Tenaga Kerja pada Industri Gula Jawa Tahun 1834-1877
Industri gula memang memiliki tempat yang istimewa dalam perbincangan mengenai perkebunan. Hal itu memang sudah sepatutnya terjadi, karena industri gula selama satu abad merupakan komoditas yang paling terkemuka dari sistem tanam paksa yang berhasil mencetuskan boom-ekspor. Gula merupakan hasil ekspor besar mengagumkan dari sistem tanam paksa yang sudah tidak asing lagi di Indonesia pada tahun 1830-an. Penelitian dilakukan secara mendalam mengenai statistik perdagangan dan hal itu membuktikan bahwa tanaman kopi dan gula terutamanya, memiliki angka-angka yang mengherankan tingginya.
Padahal awalnya, pembuatan gula di Jawa terbatas hanya pada perkebunan-perkebunan milik orang-orang Tionghoa dan Belanda di Jawa Barat. Namun dalam perkembangannya, tidak hanya di Jawa Barat saja di daerah-daerah timur Jawa yang memiliki penduduk yang relatif padat juga berkembang pabrik-pabrik gula. Bahkan fenomena pabrik gula ini sudah menjadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi di wilayah timur Jawa ini, yang sebagian besar dimiliki oleh bangsa Eropa. Dalam jangka waktu yang sepuluh tahun gula telah berhasil diusahakan di 13 karesidenan. Pusatnya terutama di Jawa Timur, yaitu karesidenan-karesidenan Surabaya, Pasuruan, dan Basuki (dalam tahun 1840 produksi dari wilayah ini mencapai hampir 65%). Selain itu terdapat gula pula dikaresidenan Japara, Semarang, Pekalongan, dan Tegal dan Cirebon.
jumlah komoditas tersebut sudah tumbuh sumbur di nusantara. Sehingga tidak heran jika dalam data statistik pada tabel berikut sudah didapati nilai yang fantastis mengenai jumlah produksi gula pada awal abad ke-19.
Sumber : Changing Economy in Indonesia, Tabel B8, Production. Hal. 290.
dalam menghasilkan tebu untuk industri gula yang mulai berkembang tersebut, dikarenakan tuntutan-tuntutan untuk tidak merusak tatanan ekonomi dan masyarakat mereka sendiri. Kesediaan mereka untuk memenuhi konsep tersebut digantikan dengan sistem pembayaran teratur para petani produsen, berdasarkan hasil produksi mereka.
Dalam perkembangannya hubungan antara petani pemilik tanah dan industri gula sangat berkurang selama abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada masa tersebut, banyak petani yang kemudian tidak memiliki tanah menjadi terlibat tidak hanya dalam Kerja Pascapanen itu sendiri, tetapi juga dalam kerja untuk persiapan dan penanaman tebu, sesuatu yang pada mulanya dilakukan terutama oleh petani lokal pemilik tanah saja. Perkembangan tenaga kerja ini muncul bersamaan dengan perubahan-perubahan yang dilakukan industri gula dalam menjaga persediaan tebunya. Perubahan yang lain adalah pemerintah kolonial mulai mengurangi pemesanan dan pengaturan produksi bahan mentah, begitu pula dengan pengolah gula di tingkat karesidenan mulai mengatur sendiri penyewaan lahan tebu dari petani pemilik tanah. Selain itu para petani pemilik tanah sudah tidak lagi dipaksa untuk menanam tebu guna menghasikan gula oleh pejabat lokal. Hal inilah yang mengakibatkan tenaga kerja pada industri gula tidak lagi menjadi bagian integral dari pemilikan tanah oleh industri, dan hubungan antara pemilikan tanah oleh petani dan kerja di tanah-tanah industri gula mulai saat itu terputus.
Sumber : Changing Economy in Indonesia, Tabel B8, Labour. Hal. 286-289.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa industri gula awal berpusat di Jawa Barat pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Sehingga tidak mengherankan bahwa pada tahun 1834 jumlah tenaga kerja sudah sangat tinggi yaitu 12557 di Cirebon, pada awal sistem tanam paksa diterapkan. Industri gula di Jawa Barat sangat banyak tergantung pada pekerja-pekerja musiman dari Cirebon dan daerah lain di pesisir utara Jawa, seperti Jepara. Dapat dilihat pada tabel jumlah tenaga kerja di Cirebon dan Jepara memiliki jumlah yang amat tinggi. Sedangkan pertumbuhan produksi gula di daerah Pasuruan Jawa Timur sekitar tahun 1830 tergantung pada perpindahan pekerja musiman dari pulau madura.
untuk merekrut tenaga kerja di luar batas terdekat area pabrik, menjadi semakin menonjol. Di Pekalongan dan Tegal penggunaan tenaga kerja di luar daerah dalam jumlah yang banyak telah menjadi ciri pada semua sektor produksi. Lihat pada tabel perkembangan jumlah tenaga kerja di Pekalongan dan Tegal dari tahun ke tahun semakin meningkat akibat banyak pabrik gula yang melakukan perekrutan tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan dari luar batas area mereka sendiri.
Sumber : Sejarah Ekonomi Indonesia, hal.201.
atau bekerja sebagai petani di pertanian. Sebagian besar tenaga kerja di pabrik gula adalah orang-orang yang mencari penghidupan di pabrik gula, sehingga bisa dikatakan mereka sangat tergantung pada gaji mereka. Di bawah ini adalah tabel yang berisi total tenaga kerja berbagai daerah dalam tahun-tahun tertentu dan gaji mereka pada industri gula pada masa sistem tanam paksa. Terlihat jumlah keluarga Jawa yang terlibat dalam industri gula dan jumlah imbalan yang mereka peroleh terus meningkat.
Sumber : Sejarah Ekonomi Indonesia, hal. 203.
Sebaliknya petani Iebih sering menjadi obyek eksploitasi pabrik gula yang dalam praktiknya ditopang oleh kebijakan negara. Meskipun dalam pelaksanaannya tenaga kerja industri gula Jawa pada masa tanam paksa memiliki kedudukan yang rendah, namun tidak demikian dengan peranan mereka. Tenaga kerja pada industri gula Jawa ini merupakan fenomena yang besar, selain dikarenakan jumlah mereka yang berkembang begitu pesat, juga disebabkan oleh perubahan sistem “tradisional” yang awalnya para pekerja ini terpaksa menjadi petani tebu dibawah kontrol pejabat pribumi, kemudian berubah dengan sendirinya mengikuti pola baru yang sesuai dengan barat.
Sumber :
Booth, Anne, DKK. 1986. Sejarah Ekonomi Indonesia. Jakarta : LP3ES.
Linblad, Thomas. 2000. Sejarah Ekonomi Modern Indonesia. Jakarta : LP3ES.