ADA MIGAS
DI LADANG PETANI
BOJONEGORO
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada, 2013
Editor:
Dr. Widodo, M.Sc,
ADA MIGAS DI LADANG PETANI BOJONEGORO
Diterbitkan sebagai Laporan Awal Studi Pengembangan Wilayah
Bojonegoro Berbasis Agro, dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan serta Kesiapan Masyarakat dalam Menghadapi Industri Migas
Ketua Tim Peneliti:
Dr. Widodo, MSc
Anggota Tim Peneliti:
Ir. F. Trisakti Haryadi, MSi, PhD Ir. Yuni Suranindyah, M.S., PhD
Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., Ph.D Dr. Tri Anggraini Kusumastuti, S.P., M.P. Cuk Tri Noviandi, S.Pt
DAFTAR ISI
BAB I
CATATAN AWAL TENTANG BOJONEGORO - 5
A. Ladang Migas Internasional - 6
B. Selayang Pandang Bojonegoro - 10
C. Kultur Agraris dan Kemiskinan - 13
D. Metode Penelitian- 18
BAB II
DESA, PETANI, DAN MIGAS: SEBUAH SURVEI AWAL DI KECAMATAN TAMBAKREJO DAN KECAMATAN PURWOSARI - 21
A. Tambakrejo: Boleh Optimis, Wajib Waspada - 23
1. Kondisi Pertanian - 23 2. Kondisi Peternakan - 27 3. Kondisi Sosial - 37
B. Purwosari: Meratas Peluang dan Tantangan - 40
1. Kondisi Pertanian - 40
2. Kondisi Peternakan - 43
3. Usaha Kecil dan Menengah - 45
4. Kondisi Sosial - 46
C. Analisis Situasi (SWOT Analysis) - 50
BAB III
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT - 55
A. Luaran (Outcome) dan Strategi Pencapaian - 56 B. Program Kegiatan - 58
BAB IV PENUTUP - 73
Kesimpulan - 74 Rekomendasi -75
5
BAB I
6
D
alam dua dekade belakangan, Indonesia menjadi sorotan dunia internasional karena potensi minyak dan gas (migas) yang begitu berlimpah. Industri migas di Indonesia dapat ditemukan di beberapa kawasan, seperti kawasan lepas pantai, hutan, dan bahkan wilayah pedesaan. Menurut data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (1998), potensi migas Indonesia sebagian besar ditemukan di kawasan lepas pantai (offshore)1, misalnya di perairan Madu-ra, Kalimantan, dan Aceh. Sedangkan di Kabupaten Bojonegoro, industri migas sebagian besar ditemukan di kawasan pedesaan dan hutan, hanya sebagian kecil yang berada di kawasan perkotaan.Keberadaan beberapa sumur migas membentuk blok-blok migas di Bojonegoro yang kian hari semakin berkembang jumlahnya. Beberapa Blok migas antara lain Blok Cepu, Blok Tuban, Blok Gundih, Blok Nona dan Blok Blora. Dalam setiap blok tersebut terdapat beberapa lapangan migas, misalnya di Blok Cepu terdapat lapa-ngan Banyuurip, Jambaran dan Alastuwo Barat serta Timur. Di Blok Tuban terdapat lapangan Sukowati Pad A dan B, sedangkan di Blok Gundih terdapat lapangan Tiung Biru. Tersebarnya beberapa lapangan migas tersebut sudah mengindikasikan seberapa besar kekayaan alam yang terkandung di perut bumi daerah itu. Kendati angka pastinya masih menjadi perdebatan, namun data yang
1 “Indonesia Raksasa Maritim Masih Tertidur Lelap”, http://
indomaritimeinstitute.org/2011/03/584/, 3 Desember 2013.
7
dihimpun dalam Tabloid Flamma dari beberapa pihak berikut sudah menunjukkan angka yang cukup fantastis. Analisa kandungan migas di Blok Cepu adalah sebagai berikut : (i) menurut Drajat Wibowo yang seorang anggota DPR RI, kandungan minyaknya sebesar 700 juta barel dan gas sebesar 3,31 kaki trilyun kubik, (ii) menurut Kwik Kian Gie sebesar 2 Milyar barel, (iii) menurut exxon mobile sebesar 250 juta barel dengan kandungan gas yang belum bisa diperkirakan, (iv) serta dari data yang pernah dibertakan kompas sebesar 1,1 Milyar barel di kedalam kurang dari 1.700 meter dan 11 Milyar barel di atas kedalam 2.000 meter2.
Awal tahun 2000an, ruang publik masyarakat Bojonegoro mulai diha-ngatkan dengan akan dimulainya pro-ses eksploitasi cadangan migas yang begitu besar yang selanjutnya dikenal dengan Blok Cepu. Harapan besar mulai muncul, sekalipun tak steril pula dari persoalan. Hampir bersamaan dengan Blok Cepu, dimulai pula aktivitas awal sumur migas di sekitar Kota Bojonegoro yang kemudian dinamai Blok Tuban. Keberadaan dua blok migas tersebut menjadi magnet bagi masyarakat lokal hingga internasional. Pasalnya, Bojonegoro yang selama ini dikenal sebagai kota jati tak lama kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang berkompetisi memperebutkan kesempatan bisnis migas. Awalnya hanya sayup-sayup terdengar, namun ditemukannya potensi migas Bojonegoro menjadi pemberitaan yang kian menarik bagi media lokal hingga internasional. Migas telah menjadi ikon baru Bojonegoro, hingga media pun menjulukinya sebagai “Indonesia’s texas”.3
Kondisi sosial, ekonomi serta budaya masyarakat Bojonegoro sedikit banyak akan terpengaruh geliat industri migas. Keberadaan industri migas di wilayah pedesaan Bojonegoro, akan berhadapan
2 Lihat dalam Tabloid Flamma, edisi 30, Juni-Agustus 2008, Berharap Se-jahtera Dari Semburan Minyak: Licin Minyak Blok Cepu Agar Berkah Tak Jadi Musibah, diunduh dari
http://www.ireyogya.org/id/flamma/licin-minyak-blok-cepu.html, pada tanggal 7 April 2011
3 Lihat Davies Ed, ‘Indonesia’s Texas? Rural Java Braces for Oil Boom’,
8
dengan kultur masyarakat agraris, sehingga rentan berakibat pada terjadinya benturan sosial yang intensif. Hal ini disebabkan oleh ada-nya perbedaan kondisi sosial budaya masyarakat desa di lokasi industri migas yang ditandai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi relatif rendah. Dengan kondisi sosial ekonomi seperti itu, banyak masyarakat yang tidak mampu mengakses manfaat langsung dari keberadaan industri migas di wilayahnya. Tidak hanya itu, perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya yang terbentuk antara masyarakat lokal dengan para pendatang cenderung memunculkan kesenjangan serta kantong-kantong masyarakat yang eksklusif. Situasi dan kondisi sosial yang ada di industri migas sangat berpotensi menimbulkan ketegangan sosial baik antara masyarakat dengan pihak pendatang, masyarakat dengan perusahaan migas, antara masyarakat yang tidak mampu dengan masyarakat yang mampu mengakses manfaat langsung dari perusahaan, juga antara masyarakat dengan pemerintah. Pada akhirnya, masyarakat lokal sering hanya menjadi penonton dalam hiruk pikuk industri migas di wilayah mereka sendiri.
Sementara itu, banyak laporan menunjukkan bahwa wilayah Bojonegoro sebagai pemilik potensi migas terbesar, masih menghadapi masalah kemiskinan di wilayah-wilayah berlokasinya sumur migas. Laporan tersebut dapat dilihat pada publikasi penelitian maupun pada situs-situs berita nasional dan internasional. Seperti yang dilaporkan Reuters, Bojonegoro se-bagai pemilik cadangan
minyak mentah terbesar di Asia Tenggara mencapai 350 juta barel, masih dihadapkan pada persoalan kemiskinan.4 Laporan tersebut menegaskan bahwa terlepas dari kepemilikan cadangan minyak yang berlimpah, Kabupaten Bojonegoro termasuk dalam peringkat keempat kabupaten termiskin di Propinsi Jawa Timur. Fakta serupa juga diungkap oleh media lokal, Suara Banyuurip, bahwa dari total
jumlah penduduk 1,4 juta jiwa, jumlah warga miskin mencapai 128.981 keluarga/rumah tangga miskin.5
4 Ibid.
9
Laporan ini secara sederhana menggambarkan bahwa di daerah kaya migas sekalipun masih banyak masyarakat miskin yang hidup tidak sejahtera. Di lain pihak, Dana Bagi Hasil (DBH) baru diterima pasca operasional industri migas dilakukan, sementara inflasi sudah terjadi sejak eksplorasi dilakukan. Dengan masih banyaknya masyarakat miskin di kawasan ini, maka terjadinya inflasi akan memicu penurunan taraf kehidupan masyarakat. Belum lagi, kehadiran industri migas dipastikan akan memunculkan kompetisi di antara masyarakat untuk dapat mengakses manfaat langsung. Jika situasi tersebut tidak direspon maka dipastikan ketegangan dan konflik sosial menjadi hal yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan harus segera dilakukan dengan berbagai strategis dan upaya teknis.
