• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asal muasal budaya kerapan sapi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asal muasal budaya kerapan sapi"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

ASAL MUASAL BUDAYA

KERAPAN SAPI

(2)

A. ASAL MULA KERAPAN SAPI

Kerapan sapi pertama kali diadakan di polau podey (spudi) oleh pangeran Katandur yang diselenggarakan setiap tahun sekali sebagai wujud perayaan dan tasyakur atas hasil panen.

Beberapa peralatan yang dipergunakan dalam kerapan sapi yaitu keleles dan pangonong, pangangguy dan rarenggan

(pakaian dan perhiasan) rekeng (alat untuk mengejutkan sapi agar sapi-sapi dapat berlari cepat).

(3)

Pada waktu akan dilombakan pemilik sapi

kerap harus mempersiapkan

tokang tongko’

(joki),

tokang tambeng

(bertugas menahan,

membuka dan melepaskan rintangan untuk

berpacu),

tokang gettak

(mengertak sapi agar

sapi lari cepat),

tokang gubra

(orang-orang

mengertak sapi yang ada di tepi lapangan),

(4)
(5)
(6)

Pada masa itu kerapan sapi ini tidak mengunakan rekeng paku akan tetapai yang mereka gunakan rekeng bambu, perubahan rekeng paku ke rekeng bambu karena orang spudi berambisi terhadap sapi-sapinya yang mereka kerap. Kemudian pada tahun lalu diadakan oleh pemerintah agar tidak memakai benda tajam (rekeng paku) MUI juga melarangnya sehingga terpecah menjadi dua bagian:

Ada yang memakai paku

(7)
(8)
(9)

Masyarakat Madura yang berprofesi sebagai petani pada waktu itu, hanya berinteraksi dan berkomunikasi ketika musim panen tiba. Namun, setelah itu masyarakat Madura akan terpisah dan tidak saling berkomunikasi. Untuk itu, Pangeran Katandur berinisiatif untuk menciptakan Budaya Kerapan Sapi sebagai alat untuk memperkuat hubungan persaudaraan masyarakat Madura.Oleh sebab itu, Budaya Kerapan Sapi menjadi budaya khas Madura dan sangat diminati oleh masyarakat Madura karena memiliki fungsi untuk memperkuat hubungan solidaritas sebagai modal sosial masyarakat Madura. Sapi yang biasa dilomba harganya lebih mahal dari pada tidak seperti sapi biasanya harganya lebih mahal

(10)

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF TERHADAP AGAMA

(11)

PROSES PELAKSANAAN BUDAYA

KERAPAN SAPI

Ada dua tingkat pada proses pelaksanaan budaya kerapan sapi ini diantaranya:

Tingkatan kewedanan

Tingkatan kewedanan ini adalah tingkatan budaya resmi dan ditangani oleh pemerintah langsung. Tingkatan kewedanan ini dibagi menjadi empat Kecamatan diantaranya;

Kewedanan Proppo: Kec. Proppo, Tlanakan, pamekasan

Kewedanan Galis: Kec. Galis, Pademau, larangan tokol

Kewedanan Waru: Kec. Waru, Pakong, Pasean, Kadur

(12)
(13)

SEKIAN TERIMAKASIH

Mator

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang telah dilakukan di peternakan sapi perah Erif Farm selama 30 hari dalam bulan Mei 2014 dengan 19 ekor sapi yang diteliti, ditemukan tiga sumber

Dari penelitian utama, yaitu analisa terhadap sifat fisik dan kimia, sosis daging sapi dengan formulasi 60 : 40 yang difermentasi secara spontan selama tiga puluh hari

Pada hari ini Rabu tanggal Dua puluh tiga bulan Juli tahun Dua ribu empat belas, dimulai pada pukul 10.30 wib sampai dengan 12.30 wib telah dilaksanakan Acara Penjelasan

Pada hari ini Senin tanggal Dua Puluh Enam bulan Maret tahun Dua Ribu Dua Belas, pukul 10.05 WIB, Panitia Pengadaan Sapi Bibit Betina Simmental Impor BPTU

Terungkapnya kerajaan Salakanagara bermula dari penemuan tulisan Raja Cirebon yang berkuasa tahun 1617 Wangsakerta, yang ditemukan pada abad ke-19 Masehi?. Dari

Kegiatan pengabdian pada masyarakat kerajinan songket bali di Kabupaten Karangasem direncanakan akan dilaksanakan selama tiga tahun, dan tahun 2016 adalah

Bahan pemeriksaan yang diterima pada tahun 1973 adalah tiga dari sapi dan satu dari kambing, tahun 1974 dua dari sapi dan satu dari kambing, tahun 1975 dua dari sapi, tahun 1976

Kemudian tahun 2000 sebagai akhir dari penelitian ini adalah bahwa selama tiga puluh tahun terdapat perubahan budaya etnis Batak Toba dengan budaya lokal serta membawa dampak