• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tardi Koherensi Terjemahan al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tardi Koherensi Terjemahan al Quran"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

i

Analisis Struktural Terjemahan al-Quran Depag RI Edisi Tahun 2002

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Konsentrasi Pendidikan Bahasa Arab

Oleh:

TARDI

NIM: 06.2.00.1.13.08.0052

Pembimbing:

Prof. Dr. H. Chatibul Umam, MA.

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

ii Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Tesis ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia dicabut gelar kesarjanaannya.

Ciputat, ... Agustus 2008

(3)

iii

Tesis dengan judul “KOHERENSI TERJEMAHAN AL-QURAN” : Analisis

Struktural Terjemahan al-Quran Depag RI Edisi 2002 yang ditulis oleh

N a m a : Tardi

NIM : 06.2.00.1.13.08.0052

Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta telah diperbaiki sesuai dengan permintaan, saran dan masukan pembimbing dan disetujui untuk dibawa ke sidang ujian tesis.

Jakarta, ... Agustus 2008

Pembimbing,

(4)

iv

Tesis saudara Tardi (NIM. 06.2.00.1.13.08.0052) yang berjudul

KOHERENSI TERJEMAHAN AL-QURAN: Analisis Struktural Terjemahan al-Quran Depag RI Edisi Tahun 2002 telah diujikan pada hari Kamis, 28 Agustus 2008 dan telah diperbaiki sesuai saran serta rekomendasi dari Tim Penguji Tesis.

Jakarta, 04 September 2008

TIM PENGUJI:

1. Dr. Udjang Tholib, MA. (...)

Ketua/ Merangkap Penguji Tgl.

2. Prof. Dr. Chotibul Umam, MA. (...)

Pembimbing/ Merangkap Penguji Tgl.

3. Dr. Faizah Ali Sybromalisi (...)

Penguji Tgl.

4. Dr. Yusuf Rahman, MA. (...)

(5)

v

Penelitian ini membuktikan bahwa terjemahan al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia edisi 2002 menggunakan teori-teori terjemahan secara umum yang ditawarkan oleh Newmark. Teori tersebut dikembangkan melalui prosedur penerjemahan yang tidak hanya mengikuti satu langkah, tetapi tiga langkah, yakni analisis, transfer dan restrukturisasi. Ketiga langkah ini tidak dapat memecahkan kesulitan penerjemahan dalam tataran kata, frasa atau kalimat. Oleh karena itu, teknik atau strategi penerjemahan al-Quran tetap diperlukan. Penelitian ini menggambarkan strategi terjemahan al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia, yang kemudian dibagi ke dalam dua bagian, yakni strategi struktural dan strategi semantis.

Strategi struktural digunakan untuk mencari padanan struktural antara bahasa al-Quran (Bsu) dan bahasa Indonesia (Bsa). Jika tidak ditemukan padanannya, maka pengalihan fungsi (transposisi) harus dilakukan. Sedangkan strategi semantis dilakukan atas dasar pertimbangan makna. Karena semua makna Bsu tidak dapat diterjemahkan sepenuhnya ke dalam Bsa. Kedua strategi ini dimaksudkan untuk memperkuat pernyataan Ahsin Sakho Muhammad, salah seorang anggota tim penerjemah al-Quran, bahwa kesulitan yang dapat dirasakan langsung oleh para anggota tim penerjemah al-Quran adalah mencari padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dalam tesis ini padanan kedua bahasa itu dianalisis menurut tingkat kebahasaaannya.

Selain itu, penelitian ini memperkuat pernyataan Suryawinata bahwa terjemahan al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia bersifat semantis. Kecenderungan terjemahan semantis dapat diketahui dari objektifitasnya, yakni tidak terikat dengan Bsu maupun Bsa secara penuh. Struktur Bsu, makna dan gaya bahasanya tetap dipertahankan dalam terjemahan Bsa, sehingga terjemahan al-Quran masih tetap terasa sedikit kaku tetapi tidak sekaku terjemahan harfiah.

Objek penelitian ini adalah terjemahan al-Quran yang berusaha menjelaskan materi melalui media yang berbeda, yakni bahasa al-Quran dengan bahasa Indonesia. Secara ideal, struktur bahasa al-Quran dan bahasa Indonesia merupakan struktur yang harus dipersamakan secara fungsional. Sehubungan kedua bahasa itu berbeda, maka analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kontrastif. Analisis ini mengandung dua langkah, yakni mendeskripsikan Bsu dan Bsa, dan membandingkan antara keduanya. Perbedaan antara keduanya merupakan variabel yang diperhatikan dalam penerjemahan.

(6)

vi

This research proves that Qur'an translation of Depag RI, Edition 2002 uses common translation theory which was introduced by Newmark. That theory is developed through translation procedure that does not follow only one stage, but three stages, those are analyzing, transferring, and restructurisation. The three stages can not completely solve the translation difficulties in words, phrases, or sentences level. Therefore, techniques or strategies of Qur’an translation are still required. This research describes Qur’an translation strategy that is conducted by Depag RI, which is divided into two, namely structural strategy and semantical strategy.

Structural strategy is used to look for structural equivalent between the language of Qur' an (the source language) and Indonesian language (the target language). If its equivalent is undiscovered, the function shifting (transposition) will be performed. Whereas semantical strategy is performed based on meanings consideration. Since all meaning of the source language can not be translated utterly into the target language. Both strategies are meant to strengthen Ahsin Sakho Muhammad's statement, one of Qur'an translators of Depag RI, that the main difficulty felt by members of Qur’an translator team is how to get the equivalence of Qur’an language in Indonesian. So, the equivalence of the two languages is analyzed in this thesis in accordance of their terminological level.

This research also strengthens Suryawinata's statement that Qur’an translation of Depag RI gets semantical character. The preference of using semantical translation can be known from the objectivity, which is not tied up extremely either on source language or target language. The structure of source language, its meaning and style are maintained in target language translation. So that the Qur’an translation still looks textual but not as textual as literal translation.

(7)
(8)

viii

ARAB-LATIN

Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN syarif Hidayatullah Jakarta yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1.Konsonan

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

b be

t te

ts te dan es

j je

h h dengan garis di bawah

kh ka dan ha

d de

dz de dan zet

r er

z zet

s es

sy es dan ye

s es dengan garis di bawah

d de dengan garis di bawah

t te dengan garis di bawah

(9)

ix

‘ koma terbalik di atas hadap kanan

gh ge dan ha

f ef

q ki

k ka

l el

m em

n en

w we

ـ

h ha

la el dan a

´ Apostrop

y ye

2.Vokal

a. Vokal Tunggal

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ

a fathah

ِ i kasrah

ُ

u dammah

b. Vokal Rangkap

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan ...َ

ى ai a dan i

...َ

(10)

x

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ﺎـَـــ

â a dengan topi di atas

ﻲِــــ

î i dengan topi di atas

(11)

xi

Jika huruf ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/. Hal yang sama juga berlaku jika ta marbûtah tersebut diikuti oleh kata sifat (na´t). Namun, jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi /t/.

Contoh:

No Kata Arab Alih Aksara

1

ﺔﻘﻳﺮﻃ

tarîqah

2

ﻴﻣﻼﺳﻹﺍ

ﺔﻌﻣﺎﳉﺍ

al-jâmi’ah al-islâmiyyah

3

ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ

ﺓﺪﺣﻭ

wahdat al-wujud

4.Syaddah (Tasydîd)

Syaddah dalam alihaksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyyah.

Contoh:

ﺎﻨّـﺑر

: rabbanâ

لّﺰﻧ

: nazzala

ةروﺮﻀﻟا :al-darûrah

5.Kata Sandang

Kata sandang “Ưǚ ” dialihaksarakan menjadi huruf /l/, baik diikuti dengan huruf syamsiyyah maupun diikuti dengan huruf qamariyyah.

Contoh:

(12)

xii

Bsa = Bahasa Sasaran

Bsu = Bahasa Sumber

F = Frasa

Fa = Fâ’il

FAdj = Frasa Adjektival

Fi = Fi’l

FN = Frasa Nominal

FV = Frasa Verbal

I = Ism

K = Klausa

Ket. = Keterangan

KS = Kata Sarana

M = Murakkab

N = Nomina

O = Objek

P = Predikat

Pel. = Pelengkap

R = Rabit

S = Subjek

(13)

xiii

Tabel 1 Perbandingan Fungsi Sintaksis Bsu dan Bsa hal. 60

Tabel 2 Perbandingan Kategori Bsu dan Bsa hal. 62

Tabel 3 Pronomina Persona Bsu dan Bsa hal. 102

Tabel 4 Pronomina Penunjuk Bsu hal. 105

Tabel 5 Pronomina Penghubung hal. 108

Tabel 6 Numeralia Bsu dan Bsa hal. 111

(14)

xiv



Alhamdulillah, berkat rahmat dan hidayah Allah SWT penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul KOHERENSI TERJEMAHAN AL-QURAN: Analisis Struktural Terjemahan al-Quran Depag RI Edisi Tahun 2002. Karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada Konsentrasi Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Karena itu, dengan penuh ketulusan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Prof. Dr. H. Chatibul Umam, MA, selaku pembimbing tesis yang senantiasa memberikan waktu kepada penulis dengan tulus untuk berkonsultasi, memberikan bimbingan serta arahan hingga karya ilmiah ini selesai.

