• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 1. Permasalahan

Setiap daerah mempunyai tradisi dan budaya masing-masing, mempunyai ciri khas yang berbeda dan unik. Pengertian budaya salah satunya adalah sebuah sistem yang mempunyai tata kehidupan manusia dan melihat realitas masyarakat dari sudut pandang individu untuk saling menghormati dengan perbedaan agama, etnik, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian tradisional, musik, dan kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakat. Setiap masyarakat sangat senang untuk melaksanakan atau menyaksikan tradisi masing-masing. Tradisi atau budaya itu seperti upacara daerah misalnya Grebeg Maulud atau Grebeg Sekaten. Grebeg Maulud merupakan salah satu tradisi dan budaya masyarakat Jawa dan masyarakat Muslim pendatang pertama di Jawa (para wali) yang dikonstruksi pada masa sebelum kemerdekaan, sebagai media komunikasi antara pemimpin dengan rakyat, sebagaimana tampak dalam beberapa prosesi yang dilaksanakan (Nurlaili, 2009:3).

Kata gerebeg, grebeg, gerbeg, dalam bahasa Jawa bermakna; suara angin menderu. Suatu prosesi yang diiringi atau diantar oleh orang banyak. Upacara Grebeg di Keraton Surakarta dalam satu tahun dilaksanakan tiga kali dalam

(2)

setahun yaitu : Grebeg Maulud, Grebeg Syawal, Grebeg Besar (Soelarto, 1993: 9).

Grebeg Maulud adalah upacara adat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw (pada bulan Rabi’ulawal). Grebeg Maulud sering dikatakan oleh masyarakat dengan julukan sekaten yang sebenarnya dalam bahasa Arab yaitu syahadatein. Pelaksanaan upacara Grebeg tempo dulu yang dimulai sejak dasawarsa ketujuh abad ini, berawal dari sebuah penyakit yang membutuhkan hewan kurban. Perayaan tersebut sebenarnya untuk menghilangkan wabah penyakit yang meresahkan masyarakat dan kerajaan. Perayaan akhirnya dilakukan setiap tahun, dalam penyelenggaraannya dari tahun ke tahun semakin semarak dengan tetap mempertahankan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Pelaksanaan upacara Grebeg Maulud dipimpin oleh Pengagen Panarauitan yang merupakan utusan dari Keraton (Nurlaili, 2009:11).

Prosesi Grebeg Maulud diawali dengan meletakkan gamelan dari Keraton ke masjid agung Surakarta, dilakukan pada 5 Rabiul’awal atau lima hari sebelum upacara, prosesi ini merupakan sekaten atau syahadatein. Pada malamnya diadakan wayangan dan dilanjutkan upacara Grebeg Maulud pada saat 12 Rabiul’awal, arak-arakan dari Keraton ke Masjid Agung.

Prosesi ini bukan hanya sekedar perayaan tetapi dalam pelaksanaan tertentu memperhatikan keseimbangan alam. Masyarakat memiliki kepercayaan tertentu, yang berhubungan dengan supranatural, masyarakat tidak menyadari makna apa yang ada di balik kepercayaan itu. Sekalipun kepercayaan itu sepintas lalu bersifat takhyul dan tidak masuk akal, namun apabila direnungkan ternyata

(3)

memiliki tujuan tertentu, yang tidak disadari oleh kebanyakan orang, misalnya kepercayaan orang Jawa yang tabu ketika menebang pohon besar di dekat kuburan, memperlakukan barang atau sesuatu pusaka (keris dan tombak dengan diperlakukan tidak sewajarnya). Masyarakat percaya adanya kekuatan gaib yang mencelakakan apabila larangan itu dilanggar, sehingga seringkali memberikan sesaji, membakar kemenyan, menempatkan bunga (kembang setaman) dan sebagainya (Sunoto, 1983: 84-87).

