• Tidak ada hasil yang ditemukan

TATACARA PENULISAN NASKAH PUBLIKASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TATACARA PENULISAN NASKAH PUBLIKASI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

1. Naskah Publikasi

1. Naskah Publikasi diketik dalam kertas HVS 80 Gram ukuran kuarto (A4). 2. Margins Top 2cm, Left 2cm, Bottom 2cm, Right 2cm

3. Pengetikan Jenis Huruf

a. Judul tidak boelh lebih dari 20 kata. Penulisan judul hurif Kapital, jenis huruf time new roman font 14.

b. Judul berjalan maksimal 50 huruf. c. Logo UNISM berukuran 4cmx4cm.

d. Naskah Publikasi diketik dengan huruf, Times New Roman, font size 12 kecuali catatan kaki (font size 10), line spacing 2 (double), spacing before dan after 0 pt.

e. Naskah diketik dengan komputer memakai aplikasi olah kata, misal Ms. Word. f. Jarak Baris

Jarak antara baris satu dengan yang lain dibuat spasi 2 spasi kecuali kutipan langsung yang panjangnya lebih dari 5 baris, intisari, catatan kaki dan daftar pustaka menggunakan spasi tunggal atau satu spasi. Khusus untuk kutipan langsung diketik agak menjorok kedalam dengan 5 ketukan. Naskah ditulis maksimal 15 halaman.

4. Abstrak

Merupakan ulasan singkat mengenai permasalahan penelitian yang dilakukan, tujuan dari penelitian, pendekatan atau metode yang digunakan, hasil-hasil penelitian yang penting, dan simpulan utama dari hasil penelitian.

a. Abstrak ditulis dengan spasi tunggal (1 spasi) menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Maksimum penulisan 250 kata yang tidak memiliki referensi dan tidak mengandung angka, singkatan, akronim atau pengukuran kecuali sangat penting. b. Abstrak harus dimulai dengan pengenalan yang jelas dari dua atau tiga kalimat

menyebutkan latar belakang penelitian.

c. Selanjutnya, menyatakan tujuan penelitian, metode, hasil penelitian dengan penekanan pada temuan yang unik atau temuan baru yang disajikan secara informatif dan faktual. d. Berikan satu atau dua kalimat untuk membahas temuan atau prospek.

e. Diakhiri dengan simpulan dari hasil penelitian.

(2)

berbahasa inggris dicetak miring, dan kata yang pertama pada setiap kata kunci harus yang paling penting berdasarkan urutan abjad.

h. Pada setiap kata kunci di tulis dengan huruf besar pada awal kata kunci pertama. i. Abstrak dibuat ke dalam 2 versi bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

dengan penulisan Italic.

5. Daftar Pustaka

(3)

1

PENGETAHUAN IBU TENTANG KONTRASEPSI IUD:

LITERATUR REVIEW

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

Anjela Kasemi

NIM: 111944419123434

PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS SARI MULIA

BANJARMASIN

(4)

2

Pembimbing I Pembimbing II

Nama dan gelar NIK. …..

Nama dan gelar NIK. ….

HALAMAN PENGESAHAN

PENGETAHUAN IBU TENTANG KONTRASEPSI IUD

:

LITERATUR REVIEW

NASKAH PUBLIKASI

Oleh: Anjela Kasemi NIM: 111944419123434

(5)

1 PENGETAHUAN IBU TENTANG KONTRASEPSI IUD:

LITERATUR REVIEW

Anjela Kasemi¹*, Nurul Hidayah2, Dwi Sogi Sri Redjeki3 ¹Diploma Tiga Kebidanan Fakultas Kesehatan Univeritas Sari Mulia

²Prodi Profesi Bidan, Fakultas Kesehatan Universitas Sari Mulia

*Email:[email protected] Telfon: 0899**********

ABSTRAK

Latar Belakang: Keluarga berencana (KB) memungkinkan pasangan usia subur untuk

mengantisipasi kelahiran, mencapai jumlah anak yang mereka inginkan, dan mengatur jarak dan waktu kelahiran mereka. IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik fleksibel dipasang dalam rahim.

Tujuan: Mengetahui Pengetahuan Ibu tentang Kontrasepsi IUD.

Metode: Pada penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur review dengan menggunakan

beberapa sumber jurnal atau artikel yang di pilih berdasarkan kriteria yang telah di tetapkan. Hasil dari 11 jenis litertur review terdapat 5 jurnal mengatakan pengetahuan ibu tentang kontrasepsi IUD Baik, 2 jurnal mengatakan pengetahuan ibu cukup, dan 3 jurnal lainnya terdapat bahwa pengetahuan ibu juga sangat berhubungan dengan dukungan dari lingkungan.

Kesimpulan: Pendidikan, lingkungan, serta usia sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan

seseorang terhadap sesuatu salah satunya pengetahuan tentang IUD.

Kata kunci: Kontrasepsi IUD dan Gambaran Pengetahuan.

ABSTRACT

Background: Family planning (KB) allows age couples to give birth, reach the number of children

they want, and adjust the distance and time of their birth. IUD (Intra-Uterine Device) or Contraception in the Uterus (IUD) is a contraceptive device made of plastic that is installed in the uterus.

Purpose: The purpose of this journal review is to find out the description of your mother's knowledge

about IUD contraception.

Method: This research uses a literature review study approach using several journal sources or

articles that are selected based on the criteria that have been set. The results of 11 types of review litertur there are 5 journals said that the mother's knowledge about IUD contraception is good, 2 journals said that the mother's knowledge is sufficient, and 3 other journals found that the mother's knowledge is also very related to environmental support.

Conclusion: Education, environment, and age greatly affect the level of one's knowledge of

something, one of which is knowledge of the IUD.

(6)

2 Pendahuluan

Menurut UU no 52 tahun 2009, keluarga berencana (KB) merupakan upaya

mengatur kelahiran anak, usia ideal

melahirkan, kehamilan, melalui promosi,

perlindungan dan bantuan sesuai hak

reproduksi untuk tercapainya keluarga yang berkualitas (UUD RI, 2009). Keluarga

berencana (KB) dapat memungkinkan

pasangan usia subur untuk mengantisipasi kelahiran, dan mengatur jarak dan waktu kelahiran,mencapai jumlah anak yang mereka ingini. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan metode kontrasepsi dan tindakan infertilitas (World Healt Organisasi, 2016).

Program pengendalian pertumbuhan penduduk tersebut dapat di wujudkan dengan menyusun beberapa kebijakan salah satunya adalah peningkatan pemakaian kontrasepsi yang lebih efektif serta efesien untuk jangka

waktu panjang. Sasaran program KB

merupakan Pasangan Usia Subur (PUS) yang dititik beratkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) berada pada kisaran 15-49 tahun (Kemenkes RI, 2014). Tingginya laju

pertambahan penduduk di indonesia

menjadikan pemerintah berupaya terus

menekan laju pertumbuhan penduduk dengan program Kelurga Berencana (KB).

Indonesia merupakan negara

berkembang dengan penduduk terbesar

keempat dunia dengan penduduk 2.376 juta jiwa. Pertumbuhan laju penduduk (LPP)

sebesar 1,49% jumlahnya terus akan

bertambah sekitar 3,5 juta jiwa setiap tahunnya (BKKBN, 2015). Penggunaan kontrasepsi

sangat berperan besar dalam

meminimalisirkan angka kelahiran dan

peledakan penduduk di indonesia, terutama kontrasepsi IUD karena kontrasepsi tersebut dapat digunakan dalam waktu jangka panjang dan kontrasepsi tersebut adalah kontrasepsi non hormonal.

Ada beberapa macam metode

kontasepsi atau alat kontrasepsi berupa Kontrasepsi Sederhana meliputi Metode, Couitus Interuptus, Metode Kalender, Metode Lendir Serviks,Amenorhoe Laktasi (MAL) Metode suhu basal badan, dan lendir servik dan kontrasepsi sederhana dengan alat yaitu kondom,dan Simptotermal perpaduan antara suhu basal diafragma, cup serviks dan

(7)

3

spermisida, Metode kontrasepsi hormonal ada dua yaitu suntik/injeksi dan pil, dan Metode Kontrasepsi Mantap adalah(MOP) Metode Oprasi Pria, dan Metode Operasi Wanita (MOW), serta Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD. (Handayani, 2010).

IUD (Intra Uterine Device) Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) yaitu alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik fleksibel yang dipasang dalam rahim. Kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu setelah melahirkan dan ibu yang menyusui tidak menekan produksi ASI adalah Alat Kontarsepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD), suntikan KB yang 3 bulan, mini pil dan kondom (BKKBN, 2014).