10
M
igas dan Bojonegoro kini menjadi fokus dan lokus studi yang makin banyak diminati para akademisi, aktivis sosial maupun mahasiswa. Persoalan yang diangkat dan realitas yang diungkap pun bervariasi. Salah satu di antaranya adalah studi tentang bisnis militer di perusahaan pengeboran minyak Bojonegoro yang merupakan laporan penelitian dari Kontras pada tahun 20046.Lebih pada tawaran konsep pemberdayaan masyarakat di area kerja tambang, IRE Yogyakarta juga mengambil Bojonegoro sebagai salah satu wilayah studi, terutama dengan mengangkat kearifan lokal sebagai dasar dari pemberdayaan masyarakat7. Mengambil lokus
desa sebagai inti dari dinamika sosial migas, studi dari Pradhikna Yunik telah mengungkap peran Civil Society Organization (CSO)
dalam menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk
penguatan kelembagaan desa di ring 1 migas, terutama dalam proses perencanaan pembangunan desa8.
Secara garis besar, realitas yang hampir sama terlihat dari studi di atas. Bojonegoro terutama di wilayah kerja migas menjadi arena berbagai pemangku kepentingan untuk menjalankan perannya masing-masing. Peran yang tentunya tak lepas dari berbagai
6 Laporan Penelitian Bisnis Militer di Perusahaan Pengeboran Minyak Bo-jonegoro Jawa Timur, Kontras, Jakarta, 2004
7 Hudayana, Bambang, Koseptualisasi Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Industri Tambang dan Migas Berbasis Pada Kearifan Lokal, IRE Yogyakarta, 2011.
8 Nurhayati, Pradhikna, CSR Berbasi Community Based Development; Stdu Tentang Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Desa Bojo-negoro di Wilayah Kerja MCL, skripsi sarjana Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Yogyakarta 2012
11
kepentingan, salah satunya motif ekonomi politik. Studi awal yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada ini difokuskan untuk melihat relasi antara migas dengan dampak dan potensi untuk pengembangan Bojonegoro sebagai lumbung pangan dan energi Indonesia.
Kabupaten Bojonegoro sendiri adalah 1 dari 38 kabupaten dan kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Timur. Adapun batas wilayahnya adalah sebagai berikut; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Blora (Provinsi Jawa Tengah) dan Kabupaten Ngawi, sebelah utara dengan Kabupaten Tuban, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lamo-ngan, sebelah selatan berbatasan de-ngan Kabupaten Jombang, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Madiun. Terletak di garis Bujur Timur 112025’ dan 112009’ serta di antara
Lintang Selatan 6059 dan 7037’, Kabupaten Bojonegoro memiliki
luas wilayah 230.706 Ha (Bojonegoro Dalam Angka 2011). Dengan wilayah yang cukup luas tersebut, penggunaan tanah di dalamnya juga bervariasi (lihat tabel 1):
Sedangkan dilihat dari topografi, wilayah Bojonegoro secara umum berada di dataran rendah, terutama di bagian utara yaitu sepanjang aliran Bengawan Solo, yang membentang dari bagian barat daya yaitu Kecamatan Margomulyo sampai wilayah paling timur, yaitu Kecamatan Baureno. Wilayah Bojonegoro bagian selatan
Tabel 1 Penggunaan Tanah di Kabupaten Bojonegoro
No Penggunaan Tanah 2009
12
berada di dataran tinggi, yaitu sepanjang Gunung Pandan, Kramat dan Gajah9.
Sampai tahun 2010, jumlah penduduk Kabupaten Bojonegoro mencapai 1.209.973 jiwa. Dengan rincian laki-laki 598.365 jiwa dan perempuan 611.608 jiwa yang tersebar di 28 kecamatan, 419 desa dan 11 kelurahan. Sebagian besar kultur masyarakatnya adalah Jawa seperti di daerah Solo atau Yogyakarta. Jawa Timur sub kultur Mataraman adalah sebutan populer termasuk di Bojonegoro. Kultur Samin adalah warna khusus yang ada di Bojonegoro, terutama di bagian barat. Kendati gerakan Samin terkenal dengan model pembangkangan yang khas terhadap kebijakan pemerintah di jaman kolonial, namun hal tersebut kurang teraktualisasi di masa kini. Dinamika sosial masyarakat Bojonegoro cenderung kalem dalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah daerah yang dirasa kurang tepat. Secara umum demonstrasi atau model parlemen jalanan lain tidak begitu nampak intensif terjadi. Namun keadaan yang relatif kondusif tersebut, sempat bergejolak ketika masyarakat menunjukkan resistensinya terhadap negara dengan aksi penjarahan hutan. Akibat yang ditimbulkan adalah berkurangnya kuantitas area hutan produktif, yaitu hanya tersisa 26.160 hektar dan sebesar 17.280 hektar tidak lagi produktif.
13
D
engan persoalan yang terjadi di sektor kehutanan, harapan pada potensi tersebut berkurang drastis. Degradasi lahan telah terjadi akibat penjarahan hutan. Dari Tabel 1 tentang penggunaan lahan di atas, selain harapan pada sektor kehutanan, pertanian beserta sektor lain yang mempunyai kaitan seperti peternakan adalah sektor potensial. Pada tahun 2010, luas panen tanaman padi dan palawija adalah sebagai berikut;Tabel 2 : Luas Panen Tanaman Padi dan Palawija (Dalam Hektare)
14
Gambar 1.
Peta Produksi Tanaman Padi dan Palawija di Kab. Bojonegoro
Luasan panen tanaman padi dan palawija di atas tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan atau tingkat perekonomian petani. Sekalipun Nilai Tukar Petani mengalami kondisi yang relatif baik selama tiga tahun ke belakang, yaitu 102,45% pada tahun 2010, 102,65% untuk tahun 2012 serta 102,50% pada tahun 201210, namun kondisi tersebut secara riil juga
diba-yangi persoalan terkait menyusutan luasan lahan untuk pertanian.
15
Kultur agraris dan kemiskinan, begitulah beberapa orang kerap mengaitkan dua hal tersebut sebagai karakteristik sosial ekonomi di Jawa. Kondisi ini pernah dipotret oleh seorang ilmuwan Australia, C.L.M Penders, yang melukiskan sejarah Bojonegoro sebagai sejarah kemiskinan, dalam bukunya Bojonegoro 1900-1942: A
Story of Endemic Poverty in North West East Java. Kondisi ini pula
yang diidentifikasi oleh tim peneliti sebagai permasalahan yang mengemuka di sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Sebagaimana sebuah kenyataan yang berlawanan dengan keberlimpahan migas, kondisi masyarakat desa di sekitar area migas di Bojonegoro adalah tipikal masyarakat agraris dengan budaya kewirausahaan (entrepreneurship) yang rendah, ditambah dengan
absennya tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh kuat diluar tokoh pemerintahan. Hal tersebut mengemuka ketika tim peneliti Universitas Gadjah Mada berdiskusi dengan beberapa warga Bojonegoro pada bulan Agustus 2013. Kondisi masyarakat seperti ini dapat berimplikasi pada ketidakoptimalan dana investasi di masyarakat (mismanajemen pengelolaan dana), serta kemungkinan terjadinya
chaos ketika kepemimpinan di pemerintahan mengalami krisis.
Dari hasil diskusi juga disebutkan, secara umum warga tidak banyak yang memiliki sawah, sehingga aktivitas bertani di sawah
16
hanya dilakukan oleh warga yang memiliki sawah. Tanaman padi tidak begitu menjanjikan secara ekonomis sebab biaya produksinya begitu mahal. Hal ini disebabkan karena kondisi wilayah yang kering dan me-ngandalkan sawah tadah hujan. Di sisi lain, banyak warga yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk usaha produktif, misalnya untuk menanam pisang. Jenis pisang yang ditanam pun bervariasi seperti pisang raja, pisang kepok, pisang susu, pisang subliro, dan
masih banyak jenis lainnya. Tanaman ini umumnya ditemukan hampir di semua pekarangan milik warga. Kondisi tanah sangat mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman pisang. Sampai saat ini pisang menjadi salah satu produk yang potensial. Potensi pisang dimanfaatkan warga sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain pisang, ketela pohon juga mudah didapat di wilayah tersebut, meskipun siklus hidup dan potensinya tidak sebaik tanaman pisang. Warga juga menanam jati sebagai bentuk investasi. Tanaman jati dapat dijadikan komoditas atau paling tidak digunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pembuatan meubel di rumah. Masyarakat juga memelihara berbagai
ternak antara lain kambing, ayam, dan sapi. Masyarakat beternak ayam sebagai sumber penghasilan, sedangkan ternak kambing umumnya untuk tabungan.
Di sisi lain, budaya dan kehidupan wirausaha (entrepreneurship)
17
menyebabkan mereka tidak siap menghadapi krisis. Situasi ini sangat rentan ketika pemerintah mengalami krisis karena akan melahirkan masyarakat tanpa kepemimpinan (anarki) sehingga mudah terjadi gejolak sosial.
