• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

Copied!
213
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas

limpahan karunia dan rahmat-NYA penyusunan Laporan Keterangan

PertanggungJawaban (LKPJ) Walikota langsa tahun 2016 dapat tersusun,

selanjutnya salawat beriring salam kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad

SAW.

Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007

tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada

Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah (LKPJ)

kepada DPRD dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

(ILPPD) kepada Masyarakat, maka Kepala Daerah mempunyai kewajiban untuk

memberikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah (LKPJ)

kepada DPRD. Pada prinsipnya, LKPJ Pemerintah Kota Langsa Tahun 2016

merupakan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada DPRD

selama satu tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pemerintahan Daerah

(RKPD) Kota Langsa tahun 2016. Sebagaimana diamanatkan oleh pasal 42 ayat (1)

huruf F UU No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, pasal 69 ayat (1), dan

pasal 71 ayat(1) Undang-undang No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Penyusunan LKPJ Pemerintah Kota Langsa Tahun 2016 tentunya

membutuhkan tahapan yang sedemikian rupa yang menuntut kerjasama dan

koordinasi yang baik dengan SKPD terkait, oleh karena itu kepada seluruh pihak

yang telah berpartisipasi dalam penyusunan Laporan ini kami ucapkan terima kasih.

Langsa, 27 Maret 2017

WALIKOTA LANGSA

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

i

DAFTAR ISI ...

ii

DAFTAR LAMPIRAN ...

v

BAB I

PENDAHULUAN ...

1

A. Dasar Hukum ...

1

B. Gambaran Umum Daerah ...

3

1

. Kondisi Geografis Daerah ...

3

2. Gambaran Umum Demografis ...

3

3. Kondisi Ekonomi ...

6

a. Potensi Unggulan Daerah ...

6

b. Pertumbuhan Ekonomi / PDRB ...

10

c. PDRB Perkapita ...

13

d. Pertumbuhan Laju Implisit ...

15

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH ...

41

A. Visi Dan Misi ...

41

B. Strategi dan Arah Kebijakan Daerah ...

43

C. Prioritas Pembangunan Daerah ...

50

BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN

DAERAH ...

55

A.

Pengelolaan Pendapatan Daerah ...

55

1

. Intensifikasi dan eksentifikasi Pendapatan ...

56

2

. Target dan Realisasi Pendapatan ...

56

3

. Permasalahan dan Solusi ...

61

B.

Pengelolaan Belanja Daerah ...

62

(4)

2

. Target dan Realisasi Belanja ...

64

3

. Permasalahan dan Solusi ...

67

BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN

DAERAH ...

68

A. Urusan Wajib ... .. ...

68

a. Urusan Pendidikan ...

68

b. Urusan Kesehatan ...

72

c. Urusan Pekerjaan Umum ...

75

d. Urusan Perumahan ...

77

e. Urusan Penataan Ruang ...

78

f. Urusan Perencanaan Pembangunan ...

79

g. Urusan Perhubungan ...

82

h. Urusan Lingkungan Hidup ...

83

i. Urusan Pertanahan ...

85

j. Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil ...

85

k. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan

Keluarga Berencana ...

87

l. Urusan Keluarga Berencana dan

Keluarga Sejahtera ...

88

m. Urusan Sosial ...

89

n. Urusan Ketenagakerjaan ...

91

o. Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Pendidikan ...

92

p. Urusan Penanaman Modal ...

93

q. Urusan Kebudayaan ...

93

r. Urusan Kepemudaan dan Olah Raga ...

95

s. Urusan Kesatuan bangsa dan Politik

Dalam Negeri ...

97

t. Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum,

Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,

Kepegawaian dan Persandian ...

101

(5)

u. Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa ...

122

v. Urusan Kearsipan ...

125

w. Urusan Komunikasi dan Informatika ...

125

x. Urusan Perpustakaan ...

127

B. Urusan Pilihan .... ...

134

a. Urusan Pertanian ...

134

b. Urusan Kehutanan ...

135

c. Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral ...

136

d. Urusan Pariwisata ...

136

e. Urusan Kelautan dan Perikanan ...

137

f. Urusan Perdagangan ...

138

g. Urusan Perindustrian ...

139

BAB V

PENYELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN ...

143

Tugas Pembantuan yang Diterima ...

143

BAB VI PENYELENGGARAAN TUGAS UMUM

PEMERINTAHAN ...

147

A.

Kerjasama Antar Daerah ...

147

B.

Kerjasama Daerah Dengan Pihak Ketiga ...

148

C.

Koordinasi Dengan Instansi Vertikal ...

149

D.

Pembinaan Batas Wilayah ... ...

150

E.

Pencegahan dan Penanggulangan Bencana ...

151

F.

Penyelenggaraan Ketentraman dan

Ketertiban Umum ...

152

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

Daftar Jumlah Pegawai

Realisasi pelaksanaan program dan Kegiatan Urusan Wajib

Tahun Anggaran 2016

Realisasi pelaksanaan program dan Kegiatan Urusan Pilihan

Tahun Anggaran 2016

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

Pemerintah Daerah diwajibkan untuk memberikan Laporan

Penyelenggaraan Pemerintah Daerah yang bertujuan sebagai media evaluasi

hasil - hasil penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan selama satu tahun

anggaran sebagaimana yang dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 3

Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada

Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan

Pemerintah Daerah kepada masyarakat.

Ruang lingkup pelaporan dimaksud secara garis besar mencakup

pelaksanaan kepemerintahan dalam kerangka pengambilan dan pelaksanaan

kebijakan, serta kinerja yang telah dicapai terkait penyelenggaraan urusan wajib

dan urusan pilihan.

Dengan adanya Laporan tersebut, diharapkan dapat memberikan

gambaran pelaksanaan Otonomi Daerah yang sedang berjalan di Kota Langsa,

dan sekaligus dapat menjadi salah satu indikator dalam rangka penilaian

kebutuhan perencanaan pembangunan diwilayah Kota Langsa.

A. Dasar Hukum

Penyusunan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Kepala Daerah

(LKPJ) Kota Langsa Tahun 2016, berdasarkan kepada :

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara

yang bersih dan Bebas dari Korupsi,Kolusi dan Nepotisme;

2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota

Langsa;

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

(8)

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang

Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

6. Undang-Undang

Nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi

Pemerintahan;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan

Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan

Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan

Pemerintah Daerah kepada Masyarakat;

9. Qanun Kota Langsa Nomor 3 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Kota Langsa Tahun 2012-2017 sebagaimana telah

diubah beberapa kali terakhir dengan Qanun Kota Langsa Nomor 11

Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas qanun Kota Langsa nomor 3

tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota

Langsa Tahun 2012-2017;

10. Qanun Kota Langsa Nomor 10 tahun 2016 tentang Pembentukan dan

Susunan Perangkat Daerah Kota Langsa;

11. Peraturan Walikota Langsa Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penjabaran

(9)

B. Gambaran Umum Daerah

1. Kondisi Geografis

Kota Langsa terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun

2001 yang sebelumnya berstatus kota administratif menjadi Pemerintah

Kota. Kota Langsa terletak di sebelah Timur Provinsi Aceh, yang

berposisikan sebelah Utara Pulau Sumatera, yaitu pada

04°24’35,68”-04°33’47,03” Lintang Utara dan 97°53’14,59”-98°04’42,16” Bujur Timur,

dan memiliki luas wilayah 262,41 Km².