4. Departemen Agama, yang telah memberikan beasiswa kepada penulis selama 2 (dua) tahun untuk menyelesaikan program magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Kedua orang tua penulis tercinta, Ayahanda Sarip (alm.) dan Ibunda Kadisem serta Ayahanda mertua, H. Muhyiddin (alm.) dan ibunda Hj. Muhdiyah yang telah mengorbankan segalanya dan mendoakan untuk kebaikan hidup penulis di dunia dan akhirat nanti.

(15)

xv

dua tahun di Asrama Putra dan telah memberikan banyak bantuan dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari, dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis, tesis ini jauh dari kesempurnaan. Karena itu, kritik dan saran dari pihak manapun sangat diharapkan.

Akhirnya, dengan senantiasa berharap rida dan rahmat Allah SWT, penulis mempersembahkan karya ini kepada mereka yang berkeinginan kuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Semoga karya ini mempunyai nilai manfaat. Amin.

Ciputat, 12 Agustus 2008 Penulis,

(16)

xvi

HALAMAN JUDUL ... i

SURAT PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK... iv

PEDOMAN TRANSLITERASIARAB-LATIN... vii

DAFTAR SINGKATAN ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

KATA PENGANTAR ... xiii

DAFTAR ISI ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan ... 7

C. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 11

E. Manfaat/ Signifikansi Penelitian ... 11

F. Metodologi Penelitian ... 12

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II PARADIGMA TERJEMAHAN AL-QURAN ... 15

A. Hakikat Terjemahan ... 15

B. Ragam dan Prinsip Terjemahan ... 20

C. Prosedur Terjemahan ... 36

D. Kualitas terjemahan dan Kelembagaannya ... 41

BAB III STRATEGI TERJEMAHAN AL-QURAN DEPAG RI ... 47

A. Fungsi Sintaksis Bsu dan Bsa ... 48

(17)

xvii

BAB IV PADANAN GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL SERTA

MAKNANYA DALAM TERJEMAHAN AL-QURAN... 95

A. Padanan Gramatikal ... 97

B. Padanan Leksikal ... 139

C. Jenis Makna dalam Terjemahan al-Quran ... 150

BAB V PENUTUP ... 157

A. Kesimpulan ... 157

B. Saran ... 158

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Terjemahan, baik lisan maupun tulisan, sebagai bagian dari ilmu linguistik relatif belum lama. Bahkan sampai sekarang mengenai masalah terjemahan belum ada nama acuan yang diterima secara umum. Setiap pemerhati linguistik terjemahan mempunyai istilah sendiri, seperti: “Ilmu Terjemahan”, “Teori Terjemahan”, “Pengantar Teori Terjemahan” dan lain-lain.1 Menurut Wolfram Wills dalam bukunya The Science of Translation, penerjemahan adalah suatu proses transfer yang bertujuan untuk menyampaikan teks tertulis BSu (bahasa sumber) ke dalam BSa (bahasa sasaran)2 yang optimal padan, dan memerlukan pemahaman sintaksis, semantik, dan pragmatik, serta proses analisis terhadap BSu.3

Islam memandang bahwa terjemahan menempati posisi strategis untuk menjalankan misi-misi Islam dan keilmuan,4 di mana sasaran utamanya adalah orang-orang non Arab yang tidak memahami teks-teks Arab sebagai bahasa sumber ajaran-ajaran Islam, seperti al-Quran dan Hadits. Teks-teks tersebut harus dipahami mereka sebagai bahasa yang komunikatif.

Sebagai sebuah teks, al-Quran tidak pernah kering, apalagi habis. Teks al-Quran bisa diterjemahkan dan ditafsirkan secara kaya, tergantung

1

Salihen Moentaha, Bahasa dan Terjemahan (Jakarta: Kesaint Blanc, 2006), h. vii.

2 Istilah “bahasa sumber” merupakan terjemahan dari source language (SL), yakni bahasa

yang diterjemahkan. Sedangkan “bahasa sasaran” merupakan terjemahan dari target language (TL), yakni bahasa terjemahan. Istilah dalam terjemahan teks, bahasa sumber identik dengan “teks sumber” (Tsu), sedangkan bahasa sasaran identik dengan “teks sasaran” (Tsa). Kedua istilah tersebut juga merupakan terjemahan dari source text (ST)dan target text (TT).

3

Wolfram Wills, The Science of Translation (Stuttgart: Gunter Narr Verlag Tubingen, 1982), h. 3. Sebagaimana dikutip oleh Zuchridin Suryawinata dan Sugeng Hariyanto, Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Menerjemahkan (Yogyakarta: Kanisius, 2003), h. 15-16.

4

(19)

konteksnya, baik konteks linguistik5 maupun non-linguistiknya.6 Dengan demikian, persinggungan dan persentuhan antara penerjemah atau penafsir dengan al-Quran merupakan pergulatan yang dinamis.

Bagi orang-orang asing, terjemahan al-Quran ke dalam bahasanya mempunyai peran besar sebagai pengantar untuk mendekatkan pemahaman pesan-pesan al-Quran. Dalam kaitannya dengan penerjemahan al-Quran, menurut al-Zarqâni, penerjemahan al-Quran selama ini hendaknya mempunyai enam peran penting di antaranya adalah memberi informasi yang jelas terhadap orang-orang non Arab tentang substansi ajaran-ajaran Islam, dan menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim untuk menyampaikan lafal dan makna al-Quran.7

Manshûr Muhammad Hasb al-Nabi mengemukakan bahwa penerjemahan dan penafsiran al-Quran yang akurat dan jelas adalah satu dakwah kepada non muslim atau non Arab dengan cara yang obyektif dan ilmiah untuk memastikan kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., dan untuk menentang tuduhan-tuduhan dan pengingkaran mereka. Dengan terjemahan itu, kiranya mampu membangkitkan kesadaran mereka dari keingkarannya.8

Al-Quran sebagai teks, satu-satunya pintu untuk memasukinya adalah dengan menggunakan perangkat kebahasaan, mulai dari bahasa sebagai ilmu yang sudah mapan dengan segala cabangnya (Fonologi, Morfologi, Sintaksis

5

Mengingat objek kajian linguistik adalah bahasa, merupakan fenomena yang menyatu dengan kehidupan manusia, maka objek kajiannya meliputi linguistik umum dan khusus (dilihat dari sisi berlakunya bahasa di suatu tempat), linguistik sinkronik dan diakronik (ditinjau dari sisi masa berlakunya), linguistik mikro dan makro (ditinjau dari segi faktor internal dan eksternal), linguistik teoritis dan terapan (berdasarkan tujuannya), linguistik tradisional, struktural, transformasional, generatif semantik, relasional dan linguistik sistemik (berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penelitian bahasa). Lihat, Abdul Chaer, Linguistik Umum (Jakarta: Rineka Cipta Karya, cet. II, 2003), h. 14 - 17

6 Persoalan non linguistik adalah segala sesuatu yang menyertai teks di luar aspek

kebahasaan teks, seperti hal-hal yang mencakup ideologi, budaya, sosial, politik, sejarah.

7

Disimpulkan dari Muhammad ‘Abd al-‘Adhîm al-Zarqâni, Manâhil ‘Irfân fi ‘Ulûm al-Qurân (Mesir: ‘Isa al-Bab al-Halbi, t.t.) jilid II, h. 137-139.

8

(20)

dan Semantik), hingga temuan-temuan mutakhir dalam bidang ini, seperti pragmatika bahasa, wacana, dan semua ilmu yang berbicara tentang hubungan bahasa dengan konteks sosial-budaya. Semua ilmu ini harus didayagunakan untuk menguak teks. Meski demikian, tidak hanya perangkat kebahasaan yang mampu untuk mengeksplorasi makna al-Quran tersebut, namun masih banyak pendekatan yang masih mungkin dilakukan untuk hal itu. Perangkat bahasa dipergunakan di sini dalam kaitannya dengan fakta bahwa al-Quran adalah teks verbal.