18
D
alam studi ini metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan mengedepankan teknik purpo-sive, yaitu peng-ambilan data disesuaikan dengan tujuandasar dari penelitian. Tujuan dasar dari penelitian ini adalah sebagai studi awal untuk potensi pengembangan pertanian (agro) di area kerja migas di Bojonegoro. Dengan area kerja perusahaan migas yang tersebar di berbagai wilayah, maka pemilihan wilayah peneli-tian dalam studi ini didasari pertimbangan tertentu.
Dipilihnya dua kecamatan, yaitu Tambakrejo dan Purwosari se-bagai wilayah studi karena berada di wilayah ring 1 sumur migas Tiung Biru, yang hingga tahun 2013 dua wilayah tersebut berada dalam kondisi dinamis. Adapun sumur migas Tiung Biru dipilih seb-agai kawasan studi karena meskipun aktivitas migas sudah berlang-sung beberapa tahun lalu, namun solusi terhadap persoalan sosial-ekonomi dan pengembangan desa di wilayah tersebut masih minim. Dalam pengembangan desa area operasi migas di Kabupaten Bo-jonegoro, sebagian besar perhatian dan program pembangunan diarahkan ke wilayah kerja sumur migas Banyuurip yang memang saat ini tengah menjadi harapan nasional. Sumur Tiung Biru sendiri merupakan penghasil gas yang hingga saat ini o-perator utamanya ada Pertamina.
Dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik pengambilan data. Metode pertama adalah Focus Group Discussion (FGD). Teknik
ini digunakan karena lebih efisien dan efektif untuk menarik infor-masi dari berbagai macam sumber inforinfor-masi di tengah waktu yang terbatas. FGD dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Tambakrejo pada
19
tanggal 5 Oktober 2013 yang diha-diri oleh kedua camat dari Pur-wosari dan Tambakrejo beserta stafnya serta beberapa kepala desa dari dua kecamatan tersebut, terutama desa-desa yang berada di sekitar area kerja sumur Tiung Biru.
Kedua, untuk memperkuat hasil FGD, maka dilaksanakan observasi
lapangan yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2013 dengan me-ngunjungi desa-desa yang terdapat potensi menonjol sekaligus masih ada persoalan dalam pengembangan potensi tersebut. Potensi yang dimaksud adalah pertanian, terkait vegetasi tanaman yang tumbuh dan berkembang di wilayah itu; potensi peternakan, terutama ayam, kamb-ing, domba dan sapi; potensi UKM serta tak kalah penting dengan me-lihat kondisi sosial di desa.
Ketiga, sekaligus dalam observasi tersebut digunakan untuk
wawan-cara dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan potensi yang ada di desa, seperti ketua dan anggota kelompok ternak, kelompok tani serta kepala desa.
Keempat, pengambilan dan analisis data sekunder. Dalam
21
BAB II
DESA, PETANI, DAN MIGAS:
SEBUAH STUDI AWAL DI
22
23
T
ambakrejo merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan Tambakrejo terdiri dari 18 desa, 65 dusun, 95 RW, dan 378 RT.1 Jumlah penduduk di Kecamatan Tambakrejo 61.185jiwa dengan komposisi 30.738 laki-laki dan 30.447 perempuan.2
Mata pencaharian masyarakat pada umumnya adalah bercocok tanam dan beternak. Dengan kondisi wilayah hutan yang cukup luas, masyarakat diuntungkan dengan ketersediaan pakan ternak yang cukup, meliputi lamtoro gong, gliresyde, hijauan makanan ternak, rumput gajah, dan setaria.
Letak geografis Kecamatan Tembakrejo, yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Purwosari, Selatan dengan Kabupaten Ngawi, Timur dengan Kecamatan Ngambon, dan Barat dengan Kecamatan Ngraho. Luas wilayah 209.52 km² yang merupakan wilayah kecamatan terluas di Kabupaten Bojonegoro atau tepatnya menempati sekitar 9% dari luas wilayah Kabupaten (2.307 km²). Berada di ketinggian 200-300 m² di atas permukaan air laut menjadikan kecamatan ini secara umum berhawa panas.
1. Kondisi Pertanian
Potensi pertanian di Kecamatan Tambakrejo meliputi padi, jagung, singkong, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Potensi unggulan
11 Profil Kecamatan Tambakrejo yang disampaikan oleh Camat Tambakre-jo, Ngasiaji, S.Sos, M.Si dalam kegiatan audiensi dan Focus Group Dis-cussion (FGD) tim peneliti UGM, 5 Oktober 2013, di Kantor Kecamatan Tambakrejo.
12 Berdasarkan dokumen laporan yang disampaikan oleh Achmad Moe-chid, Petugas Teknis Pelaksana Peternakan dan Perikanan Kecamatan Tambakrejo, 5 Oktober 2013.
24
tanaman pangan ada tiga yaitu padi, jagung dan singkong. Dari luasan 3305 ha lahan padi, produksi mencapai 25 ribu ton per tahun. Ada pula potensi tanaman hortikultura seperti mangga, pisang, cabai, tomat, dan belimbing. Selain itu, warga juga menanam tembakau, hingga saat ini ada sekitar 48 ha tanaman tembakau. Rata-rata lahan yang terdapat di wilayah tersebut adalah sawah tadah hujan yaitu seluas 3305 ha. Selain itu, luasan untuk tegal sekitar 1860 ha dan pekarangan 1464 ha. Adapun luasan hutan secara keseluruhan mencapai 20.000 ha tapi yang digarap hanya berkisar 5000 ha.Tanaman pangan yang dikembangkan antara lain padi jagung kedelai dan ubi kayu.
Dari hasil Focus Group Discussion (FGD) dengan tokoh masyarakat
dan pejabat pemerintah Kecamatan Tambakrejo pada 5 Oktober 2013, diketahui bahwa ada beberapa masalah pertanian yang sering dihadapi masyarakat. Misalnya terkait tanaman padi, ketika panen raya, harga padi relatif rendah. Sedangkan tanaman jagung cukup potensial, luasan area tanam jagung ketika musim kemarau hampir 80 persen luasan area tanam padi, sedangkan 20 persen sisanya adalah
25
area tanam tembakau dan kedelai. Hanya saja, sebagian besar jagung dijual mentah dan tidak banyak masyarakat yang mampu mengolah jagung menjadi produk olahan yang lebih bernilai jual. Jagung dari Tambakrejo umumnya dijual ke luar daerah, misalnya ke Magetan. Di Magetan, jagung dari Tambakrejo dibuat olahan emping jagung. Di Tambakrejo sendiri, ada warga yang mengolah jagung, namun saat ini pengolahannya masih sebatas menjadi cemilan marneng (jagung
goreng).
Selain itu, potensi ubi kayu juga cukup banyak. Ubi kayu biasanya disetor ke wilayah kecamatan lain, misalnya ke Kecamatan Margomulyo, sebab disana terdapat pabrik tepung. Masyarakat Tambakrejo juga mengharapkan agar diusahakan adanya pabrik tepung di wilayah mereka. Menurut warga, pasar ubi kayu di Tambakrejo lebih luas daripada Margomulyo, dengan potensi ubi kayu yang juga lebih besar yakni lebih dari 350 ha. Sehingga dengan adanya pabrik tepung harapannya bisa menambah pendapatan petani. Sebab selama ini bagi warga yang tidak bisa mengakses ke Margomulyo, hasil penjualan ubi kayu sangat murah. Masyarakat Tambakrejo pernah mendapatkan bantuan alat pembuat
26
modified cassava flour (mokaf), harapannya agar singkong bisa dibuat tepung pengganti gandum. Namun sayangnya tidak ada contoh tepung yang sudah jadi, sehingga tidak banyak produk olahan dari singkong menjadi tepung tersebut.
Di Tambakrejo terdapat lahan kedelai wilis sangat luas. Seperti halnya jagung dan ubi kayu, kedelai juga banyak dijual mentahan dan tidak sampai dibuat produk olahan tempe atau tahu. Menurut warga, adanya bantuan dan pelatihan kepada masyarakat untuk mengolah kedelai sangat penting. Sehingga harapannya tidak hanya dibuat menjadi tahu atau tempe, tetapi juga bisa dibuat kecap. Sebagian warga tertarik untuk mengembangkan kedelai hitam “malika” yang dibudidayakan UGM sebagai bahan kecap.
Untuk potensi pisang, aktivitas ekonominya telah mempunyai ruang khusus di Pasar Kacangan. Transaksi pisang di pasar tersebut cukup tinggi, yang sebagian besar merupakan produk lokal dari Tambakrejo dan sekitarnya. Macam-macam pisang yang dijual di Pasar Kacangan antara lain pisang raja (Rp 100 ribu per 10 sisir), pisang sobo pipit (Rp 8 ribu per sisir), pisang kepok abang (Rp 8 ribu per sisir), dan adapula nama lokal yang bisa menjadi trademark, yaitu pisang subliro
(susu blirik bojonegoro). Warga menyetor pisang setiap hari, tetapi setiap hari pasaran legi pasar pisang lebih ramai dari biasanya. Pisang
yang dibawa warga ada yang dijual sendiri dan ada pula yang dibeli oleh pengepul. Pada setiap pasaran legi, umumnya pengepul dapat
mengumpulkan 3 truk pisang untuk kemudian disetor ke luar daerah (misal Surabaya). Dan setiap 1 truk pisang, pengepul mendapatkan hasil sebesar Rp 30 juta.