Wilayah Kota Langsa terbagi menjadi 5 (lima) kecamatan dan

66 Gampong dengan cukupannya masing-masing sebagai berikut :

1.

Kecamatan Langsa Barat meliputi 13 (tiga belas) Gampong dengan

luas wilayah keseluruhan mencapai sebesar 59,95 Km².

2. Kecamatan Langsa Barö meliputi 12 (dua belas) Gampong dengan

luas wilayah keseluruhan mencapai sebesar 77,5 Km².

3. Kecamatan Langsa Kota meliputi 10 (sepuluh) Gampong dengan luas

wilayah keseluruhan mencapai sebesar 7,53 Km².

4. Kecamatan Langsa Lama meliputi 15 (lima belas) Gampong dengan

luas wilayah keseluruhan mencapai sebesar 42,39 Km².

5. Kecamatan Langsa Timur meliputi 16 (enam belas) Gampong dengan

luas wilayah keseluruhan mencapai sebesar 75,04 Km².

Lebih lanjut, jumlah bangunan rumah dalam wilayah Kota

Langsa pada tahun 2016 sebanyak 40.788 unit, Luas wilayah yang ber

HPL/HGB didalam wilayah Kota Langsa adalah seluas 2.780 Ha,

sementara itu Luas Kawasan kumuh adalah sebesar 7.144 Ha.

2. Gambaran Umum Demografis

Jumlah penduduk di Kota Langsa hingga akhir tahun 2016 adalah

sebesar 189.073 dengan sebaran penduduk terbesar di Kecamatan Langsa

(10)

Kecamatan Langsa Kota sebanyak 47.176 jiwa, Kecamatan Langsa Barat

sebanyak 39.875 jiwa, Kecamatan Langsa Lama sebanyak 32.853 jiwa dan

Kecamatan Langsa Timur sebanyak 15.541 jiwa.

Komposisi Penduduk Kota Langsa berdasarkan jenis kelamin yaitu

Penduduk Laki-laki sebanyak 95.712 jiwa dan Penduduk Perempuan

sebanyak 93.361 jiwa, sementara itu, Penduduk Kota Langsa pada Tahun

2016 didominasi oleh kelompok umur antara 30-34 tahun yaitu sebanyak

18.134 jiwa dengan komposisi berjenis kelamin Laki-laki sebanyak 9.016

jiwa dan perempuan sebanyak 9.118 jiwa.

KOMPOSISI PENDUDUK KOTA LANGSA BERDASARKAN

JENIS KELAMIN TAHUN 2016

Sumber : Dinas Dukcapil Kota Langsa

KOMPOSISI PENDUDUK KOTA LANGSA BERDASARKAN

PENDIDIKAN TAHUN 2016

LANGSA TIMUR LANGSA BARAT LANGSA KOTA LANGSA LAMA LANGSA BARÖ

1

Belum Sekolah

4.262

9.397

9.947

7.867

12.155

43.628

2

Belum Tamat SD/Sederajat

1.664

3.900

4.177

3.079

5.012

17.832

3

Tamat SD/Sederajat

3.571

8.443

5.812

5.919

7.462

31.207

4

Tamat SLTP/Sederajat

2.260

5.597

6.993

4.731

7.071

26.652

5

Tamat SLTA/Sederajat

3.119

9.118

15.341

9.388

16.552

53.518

6

D-I / II

89

289

456

236

469

1.539

7

Akademi/D-III Sarjana Muda

136

638

1.102

394

1.047

3.317

8

D-IV / Strata - I

420

2.315

3.118

1.157

3.590

10.600

9

Strata - II

16

170

218

77

266

747

10 Strata - III

4

8

12

5

4

33

TOTAL

15.541

39.875

47.176

32.853

53.628

189.073

Sumber : Dinas Dukcapil Kota Langsa

PENDIDIKAN

NO

KECAMATAN

Jumlah

Laki-laki

95.712

50,62%

Perempuan

93.361

49,38%

Laki-laki

Perempuan

(11)

PENDUDUK KOTA LANGSA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR

TAHUN 2016

UMUR

JENIS KELAMIN

KETERANGAN

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

1

2

3

4

0-4

5-9

10-14

15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60-64

65-69

70-75

> 75 tahun

7.550

8.745

8.669

8.574

8.020

8.513

9.016

7.947

6.960

5.908

5.068

4.159

2.811

1.490

1.158

1.124

6.976

8.218

8.252

8.184

7.733

8.300

9.118

7.555

6.972

5.976

5.043

3.757

2.523

1.520

1.497

1.742

14.526

16.963

16.921

16.758

15.753

16.813

18.134

15.502

13.932

11.884

10.111

7.916

5.334

3.010

2.655

2.866

J U M L A H

95.712

93.361

189.073

T O T A L

Sumber : Dinas Dukcapil Kota Langsa

PENDUDUK KOTA LANGSA BERDASARKAN KECAMATAN

TAHUN 2016

KECAMATAN

JENIS KELAMIN

JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

1

2

3

4

1. Langsa Barat

2. Langsa Kota

3. Langsa Timur

4. Langsa Lama

5. Langsa Barö

20.339

23.932

7.949

16.483

27.009

19.536

23.244

7.592

16.370

26.619

39.875

47.176

15.541

32.853

53.628

J U M L A H

95.712

93.361

189.073

T O T A L

(12)

3. Kondisi Ekonomi Kota Langsa

a. Potensi Unggulan Daerah

Struktur perekonomian suatu daerah merupakan gambaran

tentang komposisi perekonomian daerah yang terdiri atas 17 kategori

ekonomi. Struktur ekonomi sekaligus menunjukkan tinggi rendahnya

kontribusi atau peran seluruh seluruh kategori ekonomi terhadap

pembentukan PDRB di suatu wilayah pada waktu tertentu. Apabila

struktur ekonomi disajikan dari waktu ke waktu (time series) maka

dapat dilihat perubahan struktur perekonomian yang terjadi.

Pergeseran dalam struktur ekonomi di suatu wilayah diakibatkan

adanya perkembangan nilai tambah yang dihasilkan oleh

masing-masing kategori perekonomian di wilayah tersebut.

Secara umum struktur perekonomian Kota Langsa

didominasi oleh tiga kategori utama yaitu kategori Perdagangan

Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, kategori

Jasa-Jasa, kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, kategori

Konstruksi, kategori Transportasi, Pergudangan, dan Jasa Penunjang

Angkutan (Pos dan Kurir). Sejak beberapa tahun terakhir mulai

terjadi pergeseran struktur ekonomi. Kontribusi kategori pertanian

tidak lagi mendominasi terhadap perekonomian Kota Langsa. Hal ini

menjadikan kategori konstruksi dan kategori transportasi dan

pergudangan yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap

perekonomian. Kondisi daerah perkotaan seperti yang terjadi di Kota

Langsa cenderung menitikberatkan perekonomian pada kategori non

pertanian. Hal ini sesuai dengan wilayah yang berstatus kota, dimana

perekonomian bertumpu pada kategori non pertanian.

