ANALISIS KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kebijakan Pendidikan
Oleh :
Desi Lestari ( 1100661 ) Giya Afdila ( 1001978 ) Ismala Sari ( 1103936 ) Novtryananda ( 1101112 ) Okyendra Putri ( 1105108 ) Vera Hermawaty ( 1103609 )
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
pembangunan nasional. Melalui pendidikan, watak dan kepribadian bangsa dibina dan dibentuk. Sayangnya, tidak semua warga negara Indonesia mampu mengenyam pendidikan. Padahal dengan pendidikan derajat suatu bangsa akan dipandang oleh negara-negara lain.
Pembentukan manusia-manusia yang bermoral dan bertabat terjadi dalam proses pendidikan. Dimana, proses pendidikan ini sifatnya kompleksitas. Karena sifat pendidikan yang kompleksitas maka perlu adanya suatu pengelolaan pendidikan yang baik, yang mencakup budaya, pengetahuan, nilai-nilai dasar, dan ideologi bangsa.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar mengajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat karena Pendidikan juga merupakan modal manusia untuk mengembangkan Bangsa ini. Pendidikan juga mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan, hal tersebut dapat ditegaskan dalam teori human capital dimana manusia merupakan investasi masa depan, pendidikan merupakan modal manusia untuk mengahadapi masa depan dan beperan dalam mengembangkan Bangsa.
Kebijakan pendidikan adalah keseluruhan proses dan langkah-langkah strategic dalam mewujudkan cita-cita pendidikan dalam kurun waktu tertentu. Terdapat kebijakan yang diturunkan oleh pemerintah diantaranya kebijakan yang diturunkan pada Perda dan Perbup atau Perwal. Hal tersebut biasanya yang digunakan sebagai arah atau pedoman pemerintah kota untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan suatu program kerja ataupun mengatasi permasalahan.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka diperlukan kajian mengenai kebijakan otonomi daerah yang berkaitan dengan pendidikan yang selanjutnya akan kami bahas di bagian selanjutnya.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dari analisis kebijakan dari analisis kebijakan otonomi daerah dalam ranah pendidikan yaitu untuk mengetahui evaluasi dampak dari kebijakan Otonomi Daerah dalam bidang Pendidikan.
C. KAJIAN TEORI
1. SECARA FILOSOFIS
Untuk lebih memperjelas dan mempertegas filosofi dasar otonomi daerah dan birokrasi Pemerintahan Daerah, telah diterbitkan UU no 32 tahun 2004 dan UU no 33 tahun 2004sebagai pengganti UU 22 tahun 1999 dan UU no 25 tahun 1999. Dengan adanya UU no 32 tahun 2004 dan UU no 33 tahun 2004 ini, diharapkan dapat diterbitkan konsep-konsep rencana tindakan strategis yang lebih reformatif yang bersifat antisipatif terhadap tuntunan reformasi mayarakat, untuk menciptakan ”clean and accountable goverment”, yang tahu apa yang harus diperbuat dan berbuat, sesuai atauran (UU) yang telah disepakati. Diharapkan dengan adanya otonomi daerah, pembangunan kewilayahan Indonesia bisa lebih cepat dipacu. Ini disebabkan adanya peran daerah yang lebih besar ketimbang peran pemerintah pusat. Pemerintah pusat hanya memainkan peranan sebagai fasilisator dan dinamisator. Sementara pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten dan kota, menjadi perencana, pelaksana, dan pengendali program pembangunan masing-masing.
terhadap kebutuhan, potensi dan kapasitas daerah yang spesifik, dengan begitu diharapkan pelayanan masyarakat akan lebih baik karena dengan otonomi daerah, dapat lebih mengetahui kebutuhan dan prioritas keinginan rakyat di daerahnya.
