• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO) DI UDARA AMBIEN ROADSIDE DENGAN KARAKTERISTIK LALU LINTAS DI JARINGAN JALAN SEKUNDER KOTA PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO) DI UDARA AMBIEN ROADSIDE DENGAN KARAKTERISTIK LALU LINTAS DI JARINGAN JALAN SEKUNDER KOTA PADANG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO)

DI UDARA AMBIEN ROADSIDE DENGAN KARAKTERISTIK

LALU LINTAS DI JARINGAN JALAN SEKUNDER

KOTA PADANG

Hendra Gunawan

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Andalas

Kampus Limau Manis Padang-25163 Telp: (0751) 72497 [email protected]

Yenni Ruslinda

Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Univ. Andalas

Kampus Limau Manis Padang-25163 Telp: (0751) 72497 [email protected]

Yona Anggela

Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Univ. Andalas

Kampus Limau Manis Padang-25163 Telp: (0751) 72497

Abstract

Traffic flow characteristics is one factor that affects increasing of air pollution from transport sector. This research deals with CO gas concentration at roadside ambient air and its relationships with traffic flow characteristics on secondary road network of Padang city. Sampling is carried out in accordance with SNI-19-7119.9-2005 in three streets of Jl. Raya By Pass, Jl. Bagindo Aziz Chan, and Jl. Perintis Kemerdekaan as the secondary arterial, collector, and local roads, consecutively. Impinger tool is used in CO gas sampling, and then analyzed by spectrophotometric method. The highest of average CO gas concentration are 376,99µg/Nm3 at Jl.Perintis Kemerdekaan, 331,95 µg/Nm3 at Jl.Bagindo Aziz Chan, and 285,16 µg/Nm3 at Jl.Raya By Pass. Correlation and regression analysis showed that CO gas concentration have very strong relationships with traffic density at Jl.Raya By Pass and Jl.Bagindo Aziz Chan in the form of polynomial function, and with traffic volume at Jl.Perintis Kemerdekaan in exponential function.

Keywords: CO gas, secondary road network, traffic flow characteristics, roadside ambient air Abstrak

Peningkatan pencemaran udara dari sektor transportasi di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh karakteristik lalu lintas.Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi CO di udara ambien roadside dan hubungannya dengan karakteristik lalu lintas di jaringan jalan sekunder Kota Padang. Sampling dilakukan sesuai SNI-19-7119.9-2005 di tiga ruas jalan yaitu Jl.Raya By Pass, Jl.Bagindo Aziz Chan, dan Jl.Perintis Kemerdekaan, masing-masing sebagai jalan arteri, kolektor, dan lokal sekunder. Sampling CO menggunakan alat impingerdan analisis dilakukan dengan metode spektrofotometri. Konsentrasi gas CO rata-rata dari yang terbesar didapatkan di Jl.Perintis Kemerdekaan 376,99µg/Nm3, Jl.Bagindo Aziz Chan 331,95 µg/Nm3, dan Jl.Raya By Pass 285,16 µg/Nm3. Dari hasil analisis korelasidan regresi didapatkan konsentrasi CO memiliki hubungan sangat kuat dengan kepadatan lalu lintas pada Jl.Raya By Pass dan Jl.Bagindo Aziz Chan dalam bentuk fungsi persamaanpolinomial pangkat dua, sedangkan pada Jl.Perintis Kemerdekaan dengan volume lalu lintas dalam bentuk persamaan eksponensial.

Kata Kunci: gas CO, jaringan jalan sekunder, karakteristik lalu lintas, udara ambien roadside

PENDAHULUAN

Berdasarkan studi Bappenas tahun 2009, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia.Kontribusi emisi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara terbesar mencapai 60 – 70%, dibanding dengan industri yang hanya berkisar antara 10 – 15%.Sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain. Hal ini diakibatkan oleh laju

(2)

The 18th FSTPT International Symposium, Unila, Bandar Lampung,August 28, 2015

pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi.Pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 10% per tahun, dan menjadi faktor dominan penyebab utama naiknya angka pencemaran udara. Kondisi ini diperburuk dengan angka pertumbuhan jalan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang hanya 2% per tahun, sehingga kondisi udara di berbagai kotajuga semakin buruk (Kementerian Perhubungan, 2012).

Gas yang dihasilkan kendaraan bermotor sebagai sumber pencemaran udara yaitu gas Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOx), Hidrokarbon (HC), Sulfur Dioksida (SO2), dan tetraethyl lead, yang merupakan bahan logam timah yang ditambahkan ke

dalam bensin berkualitas rendah untuk meningkatkan nilai oktan guna mencegah terjadinya letupan pada mesin (Panjaitan, dkk, 2011). Gas CO yang keluar dari knalpot akan berada di udara ambien, yang jika terhirup oleh manusia maka molekul tersebut akan masuk ke dalam saluran pernapasan dan kemudian akan berikatan dengan hemoglobin darah membentuk carboxy haemoglobin (COHb). Semakin tinggi konsentrasi CO yang terhirup oleh manusia maka akan semakin fatal resiko yang diterima oleh manusia tersebut, bahkan menyebabkan kematian. CO merupakangas tidak berbau, tidak berwarna dan sangat toksik sehingga sering disebut sebagai silent killer. Gas CO merupakan gas yang berbahaya untuk tubuh karena daya ikat CO terhadap Hb adalah 240 kali dari daya ikat CO terhadap O2(Maryanto D, 2009).

