Daur Sumberdaya Alam dan Persoalan Lingkungan Hidup

Teks penuh

(1)

Konsep dan Terminologi

PENGENDALIAN PENCEMARAN

Daur Sumberdaya Alam dan Persoalan

Lingkungan Hidup

z

Pada dasarnya, baik proses alami maupun

proses ciptaan manusia akan menghasilkan

daur-ulang

yang secara prinsip akan

memunculkan kembali sumberdaya yang

berbentuk sama dengan sumberdaya semula

yang digunakan maupun berbentuk baru;

z

Faktor penting yang mempengaruhi laju

(2)

Daur Sumberdaya Alam dan Persoalan Lingkungan Hidup

z

Walaupun pada prinsipnya alam mampu

memunculkan kembali sumberdaya yang ada,

terdapat persoalan bahwa:

terdaurulangnya sumber daya melalui proses

alami butuh waktu lama,

alur teknologi yang memunculkan sumberdaya

dari spent resources

tidak dapat segera

tersedia/diciptakan dan kalau ada harganya

sangat tinggi,

Daur Sumberdaya Alam dan Persoalan Lingkungan Hidup

di dalam dan selama proses daur ulang tsb.

terjadi perubahan pesat yang makin

menyimpang dari keseimbangan keadaan

semula sehingga perubahan ini makin

mengganggu kehidupan.

Persoalan tersebut berakibat terhadap

terjadinya peningkatan penimbunan

spent resources

dan menurunkan

(3)

Siklus Material dan Penggunaannya di Lingkungan Hidup

spent resources dari kegiatan penggunaan

material hasil reklasifikasi

dampak terhadap lingkungan

Inovasi Teknologi

Spent Resources dari kegiatan produksi

Lingkungan merupakan sumberdaya material :

¾

yang dapat diperbaharui seperti biomassa,

dan

¾

yang tidak dapat diperbaharui, seperti

(4)

Lingkungan ini juga merupakan tempat

penampungan berbagai hasil kegiatan yang

harus ditanggulangi oleh kemampuan diri

[

self replenishment

] atau dengan bantuan

teknologi manusia agar dapat melaksanakan

fungsi dalam daur sumberdaya alam dan

siklus pemanfaatan material

Persyaratan Norma/hukum Bagi Teknologi Berwawasan Lingkungan

z Upaya menjaga kualitas lingkungan ini bertumpu pada pengelolaan sumberdaya dengan pemenuhi persyaratan:

Laju penggunaan

Proses-proses menggunakan sumberdaya siap digunakan

Spent resourcesyang terakumulasi setiap saat

U

Laju pembentukan

spent resources

Laju recycling Laju regenerasi Laju reklasifikasi

r

1

r

2

r

3

S

(5)

Gangguan terhadap fungsi dan kualitas lingkungan berupa

Gangguan terhadap fungsi dan kualitas lingkungan berupa

munculnya persoalan

munculnya persoalan-

-persoalan akan terjadi bila alam

persoalan akan terjadi bila alam

ataupun proses buatan manusia tidak dapat mendaurulang

ataupun proses buatan manusia tidak dapat mendaurulang

spent resources

spent resources

yang memungkinkan terjadinya akumulasi

yang memungkinkan terjadinya akumulasi

spent resources

spent resources

dan penurunan kualitas lingkungan dan

dan penurunan kualitas lingkungan dan

daya dukung alam, yang diakibatkan oleh:

daya dukung alam, yang diakibatkan oleh:

ƒ

lambatnya proses terdaurulangnya

‘spent resources’

melalui proses alami

ƒ

tidak segeranya tersedia alur teknologi yang memunculkan

sumberdaya berguna dari bahan-bahan yang merupakan

‘spent resources’

ƒ

lebih tingginya laju pemanfaatan sumberdaya

dibandingkan dengan laju terdaurulangnya sumberdaya

tersebut.

Persoalan akumulasi

Persoalan akumulasi

spent resources

spent resources

dan penurunan kualitas lingkungan

dan penurunan kualitas lingkungan

dan daya dukung alam ini, telah

dan daya dukung alam ini, telah

mendorong perhatian dan tuntutan

mendorong perhatian dan tuntutan

masyarakat dunia akan pengelolaan

masyarakat dunia akan pengelolaan

lingkungan yang lebih baik.