Struktur perekonomian Kota Langsa yang memberikan

peranan terbesar didominasi oleh kategori Perdagangan Besar dan

Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Kategori ini memiliki

kontribusi terhadap perekonomian Kota Langsa sebesar 28,57% pada

(13)

menjadi 29,84%. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ruko-ruko baru

bermunculan di sekitar jalan utama Kota Langsa dan pembangunan

Langsa Town Square sebagai kawasan sentra perdagangan di Kota

Langsa. Selain dari peningkatan di kategori perdagangan besar,

peningkatan di kategori perdagangan eceran juga dilakukan oleh

rumah tangga yang memiliki usaha kecil dan menengah. Sehingga

secara keseluruhan kategori perdagangan besar dan eceran sangat

berperan penting terhadap perekonomian Kota Langsa.

Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha 2013-2015

Kategori

Lapangan Usaha

2013

2014

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

A

Pertanian,Kehutanan dan perikanan

9.15

8.79

8.62

B

Pertambangan dan Penggalian

0.54

0.51

0.44

C

Industri Pengolahan

10.20

10.11

9.87

D

Pengadaan Listrik dan Gas

0.15

0.14

0.13

E

Pengadaan Air,Pengelolaan

Sampah,Limbah dan Daur Ulang

0.05

0.05

0.05

F

Kontruksi

9.27

9.23

9.11

G

Perdagangan Besar dan Eceran;reperasi

Mobil dan Sepeda Motor

29.14

29.49

29.84

H

Transportasi dan Pergudangan

9.14

9.31

9.33

I

Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum

2.01

2.06

2.13

J

Informasi dan Komunikasi

5.99

6.10

6.24

K

Jasa Keuangan Dan Asuransi

3.30

3.09

2.95

L0

Real Estate

4.23

4.21

4.22

M,N

Jasa Perusahaan

0.88

0.87

0.85

O

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib

7.31

7.37

7.48

P

Jasa Pendidikan

1.64

1.68

1.73

Q

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

4.66

4.72

4.78

R,S,T,U Jasa Lainnya

2.33

2.28

2.25

(14)

Salah satu kategori dominan yang memiliki kontribusi

terbesar terhadap perekonomian Kota Langsa yaitu industri

pengolahan. Kategori ini terbagi menjadi beberapa sub kategori mulai

dari industri batubara dan pengilangan migas, industri makanan dan

minuman, industri pengolahan tembakau, industri tekstil dan

pakaian jadi, hingga industri pengolahan lainnya. Diantara sekian

banyak sub kategori dalam industri pengolahan, sub kategori industri

makanan dan minuman serta industri kimia, farmasi, dan obat

tradisional merupakan sub kategori yang paling dominan.

Salah satu industri yang berkontribusi cukup besar terhadap

perekonomian Kota Langsa yaitu industri kimia, farmasi, dan obat

tradisional. Di Kota Langsa terdapat pabrik kimia milik PT AICA

Mugi, perusahaan Jepang yang salah satu pabriknya berlokasi di

Kecamatan Langsa Baro. Penghitungan PDRB menurut lapangan

usaha mencakup semua kategori yang dilakukan oleh semua pihak

selama dalam wilayah Kota Langsa. Dengan demikian perusahaan

asing yang terdapat di Kota Langsa juga termasuk dalam

penghitungan PDRB.

Selain industri pengolahan kimia, terdapat pula industri

makanan dan minuman di Kota Langsa terdiri dari berbagai jenis.

Salah satu industri yang memiliki kontribusi cukup besar yaitu

industri pembuatan kecap dan tauco yang berbahan dasar kedelai

milik perusahaan Aneka Guna.

Selain itu masih terdapat industri pembuatan tempe dan

industri pembuatan keripik singkong yang dilakukan oleh industri

mikro kecil maupun usaha kecil menengah.

(15)

Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha Kota Langsa

Sumber : BPS Kota Langsa

Salah satu kategori yang berperan besar dalam

perekonomian Kota Langsa selama kurun waktu 2011-2015 yaitu

kategori transportasi, pergudangan, dan jasa penunjang angkutan

(pos dan kurir). Pada tahun 2015, kategori transportasi dan

pergudangan memiliki kontribusi sebesar 9,33%. Peranan pada

kategori ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyaknya

masyarakat Kota Langsa yang melakukan bepergian menggunakan

angkutan darat mendorong kontribusi kategori transportasi

meningkat terhadap PDRB. Sementara itu pada subkategori

pergudangan dan jasa penunjang angkutan (pos dan kurir) juga

memberikan kontribusi yang cukup tinggi seiring dengan maraknya

demam batu giok yang melanda tanah air, termasuk Provinsi Aceh

dan Kota Langsa di dalamnya. Jasa pengiriman barang melayani

permintaan pengiriman barang ke berbagai wilayah di tanah air

dalam bisnis jual beli online yang semakin menjamur dalam beberapa

tahun terakhir.

Selama tahun 2011-2015 kontribusi kedua kategori ini terus

Perdagangan besar dan eceran

Konstruksi

Industri Pengolahan

Pertanian,Kehutanan dan Perikanan

Lainnya

Jasa-jasa

Informasi dan Komunikasi

Transportasi dan Pergudangan

(16)

pertanian sebagai salah satu kategori yang paling dominan di Kota

Langsa pada tahun-tahun sebelumnya. Kontribusi kategori konstruksi

pada tahun 2015 mencapai 9,11%. Pada tahun tersebut mulai

diresmikan pusat pertokoan Langsa Town Square sebagai sarana

dalam meningkatkan aktivitas perdagangan di Kota Langsa. Selain

itu, perubahan status Universitas Samudera Langsa menjadi

universitas negeri dan perubahan status STAIN Cot Kala menjadi

IAIN Cot Kala Langsa yang membuka lebih banyak program studi

menyebabkan banyak masyarakat yang berasal dari luar Kota Langsa

yang mencari tempat tinggal di sekitar wilayah kampus sehingga

mendorong pembangunan rumah sewa dan kost bagi mahasiswa.

Peranan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan

selama kurun 2011-2015 tidak sebesar peranan kategori lain seperti

perdagangan besar dan eceran, kategori jasa-jasa, dan kategori

industri pengolahan. Pada tahun 2011 kategori ini memiliki

kontribusi sebesar 9,62% terhadap total PDRB dan kontribusinya

terus menurun hingga tahun 2015 menjadi 8,62%. Penurunan dari

sisi kontribusi kategori pertanian disebabkan terjadinya penurunan

pada hasil produksi pertanian secara umum. Penurunan produksi

kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan disebabkan antara lain

: Meningkatnya biaya perawatan tanaman seperti pupuk dan

pestisida pada tanaman perkebunan, menurunnya harga jual

komoditas perkebunan terutama karet dan sawit, perubahan cuaca

yang tidak menentu, berbagai hama dan penyakit yang menimpa

sebagian besar tanaman padi mengakibatkan kategori pertanian

semakin menurun kontribusinya dibandingkan dengan tahun - tahun

sebelumnya.

b. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB (Produk Domestik Regional

Bruto)

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah satu

ukuran kinerja pembangunan daerah khususnya perekonomian.