Pemantauan kualitas udara roadside di ruas jalan Kota Padang telah pernah dilakukan pada tahun 2011. Dari hasil pemantauan di dua lokasi yaitu di jalan Hamka dan jalan Sawahan yang mewakili jalan Arteri Primer dan Arteri Sekunder, diperoleh konsentrasi gas CO rata-rata di jalan Hamka sebesar 408,532 µg/Nm3, lebih tinggi daripada jalan Sawahan 262,182 µg/Nm3. Konsentrasi gasCO tertinggi di kedua lokasi sampling sebesar 432,524 – 979,326 µg/Nm3 terukur pada jam 15.00 – 18.00 WIB. Konsentrasi CO di kedua lokasi sampling masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan PP No 41 Tahun 1999 yaitu 30.000 µg/Nm3 (Syafri S. R, 2011). Namun dalam penelitian ini belum dilakukan analisis konsentrasi gas COdengan karakteristik lalu lintas yang melewati kedua jalan tersebut.

Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran konsentrasi gas CO di udara ambien dan karakteristik lalu lintas setiap jam pada masing-masing jalan, sehingga dapat ditentukan pola serta hubungan antara konsentrasi gas CO dan karakteristik lalu lintas meliputi volume, kecepatan dan kepadatan lalu lintas. Pengukuran difokuskan pada jaringan jalan sekunder Kota Padang.Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 34 Tahun 2006 tentang Jalan, jaringan jalan sekunder adalah sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusibarang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data sekunder, penelitian pendahuluan dan pemilihan lokasi dan waktu sampling. Data sekunder terdiri dari data klasifikasi jalan Kota Padang yang diperoleh dari Dinas Perhubungan Kota Padang, data kecepatan dan arah angin dominan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Tabing Padang, dan yang terakhir peta lokasi penelitian yang diperoleh dari Google Maps.

(3)

Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan lokasi sampling, yaitu dengan dengan menghitung volume lalu lintas di beberapa ruas jalan sekunder yang dari pengamatan lapangan diprediksi berpotensi menghasilkan konsentrasi polutan gas CO lebih besar.Berdasarkan data sekunder dan penelitian pendahuluan yang dilakukan, maka lokasi sampling yang dipilih pada penelitian ini adalah jalan Raya By Pass mewakili jalan arteri sekunder, jalan Bagindo Aziz Chan mewakili jalan kolektor sekunder, dan jalan Perintis Kemerdekaan mewakili jalan lokal sekunder.

Data primer yang disampling dalam penelitian ini berupa sampel gas CO, data kondisi meteorologi, data jumlah kendaraan dan kecepatan lalu lintas yang diukur langsung di lapangan. Pengambilan sampel gas CO dilakukan setiap 1 jam selama 24 jam untuk masing-masing titik sampling menggunakan impinger dengan laju aliran 1 L/menit. Sampling gas CO dilakukan dengan metode absorpsi menggunakan larutan penyerap perak nitrat.Pengukuran kondisi meteorologi dilakukan 15 menit sekali dengan menggunakan

packet weatherman untuk mengukur temperatur, tekanan udara, dan kelembaban

relatif.Anemometeruntuk mengukur kecepatan angin dan kompas untuk menentukan arah angin.

Pengukuran jumlah kendaraan dilakukan secara manual dengan menggunakan counter. Jenis kendaraan yang diukur berdasarkan pada dua kriteria yaitu berdasarkan jenis kendaraan dan berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan.Ada tiga jenis kendaraan yang dihitung pada pengukuran jumlah kendaraan berdasarkan jenis yaitu kendaraan ringan atau Light Vehicle (LV), kendaraan berat atau Heavy Vehicle (HV) dan sepeda motor atau MotorCycle (MC). Jenis kendaraan ringan terdiri dari mobil pribadi, oplet, pick

up, dan mini bus, sedangkan jenis kendaraan berat terdiri dari bus dan truk. Sepeda motor

terdiri dari kendaraan bermotor roda dua dan roda tiga. Pengukuran jumlah kendaraan berdasarkan bahan bakar yang digunakan terdiri dari bensin dan solar.Pengukuran kecepatan lalu lintas dengan speed gun meter. Pengukuran ini dilakukan dengan menembakkan alat speed gun meter ke arah kendaraan yang melewati lokasi penelitian secara acak setiap lima menit sekali, kemudian hasil pengukuran setiap lima menit dirata-ratakan selama satu jam, sehingga diperoleh hasil kecepatan lalu lintas rata-rata setiap jam.

Untuk menentukan konsentrasi gas CO dilakukan analisis laboratorium dengan metode spektrofotometri. Perhitungan konsentrasi gas CO dilakukan dengan cara mengkonversi nilai absorbansi yang diperoleh dari analisis laboratorium menjadi satuan µg/Nm3 dengan menggunakan persamaan (1) untuk setiap sampel, sehingga diperoleh data konsentrasi gas CO untuk satu titik sampling sebanyak 24 data.

= [ . ⁄ " #

$ % ⁄ & ' ( )*+ ),,,. ⁄ (1)

dimana: x adalah konsentrasi absorban berdasarkan regresi linear.

Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data karakteristik lalu lintas.Data volume lalu lintas dihitung dengan mengkonversi jumlah kendaraan yang melewati lokasi penelitian menjadi satuan smp (satuan mobil penumpang) dengan menggunakan persamaan (2).

(4)

The 18th FSTPT International Symposium, Unila, Bandar Lampung,August 28, 2015

q = (nLVxfLV) + (nHVxfHV) + (nMCxfMC) (2)

dimana:

q = volume lalu lintas (smp/jam)

nLV = jumlah kendaraan yang lewat perjam untuk setiap jenis kendaraan light vehicle

nHV = jumlah kendaraan yang lewat perjam untuk setiap jenis kendaraan heavy vehicle

nMC = jumlah kendaraan yang lewat perjam untuk setiap jenis kendaraan motor cycle

fLV = nilai ekuivalen mobil penumpang (emp = 1) untuk jenis kendaraan light vehicle

fHV = nilai ekuivalen mobil penumpang (emp = 1,2) untuk jenis kendaraan heavy vehicle

fMC = nilai ekuivalen mobil penumpang (emp = 0,25) untuk jenis kendaraan motor cycle

Kepadatan lalu lintas (dalam satuan smp/km) dihitung dengan membagi data volume lalu lintas (q, smp/jam) dengan kecepatan lalu lintas (v, km/jam) menggunakan persaman (3):

k = q/v (3)

Analisis hubungan konsentrasi masing-masing polutan udara dengan karakteristik lalu lintas di jaringan jalan sekunder Kota Padang dilakukan dengan metode regresi dan korelasi menggunakan perangkat lunak statistik.Analisis regresi yang dilakukan bisa berupa analisis regresi linier (dengan satu atau lebih peubah bebas), maupun analisis regresi nonlinier. Hasil yang diperoleh berupa persamaan regresi akan diuji dengan uji ANOVA. Dalam penelitian ini konsentrasi CO merupakan variabel tak bebas sedangkan parameter karakteristik lalu lintas sebagai variabel bebas.Parameter karakteristik lalu lintas yang digunakan adalah jumlah kendaraan berdasarkan jenis, jumlah kendaraan berdasarkan bahan bakar, volume lalu lintas, kecepatan lalu lintas, dan kepadatan lalu lintas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengukuran Jumlah Kendaraan

1. Berdasarkan Jenis Kendaraan

Hasil pengukuran jumlah kendaran di ketiga lokasi penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.Bila dibandingkan di ketiga lokasi penelitian, terlihat jenis kendaraan yang mendominasi adalah sepeda motor berkisar 50 – 70% dan mobil pribadi berkisar 20 – 30%.Hal ini membuktikan tingginya tingkat mobilitas dan kecendrungan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum.Selain itu, adanya kemudahan untuk memiliki kendaraan pribadi, seperti melalui kredit kendaraan bermotor dengan uang muka yang relatif kecil, menyebabkan bertambahnya kecenderungan masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor sendiri.

2. Berdasarkan Jenis Bahan Bakar

Dari ketiga lokasi penelitian yang diukur terlihat sebagian besar kendaraan menggunakan bahan bakar bensin yaitu 86,59 - 97,19% dan hanya sebagian kecil saja yang menggunakan bahan bakar solar dengan rentang 2,81 - 13,4%. Distribusi jumlah kendaraan berdasarkan jenis bahan bakar dapat dilihat pada Gambar 2.Jenis kendaraan yang berbahan bakar solar lebih banyak melewati jalan Raya By Pass. Hal ini disebabkan jalan ini merupakan jalan arteri sekunder yang banyak dilewati oleh truk dan bus dengan bahan bakarnya adalah solar.

(5)

Gambar 1 Perbandingan Distribusi Jumlah Kendaraan pada Lokasi Penelitian

Gambar 2 Persentase Analisis Karakteristik Lalu Lintas 1. Volume Lalu Lintas

Volume lalu lintas di tiga lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.Volume lalu lintas rata-rata pada ketiga jalan mulai meningkat pada pagi hari

kemudian menurun pada pukul 10.00

pukul 15.00 – 18.00 WIB, untuk selanjutnya mengalami penurunan hingga dini hari.Peningkatan volume lalu lintas seiring dengan peningkatan aktivitas ma

Volume lalu lintas rata-rata

smp/jam, kemudian jalan Bagindo Aziz Chan 1 Kemerdekaan 886 smp/jam. Gambar 3 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% Mobil Pribadi Oplet J u m la h K en d a ra a n Jl. Raya By Pass 0% 20% 40% 60% 80% 100% Jl. Raya By Pass P er se n ta se J u m la h K en d a ra a n 0 500 1000 1500 2000 2500 0 6 .0 0 -0 7 .0 0 0 7 .0 0 -0 8 .0 0 0 8 .0 0 -0 9 .0 0 V o lu m e (s m p /J a m ) Jl. Raya By Pass

Perbandingan Distribusi Jumlah Kendaraan pada Lokasi Penelitian

Persentase Jumlah Kendaraan Berdasarkan Jenis Bahan Bakar

Analisis Karakteristik Lalu Lintas

Volume lalu lintas di tiga lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.Volume lalu lintas rata pada ketiga jalan mulai meningkat pada pagi hari pukul 07.00

kemudian menurun pada pukul 10.00 – 14.00 WIB, dan meningkat lagi pada sore hari 18.00 WIB, untuk selanjutnya mengalami penurunan hingga dini hari.Peningkatan volume lalu lintas seiring dengan peningkatan aktivitas ma

rata tertinggi berturut-turut adalah pada jalan Raya By Pass 1 smp/jam, kemudian jalan Bagindo Aziz Chan 1.002 smp/jam, dan tera

Kemerdekaan 886 smp/jam.