27
Desa Napis dengan luas 2,5 ha. Namun adanya waduk dan embung belum cukup untuk melebihi target produksi padi, sehingga perlu ada sistem pengairan yang lebih teknis dengan adanya irigasi yang baik. Seperti pada umumnya di wilayah Bojonegoro, sawah di Tambakrejo merupakan sawah tadah hujan yang mengalami satu kali masa panen. Dengan sarana dan prasarana perairan yang lebih memadai, diharapkan kedepan bisa dua kali panen. Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mempunyai program 1000 embung sampai tahun 2014. Namun ada sedikit kendala dalam pembuatan embung. Tanah perhutani sulit dilobi untuk pembuatan embung. Kendala lainnya, banyak embung yang sudah dibuat, tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena salah penempatan atau kurang strategis.
2. Kondisi Peternakan
Selain bertani, masyarakat Tambakrejo pada umumnya juga beternak. Potensi ternak yang terdapat kecamatan tersebut antara lain sapi potong, kerbau, ayam buras, kambing, dan domba (lihat Tabel 1). Hanya saja, para peternak masih mengelola ternaknya secara tradisional. Menurut informasi dari petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Peternakan Kecamatan Tambakrejo, banyak kendala yang dijumpai di lapangan antara lain:
1. Masalah Sumber Daya Manusia (SDM) 2. Ketrampilan (skill) beternak masih tradisional
3. Lembaga/kelompok masih pasif 4. Manajemen pengelolaan ternak 5. Permodalan.
28
“Lembu Seto” bekerja sama dengan Bank Indonesia Cabang Surabaya, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Adapun bantuan yang telah diberikan kepada kelompok ternak “Lembu Seto” antara lain:
• Sewa kantor sekretariat “Lembu Seto” di Desa Napis • Mobil pick up Panther 1 unit
• Biogas (dari Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur)
• Bantuan ternak sapi betina 39 ekor, jantan 1 ekor dari Dinas Propinsi Jawa Timur
• Rumput gadjah sebanyak 33 ribu stek
• Vaksinasi AI dan SE pada ayam dan ternak sapi (Dinas Peternakan dan Perikanan
Kabupaten Bojonegoro)
• Pembuatan kandang, bantuan dari Bank Indonesia • Bantuan 3 ekor sapi jantan dari Bank Indonesia
• Peralatan kantor dan pembentukan KSU dari Bank Indonesia • Diesel 7 pk dari Bank Indonesia
• Bantuan Strow Brahman 250 dosis dari Dinas Peternakan • Bantuan sarana jalan produksi 3 km dari Dirjen Peternakan pusat • Pembentukan kelompok ternak: peternak kecil, sedang
(kambing/domba), dan peternak besar (sapi)
• Bantuan pinjaman lunak/kredit sapi, kambing, domba dengan masa waktu pengembalian dua tahun tanpa bunga (0%). • Bantuan hibah lewat musrenbang desa: ternak kambing PE dan
domba Merino
• Bantuan CSR Pertamina EP Cepu di Desa Kalisumber
• Kegiatan penyelamatan sapi betina produktif di Desa Tanjung (kelompok ternak sapi “Sekar Tanjung”) dan Desa Pengkol (Kelompok ternak “Nusa Bakti”)
29
Selain itu, di Kecamatan Tambakrejo sudah dikembangkan kegiatan inseminasi buatan untuk sapi dan kambing. Jumlah petugas inseminasi buatan di Tambakrejo ada 3 orang dengan pembagian wilayah kerja sebagai berikut:
• Tambakrejo Timur meliputi Desa Dolokgede, Desa Sendangrejo, Desa Turi, Desa Mulyorejo, dan Desa Kacangan (Petugas IB: Rusharjito)
• Tambakrejo Tengah meliputi Desa Kalisumber, Desa Malingmati, Desa Tambakrejo, Desa Bakalan, Desa Gamongan, dan Desa Jawik (Petugas IB: Teguh Budiarto) • Tambakrejo Barat meliputi Desa Gading, Desa Pengkol, Desa
Tanjung, Desa Sukorejo, Desa Ngrancang, Desa Napis, dan Desa Jatimulyo (Petugas IB: Ahmad)
30
A D A M I G A S D I L A D A N G P E T A N I B O J O N E G O R O
TABEL 3. DATA POPULASI TERNAK BESAR DAN KECIL BULAN SEPTEMBER 2013 KECAMATAN TAMBAKREJO
NO DESA/KELURAHAN
SAPI POTONG KERBAU AYAM KAMBING DOMBA JANTAN BETINA JANTAN BETINA RAS BURAS JANTAN BETINA JANTAN BETINA
1 JATIMULYO 345 517 - - - 1575 172 385 205 296
2 NAPIS 1610 1650 - - - 2150 245 425 189 310
3 NGRANCANG 472 535 - - - 2450 171 215 132 256
4 TURI 525 542 - - - 1725 145 185 159 225
5 MULYOREJO 315 512 - - - 2185 234 281 210 301
6 KACANGAN 147 262 - - - 2250 167 325 259 375
7 SENDANGREJO 281 274 - - - 1850 186 212 145 256
8 DOLOKGEDE 205 245 - - - 2175 142 185 157 289
9 MALINGMATI 478 729 6 21 - 3180 392 625 587 675
10 TAMBAKREJO 415 485 2 4 - 2645 247 347 181 296
11 BAKALAN 325 519 - - - 2147 234 284 274 385
12 JAWIK 190 227 - - - 2254 182 177 176 312
13 SUKOREJO 305 405 - - - 3156 225 413 241 310
14 GADING 125 215 - - - 1560 124 235 215 271
15 PENGKOL 156 289 - - - 2150 148 284 182 254
16 TANJUNG 138 212 - - - 2341 197 352 127 316
17 GAMONGAN 437 425 - - - 2750 115 245 215 325
18 KALISUMBER 464 395 - - - 2595 174 325 239 385
JUMLAH 6933 8438 8 25 0 41138 3500 5500 3893 5837
31
Hasil sensus pertanian pada 2011 menunjukkan populasi sapi kurang lebih 18000 ekor.3 Ketika harga sapi melonjak, para peternak
beramai-ramai menjual sehingga jumlah sapi menurun. Saat ini populasi sapi masih berkisar 15000an.
Karakter masyarakat Tambakrejo agak unik karena termasuk masyarakat yang tinggal di kawasan hutan dan pola pikirnya masih tradisional. Menggeser pola pikir masyarakat peternak dari tradisonal menuju pola pikir yang mampu selaras dengan permintaan pasar adalah upaya kelompok ternak yang sudah mapan. Adapun beberapa aspek pola pikir masyarakat yang berusaha diperbaiki adalah : Pertama, SDM karena keterbatasan tingkat pendidikan.
Kedua, kelembagaan. Kadang-kadang dalam pola pikir masyarakat
bahwa bantuan itu untuk kelompok dan tidak ada manfaat untuk pribadi. Ketiga, aksesibilitas permodalan. Keempat, manajemen
pengelolaan ternak.
Kelompok “Lembu Seto” saat ini ditugasi mendampingi kluster
13 Berdasarkan dokumen laporan yang di-sampaikan oleh Achmad Moe-chid, Petugas Teknis Pelaksana Peternakan dan Perikanan Kecamatan Tambakrejo, 5 Oktober 2013.
32
sapi potong di Desa Napis. Bisa dikatakan bantuan sapi untuk kelompok tersebut cukup lancar. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur memberi bantuann sekitar 40 ekor dengan 39 betina dan 1 pejantan. Sedangkan dari Bank Indonesia, kelompok ternak mendapatkan bantuan tiga pejantan dan sebuah mobil pick up
untuk kendaraan operasional.
Dengan bantuan dan dampingan tersebut menjadikan kelompok Lembu Seto cukup kuat kelembagaannya. Sekretariat dan keperluan administrasi sudah mencukupi serta ditunjang kemampuan SDM untuk mengeoperasionalkan teknologi informasi. Koperasi serba usaha kelompok juga telah berjalan dengan baik dan mampu memberikan manfaat pada anggota-nya.
Potensi peternakan juga terdapat di Desa Kalisumber yang terletak di Kecamatan Tambakrejo sebelah utara dan berbatasan dengan Kecamatan Purwosari. Pada awalnya peternakan di Desa Kalisumber berjalan secara tradisonal, artinya telah dimiliki dan dikelola pribadi oleh warga di rumahnya masing-masing. Namun
33
dengan letak wilayah desa yang berada di titik utama aktivitas pengeboran gas Tiung Biru menjadikan kondisi sosial yang cukup dinamis yang lantas Pertamina memberikan respon berupa bantuan kambing dan domba pada warga namun dikelola secara kelompok. Atas rekomendasi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, Pertamina EP Cepu menunjuk Lembaga Pemantau Kegiatan Publik (LPKP) untuk melakukan pendampingan pengembangan ternak di Desa Kalisumber. Setelah itu dilanjutkan pembentukan tiga kelompok ternak (masing-masing kelompok terdiri dari 30 orang) yang dilakukan Pemerintah Desa Kalisumber beserta kelompok masyarakat. Adapun bantuan yang diberikan oleh Pertamina EP Cepu kepada tiga kelompok tersebut yaitu:
• Kelompok Ternak “Maju Jaya” mendapat bantuan 30 ekor kambing betina dan 3 ekor pejantan Ettawa
• Kelompok Ternak “Sumber Barokah” mendapat bantuan 20 ekor kambing betina, 10 ekor domba betina, 2 ekor pejantan Ettawa, dan 1 ekor pejantan Domba Garut
• Kelompok Ternak “Barokah Jaya” mendapat bantuan 30 ekor kambing betin dan 3 ekor pejantan Ettawa.