(17)

atas harga konstan tahun 2010. Penggunaan harga tahun dasar 2010

bertujuan untuk menghilangkan faktor perubahan harga (inflasi) dan

menggunakan faktor pengali harga konstan (at constant price

inflation factor) sehingga diperoleh gambaran peningkatan produksi

secara makro.

Perekonomian Kota Langsa pada tahun 2011 dengan

menggunakan penghitungan metode baru tahun dasar 2010

mencapai 4,34 %. Pada tahun selanjutnya pertumbuhan di tahun

2012 terjadi pertumbuhan yang lebih cepat mencapai 4,72 %. Pada

tahun tersebut pertumbuhan merata di segala kategori, mulai dari

kategori pertanian hingga jasa-jasa. Perekonomian Kota Langsa mulai

melambat di tahun 2013 dan tahun 2014 dibandingkan dengan

tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 laju pertumbuhan

ekonomi Kota Langsa melambat dengan persentase 4,43 % dan pada

tahun 2015 pertumbuhan menjadi lebih lambat lagi menjadi hanya

sebesar 4,55 %.

Laju Pertumbuhan PDRB ADHK Menurut Lapangan Usaha

Sumber : BPS Kota Langsa

4,1

4,2

4,3

4,4

4,5

4,6

4,7

4,8

2012

2013

2014

2015

4,55

4,57

4,72

4,43

(18)

Laju Pertumbuhan Ril PDRB Menurut Lapangan Usaha 2013-2015

Kategori

Uraian

2013

2014

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

A

Pertanian,Kehutanan dan perikanan

3.19

0.40

1.93

B

Pertambangan dan Penggalian

2.26

2.27

-3.56

C

Industri Pengolahan

2.83

2.34

2.08

D

Pengadaan Listrik dan Gas

1.08

1.17

1.23

E

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang

4.47

4.05

4.18

F

Kontruksi

3.95

4.17

3.87

G

Perdagangan Besar dan Eceran,

reperasi Mobil dan Sepeda Motor

5.45

5.55

5.58

H

Transportasi dan Pergudangan

5.93

6.40

6.46

I

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

6.24

6.70

6.75

J

Informasi dan Komunikasi

7.37

7.51

7.53

K

Jasa Keuangan Dan Asuransi

2.21

0.43

0.87

L

Real Estate

4.12

4.46

4.54

M,N

Jasa Perusahaan

4.35

5.79

2.81

O

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib

2.35

2.83

3.03

P

Jasa Pendidikan

4.31

6.32

6.35

Q

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

5.93

6.80

6.87

R,S,T,U Jasa Lainnya

4.68

2.13

2.04

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

4.57

4.43

4.55

Sumber : BPS Kota Langsa

Perekonomian di Kota Langsa mengalami peningkatan

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, laju

pertumbuhan ekonomi Kota Langsa berada pada kisaran 4,55%. Jika

dirinci per kategori seperti pada tabel di atas, kategori Informasi dan

Komunikasi merupakan kategori dengan laju pertumbuhan tertinggi

yang mencapai 7,53% dan diikuti oleh kategori Penyediaan

Akomodasi dan Makan Minum dengan persentase sebesar 6,75%, dan

kategori Transportasi dan Pergudangan.

(19)

Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi pada kategori

Informasi dan Komunikasi didorong oleh faktor kebutuhan

masyarakat perkotaan terhadap akses internet pada era modern.

Internet kini menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat selain

sandang, pangan, dan papan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Akses internet kini telah merambah semua lapisan masyarakat.

Ditambah lagi dengan banyaknya promo yang ditawarkan oleh

berbagai provider telekomunikasi membuat harga semakin

kompetitif dalam merebut hati konsumen.

Pada kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum,

terjadi tren peningkatan yang positif dari tahun ke tahun. Kebutuhan

masyarakat akan konsumsi makanan dan minuman menjadi

pendorong utama meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada

kategori ini. Pada tahun 2015, sejumlah usaha kuliner baru mulai

bermunculan seperti café, restoran, dan rumah makan di Kota

Langsa. Hal ini merupakan sesuatu yang positif untuk dikembangkan

karena mampu menggerakkan aktivitas perekonomian di Kota

Langsa.

Sementara itu, kategori yang perlu menjadi sorotan pada

tahun 2015 adalah kategori Pertambangan dan Penggalian.

Pertumbuhan kategori pertambangan dan penggalian bernilai negatif

yang disebabkan oleh berkurangnya titik-titik lokasi penggalian pasir

di Kota Langsa. Hal ini membuat produksi penggalian pasir

mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan

tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah pengusaha penggalian pasir

juga menurun karena mengalami kerugian dan beberapa diantaranya

gulung tikar dari usaha tersebut.

C. PDRB Perkapita

Pendapatan per kapita menunjukkan besarnya pendapatan

yang dapat dinikmati oleh setiap penduduk secara rata-rata. Produk

Domestik Regional Bruto per kapita merupakan hasil bagi antara

(20)

Pendapatan Regional per kapita diperoleh dari hasil bagi antara

Produk Domestik Regional Neto (PDRN) atas biaya faktor produksi

(PDRB yang telah dikurangi penyusutan dan pajak tak langsung)

dengan penduduk pertengahan tahun.

Peningkatan jumlah penduduk dan besarnya PDRB suatu

daerah sangat menentukan besar PDRB per kapita tersebut. Atau

dengan kata lain, dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan laju

pertumbuhan penduduk dapat dilihat peningkatan dalam

pendistribusian PDRB per kapita maupun pendapatan regional per

kapita.

Pendapatan per Kapita Kota Langsa ADHB

Sumber : BPS Kota Langsa

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa PDRB per

kapita Kota Langsa ADHB sepanjang kurun waktu 2012-2015

cenderung meningkat baik untuk harga berlaku maupun harga

konstan. PDRB per kapita Kota Langsa ADHB pada tahun 2012

sebesar 19,31 juta rupiah dan nilainya terus meningkat dari tahun ke

tahun. Kemudian pada tahun 2015 PDRB per kapita Kota Langsa

menjadi 23,58 juta rupiah.

0

5

10

15

20

25

2012

2013

2014

2015

19,31

20,52

21,97

23,58

(21)

D. Pertumbuhan Laju Implisit (Inflasi/Deflasi)

Inflasi merupakan salah satu indikator makro seperti halnya

pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan tingkat pengangguran.

Inflasi dapat didefinisikan sebagai kenaikan tingkat harga uang

terjadi secara terus menerus dalam periode tertentu. Dalam

menganalisis perekonomian suatu negara atau daerah, masalah

inflasi sering menjadi topik yang banyak dibicarakan. Fluktuasi angka

inflasi menggambarkan seberapa besar gejolak ekonomi terutama

harga, yang terjadi di suatu negara atau daerah dan seberapa jauh

pengaruhnya terhadap kemampuan daya beli masyarakat.