Gambar 3 Volume Lalu Lintas pada Lokasi Penelitian Oplet Mini Bus Pick up Bus Truk

Jl. Raya By Pass Jl. Bagindo Aziz Chan Jl. Perintis Kemerdekaan

86.59% 96.48%

13.41% 3.52%

Jl. Raya By Pass Jl. Bagindo Aziz Chan Jl. Perintis Kemerdekaan Bensin Solar 0 8 .0 0 -0 9 .0 0 0 9 .0 0 -1 0 .0 0 1 0 .0 0 -1 1 .0 0 1 1 .0 0 -1 2 .0 0 1 2 .0 0 -1 3 .0 0 1 3 .0 0 -1 4 .0 0 1 4 .0 0 -1 5 .0 0 1 5 .0 0 -1 6 .0 0 1 6 .0 0 -1 7 .0 0 1 7 .0 0 -1 8 .0 0 1 8 .0 0 -1 9 .0 0 1 9 .0 0 -2 0 .0 0 2 0 .0 0 -2 1 .0 0 2 1 .0 0 -2 2 .0 0 2 2 .0 0 -2 3 .0 0 2 3 .0 0 -2 4 .0 0 0 0 .0 0 -0 1 .0 0 0 1 .0 0 -0 2 .0 0 0 2 .0 0 -0 3 .0 0

Waktu Pengukuran (Jam)

Jl. Raya By Pass Jl. Bgd Aziz Chan Jl. Perintis Kemerdekaan

Perbandingan Distribusi Jumlah Kendaraan pada Lokasi Penelitian

Jumlah Kendaraan Berdasarkan Jenis Bahan Bakar

Volume lalu lintas di tiga lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.Volume lalu lintas pukul 07.00 – 09.00 WIB, 14.00 WIB, dan meningkat lagi pada sore hari 18.00 WIB, untuk selanjutnya mengalami penurunan hingga dini hari.Peningkatan volume lalu lintas seiring dengan peningkatan aktivitas masyarakat. turut adalah pada jalan Raya By Pass 1.094 002 smp/jam, dan terakhir jalan Perintis

nelitian Sepeda Motor Jl. Perintis Kemerdekaan 97.19% 2.81% Jl. Perintis Kemerdekaan 0 2 .0 0 -0 3 .0 0 0 3 .0 0 -0 4 .0 0 0 4 .0 0 -0 5 .0 0 0 5 .0 0 -0 6 .0 0 Jl. Perintis Kemerdekaan

(6)

The 18th FSTPT International Symposium, Unila, Bandar Lampung,August 28, 2015

2. Kecepatan Lalu Lintas

Hasil pengukuran kecepatan lalu lintas rata-rata setiap jam di ketiga lokasi penelitan dapat dilihat pada Gambar 4. Pola yang terbentuk dari data kecepatan lalu lintas selama 24 jam di ketiga lokasi penelitian hampir sama, yaitu rendah dan relatif konstan pada siang hari pukul 07.00 – 18.00 WIB dan meningkat pada malam hari pukul 19.00 – 06.00 WIB. Hal ini karena volume lalu lintas pada malam hari lebih rendah dibandingkan siang hari, sehingga pengendara lebih cendrung meningkatkan kecepatan kendaraan disaat jalanan sepi dari kendaraan.

Gambar 4 Kecepatan Lalu Lintas pada Lokasi Penelitian

Secara keseluruhan, kecepatan lalu lintas rata-rata yang paling rendah adalah di jalan Perintis Kemerdekaan 31,12 km/jam, kemudian jalan Bagindo Aziz Chan 36,69 km/jam dan yang paling tinggi adalah jalan Raya By Pass 42,32 km/jam. Hal ini disebabkan jalan Perintis Kemerdekaan merupakan jalan lokal sekunder yang fungsinya melayani angkutan jarak dekat sehingga pengendara lebih cenderung menurunkan kecepatan.

Berdasarkan PP No. 34 tahun 2006 tentang Jalan, jalan arteri sekunder memiliki standar kecepatan minimum 30 km/jam, jalan kolektor sekunder 20 km/jam dan jalan lokal sekunder 10 km/jam. Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada penelitian ini, diperoleh rata-rata kecepatan lalu lintas pada ketiga jalan yang diteliti berada diatas standar minimum kecepatan yang telah ditentukan untuk jaringan jalan sekunder.Hal ini berarti kondisi lalu lintas pada lokasi penelitian ini secara umum masih lancar.

3. Kepadatan Lalu Lintas

Hasil perhitungan kepadatan lalu lintas dapat dilihat pada Gambar 5.Dari gambar tersebut, terlihat pola kepadatan lalu lintas yang terbentuk pada ketiga lokasi penelitian meningkat pada pagi hari pukul 07.00 – 09.00 WIB hingga mencapai puncaknya pada pukul 11.00 – 18.00 WIB, kemudian menurun pada pukul 18.00 – 06.00 WIB.