Otonomi dalam kaitannya dengan pelayanan masyarakat, juga meliputi pelayanan dalam pendidikan. Permasalahan pendidikan yang kurang merata di sejumlah daerah di Indonesia, menyebabakan tidak semua warga Indonesia mampu mengenyam pendidikan. Otonomi daerah dimana daerah memiliki kewenangan untuk mengatur pemerintahan Daerah sebagai wujud dari desentralisasi kewenangan, serta dalam mewujudkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional dan pemerataan pendidikan.
2. YURIDIS
Kebijakan otonomi daerah bukan tanpa alasan. Dilihat dari landasan yuridis jelas telah diamanatkan oleh Ketetapan MPR no. XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan dan pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalarn Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketetapan MPR tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dan UndangUndang nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Pernerintahan Daerah.
Selain alasan yuridis, juga dalam upaya menghadapi tuntutan globalisasi yang mau tidak mau suka, tidak suka daerah harus lebih diberdayakan dengan cara diberikan kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggungjawab, terutama dalam mengatur, mernanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.
daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sehingga pemerintah daerah memiliki urusan-urusan yang telah diserahkan oleh pemerintah pusat kecuali bidang luar negeri, moneter, peradilan, keamanan dan agama. Dan urusan-urusan yang telah diserahkan tersebut menjadi tanggung jawab daerah sepenuhnya.
Melalui kedua peraturan perundang-undangan tersebut. Otonomi merupakan manifestasi dari proses pemberdayaan rakyat dalam kerangka demokrasi dimana daerah kabupaten/kota yang merupakan unit pemerintahan terdekat dengan rakyat diberikan keleluasaan untuk berekspresi. Pemberian otonomi yang luas kepada daerah juga untuk memperlancar, mengembangkan dan memacu pembangunan di daerah, memperluas peran serta masyarakat serta lebih meningkatkan pemerataan pembangunan dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi daerah. Sehingga kesenjangan antar daerah dapat dikurangi karena masing-masing daerah akan membuka wawasan untuk membangun dan bekerja sama dengan pihak lain, baik swasta maupun luar negeri.
untuk mengelola daerahnya sendiri. Hanya saja ada beberapa bidang yang tetap ditangani pemerintah pusat, yaitu agama, peradilan, pertahanan, dan keamanan, moneter/fiscal, politik luar negeri dan dalam negeri serta sejumlah kewenangan bidang lain (meliputi perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi Negara dan lembaga perekonomian Negara, pembinaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, dan konversi serta standarisasi nasional). Sumber daya alam daerah di Indoinesia yang tidak merata juga merupakan salah satu penyebab diperlukannya suatu sistem pemerintahan yang memudahkan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan sumber pendapatan daerah sekaligus menjadipendapatan nasional. Sebab seperti yang kita ketahui bahwa terdapat beberapa daerah yang pembangunannya memang harus lebih cepat daripada daerah lain. Karena itulah pemerintah pusat membuat suatu sistem pengelolaan pemerintahan di tingkat daerah yang disebut otonomi daerah.
Pada kenyataannya, otonomi daerah itu sendiri tidak bisa diserahkan begitu saja pada pemerintah daerah. Selain diatur dalam perundang-undangan, pemerintah pusat juga harus mengawasi keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah. Apakah sudah sesuai dengan tujuan nasional, yaitu pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Republik Indonesia yang berdasar pada sila Kelima Pancassila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tuntutan akan pengelolaan pmerintahan daerah yang mandiri dengan semangat otonomi daerah semakin marak. Namun demikian, kebijakan otonomi daerah disalah artikan oleh jajaran pengelola pemerintah di daerah. Otonomi daerah dipahami sebagai kebebasan mengelola sumber daya daerah yang cenderung melahirkan pemerintahan daerah yang tidak profesional dan tidak terkontrol.
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang kemudian di otonomikan dalam bentuk perencanaan dan pelaksanaan pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah provinsi atupun pemerintah daerah kabupaten/kota memiliki kewenangan dalam mengatur terwujudnya mutu pendidikan yang bermutu, sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003.
