DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
PERATURAN
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP NOMOR 1/PER-DJPT/2018
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK NELAYAN, PEMBUDI DAYA
IKAN, DAN PETAMBAK GARAM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP,
Menimbang : a. bahwa untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dilingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu mengganti Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 9/PER-DJPT/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) Untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam;
Mengingat : 1. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
2. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2017 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 5);
3. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 08/MEN/2012 tentang Kepelabuhanan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 440);
4. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.25/MEN/2012 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagaimana telah diubah denga Permen KP Nomor 49/PERMEN-KP/2017 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1521);
5. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13/PERMEN-KP/2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerbitan Surat Rekomendasi Pembelian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu Untuk Usaha Perikanan Tangkap (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 718); 6. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
06/PERMEN-KP/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 220);
7. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71/KEPMEN-KP/2016 tentang Penanggung Jawab Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM.
Pasal 1
(1) Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
(2) Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai acuan bagi aparatur lembaga pemerintah, koperasi dan swasta, dalam pemberian nomor pendaftaran rekomendasi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.
Pasal 2 Ruang Lingkup Peraturan ini, meliputi: a a. organisasi pelaksana;
b. b. inventarisasi SPDN/SPBN yang sudah ada;
c c. evaluasi tingkat pemanfaatan SPDN/SPBN yang telah ada;
d. penilaian kelayakan dan penetapan lokasi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam;
e. penilaian calon pembangun dan pengelola, calon pengelola dan calon pengelola pengganti, calon konsumen, dan pendaftaran rekomendasi; dan
f. monitoring evaluasi dan pelaporan. Pasal 3
Pembiayaan pembangunan dan pengelolaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dapat bersumber dari APBN, DAK, APBD, Koperasi, dan/atau Swasta yang berbadan hukum.
Pasal 4
Dengan berlakunya Peraturan ini, Permohonan Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam yang telah disampaikan dan dinyatakan lengkap sebelum ditetapkan Peraturan ini, diproses berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Nomor 9/PER-DJPT/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) Untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam
Pasal 5
Pada saat Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku, Peraturan Direktur Jenderal Nomor 9/PER-DJPT/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) Untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 6
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 9 April 2018
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP,
ttd
SJARIEF WIDJAJA
Salinan sesuai dengan aslinya
Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap,
1 LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP NOMOR 1/PER-DJPT/2018
TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat Kelautan dan Perikanan yang berdomisili di pesisir, kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumber daya kelautan dan perikanan merupakan sentra produksi perikanan dan daerah penyangga pertumbuhan ekonomi desa, sebagian besar berpotensi untuk dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.
Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2016 tercatat jumlah nelayan mencapai 2.2 juta orang, jumlah pembudi daya ikan pada tahun 2015 adalah 3.810.758 orang, dan petambak garam sebanyak 20.106 orang.
Bagi nelayan, BBM memang merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam kegiatan penangkapan ikan. Komponen biaya BBM yang mereka gunakan berkisar antara 50-70% dari seluruh biaya operasional aktivitas penangkapan ikan. Jumlah kapal penangkap ikan di laut tahun 2015 sebanyak 568.329 kapal perikanan. Dari jumlah kapal perikanan tersebut 442.354 kapal diantaranya berukuran ≤ 30 GT dan motor tempel yang mendapatkan jatah BBM bersubsidi. Demikian juga pada pembudidayaan udang, biaya BBM mencapai 5-25 % dari biaya produksi
2 sebagai bahan bakar genset untuk pompa air, kincir air dan penerangan sekitar tambak budidaya.
Oleh sebab itu, diperlukan langkah kebijakan terobosan, yang di satu sisi faktor biaya produksi dan beban hidup/pengeluaran biaya hidup dan disisi lain meningkatkan produksi secara berkelanjutan dan pendapatan mereka.
Salah satu upaya untuk menurunkan faktor biaya produksi adalah penyediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71 tahun 2016 tentang Penanggung Jawab Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam berada pada lokasi UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, UPT Daerah Pelabuhan Perikanan, dan sentra nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam.
Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan PT. Pertamina (Persero) dan Badan PengaturHilir (BPH) Migas serta instansi terkait lainnya mengembangkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam di sentra-sentra nelayan sejak tahun 2003.
Melalui Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) diharapkan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam dapat memperoleh BBM bersubsidi secara berkelanjutan dan harga BBM bersubsidi sesuai dengan ketetapan pemerintah. Hasil akhir yang diharapkan dari program ini adalah dengan pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil), biaya produksi untuk penangkapan ikan dapat ditekan sampai tingkat yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada awalnya sebagian infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) hanya berupa pool konsumen BBM solar, seperti agen pengecer minyak tanah. Namun sejak tahun 2005, terjadi perubahan
3 dengan tidak lagi ada perizinan dari Pertamina untuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) yang tidak dilengkapi tangki, dispenser, dan alat pemadam api. Bahkan sejak tahun 2007, Pertamina mempersyaratkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) harus memiliki berbagai fasilitas standar kualitas bahan, volume dan kuantitas, serta tingkat keamanan yang baik layaknya yang berlaku di SPBU.
Biaya yang diperlukan untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) tidak sedikit, sementara anggaran yang disediakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sangat terbatas. Untuk itulah, pihak swasta diharapkan dapat berperan dalam pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Petunjuk Pelaksanaan ini sebagai pedoman penilaian kelayakan lokasi, calon pengelola, calon konsumen, dan tahapan persetujuan rekomendasi Program Penyediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.