Dengan waktu pendampingan yang belum cukup lama, menjadikan sebagian peternak masih memiliki pola pikir lama dalam mengelola ternaknya. Jika ada kebutuhan mendesak atau tengah berada di musim hajatan maka ternak menjadi sumber uang melalui penjualan ternak tanpa memperhatikan umur dan tingkat produktivitasnya.
Terlepas dari persoalan pola pikir peternak yang masih menggunakan pola lama, sisi positif juga tidak bisa dimungkiri telah muncul dari aktivitas pendampingan di Desa Kalisumber. Para peternak saat ini sudah mulai menggunakan kandang panggung, tidak lagi menggunakan kandang lemprak demi menjaga kesehatan
34
Kelompok ternak perlu pengetahuan dan teknis beternak yang maju. Artinya, perlu ada teknik perawatan khusus mulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan, bahkan untuk pembuatan serta perawatan kandang. Kelompok ternak “Ustan Mandiri” yang dirintis di desa Dolokgede mencoba menerapkan sekaligus mengembangkan teknik beternak yang lebih efektif. Berbekal pengalaman ketika studi banding di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, anggota kelompok ternak “Ustan Mandiri” mendapatkan ilmu baru dalam memelihara ternak. Hingga sekarang kelompok ini sudah mengembangkan hewan ternak seperti kambing, domba merino, sapi, ayam kampung, bebek, dan lele.
Populasi ternak kambing di kelompok “Ustan Mandiri” ada sekitar 40 ekor dengan lama pemeliharaan rata-rata 4 bulan. Menurut ketua kelompok ternak “Ustan Mandiri”, M. Ali, harga jual kambing cukup potensial. Harga jual kambing pejantan Rp 1,5 juta, harga beli Rp 1 juta, dan ketika Idul Adha harga jualnya naik menjadi Rp 1,8 juta. Sedangkan, harga jual kambing betina bisa mencapai selisih Rp 300 ribu dari harga beli yaitu kurang lebih Rp 1,2 juta untuk satu induk bunting. Harga beli anakan kambing (cempe) jantan berkisar antara
Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu untuk setiap cempe betina berusia 3
35
bulan. Sementara untuk cempe jantan berusia 3 bulan harga belinya
Rp 600 ribu. Hasil ternak kambing dijual di Pasar Ngambon setiap hari pasaran legi. Peternak lebih suka menjual ternak ke pasar daripada didatangi pembeli karena selisih harganya mencapai Rp 50 ribu-Rp 100 ribu per ekor. Hanya saja, untuk penjualannya masih menggunakan sistem taksiran bukan dihitung per kilogram berat badan kambing.
Peternak juga mengembangkan teknologi pakan berupa fermentasi. Bahan yang digunakan antara lain kacang giling, dedak, katul, ampas tahu, tetes tebu, dan garam beryodium. Target ADG 1 kg/mg dan kebutuhan pakan 1,5 kg/hari/ekor. Untuk pakan tersebut peternak mengeluarkan biaya Rp 1100/kg. Hanya saja, untuk membuat pakan tersebut peternak masih memiliki kendala sebab alat chooper kurang bagus sehingga gilingan yang dihasilkan
tidak bisa halus. Selain mengembangkan pakan, peternak juga memanfaatkan kotoran kambing. Kotoran kering dibuat menjadi pupuk kering, biasanya untuk kebutuhan sendiri. Biasanya 6 ekor kambing menghasilkan 2 karung kotoran, dengan kapasitas 25 kg per karung, dijual dengan harga Rp 50 ribu.
Di Tambakrejo, peternak juga mengembangkan ayam buras dan bebek. Saat ini ada pilot projek pengembangan ternak ayam buras
36
dan bebek oleh Kelompok Peternak ayam Kacangan (KPK). Ada 25 orang yang tergabung dalam kelompok ternak tersebut dengan rata-rata skala produksi 100 ekor dengan waktu pemeliharaan sekitar 3 bulan. Peternak ayam di Desa Kacangan umumnya membeli DOC dari Mojokerto dengan harga beli Rp 4000 per ekor. Sedangkan untuk harga jual menurut kesepakatan kelompok adalah Rp 30.000 per ekor. Peternak umumnya menjual kepada pedagang yang datang kepada mereka, sebab kalau dijual di pasar hanya Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per ekor. Dalam perawatannya, vaksin diberikan 1 kali dalam 1 minggu sesudah DOC masuk kandang. Vaksin seharga Rp 50 ribu diberikan untuk 50 ekor ternak. Adapun pakan terdiri dari campuran B komplex, Vitachick, dan konsentrat. Setiap 100 ekor ayam memerlukan 2 sak (karung) dengan berat per sak 50 kg dan
harga Rp 400 ribu. Sementara untuk pakan katul seharga Rp 1500 kg dan jagung Rp 3200/kg. Untuk pakan campuran, komposisinya terdiri atas 5 kg katul, 3 kg konsentrat, dan 2 kg jagung, diberikan 2 kali dalam sehari. Peternak ayam Desa Kacangan mengakui bahwa mereka masih menerapkan manajemen pemeliharaan yang sederhana. Dari DOC sampai ayam siap jual ditempatkan di kandang
37
yang sama. Dalam penyediaan pakan pun cenderung masih membeli dari pasar. Hanya saja kendalanya bahwa harga pakan sangat fluktuatif. Selain itu, ayam banyak yang mati karena terserang wabah penyakit (plenthis).
Di Pasar Taji dekat Desa Kacangan, peternak melakukan transaksi jual beli ayam. Setiap hari pasaran pahing, ternak yang disetor di
Pasar Taji dikirim ke luar daerah. Ternak yang dikirim mencapai 3 unit truk dan banyak juga yang menggunakan mobil pick up. Selain yang dikirim ke luar daerah, Pasar Taji juga mendapat kiriman ayam dari luar kota seperti Jombang, Kertosono, dan Kediri.
3. Kondisi Sosial
Bekerjanya program pembangunan dan aktivitas ekonomi masyarakat di desa tidak lepas dari pengaruh kondisi sosial. Sebagai daerah yang berada di kawasan ring 1 sumur migas, kondisi sosial Kecamatan Tambakrejo berjalan cukup dinamis. Di kawasan migas Tiung Biru, Desa Kalisumber merupakan titik utama munculnya dinamika sosial. Hadirnya Pertamina di desa tersebut menjadi aktor tersendiri yang mampu bermitra, namun pada awalnya dipantik melalui kontestasi kepentingan dengan warga. Sebagai operator gas, Pertamina diposisikan warga sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap kondisi lingkungan yang diakibatkan dari aktivitas pengeboran. Kebisingan, debu yang berterbangan hingga mempengaruhi kondisi kesehatan warga adalah akibat-akibat yang dijadikan warga sebagai sumber pemantik untuk meluncurkan tuntutan.
Pada mulanya, warga menuntut Pertamina untuk membayar ganti rugi melalui mekanisme pemberian cash money. Uang tersebut
38
Pertamina sendiri. Dari hasil musayawarah itulah yang akhirnya disepakati kompensasi yang diberikan Pertamina lebih bernilai produktif bukan konsumtif, yaitu melalui bantuan kambing dan domba pada warga Desa Kalisumber. Selain bantuan yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi produktif warga, Pertamina juga merespon sebatas karitatif. Misalnya dengan memperbaiki pagar pemakaman desa. Bantuan tersebut juga merupakan respon dari gejolak sosial yang terjadi sebelumnya, yaitu ketika ada aksi pemblokiran jalan oleh warga Kalisumber.
