• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INVESTASI PEMBANGUNAN INDUSTRI dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS INVESTASI PEMBANGUNAN INDUSTRI dan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INVESTASI PEMBANGUNAN INDUSTRI

PENGOLAHAN KAKAO

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Investasi Industri

oleh

IING PAMUNGKAS 1409200250001

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK INDUSTRI

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

(2)

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Kakao telah menjadi komoditas andalan perkebunan di beberapa daerah di Indonesia terutama, wilayah Sulawesi, Papua dan Sumatera. Komoditi ini telah berperan penting dalam perekonomian masyarakat di negeri ini. Pada tahun 2010, Indonesia merupakan produsen kakao ketiga terbesar di dunia. Produksinya mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun. Dari jumlah itu, 74 persen kakao harus diekspor karena tak terserap di dalam negeri. Sebagian besar kakao Indonesia (sekitar 96 persen) diproduksi para petani (Askindo, 2011). Pada tahun 2012 produksi kakao Indonesia meningkat, sehingga menjadi produsen kakao terbesar ke-2 di dunia, dengan produksi mencapai 9ke-2ke-2.7ke-20 ton, di bawah negara Pantai Gading dengan produksi 1,38 juta ton.

Aceh merupakan salah satu Provinsi penghasil Kakao. Pada tahun 2012, luas perkebunan Kakao di Provinsi Aceh diperkirakan sudah lebih dari 80.000 ha dengan produksi sekitar 40.000 ton kakao kering per tahun (Kementan, 2013). Areal tanaman kakao tersebar di beberapa kabupaten, terutama di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya. Kakao Rakyat di Aceh pun terus bertambah dari tahun ke tahun.

Pasar lokal, nasional dan internasional juga semakin mengenal Kakao Aceh. Namun, sistem dan infrastruktur pendukung pemasaran di wilayah Aceh masih lemah, sehingga sebagian besar Biji Kakao Aceh di pasarkan melalui Medan (Pelabuhan Belawan), Sumatera Utara. Sementara industri pengolahan kakao di wilayah Aceh belum begitu berkembang khususnya di Pantai Barat Selatan Provinsi Aceh. Salah satu industri pengolahan kakao seperti lemak coklat (Cocoa butter) dan bubuk coklat (Cocoa powder) yang bernilai sangat tinggi selain untuk bahan pangan juga dapat digunakan untuk bahan kosmetik.

(3)

kakao, diperlukan analisis kelayakan investasi untuk melihat apakah investasi tersebut layak atau tidak didirikan dengan pertimbangan apakah investasi tersebut akan memberikan keuntungan di masa yang akan datang. Kelayakan investasi pembangunan industri pengolahan kakao akan dilakukan analisis meliputi business model, economical model dan financial model.

1.2. Tujuan

(4)

2. Pembahasan

2.1. Teknologi Proses

Dalam kajian yang dilakukan, produk industri pengolahan kakao ini hanya menghasilkan dua produk utama yaitu lemak kakao (Cocoa Butter) dan bubuk kakao (Cocoa Powder). Teknologi proses yang digunakan dalam kajian ini adalah teknologi industri pengolahan kakao skala kecil-menengah yang telah dikembangkan dan diuji coba oleh pusat Penelitian dan Pengembangan Kopi dan Kakao Indonesia. Berikut ini tahapan proses produksi cocoa butter dan cocoa powder.

a. Pembersihan dan sortasi. Tujuan proses ini untuk menjamin bahwa bahan baku yang digunakan memenuhi kualitas standar yang telah ditetapkan. b. Roasting (Penyangraian). Tujuan dilakukan proses ini untuk

mengembangkan cita rasa dan aroma khas coklat, menurunkan kadar air, mematikan mikroba, mengelembungkan biji kulit sehingga mudah dipisahkan dari nib dan membuat nib lebih renyah sehingga memudahkan penghancuran dan penghalusan.

c. Deshelling (Penampian). Tahapan ini dilakukan memisahkan kulit kakao dari nib.

d. Pasting (Pemastaan). Tahapan ini penggilingan nib menjadi pasta kakao sebagai produk primer kakao

e. Pressing (Pengempaan). Bertujuan untuk mengurangi lemak kakao pada pasta kakao sehingga menghasilkan bungkil dan lemak kakao bermutu baik.

f. Powdering (Pembubukan). Bungkil merupakan hasil sampingan ekstraksi lemak kakao yang umumnya sangat keras. Pada tahap ini bungkil akan dihancurkan agar mendapatkan hasil bubuk kakao.

g. Kemudian dilakukan pengayakan bubuk dengan ukuran 200 mesh sehingga diperoleh partikel bubuk kakao yang halus.