Kepercayaan masyarakat Jawa dalam upacara Grebeg Maulud memiliki nilai-nilai. Nilai yang terkandung dalam upacara Grebeg Maulud ini mempunyai nilai kepercayaan adanya kekuasaan di luar kemampuan-kemampuan manusia atau kekuatan supranatural, yaitu kekuasan Tuhan yang beranggapan mampu memberi perlindungan kepada Raja, kerajaan dan masyarakat. Kepercayaan yang diyakini itu dipercayai oleh masyarakatnya. Nilai kepercayaan itu sangat melekat pada masyarakat yang masih kental dengan hal mitis. Kepercayaan masyarakat Surakarta ini juga memiliki keyakinan atau kepercayaan tersebut (Nurlaili, 2009: 50).

Upacara Grebeg Maulud ini sangat bersangkutan dengan nilai-nilai filosofisnya, karena sangat berkaitan dengan sejarah. Salah satu tokoh filsafat yang membahas tentang tingkatan nilai yang bersangkutan dengan nilai religius adalah Max Scheler. Tingkatan nilai Max Scheler terdapat hierarki nilai, tingkatan yang teratas dalam hierarki nilai adalah nilai religius yang mempunyai reaksi khusus terhadap keyakinan, pemujaan, dan penyembahan (Frondizi, 2001: 139).

(4)

Penelitian ini dilakukan dengan menggali kajian nilai pada Grebeg Maulud Keraton di Surakarta. Peneliti ingin memaparkan nilai-nilai yang ada pada Grebeg Maulud yang ada di Keraton Surakarta. Alasan penulis memilih upacara Grebeg Maulud sebagai sebuah penelitian karena ketertarikan penulis pada budaya daerah yang ada di Indonesia. Upacara perayaan Grebeg Maulud ini memang terdapat nilai filosofisnya, akan tetapi penulis ingin mengkaji lebih dalam dengan menggunakan hierarki nilai Max Scheler. Masyarakat beranggapan bahwa Grebeg Maulud merupakan salah satu tradisi lama yang sampai sekanga masih ada di Surakarta.

1. Rumusan Masalah.

Penulis membuat rumusan masalah berdasarkan paparan latar belakang di atas maka, sebagai berikut :

a. Bagaimana sejarah tradisi dan prosesi Grebeg Maulud keraton Surakarta? b. Bagaimana ragam nilai dalam filsafat nilai menurut Max Scheler?

c. Apa nilai-nilai yang terkandung di dalam memperingati upacara Grebeg Maulud keraton Surakarta?

2. Keaslian penelitian.

Sejauh pengamatan yang dilakukan peneliti belum pernah ditemukan tulisan, jurnal, skripsi atau buku-buku yang membahas secara terperinci mengenai penelitian Upacara Grebeg Maulud Keraton Surakarta yang ditinjau dari filsafat nilai yang fokus pada hierarki nilai Max Scheler. Sejauh ini penelusuran yang terkait dengan penelitian ini, terdapat beberapa penelitian yang berhubungan

(5)

dengan Upacara Gerebeg Maulud Keraton Surakarta. Tulisan atau buku yang pernah membahas tentang Grebeg Maulud Keraton Surakarta, adalah:

a. Sri Hartono. 1985. Unsur-unsur Kefilsafatan Sosial dalam Upacara Adat Grebeg Sekaten di Surakarta. Skripsi. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Skripsi ini menjelaskan tentang grebeg maulud Surakarta dengan unsur kefilsafatan sosial dan nilai-nilai sosial.

b. Arif Musriman. 1991. Nilai-nilai Religius dalam Upacara Sekaten di Kasultanan Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Skripsi ini membahas tentang nilai religuis yang ada dalam upacara Sekaten di Yogyakarta.

c. B. Soelarto. 1993. Garebeg Di Kesultanan Yogyakarta. Penerbit Kanisus. Yogyakarta. Buku ini menjelaskan tentang hakikat perayaan Gerebeg dan penyelenggaraan upacara tradisi di keraton Yogyakarta.

d. Budiasih. 1996. Nilai-nilai Religius dalam Upacara Sekaten di Kasunanan Surakarta. Skripsi. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Skripsi ini membahas tentang nilai religius yang ada dalam upacara Sekaten di Surakarta.

e. Sri Juari Santoso. 2002 . Suara Nurani Keraton Kasunanan Surakarta: Peranan Keraton Surakarta dalam Mendukung dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indionesia. Komunitas Studi Dialektika. Yogyakarta. Buku ini membahas tentang peranan keraton yang mempertahankan dan mendukung kesatuan RI.