Titik puncak kepadatan lalu lintas pada jalan Raya By Pass terjadi pada pukul 07.00 – 08.00 WIB dan 17.00 – 18.00 WIB sebesar 57 smp/km. Pada jalan Bagindo Aziz Chan titik puncak terjadi pada pukul 17.00 – 18.00 WIB sebesar 69 smp/km, sedangkan pada jalan Perintis Kemerdekaan titik puncak terjadi pada pukul 11.00 – 12.00 WIB sebesar 71 smp/km. Kepadatan lalu lintas rata-rata tertinggi berturut-turut adalah jalan Perintis

0 10 20 30 40 50 60 0 6 .0 0 -0 7 .0 0 0 7 .0 0 -0 8 .0 0 0 8 .0 0 -0 9 .0 0 0 9 .0 0 -1 0 .0 0 1 0 .0 0 -1 1 .0 0 1 1 .0 0 -1 2 .0 0 1 2 .0 0 -1 3 .0 0 1 3 .0 0 -1 4 .0 0 1 4 .0 0 -1 5 .0 0 1 5 .0 0 -1 6 .0 0 1 6 .0 0 -1 7 .0 0 1 7 .0 0 -1 8 .0 0 1 8 .0 0 -1 9 .0 0 1 9 .0 0 -2 0 .0 0 2 0 .0 0 -2 1 .0 0 2 1 .0 0 -2 2 .0 0 2 2 .0 0 -2 3 .0 0 2 3 .0 0 -2 4 .0 0 0 0 .0 0 -0 1 .0 0 0 1 .0 0 -0 2 .0 0 0 2 .0 0 -0 3 .0 0 0 3 .0 0 -0 4 .0 0 0 4 .0 0 -0 5 .0 0 0 5 .0 0 -0 6 .0 0 K ec ep a ta n ( K m /j a m )

Waktu Pengukuran (Jam)

(7)

Kemerdekaan 33 smp/km, jalan Bagindo Aziz Chan 32 smp/km, jalan Raya By Pass 28 smp/km. Tingginya kepadatan lalu lintas di jalan Perintis Kemerdekaan dipengaruhi oleh lebar jalan yang lebih sempit dan kecepatan lalu lintas yang lebih rendah.

Gambar 5 Kepadatan Lalu Lintas pada Lokasi Penelitian Analisis Konsentrasi Gas CO

Dari hasil pengukuran didapatkan konsentrasi gas CO yang terukur berbeda-beda setiap jamnya dan membentuk suatu pola yang dapat dilihat pada Gambar 6. Konsentrasi CO rata-rata paling tinggi adalah di jalan Perintis Kemerdekaan 376,99 µ g/Nm3, kemudian jalan Bagindo Aziz Chan 331,95 µg/Nm3, dan yang paling rendah adalah jalan Raya By Pass 285,16 µg/Nm3. Tingginya konsentrasi gas CO pada jalan Perintis Kemerdekaan sebagai jalan lokal sekunder disebabkan karena kepadatan lalu lintas pada jalan tersebut lebih tinggi dibandingkan dua jalan lainnya. Hal ini akibat lebar badan jalan lebih sempit dan seringnya perberhentian angkutan umum pada pinggir jalan di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan sehingga sering menimbulkan kemacetan.Apabila kemacetan lalu lintas terjadi, maka laju kecepatan kendaraan juga berkurang.

Gambar 6 Fluktuasi Konsentrasi Gas CO di Lokasi Penelitian

Perlambatan arus kendaraan dan kemacetan lalu lintas merupakan salah satu faktor utama terjadinya peningkatan konsentrasi gas CO di udara.Hoesodo (2004), menyatakan emisi gas buang kendaraan dalam kondisi macet menghasilkan gas CO 12 kali lebih tinggi dibandingkan pada kondisi jalan yang lancar. Hal serupa juga dinyatakan Mukono H. J. (2006), pada keadaan macet, di dalam mesin berlangsung reaksi pembakaran tidak sempurna yang akan menimbulkan emisi gas buang berupa gas CO.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 6 .0 0 -0 7 .0 0 0 7 .0 0 -0 8 .0 0 0 8 .0 0 -0 9 .0 0 0 9 .0 0 -1 0 .0 0 1 0 .0 0 -1 1 .0 0 1 1 .0 0 -1 2 .0 0 1 2 .0 0 -1 3 .0 0 1 3 .0 0 -1 4 .0 0 1 4 .0 0 -1 5 .0 0 1 5 .0 0 -1 6 .0 0 1 6 .0 0 -1 7 .0 0 1 7 .0 0 -1 8 .0 0 1 8 .0 0 -1 9 .0 0 1 9 .0 0 -2 0 .0 0 2 0 .0 0 -2 1 .0 0 2 1 .0 0 -2 2 .0 0 2 2 .0 0 -2 3 .0 0 2 3 .0 0 -2 4 .0 0 0 0 .0 0 -0 1 .0 0 0 1 .0 0 -0 2 .0 0 0 2 .0 0 -0 3 .0 0 0 3 .0 0 -0 4 .0 0 0 4 .0 0 -0 5 .0 0 0 5 .0 0 -0 6 .0 0 K ep a d a ta n ( sm p /K m )

Waktu Pengukuran (Jam)