Lebih jelasnya, masalah inflasi dapat menimbulkan efek atau

akibat yang buruk kepada masyarakat. Akibat buruk yang paling

nyata ialah kemerosotan pendapatan riil yang diterima masyarakat.

Pendapatan pekerja-pekerja tidak selalu mengalami perubahan untuk

menyesuaikan keadaan inflasi. Dengan demikian, inflasi akan

menurunkan

pendapatan

riil

dari

pekerja-pekerja

yang

berpendapatan tetap yang kerap kali merupakan sebagian besar dari

angkatan kerja dalam perekonomian. Ini merupakan salah satu

alasan penting yang menyebabkan masalah inflasi perlu dihindari.

Dengan menggunakan pertumbuhan dari PDRB deflator

diperoleh indikator inflasi dari indeks harga implisit. Data tingkat

perkembangan harga dari PDRB dapat tercermin dari perubahan

indeks harga implisit. Indeks ini merupakan perbandingan antara

PDRB riil dengan PDRB nominal. Peningkatan indeks harga implisit

menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa, demikian sebaliknya.

Perubahan indeks harga implisit dari PDRB merupakan gambaran

dari peningkatan harga seluruh barang dan jasa dalam periode satu

tahun.

Namun yang perlu diperhatikan adalah, penghitungan inflasi

menggunakan indeks harga implisit berbeda dengan penghitungan

(22)

penghitungan menggunakan IHK, harga yang digunakan merupakan

harga dari sisi konsumen. Sementara itu, penghitungan

menggunakan indeks harga implisit, harga yang digunakan dari sisi

produsen.

Berdasarkan data dari tabel di bawah, terdapat beberapa

kategori yang memiliki laju implicit lebih tinggi pada tahun 2015

dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan laju

implisit pada kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan di tahun

2015 sebesar 5,14%. Kenaikan harga pada kategori ini diakibatkan

naiknya biaya perawatan tanaman pertanian dalam hal harga pupuk

dan pestisida. Berkurangnya produksi juga menyebabkan

berkurangnya pasokan hasil produksi seperti gabah, sawit, karet, dan

kokoa dalam memenuhi kebutuhan pasar. Akibat pasokan berkurang,

harga menjadi naik.

Tabel Laju Implisit (Inflasi) Kota Langsa 2013-2015

Kategori

Uraian

2013

2014

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

A

Pertanian,Kehutanan dan perikanan

2.56

4.35

5.14

B

Pertambangan dan Penggalian

3.50

0.20

-0.48

C

Industri Pengolahan

5.29

5.67

4.58

D

Pengadaan Listrik dan Gas

0.84

3.19

3.55

E

Pengadaan Air,Pengelolaan Sampah,Limbah dan

Daur Ulang

3.74

4.13

4.29

F

Kontruksi

3.92

4.34

3.86

G

Perdagangan Besar, Eceran;reperasi Mobil dan

Sepeda Motor

3.44

4.63

4.75

H

Transportasi dan Pergudangan

4.34

4.45

2.93

I

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

4.41

4.80

5.82

J

Informasi dan Komunikasi

3.11

3.26

3.99

K

Jasa Keuangan Dan Asuransi

5.24

1.61

3.59

L

Real Estate

2.37

3.72

4.93

(23)

O

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jaminan Sosial Wajib

6.25

6.90

7.64

P

Jasa Pendidikan

4.01

5.42

5.73

Q

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

1.20

3.43

3.45

R,S,T,U Jasa Lainnya

1.84

4.46

5.57

PDRB

3.74

4.49

4.57

Sumber : BPS Kota Langsa

E. Perkembangan PDRB di Kota Langsa

PDRB Kota Langsa menurut lapangan usaha dirinci

menjadi 17 kategori lapangan usaha dan sebagian besar kategori

dirinci lagi menjadi subkategori. Pemecahan menjadi subkategori

ataupun golongan ini disesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan

Usaha Indonesia (KBLI) 2009. Perkembangan setiap lapangan usaha

diuraikan di bawah ini.

1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Kategori ini mencakup subkategori Pertanian, Kehutanan,

dan Perikanan yang terdiri atas golongan tanaman pangan, golongan

tanaman hortikultura, golongan tanaman perkebunan, golongan

peternakan, dan golongan jasa pertanian dan perburuan, subkategori

Usaha kehutanan dan Penebangan Kayu, dan subkategori Perikanan.

Kontribusi kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan semakin

menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 konstribusi kategori

ini mencapai 9,62% terhadap total PDRB menurut lapangan usaha.

Namun pada tahun 2012 hingga tahun 2015 semakin menurun

hingga pada tahun 2015 kategori Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan memberi kontribusi terhadap PDRB atas dasar harga

berlaku sebesar 8,62%.

(24)

Peranan Kategori Pertanian, Khutanan, dan Perikanan

terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha

Sumber : BPS Kota Langsa

Subkategori perikanan merupakan penyumbang terbesar

terhadap kategori ini sebesar 3,75%. Nilai PDRB perikanan pada

tahun 2011 adalah sebesar 105.07 miliar rupiah dan nilainya terus

meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 129,80 miliar rupiah

pada tahun 2015. Pada subkategori pertanian, golongan perkebunan

tahunan merupakan penyumbang terbesar terhadap kategori

pertanian yaitu tercatat sebesar 3,09% dari seluruh nilai tambah

pertanian. Terdapat dua perusahaan kelapa sawit yang cukup besar di

Kota Langsa, diantaranya adalah PT Perkebunan Nusantara I (PTPN

I) Persero dan PT Timbang Langsa.

Sejalan dengan kontribusi kategori pertanian, kehutanan,

dan perikanan yang terus menurun dari tahun ke tahun, laju

pertumbuhan kategori ini juga mengalami pertumbuhan yang serupa.

Pada tahun 2014, laju pertumbuhannya melambat sebesar 0,40% dan

naik tipis menjadi 1,93% pada tahun 2015. Golongan tanaman pangan

pada

subkategori

pertanian

mengalami

penurunan

laju

pertumbuhanan yang sangat signifikan akibat cuaca buruk karena

kemarau dan banjir di tahun tersebut. Ditambah lagi dengan penyakit

yang menimpa tanaman padi menyebabkan produksinya menurun

8

8,2

8,4

8,6

8,8

9

9,2

9,4

9,6

9,8

2011

2012

2013

2014

2015

9.62

9.38

9.15

8.79

8.62

(25)

Peranan Kategori Pertanian, Kehutanan, dan PerikananTerhadap

PDRB ADHB (Persen), 2011-2015

Uraian

2011

2012

2013

2014

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan

9.62

9.38

9.15

8.79

8.62

1. Pertanian, Peternakan,

Perburuan dan Jasa

Pertanian

5.60

5.50

5.42

5.25

5.07

2. Kehutanan dan

Penebangan Kayu

0.27

0.26

0.25

0.24

0.23

3. Perikanan

3.75

3.62

3.49

3.30

3.32

Sumber : BPS Kota Langsa

Laju Pertumbuhan Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha

Uraian

2011

2012

2013

2014

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan

2.21

3.08

3.19

0.40

1.93

1. Pertanian, Peternakan,

Perburuan dan Jasa

Pertanian

2.92

2.95

3.31

1.32

2.13

2. Kehutanan dan

Penebangan Kayu

1.25

1.75

2.67

0.36

0.55

3. Perikanan

1.25

3.37

3.06

-0.96

1.73

Sumber : BPS Kota Langsa

2. Pertambangan dan Penggalian

Pada Kategori Pertambangan dan Penggalian, subkategori

yang berkontribusi dalam perekonomian Kota Langsa hanya

penggalian yang terdapat di Desa Pondok Keumuning dan Desa

Sukajadi Makmur. Kontribusi penggalian pasir yang dihasilkan

jumlahnya sangat kecil hanya sebesar 0,44% pada tahun 2015.