(6)

f. Danang Kismawan. 2007. Pergeseran Pemahaman Masyarakat Tentang Makna Simbol Upacara Sekaten di Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Skripsi ini memaparkan tentang pergeseran pemahaman masyarakat mengenai tradisi sekaten yang dilihat dari filsafat kebudayaannya.

g. Siti Nurlaili Muhadiyaningsih. 2009. Dimensi Mistik Tradisi Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta. Maseifa Jendela Ilmu. Kudus. Buku ini membahas tentang dimensi metafisik yang menjadi kajian utama dikupas secara luas dan lugas.

3. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat: 1. Bagi ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang budaya karena tradisi upacara Grebeg Maulud ini dapat berjalan sampai kapanpun dan tidak mengalami kepunahan akibat perkembangan zaman.

2. Bagi filsafat.

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pustaka tentang tradisi upacara Grebeg Maulud di Surakarta yang dikaji dari filsafat, terutama dalam cabang filsafat yaitu filsafat nilai dengan perkembangan zaman dan mengingat tradisi ini merupakan salah satu kekayaan budaya Jawa.

(7)

3. Bagi masyarakat dan bangsa Indonesia

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang baru kepada masyarakat Surakarta dan sekitarnya agar bisa melestarikan tradisi budaya ini walaupun zamannya sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat di kota Surakarta.

A. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan yang ada pada rumusan masalah, yaitu :

1. Memaparkan sejarah tradisi dan prosesi Upacara Grebeg Maulud Keraton Surakarta

2. Memaparkan ragam nilai yang terdapat di dalam filsafat nilai menurut Max Scheler.

3. Menjelaskan dan menganalisis nilai-nilai yang terkandung di dalam memperingati upacara Grebeg Maulud Keraton Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka

Kerajaan Mataram, setelah perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, dipecah menjadi empat yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, Keraton Kasultanan, dan Kadipaten Pakualaman. Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan yang mendapatkan hak otonomi untuk melestarikan birokrasi pemerintahan tradisionalnya dalam wilayah yang dipersempit dengan pengawasan ketat pemerintahan Hindia-Belanda. Raja Surakarta bergelar Sunan, sedangkan Raja Yogyakarta bergelar Sultan. Kedua kerajaan itu, sekalipun di

(8)

bawah kedaulatan pemerintahan kolonial Belanda, tetap mempunyai pemerintahan sendiri (Wahyu, 2007: 1).

Keraton Kasunanan adalah salah satu penerus Kerajaan Mataram berpusat di pemerintahan yaitu Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangku-negara dan Pura Pakualaman. Pada masa penjajahan Belanda, Keraton Surakarta tidak pernah benar-benar dijajah oleh Belanda. Keraton Kasunanan Surakarta tidak pernah kalah perang melawan Belanda. Keraton Kasunanan Surakarta masih berhak memakai bendera merah putih dan lambang padi kapas, yang pada waktu itu merupakan bendera dan lambang Keraton Kasunanan Surakarta (Nurlaili, 2009:5).

Kemegahan arsitektural, Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua Keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya (Soelarto, 1993: 18).

Sejarah Grebeg pertama kali di artikan suatu prosesi yang diiringi atau diantar oleh orang banyak. Ada sejarah lisan yang mewartakan bahwa dahulu kala para raja Jawa selalu mewartakan bahwa dahulu kala para raja Jawa selalu

(9)

menyelenggarakan keselamatan kerajaan setiap tahun baru yang disebut rojowedo atau hewan kurban raja (Soelarto, 1993: 9).