3. SOSIOLOGI
Otonomi berasal dari kata autonomos atau autonomia (yunani) yang berarti “keputusan sendiri” (self ruling). Otonomi yaitu hak untuk memerintah dan menentukan nasibnya sendiri. Di Indonesia, otonomi daerah sebenarnya mulai bergulir sejak keluarnya UU No.1 Tahun 1945, kemudian UU No.2 Tahun 1984 dan UU No.5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Semuanya berupaya menciptakan pemerintahan yang cenderung ke arah disentralisasi. Namun pelaksanaannya mengalami pasang surut, sampai masa reformasi bergulir. Pada masa ini keluarlah UU No.22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat dan kemudian digantikan dengan UU No.32 Tahun 2004. Sejak itu, penerapan otonomi daerah berjalan cepat.
di tingkat daerah yang disebut otonomi daerah.
D. ANALISIS
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1. Kebijakan 1. Kebijakan dan
Standar
1.a. Penetapan kebijakan nasional pendidikan.
b.Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program pendidikan antar provinsi. c.Perencanaan strategis
pendidikan nasional.
1.a. Penetapan kebijakan operasional pendidikan di provinsi sesuai dengan kebijakan nasional.
b.Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program pendidikan antar kabupaten/kota. c.Perencanaan strategis
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai dengan perencanaan strategis pendidikan
1.a. Penetapan kebijakan operasional pendidikan di kabupaten/kota sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi.
b.―
c.Perencanaan operasional program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
KABUPATEN/KOTA
2.a. Pengembangan dan penetapan standar nasional pendidikan (isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan).
. Sosialisasi
standar nasional pendidikan dan pelaksanaannya pada jenjang pendidikan tinggi.
3.a. Penetapan pedoman pengelolaan dan penyelenggaraan
pendidikan anak usia dini,
nasional.
2.a. ―
b. Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tingkat provinsi.
3.a. Koordinasi atas pengelolaan dan penyelenggaraan
2.a. ―
b.Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tingkat kabupaten/kota.
3.a. Pengelolaan dan penyelenggaraan
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA pendidikan dasar,
pendidikan menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan nonformal.
pendidikan,
pengembangan tenaga kependidikan dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas kabupaten/kota, untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.
pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.
4. Penetapan kebijakan tentang satuan pendidikan bertaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal.
5.a. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin perguruan tinggi.
b.Pemberian izin pendirian
4. —
5.a. ―
b.—
4. —
5.a. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah dan
KABUPATEN/KOTA serta pencabutan izin
satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional.
c.Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan
pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional
d.―
e.―
c.Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah.
d.―
e.―
6. Pemberian dukungan sumber daya terhadap
b.—
c.Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan
pendidikan sekolah dasar bertaraf internasional.
d.Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal.
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 6. Pengelolaan dan/atau
penyelenggaraan pendidikan tinggi.
7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan bertaraf internasional.
8. Penyelenggaraan sekolah Indonesia di luar negeri.
9. Pemberian izin pendirian, pencabutan izin
penyelenggaraan, dan pembinaan satuan pendidikan Asing di Indonesia.
10.a. Pengembangan sistem informasi manajemen pendidikan secara
penyelenggaraan perguruan tinggi. 7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan bertaraf internasional.
8. ―
9. ―
10. a. ―
b. Peremajaan data
6. Pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi.
7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan sekolah dasar bertaraf
internasional.
8. ―
KABUPATEN/KOTA nasional.
b. Peremajaan data dalam sistem informasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat nasional.
b. Peremajaan data dalam sistem infomasi
manajemen pendidikan nasional untuk tingkat kabupaten/kota.
2. Pembiayaan 1.a. Penetapan pedoman
pembiayaan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, pendidikan tinggi, pendidikan nonformal.
b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan
pendidikan tinggi sesuai kewenangannya.
1.a. ―
b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sesuai kewenangannya.
1.a. ―
b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
c.Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai kewenangannya.
c.Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai kewenangannya.