1.3 Sasaran
Sasaran dari Petunjuk Pelaksanaan ini untuk terselenggaranya program pembangunan dan pengelolaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) agar lebih terarah, efektif dan efisien di setiap lokasi UPT Kementerian Pelabuhan Perikanan, UPT Daerah Pelabuhan Perikanan, dan sentra nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam.
1.4 Pengertian
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak bersubsidi termasuk Solar dan Premium yang dikhususkan untuk melayani nelayan, pembudi daya ikan dan petambak garam.
2. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) yang dimaksud yaitu Solar Packed Dealer untuk Nelayan yang selanjutnya disebut
4 SPDN/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak untuk Nelayan yang disingkat SPBN berada pada lokasi UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, UPT Daerah Pelabuhan Perikanan, dan sentra nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam.
3. Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pelabuhan Perikanan yang selanjutnya disebut dengan UPT Pusat Pelabuhan Perikanan adalah Unit Pelaksana Teknis dibidang Pelabuhan Perikanan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
4. Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabuhan Perikanan yang selanjutnya disebut dengan UPT Daerah Pelabuhan Perikanan adalah Unit Pelaksana Teknis dibidang Pelabuhan Perikanan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota/Provinsi.
5. Sentra Nelayan adalah tempat berkumpulnya nelayan untuk melakukan aktifitas bongkar muat ikan, kapal perikanan dan/atau pemasaran hasil tangkapan yang bukan termasuk dalam kriteria pelabuhan perikanan.
6. Sentra Pembudi Daya Ikan adalah tempat berkumpulnya para pembudi daya ikan untuk melakukan usaha pembudidayaan ikan air tawar, ikan air payau dan ikan air laut.
7. Sentra Petambak Garam adalah tempat berkumpulnya para petambak garam untuk melakukan usaha pergaraman.
8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang mempunyai tugas teknis di bidang Perikanan Tangkap.
9. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota/Provinsi adalah dinas yang bertanggung jawab menangani kegiatan kelautan dan perikanan di Kabupaten/Kota/Provinsi.
10. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas yang selanjutnya disebut BPH Migas adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi pada Kegiatan Usaha Hilir.
11. Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Tertentu yang selanjutnya disebut P3JBT adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis usaha
5 bersifat tetap, terus-menerus dan didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah ditetapkan secara resmi oleh Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas. 12. Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu yang selanjutnya disebut Jenis
BBM Tertentu adalah bahan bakar yang berasal dan/atau diolah dari Minyak Bumi dan/atau bahan bakar yang berasal dan/atau diolah dari Minyak Bumi yang telah dicampurkan dengan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain dengan jenis, standar dan mutu (spesifikasi), harga, volume, dan konsumen tertentu dan diberikan subsidi.
13. Calon pembangun sekaligus calon pengelola adalah perusahaan swasta yang berbadan hukum yang mengajukan permohonan pembangunan dan pengelolaan serta memenuhi persyaratan untuk membangun dan mengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil).
14. Calon pembangun yang berbeda dengan calon pengelola adalah calon pembangun yang membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) dengan APBN dan calon pengelolanya adalah koperasi yang berbadan hukum.
15. Calon konsumen adalah Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan/atau Petambak Garam yang sudah mendapat rekomendasi pembelian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) dari instansi berwenang.
16. Nelayan adalah setiap orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan.
17. Pembudi Daya Ikan Kecil adalah Pembudi Daya Ikan yang melakukan pembudidayaan ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
18. Petambak Garam Kecil adalah Petambak Garam yang melakukan usaha pergaraman pada lahannya sendiri dengan luas lebih dari 5 (lima) hektare sampai dengan 15 (lima belas) hektare, dan perebus garam.
19. Koperasi adalah perusahaan yang berbadan hukum yang memiliki bidang usaha yang beranggotakan orang atau kumpulan usaha bersama dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip ekonomi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
6 20. Nomor Pokok Wajib Pajak yang selanjutnya disebut NPWP adalah nomor yang dimilik oleh badan usaha atau perorangan sebagai wajib pajak. Nomor ini sudah online dan dapat diakses di seluruh Indonesia. Dalam pengurusan perijinan NPWP yang dimaksud adalah NPWP badan usaha yang mengajukan permohonan pembangunan SPDN.
21. Surat Izin Usaha Perdagangan yang selanjutnya disebut SIUP adalah izin yang dikeluarkan Pemda setempat kepada pihak yang bermohon yang akan memulai Usaha di bidang perdagangan.
22. Tanda Daftar Perusahaan yang selanjutnya disebut TDP adalah surat tanda bukti yang menyatakan badan usaha tersebut terdaftar sebagai unit Usaha yang bergerak di bidang perdagangan di instansi setempat yang berwenang mengeluarkan izin.
7 BAB II
ORGANISASI PELAKSANA
Organisasi pelaksana program pembangunan SPDN/SPBN terdiri dari Direktur Jenderal, Direktur Pelabuhan Perikanan, Kepala UPT Pelabuhan Perikanan Pusat, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kota/Kabupaten, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu (P3JBT), dan Pengelola SPDN/SPBN.