Permasalah utama yang ada pada saat ini yaitu masih yaitu rendahnya pengguna KB Intra Uterine Device (IUD), Sedangkan pengguna jenis KB yang lainnya meningkat. Jumlah penggunaan IUD yang masih rendah disebabkan oleh bermacam faktor. Menurut

Suparyanto, (2012) dalam artikelnya

mengatakan beberapa faktor yang

menyebabkan rendahnya penggunaan

kontrasepsi IUD antara lain Faktor internal,

takut, Pengalaman,pemahaman yang salah mengenai IUD, pendidikan Pasangan Usia Subur (PUS) yang rendah, rish dan malu, dan

adanya penyakit. Faktor eksternal,

pemasangan IUD yang terlihat di prosudur itu rumit, pengaruh dan pengalaman akseptor IUD

lainnya, sosial budaya, ekonomi dan

pekerjaan.

Menurut WHO, tahun 2018 hampir 380 juta pasangan menjalankan program Kelurga Berencana, dan 65-75 juta diantaranya di negara berkembang yang menggunakan kontrasepsi hormonal yaitu, pil KB. Tetapi 5%

dari jumlah pengguna tersebut tidak

melakukan konsumsi secara teratur sehingga sangat beresiko tinggi terjadi kehamilan (Kemenkes RI, 2018).

Data dari BKKBN (Badan Koordinasi Kelurga Berenca Nasional) menunjukan bahwa jumlah peserta KB baru menurut metode kontrasepsi tahu 2018 yaitu IUD 36.601 (6,87%), MOW 7.867(1,48%), MOP 547 (0,10), implant 51.843 (9,73%), kondom 27.997 (5,25%), suntik 278.333 (52,21%) dan pil 129.880 (24,36%). Berdasarkan data tersebut di ketahui bahwa 3 pola penggunaan

(8)

4

kontrasepsi di indonesia masih didominasi oleh kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek (BKKBN (2018): Dalam Kemenkes RI, 2018).

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Fitri Nadia (2019) dengan judul Pengetahuan PUS Tentang Kontrasepsi IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Sukalaksana Kota Tasikmalaya Tahun 2019 menunjukan bahwa pengetahuan PUS termasuk kategori kurang

yaitu 67 orang (68,3%). Puskesmas

Sukalaksana Diharapkan lebih

mengintensifkan kegiatan program

penyuluhan Kesehatan Ibu dan Anak, terutama dalam menyampaikan informasi tentang metode kontrasepsi KB IUD khususnya mengenai keuntungan dan kerugian serta efek sampingnya sehingga informasi seputar alat kontrasepsi khususnya KB IUD lebih sering disampaikan untuk dapat dipahami dan dimengerti oleh Akseptor KB.

Menurut penelitian yang di lakukan oleh Ahmad Syahlani, Dwi Sogi Sri Redjeki, dan Rini(2013) dengan judul hubungan

penggunaan kontrasepsi hormonal dan

pengetahuan ibu tentang perawatan organ

reproduksi dengan kejadian keputihan si wilayah kerja puskesma pekauman Terdapat hubungan antara penggunaaan pengetahuan ibu tentang perawatan organ reproduksi dan

kontrasepsi hormonal dengan kejadian

keputihan. Penelitian menyarankan untuk petugas kesehatan dapat menjelaskan kepada akseptor KB efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal dan dapat menjelaskan cara perawatan organ reproduksi.

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, mulai dari tahun 2016 sampai tahun 2018 ditemukan 1

Puskesmas yang tidak ada pengguna

kontrasepsi IUD yaitu puskesmas kelayan dalam (Dinkes Kota Banjarmasin, 2018). Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Kelayan Dalam tanggal 4 februari 2020 peneliti mewawancarai 6 orang akseptor KB, dari wawancara tersebut ada 4 orang yang mengatakan kurang mengetahui informasi tentang kontrasepsi IUD dan 2 orang lainnya cukup mengetahui seperti keuntungan dari pemakaian.

(9)

5 Bahan dan Metode

Metode penelitian menggunakan literature

review. Metode literature reviewmerupakan

bentuk penelitian yang dilakukan melalui penelusuran dengan membaca berbagaisumber baik buku, jurnal, dan terbitan- terbitan lain yang berkaitan dengan topik penelitian,untuk menjawab isu atau permasalahan yang ada (Neuman, 2011).

Hasil

Hasil review jurnal berdasarkan

karakteristik umur, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Sebanyak 10 jurnal yang didaptkan yaitu 5 jurnal mengatakan tingkat pengetahuan ibu baik, 4 jurnal mengatakan tingkat pengetahuan ibu cukup baik, dan 1 jurnal lainnya mengatakan bahwa adanya hubungan antra dukungan suami dan dalam pemilihan kontrasepsi IUD.

Pembahasan

Pengetahuan Tentang Kontrasepsi IUD

Menurut jurnal kesehatan histolok dengan judul penelitian yaitu Gambaran pengetahuan wanita usia subur tentang kontrasepsi IUD. Hasil yang didapatkan pada

penelitian ini yaitu pengetahuan pasangan usia subur mengenai keluarga berencana didesa kalirijo kabupaten pasawaran tahun 2015

dengan kategori cukup baik, karena

berdasarkan pengolahan data di peroleh hasil kategori pengetahuan kurang baik adalah dengan pendidikan rendah.Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil dari rasa ingin tahuan melalui beberapa proses seperti sensoris pada mata dan telinga terhadap objek tertentu (

Donsu, 2016). Berdasarkan hasil dari

penelitian dan teori, rendah tingginya

pengetahuan seseorang ter, karena gantung pada keinginan diri sendiri terhadap sesuatu tertentu.

Menurut jurnal keperawatan dengan judul Gambaran tingkat pengetahuan dalam pemilihan alat kontrasepsi IUD pada PUS. Hasil yang didapatkan Pengetahuan usia subur

di walayah bandung kulon tergolong

baik,karena berdasarkan pengolahan data di peroleh hasil kategori pengetahuan baik adalah usia yang diatas 35 tahun.

Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan usia mempengaruhi pola pikir

(10)

6

seseorang. Bertembahnya usia akan semakin berkembang pola pikir serta daya tangkap sesorang sehingga pengetahuan yang di peroleh akan semakin banyak.

Berdasarkan hasil dari penelitian dan teori usia mempengaruhi pola pikir seseorang. Seseorang mempunyai pengetahuan yang baik tentang kontrasepsi IUD maka akan lebih memilih memekai IUD, dan sealiknya.

Berdasarkan penelitian yang berjudul Gambaran pengetahuan ibu multipara tentang kontrasepsi IUD. Hasil yang didapatkan yaitu

cukup, hal ini alasan mereka tidak

menggunakan KB IUD karena di pengaruhi oleh beberapa faktor prilaku dimana faktor perilaku seseorang atau masyarakat ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan dan tradisi

Hal ini sejalan denga teori yang

membahas faktor yang mempengaruhi

pengetahuan yaitu pendidikan, sosial budaya, sumber informasi, lingkungan, pengalaman dan usia. (Fitriani dalam Yuliana, 2017)

Dapat disimpulkan bahwa lingkungan seseorang dapat mempengaruhi beberapa pilihan seperti pemilihan tentang kontrasepsi.

Berdasarkan penelitian yang berjudul Studi diskriptif tingkat pengatahuan ibu

tentang kontrasepsi IUD. Hasil yang

didapatkan tingkat pengetahuan ibu sebagian besar tergolong baik dengan 49 responden. Karena berdasarkan kategori penelitian berupa baik, cukup dan kurang hasilnya menunjukan pengetahuan responden baik.

Hal ini sejalan dengan teori yanng membahas tentang karakteristik yaitu baik jawaban benar 76-100 %, cukup jawaban benar 56-75%, dan kurang bila jawban benar <56%. (Arikunto, 2010).

Dapat di simpulkan bahwa tingkat pendidikan, umur, dan pekerjaan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan kusus nya pada pemilihan kontrasepsi.

Berdasarkan penelitian yang berjudul gambaran pengetahuan usia subur tentang kontrasepsi IUD. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu WUS pengetahuan tentang IUD sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik. Karena sudah penelitian ini menggunakan karakteristik baik, cukup, kurang yang menunjukan pada hasil tingkat pengetahuan.

(11)

7

Hal ini sejalan dengan teori yanng membahas tenang kategori yaitu baik jawaban benar 76-100 %, cukup jawaban benar 56-75%, dan kurang bila jawban benar <56%. (Arikunto, 2010)

Dapat di simpulkan bahwa tingkat pendidikan, umur, dan pekerjaan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang kusus nya pada pemilihan kontrasepsi.

Berdasarkan penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan dan dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim (akdr) pada PUS. Hasil yang didapatkan yaitu dari dukungan suami terdapat hubugan bermakna antara tingkat pengetahuan dan pengguna AKDR dan tidak terdapat hubungan dukungan suami dan pengguna AKDR.

Menurut Fitria dalam Yuliana (2017) peningkatan pengetahuan tidak mutlak di dapatkan melalui pendidikan formal maupun nonformal. Pengetahuan seseorang terhadap objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek ini menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.