Tradisi Keraton Surakarta, dalam satu tahun melangsungkan tiga kali upacara yang berhubungan dengan agama Islam, disebut Grebeg. Tiga macam upacara Grebeg tersebut adalah Grebeg Poso (Puasa) dilaksanakan pada setiap 1 Syawwal (untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri), Grebeg Besar dilaksanakan tanggal 10 Dzu al-Hijjah (untuk merayakan Hari Raya ‘Idul Adha atau Haji), Grebeg Maulud dilaksanakan setiap 12 Rabi’ul Awal (untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad saw) (Nurlaili, 2009: 10).

Keraton dalam sejarahnya pernah ada tradisi upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (maulud dalam bahasa Arab) nabi Muhammad saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awal dan di kalender Jawa Islam, bulan Rabi’ul Awal dalam bulan Maulud. Tradisi memperingati lahir Nabi Muhammad saw, merupakan tradisi yang baru tumbuh setelah agama Islam berkembang luas ke negara-negara lain di luar jazirah Arab.

Penelitian yang hampir sama dengan yang akan dilakukan oleh peneliti yakni tentang wacana “upacara gerbeg sekaten” dilakukan oleh Sri Hartono, tahun 1985, berjudul : Unsur-unsur Kefilsafatan Sosial dalam Upacara Adat Grebeg Sekaten Di Surakarta. Grebeg Sekaten yang dilangsungkan sampai sekarang ini merupakan suatu upacara adat atau tradisi yang bersifat keagamaan yang berdiri semenjak kerajaan Demak. Grebeg Sekaten muncul sebagai jawaban sosial atau sebagai suatu strategi para wali untuk merubah kebiasaan masyarakat Jawa yang sebelumnya telah berpengaruh kuat agama serta kebudayaan Hindu.

(10)

Perkembangan Grebeg Sekaten, yang memakai alat gamelan mendapat perhatian dari masyarakat, bahkan seni gamelan ini sangat berkembang pasat. Para ahli gamelan yang arif dan bijaksana menuangkan cetusan jiwanya melalui karya seninya lewat olah rasa gamelan dan mencerminkan nilai-nilai simbolis, yang bersifat edi-peni dan adi luhur. Grebeg ini mengalami sedikit pergeseran simbol yang ada di dalamnya. Pergeseran ini terjadi karena kaburnya pemahaman masyarakat tentang Grebeg Sekaten (Hartono, 1985: 91-99).

Penelitian Arif Musriman, tahun 1991, yang berjudul Nilai-nilai Religius dalam Upacara Sekaten di Kasultanan Yogyakarta, hasil yang diperoleh upacara sekaten dan grebeg sebagai tradisi melestarikan kebudayaan nasional, ciri khas Yogyakarta, yang mengandung unsur nilai religius. Upacara Sekaten merupakan perpaduan antara kegiatan dakwah dan kesenian, sebab peringkat gamelan dan gending-gendingnya mempuyai makna seni yang bernilai tinggi dan bersifat religius, sehingga sanggup menjadi daya tarik bagi masyarakat. Upacara Sekaten yang mengandung nilai religius karena segala perbuatan yang dilakukan olah manusia selalu mengharapkan keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan (Murisman, 1991: 91-99).