Lepas dari titik utama pengeboran gas, gejolak sosial masyarakat desa lebih redup. Tepatnya di Desa Tambakrejo dan Malingmati tuntutan dan aksi warga tidak terlihat intensif. Meskipun keinginan dilibatkan dalam proyek migas tetap tidak bisa diben-dung. Manfaat dalam bentuk lain juga tetap diharapkan, yaitu berupa program
Corporate Social Responsibility (CSR) atau community development
dari perusahaan operator gas. Ketika di Desa Kalisumber ada program bantuan kambing dan domba untuk warga, sedangkan di Desa Malingmati dan Tambakrejo pelibatan masyarakat diwujudkan dalam pengelolaan air dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat. Lebih jauh lagi dari sumur gas Tiung Biru, tepatnya Desa-desa di Tambakrejo sepanjang jalan poros Ngambon – Purwosari, gejolak sosial akibat industri migas semakin redup. Desa-desa di wilayah tersebut justru lebih dekat dengan proyek migas di sumur Banyuurip dan Jambaran yang masuk kawasan Blok Cepu. Namun karena secara administratif berada di satu kecamatan dengan kawasan Tiung Biru maka dalam pembaguan ring migas masuk kawasan tersebut.
dige-39
rakkan oleh SDM lokal desa-desa di kawasan tersebut. Namun derajat kepentingan dalam membangun desa di kawasan tersebut belum optimal karena konsentrasi lembaga tengah terpecah. Lembaga Swadaya Masyarakat tersebut juga menjadi lembaga mitra
Mobile Cepu Limited (MCL) dalam menjalankan program CSR namun
40
K
ecamatan Purwosari berada di sebelah utara Kecamatan Tambakrejo. Dari segi letak wilayah dan jaringan ekonomi, sejatinya Kecamatan Purwosari lebih menjanjikan karena sebagian wilayahnya terletak di jalan Poros utama Cepu – Surabaya dan sebagian wilayah yang lain berada tidak terlalu jauh dari jalan poros utama dibanding Kecamatan Tambakrejo. Kecamatan Purwosari memiliki 12 Desa yang sebagian desa di bawah administrasinya berada di sekitar sumur migas. Terdapat sumber minyak di tiga sumur minyak serta potensi gas yang dikelola oleh Pertamina EP Cepu.1. Kondisi Pertanian
Kondisi pertanian di Purwosari diuntungkan dengan lokasi wilayah yang dekat sungai, menjadikan pertanian di Purwosari lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Tanaman padi bisa panen sampai dua kali karena ada jalur irigasi dari waduk. Tapi untuk tahun ini waduk yang ada tidak berfungsi. Di Desa Pelem misalnya, kekeringan menjadi persoalan dalam bertanam padi. Hal ini dikarenakan waduk yang ada belum memberikan manfaat signifikan pada pemenuhan kebutuhan irigasi. Berbeda dengan sawah yang berada di sekitar aliran sungai, kecenderungannya sawah-sawah tersebut memperoleh pengairan yang lebih baik. Menurut keterangan UPT Pertanian dan Peternakan Kecamatan Purwosari, untuk tanaman jagung tidak berhasil panen pada tahun 2013 ini, sehingga petani mengalami kerugian. Hal ini disebabkan banyaknya pengeluaran petani selama penanaman jagung. Harga beli benih mencapai Rp 70
41
ribu per kilo, sedangkan untuk pengelolaannya tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Begitu pula tanaman kedelai, petani juga mengalami gagal panen. Kondisi kering dan terbatasnya air tersebut menyebabkan warga juga tidak berani menanam padi.
Pertanian di Kecamatan Purwosari merupakan pertanian sawah tadah hujan, sehingga perairan untuk kebutuhan irigasi banyak mengandalkan dari tampungan air hujan, terutama saat musim penghujan. Menurut warga setempat, sebagian besar lahan yang dimanfaatkan warga untuk pertanian adalah lahan Perhutani. Beberapa desa di Kecamatan Purwosari memang dialiri oleh anakan sungai dengan membuat chek dam, namun pada musim kemarau
kondisinya mengalami kekeringan. Dengan demikian masyarakat tidak dapat mengandalkan sepenuhnya pada pengairan air sungai maupun sumur. Terutama saat musim kemarau tiba, kebutuhan irigasi sangat sulit dipenuhi, termasuk kebutuhan sehari - hari masyarakat. Pada musim kemarau tiba, warga beralih pada cocok tanam jagung hibrida, kacang hijau, dan kedelai. Hal ini disebabkan karena ketersediaan air yang sangat terbatas. Bahkan dari warga menyebutkan bahwa petani di sana hanya dapat satu kali panen jika musim kemarau. Berdasarkan keterangan salah satu tokoh Desa
42
Kuniran, disebutkan bahwa di desa tersebut ada potensi pertanian yang akan dikembangkan, yakni tanaman tembakau. Dimana warga diminta untuk mengerjakan tembakau yang nantinya akan disetor kepada PT. Sampoerna. Sistem pertanian dengan model plasma memang menguntungkan dari segi operasional, akan tetapi dalam hal pemasaran, para petani tidak bisa menentukan harga pasar.
Untuk pengairan, meskipun ada program pemerintah untuk pembuatan embung, bagi mereka tidak terlalu bisa menjadi solusi. Hal ini dikarenakan syarat yang ditetapkan dari pemerintah sangat sulit diterapkan karena membutuhkan arena yang luas, 70 x 80 m dengan kedalaman 3 m, padahal kepemilihan lahan petani sangatlah terbatas. Beberapa warga bahkan mengharapkan solusinya agar dibuatkan check dam. Sehingga air yang dialirkan dari sungai bisa
ditampung di tandon-tandon untuk kemudian dialirkan ke sawah. Selain check dam, para petani juga membuat sumur tampungan air
untuk menyimpan ketersediaan air pada saat musim penghujan, sehingga saat musim kemarau tiba, sawah masih mempunyai cadangan air hujan yang berada di sekitaran sumur – sumur tersebut. Salah satu rekomendasi yang disampaikan oleh warga disini adalah pengadaan sumur sawah (doker) dengan kedalaman 6 m, tiap 10 m, untuk pengendalian ketersediaan air bagi tanaman, semacam tabungan air di sawah.
43
Di Kecamatan Purwosari sudah terbentuk kelembagaan pertanian berupa kelompok tani, akan tetapi keberadaannya kurang aktif karena masih sebatas koordinasi penyediaan pupuk. Sehingga secara kelembagaan dinilai masih belum bagus, peran kelompok masih sebatas memfasilitasi pupuk. Pengadaan pupuk kompos yang diolah kelompok tani sudah ada, tapi belum maksimal. Kendala lain yang dihadapi oleh petani dalam sektor pertanian ini adalah adanya hama yang masih sering mengganggu.
2. Kondisi Peternakan
Sebagaimana kultur masyarakat pedesaan, beternak adalah bagian dari hidup dan kekayaan yang dimiliki warga. Di Kecamatan Purwosari terdapat aktivitas peternakan, yang sebagian besar dimiliki dan dikelola warga secara individu. Kelembagaan berupa kelompok ternak yang diharapkan mampu menjadi ruang bagi peternak untuk belajar bersama dan saling menjalin hubungan mutual belum ada di Purwosari. Artinya, warga masih menerapkan cara tradisional untuk memelihara ternak, sekedar ternak rumahan. Meskipun ada pula kelompok Plasma, tetapi tidak terlalu berkembang. Menurut
44
penuturan warga, kalau dibandingkan Kecamatan Purwosari dulunya Kecamatan Tambakrejo tertinggal. Tapi untuk saat ini, perkembangan kelompok pertanian dan peternakan mungkin jauh lebih baik di Kecamatan Tambakrejo dibandingkan Kecamatan Purwosari. Sebenarnya ada banyak kelompok ternak maupun tani di Purwosari, tetapi tidak berkembang baik seperti di Kecamatan Tambakrejo. Hal ini kemudian menyebabkan bantuan-bantuan yang masuk juga banyak ke Kecamatan Tambakrejo karena memiliki kelompok-kelompok petani dan peternak.
Di Desa Kuniran terdapat potensi ayam buras sebanyak 7.000 ekor yang dikembangkan dengan sistem plasma. Artinya, ada yang bertindak sebagai pemilik modal (bekerjasama dengan perorangan) yang akan membeli hasil panen hasil dengan harga yang tergantung dari kesepakatan. Sementara di Desa Ngrejeng terdapat potensi ternak bebek sekitar 2.000 ekor. Di Purwosari saat ini juga dikembangkan teknik penggemukan ayam kampung. Para peternak belajar dari peternak di Desa Kacangan.
Potensi peternakan yang ada di Desa Kuniran adalah sapi, kambing, dan ayam potong. Ternak sapi dan kambing pada umumnya masih dilakukan secara perorangan. Bahkan beberapa
45
warga hanya memelihara sapi dan kambing milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Ternak ayam sudah dikembangkan di 2 lokasi milik perorangan yakni milik Pak Habib dan Pak Suparmin, yang kemudian disetor ke pihak Inti sebagai mitra kerjanya. Selain itu di desa ini juga pernah terdapat proyek sapi yang dilakukan secara berkelompok dengan sistem bagi hasil, namun masih belum berhasil. Berdasarkan keterangan dari Pak Suharto, warga Desa Kuniran juga pernah ada yang melakukan budidaya lele menggunakan kolam terpal. Namun pada akhirnya karena masalah ketersediaan air yang kurang dan mahalnya pelet, budidaya ikan lele sudah tidak berjalan lagi. Padahal budidaya lele tersebut diyakini memiliki prospek yang tinggi dengan penanganan yang relative lebih mudah.
3. Usaha Kecil dan Menengah
Adanya usaha kecil dan menengah juga menunjang perekonomian masyarakat di Kecamatan Purwosari. Selain berjualan produk jadi di pasar, naluri bisnis masyarakat juga disalurkan melalui usaha kecil dan menengah. Misalnya di Desa Gapluk dan Kuniran, masyarakat banyak yang membuat ledre. Namun mereka tidak menjual/ memasarkan ledre sendiri, melainkan disetor ke pengepul untuk kemudian dijual melalui toko besar. Masyarakat di Desa Gapluk dan Kuniran membuat ledre tetapi pengemasan dan pemasarannya di Padangan.