3. Kurikulum 1.a.Penetapan kerangka dasar
dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
1.a.Koordinasi dan supervisi pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan dasar.
b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini,
KABUPATEN/KOTA c. Penetapan standar isi dan
standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah, dan sosialisasinya. 2.a. Pengembangan model
kurikulum tingkat satuan pendidikan pada
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal. b. Sosialisasi dan fasilitasi
implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan.
3. Pengawasan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan
c. Sosialisasi dan implementasi standar isi dan standar kompetensi lulusan pendidikan
menengah. 2.a. ―
b. Sosialisasi dan
fasilitasi implementasi
c. Sosialisasi dan implementasi standar isi dan standar kompetensi lulusan pendidikan dasar. 2.a. ―
b. Sosialisasi dan fasilitasi implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar. 3. Pengawasan pelaksanaan
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA dasar, dan pendidikan
menengah.
pendidikan pada pendidikan menengah.
4. Sarana dan
Prasarana 1.a. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan dan pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan.
b. Pengawasan
pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.
1.a. Pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan menengah.
b. Pengawasan pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.
1.a. Pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan nonformal.
b. Pengawasan
pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.
2.a. Penetapan standar dan pengesahan kelayakan
KABUPATEN/KOTA
menengah. dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan nonformal.
5. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
1.a.Perencanaan kebutuhan dan pengadaan pendidik dan tenaga kependidikan secara nasional.
b. ―
2. Pemindahan
pendidik dan tenaga kependidikan PNS antar
1.a.Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan untuk pendidikan bertaraf internasional sesuai kewenangannya.
b. Pengangkatan dan penempatan pendidik
pendidik dan tenaga
1.a.Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar,
pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai kewenangannya. b. Pengangkatan dan
penempatan pendidik dan tenaga kependidikan PNS untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan nonformal sesuai kewenangannya
2. Pemindahan
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN dan perlindungan pendidik dan tenaga kependidikan.
4.a. Perencanaan
kebutuhan, pengangkatan, dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan bagi unit organisasi di lingkungan departemen yang bertanggungjawab di bidang kependidikan. b. Pemberhentian pendidik
dan tenaga kependidikan PNS karena pelanggaran peraturan perundang-undangan.
kependidikan PNS antar kabupaten/kota. pendidik dan tenaga kependidikan dan perlindungan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.
4.a. Pembi
naan dan pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan nonformal.
KABUPATEN/KOTA
5. ―
6. Sertifikasi
pendidik.
pendidik dan tenaga kependidikan PNS pada pendidikan bertaraf internasional selain karena alasan pelanggaran peraturan perundang-undangan
5.
Pengalokasian tenaga potensial pendidik dan tenaga kependidikan di daerah.
6. ―
dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan nonformal selain karena alasan pelanggaran
1. Penilaian Hasil Belajar
1. Penetapan pedoman, bahan ujian, pengendalian
pemeriksaan, dan penetapan kriteria kelulusan ujian nasional. 2. Pelaksanaan ujian nasional
pendidikan dasar,
1. ─
2. Membantu
pelaksanaan ujian
1. ─
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA pendidikan menengah, dan
pendidikan nonformal.
3. Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian nasional.
4. Penyediaan blanko ijazah dan/atau sertifikat ujian nasional.
5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian 3. Koordinasi, fasilitasi,
monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian sekolah skala provinsi.
4. ―
5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian sekolah skala provinsi.
dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan nonformal.
3. Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian sekolah skala kabupaten/kota.
4. ―
5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian sekolah skala
kabupaten/kota.
2. Evaluasi 1.a. Penetapan pedoman evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
1.a. ―
b. Pelaksanaan evaluasi
1.a. ―
KABUPATEN/KOTA b. Pelaksanaan evaluasi
nasional terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
2.a. Penetapan pedoman evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan.
b. Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan.
pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal skala provinsi.
pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
pendidikan menengah dan pendidikan nonformal skala kabupaten/kota.
2.a. ―
b. Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
pendidikan menengah dan pendidikan nonformal skala kabupaten/kota.