Penelitian Danang Kismawan, tahun 2007 yang berjudul Pergeseran Pemahaman Masyarakat Tentang Makna Simbol Upacara Sekaten di Yogyakarta, hasil yang di peroleh upacara sekaten merupakan upacara tradisi hasil perpaduan antara kebudayaan Jawa dan Islam. Berawal dari upacara sesajian dan permohonan keselamatan kepada nenek moyang. Upacara Sekaten dilaksanakan sejak kerajaan Majapahit. Semenjak kerajaan Demak berdiri,

(11)

upacara tersebut mulai diberi nafas Islam oleh Wali Songo dan menjadi media dakwah agama Islam. Upacara ini menjadi warisan budaya dan mengalami pergeseran makna, dikarenakan perbedaan generasi dalam pelaksaan upacara Sekaten di Yogyakarta setelah masa revolusi. Pasar malam diadakan sebagai media hiburan kepada masyarakat yang baru saja mengalami keadaan yang mencekam. Pasar malam kini merebut fungsi perubahan gamelan Sekati sebagai perkumpulan massa. Dulu upacara menjadi media dakwah sekarang ditingggalkan masyarakat dan pasar malam telah menggeser pemahaman tentang upacara Sekaten. Pergeseran pemahaman masyarakat tentang upacara Sekaten yang religius dan keharmonisan budaya menjadi hiburan saja (Kismawan, 2007: 113-116).

Secara garis besar penelitan tentang upacara Grebeg Maulud sudah ada dan banyak dibahas, akan tetapi penelitian yang sudah ada sebelumnya, belum ada yang mengkaji tentang upacara Grebeg Maulud yang dibahas dari sudut pandang filsafat nilai yang fokus pada kajian nilai Max Scheler. Kebanyakan penelitan yang ada itu lebih menekankan kepada nilai religiusitasnya saja.

C. Landasan Teori

Lorens Bagus (2002: 33) dalam Kamus Filsafat berpendapat bahwa “aksiologi merupakan analisis nilai-nilai. Maksud dari analisis ini membatasi arti ciri-ciri asal, tipe, kriteria, dan status epistemologis dari nilai-nilai itu. Secara etimologi aksiologi berasal dari bahasa Yunani “axios” (layak, pantas) dan “logos” (ilmu, studi mengenai) Aksiologi merupakan cabang filsafat yang

(12)

membahas persoalan-persoalan mengenai nilai (value) yang berkaitan dengan persoalan etis dan persoalan estetis.

Nilai menurut Frondizi dalam buku terjemahan bahwa merupakan tema baru dalam filsafat : aksiologi, cabang filsafat yang mempelajarinya, muncul untuk yang pertama kalinya pada paruh kedua abad ke-19. Seorang filsuf yang telah mengalami dan tahu tentang nilai adalah Plato, Plato telah membahasnya secara mendalam dalam karyanya, dan bahwa keindahan, kebaikan dan kekudusan merupakan tema yang penting bagi para pemikir sepanjang zaman (Cuk Ananta, 2001: 1-3).

Aksiologi merupakan cabang filsafat yang relatif baru, karena munculnya baru pada pertengahan abad ke-19. Penemuan cabang filsafat ini dipandang sebagai “the greatest philosophical achievement of the 19th century”. Permasalahan-permasalahan tentang filsafat nilai dibahas dari sudut pandang hakikat nilai.

Pendapat Max Scheler mengenai nilai bahwa suatu kualitas yang tidak tergantung pada pembawanya merupakan kualitas apriori (yang telah dapat dirasakan manusia tanpa melalui pengalaman indrawi terlebih dahului). Tidak tergantungnya kualitas tidak hanya pada objek yang ada di dunia ini, melainkan juga tidak tergantung pada reaksi terhadap kualitas tersebut (Wahana, 2004:51).

Salah satu ciri khas yang hakiki dari nilai adalah penampakannya dalam urutan hierarki. Hierarki nilai, ada empat, yaitu nilai kenikmatan dan nilai ketidaknikmatan, yang sesuai dengan afektif nikmat dan rasa sakit yang bersifat indrawi. Tingkatan kedua, nilai vital, tidak tergantung bagi kehidupan manusia.

(13)

Tingkatan ketiga, nilai spiritual dan tingkatan yang terakhir yaitu nilai religius, yang tidak dapat direduksi menjadi nilai spiritual (Wahana, 2004: 59).