Terjemahan al-Quran bagi orang yang asing, khususnya masyarakat muslim Indonesia - sebagaimana yang dipahami selama ini - merupakan wacana yang harus dibaca, dipahami dan diaplikasikan, sebagaimana orang yang paham dengan bahasa al-Quran. Terjemahan al-Quran yang tidak tepat, sepadan dan adekuat akan menimbulkan kontradiksi dan persepsi yang salah. Misalnya terjemahan al-Quran yang dihasilkan oleh H.B. Jassin, seorang kritikus sastra pada akhir 1970-an.9 Terjemahannya ini kemudian mendapatkan kecaman dan kritik serta tanggapan dari berbagai komunitas masyarakat muslim di Indonesia, termasuk dari Departemen Agama.10 Sebenarnya dalam hal penerjemahan, “betul-salah” nya terjemahan hanya bersangkutan dengan aspek kebahasaan murni. Ini sifatnya mutlak. Dan faktor bahasa itulah yang selalu membayangi proses penerjemahan, karena antara Bsu dan Bsa berbeda. Jadi, istilah kesalahan dalam terjemahan harus dibedakan antara “betul-salah” (correctness) dengan “baik-buruk” (good or bad translation).11

Diakui bahwa terjemahan satu kalimat, tidaklah sepenuhnya sama dengan bahasa sasaran yang dimaksud, karena adanya beberapa perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Lebih-lebih bahasa Arab mempunyai kosa kata

9

Dia mendapatkan inspirasinya dari Dr. Yûsuf ‘Ali, seorang penerjemah al-Quran ke dalam bahasa Inggris berasal dari India pada tahun 1930-an. Terjemahan H.B. Jassin ini bergaya puitis dengan kalimat-kalimat yang indah. Lihat, Phil M. Nur Kholis Setiawan, al-Quran Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: elSAQ Press, 2005), h. 264.

10

Lihat, H. Oemar Bakry, Polemik H. Oemar Bakry dengan H.B. Jassin tentang Quran al-Karim Bacaan Mulia (Jakarta: Mutiara, 1979).

11

(21)

yang sangat kaya. Di sisi lain diakui pula, bahwa menerjemahkan al-Quran tidak akan pernah berhasil,12 karena itu banyak ulama yang enggan menggunakan istilah terjemahan al-Quran, tetapi “terjemahan makna-makna al-Quran”13 Namun demikian, istilah terjemahan al-Quran di Indonesia lebih banyak digunakan dalam pengertian “terjemahan makna-makna al-Quran”. Dan inilah yang membedakan terjemahan kitab suci al-Quran dengan kitab Injil.

Menurut Suryawinata, praktek terjemahan al-Quran agaknya menggunakan prinsip terjemahan semantis.14 Oleh karena itu, pada umumnya terjemahan semantis terasa lebih kaku dengan struktur yang lebih kompleks karena ia menggambarkan dan mempertahankan proses berpikir dan idiolek penulis aslinya.

Makna-makna al-Quran sering kali menguji ketelitian penerjemah, sehingga penerjemah menerjemahkan makna baru di tingkat kata, frase dan kalimat yang boleh jadi tidak dikehendaki Quran. Oleh karena itu, teks al-Quran – sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Islam – adalah wacana otoritatif (authoritative), sehingga penerjemahannya harus sedekat dan setepat mungkin dengan teks aslinya baik gramatika, kosakata, konsep, makna, amanat maupun stilistiknya.

Kehadiran Al-quran dan terjemahnya terbitan Departemen Agama RI Edisi Tahun 2002 yang diakui telah mengalami beberapa penyempurnaan,15 sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia, karena al-Quran dengan menggunakan bahasa aslinya tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan umat Islam Indonesia. Meskipun banyak bermunculan al-Quran berikut

12

Sambutan Menteri Agama, al-Quran dan Terjemahnya Departemen Agama RI (Surabaya: Mekar Surabaya, 2004), h. iii. Lihat juga, M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi,( Jakarta: Lentera Hati, 2006) h. 323.

13

M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, h. 323.

14

Terjemahan semantis berusaha mempertahankan struktur semantis dan sintaktik serta makna kontekstual dari teks BSu. Sehingga elemen budaya BSu harus tetap menjadi elemen budaya BSu meskipun ia hadir dalam teks terjemahan BSa. Lihat, Zuchridin Suryawinata dan Sugeng Hariyanto, Translation (Yogyakarta: Kanisius, 2007) h. 50.

15

(22)

terjemahannya yang diterbitkan oleh beberapa penerbit,16 namun tetap dalam pengawasan dan penelitian serta pengesahan dari Lajnah Pentashih al-Quran.

Sebagai karya terjemahan teks suci al-Quran, al-Quran dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama perlu diuji dari segi kualitas hasil terjemahannya. Menurut Suryawinata,17 di antara cara-cara yang dilakukan untuk menguji hasil terjemahannya itu adalah (1) membandingkan teks Bsu dengan Teks Bsa, (2) terjemahan balik, (3) prosedur Cloze, (4) pengujian pemahaman dan kesan oleh pembaca teks Bsa, dan (5) membandingkan pemahaman dan kesan yang diperoleh oleh pembaca teks Bsu dan pembaca teks Bsa.

Dalam banyak hal, penelitian dengan objek hasil terjemahan identik dengan kritik terjemahan. Menurut Newmark,18 sebuah kritik terjemahan yang komprehensif harus mencakup lima hal, yaitu (1) analisis singkat teks Bsu, (2) interpretasi penerjemah, (3) perbandingan yang selektif bagian teks Bsu dan teks Bsa, (4) evaluasi terjemahan, dan (5) peran karya tersebut dalam budaya atau disiplin ilmu di dalam konteks Bsa.

Terjemahan al-Quran memiliki tingkat keterpahaman yang tinggi, memenuhi seluruh makna dan maksud nas sumber dan bersifat otonom. Otonom yang dimaksud adalah terjemahan itu dapat menggantikan nas sumbernya.19 Singkatnya, kualifikasi itu ditetapkan supaya terjemahan yang dihasilkan berkualitas.

Menilai kualitas terjemahan berarti menilai tingkat keterpahamannya. Menurut Nida dan Taber, tingkat keterpahaman itu berkaitan sekali dengan ada atau tidaknya dua hal, yaitu (a) ungkapan yang dapat menimbulkan salah

16

Di antara penerbit yang menerbitkan al-Quran dan Terjemahnya serta telah mendapatkan Tanda Tashih adalah C.V. Asy-Syifa, Semarang; C.V. Karya Utama, Surabaya; C.V. Mekar, Surabaya; C.V. Karindo, Jakarta; C.V. Ramsa Putra, Surabaya; C.V. Diponegoro, Bandung; C.V. Pustaka Amani, Jakarta; P.T. Al-Huda Pelita Insan Ind, Jakarta; P.T. Syamil Cipta Media, Bandung. Sedangkan untuk al-Quran dan Terjemahnya serta Transliterasinya adalah penerbit C.V. Sinar Baru Bandung. Lihat, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama Republik Indonesia, Kegiatan Lajnah Pentashih Mushaf al-Quran, artikel diakses pada tanggal 17 April 2008 dari http/www.Depag.

17

Zuchridin Suryawinata dan Sugeng Hariyanto, Translation, h. 176.

18

Peter Newmark, Approaches to Translation (Oxford: Pergamon Press, 1981), h. 186.

19

(23)

paham dan (b) ungkapan yang membuat pembaca sangat sulit memahami amanat yang dikandungnya karena faktor kosa kata dan gramatika.20

Faktor kosa kata dan gramatika seringkali menjadi objek kritik terjemahan. Moh. Mansyur, dalam studi kritisnya terhadap terjemahan al-Quran Departemen Agama (1998) – sebagaimana penulis kemukakan pada bab penelitian terdahulu yang relevan - menyatakan bahwa penyimpangan terjemahan dapat terjadi karena pemilihan kata (diksi) yang kurang tepat dalam terjemahan gramatika BSu. Ismail Lubis (2001) juga menyatakan bahwa penyimpangan terjemahan dapat diakibatkan oleh ketidaksesuaiannya dengan gramatika Bsa. Ketidaksesuaiannya itu antara lain: frasa preposisional daripada banyak digunakan di luar kalimat perbandingan; dua kata syarat sekaligus digunakan untuk menyatakan satu kalimat pengandaian, seperti kalau sekiranya, jika seandainya, jika sekiranya; kata saling digunakan untuk menyatakan kooperatif (musyârakah) dengan pengulangan kata verbal yang serupa, seperti saling dahulu mendahului dan sebagainya.21

Namun dalam beberapa hal yang berkaitan dengan terjemahan al-Quran Depag RI sendiri, misalnya ragam dan prinsip-prinsip terjemahan, strategi terjemahan, padanan leksikal dan gramatikal serta kata-kata dan makna terjemahan al-Quran, penelitiannya belum pernah dilakukan. Padahal menurut Hoed,22 ada tiga faktor penting yang harus diperhatikan dalam terjemahan, yaitu (a) perbedaan antara Bsu dan Bsa, (b) faktor konteks, dan (c) prosedur terjemahan.