46
Hingga saat ini, ada sekitar 70 rumah tangga yang memproduksi ledre di Desa Gapluk dan Kuniran. Usaha mereka masih masih terbilang usaha rumahan, bukan usaha kelompok. Melihat dari pengalaman selama ini, ketika mereka dibentuk kelompok kemudian diajari pengemasan, kemungkinan akan menjadi wadah berkreasi, berbisnis, sekaligus belajar untuk peningkatan pendapatan. Kendala para produsen ledre ini juga diikuti oleh permasalahan persaingan usaha. Misalnya dalam pemasaran langsung, produsen ledre yang mencoba memasarkan langsung produknya justru tidak laku. Alasannya, toko-toko tidak mau menerima produk selain yang berasal dari pengepul “X” yang menjadi langganan di Desa Padangan. Menurut warga, pengusaha-pengusaha yang sudah terbiasa mengirim itu menuntut (memblokir) agar setoran dari pembuat ledre yang tidak menggunakan kemasan mereka agar jangan diterima. Dari sini terlihat bahwa meskipun sebenarnya setiap orang di Bojonegoro berhak mengakses pasar ledre, namun ada dominasi elit (pengusaha) yang menguasai pasaran ledre.
Jika kita cermati, sebenarnya masalahnya bukan soal pesanan, karena ledre telah menjadi icon Bojonegoro. Masalahnya adalah kesenjangan pendapatan antara produsen dan pengusaha/pengepul. Dengan demikian persoalan adalah bagaimana membuat para produsen ledre di desa-desa itu mendapatkan pendapatan yang fair
dari hasil ledrenya. Dalam hal ini diperlukan alternatif strategi. Pertama,
bagaimana mengembangkan potensi lain selain pisang di daerah
itu. Kedua, kaitannya dengan membuka akses pasar, penting untuk
mencoba mendatangkan pembeli ke daerah itu, misalnya konsep yang sudah berhasil selama ini adalah dengan menjadikan wilayah berpotensi sebagai desa wisata. Dengan begitu keuntungannya, warga yang memproduksi ledre dapat memasarkan secara langsung.
Ketiga, adanya koperasi menjadi penting dalam hal peningkatan
kapasitas dan ketrampilan warga dalam berorganisasi, berkreasi, dan berbisnis secara lebih fair dan di sisi lain juga menguntungkan.
47
akan tetapi selama ini masih bekerjasama dengan Holcim sebagai penyedia bahan baku berupa katul, padahal sesungguhnya masyarakat sudah mampu untuk mempuat konsentrat sendiri jika ada bahan baku, serta ketersediaan modal yang cukup. Hal ini bisa menunjang kegiatan peternakan sapi dan kambing. Kemudian ada juga yang mempunyai usaha pabrik kerupuk, dan sudah cukup maju serta didanai oleh salah satu bank untuk mengembangkan usahanya. Pabrik tersebut mampu menampung beberapa pekerja sehingga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
4. Kondisi Sosial
Secara umum, kehidupan sosial di Kecamatan Purwosari cukup kondusif. Namun demikian, hadirnya aktivitas migas juga memberikan pengaruh tersendiri. Aktivitas sumur Tiung Biru di Desa Kalisumber yang masuk Kecamatan Tambakrejo yang berbatasan langsung dengan Desa Kuniran di wilayah Purwosari, membuat dampak sosial yang tercipta dari industri migas juga melebar dan masuk wilayah Kecamatan Purowosari. Aktivitas migas yang berupa gerak mobil tangki yang lalu lalang dirasakan semakin intensif di masyarakat mulai
48
dari Desa Purwosari (terkenal dengan sebutan Tobo), masuk Desa Gapluk hingga Kuniran. Demikian halnya dengan aktivitas lain, semisal proses pengeboran. Adanya potensi migas yang hadir di tengah kehidupan masyarakat dan dampak langsung yang tercipta di sisi lain, menjadikan harapan dan persoalan bercampur menjadi satu dan memunculkan tuntutan masyarakat. Dengan adanya dinamika yang muncul di tengah masyarakat, menjadikan operator gas di Tiung Biru tidak bisa berdiam diri. Respon yang diberikan selain bersifat karitatif atau bantuan langsung, juga dalam bentuk fisik, yaitu pembangunan infrastruktur jalan. Kini kondisi infrastruktur jalan cukup baik untuk dilalui. Sedikit banyak dampak pada arus ekonomi masyarakat dari Pasar Tobo sebagai sentra ekonomi tersambung lancar dengan wilayah lain yang berada di bagian selatan, sampai pusat Kecamatan Tambakrejo. Namun perbaikan fisik dirasakan masih parsial bagi masyarakat. Harapan ideal akan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan belum dijalankan. Tepatnya pembangunan masyarakat yang berbasis pada potensi yang telah terdapat di desa dan berada di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kondisi sosial suatu tempat tidak bisa dikesampingkan dari peran aktor yang beraktivitas di dalamnya. Dominasi peran aktor
49
50
D
alam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakatKabupaten Bojonegoro khususnya di Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari dalam era industri migas, perlu dilakukan analisis situasi terhadap kondisi saat ini dan kemungkinan perubahannya ke depan. Analisis mencakup dimensi internal dan dimensi eksternal. Analisis terhadap dimensi internal ditujukan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masyarakat di area industri migas, sedangkan analisis terhadap dimensi eksternal untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang berpotensi sebagai penyebab kegagalan tercapainya kesejahteraan masyarakat di sekitar area industri migas.
1. Analisis Internal Kekuatan:
Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari mempunyai banyak kekuatan yang menjadi modal dasar untuk pengembangan wilayah. Beberapa kekuatan itu adalah sebagai berikut :
1. Lahan pertanian dan hutan yang luas
Wilayah Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari secara umum mempunyai luas areal hutan dan pertanian yang relatif luas dengan kondisi lahan yang cukup subur. Hal ini menjadi modalitas utama untuk pengembangan budidaya berbagai jenis tanaman pangan dan produksi ternak.
51
2. Kemampuan produksi berbagai jenis tanaman pangan
Didukung kondisi lahan pertanian yang luas dan relatif subur, Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari mempunyai kemampuan budidaya dan produksi berbagai jenis tanaman pangan, se-perti padi, jagung, kedelai, ubi kayu dan berbagai jenis tanaman hortikultura seperti pisang dan mangga.
3. Sentra produksi pisang dan ledre
Bojonegoro dikenal sebagai sentra produksi berbagai jenis tanaman pisang seperti pisang raja, kepok dan jenis pisang khas Bojonegoro
Subliro. Potensi sebagai sentra produksi pisang dan didukung dengan
tradisi produksi Ledre memungkinkan pengembangan Industri Kecil dan Menengah (UKM) berbasis pisang dan produk hortikultura lain.
4. Kemampuan produksi ternak
Masyarakat Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari sudah mempunyai tradisi budidaya ternak khususnya sapi, kambing dan ayam. Hal ini akan membantu dalam hal pengembangan peternakan di dua wilayah ini.
5. Kelembagaan
Kelompok tani dan kelompok ternak sudah mulai terbentuk di wilayah Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari. Budaya berkoperasi juga sudah ada di masyarakat. Potensi ini bisa menjadi dasar pengembangan kelembagaan dalam rangka emberdayaan masyarakat.
Kelemahan:
52
hal kewirausahaan dan ketrampilan teknis budidaya tanaman pangan dan ternak.
2. Kelembagaan yang masih terbatas untuk pengembangan pertanian, peternakan dan kewirausahaan.
3. Keterbatasan sumber pendanaan dan akses pasar. 4. Keterbatasan sarana dan prasarana produksi pertanian.
5. Keterbatasan sumber daya air untuk produksi pertanian dan peternakan.
2. Analisis EksternalPeluang:
Sebagai daerah penghasil migas, Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari mempunyai berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, diantaranya:
1. Industri migas membuka akses pasar
Industri eksplorasi migas di Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari merupakan pasar potensial bagi produk hasil pertanian, peternakan dan hasil UKM lainnya. Dengan adanya industri migas maka kebutuhan akan terpenuhinya bahan pangan bagi pelaku dan pekerja industri migas akan semakin meningkat.
2. Industri migas memacu perkembangan kota
Seiring dengan kedatangan tenaga kerja dari berbagai penjuru dunia dan masuknya investor untuk memenuhi berbagai kebutuhan pendatang, maka daerah di sekitar industri migas akan bergerak menjadi kota modern. Hal ini merupakan peluang bagi masyarakat untuk terlibat sebagai produsen berbagai kebutuhan pangan, penginapan dan jasa yang dapat meningkatkan pendapatan.
53
Dengan asumsi bahwa industri migas akan meningkatkan jumlah uang yang beredar di daerah sekitarnya, maka ekonomi akan bergerak dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dan mendapatkan tambahan pendapatan.