Dapat di simpulkan, dukungan suami berupa informasi yang didapatkan tentang kontrasepsi baik dari orang lain atau media

masa sangat mempengaruhi tingkat

pengetahuan ibu.

Berdasarkan penelitian yang berjudul Hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemakaian IUD di rumah bersalin. Hasil yang didapatkan yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan

pemakaian IUD. Penelitian ini lebih

memilihkontrasepsi yang baik untuk dirinya sendiri yang cocok dan di sepakati oleh suami.

Hal ini sejalan dengan teori

pengetahuan seseorang terhadap objek itu berbeda-beda. (Yuliana, 2017). Keadaan

menunjukan bahwa semakin rendah

pengetahuan ibu tentang IUD, maka

pemakaian IUD semakin sedikit. Sebaliknya semakin tinggi pengetahuan ibu tentang IUD, semakin tinggi pula pemakaian IUD. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika pengetahuan ibu tentang IUD baik, tidak menutup kemungkinan pula ibu ingin memakai IUD dikarenakan terdapat beberapa faktor yaitu, ibu

(12)

8

takut dengan pemasangannya, atau tidak ada dukungan oleh suami atau keluarga.

Penelitian yang berjudul gambaran tingkat pengetahuan dan sikap akseptor keluarga berencana mengenai alat kontrasepsi IUD. Hasil yang didapatkan yaitu, tingkat pengetahuan dan sikap akseptor keluarga berencana mengenai alat kontrasepsi IUD di

puskesmas colomadu II karang anyar

tergolong baik. Alasannya karena didukung

dengan penyuluhan beberapa mengenai

kontrasepsi IUD dan pendidikan rsponden yang sebagian besar SMA, yang ana ibu yang memiliki pendidikan menengah cendrung lebih memilih alat kontrasepsi IUD, karena asumsi responden kontrasepsi IUD adalah alat kontrasepsi yang tingkat efektivitas nya tinggi. Sejalan dengan teori yang mana salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan dimana semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah seseorang menerima informasi. (Fitria dalam Yuliana, 2017)

Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang kontrasepsi IUD dapat di pengaruhi oleh pendidikan seperti penyuluhan.

Berdasarkan penelitian yang berjudul pengetahuan wanita usia subur (WUS) dengan penggunaan alat kontrasepsi IUD, dimana hasil yang didapatkan yaitu adanya hubungan pengetahuan WUS tentang alat kontrasepsi IUD. Hal ini disebabkan beberapa faktor yang diliat dari pendidikan responden dengan pendidikan SMP, pendidikan berhubungan dengan banyaknya informasi yang di peroleh semakin tinggi pendidikan informasi yang diterima semakin banyak.

Sejalan dengan teori bahwa faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan dimana semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah seseorang menerima informasi. (Fitria dalam Yuliana, 2017)

Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan

selalu berhubungan dengan keputusan

seseorang dalam memilih hal tertentu, salah satunya dalam pemilihan kontrasepsi.

Berdasarkan penelitian yang berjudul Factors Affecting The Participation Of Husband To be acceptors of contraception In BPM N Banjarmasin dimana Sali dari penelitian ini yaitu tidak ada pengaruh

(13)

9

partisipasi suami terhadap pekerjaan, usia pendidikan dan pendapatan.

Berdasarkan penelitian yang berjudul David Kolb Learning Styles Influence on the Achievement of Students at Midwifery Care in Pregnancy dimana hasil dari penelitian tersebut adalah tidak ada pengaruh gaya belajar konvergen dan akomodator terhadap prestasi siwa kebidanan care dalam kehamilan di akademi kebidanan sari mulia banjarmasin.

Berdasarkan penelitian yang berjudul Effectiveness Of Education For Knowledge Use Of Genitalia Antiseptics For Adolescents dimana hasil dari penelitian tersebut adalah diketahui yang diberi pendidikan tentang genetalia antiseptik aebagian besar putih dari hasil responden memiliki hasil yang diberikan sebelumnya

Berdasarkan penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan tentang kontrasepsi dan dukungan suami dengan pemilihan kontrasepsi IUD, dimana hasil dari penelitian ini menunjukan bahawa pengetahuan tentang

kontrasepsi mempunyai hubungan yang

signifikan dengan pemilihan kontrasepsi IUD serta dukungan suami mempunyai hubungan

signifikan dengan pemilihan kontrasepsi IUD. Karena ibu yang berpengetahuan tinggi cendrung lebih memilih kontrasepsi IUD dari

pada yang berpengatahuan rendah,

dikarenakan telah mengetahui kontrasepsi IUD dengan baik. Dari sisi dukungan suami, dukungan suami adalah dorongan yang diberikan suami beruopa dukungan moril dan materil dalam hal mewujudkan suatu rencana yang dalam hal ini adalah pemilihan kontrasepsi.

Menurut Fitri dalam Yuliana (2017) lingkungan adalah suatu di sekitar individu baik lungkungan sosial, fisik, maupun biologis. Lingkungan mempengeruhi proses masuknya pengetahuan kedalam individu yang berada di lingkungan tersebut.

Maka dapat disimpulkan bahwa

dukungan suami sangat berpengaruh terhadap pemilihan berupa kontrasepsi.

Ucapan Terimakasih

Terimakasih kepada Universitas Sari Mulia yang telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian menggunakan metode review jurnal dan terimakasih juga pada pembimbing 1 dan 2 Nurul Hidayah, SST.,

(14)

10

M.Kes dan Dr. RR. Hj. Dwi Sogi Sri Redjeki, S.KG., M.Pd yang telah membimbing dalam melakukan penelitian review jurnal ini.

Daftar Pustakan

Arikunto, S. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto. S (2011). Prosedur Penelitian Suatu

Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka

Cipta.

BKKBN. 2013. Pemantauan Pasangan Usia

Subur Melalui Mini Survei Indonesia.

Jakarta: BKKBN.

BKKBN. 2014. Pelayanan

Kontrasepsi.Jakarta: BKKBN

BKKBN. 2015. Profil Kependudukan dan

Pembangunan di Indonesia. Jakarta:

BKKBN.

Darmayanti. R, Damayanti. A, Alhariz. A. 2019. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dalam Alata Kontrasepsi (IUD). J.

Keperawatan. [Internet] 7:2 Tersedia

Pada:

http://jik.stikesalifah.ac.id/index.php/j

urnalkes/article/view/23. [Diakses

oktober 2015].

Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. 2017.

Profil Kesehatan Kota Banjarmasin Tahun 2018. Banjarmasin: Dinas

Kesehatan Kota Banjarmasin

Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. 2019.

Survei Demografikelurga Berencana Di Banjarmasi. Banjarmasin: Dinkes

Kota Banjarmasin.

Donsu, J,D,T. 2016. Metodologi Penelitian

Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka

Baru Press.

Donsu, J.D.T., 2017. Psikologi Keperawatan. Yogyakarta: PUSTAKA BARU PRES

Glasier, A., Gebbie, A. (2012). Keluarga

Berencana dan Kesehatan Reproduksi.

(Terjemahan: Brahm Pendit). Jakarta: EGC

Handayani Sri. 2010. Pelayanan Keluarga

Berencana.Yogyakarta: Pustaka Rihama.

Handayani, S. 2010. Buku Ajar Pelayanan

Keluarga Berencana. Yogyakarta:

Pustaka Rihama.

Isnaini. N, Susilawati. 2019. Pengetahuan wanita usia subur (WUS) Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi intra uterine device (IUD) Di BPS Yanti Sanen Bandar Lampung. J. Kebidanan. [Internet] 5: 167-171

Kemantrian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Angka Kematian Ibu dan Bayi di

Indonesia. Jakarta: Direktorat

Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia

Kementerian kesehatan republik

Indonesia.2018. Data dan informasi

profil kesehatan Indonesia tahun 2017.

Kemenkes

Mei. L, Tania. 2018. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Memakai IUD Di Rumah

Bersalin. [Internet]J. Kesehatan.

[Internet] 7(7):2 Tersedia Pada:

http://jik.stikesalifah.ac.id/index.php/j

urnalkes/article/view/23. [Diakses

oktober 2017].

Mularsih. S, Munawaroh. L, Ellina. D. Hubungan Pengetahuan Dukungan Suami Dengan Pemilihankontrasepsi dalam rahim (AKDR) Pada Pasangan Usia Subur (PUS). J. Kebidanan. [Internet] 7(2):144-154. Tersedia Pada http://jurnal.unimus.ac.id/index.pho/ju r_bid

Nursalam,(2012).KonsepPenerapan

Metodologi Penelitian Ilmu KeperawatanPedoman Skripsi, Tesis

(15)

11

Keperawatan. Jilid I.Jakarta : Salemba Medika.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.2014. Ilmu Perilaku

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S, 2015, Metode Penelitian

Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Nugroho, Taufan, dan kawan-kawan. 2014.

Buku Ajar Obstetri dan Mahasiswa Kebidanan.Yogyakrta: Nuha Medika

Nursalam. 2013. Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan: Pendekatan Praktis :

Jakarta : SalembaMedika.