Faktor pertama, perbedaan antara Bsu dan Bsa jelas ada, sebab tidak ada dua bahasa yang sama, karena masing-masing bahasa memiliki karakteristik masing-masing, lebih-lebih kedua bahasa tersebut berbeda rumpun bahasanya. Kedua, faktor konteks atau sebagai proses penerjemahan yang dapat membantu memecahkan masalah, misalnya dalam konteks cerita suatu

20

Nida, E.A. dan Taber C. The Theory and Practise of Translation (Leiden: The United Bible Societies, 1982), h. 2.

21

Ismail Lubis, Falsifikasi Terjemahan al-Quran Depag RI Edisi 1990 (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001), h. 215.

22

(24)

kegiatan dapat dianggap “lampau”, meskipun tidak diungkapkan pemakaian kala lampau pada bahasa terjemahannya. Ketiga, menentukan prosedur terjemahan atau teknik yang cocok untuk memecahkan masalah perbedaan sistem dan struktur kedua bahasa itu.

Berdasarkan beberapa alasan di atas, maka penelitian yang akan dilakukan memang laik. Adapun penelitian yang dimaksudkan penulis adalah analisis struktur wacana terjemahan al-Quran Departemen Agama Edisi Baru 2002. Analisis struktural,23 dalam kajian penulis terfokus pada dua hal pokok, yaitu analisis bentuk dan analisis makna. Dua model analisis itu meliputi satuan kata, rangkaian kata (frasa), klausa dan kalimat. Sedangkan terjemahan al-Quran dibangun oleh komponen-komponen yang terjalin di dalam suatu organisasi kewacanaan. Menurut Mulyana, organisasi inilah yang disebut sebagai struktur wacana. Beberapa aspek pengutuh wacana dapat dikelompokkan ke dalam dua unsur, yaitu (a) unsur kohesi, seperti aspek

d. Padanan Gramatikal dan Leksikal dalam terjemahan al-Quran e. Kata-kata al-Quran dan terjemahannya

f. Makna dan terjemahan al-Quran

23

Istilah struktural pertama kali muncul dari pandangan seorang linguis struktural berkebangsaan Swiss, Ferdinand de Saussure. Ia melahirkan aliran struktural dalam linguistik yang berpendapat bahwa setiap bahasa adalah sebuah sistem, sebuah hubungan struktur yang unik yang terdiri dari satuan-satuan yang disebut struktur. Lihat Jhon Lyons, Semantics (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), h. 231.

24

(25)

2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah penulis identifikasi, maka penulis membatasinya sebagai berikut:

a. Strategi Terjemahan al-Quran.

b. Padanan Gramatikal dan Leksikal dalam terjemahan al-Quran. c. Makna dalam terjemahan al-Quran

Adapun alasan penulis membatasi tiga masalah di atas, karena dalam terjemahan al-Quran dituntut adanya tuntunan teknis untuk menerjemahkan kata, frasa, klausa atau kalimat. Dan tuntunan ini disebut dengan teknik terjemahan atau strategi terjemahan. Dalam literatur terjemahan, strategi ini dikenal dengan prosedur terjemahan (translation procedures).

Sedangkan pembatasan masalah kedua, padanan gramatikal dan leksikal, karena bahasa al-Quran sebagai Bsu dan bahasa Indonesia sebagai Bsa memiliki karakteristik masing-masing, tentunya akan memiliki persamaan dan perbedaan. Meminjam asumsi analisis kontrastif dalam bidang pengajaran bahasa asing,25 bila struktur Bsu dan Bsa sama, maka terjemahan akan cenderung lebih mudah. Akan tetapi bila Bsu dan Bsa berbeda, maka penerjemah akan mengalami kesulitan dalam menemukan terjemahan yang sesuai.

Kemudian pembatasan masalah ketiga, makna dan terjemahan, karena keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Menurut Newmark, menerjemahkan berarti memindahkan makna dari serangkaian atau satu unit linguistik dari satu bahasa ke bahasa lain.26 Yang perlu

Analisis kontrastif adalah komparasi sistem-sistem linguistik dua bahasa, misalnya sistem bunyi atau sistem gramatikal. Analisis ini dikembangkan dan dipraktekan pada tahun 1950-an dan 1960-an, sebagai suatu aplikasi linguistik struktural pada pengajaran bahasa. Lihat, Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Analsis Kontrastif Bahasa (Bandung: Angkasa, 1992), h. 4.

26

(26)

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah yang penulis rumuskan di sini adalah sebagai berikut:

a. Strategi apa yang dilakukan dalam terjemahan al-Quran Departemen Agama RI.

b. Bagaimana padanan gramatikal dan leksikal terjemahan al-Quran dalam perbandingan antara Bsu dan Bsa.

c. Jenis makna apa saja yang terkandung dalam terjemahan al-Quran.

C. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang berkaitan dengan terjemahan al-Quran Departemen Agama yang merupakan objek dari penelitian ini, penulis temukan tiga buah penelitian, yaitu:

Moh. Mansyur (1998) dalam studi kritisnya terhadap terjemahan al-Quran Depag RI, disimpulkan bahwa terjemahan al-Quran tersebut dianggap menyimpang dari teori penerjemahan al-Quran yang semestinya. Di antara penyimpangan itu antara lain karena penerjemahan yang dilakukan berdasarkan pengalaman pribadi bukan dilandasi oleh teori linguistik dan tidak ditunjang oleh pengetahuan lain yang membawa kepada kebenaran terjemahan.27 Sisi lainnya mengenai diksi, diksi yang dimaksudkan adalah bukan saja dipergunakan untuk mengatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan konteks, gaya bahasa dan ungkapan. Mansyur sempat mengkritisi pemilihan kata (diksi) kata depan yang digunakan dalam menerjemahkan beberapa huruf al-Jarr. Namun yang ia kritisi hanya pada beberapa kasus dan beberapa huruf

al-Jarr, misalnya

ﻦﻣ

dalam beberapa pola.

Kemudian Ismail Lubis (2001) dalam studi penelitiannya juga mengkritisi terjemahan al-Quran Depag RI Edisi tahun 1990. Hasil penelitiannya tidak jauh berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan Moh.

27

(27)

Mansyur. Hanya penekanannya pada sebab-sebab terjadinya kesalahan terjemahan dari aspek ketidaksesuaiannya dengan gramatika Bahasa Indonesia, terutama dalam pemilihan kata (diksi) sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

M. Quraish Shihab dalam karyanya Menabur Pesan Ilahi (2006), menemukan dalam al-Quran dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama beberapa makna yang dihilangkan dan muncul makna baru yang boleh jadi tidak dikehendaki al-Quran. Dan menurutnya, hal-hal itu diakibatkan oleh ketidaktelitian penerjemahan al-Quran. Di antaranya adalah bentuk muanntasbaqarah” diterjemahkan dengan “sapi betina”, bentuk kata jamak (plural) mawâzînuhu pada fa ammâ man tsaqulat mawâzînuhu diterjemahkan dengan “timbangannya” dalam bentuk tunggal, juga wujûhakum pada fawallû wujûhakum diterjemahkan dengan “wajahmu” dalam bentuk tunggal. Dalam setiap doa yang ada dalam al-Quran, misalnya rabbanâ diterjemahkan seluruhnya dengan menggunakan kata “ya” atau “wahai”.28

Ketiga penelitian di atas berkaitan sekali dengan terjemahan al-Quran Depag RI. Perbedaan itu terletak pada edisi terjemahannya, yakni Moh. Mansyur mengkritisi terjemahan al-Quran Depag RI edisi tahun 1970, sedangkan Ismail Lubis terhadap edisi tahun 1990, demikian pula M. Quraish Shihab. Namun, peneliti pertama menjadikan terjemahan al-Quran itu sebagai objek penelitiannya dari sisi gramatika bahasa yang kemudian menyimpulkan bahwa terjemahan al-Quran Depag RI edisi 1970 itu belum mengikuti teori terjemahan. Peneliti kedua tidak jauh berbeda dengan peneliti pertama, hanya aspek yang ditekankan dalam kritikannya adalah gramatika Bsa. Sedangkan peneliti terakhir menjadikan objek penelitiannya dari sisi padanan makna Bsu ke dalam Bsa.