SUB BIDANG SUB-SUB BIDANG PEMERINTAH DAERAH PROVINSIPEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA akreditasi pendidikan jalur
pendidikan formal dan non formal.
b.Pelaksanaan akreditasi pendidikan jalur pendidikan formal dan nonformal.
b. Membantu pemerintah dalam pelaksanaan akreditasi pendidikan dasar dan menengah.
b. Membantu pemerintah dalam akreditasi pendidikan nonformal.
4. Penjaminan Mutu 1. Penetapan pedoman penjaminan mutu satuan pendidikan.
.a. Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan penjaminan mutu untuk memenuhi standar nasional pendidikan.
b.Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional dalam
1. ─
.a. ─
b.Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan
1. ─
.a. Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan nonformal dalam
penjaminan mutu untuk memenuhi standar nasional pendidikan.
KABUPATEN/KOTA penjaminan mutu untuk
memenuhi standar internasional.
c. ─
d.Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminan mutu satuan pendidikan skala nasional.
bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.
c. ─
d.Evaluasi pelaksanaan dan dampak
penjaminan mutu satuan pendidikan skala provinsi.
satuan pendidikan bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.
c. Supervisi dan Fasilitasi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dalam penjaminan mutu.
E. HASIL
Dari analisis menurut PP No. 38 Tahun 2007 mengenai pembagian urusan pemerintahan bidang pendidikan bahwa kewenangan pemerintah pusat dan kewenangan Pemerintah Provinsi, serta Pemerintah Kabupaten Kota, yaitu dilihat dari beberapa Komponen sebagai berikut:
Kebijakan
Dari gambar tersebut dapat kita simpulkan bahwa pendapatan daerah yang tinggi ternyata belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh daerah-daerah. Hampir seluruh Kabupaten/Kota dan provinsi masih belum mandiri. Hanya DKI Jakarta saja yang tidak menerima bantuan dari pemerintah pusat. Kewenangan dalam hal pembiayaan pendidikan memang telah menjadi kewenangan Pemda, tetapi Pemda pun belum memaksimalkan atau mengutamakan untuk peningkatan mutu pendidikan, karena kebanyakan pembiayaan lebih condong kepada pembangunan infrastruktur.
Kurikulum
melalui pelajaran di sekolah. Hanya saja, unsur-unsur yang terkandung dalam kurikulum nasional hanya berbasis Nasional, belum mengarah kepada kurikulum global. Selain itu, untuk penetapan standar pendidikan masih bersifat sentralisasi, karena di daerah tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan standar dalam pendidikan, hanya sebatas oprasional dan penyesuaian.
Sarana dan Prasarana
Penetapan standar sarana dan prasarana ini mengikuti ketetapan dari Pemerintah pusat. Pemerintah provinsi hanya berlaku sebagai pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan menengah. Untuk pengawasan pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan dasar, pendidikan menengah dan nonformal itu merupakan tanggungjawab dari Pemerintah Kabupaten/Kota. Meskipun demikian, tidak semua pemerintah Kabupaten/Kota mampu memenuhi stnadar sarana dan prasarana pendidikan, hal ini dikarenakan keterbatasan letak geografis. Sehingga, masih banyak sekolah yang memang masih jauh dari stanadar pemenuhan sarana dan prasarana.
Pendidik dan tenaga kependidikan
kepada daerah-daerah yang memang kekurangan. Setelah, pemerintah menetapkan bahwa pendidik yag telah diangkat tidak boleh dipindah tugas atau mutasi selama masa jabatan tertentu atau lebih dari 15 tahun. Sertifikasi guru merupakan kewenangan pemerintah pusat. Tetapi untuk pelaksanaannya dikoordinasi dengan pemerintah provinsi sebagai penyelenggara. Selain itu sertifikasi guru ini dalam penetapan tunjangan diberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota.
