S
ELEKSI
A
NTAR
P
OPULASI
eleksi buatan terjadi ketika manusia memilih mengawinkan dari hewan tertentu dan bukan dari lainnya. Pilihan tersebut dapat dibuat antar populasi dan/atau dalam populasi. Pada seleksi antar populasi, penentuan sumber stok bibit yang sangat tepat atau progeny komersial menjadi sangat penting. Pada seleksi dalam populasi, itu membutuhkan upaya terus menerus untuk mengubah suatu populasi dengan mengawinkan hanya dari hewan-hewan yang berdasarkan beberapa criteria paling diharapkan dalam populasi itu. Pada kedua kasus tersebut, seleksi memanfaatkan variasi genetic.
S
Tujuan bab ini adalah mendiskusikan poin-poin utama yang terkait dengan seleksi antar populasi. Ini diikuti, pada Bab 16, oleh diskusi tentang seleksi dalam populasi.
Perbandingan Antar Populasi
Kebanyakan pemulia mempunyai bangsa dan galur kesukaannya, dan kebanyakan mempunyai alas an sendiri untuk preferensi tertentu. Jelas, bahwa preferensi pribadi sangat berbeda diantara para pemulia, bahkan diantara mereka terlibat dalam bisnis yang hampir sama pada area yang sama. Bukan hal sulit untuk menduga adanya situasi dimana bangsa atau galur yang sangat berbeda digunakan oleh pemulia yang berbeda untuk tujuan sama.
Dalam menentukan bangsa atau galur mana yang digunakan, pemulia melakukan seleksi antar populasi. Telah bertahun-tahun, jenis seleksi ini seringkali merupakan suatu proses yang sangat subjektif, karena pemulia tidak mempunyai informasi yang bermanfaat tentang nilai relatif dari berbagai populasi yang berbeda. Satu-satunya cara memperoleh informasi adalah melakukan perbandingan yang dirancang dengan baik dan besar
terhadap populasi yang berbeda, suatu pekerjaan yang tak seorang pemuliapun berharap ingin melaksanakan, karena waktu yang digunakan relatif lama, dan karena jumlah hewan yang digunakan sangat besar untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat. Akan tetapi, pemerintah, universitas, asosiasi bangsa ternak dan institusi besar lainnya kadang-kadang mempunyai sumber yang penting untuk perbandingan, dan organisasi seperti itu secara aktif terlibat dalam pekerjaan tersebut, baik dalam negaranya sendiri dan antar negara.
Rancangan Perbandingan
Menentukan rancangan terbaik untuk perbandingan merupakan masalah yang agak rumit, dan sebaiknya diambil hanya setelah berkonsultasi dengan orang-orang yang berkompeten dalam bidang ini. Beberapa faktor yang harus diperhatikan termasuk pengacakan, kesamaan perlakuan, jenis perbandingan, jumlah pejantan dan jumlah pengukuran berulang.
Pertanyaan tentang pengacakan muncul pada beberapa level. Di banyak situasi, yang terbaik, jika tiap populasi diwakili oleh sample ternak secara acak. Jika ini tidak mungkin, harus hati-hati untuk melihat bahwa metode tersebut dan pengembangan seleksi hewan telah dilakukan sesama mungkin untuk tiap populasi. Demikian juga, jika hewan akan dievaluasi menurut penampilan keturunannya ketika dikawinkan ke apa yang disebut
populasi penguji (tester population), perkawinan tersebut harus dipilih secara
acak dari populasi penguji tersebut. Lebih jauh, jika perbandingan akan dilakukan pada lebih dari satu tempat, harus ada alokasi stok secara acak dari tiap populasi ke tiap tempat.