Sehubungan dengan hal itu, penulis hendak mengkritisi pendapat peneliti pertama yang menyatakan terjemahan al-Quran Depag RI itu belum mengikuti teori terjemahan. Teori yang dimaksudkan adalah semacam alat yang dipakai untuk memudahkan proses penerjemahan dan harus diakui

28

(28)

bahwa teori penerjemahan memang diperlukan keberadaannya dalam penerjemahan teks apapun.

Terjemahan al-Quran seperti terjemahan pada umumnya memiliki tujuan dan jenis terjemahan yang diinginkan. Para pakar terjemahan sependapat bahwa “betul-salah” (correctness) tergantung untuk siapa terjemahan itu dibuat.29 Misalnya terjemahan teks hukum dibuat untuk orang awam seharusnya dengan menggunakan ungkapan atau istilah yang mudah dipahami mereka. Akan tetapi, jika terjemahan itu dibuat untuk institusi pengadilan dan hukum, maka istilah atau ungkapan yang digunakan adalah istilah-istilah yang baku. Dengan demikian, pelaksanaan terjemahan harus mempelajari siapa pengguna terjemahan tersebut (audience design). Atas dasar itu, kemudian hal yang dilakukan oleh penerjemah adalah menentukan metode atau cara terjemahannya.

Prinsip dasar terjemahan - sebagaimana dijelaskan oleh Nida dan Taber – hendaknya tidak mengikuti satu langkah saja, namun harus ditempuh dengan “tiga langkah penerjemahan”, yaitu analisis Bsu, transfer atau mengalihbasakan dalam pikiran dan restrukturisasi (menerjemahkan) .30 Namun, dengan mengikuti tiga langkah tersebut belum dapat memecahkan masalah terjemahan, terutama dalam menanggulangi kesulitan terjemahan dalam tataran kata, , frase dan kalimat. Cara penanggulangan ini dikenal dengan teknik atau strategi terjemahan.

Ada banyak teknik atau strategi terjemahan yang ditawarkan, misalnya transposisi, modulasi, terjemahan deskriptif, penjelasan tambahan, catatan kaki, terjemahan fonologis, terjemahan resmi/ baku, tidak diberikan padanan dan padanan budaya.

(29)

tergantung dari sisi aspek kebahasaan murni. Maka banyak yang beranggapan bahwa terjemahan adalah sekedar pengalihbahasaan. Lebih tepat dikatakan bahwa terjemahan adalah pengalihan pesan (message) dari Tsu ke dalam Tsa. Berkaitan dengan pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip oleh Hanafi, Nida memberikan batasan terjemahan yang berarti menciptakan padanan yang paling dekat dalam bahasa penerima terhadap pesan bahasa sumber, pertama dalam hal makna dan kedua pada gaya bahasanya.31 Padanan yang dimaksud di sini bisa berupa padanan gramatikal, leksikal dan makna. Dengan demikian, padanan dan makna atau pesan yang terkandung merupakan referensi dasar bagi terjemahan Tsu ke dalam Tsa. Sehubungan dengan hal itu, maka penulis hendak memperkuat pernyataan Suryawinata bahwa terjemahan al-Quran Depag RI bersifat semantis. Bsu hendaknya dicarikan padanan makna atau pesannya di dalam Bsa. Apabila tidak ditemukan padanannya, maka strategi semantis perlu dilakukan untuk mendapatkan makna atau pesan yang diperoleh sebagaimana Bsu-nya.

Beberapa hal yang berkaitan dengan terjemahan al-Quran terbitan Departemen Agama RI, terutama baik yang menyangkut strategi terjemahan, padanan dan makna terjemahannya, menurut penulis belum dianalisis secara mendalam oleh beberapa peneliti sebelumnya.

D. Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini ditujukan untuk sejauh mana keutuhan wacana terjemahan al-Quran Depag RI. Sedangkan secara khusus, penelitian ini ditujukan untuk:

1. Memetakan strategi terjemahan al-Quran Depag RI edisi 2002.

2. Mencari unsur-unsur linguistik bahasa al-Quran yang dapat dipadankan dengan bahasa Indonesia.

31

(30)

3. Membandingkan padanan formal dan makna terjemahan al-Quran Depag RI dengan terjemahan edisi sebelumnya dan terjemahan lainnya.

E. Manfaat/ Signifikansi Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat berguna bagi pemikiran ilmiah dalam memberikan gambaran dan memperluas pemahaman terhadap bahasa al-Quran yang diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan yang lebih penting adalah untuk:

1. Mendorong terhadap penelitian ayat-ayat al-Quran dan atau terjemahannya yang lebih mendalam ditinjau dari aspek kebahasaannya.

2. Memberikan nilai tambah bagi pengajaran bahasa Arab dan aktivitas penerjemahan dalam rangka mengatasi problem linguistik yang timbul sebagai akibat perbedaan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia.

3. Memudahkan bagi para pelajar untuk memahami teks-teks berbahasa Arab dan memilih padanan maknanya ke dalam bahasa Indonesia terutama yang berkaitan dengan teks-teks keagamaan.

F. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian ini mengkaji dan menganalisis data secara objektif sesuai dengan fakta nyata yang ditemukan, kemudian memaparkannya secara deskriptif. Sementara model penelitiannya adalah: (a) observasi terhadap data, (b) penyediaan data, (c) reduksi dan pemaknaan secara deskriptif.

2. Data dan Sumber Data

Data ini berupa terjemahan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan unsur-unsur teks terjemahan yang diawali dari tingkat kata, klausa, frase dan kalimat.Sedangkan Sumber datanya adalah terjemahan al-Quran Depag RI edisi tahun 2002 pada surah al-Baqarah.

3. Teknik Pengumpulan Data

(31)

diklasifikasikan menurut ketiga permasalahan, yaitu strategi terjemahannya, padanan gramatikal dan leksikal serta makna dan terjemahannya.

4. Uji Keabsahan Data

Data diuji keabsahannya dengan validitas semantik-kontekstual, yaitu mengklasifikasikan, memaknai dan mengkaji data dengan mempertimbangkan konteks kalimat secara struktural. Reliabilitas data dilakukan dengan cara pembacaan dan pengkajian berulang-ulang oleh peneliti agar memperoleh keajegan yang memadai.

5. Analisis Data

Sehubungan dengan data yang hendak dianalisis adalah teks terjemahan al-Quran, maka analisis yang dipergunakan adalah analisis wacana untuk mengungkap pertalian bentuk (kohesi) dan maknanya (koherensi). Menurut Muhadjir, terjemah atau translation merupakan upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama melalui media yang berbeda; media tersebut mungkin bisa berupa bahasa yang satu ke bahasa yang lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya.32

Setiap wacana dalam tingkat kebahasaan memiliki struktur, dan struktur yang dimaksud di sini adalah struktur mikro.33 Data seperti kata, kalimat dan teks terjemahan semuanya dianalisis berdasarkan metode kualitatif.34 Beberapa prinsip analisis yang digunakan antara lain penghayatan dan penafsiran oleh peneliti sendiri sebagai key instrument.

32

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake, 1988), h. 138.

33

Menurut Teun A. Van Dijk, sebagaimana yang dikutip oleh Eriyanto, wacana memiliki tiga struktur, yaitu: (1) struktur makro, yaitu makna global yang dapat diamati lewat topik dari suatu tema; (2) superstruktur, yaitu kerangka struktur teks, bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalam teks secara utuh; dan (3) struktur mikro, yaitu makna yang diperoleh melalui analisis kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, frasa yang dipakai dan sebagainya. Lihat Eriyanto, Kekuasaan Otoriter dari Gerakan Penindasan Menuju Politik Hegemoni (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h. 54.

34

(32)

G. Sistematika Penulisan

Untuk menggambarkan isi tesis ini secara garis besar, penulis bagi ke dalam lima bab, yaitu:

Bab I berisi pendahuluan yang terdiri dari subbab, yaitu latar belakang masalah, permasalahan, perumusan masalah, penelitian terdahulu yang relevan, tujuan penelitian, manfaat/ signifikansi penelitian dan metodologi penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II merupakan kajian dasar untuk menganalisis permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya dengan tema paradigma terjemahan yang terdiri dari subbab hakikat terjemahan, ragam dan prinsip terjemahan, prosedur terjemahan, kualitas terjemahan dan kelembagaannya.

Bab III merupakan bab analisis tentang strategi terjemahan al-Quran Depag RI yang terdiri dari tiga subbab yaitu fungsi sintaksi Bsu dan Bsa, strategi struktural, strategi semantis.

Bab IV juga masih dalam bab analisis yang berisi tentang padanan gramatikal dan maknanya, padanan leksikal dan maknanya dan jenis makna dalam terjemahan al-Quran.