Kontribusi yang dihasilkan dari kategori pertambangan dan

penggalian dari tahun ke tahun bersifat stagnan dan cenderung

(26)

mengalami tren yang menurun terutama pada tahun 2015. Hal ini

disebabkan karena titik-titik lokasi penggalian pasir jumlahnya

semakin berkurang. Beberapa diantaranya sudah berkurang kadar

pasirnya sehingga tidak dapat dilakukan penggalian lagi. Hal inilah

yang menyebabkan produksi pasir menurun. Selain itu, penggalian

pasir masih menggunakan peralatan yang sangat sederhana dan

proses penggalian cenderung kurang maksimal.

Sementara itu, laju pertumbuhan pada kategori

pertambangan dan penggalian cenderung berfluktuasi. Pada tahun

2015, laju pertumbuhan turun drastis menjadi -3,56%. Besarnya

peranan dan laju pertumbuhan yang dihasilkan oleh kategori

pertambangan dan penggalian dapat dilihat pada gambar di bawah

ini :

Peranan Kategori Pertambangan dan Penggalian Terhadap PDRB

ADHB Lapangan Usaha (Persen), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

2011

2012

2013

2014

2015

0.58

0.54

0.55

0.51

0.44

(27)

Laju Pertumbuhan Kategori Pertambangan dan Penggalian Terhadap

PDRB ADHK Lapangan Usaha (Persen), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

3.

Industri Pengolahan

Kategori Industri Pengolahan meliputi kegiatan ekonomi di

bidang perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau

komponen menjadi produk baru. Bahan baku industri pengolahan

berasal dari produk pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan

atau penggalian seperti produk dari kegiatan industri pengolahan

lainnya Perubahan, pembaharuan atau rekonstruksi yang pokok dari

barang secara umum diperlakukan sebagai industri pengolahan. Unit

industri pengolahan digambarkan sebagai pabrik, mesin atau

peralatan yang khusus digerakkan dengan mesin dan tangan.

Termasuk kategori industri pengolahan adalah perubahan bahan

menjadi produk baru dengan menggunakan tangan, kegiatan maklon

atau kegiatan penjualan produk yang dibuat di tempat yang sama

dimana produk tersebut dijual dan unit yang melakukan pengolahan

bahan-bahan dari pihak lain atas dasar kontrak.

-4

-3

-2

-1

0

1

2

3

4

2011

2012

2013

2014

2015

1.09

2.26

2.89

-3.56

2.27

(28)

Peranan Kategori Industri Pengolahan Terhadap

PDRB ADHB Lapangan Usaha (Persen), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Beberapa subkategori industri pengolahan yang dominan di

Kota Langsa adalah Industri Makanan Minuman dan Industri Kimia,

Farmasi, dan Obat Tradisional. Untuk Industri Makanan dan

Minuman beberapa diantaranya yaitu Industri Kecap Aneka Guna,

Industri Terasi, Industri Keripik Ubi, dan lain sebagainya. Sementara

itu, satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang industri kimia,

farmasi, dan obat tradisonal yaitu PT AICA MUGI yang berlokasi di

Kecamatan Langsa Baro.

Peranan dan Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Makanan dan

Minuman Terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha (Persen),

2011-2015

Tahun

Kontribusi (%)

Laju Pertumbuhan (%)

(1)

(2)

(3)

2011

4.83

4.25

2012

4.98

4.35

2013

5.07

3.64

2014

5.08

2.38

2015

5.03

2.35

9,6

9,7

9,8

9,9

10

10,1

10,2

10,3

2011

2012

2013

2014

2015

10,22

9,87

10,11

10,20

10,04

(29)

Industri Pengolahan di Kota Langsa memiliki kontribusi yang

menurun terutama dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Mulai

tahun 2012, kontribusi dan dihasilkan industri pengolahan terhadap

PDRB Kota Langsa semakin menurun hingga tahun 2015 yang hanya

sebesar 9,87%. Hal ini bias menjadi masukan bagi pemerintah,

pelaku usaha, dan masyarakat dalam menanggapi fenomena tersebut.

Industri Pengolahan di Kota Langsa perlu dibenahi agar dapat

berkembang dan berkontribusi dalam perekonomian yang mampu

menyejahterakan kehidupan masyarakat Kota Langsa.

4.

Pengadaan Listrik dan Gas

Selain sebagai kategori penunjang kegiatan ekonomi dan

infrastruktur yang mendorong aktivitas produksi, kategori listrik dan

gas juga berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan

menggunakan metode baru, penghitungan PDRB saat ini mencakup

subkategori yang menghasilkan gas alam, gas buatan, uap/air panas,

udara dingin, dan produksi es. Kegiatan pengadaan uap/air panas,

udara dingin, dan produksi es mencakup kegiatan produksi,

pengumpulan dan pendistribusian uap dan air panas untuk pemanas,

energy dan tujuan lain, produksi dan distribusi pendinginan udara,

pendinginan air untuk tujuan pendinginan dan produksi es, termasuk

es untuk kebutuhan makanan/minuman dan tujuan non makanan.

Sumbangan nilai tambah kategori pengadaan listrik dan gas dalam

pembentukan nilai tambah perekonomian Kota Langsa secara

keseluruhan termasuk yang paling rendah dibanding dengan kategori

lain. Kontribusi yang dihasilkan kategori ini relatif stagnan dan

memiliki tren yang cenderung menurun.

(30)

4

4,2

4,4

4,6

4,8

5

5,2

5,4

2011

2012

2013

2014

2015

4,69

5,23

4.99

4,78

4,47

Peranan Kategori Pengadaan Listrik dan Gas Terhadap PDRB ADHB

Lapangan Usaha (Persen), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Secara nominal, kategori pengadaan listrik dan gas pada

PDRB Lapangan Usaha selalu meningkat sepanjang tahun. Pada

tahun 2011, peranan kategori pengadaan listrik dan gas sebesar 0,16%

terhadap PDRB Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku. Nilai

yang stagnan terus berlanjut selama kurun waktu 2011-2015.