Preferensi dan penerapan lima kriteria menjadi petunjuk urutan atau tabel hierarkis nilai Max Scheler, yaitu: tingkatan paling rendah adalah keabadian nilai (lamaya bertahan), ketidakmungkinan untuk dibagi, dasar (keuntungan relatif satu nilai dari nilai yang lainya), kedalaman kepuasan, dan relativitas (Frondizi, 1887: 134-140).

Hierarki ini bersifat mutlak atau absolut dan mengatasi segala perubahan historis, serta membangun suatu sistem acuan yang absolut dalam etika, yang merupakan dasar untuk mengukur dan menilai berbagai macam etos dan segala perubahan moral dalam sejarah (Wahana, 2004: 54).

D. Metode Penelitian 1. Model atau Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dalam bidang filsafat yaitu kepustakaan. Langkah yang paling utama dilakukan adalah pengumpulan buku-buku dan berbagai jenis kepustakaan yang terkait dengan tema penelitian. 2. Bahan atau Materi Penelitian

Bahan dan materi penelitian diperoleh dari pustaka yang membahas tentang Grebeg Maulud Keraton Surakarta dan filsafat nilai. Bahan ini dibagi menjadi dua, yaitu pustaka primer dan sekunder.

a. Pustaka Primer

Pustaka primer yang terkait dengan upacara Grebeg Maulud adalah sebagai berikut :

(14)

1. Siti Nurlaili Muhadiyaningsih. 2009. Dimensi Mistik Tradisi Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta. Penerbit Maseifa Jendela Ilmu. Kudus.

2. Soelarto, B. 1993. Garebeg Di Kesultanan Yogyakarta. Penerbit Kanisius.

b. Pustaka Sekunder

Pustaka Sekunder yang berkaitan dengan filsafat nilai, yaitu :

1. Risieri Frondizi. 1887. What is Value? diterjemahkan oleh Cuk Ananta Wijaya. 2001. Pengantar Filsafat Nilai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2. Paulus Wahana. 2004. Nilai Etika Aksiologi Max Scheler. Kanisius, Yogyakarta.

3. Menggunakan jurnal, artikel-artikel, tesis, skripsi, dan bahan-bahan lain yang berkaitan dengan peringatan Grebeg Maulud Keraton Surakarta dan filsafat nilai.

3. Jalannya Penelitian

Peneliti melakukan penelitian dengan langkah-langkah seperti berikut ini : a. Inventarisasi data

Pada tahapan pertama ini dilakukan upaya pengumpulan data kepustakaan sebanyak mungkin, baik secara konvensional maupun secara online. Data terkait dengan tema penelitian, baik itu berhubungan dengan filsafat nilai maupun Grebeg Maulud. Hal ini dimaksudkan mempermudah alur berfikir peneliti.

(15)

b. Klasifiksi data

Klasifikasi data dilakukan untuk mengumpulkan semua data dan bahan. Bahan yang di kumpulkan terdiri bahan primer dan bahan sekunder.

c. Analisis data

Tahap inti penelitian ini ialah menganalisis data sistematis yang telah dikumpulkan dan diklasifikasi dengan seksama.

d. Evaluasi kritis

Evaluasi kritis dilakukan pada tahap terakhir setelah kedua tahapan sebelumnya telah dilalui. Evaluasi kritis digunakan oleh peneliti untuk memberikan penerapan hasil yang lebih kritis secara berimbang dan objektif. 4. Analisis Hasil

Peneliti menggunakan metode hermeneutika filosofis. Analisis hasil dalam penelitian ini mengacu pada buku Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair (1994), adapun unsur-unsur metodis penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Interpretasi

Memberi pemahaman mengenai prosesi Upacara tradisi dengan perubahan zaman yang memiliki nilai tersendiri pada Grebeg Maulud Keraton Surakarta.

b. Deskripsi

Variabel-variabel permasalahan dalam penelitian ini dideskripsikan dengan jelas, dengan begitu akan mempermudah tahap berikutnya dan dapat menjelaskan tentang nilai-nilai dalam peringatan Grebeg Maulud Surakarta.