Pengendalian Mutu Pendidikan
Kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penilaian hasil belajar peserta didik belum terlaksana, karena pelaksanaan ujian nasional masih tanggungjawab pemerintah pusat. Padahal, tidak semua potensi-potensi yang ada di setiap daerah itu sama. Contohnya saja untuk daerah terpencil di Papua, sumber daya yang dimiliki dengan daerah perkotaan tentu sangat jauh berbeda, dimulai dari sarana prasarana, pendidik, dan peran orangtua. Untuk pengendalian Mutu Pendidikan Pemerintah pusat dalam otonomi dalam bidang pendidik belum terlaksana, karena ujian nasional ini harus bisa menilai hasil belajar siswa yang sebenar-benarnya, dan yang lebih tahu mengenai siswa disekolah adalah sekolah itu sendiri. Selain itu, budaya yang berbeda pada setiap daerah juga mempengaruhi pelaksanaan ujian nasional tersebut. Jadi seharusnya, pemerintah hanya menetapkan standar kelulusan, dan ujian diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
Untuk komponen Akreditasi dan Penjaminan Mutu telah ada lembaga yang legal yang dipercaya sebagai penguji dalam kedua hal tersebut. Meskipun dalam penetapan standar harus mengacu pada standar nasioal pendidikan, tetapi Lembaga Akreditasi ini juga memiliki kriteria dalam penentuan kelayakan yang berdasarkan atas kondisi Pemerintah Daerah. F. EVALUASI
Kebijakan otonomi daerah ini dilihat dari beberapa indikator evaluasi berikut ini dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut.
Efektifitas dan Efisien
semula menjadi urusan pemerintah Pusat kepada pemerintah Daerah, termasuk di dalamnya pengelolaan Bidang Pendidikan. Pelimpahan wewenang ini diteruskan dengan dikeluarkan UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah yang bertujuan memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah, menciptakan system pembiayaan daerah yang adil, trasparan dan bertanggung jawab.
Adanya UU otonomi daerah dan UU perimbangan keuangan pusat-daerah ini semakin membantu dan memberi kesempatan kepada pemerintah daerah untuk seluas-luasnya mengelola pendidikan sebaik mungkin. Secara eksplisit kewenangan dan alokasi dana pendidikan ini disebutkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 29: “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negera (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Realisasi dari UU ini tentunya mengarah pada tanggung jawab pemerintah daerah yang semakin meningkat dan semakin luas, termasuk dalam manajemen pendidikan. Pemerintah daerah dengan legitimasi UU ini diharapkan senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan; sejak mulai tahap perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan sampai pada tingkat pengawasan di daerah masing-masing sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Pengaturan otonomi daerah dalam bidang pendidikan secara tegas dinyatakan dalam PP Nomor 25 Tahun 2000 yang mengatur tentang pembagian kewenangan pemerintah pusat dan provinsi. Semua urusan pendidikan di luar kewenangan pemerintah pusat dan provinsi tersebut sepenuhnya menjadi wewenang pemerintah kabupaten/kota.
nasional, mutu pendidikan, efisiensi pengelolaan, pemerataan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas.
Pertama, Dalam skala nasional pemerintah mempunyai beberapa kepentingan antara lain sejalan dengan isu wajib belajar (Wajar) dan sebagai upaya mewujudkan salah satu tujuan nasional "mencerdaskan kehidupan bangsa" (Pembukaan UUD 1945), demikian juga seperti yang tertuang dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 tentang hak mendapatkan pengajaran. Persoalannya, bagaimana melalui otonomi daerah, yang besarnya potensi dan sumber pembiayaan berbeda, dapat menjamin agar tiap-tiap negara memperoleh hak pengajaran. Atau bagaimana dengan otonomi daerah tersebut dapat menjamin bahwa Wajib Belajar pendidikan dasar sembilan tahun dapat dituntaskan di semua daerah kabupaten/kota dalam waktu yang relatif sama. Isu lainnya adalah pembentukan "national character building", bahwa otonomi daerah dilaksanakan dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, yang diharapkan warga negara tetap mengetahui hak dan kewajibannya serta memiliki jiwa patriotisme, religius, cinta tanah air, dan seterusnya. Persoalannya, bagaimana pendidikan dapat mengamankan program pendidikan dengan memberikan peluang kreatifitas dalam keragaman daerah, tetapi semuanya mengarah secara sentripetal ke kepentingan nasional melalui muatan yang sama dalam upaya ke arah pembentukan "national character building" tersebut.