Meskipun terjadi penurunan tipis dimana peranan yang dihasilkan

kategori pengadaan listrik turun sebesar 0,01%, namun kontribusi

terhadap perekonomian tergolong stabil.

Sementara itu, laju pertumbuhan kategori pengadaan

listrik dan gas cenderung fluktuatif. Pada tahun 2011 kategori ini

tumbuh sebesar 2,95% dan pada tahun 2012 tumbuh lebih cepat

menjadi 4,35%. Namun sejak tahun 2013 hingga tahun 2015, laju

pertumbuhan kategori listrik dan gas mengalami tren yang melambat

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Seperti yang terlihat pada

gambar di atas, pada tahun 2013 laju pertumbuhan kategori

pengadaan listrik dan gas melambat sebesar 1,08%. Hal yang serupa

juga terjadi pada tahun 2014 dengan laju pertumbuhan yang

melambat sebesar 1,17% dan 1,23% pada tahun 2015.

(31)

Laju Pertumbuhan Kategori Pengadaan Listrik dan Gas Terhadap

PDRB ADHK Lapangan Usaha (Persen), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

5.

Pengadaan air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur

Ulang

Kategori ini mencakup kegiatan ekonomi pengumpulan,

pengolahan dan penditribusian air melalui berbagai saluran pipa

untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. Termasuk juga kegiatan

pengumpulan, penjernihan dan pengolahan air dan sungai, danau,

mata air, hujan dll. Tidak termasuk pengoperasian peralatan irigasi

untuk keperluan pertanian. Peranan kategori ini terhadap

perekonomian Kota Langsa selama tahun 2011-2015 relatif stagnan

dan cenderung mengalami tren yang meningkat meskipun

peningkatannya sangat kecil yaitu sebesar 0,001% - 0,002% per

tahun. Sementara itu, laju pertumbuhan kategori pengadaan air,

pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang cenderung berfluktuasi.

Pada tahun 2011 kategori ini tumbuh sebesar 5.54% dan pada tahun

2012 tumbuh lebih cepat menjadi 6.47%. Namun sejak tahun 2013

dan 2014, laju pertumbuhan kategori pengadaan air, pengelolaan

sampah, limbah dan daur ulang mengalami tren yang melambat

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Seperti yang terlihat pada

0

0,5

1

1,5

2

2,5

3

3,5

4

4,5

5

2011

2012

2013

2014

2015

2.95

1.23

1.17

1.08

4.35

(32)

listrik dan gas melambat sebesar 4.47% dan kembali melambat

sebesar 4,05% di tahun 2014. Namun demikian, mulai ada

pergerakan ke arah yang lebih baik pada kategori pengadaan air,

pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang di tahun 2015 dengan

laju pertumbuhan sebesar 4,18%.

Nilai Kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur

Ulang Terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha (juta Rp), 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Laju Pertumbuhan Kategori Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang Terhadap PDRB ADHK Lapangan Usaha

(persen), 2011-2015

0

500

1000

1500

2000

2011

2012

2013

2014

2015

1324

1898

1747

1613

1488

0

1

2

3

4

5

6

7

2011

2012

2013

2014

2015

5.54

4.18

4.05

4.47

6.47

(33)

6.

Kontruksi

Kategori Konstruksi adalah kegiatan usaha di bidang

konstruksi umum dan konstruksi khusus pekerjaan gedung dan

bangunan sipil, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana

kegiatan lainnya. Kegiatan konstruksi mencakup pekerjaan baru,

perbaikan, penambahan dan perubahan, pendirian prafabrikasi

bangunan atau struktur di lokasi proyek dan juga konstruksi yang

bersifat sementara. Kegiatan konstruksi dilakukan baik oleh

kontraktor umum, yaitu perusahaan yang melakukan pekerjaan

konstruksi untuk pihak lain, maupun oleh kontraktor khusus, yaitu

unit usaha atau individu yang melakukan kegiatan konstruksi untuk

dipakai sendiri.

Kontribusi kategori ini terhadap perekonomian Kota

Langsa selama tahun 2011-2015 mengalami tren yang meningkat

secara nominal sepanjang tahun. Pada tahun 2015 kategori

konstruksi berkontribusi sebesar 9,11% terhadap nilai total PDRB

dengan nilai sebesar 356,32 miliar rupiah. Pembangunan di Kota

Langsa cukup pesat perkembangannya seiring dengan perekonomian

saat ini. Mengingat masih banyaknya kebutuhan fasilitas publik,

maka kategori ini diperkirakan akan terus tumbuh.

Peranan Kategori Konstruksi Terhadap PDRB ADHB Lapangan

Usaha, 2011-2015

0

50

100

150

200

250

300

350

400

265.14

356.32

330.30

303.90

281.34

(34)

Laju Pertumbuhan Kategori Konstruksi Terhadap PDRB ADHK

Lapangan Usaha,2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

7.

Perdagangan Besar / Eceran, Reparasi Mobil dan

Sepeda Motor

Peranan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi

mobil, dan sepeda motor berpengaruh langsung dalam mempercepat

kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa.

Sebagai wilayah perkotaan, perekonomian Kota Langsa bertumpu

pada kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan

motor. Kontribusi kategori ini terhadap pembentukan PDRB Kota

Langsa menempati urutan pertama diantara kategori-kategori

lainnya. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah, peranan

kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda

motor pada tahun 2011 mencapai 28,57% terhadap nilai total PDRB.

Peranan yang dihasilkan terus meningkat dari tahun ke tahun hingga

mencapai 29,84% pada tahun 2015.

Laju pertumbuhan kategori perdagangan besar dan eceran,

reparasi mobil, dan sepeda motor selama kurun waktu 2011-2015

0

0,5

1

1,5

2

2,5

3

3,5

4

4,5

2011

2012

2013

2014

2015

3.27

3.87

4.17

3.95

3.89

(35)

terjadi pada tahun 2011 dengan laju pertumbuhan sebesar 5,12%

hingga mencapai 5,58% pada tahun 2015. Secara nominal, nilai yang

diperoleh dari kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil

dan sepeda motor mencapai 1,17 triliun rupiah pada tahun 2015.

Sebagai kategori yang memiliki kontribusi terbesar dalam

perekonomian di Kota Langsa, maka sudah sepatutnya bagi semua

pihak baik pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat turut

berpartisipasi untuk memajukan perekonomian Kota Langsa menjadi

lebih baik.

Peranan Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil,

dan Sepeda Motor Terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Laju Pertumbuhan Kategori Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil, dan Sepeda Motor Terhadap PDRB ADHK Lapangan Usaha

2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

27,8

28

28,2

28,4

28,6

28,8

29

29,2

29,4

29,6

29,8

30

2011

2012

2013

2014

2015

29.84

28.57

28.98

29.14

29.49

4,8

4,9

5

5,1

5,2

5,3

5,4

5,5

5,6

5,7

2011

2012

2013

2014

2015

5.12

5.58

5.55

5.45

5.39

(36)

8.

Transportasi dan Pergudangan

Kategori ini mencakup penyediaan angkutan penumpang

atau barang, baik yang berjadwal maupun tidak, dengan

menggunakan rel, saluran pipa, jalan darat, air atau udara dan

kegiatan yang berhubungan dengan pengangkutan.