(33)

BAB II

PARADIGMA TERJEMAHAN AL-QURAN

Kehidupan manusia tidak akan ada artinya bila tidak ada bahasa. Baik itu bahasa yang dipergunakan oleh manusia yang mampu berbicara dan menulis atau bahasa isyarat bagi yang tidak mampu berbahasa lisan. Melalui bahasa pula segala informasi atau pesan dapat dipahami dan dilakukan. Bahasa yang besar hanya dimiliki oleh bangsa yang mampu menyentuh segala aspek kehidupan dan berhubungan dengan perasaan serta segala aktivitasnya.

Bahasa yang satu dengan lainnya tentunya tidak memiliki persamaan secara keseluruhan. Misalnya bahasa Indonesia dengan bahasa Arab tidak ada persamaan dari segi strukturnya, apalagi budayanya. Bahasa Arab yang dikenal sebagai bahasa agama Islam yang dimaksudkan untuk mengenal dan memahami teks-teks keagamaan telah lama diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Keterpahaman terhadap Islam pada awalnya dimulai dari keterpahaman terhadap bahasa kitab sucinya, yakni al-Quran. Namun, bagi komunitas masyarakat yang belum memahami bahasa itu secara optimal harus melewati satu cara yaitu membaca terjemahan bahasanya. Dan dari bahasa itulah mereka akan memahami bahasa al-Quran itu sendiri dan mengamalkan isi kandungannya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa bahasa merupakan media terjemahan untuk mengungkapkan materi atau substansi yang sama. Dalam bab ini, penulis perlu menjelaskan terjemahan Al-Quran yang berkembang menurut masa dan ragam serta prosedur yang digunakan. Karena itu hal-hal yang perlu dikemukakan dalam bab ini adalah hakikat terjemahan, ragam dan prinsip terjemahan, prosedur terjemahan, kualitas terjemahan dan kelembagaannya.

A. Hakikat Terjemahan

(34)

ditulis oleh Larson dalam bukunya Meaning-based Translation: A Guide to Cross-language equivalence:

“Translation is basically a change of form. When we speak of the form of a language, we are referring to the actual words, phrases, clauses, sentences, paragraphs, etc., which are spoken or written. ... In translation the form of the source language is replaced by the form of the receptor (target) language.”1

Menurut definisi di atas, bentuk bahasa baik tertulis maupun lisan dalam terjemahan dapat mengacu pada kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf.

Mungkin juga didasarkan pada penekanan terjemahan sebagai pengalihan arti dan pesan dari suatu bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa), seperti yang dinyatakan oleh Newmark sebagai berikut:

“Translation is a craft consisting in the attempt to replace a written message and/ or statement in one language by the same message and/ or statement in another language.”2

Berdasarkan definisi yang dinyatakan Newmark, maka ada dua hal yang diperbincangkan, yaitu: Pertama, Newmark memandangyang berkaitan dengan terjemahan adalah teks tertulis. Kemungkinan yang muncul dari hal pertama ini adalah dimaksudkan untuk membedakan terjemahan (translation) dengan terjemahan lisan (interpretation).3 Kedua, Newmark tidak menggunakan istilah equivalen atau padanan, tetapi ia lebih senang menggunakan istilah yang sama dalam bahasa lain.

1

Mildred L. Larson (selanjutnya disebut Larson), Meaning-based Translation: A Guide to

Cross-language Equivalence (London: University Press of America, 1984), h. 3. 2

Peter Newmark (selanjutnya disebut Newmark), Aproaches to Translation (Oxford:

Pergamon Press, 1981), h. 7 3

Dua istilah translation dan interpretation mengandung perbedaan dalam bahasa Inggris.

Perbedaan itu terletak pada media yang digunakan, yaitu terjemahan menggunakan teks tulis sedangkan interpretasi menggunakan wacana lisan. Juga interperetasi tidak menggunakan sarana lainnya seperti kamus atau bahan referensi lain secara langsung serta tempatnya pun telah ditentukan, misalnya di ruang seminar atau konferensi. Lihat, Zuchridin Suryawinata dan Sugeng Hariyanto,

(35)

Dengan demikian, dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa terjemahan adalah pengalihan yang sepadan atau sesuai dari suatu bahasa ke bahasa lainnya baik berupa bentuk-bentuk bahasa maupun pesan-pesan yang terkandung. Terjemahan yang diartikan pengalihan bentuk-bentuk akan mempengaruhi penerjemah menjadi terikat, sedangkan terjemahan yang diartikan pengalihan makna atau pesan-pesan yang terkandung dalam Bsu (the source language) ke dalam Bsa (the target language) akan mendorong penerjemah lebih bebas untuk menerjemahkan teks-teks Bsu. Oleh karena itu, al-Qattân mengelompokkan terjemahan secara khusus ke dalam dua kategori, yaitu al -Tarjamah al-Harfiyyah dan al-Tarjamah al-Tafsîriyyah atau al-Ma’nawiyyah.4 Sementara dua kategori terjemahan yang dikelompokkan oleh al-Qattân tadi, ‘Abd al-Halîm menyimpulkan bahwa terjemahan adalah mengalihkan pikiran dan ide-ide serta kata-kata Bsu ke dalam Bsa tanpa mengubah isi teks Bsu-nya.5

Dari beberapa pendapat tentang terjemahan di atas, dapat diambil benang merah bahwa terjemahan baik lisan maupun tulisan merupakan satu proses kegiatan manusia di bidang bahasa, yaitu analisis teks Bsu, kemudian pengalihan atau penggantian teks Bsu ke dalam Bsa. Menurut Larson, analisis teks Bsu meliputi kata-kata, struktur gramatikal, situasi komunikasi dalam teks Bsu dan konteks budayanya. Kemudian diungkapkan kembali dengan menggunakan kosakata dan struktur gramatikal Bsa yang baik dan cocok dengan konteks budaya Bsa.6 Di sinilah, kata merupakan salah satu dari enam hierarki bahasa dalam

4

Al-Tarjamah al-Harfiyyah ialah mengalihkan lafal-lafal Bsu ke dalam Bsa yang sesuai

menurut konstruksinya dan urutannya dalam kalimat itu. Al-Tarjamah al-Tafsîriyyah atau

al-Ma’nawiyyah ialah mengalihkan makna atau pesan teks Bsu ke dalam Bsa tanpa terikat oleh urutan

kata dalam teks itu atau konstruksinya. Lihat Mannâ’ al-Qattân, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qurân (Kairo:

Maktabah Wahbah, 2007), h. 307. 5

‘Abd al-Halîm al-Sayyid Munsiy dan ‘Abd Allâh ‘Abd al-Râziq Ibrâhîm, al-Tarjamah:

Usuluhâ wa Mabâdi`uhâ wa Tatbîquhâ (Riyad: Dâr al-Murîkh, t.t.), h. 11. 6

(36)

satuan terjemahan (unit of translation), yaitu fonem, morfem, kata, frasa, kalimat dan teks.7

Setiap satuan bahasa dalam setiap bahasa mengandung dua level, yaitu level pengungkapan (level of expression) dan level isi (level of content). Berbagai bahasa mempunyai satuan-satuan yang berlainan tingkat pengungkapannya, tapi sama dalam tingkat isinya. Misalnya kalimat bahasa Arab; Hâdzâ kitâb diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; Ini buku, yang berbeda tingkat pengungkapannya (bentuknya), tapi sama pada tingkat isinya (maknanya).

Dengan demikian, terjemahan pada hakikatnya proses penggantian teks Bsu dengan teks Bsa tanpa mengubah tingkat isi teks Bsu. Namun, perlu ditekankan di sini bahwa pengertian “tingkat isi” harus dipahami secara maksimal dan luas, yakni tidak hanya menyangkut arti dasar (material meaning) yang terkandung dalam teks Bsu, tapi juga norma-norma Bsu, seperti makna leksikal, makna gramatikal dan nuansa stilistis. Karena itu, Said melengkapi proses penggantian menurut Larson di atas melalui skema berikut:8

Bsu Bsa

Terjemahan (Jakarta: Kesaint Blanc, 2006), h. 33. 8

Mashadi Said, Socio-Cultural Problems in the Translation of Indonesian Poems into

English: A Case Study on “Foreign Shore” (Tesis Magister IKIP Malang, 1994), h. 20.