(6)

¾

Diawali dengan adanya the United Nations

(UN) Conference on Human Environment

di Stockholm (1972) yang menjadikan

‘keterkaitan kegiatan ekonomi dan

lingkungan’ merupakan pokok bahasan

agenda politik dan ekonomi dunia.

¾

Langkah-langkah global untuk mengatasi

persoalan-persoalan lingkungan telah

diambil dan terwujud dalam suatu program

dunia the UN Environmental Program

(UNEP).

¾

Hasil konferensi didokumentasikan dalam

Our Common Future

” (1987) yang

memperkenalkan terminologi ‘

sustainable

(7)

¾

Hasil konferensi didukung lebih dari 50

pimpinan dunia dan melahirkan

konferensi “

the UN Conference on

Environment and Development

(

UNCED)” yang dikenal sebagai

Earth Summit

’ di Rio de Janeiro

(1992).

¾

Konferensi Pemukiman Manusia –

Human

Settlement Conference

di Stockholm, Swedia

(1972) mengungkapkan kemajuan teknologi yang

diterapkan di industri yang merusak dan

membatasi permukiman manusia.

¾

Pada tahun 1978, 6 tahun setelah konferensi itu

berakhir, masalah lingkungan di Indonesia secara

eksplisit ditangani oleh Kementerian Negara

(8)

¾

Undang-undang tentang pengelolaan

lingkungan diterbitkan pada tahun

1982, yaitu UU No. 4 Tahun 1982 yang

kemudian diperbaiki dengan UU No.

23 tahun 1997.

¾

Pada saat pembentukan Kementerian Negara

PPLH, masalah lingkungan adalah masalah yang

belum banyak dipahami oleh masyarakat

Indonesia, sedangkan masyarakat ilmiah dan

industri di negara-negara maju saat itu hanya

mengembangkan ‘

end-of-pipe treatment

technology

’ dalam menyelesaikan masalah

pencemaran lingkungan, karena pengelolaan

lingkungan saat itu masih dibebankan pada

(9)

(perilaku) industri dalam berkontribusi untuk

(perilaku) industri dalam berkontribusi untuk

bertanggung jawab terhadap dampak yang

bertanggung jawab terhadap dampak yang

ditimbulkan oleh industri terhadap kualitas

ditimbulkan oleh industri terhadap kualitas

lingkungan, Joseph Fiskel mengelompokkan industri

lingkungan, Joseph Fiskel mengelompokkan industri

menjadi lima kategori, yaitu kategori:

menjadi lima kategori, yaitu kategori:

1)

problem solving

kelompok industri, dengan jumlah berkisar 10

-15% dari total industri dunia, yang memandang

penyelesaian persoalan pencemaran lingkungan

sebagai bagian dari pemenuhan peraturan

hanyalah merupakan beban biaya bagi suatu

kegiatan

business

;

2)

managing for compliance

yaitu industri-industri (jumlahnya sekitar

70-80%) yang bereaksi terhadap

(10)

3)

managing for assurance

yaitu industri-industri yang melihat lebih jauh

pengelolaan risiko lingkungan sebagai potensi

yang seimbang antara pengelolaan lingkungan

dan biaya pengelolaan lingkungan (10 sampai

15%);

4)

managing for eco-efficiency

yaitu

industri yang telah mengetahui bahwa

pencegahan pencemaran lebih ‘

cost effective

‘ dari

pada pengendalian pencemaran di mana industri

dalam kelompok ini sangat jarang; dan

5)

fully integrated in adopting environmental

quality

yaitu industri yang menempatkan

pengelolaan lingkungan sebagai bagian

dari sistem proses produksi industri yang

bersangkutan tanpa mengurangi, bahkan

meningkatkan, ‘

economic benefit’

tanpa

(11)

Pengendalian Pencemaran

Pengendalian Pencemaran

¾

Kegiatan yang mengancam lingkungan fisik

dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan

[

environmenal pollution

] yang dapat

berubah ke pengotoran lingkungan

[

environmental contamination

]

¾

Pencemaran dapat didefinisikan sebagai

masuknya zat, energi, dan makhluk asing ke

dalam lingkungan sehingga kualitas

lingkungan itu menurun dan tidak sesuai

lagi dengan peruntukkannya.