Palimbo, A. Seri, R. dan Audina, D. 2015. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Dengan Kecemasan Proses Persalinan Di Bpm Hj. Maria Olfah. J.

Mahasiswa Progran Studi D IV Bidan Pendidik. [Internet]. 1(1): 32-38.

Tersedia pada:

http://ojs.dinamikakesehatan .unism.ac.id.

Proverawati A, Islaely A.D, dan Aspuah S.

2010. Panduan Memilih

Kontrasepsi.Yogyakarta: Nuha Medika

Rahmawati. D, Solikhah. S. 2017. Gambaran Pengetahuan wanita usia subu (WUS) Tentang Kontrasepsi IUD. Media Ilmu

Kesehatan. 6:2

Rahmawati. D, Shanti. A. 2019. Studi Diskriptif Tingkat Pengetahuan Ibu

Tentang Kontrasepsi IUD. J.

Kebidanan. [Internet] XI: 02 Tersedia

pada: http://ojs.dinamikakesehatan

.unism.ac.id.

Riyanto, A (2011). Aplikasi Metodologi

Penelitian Kesehatan. Yogyakarta.

Numed.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian

Administratif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian

Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian

Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiono. Arief dan Edi, U. (2016). Analisa

Laporan Keuangan. Jakarta: PT.

Grasindo.

Sulistyawati, A. (2011). Pelayanan Keluarga

Berencana. Jakarta: Salemba Medika

Sulistyawati, A. .(2013).Pelayanan Keluarga

Berencana.Jakarta : Salemba Medika.

Syahlani, A. Redjeki, D.S.S, Dan, Rini. 2013. Hubungan Penggunaan Kontrasepsi

Hormonal Dan Pengetahuan Ibu

Tentang Perawatan Organ Reproduksi

Dengan Kejadian Keputihan Di

Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. J. MahasiswaProgram

Studi Ilmu Keperawatan STIKES Sari Mulia Banjarmasin, Program Studi DIV Bidan Pendidik STIKES Sari Mulia Banjarmasin, dan Akademi Kebidanan Sari Mulia Banjarmasin

[Internet] Tesedia pada:

http://ojs.dinamikakesehatan.unism.ac. id.

Redjeki, D.S.S Dwi, S.S, Hestiyana, N, dan Herusanti, R. (2016) Faktor-Faktor

Penyebab Pernikahan Dini Di

Kecamatan Hampang Kabupaten

Kotabaru. J. Mahasiswa STIKES Sari

Mulia Banjarmasin AKBID Sari Mulia Banjarmasin. [Internet] Tersediapada:

http://ojs.dinamikakesehatan.unism.ac. id.

Redjeki, D.S.S. Rochyanto, A. H. 2017.

Effectiveness Of Education For

Knowledge Use Of Genitalia

Antiseptics For Adolescents. J.

Advances in Economics, Business and Management Research. 45. [Internet]

(16)

12

Tersedia pada :

http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Redjeki, D.S.S, Ulfa, M. I. 2017.Factors Affecting The Participation Of Husband To be acceptors of

contraception In BPM N Banjarmasin.

J. Advances in Health Science

Research. 2. [Internet] Tersedia pada:

http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Redjeki, D.S.S . Sari, A. Kumaladewi, F. 2017. David Kolb Learning Styles Influence on the Achievement of Students at Midwifery Care in Pregnancy. J.

Advances in Social Science, Education and Humanities Research. 100.

[Internet] Tersedia pada :

http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Wijayanti, B. I. 2016. Hubungan Pengetahuan Tentang Kontrasepsi dan Dukungan Suami dengan Pemilihan Kontrasepsi IUD. Jurnal KeMaDaSKa.2

Yuviska. A. I, 2015. Gambaran Pengetahuan

Wanita Usia Subur Tentang

Kontrasepsi IUD. J. kesehatan holistik.

9:167-170. Tersedia Pada: http://jik.stikesalifah.ac.id/index.php/j urnalkes/article/view/23. [Diakses oktober 2017].pada : http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Redjeki, D.S.S, Ulfa, M. I. 2017.Factors Affecting The Participation Of Husband To be acceptors of

contraception In BPM N Banjarmasin.

Advances in Health Science Research.

2. Tersedia pada:

http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Redjeki, D.S.S . Sari, A. Kumaladewi, F. 2017. David Kolb Learning Styles Influence on the Achievement of Students at

Midwifery Care in Pregnancy.

Advances in Social Science, Education and Humanities Research. 100.

Tersedia pada :

http://creativecommons.org/licenses/b y-nc/4.0/

Wijayanti, B. I. 2016. Hubungan Pengetahuan Tentang Kontrasepsi dan Dukungan Suami dengan Pemilihan Kontrasepsi IUD. Jurnal KeMaDaSKa.2

Yuviska. A. I, 2015. Gambaran

Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Kontrasepsi IUD. Jurnal

kesehatan holistik. 9:167-170.

(17)

13

Tabel 1. Review Jurnal atau Artikel

No. Author

(Tahun)

Bahasa Sumber

Artikel

Tujuan Metode Penelitian Hasil/Temuan

1. Darmayanti R, dkk 2019

Indonesia Google Secholar

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan wanita usia subur tentang kontrasepsi IUD

Diskriptif Pengetahuan usia subur di walayah Bandung Kulon tergolong baik dengan prosentase sebagian besar 26 responden (66,6%) 2. Yuviska. A 2015 Indonesia Google Secholar

Penelitian ini adalah diketahui gambaran pengetahuanwanita usia subur tentang kontrasepsi intra uterine device (IUD)

Diskriptif Hasil analisa data dalam penelitian ini

menunjukan bahwa pengetahuan pasangan usia subur tentang keluarga berencana di desa kalirejo kabupaten pesawaran tahun 2015 sebagian besar dengan kategori cukup banyak yaitu 26 responden (41,27%). 3. Wijayanti. B 2016 Indonesia Garuda Restekbrin Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang kontrasepsi dan dukungan suami dalam pemilihan kontrasepsi IUD Observasional analitik Hasil penelitian menujukan bahawa pengetahuan tentang kontrasepsi mempunyai hubungan yang signifikan dalam pemilihan kontrasepsi IUD (p=0,007). Dukungan suami mempunyai hubungan yang signifikan dalam pemilihan kontrasepsi IUD (p=0,007) 4. Kusumawati. A, D dkk 2017 Indonesia Google Secholar Mendeskripsikan Karaketristik dan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB

Diskriptif kuantitatif Akseptor IUD terbanyak pada Umur >35 tahun 47 Responden (94,0%), berpendidikan SD atau SMP 36 responden (72,0%), pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT) 34 responden (68,0%), paritas multipara 50 responden (100%), tingkat pengetahuan cukup 37 responden (74,0%), dan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 37 responden (74.0%), yang berpengetahuan kurang sebanyak 9 responden (18.0%), dan yang baik sebanyak 4 responden (8.0%) 5. Rahmawati. R, dkk 2019 Indonesia Google Secholar Untuk mengetahui gambaran pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang kontrasepsi IUD Deskriptif dan Kuantitatif Berdasarkan tingkat pengetahuan WUS tentang kontrasepsi IUD dikategorikan tingkat pengetahuan baik sebanyak 49 responden (70,0%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (20,0%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 7 responden (10,0%) 6. Prasetyo. N 2017 Indonesia Google Secholar Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap akseptor Keluarga Berencana tentang alat kontrasepsi IUD

Diskriptif Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap akseptor Keluarga Berencana tentang alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Colomadu II

(18)

14 Baturan Colomadu Karanganyar tergolong baik. 7. Winarni. M dan Tania 2017 Indonesia Google Secholar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemakaian IUD

Kuantitatif Menunjukan ibu yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 80 responden (92,0%) dan yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 4 responden (4,6%) dan yang memiliki pengetahuan sebanyak 3 responden (3,4%) sedangkan ibu yang menggunakan IUD sebanyak 19 responden (21,8%) dan yang tidak menggunakan NON IUD 68 responden (78,2%). Hasil uji statistic menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemakaian IUD (Nilai p = 0,345).