(16)

c. Koherensi intern

Unsur-unsur pemahaman yang ditemukan dalam Upacara Grebeg Maulud dengan hakikat nilai dan manusia, harus memiliki konsistensi bersama dalam suatu struktur dengan keselarasan. Sesuai dengan religiusitas dan historisitas dalam memperingati upacara Grebeg Maulud Keraton Surakarta.

d. Holistika

Untuk memahami konsep-konsep filsofis dalam upacara Grebeg Maulud, dan dapat melihat keseluruhan mengenai kehidupan manusia, alam sekitar dan Tuhan.

e. Hermeneutika

Data yang telah terkumpul terutama berkaitan dengan Upacara Grebeg Maulud, kemudian menunjukkan hal yang sesuai dan tidak sesuai dengan filsafat nilai Max Scheler yang memiliki dasar acuan dalam nilai yang ada di Upacara Grebeg Maulud.

E. Hasil Yang Telah Dicapai

Penelitian ini meraih pencapaian berupa hasil-hasil jawaban dari pertanyaan yang telah disampaikan dalam rumusan masalah sebelumnya, antara lain :

1. Deskripsi mengenai sejarah tradisi dan prosesi Grebeg Maulud keraton Surakarta

2. Deskripsi mengenai ragam nilai yang terdapat di dalam filsafat nilai menurut Max Scheler.

3. Analisis tentang nilai-nilai yang terkandung di dalam Grebeg Maulud Keraton Surakarta.

(17)

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dari penelitan yang berjudul Kajian Nilai Max Scheler dalam Upacara Grebeg Maulud Keraton Surakarta, ini terdiri dari lima bab, dengan perincian masing-masing sebagai berikut:

BAB I berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah dilakukan penelitian, rumusan masalah yang hendak dijawab, keaslian dari penelitian ini, manfaat dan tujuan dari penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian yang digunakan, hasil yang diperoleh, serta sistematika penulisan.

BAB II membahas tentang objek formal yaitu kajian filsafat nilai Max Scheler. Kajian ini meliputi pengertian filsafat nilai. riwayat hidup Max Scheler, teori tentang nilai yang akan mengupas pendekatan-pendekatan nilai dalam aksiologi, aktual dan potensi nilai, dan hierarki nilai dan kriteria tingkatan nilai.

BAB III membahas tentang objek material penelitian yaitu peringatan tradisi Grebeg Maulud keraton Surakarta yang dimulai dari sejarah, prosesi dan unsur yang terpenting.

BAB IV analisis kritis tentang Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta, dalam kehidupan masyarakat Surakarta.

BAB V penutup yang berisi kesimpulan dan saran penulis sebagai rujukan bagi penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat teoritis yang dihasilkan dari penelitian ini adalah agar dapat menambah wawasan dan menambah ilmu pengetahuan tentang pemikiran Sayyed Hussein Nasr

Disertasi ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu pendahuluan; kajian pustaka; metodologi penelitian; pemaparan struktur dan fungsi tradisi lisan besesombau, deskripsi data

Manfaat keilmuan diharapkan dari hasil penelitian ini terutama menambah khazanah pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal kekerasan seksual secara fisik

Desain penelitian ini adalah literature review atau tinjauan pustaka. Penelitian tinjauan pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data atau sumber terkait

Manfaat yang paling terasa dalam penelitian ini yaitu untuk menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan terutama dalam proses berpikir mengenai Analisis Busana Tari Wayang

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan guru untuk meningkatkan minat baca siswa, terutama dalam membaca intensif tajuk rencana dengan metode

Sukarno tentang nasionalisme Indonesia yang dalam perspektif aksiologi. atau filsafat nilai yang terkandung dalam suatu rumusan

Memberikan kontribusi di dalam menambah sumber pustaka (literature) khususnya pada Jurusan Pendidikan Seni Tari mengenai Tari Kejei pada masyarakat suku Rejang di