Peranan Kategori Transportasi, Pergudangan, dan Jasa Penunjang

Angkutan (Pos dan Kurir) Terhadap PDRB ADHB (Persen) 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Secara keseluruhan, nilai nominal kategori transportasi dan

pergudangan terhadap PDRB Kota Langsa selalu meningkat

sepanjang tahun. Hal ini dapat terlihat dalam kurun waktu 2011-2015

pada grafik di atas yang mencapai 364,99 miliar pada tahun 2015.

Jika dibandingkan dengan nilai yang diperoleh pada tahun 2011,

terjadi peningkatan sebanyak 112 miliar rupiah dalam kurun lima

tahun terakhir. Dibandingkan dengan kategori lain pada PDRB

menurut lapangan usaha, kategori transportasi, pergudangan, dan

0

50

100

150

200

250

300

350

400

2011

2012

2013

2014

2015

364.99

252.99

271.16

299.70

333.08

(37)

jasa penunjang angkutan (pos dan kurir) termasuk salah satu kategori

yang berpengaruh dan berkontribusi tinggi dalam perekonomian

Kota Langsa.

Sebagai kota transit jalur lintas Sumatera yang

menghubungkan Kota Banda Aceh dengan Kota Medan, menjadikan

Kota Langsa banyak dilalui oleh bis dan berbagai jenis moda

transportasi darat lainnya. Hal ini mendorong adanya peningkatan

pendapatan yang dihasilkan oleh subkategori transportasi. Selain itu,

maraknya jual beli online juga mendorong aktivitas jasa angkutan

(pos dan kurir) dalam beberapa tahun terakhir.

Laju Pertumbuhan kategori Transportasi, Pergudangan, dan Jasa

Penunjang Angkutan (Pos dan Kurir) Terhadap PDRB ADHK (Persen)

2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

0

1

2

3

4

5

6

7

2011

2012

2013

2014

2015

4.07

6.46

6.40

5.93

5.73

(38)

9.

Penyediaan Akomodasi dan makan Minum

Kegiatan subkategori ini mencakup pelayanan makan

minum yang menyediakan makanan atau minuman untuk

dikonsumsi segera, baik restoran tradisional, restoran self service

atau restoran take away, baik di tempat tetap maupun sementara

dengan atau tanpa tempat duduk. Yang dimaksud penyediaan

makanan dan minuman adalah penyediaan makanan dan minuman

untuk dikonsumsi segera berdasarkan pemesanan.

Sebagai salah satu kota yang terletak di wilayah pesisir

timur, Kota Langsa menjadi tempat persinggahan pada jalur lintas

Sumatera yang menghubungkan Kota Banda Aceh dengan Kota

Medan. Pada musim liburan, jasa penyediaan akomodasi di Kota

Langsa dipenuhi para tamu yang berasal dari luar wilayah Kota

Langsa yang singgah sejenak dalam melakukan perjalanan. Selain itu,

berbagai macam event yang diselenggarakan oleh instansi

pemerintah,

swasta,

maupun

organisasi

masyarakat

juga

menggunakan jasa akomodasi berupa hotel untuk mengadakan

seminar, pelatihan, rapat, pertemuan dan lain sebagainya.

Berdasarkan gambar di bawah ini, kategori penyediaan

akomodasi dan makan minum memberikan kontribusi sebesar 83,29

miliar rupiah pada tahun 2015. Nilai tersebut cenderung meningkat

dalam kurun waktu lima tahun terakhir mulai tahun 2011. Jika dirinci

lebih lanjut, kategori penyediaan akomodasi dan penyedia makanan

dan minuman mengalami peningkatan sebanyak 29,11 miliar rupiah

dalam lima tahun terakhir.

(39)

Peranan Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Terhadap PDRB ADHB Lapangan Usaha (Persen) 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Laju Pertumbuhan Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum Terhadap PDRB ADHK (Persen) 2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

Sementara itu, laju pertumbuhan kategori penyediaan

akomodasi makan dan minum terhadap PDRB cenderung

berfluktuasi dalam kurun waktu 2011-2015. Hal ini dapat terlihat

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

2011

2012

2013

2014

2015

54.18

59.44

65.93

73.73

83.29

0

1

2

3

4

5

6

7

8

2011

2012

2013

2014

2015

4.35

6.66

6.24

6.70

6.75

(40)

dan makan minum sebesar 4,35% dan nilainya mengalami

peningkatan pada tahun 2012 menjadi 6,66% dan tumbuh melambat

di tahun 2013 sebesarr 6,24%. Pada tahun 2014 laju pertumbuhan

kategori penyediaan akomodasi makan dan minum kembali

meningkat menjadi 6,70% dan kembali meningkat pada tahun 2015

sebesar 6,75%.

10. Informasi dan Komunikasi

Kategori ini mencakup produksi dan distribusi informasi

dan produk kebudayaan, persediaan alat untuk mengirimkan atau

mendistribusikan produk-produk ini dan juga data atau kegiatan

komunikasi, informasi, teknologi informasi dan pengolahan data

serta kegiatan jasa informasi lainnya. Kategori informasi dan

komunikasi memiliki peranan sebagai penunjang aktivitas di setiap

bidang ekonomi. Dalam era globalisasi, peranan kategori ini sangat

vital dan menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, terutama jasa

telekomunikasi.

Peranan Kategori Informasi dan Komunikasi Terhadap PDRB ADHB

2011-2015

Sumber : BPS Kota Langsa

5,5

5,6

5,7

5,8

5,9

6

6,1

6,2

6,3

2011

2012

2013

2014

2015

5.77

5.87

5.99

6.10

6.24

Gambar

Tabel Laju Implisit (Inflasi) Kota Langsa 2013-2015

Referensi

Dokumen terkait

Bimbingan Karier dengan Teknik Modeling untuk Mengembangkan Kematangan Karier Peserta Didik (Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 6

Dalam konstruksi silogisme deduksi sebagaimana digunakan dalam kajian hukum bermoral keadilan ini, asas-asas atau postulat-postulat moral yang dipungut dari hasil kontemplasi

menyusun rencana kegiatan dibidang tugasnya berdasarkan rencana dan kebutuhan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas dinas sesuai dengan ketentuan

Alarm management lifecycle (AMLC) atau siklus manajemen alarm, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan demi

Berdasarkan dari persepsi yang diberikan para konsumen terhadap harga menunjukkan bahwa mengenai harga sepeda motor merek Yamaha V-ixion terjangkau daya beli

Untuk menunjukkan peubahan persona dan jender digunakan prefiks, sedangkan untuk perubahan pada jumlah digunakan sufiks.dapat disimpulkan bahwa dalam verba Imperfect 3

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model Pembelajaran biologi berbasis Praktikum Virtual untuk membangun karakter bangsa. Karakter bangsa yang diukur meliputi komponen

Bertugas untuk melakukan pembelian barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan, mulai dari bahan baku, spareparts mesin, ATK, dan jasa-jasa dari pihak