8. Isnaini. N dan Susilawati 2015

Indonesia Google Secholar

Penelitian ini bertujuan untuk pengetahuan wanita usia subur (WUS) dengan penggunaan alat kontrasepsi intra uterine devices (IUD)

Kuantitatif pengetahuan pasangan usia subur tentang keluarga berencana di Desa Kalirejo Kabupaten Pesawaran Tahun 2015 sebagian besar dengan kategori cukup baik sebanyak 26 responden (41,27%). 9. Rahmawati. D dan Solikhah. S 2017 Indonesia dan Inggris Google Secholar

The aim of this study is to know the knowledge of women fertile about contraception in community health center Danurejan 1 Yogyakarta Kuantitatif dan Diskriptif

The result of this research shows that based on level knowledge WUS about contraception of IUD be categorized the level of knowledge as good is 50 responden (68.5%). In the category of enough of knowledge was 21 respondents ( 28.8%) and lack of knowledge as lack is 2 respondents (2.7%). 10. Mularsih. S, dkk 2018 Indonesia dan Inggris Garuda Restikbrin Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi antara lain tingkat pengetahuan dan dukungan suami

DiskriptiAnalitik Tingkat pengetahuan baik sebanyak 14 responden (20,6 %), sedang 36 responden (52,9 %), buruk 18 responden (26,5 %). Suami yang memberi dukungan sebanyak 49 responden (72,1 %) dan yang tidak mendukung 19 responden (27,9 %). Responden yang memakai AKDR sebanyak 62 resonden (91,2 %) dan non AKDR 6 respon (8,8 %). Uji bivariat menggunakan uji chi square diperoleh p value = 0,000 (p < 0,05) pada tingkat pengetahuan dan p = 0,175 (p > 0,05) pada dukungan suami Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan AKDR dan tidak terdapat hubungan

(19)

15 antara dukungan suami dengan penggunaan AKDR 11. Redjeki, D.S.S dan Rochyanto, A. H 2017 Bahasa Inggris Google Secholar Bertujuan untuk mengetahui tingkat ifektifitas sebelum dan sesudah di berikan pendidikan tentang penggunaan alat kelamin antiseptik Desain Pra-Eksperimental Penelitian ini menunjukan bahwa dari penelitian efektivitas pengetahuan I kategori pengetahuan cukup berjumlah 70 siswa perempuan (73%), sedangkan pengetahuan siswa kurang 14 (14%) dan kategorik baik berjumlah 14 siswa perempuan (14%). Ada perbedaan efektivitas sebelum dan sesudah pendidikan 12. Redjeki, D.S.S, dkk 2017 Bahasa inggris Google Secholar Untuk mengetahui pengaruh gaya belajar deverger dan asimilator pada prestasi siswa kebidanan

Kuantitatif Hasil gaya belajar dari 111 responden menunjukan bahwa tingkat tertinggi adalah gaya belajar diverger 13. Redjeki, D.S.S, dkk 2017 Bahasa inggris Google secholar

Mengetahui faktor yang mempengaruhi partisipasi suami menjadi aksebtor kontrasepsi Survey analitik dengan pendekatan crostional

Usia tertinggi adalah 25-50 tahun 31 orang (63,3%) berdasarkan pendidikan 22 orang (44,9%) berpendidikan menengah, berdasarkan pekerjaan 44 orang (89,8%) responden bekerja,berdasarkan pengetahuan 19 orang (38,8%)cukup berpengetahuan. Ada pengaruh usia dengan partisipasi (p=0,041) pENGruh pendidikan dengan partisipasi (p=0,041) tidak ada pengaruh pekerjaan dengan partisipasi (p0,041)

(20)

TAWAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE

SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

Darni

NIM: 11194761920005

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS SARI MULIA

BANJARMASIN

(21)

Pembimbing I Pembimbing II

Nama dan gelar NIK. …..

Nama dan gelar NIK. ….

HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS KADAR SULFAT SO42- PADA AIR MINUM YANG

MENGANDUNG TAWAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE

SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

NASKAH PUBLIKASI

Oleh: Anjela Kasemi NIM: 111944419123434

(22)

1 ANALISIS KADAR SULFAT SO42- PADA AIR MINUM

YANG MENGANDUNG TAWAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Darni1*, Rahmadhani1, Tuti Alawiyah1

1Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Kesehatan Universitas Sari Mulia

Banjarmasin,

*correspondence author: Telepon: 0815****** E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Tawas adalah senyawa aluminium sulfat yang terdiri dari garam rangkap sulfat

yang mempunyai ion logam. Memiliki rumus kimia [Al2(SO4)3.18H2O]. Kadar maksimum sulfat

yang diperbolehkan terkandung pada air minum diatur oleh Permekes RI

No:492/Menkes/Per/IV/2010 sebesar 250 mg/l.

Tujuan: Untuk mengetahui kadar sulfat pada sampel air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat

Desa Lok Buntar.

Metode: Penelitian menggunakan Observasional Analitik Rancangan Cohort Prospektif. Populasi

penelitian masyarakat Desa Lok Buntar yang menggunakan tawas sebagai penjernih air yang digunakan sebagai air minum. Sampel penelitian yaitu air minum yang yang dimasak mengandung sulfat (tawas) di Desa Lok Buntar. Diambil dengan purposive sampling. Analisis data menggunakan regresi linier untuk mengetahui kadar.

Hasil: Kadar sulfat SO42- pada volume 150 L didapat 53,184 mg/l, pada volume 100 L yaitu 42,162

mg/l, pada volume 50 L didapatkan kadar 40,266 mg/l. Ha ≠ 0 terdapat kadar SO42- didalam air

minum pada titik pengambilan sampel di volume 150 L, 100 L dan 50 L

Simpulan: Adanya kadar sulfat SO42- di titik pengambilan sampel di volume 150 L yaitu 53,184

mg/l, 100 L yaitu 42,162 mg/l dan 50 Lyaitu 40,266 mg/l.

(23)

2 Pendahuluan

Kalimantan Selatan provinsi yang

memiliki banyak sungai, menurut badan statistik Provinsi Kalimantan Selatan dari 13

kabupaten/ kota memiliki 67 sungai.

Kabupaten banjar memiliki 7 sungai salah satunya sungai martapura (Hartuno et al, 2014). Air adalah sumber kebutuhan utama bagi kehidupan. Sebagian besar air 70 % terdapat di dalam tubuh, sehingga air yang terdapat di dalam tubuh harus memenuhi kualitas dan kuantitas untuk dapat diminum.

Air sebagai komponen penting bagi tubuh yaitu mengangkut nutrisi dan oksigen ke dalam sel-sel tubuh, mengatur sistem regulasi suhu tubuh, membantu proses pencernaan, pelumas cairan sendi dan sebagai tempat produksi energi (Penggalih et, al, 2016).

Sulfat diatur oleh pemerintah sebagai standar kadar pada air minum yang diatur oleh

Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia No:492/Menkes/Per/IV/2010 tentang

persyarakat kualitas air minum yang

mengandung unsur Sulfat SO42- kadar

ABSTRACT

Background: Alum is an aluminum sulfate compound consisting of sulfate double salts which has

metal ions. Has the chemical formula [Al2(SO4)3.18H2O]. The maximum level of sulfate that is

allowed to be contained in drinking water is regulated by the Republic of Indonesia Regulation No.492/Menkes/Per/IV/2010 of 250 mg/l.

Objective: To find out sulfate levels in drinking water samples consumed by Lok Buntar Village

community.

Method: The study used an Analytical Observational Prospective Cohort Design. The population

of the Lok Buntar Village research population is alum use as a water purifier that is used as drinking water. The research sample is boiled drinking water containing sulfate (alum) in Lok Buntar Village. Taken by purposive sampling. Data analysis using linear regression to determine levels.

Results: SO42- sulfate levels at volume of 150 L obtained 53.184 mg/l, at a volume of 100 L that is

42.162 mg/l, at a volume of 50 L obtained levels of 40.266 mg/. Ha ≠ 0 there are SO42- levels in

drinking water at the sampling point at volumes of 150 L, 100 L and 50 L.

Conclusion: The presence of SO42- sulfate levels at the sampling point at a volume of 150 L is

53.184 mg/l, 100 L is 42.162 mg/l and 50 L is 40.266 mg/l.

(24)

3

maksimum yang diperbolehkan adalah 250 mg/l. Apabila 150 L air sungai yang digunakan maka kadar batas maksimum yaitu sulfat 37,5g. kandungan sulfat konsentrasi tertinggi pada air minum dapat menyebabkan diare (Hardiarti, D, 2015). Menurut penelitian Widyanigsih (2015) bahan yang digunakan sebagai koagulan pada proses pengendapan pada air bertujuan untuk menjernihkan air adalah tawas. Tawas sering digunakan karena paling murah, mudah didapatkan serta mudah penyimpanannya (Fitri, N, 2017).

Spektrofotometri UV-Vis adalah suatu gabungan antara dua sumber cahaya yang berbeda, sumber cahaya tampak (Visible) dan sumber cahaya UV. Spektrofotometer UV-Vis adalah suatu metode dengan sinar dari sumber radiasi diteruskan menuju monokromator. Cahaya dari monokromator diposisikan terpisah melalui sampel dengan sebuah cermin berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian dan berulang-ulang. Sinyal yang dihasilkan dari detektor yaitu sinyal listrik yang akan diproses diubah ke digital dan dilihat

hasilnya. Analisis dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram (Hasmawati, 2017).

Berdasarkan studi pendahuluan di Desa

Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk

Kabupaten Banjar dengan wawancara secara langsung dan acak pada masyarakat dari 30 masyarakat yang diwawancarai terdapat 27 masyarakat yang menggunakan tawas sebagai air minum dengan persentase 90%.