Pengendalian Pencemaran

Pengendalian Pencemaran

¾

Pengendalian kegiatan yang mengancam lingkungan ini

terdiri atas kegiatan pengendalian pemanfaatan sumber

dan pencemaran berupa pengendalian pencemaran

lingkungan, penyusutan pencemaran [

pollution mitigation

]

atau penanggulangan pencemaran [

pollution abatement

].

¾

Pengendalian pencemaran adalah melindungi

(12)

¾

Konsep pengendalian pencemaran umumnya

ditujukan pada satu media saja, misal udara [

air

pollution control

], air [

water pollution control

],

atau tanah [

terrestrial pollution control

].

¾

Konsep yang hadir adalah pengendalian kualitas

limbah yang dikenal sebagai

control and

command

yang membutuhkan pedoman/acuan

untuk digunakan dalam penilaian [

evaluation

] dan

penaatan [

compliance

].

¾

Nilai numerik yang berupa konsentrasi

pencemar yang diizinkan hadir dibutuhkan

untuk penilaian keadaan lingkungan dan

watak limbah yang diizinkan untuk dibuang

ke lingkungan.

¾

Hal ini berarti bahwa kondisi lingkungan

(13)

Pedoman/acuan yang dibutuhkan untuk penilaian

Pedoman/acuan yang dibutuhkan untuk penilaian

[

[

evaluation

evaluation

] dan penaatan [

] dan penaatan [

compliance

compliance

] meliputi :

] meliputi :

¾

pedoman kualitas udara

berupa

Ambient Air Quality Standards

[Baku Mutu Udara Sekeliling ] dan

Emissions Quality Standard

[Baku Emisi

Udara] yang ditujukan untuk sumber baru

[sumber tak-bergerak misal ketel

pembangkit steam] dan sumber bergerak

[misal kendaraan bermotor],

Pedoman/acuan yang dibutuhkan untuk penilaian

Pedoman/acuan yang dibutuhkan untuk penilaian

[

[

evaluation

evaluation

] dan penaatan [

] dan penaatan [

compliance

compliance

] meliputi :

] meliputi :

¾

pedoman kualitas air

(14)

Peraturan pendukung Undang

Peraturan pendukung Undang

-

-

undang yang diterbitkan di

undang yang diterbitkan di

antaranya adalah :

antaranya adalah :

¾

Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun

2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air

dan Pengendalian Pencemaran Air

¾

Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun

1999 tentang Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan

Peraturan pendukung Undang

Peraturan pendukung Undang

-

-

undang yang diterbitkan di

undang yang diterbitkan di

antaranya adalah :

antaranya adalah :

¾

Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun

2001 tentang Pengelolaan Limbah

Bahan Berbahaya dan Beracun [B3]

¾

dan berbagai S.K. Menteri Negara

Lingkungan Hidup misal :

ƒ

Baku Mutu Emisi Sumber

Tak-bergerak

(15)

Pengendalian pencemaran dengan penerapan

Pengendalian pencemaran dengan penerapan

teknologi yang dikenal saat ini adalah

teknologi yang dikenal saat ini adalah

teknologi

teknologi

perlakuan akhir

perlakuan akhir

atau

atau

end

end

-

-

of

of

-

-

pipe treatment

pipe treatment

technology

technology

.

.

¾

Konsep ini merupakan konsep perintah dan

pengendalian [

command and control

] yang hanya

meninjau pembebanan pada salah satu media udara,

air, atau tanah dan menyelesaikan satu masalah yang

tertuju pada suatu kegiatan.

¾

Pemikiran yang parsial ini sering menimbulkan

masalah, karena penanganan hanya berdasarkan pada

pengelolaan yang paling mudah.

“Yesterday”s Need“ tidak hanya menghadirkan “Yesterday Solution” tetapi “Today’s Problems”. [Graedel dan Allenby, 1995]

¾ Penemuan internal combustion engine membutuhkan bahan bakar

bensin yang tidak menimbulkan knocking, dengan penambahan Tetra Ethyl Lead (TEL) pada bensin untuk meningkatkan angka oktan agar knocking tidak terjadi. Emisi gas buang hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung TEL menimbulkan uap timbal yang beracun

(16)

¾

Hal positif dari pengembangan konsep ‘

end-of’pipe treatment

technology

’ adalah memacu pertumbuhan konsultan teknik

dan pembuat peralatan yang berkaitan dengan unit

pengolahan baik limbah fasa gas atau limbah fasa cair.