(5)

2.2. Businness Model

Produksi utama industri pengolahan kakao adalah bubuk coklat (Cocoa powder) dengan melalui beberapa proses pengolahan. Sebagai hasil sampingan dari tahap pengepresan akan dihasilkan pula lemak kakao/coklat (Cocoa butter) yang siap dijual. Berikut data-data teknis dari industri pengolahan kakao.

 kapasitas terpasang cocoa butter 140,4 kg/hari dan cocoa powder 147,6 kg/hari

 Kebutuhan tenaga kerja: 38 orang

 Jam kerja: 16 jam dengan pembagian 2 shift kerja

 Bahan baku utama biji kakao kering dengan kebutuhan140,7 kg/hari  Harga jual cocoa butter yaitu Rp. 110.000,-

 Harga jual cocoa powder yaitu Rp. 85.000,-

Potensi pasar cocoa powder tersebar diseluruh wilayah aceh dan sekitarnya, sedangkan produk cocoa butter potensi pasar berada di Pulau Jawa dan pasar ekspor. Produk lemak kakao merupakan produk yang termahal dari produk kakao lainnya dan juga dibutuhkan teknologi tinggi dalam proses pengolahan selanjutnya. Sehingga konsumen cocoa butter masih sangat terbatas pada industri pengolahan makanan, minuman, kosmetik dan farmasi.

Strategi yang digunakan untuk memasarkan kedua produk menggunakan berbagai saluran yaitu kerjasama/kontrak dengan industri yang menggunakan bahan baku lemak kakao. Pemilihan mekanisme kontrak yang digunakan untuk memasarkan produk lemak kakao dikarenakan jenis industri konsumen ditargetkan adalah skala industri menengah-besar. Adapun saluran untuk bubuk kakao menggunakan counter khusus, pedagang retail, pengecer dan direct selling. Counter khusus akan berada berdekatan dengan lokasi produksi dengan maksud meminimalisir biaya transportasi pemasaran dan memperkuat image positioning.

(6)

volume pembelian produk yang besar, membutuhkan jaminan kepercayaan dan hubungan reaksi.

2.3. Economical Model

2.3.1. Sumber Dana dan Struktur Pembiayaan

Pembiayaan investasi terdiri atas dua sumber yaitu dana pinjaman bank dan modal sendiri dengan skema pembagian masing-masing sebesar 75%-25%. Total seluruh biaya investasi yang dibutuhkan oleh industri pengolahan kakao setelah dikaji yaitu Rp. 1.221.878.202,- yang terdiri dari biaya investasi awal dan modal kerja pada bulan pertama. Modal kerja bulan pertama diperoleh pada biaya bahan baku berkapasitas produksi 75%. Sumber dan struktur pembiayaan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Sumber dan Struktur Pembiayaan

Sumber Dana Investasi Awal Modal Kerja Total Modal Pinjaman Rp. 847.575.000,- Rp. 282.525.000 Rp. 1.130.100.000 Modal Sendiri Rp. 61.333.651,- Rp. 20.444.550 Rp. 81.778.202

Total Rp. 1.211.878.202

(7)

3 Rp. 181.781.730 Rp. 83.165.142 Rp. 363.563.460 4 Rp. 181.781.730 Rp. 50.444.430 Rp. 181.781.730 5 Rp. 181.781.730 Rp. 17.732.719 Rp. 0

Total Rp. 908.908.651 Rp. 415.825.708 Rp. 1.324.734.359 2.3.2. Capital Expenditure (Capex)

Capital expenditure yaitu pengeluaran yang menciptakan manfaat masa depan. Sebuah belanja modal tersebut terjadi ketika bisnis menghabiskan uang baik untuk membeli aktiva tetap atau untuk menambah nilai aset yang ada dengan masa manfaat yang melampaui tahun pajak. Berikut ini estimasi biaya capex:

Tabel 3. Estimasi Biaya Capital Expenditure (Capex)

No Jenis Capex Item @Harga Jumlah Satuan Total Harga Total

Perizinan 5.000.000 1 Paket 5.000.000

(8)

75% akan diasumsikan berjalan selama 2 tahun awal beroperasi dan tahun selanjutnya akan berjalan 100%. Berikut ini estimasi biaya opex untuk industri pengolahan kakao:

Tabel 4. Estimasi biaya bahan baku saat kapasitas produksi 75%

No Item Kebutuhan Perbulan

Harga

persatuan Satuan Biaya Perbulan Biaya Pertahun 1 Biji kakao kering 2.633 25.000 Kg 65.812.500 789.750.000 2 Kemasan sachet 2.088 200 Pcs 417.690 5.012.280 3 Kemasan karton 2.088 300 Pcs 626.535 7.518.420 5 Listrik 10.917 1.300 Kwh 14.192.477 170.309.718 6 BBM 60 11.000 Liter 660.000 7.920.000 7 Air 30 2.300 m3 69.000 828.000 81.778.202 981.338.418 Total

Tabel 5. Estimasi biaya bahan baku saat kapasitas produksi 100%

No Item Kebutuhan Perbulan

Harga

persatuan Satuan Biaya Perbulan Biaya Pertahun 1 Biji kakao kering 3.510 25.000 Kg 87.750.000 1.053.000.000 2 Kemasan sachet 2.785 200 Pcs 556.920 6.683.040 3 Kemasan karton 2.785 300 Pcs 835.380 10.024.560 5 Listrik 14.556 1.300 Kwh 18.923.302 227.079.625 6 BBM 80 11.000 Liter 880.000 10.560.000 7 Air 40 2.300 m3 92.000 1.104.000 109.037.602 1.308.451.225 Total