Masyarakat di Desa Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar mempunyai permasalahan yaitu tidak adanya distribusi air bersih di desa tersebut. sehingga untuk minum, mencuci, mandi dan sebagainya berasal dari air sungai. Salah satu alternatif

yang di lakukan masyarakat untuk

memanfaatkan sungai sebagai sumber

kebutuhan adalah dengan cara memasukan bahan kimia yaitu tawas kedalam tampungan air yang akan digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Sehingga peneliti tertarik untuk

meneliti kadar dari sulfat yang biasa

masyarakat sebut adalah tawas dengan

(25)

4 Bahan dan Metode

Jenis penelitian ini adalah observasional

analitik menggunakan rancangan cohort prospektif (Saryono, 2011). Sebab dari penelitian ini yaitu penambahan sulfat (Tawas) pada air minum dengan pengambilan setiap volume pada suatu titik sampel apakah mengakibatkan kadar sulfat meningkat atau tetap ataupun rendah pada air minum. Sampel penelitian ini adalah air minum yang dimasak mengandung sulfat (tawas) di Desa Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar diambil sebanyak 3 titik pengambilan pada penampungan air yang mengandung tawas yaitu pada air 150 L, 100L dan 50 L dengan 3 kali replikasi pada masing-masing volume titik

pengambilan sampel. adalah Alat yang

digunakan pada penelitian ini adalah

Spektrofotometri UV-Vis, alat pemanas, corong, labu ukur, gelas ukur 100 mL, gelas piala, pipet volumetrik. pipet ukur, timbangan analitik, kaca arloji, labu semprot, Oven, desikator dan timbangan analitik (SNI, 2005).

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah. asam klorida (HCI), asam nitrit (HNO2) pekat. Aquades, kertas saring bebas

sulfat, barium klorida, BaCl2.2H2O, natrium

sulfat Anhidrat, Na2SO4, larutan buffer A dan

larutan buffer B (SNI, 2005).

Pengambilan sampel dilakukan dengan 3 titik pengambilan pada penampungan air sebanyak 150 ml yang dimasukkan didalam botol yang dimasak atau dipanaskan untuk dianalisis dengan Spektrofotometri UV-Vis. sampel pertama diambil pada bagian atas tampungan air yang berisi 150L air yang mengandung sulfat (Tawas) 1 sendok makan dengan volume pengambilan sampel sebanyak 150 ml sebagai titik pertama. Sampel kedua diambil dengan pengurangan volume 50 L dari 150 L air menjadi 100 L sebagai titik kedua dengan pengambilan volume sampel sebanyak 150 mL. Kemudian sampel ketiga dengan pengurangan volume dari 100 L menjadi 50 L yang digunakan pada sampel ketiga pada titik ketiga tersebut yang diambil sebanyak 150 ml air minum pada penampungan yang masak

(26)

5

kemudian dimasukkan kedalam botol. Semua sampel dari ketiga titik sampel yang di ambil kemudian masing-masing sampel di bagi menjadi 3 bagian yaitu masing-masing 50 ml untuk mempermudah saat pengujian replikasi pada sampel tersebut. Sebelum dianalisis pada

spektrofotometri UV-Vis, terlebih dahulu

dimasak untuk dijadikan suatu sampel

penelitian kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis.

Prosedur kerja sulfat (SO42-). Pembuatan

larutan standar: Larutan baku sulfat 100 mg/L dipipet sebanyak 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30 dan 40 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Selanjutnya ditambahkan air suling

sampai tanda tera sehingga diperoleh

konsentrasi sulfat 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30 dan 40 mg/L (Amina, 2019).

Pembuatan kurva kalibrasi:

Spektrofotometer dioptimalkan sesuai petunjuk alat untuk pengujian kadar sulfat, selanjutnya larutan standar dipindahkan kedalam erlemeyer 250 mL dan ditambahkan 20 ml larutan buffer. Setelah homogen ditambahkan 0,2 g sampai

dengan 0,3 g barium klorida, diaduk.

Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer

UV-Vis pada panjang gelombang 420 nm

setelah beberapa menit penambahan barium klorida (Amina, 2019). Sebanyak 50 ml larutan uji dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 mL dan ditambahkan 20 mL larutan buffer. Setelah homogen ditambahkan 0,2 g sampai dengan 0,3g barium klorida, diaduk. Dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm setelah beberapa menit penambahan barium klorida. Dilakukan analisis duplo (Amina, 2019).

Analisis data pada penelitian ini terlebih dahulu data tersebut dimasukkan ke dalam regresi liner kurva kalibrasi untuk mengetahui kadar dari sulfat pada air minum dengan menggunakan rumus:

y= bx + a y: absorbansi x: kosentrasi

a: koefisien regresi (slope) b: tetapan regresi (intersep)

(27)

6 Hasil

Tabel 1. Kurva Baku Sulfat

Konsentrasi Absorbansi 0 ppm 0,0000 5 ppm 0,0457 10 ppm 0,0799 15 ppm 0,1390 20 ppm 0,1807 25 ppm 0,2370 30 ppm 0,2756 40 ppm 0,3850 (Sumber Baristand, 2020)

Kurva baku sulfat tersebut dimasukkan kedalam kalkulator, data yang dimasukkan adalah hubungan antara konsentrasi dan absorbansi sehingga didapatkan nilai a = -0,006 (intercept (potongan garis), b = 0,009 slope (kemiringan), r = 0,998 (koefisien korelasi)

Gambar 1. Kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi

Hasil kadar sulfat ini didapatkan dari hasil analisis sampel air minum menggunakan

instrumen Spektofotometri UV-Vis pada

serapan panjang gelombang 420 nm. Sampel yang dianalisis diperolah dari ketiga titik pengambilan sampel yaitu 150 L, 100 L dan 50 L pada bejana penampungan masyarakat yang

dipanaskan dan ditambahkan (tawas) sulfat sebagai penjernih air.

Tabel 2. Hasil Uji Sulfat Menggunakan Metode Spektrofotometri

UV-Vis

No Sampel Replikasi Absorba

nsi Kadar (Mg/l) Rata-rata (Mg/l) 1. 150 L 1 0,0407 51, 888 53,184 2 0,0476 59,555 3 0,0373 48,111 2. 100 L 1 0,3797 42,855 42,162 2 0,3868 43,633 3 0,0300 40 3. 50 L 1 0,0294 39,333 40,266 2 0,0313 41,444 3 0,0302 40,022 (Sumber Baristand, 2020)

Data pada tabel 2 disajikan dalam bentuk grafik untuk melihat hubungan antara titik pengambilan sampel terhadap kadar sulfat pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik hubungan antara kadar sulfat terhadap titik pengambilan sampel

Berdasarkan perhitungan konsentrasi diatas didapatkan kurva yang menurun yang menunjukan kadar pada sampel 1 volume 150 L yaitu 53,184 mg/l, sampel 2 volume 100 L 42,162 mg/l, sampel 3 volume 50 L yaitu 40,266 mg/l. 0 0,0457 0,0799 0,1390,1807 0,2370,2756 0,385 y = 0,0096x - 0,0063 R² = 0,9976 -0,1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 53,184 42,162 40,266 y = 0,1292x + 32,286 R² = 0,8574 0 10 20 30 40 50 60 0 50 100 150 K adar Sampel

(28)

7 Pembahasan

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat kadar sulfat yang dikonsumsi oleh masyarakat Desa Lok Buntar, atau yang lebih dikenal dengan sebutan tawas. Penelitian ini juga melihat apakah terdapat kadar sulfat pada titik pengambilan sampel volume 150 L, 100 L dan 50 L pada wadah penampungan air yang dikonsumsi oleh masyarakat Desa Lok Buntar. Pengambilan sampel pada ketiga titik tersebut karena tawas memiliki prinsip pengendapan

atau koagulasi dan flokulasi yang

memungkinkan ada atau tidaknya kadar sulfat Ketika tawas dimasukkan kedalam air sebagai koagulan akan terjadi proses hidrolisis yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH dari proses limbah, mudah larut dalam air dan kelarutannya tergantung dari jenis logam dan temperatur (Syaiful, M, et al, 2014).

Reaksi tawas dalam air yaitu:

aluminium sulfat mengalami penguraian

Al2(SO4)3 → 2 Al3+ + 3SO42-, air juga akan

mengalami penguraian karena penambahan tawas H2O → H+ + OH- setelah penguraian

kedua tersebut maka terbentuk reaksi 2Al3+ +

6OH- → 2Al(OH)3, selain itu akan dihasilkan

3SO42- + 6H+ → 3H2SO4 (Indriyati, 2008).