(37)

Kepatuhan pada norma-norma tersebut dalam terjemahan merupakan kewajiban yang tidak boleh dilanggar oleh penerjemah, meskipun dia bebas memilih sarana yang satu atau sarana lainnya dalam melakukan kegiatan terjemahan asal saja tetap mempertahankan semua informasi yang terkandung dalam teks Bsa. Misalnya, pengungkapan informasi dalam teks Bsu yang menggunakan sarana gramatikal, tapi diungkapkan dalam teks Bsa dengan bantuan sarana leksikal, seperti : dzahaba Khâlid ilâ al-madrasah; dipakai sarana gramatikal, yaitu kala perfektif yang tidak ditemukan dalam Bsa, sehingga terjemahannya menggunakan bantuan sarana leksikal: Khalid telah pergi ke sekolah.

Penggunaan sarana leksikal maupun gramatikal dalam satu bahasa berbeda dengan penggunaan sarana leksikal atau gramatikal dalam bahasa lain. Apalagi bahasa al-Quran yang berbeda struktur dan sistemnya dengan bahasa Indonesia.9 Menurut Verhar – sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Chaer – bahwa struktur dan sistem dalam bahasa lebih tepat digunakan, karena keduanya dapat diterapkan dalam semua tataran bahasa yang meliputi fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, juga dalam tataran leksikon.10

Karena itulah, sarana-sarana bahasa merupakan problematika dalam terjemahan, seperti sarana leksikal, misalnya kata bahasa Arab: nomina ruz bisa mempunyai aneka makna, yaitu: padi, gabah, beras atau juga nasi; verba ra`a juga mempunyai medan makna semantis yang menyatakan persepsi, yaitu: melihat, berpendapat, mengerti, menduga, bermimpi dan meminta nasehat. Sedangkan sarana gramatikal, bahasa Arab memiliki bentuk tunggal, dual dan jamak yang masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri yang tidak dimiliki bahasa Indonesia, karena hanya dua bentuk yang dimiliki yaitu bentuk tunggal dan jamak

9

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear.

Contoh: Dia mengikut ibunya, maka kalimat itu dapat dianalisis atas bagian-bagian tertentu secara

fonemis, morfemis, maupun sintaksis. Semua konstituen tadi dapat dibandingkan dengan bentuk bahasa yang lain. Sedangkan sistem adalah hubungan antara bagian-bagian kalimat. Misalnya, adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa itu merupakan fakta adanya sistem dalam bahasa tersebut.

10

(38)

tanpa ciri-ciri khusus yang membedakannya. Pada kategori genus (maskulin dan feminin), masing-masing memilikinya meskipun tidak sama ciri-cirinya. Lainnya adalah aspek, karena bahasa Indonesia tidak memiliki bentuk aspek secara gramatikal. 11

Dengan demikian, proses terjemahan harus ada dua teks yang harus dipadankan, yaitu teks Bsu dan Bsa. Kemudian teks Bsa dapat diketahui terjemahan atau bukan melalui ragam-ragam terjemahan yang berdasarkan prinsip yang dianutnya.

B. Ragam Dan Prinsip Terjemahan

Menurut Nababan, munculnya beberapa terjemahan di Indonesia dengan berbagai macam ragamnya disebabkan oleh empat faktor, yaitu: 1) adanya perubahan sistem Bsu dengan sistem Bsa, 2) adanya perbedaan jenis materi teks yang diterjemahkan, 3) adanya anggapan bahwa terjemahan adalah alat komunikasi dan 4) adanya perbedaan tujuan dalam menerjemahkan suatu teks.12

Bahasa menurut beberapa pengertian bahasa dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah sistem. Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’, seperti dalam kalimat “Kalau tahu sistemnya, tentu mudah mengerjakannya”. Tetapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya berhubungan secara fungsional.

Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya, bahasa tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan

11

Aspek adalah keadaan peristiwa atau perbuatan. Meskipun bahasa Indonesia memiliki tiga aspek, yakni telah, sedang dan akan, tetapi seluruhnya tidak menggunakan unsur-unsur morfologis sebagaimana bahasa fleksi. Ketiga aspek tersebut dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kata-kata

tertentu untuk menunjukkan perbedaan ketiga aspek itu. Samsuri, Analisis Bahasa (Jakarta: Erlangga,

1985), h. 251. 12

M. Rudolf Nababan, Teori Menerjemahkan Bahasa Inggris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

(39)

merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem; atau sistem bawahan. Di sini subsistem itu dapat disebutkan seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Ketiga subsistem, yaitu fonologi, morfologi dan sintaksis tersusun secara hierarkial, artinya subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang satu ini terletak di bawah subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem tadi terkait dengan subsistem semantik. Sedangkan subsistem leksikon yang juga diliput subsistem semantik, berada di luar ketiga subsistem struktural itu.13

Di dalam literatur terjemahan, ada beberapa ragam terjemahan14 yang pernah dikemukakan oleh para ahli, misalnya Nida dan Taber, Larson dan Newmark sekaligus. Konsep-konsep mereka ini berimplikasi terhadap proses penerjemahan. Ragam-ragam tersebut dapat digolongkan menurut jenis sistem tanda yang terlibat, jenis naskah yang diterjemahkan dan menurut proses penerjemahan.15

Sehubungan kajian yang dilakukan penulis ini terjemahan al-Quran, maka ada beberapa contoh ayat yang terjemahannya dapat digolongkan menurut beberapa ragam yang dikemukakan oleh beberapa para ahli di atas. Di antara ragam atau jenis terjemahan itu adalah sebagai berikut:

1. Terjemahan Harfiah (Literal Translation)

13

Abdul Chaer, Linguistik Umum, h. 35.

14

Ragam terjemahan dapat diistilahkan dengan metode terjemahan, yaitu cara terjemahan yang digunakan para penerjemah dalam mengalihkan makna nas sumber (BSu) secara keseluruhan ke

dalam bahasa penerima (BSa). Lihat, Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia (Bandung:

Humaniora, 2005), h. 68 dan Benny Hoedoro Hoed, Penerjemahan dan Kebudayaan (Jakarta: Dunia

Pustaka Jaya, 2006), h. 55. 15

Proses ialah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja. Proses penerjemahan dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang penerjemah pada saat dia mengalihkan amanat dari Bsu ke dalam Bsa. Atau dapat juga diartikan sebagai suatu sistem kegiatan dalam aktivitas terjemahan. Suryawinata telah membagi proses penerjemahan melalui empat tahap, yaitu: 1) tahap analisis atau pemahaman, 2) tahap transfer, 3) tahap restrukturisasi dan 4) tahap

(40)

Secara umum terjemahan harfiah adalah terjemahan yang mengutamakan padanan kata atau ekspresi di dalam BSa yang mempunyai rujukan atau makna yang sama dengan kata atau ekspresi dalam BSu.

Terjemahan harfiah dapat juga dikatakan tarjamah lafziyyah atau musâwiyyah yang diikuti oleh Yohânâ ibn al-Batrîq, Ibn Nâ’imah, al-Himsâ dan sebagainya.16 Yang menjadi sasaran dalam terjemahan harfiah adalah kata. Sehingga dalam menerjemahkan BSu ke dalam BSa, seorang penerjemah pertama kali memahami teks, lalu menggantinya dengan BSa pada posisi dan tempat kata BSu. Contoh:

Menyampaikan dosen kuliah =

ﺓﺮ

ﺿ

ﺿ

ﻲﻘﻠﻳ

1 2 3 3 2 1

Dengan menggunakan terjemahan harfiyah, penerjemah hanya mencari padanan Bsu dengan Bsa-nya baik dari kata per kata maupun posisi kata itu sendiri, sehingga susunan kata dalam kalimat terjemahan sama persis dengan kalimat aslinya. Terjemahan harfiah semacam itu masih tetap mempertahankan struktur BSu, meskipun struktur itu tidak berterima di dalam BSa.

Terjemahan harfiah bisa saja dirubah sedikit agar berterima di dalam

BSa, sehingga terjemahan BSa: misalnya

ﺪﺠﺴﳌﺍ

ﻡﺎﻣ

ﺖﻴﺒﻟﺍ

ﻟﺫ

(itu rumah di

depan masjid) menjadi terjemahan yang berterima: rumah itu di depan masjid. Perubahan terjemahan harfiah ini disebut oleh Larson sebagai terjemahan harfiah yang dimodifikasi (modified literal translation).17 Istilah terjemahan harfiah menurut Nida, Taber dan Larson ini disebut dengan terjemahan kata-demi-kata oleh Newmark, karena dalam terjemahan ini tatabahasa BSu dan

16

Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia (Bandung: Humaniora, 2005) h. 69.

17

(41)

susunan katanya dipertahankan di dalam BSa.18 Sebagai contoh dalam bahasa Inggris: He works in the house bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Dia bekerja di dalam itu rumah.