¾

Hal yang menggembirakan ini jarang didukung oleh

kemampuan analisis yang memadai dari konsultan untuk

menyelesaikan masalah pada kegagalan operasi, karena

seringkali konsultan teknik ini hanya sebagai penjual

teknologi atau peralatan saja. Sebagai akibatnya, sasaran

pengelolaan lingkungan dengan pengendalian pencemaran

ini tidak dapat dicapai secara menyeluruh.

¾

Penyebab lainnya adalah kegagalan sistem

cost accounting

yang belum dapat menilai

biaya kerugian lingkungan sehingga

pengusaha, pemilik, dan pengelola industri

berpendapat bahwa biaya pembangunan

dan pelaksanaan suatu pengolah limbah

(17)

Konsep yang berkembang setelah

Konsep yang berkembang setelah

end

end

-

-

of

of

pipe treatment

pipe treatment

technology

technology

adalah

adalah

Environmental Impact Assessment

Environmental Impact Assessment

[EIA].

[EIA].

¾ Konsep ini dikenal sebagai Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan. Indonesia menerapkan konsep ini dan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah no. 27 tahun 1999.

¾ Penerapan EIA menghasilkan EIS –Environmental Impact Statementyang harus dipatuhi oleh pemrakarsa dan pengelola lingkungan untuk menerapkan hasil-hasil yang disepakati.

¾ Konsep EIA kemudian disusul dengan Waste Minimizationyang berakar pada konsep pengelolaan limbah B-3 (bahan berbahaya dan beracun).

¾ Waste minimizationmemiliki tahap-tahap pelaksanaan [hierarchy] yang dapat dilaksanakan tanpa berurutan di mana peluang yang lebih menguntungkan akan dipilih lebih dulu.

¾ Konsep ini banyak berkembang di Amerika Serikat. UNEP– United Nations Environment Program mengajukan konsep ‘Cleaner Production’ atau produksi bersih dan diterapkan oleh United Nations Industrial Development Organizations (UNIDO). ¾ Konsep Pollution Preventiondikembangkan oleh US – EPA

[Amerika Serikat] dalam dasawarsa yang sama akibat dari kegagalan pemantauan pelepasan bahan berbahaya dan beracun serta kehadiran Pollution Prevention Act– Undang-undang Pencegahan Pencemaran dan kemudian penerbitan

Right to Know Act.

(18)

Prevention & Reduction

(Source – reduction)

Recycling & Re-Use

(in-process recycle, on-site-recycle, off-site recycle)

Treatment

Disposal

secure disposal or direct release to the environment

Pollution Prevention Hierarchy

¾ Kemudian dunia usaha untuk perdagangan global memiliki gagasan untuk memperbaiki kualitas lingkungan global dan mengajukan konsep eco-efficiencyuntuk mencapai

Pembangunan Berkelanjutan.

¾ Konsep ini diajukan atas permintaan Perserikatan Bangsa Bangsa yang menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, 1992.

¾ Apa yang diinginkan oleh ahli lingkungan, pejabat pemerintah, dan masyarakat dalam masalah pengelolaan lingkungan ?

Î

Keinginan untuk memperoleh piranti pengujian

(19)

¾

Konsep

life-cycle assessment

merupakan piranti analitik

yang dapat digunakan untuk memahami dampak

tersebut mulai dari cara untuk memperoleh bahan baku

hingga pembuangan akhir bahan ke lingkungan [SETAC,

1993]

atau

LCA adalah teknik yang sistematik untuk melakukan

analisis suatu produk dari ayunan hingga kubur. Konsep

ini memiliki sasaran global yang meliputi (1) perbaikan

kesehatan manusia, (2) perbaikan kualitas ekologi, dan

(3) perlindungan sumber daya alam [Owens,1997].

¾

Penerapan sistem ini adalah sukarela yang berarti konsep

control and command

tidak dianut lagi oleh berbagai

negara dalam pengelolaan lingkungan.

¾

Seri ISO 14000 ini mencakup penerapan

Life-cycle

Assessment

– Penilaian Daur Hidup - suatu produk,

proses, atau kegiatan adalah

complex

dan membutuhkan

waktu.