Sampel yang diambil berdasarkan

kriteria yang ditentukan oleh peneliti yaitu berdasarkan titik volume pengambilan sampel 150 L, 100 L dan 50 L. Pada masing-masing titik pengambilan sampel tersebut di ambil sebanyak 150 ml air penampungan bejana kemudian dibagi menjadi 3 bagian air karna dilakukan pengulangan sampel (replikasi). Penelitian pengambilan sampel pada ketiga titik sampel tersebut dilakukan dalam waktu 17 hari di Desa Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk

Kabupaten Banjar. Pengambilan sampel

tersebut dilakukan di salah satu rumah warga pada RT 04 Desa Lok Buntar. Pada sampel pertama titik volume 150 L diambil pada hari pertama yaitu 2 jam setelah memasukkan (tawas) sulfat. Menurut masyarakat Desa Lok Buntar, air setelah penambahan tawas baru bisa digunakan setelah 2 jam penambahan tawas dan melalui proses pemanasan. Pada sampel kedua titik volume pengambilan yaitu pada 100 L di

(29)

8

ambil pada hari ke 9. Kemudian sampel ketiga titik volume 50 L pada hari ke 17. Pengurangan volume pada bejana tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat menggunakan air

seperti biasanya. Setelah dilakukan

pengambilan sampel maka dilakukan

pemanasan air karna air tersebut menyesuaikan dengan kondisi di masyarakat bahwa dilakukan pemasakan air atau dimasak.

Pengamatan secara visual didapatkan bahwa air yang diambil dari penampungan pada titik 150 L memiliki warna jenih kekuning-kuningan, sedangkan pada titik pengambilan sampel pada penampungan 100 L dan 50 L memiliki warna jernih. Tetapi perbedaan warna tersebut tidak terlalu jauh antara 150 L dengan 100 L dan 50 L karena sampel yang diambil pada volume 150 L dimasukkan tawas 2 jam sebelum pengambilan sampel sehingga air tersebut jernih kekuning-kuningan. Berdasarkan penelitian Hasmawati (2017), bahwa prinsip kerja tawas adalah koagulasi dan flokulasi yaitu proses penambahan senyawa kimia bertujuan untuk menggabungkan semua partikel yang

sulit mengendap sehingga memiliki kecepatan pengendapan yang lebih cepat. Sehingga pada penelitian setelah penambahan tawas 2 jam pada penampungan bejana pada pengambilan sampel pada volume 150 L jernih dan kekuning-kuningan. Rasa pada sampel dari ketiga volume 150 L, 100 L dan 50 L mempunyai rasa sedikit asam. Untuk bau sampel dari ketiga titik pengambilan yaitu tidak berbau. Kemudian sampel tersebut dilakukan uji kadar sulfat di Badan Penelitian Dan Pengembangan Industri Balai Riset Dan Standarisasi Industri Banjarbaru menggunakan Spektrofotometri UV-Vis.

Analisis kadar sulfat pada penelitian ini

menggunakan menggunakan instrumen

Spektrofotometri UV-Vis karena ion sulfat cukup sulit dihilangkan dari air, sehingga ion sulfat tersebut dapat terpisah harus mengunakan

metode membran elektrodialisis. Untuk

mendeteksi ion sulfat tersebut dapat

menggunakan metode kuantitatif. Uji yang dilakukan pada metode kuantitatif adalah menggunakan instrumen alat Spektrofotometri

(30)

9

UV-Vis pada panjang gelombang 420 nm. Sehingga pengujian yang dilakukan untuk melihat kadar dari sulfat adalah menggunakan instrumen spektrofotometri UV-Vis. Tetapi pada pengujian kuantitatif pada larutan sampel sulfat dilakukan penambahan larutan barium klorida 3 gram bertujuan untuk meningkatkan sensitifitas pada alat spketrofotometri UV-Vis dan menambah peningkatkan pemisahan ion sulfat terhadap air. SO42- + BaCl2 ➔ BaSO4 +

2Cl- (Erviana, et al, 2018).

Batasan maksimal sulfat dalam air menurut Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 tentang kualitas air bersih adalah 250 mg/l untuk air yang dikonsumsi oleh manusia. Salah satu alasan dalam ilmu kefarmasian untuk meminimalkan kadar sulfat di dalam tubuh adalah sangat berpengaruh pada tubuh kita sendiri apabila kadar tersebut melebihi batas maksimal penggunaan secara terus menerus. Menurut penelitian tandiarrang et al (2016) untuk meminimalkan kadar Sulfat SO42- karena

dapat menyebabkan rasa tidak enak pada air minum tersebut dan mempunyai potensi

menimbulkan sakit perut. Pembuatan kurva baku terlebih dahulu melakukan pembuatan 8 seri larutan untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan. Didapatkan nilai absorbansi pada setiap pembacaan pada spektrofotometri UV-Vis yaitu pada konsentrasi 0 ppm pembacaan absorbansi yaitu 0,0000, 5 ppm yaitu 0,0475 ppm, 10 ppm yaitu 0,0799, 15 ppm yaitu 0,1390, 20 ppm yaitu 0,1807, 25 ppm yaitu 0,2370, 30 ppm yaitu 2756 ppm, 40 ppm yaitu 0,3850. Setelah didapatkan nilai

absorbansi maka dimasukkan kedalam

kalkulator untuk melihat nilai a, b, r. menurut penelitian Winahyu, D, S, et al. 2019.

Bahwa apabila kuefisien korelasi (r) mendekati 1 maka taraf kepercayaan sangat kuat dan kurva yang terbentuk linier. Pada penelitian yang dilakukan didapatkan nilai a

intercept (potong garis) yaitu -0,006 b slope

(kemiringan) yaitu 0,009 dan untuk nilai r (kuefisien korelasi) yaitu 0,998 menunjukan bahwa koefisien korelasi pada kurva baku sulfat taraf kepercayaan sangat kuat, baik dan kurva baku terbentuk dengan linier sehingga dapat

(31)

10

digunakan dalam penentuan sampel. Grafik kurva baku sulfat hubungan antara konsentrasi dan absorbansi yang dilihat pada panjang gelombang 420 nm menunjukan garis linier karena semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi pula absrobansi yang didapatkan karena semakin tinggi kadar absorbansi pada larutan seri yang dibuat maka molekul-molekul sulfat yang terdapat dalam larutan seri semakin banyak, sehingga molekul-molekul tersebut menyerap cahaya pada panjang gelombang 420 nm semakin banyak. Menurut penelitian Amrin & Ardilla (2013) bahwa banyaknya sinar yang diserap sebanding dengan banyaknya suatu atom-atom pada sampel uji yang menyerap. Sehingga absorbansi dan konsentrasi yang didapatkan berbanding lurus, semakin tinggi dan liner terhadap garis kurva.

Hasil penelitian pada analisis kadar sulfat menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 420 nm diperolah nilai absorbansi (y) kemudian dimasukkan kedalam perhitungan regresi liner yaitu y= bx + a, sehingga di dapatkan kadar pada

masing-masing sampel. kadar pada titik pertama yaitu 150 L pada bejana dengan pengulangan sebanyak tiga kali replikasi replikasi pertama 51,888 mg/l, replikasi kedua 59,555 mg/l, replikasi ketiga 48,111 mg/l diperoleh rata-rata dari ketiga replikasi tersebut yaitu 53,184 mg/l. Pengambilan sampel kedua pada volume bejana 100 L didapatkan kadar pada replikasi pertama yaitu 42,855 mg/l, replikasi kedua 43,633 mg/l, replikasi ketiga 40 mg/l, didapatkan rata-rata kadar pada titik pengambilan sampel pada volume bejana 100 L ketiga ini yaitu 42,162 mg/l. Kemudian pada titik sampel ketiga pada volume bejana 50 L didapatkan hasil replikasi pertama 39,333 mg/l, replikasi kedua yaitu 41,444 mg/l, replikasi ketiga 40,022 mg/l, didapatkan rata-rata kadar pada sampel ketiga yaitu 40,266 mg/l. Pada penelitian semua replikasi sampel dilakukan pengenceran 10 ml aquadest kecuali pada titik pengambilan sampel volume 100 L pada replikasi 1 dan 2 tidak

dilakukan pengenceran. Sehingga nilai

absrobansi yang didapatkan jauh lebih besar, tetapi setelah dilakukan perhitungan konsentrasi

(32)