2.1. Direktur Jenderal
Direktur Jenderal mempunyai tugas menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan atau pengelola baik yang berada di dalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang di tujukan kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 16, maupun yang berada di luar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 17, serta menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pengelola/pengelola pengganti baik yang berada di dalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang di tujukan kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 35, maupun yang berada di luar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 36. Surat pendaftaran rekomendasi ini sebagai kelengkapan persyaratan untuk mendapatkan izin prinsip dari P3JBT, yang dalam penyiapannya dilakukan oleh Direktur Pelabuhan Perikanan. 2.2. Direktur Pelabuhan Perikanan
Direktur Pelabuhan Perikanan mempunyai tugas sebagai berikut:
a. melakukan iventarisasi Solar Packed Dealer Untuk Nelayan (SPDN)/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Untuk Nelayan (SPBN) yang sudah ada dan mengevaluasi tingkat pemanfaatanya;
b. melakukan penilaian kelayakan lokasi pembangunan dan menetapkan Stasiun Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk nelayan, pembudi daya ikan dan petambak garam berdasarkan hasil validasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi;
8
c. melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait, PT. Pertamina (Persero) dan perusahaan penyalur lainnya, unit kerja
Eselon I terkait di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota/Provinsi;
d. melakukan koordinasi dengan kelompok nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam;
e. menyusun Pedoman Pelaksanaan Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam;
f. pemeriksaan kelengkapan dokumen terhadap permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola dalam hal ini pihak swasta yang dimohonkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi atau Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 15;
g. pemeriksaan kelengkapan dokumen terhadap permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola dalam hal ini pembangunan SPDN/SPBN menggunakan dana APBN/APBD dan calon pengelolanya adalah Koperasi yang berbadan hukum yang dimohonkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi atau Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 33;
h. pemeriksaan kelengkapan dokumen terhadap permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola pengganti yang dimohonkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi atau Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 34; i. mengusulkan persetujuan/penolakan pendaftaran rekomendasi
pembangun dan atau pengelola kepada Direktur Jenderal; dan j. melakukan sosialisasi, monitoring, evaluasi dan pelaporan. 2.3. Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan
Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan mempunyai tugas sebagai berikut: a. melakukan koordinasi dan komunikasi dengan P3JBT terkait dengan peryaratan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil);
b. inventarisasi dan evaluasi SPDN/SPBN pada UPT Pelabuhan Perikanan;
9 c. melakukan penilaian kelayakan lokasi pembangunan Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) dan mengesahkanya; d. memverifikasi dan mengesahkan data calon konsumen dan kebutuhan
BBM sebagaimana tercantum pada Format 3;
e. memverifikasi dan memvalidasi dokumen kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola dalam hal ini pihak swasta berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 6;
f. memverifikasi dan memvalidasi dokumen kelayakan usulan calon pengelola dalam hal ini pembangunan SPDN/SPBN menggunakan dana APBN/APBD dan calon pengelolanya adalah Koperasi yang berbadan hukum berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 21;
g. memverifikasi dan memvalidasi dokumen kelayakan usulan calon pengelola pengganti berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 22;
h. membuat surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
i. menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN pada UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 7;
j. menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola/calon pengelola pengganti SPDN/SPBN pada UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 23;
k. melakukan koordinasi dengan kelompok nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam; dan
l. menyampaikan laporan bulanan dan triwulan kegiatan kepada Direktur Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 40.
2.4. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi mempunyai tugas sebagai berikut:
a. melakukan koordinasi dan komunikasi dengan instansi terkait; b. inventarisasi dan evaluasi SPDN/SPBN ditingkat Kabupaten/Kota;
10 c. mengesahkan hasil penilaian kelayakan lokasi pembangunan Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil);
d. mengesahkan data calon konsumen dan kebutuhan BBM sebagaimana tercantum pada Format 3;
e. memvalidasi dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola dalam hal ini pihak swasta berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 12;
f. memvalidasi dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pengelola dalam hal ini pembangunan SPDN/SPBN menggunakan dana APBN/APBD dan calon pengelolanya adalah Koperasi yang berbadan hukum berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 29;
g. memvalidasi dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 30;
h. membuat surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
i. menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Format 13;
j. menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola/calon pengelola pengganti SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Format 31;
k. melakukan koordinasi dengan kelompok nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam; dan
l. menyampaikan laporan bulanan dan triwulan kegiatan kepada Direktur Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 40.
2.5. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota mempunyai tugas sebagai berikut:
a. melakukan koordinasi dan komunikasi dengan P3JBT terkait dengan peryaratan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil);
11 b. melakukan koordinasi dengan kelompok nelayan, pembudi daya ikan,
dan petambak garam;
c. melakukan penilaian kelayakan lokasi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil);
d. memverifikasi data calon konsumen dan kebutuhan BBM;
e. memverifikasi dokumen kelayakan calon pembangun dan pengelola berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 9;
f. memverifikasi dokumen kelayakan calon pengelola dalam hal ini pembangunan SPDN/SPBN menggunakan dana APBN/APBD dan calon pengelolanya adalah Koperasi yang berbadan hukum berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 25;
g. memverifikasi dokumen kelayakan calon pengelola pengganti berdasarkan persyaratan administrasi di wilayah yang diusulkan sebagaimana tercantum pada Format 26;
h. menerbitkan surat usulan rekomendasi kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dengan melampirkan dokumen hasil verifikasi kelayakan calon pembangun dan pengelola sebagaimana tercantum pada Format 10;
i. menerbitkan surat usulan rekomendasi kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dengan melampirkan dokumen hasil verifikasi kelayakan calon pengelola/calon pengelola pengganti sebagaimana tercantum pada Format 27.
j. menyampaikan laporan bulanan dan triwulan kegiatan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 39.
2.6. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas)
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas cq. Direktur Bahan Bakar Minyak mempunyai tugas sebagai berikut:
a. menentukan kuota BBM bersubsidi per Kabupaten/Kota; dan b. menyusun regulasi penyaluran BBM bersubsidi.