Kebutuhan bahwa semua stok sebaiknya diperlakukan sama, sudah jelas sehingga hal itu tidak perlu disebutkan. Akan tetapi, karena kadang-kadang ada keuntungan atau kerugian cukup besar yang akan dibuat tergantung pada hasil suatu perbandingan, segala kehati-hatian yang mungkin sebaiknya diambil untuk meyakinkan bahwa perbandingan tersebut dilakukan dalam suatu cara yang mengurangi peluang dari setiap populasi yang menerima perlakuan baik.
Satu faktor lain yang mempengaruhi efisiensi untuk membedakan antar populasi adalah jenis perbandingan yang dilakukan. Sebagai contoh,
direct comparison atau perbandingan langsung (semua populasi di bawah
pengujian dibandingkan pada lokasi yang sama) lebih efisien daripada
indirect comparison atau perbandingan tak langsung (tiap populasi diukur
pada lokasi berbeda, dengan perbandingan dibuat secara tak langsung melalui populasi penguji yang diukur pada semua lokasi). Juga, perbandingan antar keturunan straightbred (dimana tiap keturunan dalam perbandingan tersebut merupakan keturunan jantan dan betina milik satu
dari populasi di bawah pengujian) lebih efisien daripada perbandingan antar keturunan crossbred (dimana keturunan yang dibandingkan diperoleh dari perkawinan hanya satu jenis kelamin, biasanya jantan, dari populasi di bawah pengujian, ke sample acak dari anggota populasi penguji).
Satu faktor yang memainkan peran utama dalam menentukan efisiensi perbandingan adalah jumlah pengukuran yang dibuat berdasarkan tiap populasi di bawah pengujian. Ada dua generalisasi penting yang dapat dibuat berkaitan dengan faktor ini. Pertama, efisiensi perbandingan ditentukan terutama oleh jumlah pejantan yang diwakili dalam tiap populasi di bawah pengujian, ketimbang oleh jumlah keturunan per pejantan. Malahan, perbandingan yang melibatkan hanya, katakana, dua atau tiga pejantan per populasi hampir tak bernilai, bahkan jika ratusan keturunan dari tiap pejantan telah diukur, karena penampilan rata-rata keturunan akan lebih merupakan refleksi NP rata-rata pejantan tertentu itu daripada populasi asalnya pejantan. Jadi, jika merencanakan suatu perbandingan, sangat penting untuk meyakinkan bahwa tiap populasi di bawah pengujian diwakili oleh sebanyak mungkin pejantan. Poin lain untuk dicatat adalah bahwa kecuali jika sifat-sifat yang diukur mempunyai ripitabilitas sangat rendah (lihat Bab 16), biasanya lebih baik untuk mengukur sekelompok keturunan yang berbeda tiap musim atau tahun daripada mengambil pengukuran berulang pada sekelompok keturunan yang sama tersebut.
Interaksi Genotip-Lingkungan
Pada umumnya perbandingan memerlukan pengujian penampilan kelompok-kelompok hewan di bawah satu atau beberapa lingkungan. Organisasi Pertanian dan Pangan sedunia/The Food and Agricultural Organisation (FAO), misalnya, melakukan perbandingan berskala besar pada beberapa galur Friesian dari seluruh dunia, dengan menggunakan semen yang tepat pada sejumlah besar induk pada peternakan terpilih di Polandia. Apakah hasil-hasil yang diperoleh di Polandia dapat digunakan di negara lain juga? Dengan kata lain, akankah pejantan dalam negara asalnya, dan negara asal itu sendiri, mempunyai rangking dengan urutan sama jika percobaan tersebut dilakukan di, katakana, Canada atau New Zealand?