11

sulfat kadar yang didapatkan tidak terlalu jauh bedanya dengan yang lain, karena pada saat

perhitungan konsentrasi masing masing

replikasi pada sampel apabila dilakukan pengenceran maka konsentrasi tersebut dikali 10 karena dilakukan pengenceran, apabila sampel replikasi tersebut tidak dilakukan pengenceran maka hasil konsentrasi tersebut tidak di kali 10. Sehingga hasil yang didapatkan tidak terlalu jauh antara replikasi yang satu dengan yang lain walaupun absorbansi tersebut sangat jauh perbedaannya. Hasil tersebut menunjukan semakin lama waktu dan semakin kecil titik volume pengambilan sampel maka semakin rendah kadar sulfat yang diperolah. Karena menurut Hasmawati (2017) bahwa zat koagulan yang bermuatan positif akan terjadi pengikatan butiran dengan koloid air yang bermuatan negatif yang cukup besar sehingga mudah diendapkan sehingga terjadi larutan jernih pada air. Oleh karena itu pada penelitian ini sulfat SO42- bermuatan negatif sehingga

tidak terjadi pengendapan sehingga kadar sulfat pada bagian atas kadarnya tinggi. sehingga

sulfat bagian atas pada volume 150 L pada bejana kadarnya lebih besar dari pada volume 100 L dan 50 L. Hal tersebut juga didukung dengan penelitian ini bahwa masyarakat Desa Lok Buntar merasakan bahwa air minum yang mereka konsumsi tersebut masih ada rasa asam dan rasa yang tidak enak walaupun tampungan air yang berisi tawas tersebut didiamkan selama beberapa hari tetapi masih merasakan asam dan rasa tidak enak, hal tersebut menandakan bahwa adanya senyawa sulfat didalam air tersebut. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 tentang kualitas air bersih adalah kadar sulfat yaitu 250 mg/l, pada penelitian yang dilakukan dari ketiga titik pengambilan sampel 150 L titik pertama, 100 L titik kedua, 50 L titik ketiga masih dibawah ambang batas ketentuan, karena masyarakat disana menggunakan tawas sedikit yang dimasukkan kedalam bejana tampungan air 150 L dan waktu yang digunakan untuk air bisa dikonsumsi juga lama sehingga kadar yang diperoleh rendah. Kadar sulfat paling rendah didapat pada sampel ketiga pada volume 50 L.

(33)

12

Pada volume 50 L titik ketiga tersebut waktu yang digunakan pada pengambilan sampel 17 hari setelah penambahan tawas. Pada penelitian ini tujuan dilakukannya replikasi adalah untuk melihat hubungan ketiga replikasi tersebut apakah sesuai atau tidak dan memberikan bukti yang lebih valid pada hasil penelitian. Pada pengujian yang dilakukan dilihat bahwa hasil yang diperoleh dari masing-masing sampel angka yang didapatkan tidak terpaut jauh antara replikasi yang satu dengan yang lain, sehingga dikatakan bahwa replikasi yang dilakukan adalah valid dan sesuai sehingga dapat di rata-ratakan dari ketiga replikasi tersebut dalam satu sampel. Walaupun parameter sulfat menurut Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan tetapi disarankan untuk meminimalkan kadar sulfat karena dapat menyebabkan rasa tidak enak dan potensi menimbulkan sakit perut. Berdasarkan data di Puskesmas Sungai Tabuk bahwa angka kejadian sakit perut (diare) sangat rendah pada Desa Lok Buntar, sehingga sesuai antara tingkat kejadian diare pada Desa Lok

buntar dengan kadar sulfat dibawah ambang

batas Peraturan Menteri Kesehatan RI

No.492/Menkes/Per/IV/2010 pada air minum yang mengandung tawas (Puskesmas Sungai Tabuk, 2020).

Berdasarkan hasil perhitungan

didapatkan hasil kadar pada sampel pada sampel kesatu volume 150 L yaitu 53,184 mg/l, sampel kedua volume 100 L yaitu 42,162 mg/L, sampel ketiga volume 50 L yaitu 40,266 mg/l menyatakan bahwa hipotesis yaitu Ha ≠0 yang artinya terdapat kadar SO42- didalam air minum

pada titik pengambilan sampel di volume 150 L, 100 L dan 50 L.

Ucapan Terima Kasih

Saya ucapkan terimakasih kepada Apt. Rahmadani, M.Farm selaku Pembimbing I dan Apt. Tuti Alawiyah, S.Farm., MM selaku

Pembimbing II yang senantiasa telah

memberikan masukan dan bimbingan dalam penyusunan dan perbaikan penulisan skripsi

dan naskah publiksi. Kepada seluruh

masyarakat Desa Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

(34)

13 Daftar Pustaka

Agusti, A, N. 2019. Analisis logam timbal dan tembaga terhadap daya serap rumput laut Gracilaria sp. Sebagai biosorben [Skripsi]. Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Agustini, Sri. 2017. Harminisasi standar nasional [sni] air minum dalam kemasan dan standar internasional. Majalah

Teknologi Agro Industri (Tegi). 9(2):

30-39.

Amina. 2019. Uji kadar sulfat pada air minum

dalam kemasan (AMDK) secara

spektrofotometri uv-vis. Jurnal Sains dan Teknologi. 1(1): 35-38.

Amrin & Ardilla, D. 2013. Analisis besi (Fe) dan aluminium (Al) dalam tanah

lempeng secara spektrofotometri

serapan atom. Prosiding semirata. 17-22.

Erviana, et al. 2018. Analisis kuantitatif kandungan sulfat dalam aliran air dan air danau di kawasan Jakabaring Sport City Palembang. Jurnal Ilmu Kimia dan

Terapan. 2(2).

Fitri, N. 2017. Sintesis kristal tawas

[Kal(SO4)2.12H2O] dari limbah kaleng bekas minuman [Skripsi]. Makassar: Universitas Islam Negeri Alaluddin. Hasmawati. 2017. Pemanfaatan tawas sintetik

dari kaleng bekas sebagai koagulan pada air [skripsi]. Makassar: Universitas Islam Negeri Alaluddin.

Hardiarti, D. 2015. Penentuan kadar sulfat pada air mineral kemasan gelas yang beredar di pontianak dengan metode sm. Ed. 21 th. 2005. Prosiding Semirata. 57-63. Hartuno Teddy et al. 2014. Desain water

treatment menggunakan karbon aktif dari cangkang kelapa sawit pada proses

pengolahan air bersih di sungai

martapura. Program Studi Teknologi

Industri Pertanian Fakultas Pertanian 39(3): 136-143.

Indriyati. 2008. Proses pengolahan limbah organik secara koagulasi dan flokulasi.

Jurnal Pusat Teknologi Lingkungan.

4(2): 125-130.

Ismayanda, M, H. 2011. Produksi aluminium sulfat dari koalin dan asam sulfat dalam

reaktor berpengaduk menggunakan

proses kering. Jurnal Rekayasa Kimia

dan Lingkungan. 8(1): 47-52.

Manurung. M & Irma, F, A. 2010. Kandungan aluminium dalam kaleng bekas dan

pemanfaatannya dalam pembuatan

tawas. Jurnal Kimia. 4(2): 180-186. Natoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Penggalih et, al. 2016. Pengaruh perbedaan intensitas latihan atlet sepeda terhadap berat badan dan body water. Journal Of

Physical Education, Sport, Health and Recreations. 5(1): 29-35.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No

492/MENKES/PER/IV/2010.

Persyaratan Air Minum. Jakarta: Menteri Kesehatan RI.

Saepudin, M. 2011. Metodologi Penelitian

Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Trans

Info Media.

Saryono. 2011. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia

Press.

Standar Nasional Indonesia. 2004. Cara Uji

Sulfat SO42- Secara turbidimetri.

Jakarta: Badan Standarisasi Nasional. Standar Nasional Indonesia. 2005. Cara Uji

Kadar Aluminium (AI) dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).

(35)

14

Syaiful, M, et al. 2014. Efektivitas alum dari

kaleng miniuman bekas sebagai

koagulasi untuk penjernih air. Jurnal

Teknik Kimia. 20(4). 39-45.

Tandiarrang et, al. 2016. Studi perbandingan penggunaan tawas (Al2(SO4)3) dan

Kapur padam (Ca(OH)2) pada

pengolahan air asam tambang di PT. Kaltim Diamond Coal Kecamatan Loa

Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Jurnal Teknologi

Mineral FT Unmul. 4(1): 23-30.

Widyaningsih, T, S. 2015. Pemanfaatan daun kelor (moringa oleifera) dan tawas sebagai bahan penjernih air sumur gali.

Jurnal Rekayasa Lingkungan.

Gambar

Gambar 1. Kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di kelas V Sekolah Dasar Negeri 16 Pontianak Kota, hasil analisa data yang diperoleh dari hasil belajar siswa pada

Our study investigated the impact of building heights on 3D urban density, the frequently used Floor Area Ratio (FAR), estimation from spaceborne stereo

Sebuah aplikasi atau software pada sistem ini sangat mendukung dari kemampuan sistem untuk mengubah atau untuk membangun ulang dari sebuah versi aplikasi dan software yang tepat

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada perbedaan antara rerata pretest dan posttest, sehingga dapat dikatakan bahwa massa otot lengan peserta

Membawa semua dokumen ASLI sesuai SCAN DOKUMEN yang diupload pada tahap Pemasukan dokumen penawaran serta dokumen-dokumen lain yang dipersyaratkan dalam dokumen

Bantuan Keuangan Khusus Pengelolaan Air Bersih yang selanjutnya disebut BKK-PAB adalah bantuan keuangan khusus dari Pemerintah Kabupaten Bantul kepada Desa yang

potensi hambatan terhadap pemanfaatan layanan VCT (Voluntary Counseling And Testing) HIV/AIDS. 2) Tempat penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Poncol Kota