12 2.7. Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu
(P3JBT)
Direktur Utama Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu yang mempunyai tugas sebagai berikut:
a. melakukan verifikasi lokasi berdasarkan persetujuan rekomendasi dari Direktur Jenderal;
b. melakukan verifikasi kelengkapan berkas administrasi;
c.
menerbitkan izin prinsip pembangunan SPDN/SPBN;
d. menetapkan spesifikasi bangunan dan sarana/prasarana perlengkapan;
e. melakukan cek fisik pembangunan 100%; f. menerbitkan izin operasional; dan
g. menyampaikan laporan secara tertulis rekapitulasi izin prinsip pembangunan yang sudah diterbitkan kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap setiap 6 (enam) bulan sekali.
2.8. Pengelola SPDN/SPBN
Pengelola SPDN/SPBN mempunyai tugas sebagai berikut:
a. menyampaikan laporan bulanan realisasi volume penyaluran BBM kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi atau UPT Pelabuhan Perikanan Pusat;
b. melakukan koordinasi dalam penyaluran/penjualan BBM dengan kelompok nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam; dan c. menyampaikan laporan pengelolaan SPDN/SPBN.
13 BAB III
INVENTARISASI SPDN/SPBN DAN EVALUASI TINGKAT PEMANFAATAN
3.1 Inventarisasi SPDN/SPBN
Dasar pelaksanaan inventarisasi SPDN/SPBN yaitu sebagaimana tercantum pada diktum KEDUA huruf a Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71 Tahun 2016 tentang Penanggung Jawab Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam berdasarkan data dan informasi yaitu:
a. data SPDN/SPBN tahun 2005-2016 dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.05/MEN/2005 tentang Penanggung Jawab Program Pembangunan Solar Packed Dealer Untuk Nelayan (SPDN)/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Untuk Nelayan (SPBN).
b. data sebagaimana dimaksud pada huruf a terdiri dari : 1) Provinsi;
2) Kabupaten/Kota; 3) Alamat Pengelola;
4) Status Operasional atau Tidak Operasional;
5) Penyalur BBM (PT. Pertamina/PT. Surya Parna Niaga/PT. AKR Corporindo);
6) Nomor registrasi;
7) Kuota BBM (Kilo Liter/bulan); 8) Sumber Dana; dan
9) Status Aset.
c. bentuk dan format inventarisasi SPDN/SPBN yang telah ada sebagaimana dimaksud pada huruf b sebagaimana tercantum pada Format 1 yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal cq. Direktur Pelabuhan Perikanan berdasarkan hasil inventarisasi yang telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota/Provinsi; dan
d. data SPDN/SPBN mulai tahun 2017 sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 71/KEPMEN-KP/2016 tentang
14 Penanggung Jawab Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap. Bentuk dan format inventarisasi SPDN/SPBN terlampir pada Form 1.
3.2 Evaluasi Tingkat Pemanfaatan
Evaluasi tingkat pemanfaatan dilakukan oleh Direktur Jenderal cq. Direktur Pelabuhan Perikanan berdasarkan hasil laporan yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi yang meliputi :
a. jumlah dan persentase status operasional SPDN/SPBN termasuk permasalahan/kendala;
b. volume dan persentase penyaluran BBM ke nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam dibanding kuota yang tersedia per kabupaten/kota;
15 BAB IV
PENILAIAN KELAYAKAN DAN PENETAPAN LOKASI PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR MINYAK SOLAR (GAS OIL)
Dasar penilaian kelayakan lokasi pembangunan dan penetapan yaitu sebagaimana tercantum pada diktum KEDUA huruf b Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71 Tahun 2016 tentang Penanggung Jawab Program Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.
4.1 Penilaian Kelayakan Lokasi
Penilaian kelayakan lokasi pembangunan SPDN/SPBN dilakukan oleh Direktur Jenderal berdasarkan hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sesuai persyaratan sebagai berikut:
1) Berada pada lokasi UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, UPT Daerah Pelabuhan Perikanan, dan sentra nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam;
2) Lokasi yang diusulkan mempunyai status tanah yang jelas. Bagi lokasi yang berada di luar pelabuhan perikanan dibuktikan dengan fotokopi sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional setempat. Bagi lokasi yang berada di dalam pelabuhan perikanan
memiliki surat izin/sewa penggunaan bidang tanah paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.
3) Lokasi memiliki akses jalan yang layak dilalui oleh mobil tangki (mobile
dispenser) milik P3JBT atau lokasinya dapat diakses oleh kapal
pengangkut BBM (bunker services) milik P3BJT;
4) Usulan lokasi harus mengacu kepada persyaratan yang ditetapkan oleh P3JBT; dan
5) Letak pembangunan instalasi BBM di UPT Pusat dan UPT Daerah harus berjauhan dengan kegiatan suplai air, suplai es dan pembongkaran ikan untuk menghindari kontaminasi.