Jl. Raya By Pass Jl. Bagindo Aziz Chan Jl. Perintis Kemerdekaan

0 200 400 600 800 1000 0 6 .0 0 -0 7 .0 0 0 7 .0 0 -0 8 .0 0 0 8 .0 0 -0 9 .0 0 0 9 .0 0 -1 0 .0 0 1 0 .0 0 -1 1 .0 0 1 1 .0 0 -1 2 .0 0 1 2 .0 0 -1 3 .0 0 1 3 .0 0 -1 4 .0 0 1 4 .0 0 -1 5 .0 0 1 5 .0 0 -1 6 .0 0 1 6 .0 0 -1 7 .0 0 1 7 .0 0 -1 8 .0 0 1 8 .0 0 -1 9 .0 0 1 9 .0 0 -2 0 .0 0 2 0 .0 0 -2 1 .0 0 2 1 .0 0 -2 2 .0 0 2 2 .0 0 -2 3 .0 0 2 3 .0 0 -2 4 .0 0 0 0 .0 0 -0 1 .0 0 0 1 .0 0 -0 2 .0 0 0 2 .0 0 -0 3 .0 0 0 3 .0 0 -0 4 .0 0 0 4 .0 0 -0 5 .0 0 0 5 .0 0 -0 6 .0 0 K o n se n tr a si G a s C O (u g /N m 3)

Waktu Pengukuran (Jam)

(8)

The 18th FSTPT International Symposium,

Dari ketiga pola konsentrasi yang terbentuk dari ketiga jalan, cenderung stabil pada pukul 06.00

hingga pukul 18.00 WIB dan menurun kembali pukul 18,00 konsentrasi gas CO pada ketiga jalan hampir sama yaitu terjadi dan pukul 17.00 – 18.00 WIB.

Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 telah menetapkan standar baku mutu udara ambien untuk gas CO pengukuran selama satu jam adalah 30.000 µg/Nm

Gambar 6, terlihat bahwa konsentrasi gas

ini menunjukkan bahwa konsentrasi gas CO di ketiga lokasi penelitian masih jauh dibawah baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun demikian, pemantauan terhadap kualitas udara ambien, diantaranya gas

CO merupakan gas pencemar yang keberadaannya dapat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.

Hubungan Konsentrasi CO

Tabel 1 memperlihatkan hasil analisis regresi d dengan parameter karakteristik lalu lintas.

jalan arteri dan kolektor sekunder yang diwakili jalan Raya By Pass dan jalan Bagindo Aziz Chan, konsentrasi gas CO memiliki hubungan yang paling kuat dengan kepadatan lalu lintas dengan nilai r masing

interpretasi sangat kuat. Hubungan konsentrasi CO dengan kepadatan lalu lintas di kedua jalan ini adalah dalam bentuk fungsi polinomial

Raya By Pass adalah y= 0,3622x = 0,1546x2 - 1,7789x + 148,28

paling kuat hubungannya dengan volume lalu lintas berada pada rentang interpretasi

94,572e0,0013x..

Korelasi terbaik antara konsentrasi CO penelitian ditunjukkan pada Gambar

menunjukkan bahwa lebih dari 52% konsentrasi gas CO dipengaruhi oleh karakteristik lalu lintas, sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain seperti seperti kondisi meteorologi, kondisi fisik jalan, dan lain

(a) Jl. Raya By Pass

Gambar 7Korelasiterbaik

padaketiga lokasi penelitian

FSTPT International Symposium, Unila, Bandar Lampung,August 28, 2015

Dari ketiga pola konsentrasi yang terbentuk dari ketiga jalan, rata-rata konsentrasi gas CO rung stabil pada pukul 06.00 – 12.00 WIB, kemudian meningkat mulai pukul 12.00 hingga pukul 18.00 WIB dan menurun kembali pukul 18,00 – 06.00 WIB. Titik puncak konsentrasi gas CO pada ketiga jalan hampir sama yaitu terjadi pukul 07.00

18.00 WIB.

Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 telah menetapkan standar baku mutu udara ambien untuk gas CO pengukuran selama satu jam adalah 30.000 µg/Nm

, terlihat bahwa konsentrasi gas CO tertinggi masih dibawah 1000 µg/Nm ini menunjukkan bahwa konsentrasi gas CO di ketiga lokasi penelitian masih jauh dibawah baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun demikian, pemantauan terhadap kualitas udara ambien, diantaranya gas CO, perlu dilakukan terus secara berkala karena gas CO merupakan gas pencemar yang keberadaannya dapat berdampak negatif terhadap

Konsentrasi CO dengan Karakteristik Lalu Lintas

Tabel 1 memperlihatkan hasil analisis regresi dan korelasi hubungan konsentrasi CO dengan parameter karakteristik lalu lintas.Dari tabel tersebut, dapat di

jalan arteri dan kolektor sekunder yang diwakili jalan Raya By Pass dan jalan Bagindo Aziz Chan, konsentrasi gas CO memiliki hubungan yang paling kuat dengan kepadatan

masing-masing sebesar 0,927 dan 0,955 yang b

Hubungan konsentrasi CO dengan kepadatan lalu lintas di kedua dalam bentuk fungsi polinomialpangkat dua, dengan persamaan untuk jalan

= 0,3622x2 - 11,316x + 189,97dan untuk jalan Bagindo Aziz Chan 1,7789x + 148,28. Pada jalan Perintis Kemerdekaan konsentrasi gas CO

nnya dengan volume lalu lintas dengan nilai r sebesar

interpretasi sangat kuat, dalam bentuk fungsi eksponensial yaitu

antara konsentrasi CO dengan karakteristik lalu lintas pada penelitian ditunjukkan pada Gambar 7. Dari nilai R2 yang dihasilkan

menunjukkan bahwa lebih dari 52% konsentrasi gas CO dipengaruhi oleh karakteristik lalu lintas, sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain seperti seperti kondisi meteorologi, kondisi fisik jalan, dan lain-lain.