Sehubungan hal itu, menurut al-Zarqâniy, terjemahan harfiah terikat dengan dua hal, yaitu: a) adanya kosa kata yang sama maknanya di dalam BSu dan BSa dan b) adanya persamaan unit-unit linguistik antara BSu dan BSa.19 Dalam kaitannya dengan terjemahan Arab sebagai BSu ke dalam bahasa Indonesia sebagai BSa, penggunaan terjemahan harfiah memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu: Pertama, tidak seluruh kosa kata Arab ada terjemahannya yang sepadan dalam bahasa Indonesia, sehingga banyak dijumpai kosa kata BSu yang digunakan atau kosa kata asing. Istilah-istilah dalam al-Quran sulit ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, misalnya kata taqwa, iman, islam, shalat, zakat, infaq, shadaqah, haji dan sebagainya.Sehingga istilah-istilah tersebut menjadi istilah yang baku dalam bahasa Indonesia. Kedua, struktur dan hubungan antara unit linguistik dalam bahasa Arab berbeda dengan struktur bahasa Indonesia.

Terjemahan harfiah maupun terjemahan kata-demi-kata seringkali dikritik dan dibela. Kalangan ulama berbeda pendapat tentang penerjemahan al-Quran dengan menggunakan terjemahan harfiah. Sebagian menyatakan tidak mungkin terjemahan al-Quran secara harfiah, dan sebagian lainnya menyatakan dimungkinkan dalam beberapa kata, kalimat atau ayat al-Quran.20 Adapun alasan Ulama yang menyatakan terjemahan al-Quran secara harfiah itu tidak mungkin atau mustahil21 adalah sebagai berikut:

18

Newmark, Textbook of Translation (Oxford: Pergamon Press, 1988), h. 69.

19

Muhammad ‘Abd al-‘Azîm al-Zarqâniy, Manâhil al-‘Irfân fi ‘Ulûm al-Qurân (T.tp, Dâr

al-Fikr, t.t.), jilid II, h. 113.

(42)

a. Mencari atau melakukan sesuatu yang mustahil menurut istilah dihukumi haram, karena termasuk kategori membinasakan diri. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 195:

ِ

ﺘﻟﺍ

ﻰﹶ

ِ

ﻢﹸ

ﻜﻳ

ِ

ِ

ﺍﻮ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam

kebinasaan.”

b. Munculnya terjemahan semacam ini akan mendorong orang-orang memahami al-Quran lewat terjemahan tanpa memperhatikan teksnya. Sehingga lama kelamaan, teks al-Quran hilang dengan sendirinya.

c. Jika orang-orang sudah merasa cukup dengan terjemahan al-Quran dan sudah tidak memerlukan teks Quran lagi, maka keaslian bahasa al-Quran akan terancam kepunahan, sebagaimana bahasa Ibrani yang menjadi bahasa Taurat dan bahasa Injil.

d. Jika peluang untuk menerjemahkan al-Quran secara bebas, maka orang-orang akan berlomba menerjemahkan al-Quran dengan menggunakan bahasa nasional atau daerah. Munculnya terjemahan dalam berbagai bahasa akan memicu perbedaan dan perselisihan antara yang satu dengan lainnya. Akhirnya muncul fitnah dalam bentuk kefanatikan terhadap terjemahan al-Quran yang paling baik menurutnya.

e. Seluruh umat muslim mengakui bahwa al-Quran adalah kalam Ilahi yang tidak bisa diterjemahkan secara sembarangan baik nama-nama maupun istilah di dalam al-Quran.22

Sedangkan di antara ulama yang membolehkan al-Quran itu diterjemahkan adalah Syaikh Mahmoud Syaltut. Dia menyatakan bahwa: “Sesungguhnya menerjemahkan al-Quran, baik untuk belajar maupun mengajar, untuk pemahaman sendiri maupun memberi pemahaman kepada

22

Ahmad Ibrâhim Mahnâ, Dirâsah haula Tarjamah al-Qurân (T.tp.: Matbû’ât al-Sya’b,

(43)

orang lain, untuk ceramah atau menasehati orang lain, semuanya diperbolehkan menurut pendapat Hanafi, Hanbali dan Syafi’i. Bahkan pendapat ini diperkuat dengan dihukumi wajib Kifayah oleh Syaikh Muhammad Bakhit, juru fatwa kawasan Mesir.23

Terjemahan harfiah banyak dilakukan oleh kalangan pondok pesantren tradisional dalam pembelajaran teks-teks al-Quran, hadits dan naskah-naskah keagamaan lainnya. Pembacaan teks tersebut disertai dengan terjemahannya secara harfiah. Metode pengajaran ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu metode sorogan dan bandongan.

Dengan kedua metode tersebut, para pelajar atau santri diharapkan mampu menerapkan pengetahuan bahasa Arab secara langsung, terutama struktur kata di dalam kalimat dan mampu memahami isi teks yang dimaksud. Karena itu, menurut Nurachman Hanafi, ragam terjemahan ini memiliki kelebihan, yaitu: a) segi bentuk dan struktur kalimatnya lebih sesuai dengan bahasa aslinya. Penerjemah dalam hal ini bukan hanya sebagai penerjemah melainkan juga sebagai transformer, dan b) gaya penulisan penerjemah lebih sesuai dengan dan tepat menurut bahasa aslinya, sehingga penerjemah telah berhasil menyentuh keinginan penulisnya.24

2. Terjemahan Dinamis

Ragam terjemahan ini seperti yang dianjurkan oleh Nida dan Taber di dalam bukunya The Theory and Practice of Translation harus berpusat pada konsep tentang padanan dinamis dan sama sekali berusaha menjauhi konsep padanan formal dan bentuk.25 Namun secara eksplisit, mereka tidak menjelaskan unsur-unsur terjemahan dinamis ini, kecuali Suryawinata yang menjelaskan bahwa ragam terjemahan ini mengandung lima unsur, yaitu: 1)

23

Ahmad Ibrâhim Mahnâ, Dirâsah haula Tarjamah al-Qurân, h. 25.

24

Nurachman Hanafi, Teori dan Seni Menerjemahkan (Ende Flores: Nusa Indah, 1986), h. 57

25

(44)

reproduksi pesan, 2) ekuivalensi atau padanan, 3) padanan yang alami, 4) padanan yang paling dekat dan 5) mengutamakan makna.26

Terjemahan yang baik tentu saja terjemahan yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Keterbacaan yang tinggi, menurut Nida dan Taber, dapat dicapai apabila si penerjemah mampu melahirkan padanan alami dari BSu yang sedekat mungkin di dalam BSa, sehingga terjemahan itu mempunyai pengaruh dan dampak yang ditimbulkannya pada pembaca BSa sama dengan yang ditimbulkannya pada pembaca BSu.27

Seperti yang diuraikan di atas, terjemahan dinamis harus mengandung padanan yang alami. Dilihat dari teori Semantik, hal ini sepertinya tidak mungkin terwujud, karena pada dasarnya tidak ada dua kata yang mempunyai makna yang persis sama, apalagi bila dua kata itu berasal dari bahasa dengan latar sosial dan budaya yang benar-benar berbeda.

Dalam terjemahan ini, istilah sepadan sering menimbulkan kesulitan bagi penerjemah. Jika keserupaan pesan di dalam BSu terhadap BSa itu tidak menjadi masalah, maka bisa diterjemahkan sesuai dengan pesan yang terkandung di dalam BSu tadi. Namun, masalahnya apakah pesan tersebut bisa dipahami oleh pembaca BSa. Oleh karena itu, si penerjemah dalam terjemahan dinamis ini jangan berpikir “Bagaimana kalimat ini diterjemahkan?”, tetapi “Bagaimana pesan dalam teks ini terungkapkan dalam BSa?”

Sebagai contoh terjemahan dinamis dengan BSu Inggris adalah frasa Lamb of God. Frasa ini terdapat di dalam kitab Injil yang tidak bisa diterjemahkan dengan domba Allah dengan sasaran pembaca BSa yang berbeda kultur sosial-budaya dan tidak pernah melihat domba. Lamb adalah simbol kebersihan jiwa, apalagi jika dihubungkan dengan konteks pengorbanan dalam kehidupan rohani. Oleh karena itu, padanan frasa alami

26

Suryawinata, Terjemahan: Pengantar Teori dan Praktek (Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti,

PPLPTK, 1989), h. 8. 27

Eugene A. Nida dan Charles R. Taber The Theory and Practice of Translation (Leiden: E.J.

Gambar

Tabel 1 Perbandingan Fungsi Sintaksis Bsu dan Bsa
Tabel 1 Perbandingan Fungsi Sintaksis Bsu dan Bsa
Tabel 2 Perbandingan Kategori Bsu dan Bsa
Tabel 3 Pronomina Persona Bsu dan Bsa
+5

Referensi

Dokumen terkait