Ancaman:
Terlepas dari berbagai peluang yang ada, kemunculan industri migas akan menimbulkan berbagai ancaman yang sekiranya tidak diantisipasi dapat menimbulkan gejolak sosial. Diantara dari berbagai ancaman itu adalah:
1. Produk hasil pertanian didatangkan dari daerah/negara lain 2. Produk lokal kalah bersaing dengan produk lain
3. Teradinya marjinalisasi masyarakat lokal
4. Sengketa masalah pertanahan, persaingan tidak sehat dan konflik social
54
Tabel 4. Matrik Analisa Situasi (SWOT Analysis) dan Strategi mengatasinya
Internal
Eksternal
Kekuatan:
Memiliki wilayah hutan yang luas
Kemampuan produksi tanaman pangan seperti jagung, padi, kedelai dan ubi kayu
Sentra produksi berbagai jenis pisang dan ledre
Potensi produksi ternak (sapi, kerbau, ayam buras, kambing, dan domba )
Kelompok tani dan peternak sudah terbentuk
Terdapat Koperasi Serba Usaha
Kelemahan:
SDM kurang memadai (rendahnya pengetahuan dan ketrampilan teknis)
Lemahnya kelembagaan pertanian dan kewirausahaan (kelompok tani belum optimal)
Kekurangan modal dan monopoli akses pasar oleh pengepul
Lemahnya inovasi dan diversifikasi produk olahan
Sarana dan prasarana pertanian terbatas
Lemahnya jiwa seni, kreatifitas dan kepemimpinan
Peluang:
Industri migas merupakan pasar potensial bagi produk
Peningkatan jumlah uang yang beredar di sekitar area industri migas
Industri migas akan menggerakan sektor ekonomi lain
Strategi
1)Peningkatan produksi dan kualitas produk unggulan Bojonegoro (padi, jagung, kedelai, pisang, daging ayam, daging kambing, telur). 2)Diversifikasi produk olahan
pangan dan non-pangan untuk pelaku usah kecil dan menengah.
Strategi
1) Peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan kepemimpinan, seni dan kreatifitas, kewirausahaan dan teknis budidaya tanaman dan ternak.
2) Optimalisasi peran organisasi kepemudaan, LSM, Kelompok Tani dan Ternak, Kelompok Kesenian, dan Kelompok Wanita untuk membangun kreativitas dan inovasi di masyarakat. 3) Pemberdayaan pelaku UKM
produsen Ledre melalui modal bergilir dan peningkatan akses pasar.
4) Pemberdayaan pelaku UKM Batik Bojonegoro
Ancaman:
Produk hasil pertanian didatangkan dari daerah/negara lain
Produk asal Bojonegoro kalah bersaing dengan produk impor
Masyarakat terpinggirkan
Konflik sosial
Strategi
1)Peningkatan dan adanya jaminan kualitas produk lokal asli Bojonegoro.
2)Pemasaran intensif dan branding produk Bojonegoro. 3)Pembekalan dalam bidang
kewirausahaan dan kepemimpinan
Strategi
1)Peningkatan inovasi dan industri kreatif. 2)Melatih dan memunculkan
55
BAB III
56
A. Luaran (
outcome
) dan
Strategi Pencapaian
B
erdasarkan analisis situasi (SWOT analysis), strategipemberdayaan masyarakat difokuskan pada: (1) peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat dalam rangka peningkatan kemandirian sosial dan ekonomi, dan (2) terbangunnya kepemimpinan yang kuat pada masyarakat lokal di area sekitar industri migas. Peningkatan kapasitas ekonomi, dan juga pertumbuhan kepemimpinan yang kuat, bersama-sama akan dilakukan melalui berbagai program kegiatan berbasis pada kondisi empiris yang eksis (existing condition) dan ada di masyarakat lokal.
Program ini akan menghasilkan luaran sebagai berikut:
1. Pada level mikro luaran yang diharapkan adalah:
• Terbentuknya kelompok-kelompok wirausaha untuk penguatan kapasitas personal dan pengorganisasian masyarakat,
• Masyarakat memiliki skill kepemimpinan dan
kewirau-sahaan sebagai modal pemanfaatan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan,
• Adanya peta unggulan (komoditas) lokal di masing-masing kecamatan,
• Meningkatnya nilai ekonomis produk lokal sehingga dapat meningkatkan sumber pendapatan masyarakat.
57
pelaku industi di daerah pengeboran migas,
• Terbentuknya kelembagaan di bidang pertanian, peterna-kan, wirausaha, lembaga sosial, dan kepemudaan
• Pendampingan kelompok masyarakat dalam pengem-bangan potensi desa oleh KKN PPM UGM
2. Pada level makro, luaran yang diharapkan adalah:
• Rancangan kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan. • Pemberdayaan masyarakat berbasis Research and
58
B. Program Kegiatan
P
elaksanaan program percepatan peningkatan kesejahteraan dan kesiapan masyarakat terhadap kehadiran industri migas di Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari ini mencakup beberapa program kegiatan sebagai berikut:1. Penerjunan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) UGM Berbasis Agro
59
Tujuan Kegiatan Bagi Desa dan Masyarakat :
a. Pemetaan lanjutan potensi desa di sekitar sumur migas Tiung Biru
b. Pendampingan kelompok masyarakat yang sudah terbentuk c. Optimalisasi potensi agro melalui melalui pendampingan
sekaligus transfer ilmu yang efektif
Tujuan Kegiatan Bagi Mahasiswa dan Pengembangan Pengetahuan :
a. Ruang aplikasi ilmu yang diperoleh di dalam kampus b. Pembelajaran pemberdayaan masyarakat
c. Mempersiapkan mahasiswa agar memilki kesiapan ketika terjun di dunia praktis sekaligus mengasah rasa keberpihakan pada masyarakat lokal.
d. Diseminasi pengetahuan dan lesson learned dalam
bentuk buku dari pengalaman mahasiswa selama proses pendampingan masyarakat.
Sedangkan dalam jangka panjang dan tidak dibatasi periode waktu tertentu, maka pendampingan dijalankan melalui kemitraan pihak UGM dengan pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro maupun melalui pelibatan organisasi masyarakat sipil lokal dalam mengelola potensi agro di dua kecamatan tersebut. Adapun potensi agro maupun potensi lokal lain di desa sekitar Sumur Tiung Biru di Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari yang dikembangkan melalui penerjunan mahasiswa KKN-PPM UGM maupun pendampingan intesif lainnya adalah sebagai berikut :
2. Pelatihan Pembibitan dan Penggemukan Kambing
60
lebih mudah pemeliharaannya dibandingkan dengan ternak sapi. Dengan semakin berkembangnya wilayah Kecamatan Tambakrejo dan Purwosari sebagai konsekuensi dari imbas industri migas, terbuka pasar yang sangat besar bagi masyarakat untuk mensuplai kebutuhan daging khususnya dari kambing potong. Dengan demikian, program pelatihan pembibitan dan penggemukan kambing akan sangat relevan dengan peluang yang ada. Selama ini, sistem pemeliharaan dan pengaturan perkawinan belum dilakukan secara baik, sehingga bibit yang dihasilkan cenderung mempunyai kualitas yang rendah. Dengan adanya program ini diharapkan dapat memenuhi permintaan bibit ternak dan di sisi lain meningkatkan kualitas ternak kambing yang dihasilkan.
Tujuan Kegiatan
Kegiatan pelatihan pembibitan dan penggemukan ternak kambing bertujuan untuk:
a. Meningkatkan populasi ternak kambing khususnya di Kabupaten Bojonegoro
b. Menyediakan bibit ternak berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar
c. Menyediakan lapangan pekerjaan bagi peternak melalui pola kemitraan
3. Pengembangan Agro-forestry Berbasis Pisang – Jati
61
sekaligus juga dapat digunakan sebagai bahan baku pengembangan industri kerajinan tangan. Kondisi tersebut secara langsung akan memunculkan peluang bagi berkembangnya sentra industri kecil dan menengah kerajinan tangan berbahan baku serat bonggol pisang.
Kegiatan demplot dan pengembangan kawasan agroforestry
jati-pisang diimplementasikan menggunakan pendekatan sekolah lapangan, dengan fokus pada program pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman untuk menggenjot produksi dan kualitas pisang yang dihasilkan oleh petani. Petani agroforestry yang
merupakan peserta kegiatan sekolah lapangan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan kepada lokasi kecamatan yaitu kelompok Purwosari dan Tambakrejo. Masing-masing kelompok didampingi oleh tim pendamping dari LPPM UGM secara intensif. Petani dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan sekolah lapangan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka terkait dengan teknis baku pengelolaan/budidaya pisang dan jati.
Tujuan Kegiatan:
a. Membangun dan menumbuhkan kesadaran petani mengenai peluang intensifikasi pemanfaatan lahan di antara tegakan jati untuk pengembangan komoditas pisang Menggunakan
pendekatan agroforestry,
b. Meningkatkan produktivitas pertanaman pisang di Kabupaten Bojonegoro,
c. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di
Kawasan Area Migas,
d. Memperbaiki kelembagaan petani dalam pengelolaan kawasan agroforestry,
e. Menjalin kerjasama antar pemangku kepentingan (stakeholder)
dalam pengembangan komoditas pisang di bawah tegakan jati dengan model agroforestry,
f. Menjamin ’supply-chain’ produk pisang beserta turunannya