(b) Jl. Bagindo Aziz Chan (c) Jl. Perintis Kemerdekaan

terbaik antara konsentrasi CO dengan karakteristik tiga lokasi penelitian

Bandar Lampung,August 28, 2015

rata konsentrasi gas CO 12.00 WIB, kemudian meningkat mulai pukul 12.00 06.00 WIB. Titik puncak pukul 07.00 – 08.00 WIB

Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 telah menetapkan standar baku mutu udara ambien untuk gas CO pengukuran selama satu jam adalah 30.000 µg/Nm3. Berdasarkan CO tertinggi masih dibawah 1000 µg/Nm3. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi gas CO di ketiga lokasi penelitian masih jauh dibawah baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun demikian, pemantauan terhadap CO, perlu dilakukan terus secara berkala karena gas CO merupakan gas pencemar yang keberadaannya dapat berdampak negatif terhadap

an korelasi hubungan konsentrasi CO dapat dilihat bahwa pada jalan arteri dan kolektor sekunder yang diwakili jalan Raya By Pass dan jalan Bagindo Aziz Chan, konsentrasi gas CO memiliki hubungan yang paling kuat dengan kepadatan 0,927 dan 0,955 yang berada pada rentang Hubungan konsentrasi CO dengan kepadatan lalu lintas di kedua dengan persamaan untuk jalan jalan Bagindo Aziz Chany ada jalan Perintis Kemerdekaan konsentrasi gas CO sebesar 0,932 yang juga ungsi eksponensial yaitu y =

lalu lintas pada ketiga lokasi kan pada ketiga jalan menunjukkan bahwa lebih dari 52% konsentrasi gas CO dipengaruhi oleh karakteristik lalu lintas, sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain seperti seperti kondisi

Jl. Perintis Kemerdekaan

(9)

Tabel 1 Hubungan Konsentrasi CO dengan Karakteristik Lalu Lintas di

Jaringan Jalan Sekunder Kota Padang

Parameter Tipe trendline Persamaan R2

r Korelasi

Jl. Raya By Pass (Jalan Arteri Sekunder)

Jumlah Kendaraan

Berdasarkan Jenis Linear

Y= 0,422 LV - 0,470 HV + 0,064

MC + 57,887 0,654 0,808 Sangat kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Solar Eksponensial y = 9,938e 0,0034x

0,529 0,726 Kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Bensin Polinomial y = 3E-05x 2

+ 0,0164x + 106,13 0,678 0,824 Sangat kuat Volume Lalu Lintas Polinomial y = 0,0003x2 - 0,3605x + 211,25 0,780 0,883 Sangat kuat Kecepatan Lalu Lintas Eksponensial y = 6317e-0,079x 0,533 0,730 Kuat Kepadatan Lalu Lintas Polinomial y = 0,3622x2 - 11,316x + 189,97 0,860 0,927 Sangat kuat

Jl. Bagindo Aziz Chan (Jalan Kolektor Sekunder)

Jumlah Kendaraan

Berdasarkan Jenis Linear

Y = 0,102 LV - 0,697 HV + 0,274

MC - 5,554 0,793 0,891 Sangat kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Solar Eksponensial y = 14,814e 0,0112x

0,534 0,731 Kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Bensin Polinomial y = 8E-05x 2

- 0,0987x + 150,98 0,906 0,952 Sangat kuat Volume Lalu Lintas Polinomial y = 0,0003x2 - 0,2238x + 180,95 0,897 0,947 Sangat kuat Kecepatan Lalu Lintas Eksponensial y = 3784,2e-0,072x 0,721 0,849 Sangat kuat Kepadatan Lalu Lintas Polinomial y = 0,1546x2 - 1,7789x + 148,28 0,912 0,955 Sangat kuat

Jl. Perintis Kemerdekaan (Jalan Lokal Sekunder)

Jumlah Kendaraan

Berdasarkan Jenis Linear

Y = 0,560 LV + 0,842 HV + 0,008

MC + 37,700 0,759 0,871 Sangat kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Solar Eksponensial y = 12,654e 0,0189x

0,763 0,873 Sangat kuat Jumlah Kendaraan

Berbahan Bakar Bensin Eksponensial y = 85,522e 0,0007x

0,784 0,885

Sangat kuat Volume Lalu Lintas Eksponensial y = 94,572e0,0013x 0,868 0,932 Sangat kuat Kecepatan Lalu Lintas Eksponensial y = 4427,3e-0,087x 0,748 0,865 Sangat Kuat Kepadatan Lalu Lintas Eksponensial y = 112,79e0,0292x 0,861 0,928 Sangat kuat

KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap hubungan antara konsentrasi gas CO di udara ambien roadside dengan karakteristik lalu lintas di jaringan jalan sekunder kota Padang, diperoleh kesimpulan bahwa kepadatan lalu lintas tertinggi dan kecepatan terendah terjadi pada jalanPerintis Kemerdekaan (31,12 km/jam dan 33 smp/km), sedangkan volume lalu lintas tertinggi di jalan Raya By Pass (1094 smp/jam). Konsentrasi gas CO rata-rata paling tinggi di jalan Perintis Kemerdekaan sebesar 376,99 µg/Nm3, di jalan Bagindo Aziz Chan 331,95 µg/Nm3, dan di jalan Raya By Pass 285,16 µg/Nm3. Pola konsentrasi gas CO sejalan dengan pola volume dan kepadatan lalu lintas, yaitu mulai meningkat pukul 07.00 WIB pagi hari hingga mencapai puncaknya pada pukul 15.00 – 18.00 WIB dan menurun kembali mulai pukul 18.00 WIB hingga dini hari. Konsentrasi gas CO memiliki hubungan sangat kuat dengan kepadatan lalu lintas pada jalan Raya By Pass (r=0,927) serta jalan Bagindo Aziz Chan (r=0,955) melalui fungsi persamaan polynomial pangkat dua, yaitu y = 0,3622x2 - 11,316x + 189,97 dan y = 0,1546x2 - 1,7789x + 148,28. Pada jalan Perintis Kemerdekaan konsentrasi gas CO memiliki hubungan sangat kuat

(10)

The 18th FSTPT International Symposium, Unila, Bandar Lampung,August 28, 2015

dengan volume lalu lintas (r=0,932) melalui persamaan fungsi eksponensial yaitu y = 94,572e0,0013x. Nilai R2 seluruh alternatif bentuk fungsi berkisar 0,529 - 0,912, yang artinya sebesar 52,9 – 91,2% konsentrasi gas CO di udara ambien roadside dipengaruhi oleh karakteristik lalu lintas.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih ditujukan kepada Ditjen Dikti yang telah membantu mendanai kegiatan penelitian ini dalam skim Penelitian Fundamental tahun 2015 dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas yang telah memfasilitasi kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hoesodo, D. 2004. Permodelan Pencemaran Udara Akibat Lalu Lintas di Jalan Arteri

(Studi Kasus Ruas Jalan Soekarno-Hatta di Kota Bandung). Program Magister Ilmu

Lingkungan Universitas Diponegoro: Semarang

Kementrian Perhubungan. 2012. Informasi Transportasi. Sekretariat Jenderal Pusat Data dan Informasi: Jakarta

Maryanto, D. 2009. Penurunan Kadar Emisi Gas Buang Karbon maonoksida (CO) dengan

Penambahan Arang Aktif pada Kendaraan Bermotor di Yogyakarta.Jurnal Kesmas

Vol. 3. No. 3

Mukono, H.J. 2006.Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Edisi Kedua. Airlangga Press: Surabaya

Panjaitan T.P.M, Bambang Pramudya, Manuwoto & I.F.Poernomosidhi Poerwo.2011.

Pengelolaan Pencemaran Udara Akibat Transportasi Di Kawasan Perumahan Di Pinggiran Metropolitan. Jurnal SabuaVol.3, No.1: 1-8

Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan.2006. Kementrian Perhubungan

Darat: Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

1999. Kementrian Lingkungan Hudup: Jakarta

Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7119.9-2005 tentang Penentuan Lokasi Pengambilan Contoh Uji Pemantauan Kualitas Udara Roadside. 2005. Badan Standarisasi

Nasional: Jakarta

Syafri, S. R. 2011. Konsentrasi Gas CO di Udara Ambien Kawasan Roadside Kota

Gambar

Gambar 1 Perbandingan Distribusi Jumlah Kendaraan pada Lokasi Penelitian
Gambar 4 Kecepatan Lalu Lintas pada Lokasi Penelitian
Gambar 5 Kepadatan Lalu Lintas pada Lokasi Penelitian  Analisis Konsentrasi Gas CO
Tabel  1  memperlihatkan  hasil  analisis  regresi  d dengan  parameter  karakteristik  lalu  lintas.
+2

Referensi

Dokumen terkait

penelitian : ” Penerapaan Model Pembelajaran Guided discovery Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Dan Koneksi Matematika Pada Siswa.

Hal ini tentu akan menghambat serta memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses pencatatan data disana, namun penulis berusaha untuk membuat suatu program yang

Metode AHP merupakan metode untuk memecahkan suatu situasi yang kompleks tidak terstruktur ke dalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki dengan member

Hishshah ( ) adalah tenggang waktu atau jarak yang harus dipertimbangkan dari kedudukan benda langit ke benda langit lainnya, yakni busur pada falak Bulan

Para Ulama yang melarang pemimpin wanita juga berdasarkan pada Hadist Sahih yang diriwayatkan Imam Bukhori نل ةارما مهرما اولو موق حلفي (Tidak akan bahagia

Berdasarkan pemaparan paradigma legislasi Qanun Hukum jina > ya > t di atas, maka Qanun Aceh dalam bidang pidana Islam dapat menjadi sebagai hukum positif (fikih)

terlihat dari nilai standar deviasi untuk masing-masing jenis kelamin yang. cenderung

Identifikasi senyawa hasil katalisis menggunakan instrumen GC-MS bertujuan untuk mengetahui senyawa produk hasil trans- esterifikasi berdasarkan fragmen-fragmen senyawa