Jika hasil perbandingan bervariasi terganung pada lingkungan tempat dilaksanakannya perbandingan, kita katakana ada interaksi genotip-lingkungan (genotype-environment interaction), G × E. Pada contoh-contoh G × E yang diilustrasikan pada Gambar 15.1, tiga genotip induk yang berbeda dievaluasi di bawah level nutrisi rendah, sedang, dan tinggi pada stasiun penelitian di Grafton, NSW, Australia. Semua induk dikawinkan ke pejantan Hereford. Hasil-hasil perbandingan ini mengilustrasikan dua macam G × E yang terjadi. Pertama hanya memerlukan perubahan dalam penampilan relatif (lingkungan sedang versus lingkungan tinggi), sedangkan kedua
memerlukan perubahan dalam rangking (lingkungan sedang versus lingkungan tinggi). Genotype of cow 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220
LOW MEDIUM HIGH Environment Wei ght of c alf w eaned per c ow jo ined (k g )
Gambar 15.1. Contoh interaksi genotip-lingkungan (G × E) dalam produksi sapi
potong. (Data dari Barlow et al. (1978). Wool Technology and Sheep
Breeding, 26, (11), 5-12.)
Masalah dengan G × E adalah bahwa dalam banyak kasus, sulit untuk menduga di depan apakah interaksi semacam itu penting atau tidak. Semua yang dapat dilakukan dalam prakteknya adalah melaksanakan perbandingan di semua lingkungan yang relevan, yang biasanya tidak dapat dipraktekkan, atau menginterpretasikan hasil-hasil tersebut dari lingkungan yang berbeda secara hati-hati, dalam menonjolkan apa yang disebut secara umum mengenai G × E dalam kaitannya dengan sifat yang menjadi perhatiannya.
Perbandingan:
Amer, P.R., Kemp, R.A., and Smith, C. (1992). Genetic differences among the predominant beef cattle breeds in Canada - an analysis of published results. Canadian Journal of Animal Science, 72, 759-71.
Amer, P.R., Kemp, R.A., Fox, G.C., and Smith, C. (1994). An economic comparison of beef cattle genotypes for feedlot traits at their optimal slaughter end point. Canadian Journal of Animal Science, 74, 7-14.
Heil, G. and Hartmann, W. (1992). Combined summary of European random sample egg production tests completed in 1990. Worlds Poultry Science
Journal, 48, 269-70.
Hetzel, D.J.S. (1988). Comparative productivity of the Brahman and some indigenous Sanga and Bos indicus breeds of East and Southern Africa.
Animal Breeding Abstracts, 56, 143-55.
Sutherland, R.A., Webb, A.J., and King, J.W.B. (1985). A survey of world pig breeds and comparisons. Animal Breeding Abstracts, 53, 1-22.
Zarnecki, A., Jamrozik, J., and Norman, H.D. (1991). Comparison of 10 Friesian strains in Poland for yield traits from 1st 3 parities.
Journal of Dairy Science, 74, 2303-8. Interaksi Genotip-Lingkungan:
Cameron, N.D. (1993). Methodologies for estimation of genotype with environment interaction. Livestock Production Science, 35, 237-49.
Hartmann, W. (1990). Implications of genotype environment interactions in animal breeding - genotype location interactions in poultry. Worlds Poultry Science Journal, 46, 197-210.
Kinghorn, B.P. and Swan, A.A. (1991). A multitrait approach for data involving genotype x environment interaction. Journal of Animal
Breeding and Genetics, 108, 111-5.
Leenstra, F. and Cahaner, A. (1991). Genotype by environment interactions using fast-growing, lean or fat broiler chickens, originating from the Netherlands and Israel, raised at normal or low temperature. Poultry
Science, 70, 2028-39.
Stanton, T.L., Blake, R.W., Quaas, R.L., van Vleck, L.D., and Carabano, M.J. (1991). Genotype by environment interaction for Holstein milk yield in Colombia, Mexico, and Puerto Rico. Journal of Dairy Science, 74, 1700-14.
Sylven, S., Rye, M., and Simianer, H. (1991). Interaction of genotype with production system for slaughter weight in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Livestock Production Science, 28, 253-63.
importance of genotype X environment interaction. Livestock
Production Science, 24, 109-18.
Webb, A.J. and Curran, M.K. (1986). Selection regime by production system interaction in pig improvement: a review of possible causes and solutions. Livestock Production Science, 14, 41-54.