4.2 Penetapan Lokasi
Penetapan lokasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) dilakukan oleh Direktur Jenderal dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dengan ketentuan sebagai berikut:
16 1. Direktur Jenderal menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan lokasi berdasarkan permohonan dari calon pengelola yang telah divalidasi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi;
2. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) menetapkan lokasi berdasarkan permohonan dari calon pengelola yang telah diverifikasi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota;
17 BAB V
PENILAIAN CALON PEMBANGUN DAN PENGELOLA, CALON PENGELOLA, CALON PENGELOLA PENGGANTI, CALON KONSUMEN, DAN
PENDAFTARAN REKOMENDASI
5.1 Penilaian Calon Pembangun dan atau Calon Pengelola 5.1.1 Calon Pembangun sekaligus Calon Pengelola
Calon pembangun sekaligus calon pengelola dalam hal ini pihak swasta yang akan membangun SPDN/SPBN dinilai layak oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, jika memenuhi persyaratan dokumen administrasi sebagai berikut:
1) Identitas Perusahaan, meliputi: a. nama Perusahaan/Koperasi; b. alamat Perusahaan/Koperasi;
c. akta Pendirian Perusahaan/Koperasi; d. fotokopi NPWP Perusahaan/Koperasi;
e. fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
f. fotokopi Tanda Daftar Perusahaan/Koperasi (TDP); dan g. fotokopi KTP Direktur Utama/Ketua Koperasi;
2) Mengumpulkan persyaratan dari salah satu P3JBT yang ingin dipergunakan;
3) Memiliki data calon konsumen dan kebutuhan BBM. Bentuk dan format data pendukung calon konsumen dan kebutuhan BBM sebagaimana tercantum pada Format 3 dan petunjuk pengisiannya;
4) Fotokopi Dokumen Status Kepemilikan Tanah:
a. jika tanah tersebut hak milik melampirkan sertifikat tanah; b. jika bukan hak milik melampirkan perjanjian sewa tanah. 5) Memiliki gambar denah posisi lokasi dan titik koordinat Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) yang sesuai dengan penilaian kelayakan lokasi pada angka 4.1; dan
6) Pakta Integritas Penanggung Jawab Calon Pembangun dan Pengelola yang dibubuhi dengan materai 6000 sebagaimana tercantum pada Format 4.
18 5.1.2 Calon Pembangun yang berbeda dengan Calon Pengelola
Calon pembangun yang berbeda dengan calon pengelola dalam hal ini pembangunan SPDN/SPBN menggunakan dana APBN/APBD dan calon pengelolanya adalah Koperasi yang berbadan hukum. Pekerjaan pembangunan dilakukan dengan cara proses lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sedangkan calon pengelolanya yaitu Koperasi dinilai layak oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, jika memenuhi persyaratan dokumen administrasi sebagai berikut:
1) Identitas Koperasi, meliputi: a. nama Koperasi;
b. alamat Koperasi;
c. akta Pendirian Koperasi; d. fotokopi NPWP Koperasi;
e. fotokopi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP);
f. fotokopi Tanda Daftar Perusahaan/Koperasi (TDP); g. fotokopi KTP Ketua Koperasi;
h. fotokopi Rekening Koran; dan
i. fotokopi Laporan Keuangan Koperasi;
2) Mengumpulkan persyaratan dari salah satu P3JBT yang ingin dipergunakan;
3) Memiliki data calon konsumen dan kebutuhan BBM. Bentuk dan format data pendukung calon konsumen dan kebutuhan BBM sebagaimana tercantum pada Format 3 dan petunjuk pengisiannya;
4) Fotokopi Dokumen Status Kepemilikan Tanah:
a. Jika tanah tersebut hak milik melampirkan sertifikat tanah; b. Jika bukan hak milik melampirkan perjanjian sewa tanah. 5) Memiliki gambar denah posisi lokasi dan titik koordinat Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) yang sesuai dengan penilaian kelayakan lokasi pada angka 4.1; dan
6) Pakta Integritas Penanggung Jawab Calon Pengelola yang dibubuhi dengan materai 6000 sebagaimana tercantum pada Format 5.
19 5.1.3 Calon Pengelola Pengganti
Calon pengelola pengganti dalam hal ini adalah Koperasi yang berbadan hukum. Calon Pengelola Pengganti dinilai layak oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, jika memenuhi persyaratan dokumen administrasi sebagai berikut:
1) Identitas Koperasi, meliputi: a. nama Koperasi;
b. alamat Koperasi;
c. akta Pendirian Koperasi; d. fotokopi NPWP Koperasi;
e. fotokopi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP);
f. fotokopi Tanda Daftar Perusahaan/Koperasi (TDP); g. fotokopi KTP Ketua Koperasi;
h. fotokopi Rekening Koran; dan
i. fotokopi Laporan Keuangan Koperasi.
2) Mengumpulkan persyaratan dari salah satu P3JBT yang ingin dipergunakan;
3) Memiliki data calon konsumen dan kebutuhan BBM. Bentuk dan format data pendukung calon konsumen dan kebutuhan BBM sebagaimana tercantum pada Format 3 dan petunjuk pengisiannya;
4) Fotokopi perjanjian/kontrak kerjasama sewa menyewa/pengelolaan SPDN antara pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dengan pihak calon pengelola pengganti;
5) Memiliki gambar denah posisi lokasi dan titik koordinat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) yang sesuai dengan penilaian kelayakan lokasi pada angka 4.1; dan
6) Pakta Integritas Penanggung Jawab Calon Pengelola Pengganti yang dibubuhi dengan materai 6000 sebagaimana tercantum pada Format 5.
20 5.2 Calon Konsumen
Calon konsumen yang layak membeli BBM bersubsidi adalah: a. Nelayan
Nelayan yang memenuhi kriteria:
1) Nelayan yang menggunakan kapal berukuran sampai dengan 30 GT; 2) Memiliki Kartu Nelayan/Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan
Perikanan (Kartu KUSUKA);
3) Bagi nelayan harus memiliki surat rekomendasi pembelian BBM dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat/UPT Pusat Pelabuhan Perikanan; dan
4) Bagi nelayan tangkap, konsumen yang diprioritaskan adalah kapal nelayan yang berdomisili di lokasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) atau nelayan andon yang secara reguler melapor ke Pengelola Pelabuhan Perikanan setempat;
b. Pembudi Daya Ikan
Pembudi Daya Ikan skala kecil yang memenuhi kriteria: 1) Menggunakan teknologi sederhana;
2) Melakukan pembudidayaan ikan dengan luas lahan: a. Usaha pembudi daya ikan air tawar untuk kegiatan:
1.) pembenihan ikan paling luas 0,75 ha; dan 2.) pembesaran ikan paling luas 2 ha.
b. Usaha pembudi daya ikan air payau untuk kegiatan: 1.) pembenihan ikan paling luas 0,5 ha; dan
2.) pembesaran ikan paling luas 5 ha.
c. Usaha pembudi daya ikan air laut untuk kegiatan: 1.) pembenihan ikan paling luas 0,5 ha; dan
2.) pembesaran ikan paling luas 2 ha. c. Pertambak Garam
Petambak garam skala kecil yang memenuhi kriteria adalah petambak garam yang melakukan usaha pergaraman pada lahan sendiri dengan luas paling banyak 5 (lima) ha sampai dengan 15 (lima belas) ha dan perebus garam dengan verifikasi dan surat rekomendasi dari SKPD Kabupaten/Kota yang membidangi perikanan.