pengalokasian anggaran. Hal ini bisa terjadi sebaliknya. pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa dengan otonomi daerah biaya operasional pendidikan justru meningkat, hal ini disebabkan antara lain karena bertambahnya struktur organisasi daerah sehingga memerlukan personil yang lebih besar, terlebih lagi jika ditambah dengan kualitas personil yang tidak profesional. Indonesia yang selama 32 tahun menganut sistem pengelolaan yang sangat sentralistik akan mempunyai problem efisiensi pengelolaan seperti tersebut di atas.
Keempat, pemerataan. Pelaksanaan otonomi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan aspirasi masyarakat yang diperkirakan juga akan meningkatnya pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan. tetapi ini akan dibayar mahal dengan semakin tingginya jarak antar daerah dalam pemerataan akan fasilitas pendidikan yang akhirnya akan mendorong meningkatnya kepincangan dalam mutu hasil pendidikan. tanpa intervensi pengelolaan, anggota masyarakat dari daerah kabupaten/kota yang kaya dengan jumlah penduduk sedikit akan dapat menikmati fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik dari anggota masyarakat dari daerah yang miskin. Dan apabila kesempatan pendidikan ini juga mempengaruhi kesempatan untuk memperoleh penghasilan, maka dalam jangka panjang akan berpotensi meningkatnya jurang kesenjangan ekonomi antar daerah.
untuk daerah yang miskin. sebab itu tanpa intervensi kebijakan nasional yang dapat menerapkan subsidi silang, peran serta masyarakat dalam sistem desentralisasi akan dapat menjurus memperlebar jurang ketimpangan pemerataan fasilitas pendidikan, yang akhirnya juga akan memperlebar jurang kesenjangan ekonomi antar daerah.
Keenam, akuntabilitas. Bahwa melalui otonomi pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan semakin mendekati masyarakat yang dilayaninya (klien) sehingga akuntabilitas layanan tersebut bergeser dari yang lebih berorientasi kepada kepentingan pemerintah pusat kepada akuntabilitas yang lebih berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Ini menuntut lebih besar partisipasi masyarakat dan orang tua dalam pengambilan keputusan tentang pelaksanaan pendidikan di daerah.
Keenam permasalahan tersebut perlu dipertimbangkan lebih mendalam. Paling tidak, sebelum benar-benar otonomisasi itu dijalankan dan sebelas bidang di atas diserahkan sepenuhnya pada daerah, maka perlu dilakukan pengkondisian lebih dulu dengan memperhatikan sumber dana dan sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah. Setelah dianggap mampu menjalankan otonomi, maka kebijakan tersebut dapat diberlakukan sepenuhnya.
Dengan kata lain kebijakan otonomi daerah dalam dunia pendidikan masih dapat dikatakan belum berjalan secara efeksitf dan efisien. Karena banyak sekali program-program pendidikan yang di wewenangkan kepada daerah yang belum berjalan secara maksimal. Masih perlu banyak perbaikan untuk mencapai keefektifan dan keefisiensian program otonomi daerah ini.
Kecukupan
pemberlakuan otonomi membuat banyak masalah yaitu mahalnya biaya pendidikan. Sedangkan, pengertian otonomi pendidikan sesungguhnya terkandung makna demokrasi dan keadilan sosial, artinya pendidikan dilakukan secara demokrasi sehingga tujuan yang diharapkan dapat diwujudkan dan pendidikan diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat, sesuai dengan cita-cita bangsa dalam mencerdaskan bangsa.