Tabel 6. Estimasi Biaya Pekerja

No Posisi Jumlah

(9)

2.3.4. Overhead Cost

Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi yang tidak langsung terhadap produk. Berikut ini biaya overhead industri pengolahan kakao antara lain perawatan, pajak penghasilan, depresiasi, promosi, telepon dan distribusi.

a. Biaya perawatan akan ditetapkan sebesar 2% dari pendapatan yang diperoleh.

b. Biaya pajak akan ditetapkan sebesar 10% dari pendapatan yang diperoleh.

c. Depresiasi atau penyusutan yaitu penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam hal ini taksiran industri pengolahan kakao berproduksi yaitu selama 10 tahun dengan nilai sisa Rp.500.000.000,-. Kemudian perhitungan depresiasi akan menggunakan metode garis lurus dan berikut perhitungannya:

Cash flow merupakan analisis yang berhubungan dengan pendapatan atau keuntungan yang ditimbulkan karena adanya pembelanjaan atau investasi. Cash flow

(10)

Tabel 7. Cash Flow

KETERANGAN Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10

(11)

2.4. Financial Model

2.4.1. Internal Rate of Return (IRR)

Metode Internal Rate of Return menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa mendatang. Apabila tingkat bunga ini lebih besar dari tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang di isyaratkan) maka investasi dikatakan menguntungkan, kalau lebih kecil dikatakan merugikan. Kriteria yang layak dari internal rate of return yaitu lebih besar dari 18%. Hasil penghitungan internal rate of return dari arus kas bersih di atas, ditemukan nilai internal rate of return sebesar 30% pada tahun ke 10. Maka 30% > 18% sehingga perhitungan dapat dinyatakan layak sesuai kriteria kelayakan bisnis. Sedangkan tahun minimal dikatakan layak sesuai kriteria berdasarkan perhitungan internal rate of return diperoleh pada tahun ke 6 yaitu sebesar 19%.

2.4.2. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui profitabilitas investasi yang ditanamkan. Metode net present value menghitung selisih antara modal investasi sekarang dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun Terminal Cash Flow) dimasa yang akan datang. Rumus yang digunakan untuk menghitung NPV adalah:

o t t n

t

C k C

NPV 

1 (1 )

di mana: Ct = net cash flow tahun ke –t k = discount rate

Co = initial cost dari investasi yang digunakan n = periode investasi yang akan dihitung

Agar memudahkan perhitungan net present value, maka akan digunakan formula di Microsoft Excel. Berdasarkan hasil perhitungan formula Microsoft Excel, diperoleh hasil sebesar Rp.2.073.629.533,-. Dikarenakan nilai net present value

(12)

3. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan tentang kelayakan investasi pembangunan industri pengolahan kakao dengan kapasitas terpasang untuk cocoa butter 140,4 kg/hari dan kapasitas terpasang untuk cocoa powder 147,6 kg/hari, diperoleh nilai

internal rate of return sebesar 30% pada tahun ke 10. Maka 30% > 15% sehingga perhitungan dapat dinyatakan layak sesuai kriteria kelayakan bisnis. Sedangkan tahun minimal dikatakan layak sesuai kriteria berdasarkan perhitungan internal rate of return diperoleh pada tahun ke 6 yaitu sebesar 19%. Sedangkan hasil perhitungan

Gambar

Tabel 3. Estimasi Biaya Capital Expenditure (Capex)
Tabel 4. Estimasi biaya bahan baku saat kapasitas produksi 75%

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat diketahui faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pertumbuhan investasi sektor perdagangan dan investasi sektor industri manufaktur di jawa timur baik secara

Penelitian ini berupa tinjauan kelayakan suatu investasi perumahan dengan judul Analisis Kelayakan Investasi Proyek Perumahan (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Perumahan Griya

M enyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul: ” Analisis Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Jember ”

Hasil analisa kelayakan investasi pembangunan Embung Bajul di Kabupaten Buleleng yang dilakukan pada penelitian ini menunjukan layak untuk diteruskan pada semua

Ketiga, dalam rangka agar pembangunan rantai nilai industri pengolahan dapat menyerap tenaga kerja lokal, maka perlu pembinaan tenaga kerja lokal berkaitan dengan

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan maka didapat laba bersih di tahun ke 10 ( batas waktu analisis kelayakan investasi), dimana laba bersih perusahaan dengan adanya

Secara simultan investasi, jumlah unit usaha dan tenaga kerja sektor industri pengolahan berpengaruh signifikan terhadap PDRB sektor industri pengolahan Provinsi Jambi,

Tingkat sensitivitas investasi pada pembangunan Villa Maharaja Pererenan, yaitu investasi ini akan menjadi tidak layak saat biaya naik lebih dari 26,11% dengan manfaat tetap, manfaat