¾

Berbagai teknik telah diajukan dan diterapkan oleh pelaku

penilaian daur hidup .

International Organization for Standarisation

International Organization for Standarisation

[ISO] menyusun

[ISO] menyusun

pembakuan Sistem Pengelolaan Lingkungan [

pembakuan Sistem Pengelolaan Lingkungan [

Standards for

Standards for

Environmental Management System

Environmental Management System

] yang dikenal dengan ISO

] yang dikenal dengan ISO

(20)

Indonesia dalam dasawarsa

Indonesia dalam dasawarsa

80 dan

80 dan

90 telah menerima

90 telah menerima

berbagai konsep yang berkaitan dengan pengelolaan

berbagai konsep yang berkaitan dengan pengelolaan

lingkungan, yaitu di antaranya :

lingkungan, yaitu di antaranya :

¾

cleaner production

¾

from cradle to grave

¾

waste minimization

¾

pollution prevention

¾

environmental management system

[EMS] – ISO

14000

Jika konsep

Jika konsep

-

-

konsep lain langsung berkaitan dengan

konsep lain langsung berkaitan dengan

perangkat keras, tetapi penerapan ISO 14000 dilakukan

perangkat keras, tetapi penerapan ISO 14000 dilakukan

tahap demi tahap dan tidak langsung dengan pengubahan

tahap demi tahap dan tidak langsung dengan pengubahan

dan penerapan perangkat keras.

dan penerapan perangkat keras.

Analisa

Analisa

Dampak Lingkungan

Dampak Lingkungan

¾ Kegiatan Analisis mengenai Dampak Lingkungan yang diterapkan di Indonesia dengan menggunakan PP yang lama yang tidak dapat mencapai sasaran, karena peraturan itu memberi peluang waktu antara rencana pengendalian

pencemaran dan pengelolaan lingkungan dengan pembangunan serta operasi sistem pengendalian pencemaran sehingga pabrik dapat beroperasi tanpa pengolahan limbah.

¾ Peluang ini sering digunakan untuk menghindari pembangunan sistem perlakuan limbah dengan alasan biaya pembangunan dan biaya operasi yang besar.

(21)

Waste

Waste

Minimization

Minimization

¾ Waste minimizationmemiliki sasaran penyusutan limbah pada sumber. Konsep ini adalah penerapan dari keinginan

menanggulangi pencemaran atas dasar pengurangan volum limbah dan kekuatan limbah.

¾ Hierarki tahapan pelaksanaannya dapat dilakukan tanpa saling berurutan. Peluang yang paling tinggi akan dipilih lebih dulu.

Tahap-tahap itu meliputi :

ƒ source reduction yang dapat dipilih dari :

9raw material substitution[ perubahan jenis bahan baku],

9process changes [perubahan proses]

9equipment modification [pengubahan peralatan ]

ƒ on-site or off site, recycle, reuse, recovery,

ƒ waste treatment, dan

ƒ waste disposal.

Cleaner Production

Cleaner Production

¾ Cleaner Productiondidefinisikan sebagai penerapan berkesinambungan strategi lingkungan yang terpadu bagi proses, produk, dan layanan.

¾ Istilah Cleaner Productiondialihbahasakan ke produksi bersih adalah strategi secara berkelanjutan yang memperbaiki produk, proses, dan layanan untuk mengurangi dampak lingkungan dan bekerja menuju pembangunan berkelanjutan secara ekologi dan ekonomik.

¾ Konsep ini meliputi pemanfaatan sumber alam secara efisien yang bermakna pula bagi penyusutan limbah yang dihasilkan serta pencemaran dan penyusutan risiko bagi kesehatan manusia dan keselamatan.

(22)

¾ Keistimewaan produksi bersih meliputi :

ƒ kekekalan bahan baku dan energi, penghapusan penggunaan bahan baku yang beracun, dan penyusutan bobot atau volum serta tingkat peracunan berbagai pembebasan limbah dari suatu proses

ƒ penyusutan pengaruh negatif produk selama daur kehidupan mulai dari pengambilan bahan baku hingga pembuangan produk yang usang atau rusak atau habis usia-guna, dan

ƒ strategi yang ditujukan pada penyertaan pertimbangan lingkungan dari awal perancangan hingga pelayanan.

¾ Produksi bersih membutuhkan perubahan sikap, pengelolaan lingkungan yang bertanggung-jawab dan penilaian pilihan teknologi.

¾ Salah satu upaya produksi bersih yang paling sederhana untuk diterapkan pada proses produksi adalah good housekeeping .

¾ Produksi bersih tidak selalu membutuhkan kegiatan yang mahal atau teknologi yang canggih. Seringkali penghematan potensial dapat menghasilkan peningkatan daya saing di pasar.

Pollution Prevention

Pollution Prevention

¾

Konsep ini menyatakan bahwa recycle harus dilakukan

langsung atau

in-pipe recycle

.

¾

Konsep ini dikembangkan karena konsep pengelolaan

limbah yang berdasarkan

end of pipe treatment technology

dan

waste minimization

yang telah diterapkan tidak dapat

memenuhi sasaran untuk menahan laju pemanfaatan

sumber alam yang terbatas serta perlindungan kualitas

lingkungan untuk mempertahankan kehidupan berbagai

mahluk.

(23)

¾ Konsep Pollution Prevention ini meliputi tahap-tahap :

ƒ source reduction,yang terdiri dari:

9material substitution,

9process changes, dan

9equipment modification,

ƒ on-site recycle,

ƒ waste treatment, dan

ƒ waste disposal.

¾ Perbedaan antara konsep waste minimizationdan pollution preventionterletak pada penetapan peluang utama.

¾ Pencegahan pencemaran menetapkan penyusutan pencemaran pada sumber sebagai awal kegiatan dan limbah harus tidak dibebaskan ke lingkungan.

Sustainable Development

Sustainable Development

¾

Perserikatan Bangsa-Bangsa lewat Komisi Brundlandt

[1987] mengajukan batasan

Sustainable Development

sebagai:

“...

sustainable development is meeting the needs of the

present without compromising the ability of the future

generation to meet their own needs

….”

Our common future,1987 The report to U.N. World Commission on Environment and Development

¾

Beberapa negara dengan optimis menyatakan bahwa

(24)

Pembakuan Sistem Pengelolaan Lingkungan

Pembakuan Sistem Pengelolaan Lingkungan

¾ International Organizations for Standardization mengajukan

Environmental Management Systemyang dicakup dalam ISO 14000.

¾ Perusahaan besar memang menghendaki sertifikat ini untuk mendapat pengakuan secara internasional dan keunggulan persaingan dalam perdagangan internasional, tetapi perusahaan kecil atau menengah seringkali tidak memperdulikan hal ini, karena biaya yang besar berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk memperoleh sertifikat ini.

¾ Standar ini merupakan model untuk penyamaan pengelolaan lingkungan dan pedoman untuk perancangan sistem

pengelolaan lingkungan.

¾ Konsep ini didasarkan pada keinginan manusia yang mengarah pada ‘zero discharge’ bagi kegiatan industri dan konsep untuk bahan berbahaya beracun – ‘from cradle to grave’[ dari ayunan hingga liang kubur].

¾ Konsep ini juga mengembangkan berbagai penelitian pada komponen-komponen dalam konsep di negara-negara yang telah maju ini misal penggantian pelarut [solvent substitution], penggantian bahan baku, pengubahan proses, pengubahan alat utama atau alat pendukung.

(25)

¾

Life-cycle Assessment

memiliki tahap - tahap

9

Definisi Tujuan dan Lingkup Kajian,

9

Analisis Inventarisasi,

9

Penilaian Dampak, dan

9

Analisis Perbaikan atau Interpretasi.

¾

Sistem Pengelolaan Lingkungan dengan cara

Life-cycle

Assessment

belum diterapkan di Indonesia.

¾

Penerapan sistem ini membutuhkan sumber daya manusia

yang memadai dan perangkat keras yang canggih untuk

mendukung sistem informasi global.

¾

Informasi yang akan dipaparkan berkaitan dengan

teknologi perlakuan pipa-pipa yang masih menjadi

tuntutan dalam pengendalian pencemaran.

(26)

Pollution Prevention for Chemical Process

Original Process

REAKTOR

Umpan Produk +

Limbah Upaya yang dilakukan :

In-Process Recycle

(27)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...