21 5.3 Dasar Pendaftaran Rekomendasi
Dasar dari Pendaftaran Rekomendasi adalah:
1. Bagi lokasi yang berada didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan surat permohonan rekomendasi, dokumen administrasi, penilaian kelayakan lokasi, data calon konsumen dan kebutuhan BBM telah diverifikasi dan divalidasi oleh Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan; dan
2. Bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan surat permohonan rekomendasi, dokumen administrasi, penilaian kelayakan lokasi, data calon konsumen dan kebutuhan BBM yang telah diverifikasi awal oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dan kemudian divalidasi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi.
Pendaftaran Rekomendasi ini digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan izin prinsip dari P3JBT.
5.4 Pendaftaran Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola
Pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN dalam hal ini pihak swasta. Tahapan Pendaftaran Rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN adalah sebagai berikut:
1. Bagi lokasi SPDN/SPBN yang berada di dalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan calon pembangun dan pengelola mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, sedangkan bagi lokasi yang berada di luar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan calon pembangun dan pengelola mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dengan melampirkan persyaratan seperti pada angka 5.1. Surat permohonan sebagai calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Format 2; 2. Bagi lokasi yang berada di dalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan,
berdasarkan surat permohonan, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table checklist
22 dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola, yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Checklist dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola bagi UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 6;
3. Jika permohonan dinilai layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran calon pembangun dan pengelola dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 7, serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
4. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan membuat surat penolakan permohonan calon pembangun dan pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan calon pembangun dan pengelola dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 8;
5. Bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, berdasarkan surat permohonan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola, yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 9;
6. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat usulan rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. Surat usulan rekomendasi calon
23 pembangun dan pengelola SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 10;
7. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat penolakan permohonan calon pembangun dan pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan pembangun dan pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 11;
8. Berdasarkan surat usulan rekomendasi calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi melakukan validasi terhadap dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola yang telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat usulan rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist dokumen validasi kelayakan usulan calon pembangun dan pengelola bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 12;
9. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola serta surat keterangan kebenaran dokumen yang telah di validasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 13, serta surat keterangan kebenaran dokumen yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
10. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menerbitkan surat penolakan usulan rekomendasi calon pembangun dan pengelola disertai alasan kepada pemohon. Bentuk dan format surat penolakan usulan rekomendasi calon pembangun dan pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana dimaksud terlampir pada Form 14;
24 11. Direktur Pelabuhan Perikanan berdasarkan surat permohonan
pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan pengelola dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat permohonan pendaftaran rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan terhadap calon pembangun dan pengelola bagi Direktur Jenderal sebagaimana tercantum pada Format 15 ;
12. Bagi lokasi yang berada didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, jika permohonan dinilai layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan dan ditembuskan kepada Direktur Pelabuhan Perikanan, P3JBT, dan pemohon/calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola SPDN/SPBN bagi lokasi yang berada didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 16;
13. Bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, jika permohonan dinilai layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan ditembuskan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, P3JBT, dan pemohon/calon pembangun dan pengelola SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola SPDN/SPBN bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 17;
14. Jika permohonan dinilai tidak layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola sebagaimana tercantum pada Format 18;
25 15. Penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pembangun dan
pengelola sebagaimana tercantum pada angka 14, berkas permohonan menjadi milik Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap; 16. Surat pendaftaran rekomendasi pembangun dan pengelola yang
diterima oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan Izin Prinsip Pembangunan dari P3JBT;
26 Gambar I. Diagram Alir Mekanisme Penerbitan Pendaftaran Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN Bagi
Lokasi Diluar UPT Pusat
Calon Pembangun dan Pengelola SPDN Kepala Dinas KP Kab/Kota Kepala Dinas KP Provinsi
Surat Permohonan Sebagai Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN Verifikasi Kelayakan Usulan Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN Sesuai Tidak Sesuai
Validasi Kelayakan Usulan Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN Tidak Sesuai
Sesuai
Menerbitkan Surat Usulan Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN (1) (2) (3) (4) (5) Dirjen Perikanan Tangkap Cq. Direktur Pelabuhan
Surat Permohonan Pendaftaran Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN dan Surat Keterangan Kebenaran dokumen yang telah divalidasi
(7)
Menerbitkan Surat Pendaftaran Rekomendasi Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN (8) (6) (10)
P3JBT
Izin Prinsip (9)Menerbitkan Surat Penolakan Permohonan Sebagai Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN
Sesuai
Tidak Sesuai
Menerbitkan Surat Penolakan Pendaftaran Rekomendasi Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN (11) (12) (13) (14) (15)
Surat Penolakan Usulan
Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN
(9) (16)
27 Gambar II. Diagram Alir Mekanisme Penerbitan Pendaftaran Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN Bagi Lokasi
Didalam UPT Pusat
Calon Pembangun dan Pengelola SPDN
Kepala UPT Pusat
Validasi dan Verifikasi Kelayakan Usulan Calon Pembangun dan Pengelola Tidak Sesuai
Sesuai (1)
(2)
Dirjen Perikanan Tangkap Cq. Direktur Pelabuhan
Perikanan
Surat Permohonan Pendaftaran Rekomendasi Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN dan dan Surat Keterangan Kebenaran dokumen yang telah divalidasi
(4) Menerbitkan Surat Pendaftaran