Oleh karena itu dalam dilihat dari segi kecukupan otonomi daerah ini belum dapat dikatakan memnuhi indikator kecukupan karena masih harus diperbaiki kembali dalam sistem pemerintahan di daerahnya. Perataan
Pembagian kewenangan ataupun kekuasaan kepada Pemerintah Daerah dengan tujuan agar kesejahteraan menjadi lebih diperhatikan dan lebih merata. Akan tetapi, pemerataan pendidikan belum menjangkau daerah-daerah terpencil, pembagian serta pemanfaatan sumber daya nasional pun masih belum dirasakan oleh daerah-daerah terpencil.
Dengan adanya otonomi daerah, daerah-daerah terpencil sudah mulai diperhatikan meskipun hanya beberapa persen wilayah, terutamanya wilayah indonesia bagian timur masih harus terus dibina dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Sehingga dilihat dari indikator perataan maka otonomi daerah ini belum sepenuhnya memenuhi kriteria perataan.
Responsivitas
potensi sumber daya yang dimiliki; 2) Efisiensi Keuangan hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional; 3) Efisiensi Administrasi, dengan memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur yang bertingkat-tingkat; 4) Perluasan dan pemerataan, membuka peluang penyelenggaraan pendidikan pada daerah pelosok sehingga terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan.
Dari uraian tersebut untuk indikator responsivitas masih dikatakan belum terpenuhi, meskipun akan memberikan dampak positif yang saat ini memang sudah mulai terasa, tetapi karena pemahaman mengenai konsepsi otonomi daerah kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga masyarakat kurang berkontribusi terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam otonomi daerah.
Ketepatan
Dalam pelaksanaannya otonomi daerah dalam bidang pendidikan masih belum tepat sasaran, karena belum jelasnya kebijakan pelaksanaan perwujudan konsep otonomi yang proporsional dalam pengaturan pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta peran masyarakat. Karena seringkali, otonomi daerah ini dipengaruhi oleh faktor politis, sebab dalam pembuatan peraturan keterlibatan DPR Provinsi cukup dominan, sehingga pemerintah daerah pun dalam mengambil kebijakan seringkali dipengaruhi berbagai faktor.
yang sama dalam penyelenggaraan pendidikan disebabkan perbedaan sarana, prasarana dan dana yang dimiliki. Hal ini mengakibatkan akan terjadinya kesenjangan antar daerah, sehingga pemerintah perlu membuat aturan dalam penentuan standar mutu pendidikan nasional dengan memperhatikan kondisi perkembangan kemandirian masing-masing daerah.
G. KESIMPULAN
Meskipun sistem desentralisasi belum berjalan sesuai dengan harapan karena kebijakan mengenai otonomi daerah ini sudah ada sejak tahun 1999, yang kemudian dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 bahwasanya seluruh urusan pendidikan menjadi kewenang pemerintah Daerah dan dilengkapi dengan Undang-Undang No. 32 tahun 2004. Tetapi otonomi daerah belum dapat berjalan baik, ini disebabkan karena faktor-faktor eksternal ataupun internal.
Dilihat dari hasil evaluasi kebijakan berdasarkan 6 indikator dijelaskan diatas, dapat kami simpulkan bahwa Kebijakan Otonomi Daerah dalam Bidang Pendidikan belum berhasil.
H. REKOMENDASI
Adapun beberapa rekomendasi dari kami untuk perbaikan kebijakan otonomi daerah yaitu:
1. Pemerintah harus mensosialisasikan mengenai perundangan terkait otonomi daerah kepada seluruh pemerintah daerah terutama untuk Indonesia Bagian Timur.
2. Pemerintah Daerah harus berusaha mandiri, karena bantuan dari pemerintah pusat hanya seperempatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Online:
Kusuma Andriawan. (2012). Sosiologi hukum tentang otonomi daerah. Tersedia [Online] http://publicuniversite.blogspot.com/2012/08/sosiologi-hukum-tentang-otonomi-daerah.html
http://politikdemokrasi.blogspot.com/2011/03/otonomi-daerah.html
http://dzykraarfiansyah.blogspot.com/2011/11/otonomi-daerah-uu-no-22-tahun-1999.html
http://burhanhito.blogspot.com/2009/06/otonomi-daerah.html