ketika

Metodologi yang digunakan menerapkan teknik terbaru dalam pembuatan program sehingga diharapkan dapat lebih baik dalam menganalisis kebijaksanaan, mengkaji dampak lingkungan dan

Diantaranya dari rancangan tahap compress file zip untuk prototyping sistem operasi sama halnya dengan compress file system , lau tahap persiapan dan memasuki

memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Puskesmas;.. memberikan

Dengan membuat short movie yang mengangkat fenomena orang tua yang selalu marah kepada anaknya yang mendapat nilai ulangan yang tidak bagus, diharapkan orang tua

Dengan menggunakan metode FMEA maka dapat diperoleh dan dipilih 3 faktor penyebab cacat yang memiliki nilai RPN terbesar dari setiap cacat dominan, sehingga dapat

Perbedaan antara penelitian kedua dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada penelitian kedua lebih di fokuskan pada tindakan monopoli yang mengganggu

Prota disusun oleh guru kelas dengan menjabarkan alokasi waktu untuk merancang dan memanajemen waktu berdasarkan kalender pendidikan yang telah disesuaikan oleh sekolah sehingga