Rekomendasi Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN (5) (3) (7)
P3JBT
(8) (9) Izin Prinsip (6) Surat Permohonan Sebagai CalonPembangun dan Pengelola SPDN/SPBN
Surat Penolakan Permohonan Sebagai Calon Pembangun dan Pengelola SPDN/SPBN
(11) (12)
28 5.5 Pendaftaran Rekomendasi Calon Pengelola
Pendaftaran rekomendasi pengelola untuk pembangunan SPDN/SPBN yang didanai oleh APBN/APBD dalam hal ini adalah Koperasi. Tahapan Pendaftaran Rekomendasi calon pengelola adalah sebagai berikut:
1. Bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan calon pengelola mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dengan melampirkan persyaratan seperti pada angka 5.1. Surat permohonan sebagai calon pengelola SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Format 19;
2. Bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, berdasarkan surat permohonan, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pengelola berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table
checklist dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon
pengelola, yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Checklist dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pengelola yang mengelola SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 21;
3. Jika permohonan dinilai layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan menerbitkan surat permohonan pendaftaran calon pengelola serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran calon pengelola dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 23, serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi pada Format 41;
29 4. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan
Perikanan membuat surat penolakan permohonan calon pengelola disertai alasan kepada pemohon. Bentuk dan format surat penolakan permohonan calon pengelola dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 24;
5. Bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, berdasarkan surat permohonan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi kelayakan usulan calon pengelola berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table
checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pengelola, yang
dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pengelola yang mengelola SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 25;
6. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat usulan rekomendasi calon pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. Surat usulan rekomendasi calon pengelola SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 27;
7. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat penolakan permohonan calon pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan calon pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 28;
8. Berdasarkan surat usulan rekomendasi calon pengelola SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi melakukan validasi terhadap dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pengelola yang telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat usulan rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist dokumen validasi kelayakan usulan calon pengelola bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 29;
30 9. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 31, serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
10. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menerbitkan surat penolakan usulan rekomendasi calon pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan usulan rekomendasi calon pengelola dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 32;
11. Direktur Pelabuhan Perikanan berdasarkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat permohonan pendaftaran rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan terhadap calon pengelola bagi Direktur Jenderal sebagaimana tercantum pada Format 33;
12. Bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, jika permohonan dinilai layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pengelola kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan dan ditembuskan kepada Direktur Pelabuhan Perikanan, P3JBT, dan pemohon/calon pengelola SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola bagi lokasi yang berada didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 35; 13. Bagi calon pengelola yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN
31 layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pengelola kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan ditembuskan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, P3JBT, dan pemohon/calon pengelola SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 36;
14. Jika permohonan dinilai tidak layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola sebagaimana tercantum pada Format 37;
15. Penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola sebagaimana tercantum pada angka 14, berkas permohonan menjadi milik Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap;
16. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola yang diterima oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan Izin Prinsip Pengelolaan SPDN/SPBN dari P3JBT;
5.6 Pendaftaran Rekomendasi Perubahan Pengelola
Pendaftaran rekomendasi perubahan pengelola untuk pembangunan SPDN/SPBN yang didanai oleh APBN/APBD dalam hal ini adalah Koperasi, tahapanya sebagai berikut;
1. Bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pengelola SPDN/SPBN kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan calon pengelola pengganti mengajukan surat secara tertulis perihal permohonan sebagai calon pengelola pengganti SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dengan melampirkan persyaratan seperti pada angka 5.1. Surat permohonan sebagai calon pengelola pengganti SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Format 20;
32 2. Bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan
SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, berdasarkan surat permohonan, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table checklist dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti, yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Bentuk dan format checklist dokumen verifikasi dan validasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti yang mengelola SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud terlampir pada Form 22;
3. Jika permohonan dinilai layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan menerbitkan surat permohonan pendaftaran calon pengelola pengganti serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran calon pengelola pengganti dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 23, serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
4. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan membuat surat penolakan permohonan calon pengelola pengganti disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan calon pengelola pengganti dari UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 24;
5. Bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, berdasarkan surat permohonan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti berdasarkan kelayakan lokasi, persyaratan administrasi dan kebutuhan BBM untuk calon konsumen di wilayah yang diusulkan seperti table checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti, yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima dan lengkap. Checklist dokumen verifikasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti yang
33 mengelola SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 26;
6. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat usulan rekomendasi calon pengelola pengganti SPDN/SPBN kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. Surat usulan rekomendasi calon pengelola pengganti SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 27;
7. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota membuat surat penolakan permohonan calon pengelola pengganti disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan calon pengelola pengganti dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum pada Format 28;
8. Berdasarkan surat usulan rekomendasi calon pengelola pengganti SPDN/SPBN dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi melakukan validasi terhadap dokumen hasil verifikasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti yang telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat usulan rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist dokumen validasi kelayakan usulan calon pengelola pengganti bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 30;
9. Jika permohonan dinilai layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menerbitkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola pengganti serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap cq. Direktur Pelabuhan Perikanan. Surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola pengganti dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 31, serta surat keterangan kebenaran yang telah divalidasi sebagaimana tercantum pada Format 41;
10. Jika permohonan dinilai tidak layak, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menerbitkan surat penolakan usulan rekomendasi calon pengelola pengganti disertai alasan kepada pemohon. Surat
34 penolakan usulan rekomendasi calon pengelola pengganti dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi sebagaimana tercantum pada Format 32;
11. Direktur Pelabuhan Perikanan berdasarkan surat permohonan pendaftaran rekomendasi calon pengelola pengganti dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan yang dilaksanakan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat permohonan pendaftaran rekomendasi diterima dan lengkap. Checklist
pemeriksaan kelengkapan dokumen hasil validasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/hasil verifikasi dan validasi Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan terhadap calon pengelola pengganti bagi Direktur Jenderal sebagaimana tercantum pada Format 34; 12. Bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan
SPDN/SPBN didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, jika permohonan dinilai layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti kepada Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan dan ditembuskan kepada Direktur Pelabuhan Perikanan, P3JBT, dan pemohon/calon pengelola pengganti SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti bagi lokasi yang berada didalam UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 35;
13. Bagi calon pengelola pengganti yang akan mengelola bangunan SPDN/SPBN diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan, jika permohonan dinilai layak, Direktur Jenderal menerbitkan surat pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan ditembuskan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, P3JBT, dan pemohon/calon pengelola pengganti SPDN/SPBN. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti pengganti bagi lokasi yang berada diluar UPT Pusat Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum pada Format 36;
35 14. Jika permohonan dinilai tidak layak, Direktur Jenderal menerbitkan
surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti disertai alasan kepada pemohon. Surat penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti sebagaimana tercantum pada Format 37;
15. Penolakan permohonan pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti sebagaimana tercantum pada angka 14, berkas permohonan menjadi milik Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap;
16. Surat pendaftaran rekomendasi pengelola pengganti yang diterima oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan Izin Prinsip Pengelolaan SPDN/SPBN dari P3JBT;
36 BAB VI
MONITORING EVALUASI DAN PELAPORAN
Kegiatan monitoring evaluasi dan pelaporan dilaksanakan oleh Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, sesuai dengan tugas organisasi pelaksana program pembangunan SPDN/SPBN sebagaimana tercantum pada Bab II petunjuk dan pelaksanaan peraturan ini.
6.1 Monitoring
Monitoring pemberian pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan atau calon pengelola serta tindak lanjut pembangunan dan operasional SPDN/SPBN dapat dilakukan oleh Direktur Pelabuhan Perikanan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota/Provinsi dan Kepala UPT Pusat.
Monitoring bertujuan untuk mengetahui:
1. kesesuaian pelaksanaan pemberian pendaftaran rekomendasi calon pembangun dan atau calon pengelola dengan prosedur yang telah ditetapkan;
2. penyaluran BBM yang tepat sasaran kekonsumen yang telah terdaftar; dan
3. perkembangan usaha SPDN/SPBN, manfaat dan dampak BBM bersubsidi dari SPDN/SPBN bagi masyarakat perikanan yang menjadi sasaran.
6.2 Evaluasi
Berdasarkan hasil monitoring dilakukan evaluasi kegiatan pembangunan SPDN/SPBN guna memastikan:
1. tersosialisasikannya program pembangunan SPDN/SPBN kepada nelayan/pembudi daya ikan/petambak garam, calon pengelola dan pihak terkait lainnya;
2. tepatnya pembangunan SPDN/SPBN sesuai dengan Pendaftaran Rekomendasi;
3. tersalurkannya BBM bersubsidi kepada konsumen sesuai dengan harga yang ditetapkan Pemerintah dan suplai yang berkelanjutan; dan 4. manfaat dan dampak SPDN/SPBN bagi masyarakat sasaran.
37 6.3 Pelaporan
Pelaporan kegiatan pembangunan SPDN/SPBN ini meliputi pembangunan dan pengelolaan SPDN/SPBN yang dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Pengelola SPDN/SPBN menyampaikan laporan perkembangan
SPDN/SPBN setiap bulan kepada P3JBT, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, dan Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya. Pelaporan sebagaimana tercantum pada Format 38;
b. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dan Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan merekapitulasi laporan pengelolaan SPDN/SPBN yang dikirimkan oleh pengelola SPDN/SPBN setiap bulannya;
c. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota menyampaikan laporan pengelolaan SPDN/SPBN setiap 3 (tiga) bulan sekali kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. Pelaporan sebagaimana tercantum pada Format 39;
d. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menyampaikan laporan pengelolaan SPDN/SPBN setiap 3 (tiga) bulan kepada Bupati/Walikota dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap c.q. Direktorat Pelabuhan Perikanan, setiap 3 (tiga) bulan sekali. Pelaporan sebagaimana tercantum pada Format 40; dan
e. Kepala UPT Pusat Pelabuhan Perikanan menyampaikan laporan pengelolaan SPDN/SPBN setiap 3 (tiga) bulan kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap c.q. Direktorat Pelabuhan Perikanan, setiap 3 (tiga) bulan sekali. Pelaporan sebagaimana tercantum pada Format 40.
38 BAB VII
PENUTUP
Pelaksanaan program pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Solar (Gas Oil) untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab, tertib, efektif, ekonomis dan efisien serta transparan.
Keberhasilan dari program ini sangat ditentukan oleh kerjasama dan komitmen seluruh pemangku kepentingan mulai dari penentuan kelayakan lokasi, kelayakan calon pembangun dan atau pengelola, calon konsumen sampai terbangunnya dan termanfaatkannya SPDN/SPBN untuk Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.
DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN TANGKAP ttd
SJARIEF WIDJAJA
Salinan sesuai dengan aslinya
Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap,