dari Sudut Pandang Ekonomi Politik Lingkungan
SOP 351 (Ekonomi Politik)
Disusun Oleh :
Alfionita Rizky Perdana
071311233080
Kelas A (Non-Politik)
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
Universitas Airlangga
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………… 1
DAFTAR ISI………..……….. 2
PENDAHULUAN……… 3
PEMBAHASAN
Illegal Fishing, Praktik Parasit………... 4
Ekonomi Politik Lingkungan……….. 6
Dampak Lingkungan & Ekonomi yang Ditimbulkan oleh Illegal Fishing … 7 Kebijakan Maritim Indonesia dalam Illegal Fishing dari Pendekatan Ekonomi Politik
Lingkungan………. 8
KESIMPULAN………. 13
PENDAHULUAN
Illegal fishing atau penangkapan ikan secara ilegal menjadi sebuah tindakan yang meresahkan terutama bagi negara-negara yang memiliki kekayaan negara di sektor perairan
dan laut ini, tidak terkecuali Indonesia. Sebagai sebuah negara dengan posisi geografis
strategis serta 2/3 bagiannya adalah berupa wilayah perairan, maka Indonesia pun menjadi
target emas bagi para nelayan ilegal ini. Setiap tahun Indonesia selalu mengalami kerugian
yang diakibatkan oleh adanya aktivitas illegal fishing yang dilakukan oleh sekelompok orang dari negara lain seperti Vietnam, Jepang, dan sebsgainya. Keadaan ini sebenarnya sudah
diupayakan untuk diatasi namun penanganan yang dilakukan tidak efektif.
Penanganan isu illegal fishing yang merugikan Indonesia ini lantas dilanjutkan di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Di era Presiden Jokowi, Indonesia menerapkan sanksi
tegas pada kapal-kapal yang diketahui melakukan illegal fishing. Sanksi yang diberikan pun tidak main-main, beberapa kasus penembakan kapal ilegal Vietnam yang melakukan aktivitas
pemancingan ilegal di Laut Natuna, Indonesia adalah salah satu contoh bukti sikap Indonesia
yang mulai tegas terhadap aksi-aksi illegal fishing ini (Theyer 2014). Pemberian sanksi semacam ini menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti merupakan sanksi
tepat untuk memberikan efek jera dan peringatan bahwa laut Indonesia tidak bisa digunakan
secara sembarangan. Hal ini juga diamini oleh Presiden Jokowi dan kemudian memantik
protes dari pemerintah Vietnam akan tindakan penembakan kapal tersebut (Theyer 2014).
Di dalam kacamata Ekonomi Politik Lingkungan, tindakan illegal fishing merupakan sebuah tindakan yang dilakukan atas dasar kepentingan entitas tertentu untuk memeroleh
keuntungan dari sumber daya alam di Indonesia, misalnya dengan mengambil secara
langsung pasokan ikan di laut yang notabene lebih murah dan efisien dibanding harus
membeli di pasar resmi yang harganya lebih mahal dan belum tentu bisa sesuai dengan
kebutuhan entitas tersebut. Akan tetapi, permasalahannya adalah illegal fishing ini dilakukan seringkali dengan menggunakan peralatan yang membahayakan ekosistem laut seperti
contohnya pukat harimau, bom laut, dan sebagainya. Penggunaan alat-alat berbahaya ini jelas
akan menganggu eksosistem laut. Negara yang menaungi teritori laut tersebut pun akan
mengalami dua kerugian secara langsung, kerugian secara materil (ekonomis) dan
lingkungan. Secara materil (ekonomis), tindakan illegal fishing ini berdampak pada kerugian materil yang diderita oleh negara pemilik teritori laut tersebut. Pemasukan negara dari aset
laut menjadi tidak maksimal dengan estimasi kerugian yang besar. Kemudian dampak di
lanjutan pada hilangnya habitat makhluk hidup yang ada di laut, kerusakan air laut,
kontaminasi bahan kimia, dan sebagainya (Clark & Clausen 2008). Dampak pada lingkungan
ini akan berimbas pula pada manusia. Misalnya saja jika ikan di laut memakan dan hidup di
laut yang terkontaminasi bahan kimia efek peledakan bom untuk menangkap ikan, ini akan
berdampak pada manusia ketika ikan-ikan tersebut dikonsumsi.
Oleh sebab itu pada paper ini penulis akan menjelaskan mengenai fenomena illegal fishing dan kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberlakukan sanksi tegas sebagai upaya perlindungan laut Indonesia dengan menggunakan pendekatan Ekonomi Politik
Lingkungan. Dari sini didapat temuan bahwa illegal fishing merupakan bentuk eksploitasi laut dan ekspansi kapital untuk pemenuhan pasar yang telah berkontribusi pada kerusakan
lingkungan laut. Dengan dampaknya yang begitu besar terhadap lingkungan dan ekonomi,
pemerintah sebagai entitas yang berwenang kemudian mengambil kebijakan sebagai bentuk
penanganan isu illegal fishing yang merugikan tersebut. Tetapi kebijakan maritime Indonesia ini bukan tanpa celah, problematika lingkungan, ekonomi, dan politik muncul seiring dengan
eksistensi kebijakan tegas tersebut.
Latar Belakang Masalah
Bagaimana Ekonomi Politik Lingkungan melihat kebijakan maritim Indonesia dalam
PEMBAHASAN
Illegal Fishing, Praktik Parasit
Illegal fishing atau penangkapan ikan secara illegal merupakan sebuah praktik yang dilakukan dengan menangkap ikan dan kekayaan laut tanpa mendapat izin resmi dari Negara
pemilik teritori laut tersebut. Menurut Halford (2013) ada beberapa unsur yang dapat
menjelaskan mana yang dapat dikatakan sebagai illegal fishing yakni tidak adanya lisensi untuk menangkap ikan, menangkap ikan di kawasan tertutup, menangkap hasil laut/ikan
dengan menggunakan perlengkapan yang destruktif seperti pukat harimau misalnya,
menangkap ikan melebihi kuota, dan menangkap spesies laut yang dilarang.
Illegal fishing merupakan kegiatan yang rendah risiko dan mampu menghasilkan keuntungan yang besar (Halford 2013). Hal ini dapat dijelaskan karena pada banyak negara,
masih banyak terjadi kecolongan terhadap aksi illegal fishing ini. Selain itu, masih sulit untuk dapat membedakan mana yang tergolong sebagai aksi ilegal atau tanpa lisensi menangkap
ikan dan mana yang tidak. Oleh sebab itu, aksi ini tergolong menguntungkan bagi para
pelakunya. Hasil yang diperoleh pun terbilang besar dan menguntungkan mengingat
kebutuhan masyarakat di dunia terhadap ikan dan hasil laut lainnya begitu besar. Tercatat
menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg (2015) kebutuhan masyarakat dunia terhadap ikan di tahun 2011 adalah sebesar 130,8 juta ton, jumlah ini akan terus meningkat di tiap
tahunnya, sementara suplainya hanya sebesar 78,9 juta ton dan terancam akan menurun. Ini
menjadi peluang bagi para pelaku illegal fishing untuk tetap melanjutkan kegiatannya. Kemudian, aksi illegal fishing dilakukan karena kegiatan ini dinilai lebih mudah dan cepat daripada harus menunggu lisensi atau izin dari negara yang teritori lautnya dieksplor. Proses
birokrasi masih dinilai berbelit dan justru akan memperlama serta menambah biaya untuk
penangkapan ikan. Daripada demikian, muncul ide untuk melakukan tindakan ilegal ini
sehingga biaya yang diperlukan bisa ditekan.
Tindak illegal fishing selalu berkaitan dengan Illegal, Unreported, and Unregulated, fishing (IUU) (Halford 2013). Tindak unregulated fishing atau penangkapan ikan secara ilegal ini dilakukan di dalam teritori laut sebuah negara, biasanya dilakukan di wilayah zona
ekonomi eksklusif atau sebesar 200 – 800 mil dari titik nol pantai terluar. Aktivitas
penangkapan ikan atau hasil laut oleh kapal maupun individu di luar zona ekonomi eksklusif
tergolong sebagai tindakan yang ilegal dan unregulated (Indira 2009, 22). Sementara
telah mendapat izin, namun kru kapal tidak melaporkannya pada negara asal maupun negara
yang dieksplor lautnya. Ada kesulitan bagi negara-negara yang mengalami kerugian akibat
aksi illegal fishing ini karena mereka tidak bisa serta merta menindaklanjut mengingat kapal berbendera negara lain akan berhubungan dengan negara lain. Oleh sebab itu, aksi ini sulit
untuk benar-benar dapat diregulasi dalam rezim internasional misalnya. Illegal fishing
seringkali pula dilakukan secara transnasional atau lintas batas. Artinya, aksi penangkapan
ikan secara illegal ini tidak lagi hanya melibatkan pelaku dari satu negara melainkan banyak
negara tergabung ke dalam suatu kelompok kerja. Tindak penangkapan ikan secara ilegal ini
sayangnya dikategorikan sebagai tindak kriminalitas di tingkat internasional. Di dalam artian,
belum ada hukum internasional yang jelas mengatur mengenai tindak penangkapan ikan
secara ilegal. Akan tetapi, di beberapa negara hukum mengenai tindak penangkapan ikan
secara ilegal ini telah disusun.
Ekonomi Politik Lingkungan
Pada mulanya, pembahasan terkait Ekonomi Politik Lingkungan belum seluas seperti
saat ini pembahasannya. Ekonomi Politik dan lingkungan menjadi dua kajian terpisah yang
dipandang berdiri sendiri-sendiri serta belum ada efek signifikan. Sehingga tidak banyak
kajian yang menghubungkan keduanya. Akan tetapi, setidaknya kajian mengenai Ekonomi
Politik Lingkungan dimulai dengan mengaitkan banyaknya fenomena alam terjadi yang
disebabkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia di sektor ekonomi ini yang dinilai
berkontribusi dalam menciptakan kerusakan lingkungan. Berangkat dari sini, pemerintah
negara mulai menaruh fokusnya pada sektor human security, yakni salah satunya adalah masalah lingkungan. Lingkungan merupakan salah satu aspek yang penting dan
memengaruhi kehidupan manusia. Dari alam atau lingkungan, manusia memenuhi
kebutuhannya. Akan tetapi, alam atau lingkungan semakin lama kondisinya semakin
menurun seiring dengan aktivitas manusia yaitu eksploitasi untuk profit dan ekspansi kapital
(Clark & Clausen 2008). Jika alam atau lingkungan kondisinya semakin memburuk, maka ini
akan berdampak pada kehidupan manusia pula. Apabila dibiarkan, maka ini akan berdampak
pada tingkat lebih tinggi yaitu berdampak ke negara, negara menjadi kesulitan dalam
mencapai kepentingan nasionalnya karena sumber-sumber kekuatan nasionalnya telah
berkurang.
Kajian ekonomi politik lingkungan lantas muncul dan mempelajari keterkaitan antara
perekonomian manusia selalu bertumpu pada prinsip efisiensi dan atau terkenal dengan
prinsip-prinsip “berkorban sekecil-kecilnya demi meraih keuntungan sebesar-besarnya”. Dari
sini kemudian kegiatan perekonomian seringkali dilakukan dengan kalkulasi cost and benefit.
Harga (cost) menjadi dasar pertimbangan bagi perusahaan, individu, maupun negara dalam bertindak. Mereka akan memperhitungkan berapa biaya atau harga yang diperlukan dalam
sebuah hal. Kemudian akan ditimbang dengan perkiraan manfaat yang akan didapat. Dari
pertimbangan-pertimbangan ini maka akan output yang diharapkan nantinya setimpal dari
apa yang dibayar dan didapat. Kondisi semacam ini yang rawan berpotensi pada kerusakan
alam. Alam atau lingkungan yang terus menerus dieksplorasi dan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan pasar juga akan habis secara perlahan (Clark & Clausen 2008). Termasuk pada
sektor kelautan, kapitalisme yang semakin berkembang mendorong terjadinya illegal fishing
yang berkontrbusi pada krisis lingkungan (Clark & Clausen 2008).
Pada jenis sumber daya alam tidak terbarui, ini akan menjadi masalah karena untuk
dapat menghasilkan sumber daya alam terbaru akan butuh waktu yang lama. Sementara itu,
untuk sumber daya alam terbarui memang dapat dihasilkan sumber daya alam baru dalam
waktu yang tidak terlalu lama, akan tetapi permasalahannya adalah pada beberapa jenis
sumber daya alam misalnya laut, akan ada dampak lain tercipta yaitu terkait kerusakan
ekosistem yang berpotensi masuk dalam rantai kehidupan manusia pula. Oleh sebab itu,
lingkungan kemudian menjadi aspek yang mulai diperhatikan dan dijadikan bahan
pertimbangan. Selain itu, lingkungan juga dapat menjadi aset bagi suatu negara sehingga dari
semua alasan ini penting bagi pemerintah suatu negara untuk tidak mengabaikan alam atau
lingkungan tersebut.
Dampak Lingkungan & Ekonomi yang Ditimbulkan dari Illegal Fishing
Illegal fishing menimbulkan permaslahaan terkait dengan ekosistem laut yang rusak akibat adanya penggunaan peralatan yang tidak diizinkan, misalnya saja pukat harimau.
Penggunaan peralatan yang berbahaya ini merusak ekosistem karena kandungan kimia di
dalamnya yang apabila terkena organisme di laut maka akan terjadi keracunan dan kematian
pada organisme (Indira 2009, 25). Dampak lanjutannya adalah terjadinya kontaminasi yang
kemudian akan berdampak pada manusia. Kontaminasi terjadi ketika bahan-bahan kimia atau
substansi-substansi dalam perlengkapan berbahaya mencari ikan masuk ke dalam tubuh ikan
Selain gangguan dalam rantai kehidupan ekosistem laut, dampak lingkungan yang
ditimbulkan oleh adanya kegiatan illegal fishing adalah menurunnya jumlah biota laut. (Tempo 2011) Penurunan jumlah biota laut ini pada beberapa kasus dapat berujung pada kepunahan. Hal ini disebabkan karena organisme membutuhkan habitat yang bersih dan
nyaman untuk ditinggali. Ketika laut telah tercemar, keberadaan organisme laut ini terdesak
dan kemudian terjadi migrasi ke wilayah laut yang dinilai lebih aman untuk ditinggali. Jika
kepunahan terjadi, maka kekayaan alam suatu negara akan berkurang dan negara menjadi
kehilangan sumber-sumber kekuatan nasionalnya.
Selain dampak lingkungan, ada pula dampak lain yang ditimbulkan oleh adanya
illegal fishing ini yaitu dari sisi ekonomi. Pencurian ikan yang dilakukan tanpa melaporkan hasil tangkapan dan tidak memiliki izin telah merugikan dunia sebesar $23,5 miliar (World
Wild Fund t.t). Kerugian yang diderita negara akibat illegal fishing akan mengurangi pemasukan negara. Negara yang pada mulanya berpotensi meraih pemasukan tinggi dari
sektor ekspor hasil laut menjadi tidak mampu memenuhi targetnya karena hasil laut telah
banyak dicuri oleh kapal-kapal, individu, maupun perusahaan yang beroperasi di sektor
perikanan tersebut. Fakta-fakta terkait dampak ekonomi dan lingkungan seperti ini tidak
hanya terjadi di tingkat global melainkan juga di Indonesia. Atas dasar ini, masalah illegal fishing tidak bisa dianggap biasa sehingga muncul inisiasi Indonesia untuk menerapkan kebijakan tegas yang bisa memberi efek jera bagi para pelakunya.
Kebijakan Indonesia dalam Illegal Fishing dari Pendekatan Ekonomi Politik
Lingkungan
Di satu sisi, illegal fishing merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi tetapi di sisi lain illegal fishing juga tidak hanya berdampak pada lingkungan melainkan juga berdampak pada kemunculan problematika ekonomi dan politik. Di Indonesia, kasus illegal fishing marak terjadi. Sebagai negara dengan lebih dari 17.000 kepulauan dan 2/3 wilayahnya berupa lautan, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan potensi alam yang
melimpah, tidak terkecuali pada lautnya. Indonesia menjadi target para pelaku illegal fishing
dan ini kemudian menjadi permasalahan klasik yang dihadapi Indonesia. Permasalahan ini
juga tidak mudah diatasi karena adanya UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Indira
2009, 44). Di dalam UU ini tertulis jika perusahaan, individu, maupun kapal asing diberi izin
untuk masuk ke Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atas persetujuan hukum internasional
menjadi jalan masuk adanya kegiatan penangkapan ikan atau hasil laut di Indonesia.
Ketentuan hukum ini didasarkan atas Konvensi Hukum Laut tahun 1982 yang kemudian
diratifikasi melalui UU No. 17 Tahun 1985 dalam Pasal 62 ayat 3 & 4 yang menyatakan
bahwa negara-negara pantai harus memberi akses kepada perusahaan maupun kapal-kapal
untuk mengeksplor laut mereka ketika terjadi surplus hasil laut. (Indira 2009, 44) Aturan
lainnya juga menyatakan bahwa kapal-kapal asing yang beroperasi di Indonesia untuk
eksplorasi hasil laut di wilayah ZEE Indonesia wajib untuk kemudian menaati peraturan yang
ada di Indonesia (Indira 2009, 44).
Akan tetapi, selama ini illegal fishing di Indonesia tidak pernah bisa tuntas diatasi. Di masa kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ini ada terobosan baru
pemberian sanksi pada kapal-kapal asing yang terbukti tengah melakukan illegal fishing di Indonesia. Sanksi yang dikenakan adalah salah satunya terjadi di Laut Natuna saat kapal
berbendera Vietnam ditembak oleh aparat berwenang (The Economist 2014). Menurut Presiden Jokowi dan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, tindakan ini adalah
bentuk pemberian efek jera pada kapal-kapal dan pihak-pihak yang selama ini telah
merugikan Indonesia lewat illegal fishing (The Economist 2014).
Melihat fenomena illegal fishing yang merugikan negara dan telah menimbulkan dampak ekonomi serta lingkungan bagi Indonesia, Presiden Indonesia Joko Widodo mulai
menetapkan kebijakan baru yang dipandang sebagai bentuk pemberian efek jera bagi para
pelaku illegal fishing. Kebijakan baru juga dikenal sebagai New Zero Tolerance Policy
(Langenheim 2015). Di dalam kebijakan baru ini pemerintah Republik Indonesia akan menangkap dan bahkan menenggelamkan kapal-kapal asing yang terbukti melanggar izin
penangkapan ikan secara ilegal, baik itu yang tidak memiliki izin maupun menangkap ikan di
kawasan perairan yang tidak diperbolehkan. Selain memperkenalkan kebijakan ini, Menteri
Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga telah memperkenalkan moratorium 6 bulan dan
pembaruan izin penangkapan ikan dengan kapal-kapal maupun perusahaan asing yang
beroperasi dalam perikanan di Indonesia (Langenheim 2015). Tujuannya adalah agar
pemerintah Indonesia lewat Kementerian Perikanan dan Kelautan dapat memonitor aktivitas
mereka sehingga potensi terjadinya penangkapan ikan secara ilegal dapat tereduksi. Di dalam
implementasinya, sudah ada banyak kapal asing yang ditangkap dan pada beberapa kasus
ditenggelamkan oleh pemerintah Indonesia. Tidak sedikit pula penangkapan serta
penenggelaman ini memicu kontroversi dan protes dari berbagai negara yang menaungi
tindakannya yang dinilai serantanan (Thayer 2014). Vietnam menganggap penenggalaman
kapalnya tersebut harusnya dilaporkan terlebih dahulu pada pihak pemerintah Vietnam.
Selama ini Indonesia dinilai Vietnam masih belum mengumumkan secara resmi sanksi
semacam itu. Kemudian ada pula Thailand yang kapalnya ditenggelamkan oleh pemerintah
Indonesia karena terbukti telah melakukan illegal fishing (Rita 2014). Mekanisme penenggelaman kapal ini dilakukan dengan mengisi kapal yang akan dieksekusi dengan
menggunakan bahan peledak sebelum kemudian ditembaki oleh pasukan TNI AL (BBC
2014).
Kebijakan pemerintah Indonesia yang begitu ketat ini menuai pro dan kontra. Tidak
hanya berkaitan dengan etika penangkapan dan penenggelaman kapal yang dinilai oleh
beberapa negara tidak adil serta banyaknya protes muncul dari negara-negara tersebut, tetapi
juga persoalan lingkungan atau ekosistem laut itu sendiri. Ada beberapa hal yang menjadi
pembahasan terkait hubungan lingkungan atau ekosistem laut dengan kebijakan pemerintah
Indonesia terkait illegal fishing ini. Pertama, kebijakan ini yang terlihat di permukaan adalah berorientasi pada motif ekonomi Indonesia, Indonesia ingin melindungi lautnya yang telah
dirugikan oleh adanya kegiatan illegal fishing ini. Setidaknya ada 5000 kapal asing yang beroperasi di Indonesia secara ilegal dan telah merugikan Indonesia sebesar US$ 24 juta atau
sekitar Rp. 300 miliar (Langenheim 2015). Keadaan ini tentunya merugikan Indonesia karena
selama ini Indonesia memiliki lautan yang lebih luas dibanding negara-negara tetangganya
misalnya Thailand. Akan tetapi, pada faktanya Indonesia hanya mengekspor hasil laut lebih
sedikit dibanding Thailand (The Economist 2015).
Meski memang yang tampak di luar adalah orientasi ekonomi, namun sesungguhnya
juga ada aspek perlindungan lingkungan yang coba diupayakan lewat kebijakan semacam ini.
Kebijakan tegas Indonesia dalam illegal fishing ini mengupayakan perlindungan ekosistem laut Indonesia yang saat ini tengah mengalami berbagai masalah seperti pencemaran laut
akibat penggunaan perlengkapan menangkap ikan yang berbahaya (Indira 2009, 25).
Pencemaran air laut akan membunuh organisme hidup di dalamnya dan dalam jangka
panjang akan mengkontaminasi tubuh manusia lewat rantai makanan dari ikan ke manusia.
Upaya perlindungan ekosistem laut lewat kebijakan penanganan illegal fishing ini pun telah dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia dengan menjalin kerjasama dengan beberapa instansi
lingkungan baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama ini dilakukan lewat mekanisme
penurunan komunitas epistemik yang akan membantu pemerintah Indonesia serta perusahaan
Kemudian ada pula permasalahan lingkungan lainnya yang berhubungan dengan
illegal fishing ini adalah berkurangnya jumlah organisme di Laut Indonesia berkurang, dalam hal ini ditemukan kasus ikan tuna yang terancam punah akibat penangkapan berlebih (Tempo
2011). Indonesia merupakan negara penghasil ikan tuna terbesar kedua setelah Jepang dengan
statistic menunjukkan 100.000 ton tuna diproduksi atau dihasilkan di Indonesia (Langenheim
2015). Potensi ini disadari oleh para pelaku illegal fishing dan kemudian dimanfaatkan untuk menjaring ikan tuna sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tinggi.
Sehingga kemudian dengan dilakukannya upaya tegas pemerintah demikian, maka potensi
kerusakan dan kepunahan organisme laut bisa tereduksi. Dari sini didapat gambaran
keterkaitan ekonomi politik lingkungan. Kebijakan pemerintah yang mewakili unsure politik
mencoba untuk melindungi lingkungan dari masifnya kegiatan ekonomi yakni penangkapan
ikan untuk kebutuhan pasar dan manusia. Kebijakan ini juga berupaya untuk menciptakan
sebuah sustainable growth atau dapat pula dikatakan bahwa ada upaya yang didasarkan pada
green economy, tentang bagaimana agar kegiatan perekonomian berjalan berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Akan tetapi, di sisi lain upaya pemerintah Indonesia yang menenggelamkan
kapal-kapal asing maupun dalam negeri yang tidak memiliki izin dan melakukan illegal fishing
menimbulkan problematika lain. Pertama di sektor lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup
(Walhi) salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di sektor lingkungan
menyatakan bahwa cara tersebut dapat merusak ekosistem dan biota laut (Armindya 2014).
Menurut Walhi, pemerintah Indonesia sebaiknya tidak langsung menggunakan
penenggelaman kapal sebagai cara untuk memberi efek shock therapy, melainkan digunakan cara-cara seperti penyitaan kapal dan penangkapan awak kapal untuk kemudian dimintakan
ke negara asalnya sanksi pembayaran sejumlah uang (Armindya 2014). Dari pernyataan ini
ada paradoks muncul terkait implementasi kebijakan pemberian efek jera pada pelaku illegal fishing. Di satu sisi kebijakan ini baik untuk perlindungan ekosistem, tetapi di sisi lain ketika ada penenggelaman kapal, maka ada potensi pencemaran ekosistem laut yang juga akan
menganggu biota di dalamnya. Hal ini dapat dipahami karena ada mekanisme penenggelaman
kapal yang dilakukan dengan menaruh bahan peledak terlebih dahulu di kapal sebelum
kemudian ditembak oleh pihak berwenang (TNI AL). Substansi bahan peledak dan
penembakan tersebut tentunya akan memberi sisa-sisa seperti bahan kimia yang kembali akan
Sementara itu, di sisi lain, kebijakan pemerintah Indonesia di bawah komando
Menteri Susi Pudjiastuti dan Presiden Joko Widodo ini menimbulkan kritik dan pandangan
akan potensi kerugian yang mungkin diterima Indonesia. Dari sisi ekonomi, ancaman
penenggelaman kapal bagi mereka yang terbukti melakukan praktik illegal fishing membuat banyak perusahaan dan negara-negara lebih cermat dan berpikir berulang kali untuk dapat
beroperasi di Indonesia (Langenheim 2013). Selain itu, permasalahan yang mungkin muncul
adalah terkait mekanisme perbaruan izin. Sebagian besar kapal pengangkut tuna yang
beroperasi di Flores Timur merupakan kapal buatan Jepang dan Korea Selatan yang izinnya
harus diperbarui tiap tahun (Langenheim 2013). Permasalahannya setelah perbaruan izin
tersebut, kapal-kapal tersebut baru boleh beroperasi 6 bulan kemudian (Langenheim 2013).
Kondisi ini jika kemudian penerapan kebijakan terhadap illegal fishing diimplementasi muncul permasalahan terkait harga pengiriman ikan tuna yang melonjak. 6 bulan tanpa
operasi kemudian menyebabkan biaya yang diperlukan untuk ekspor dan distribusi ikan tuna
dari Flores Timur ke daerah-daerah lain menjadi melonjak karena penggunaan transportasi
lain yang tentunya akan menambah biaya bahan bakarnya (Langenheim 2013). Jika keadaan
ini dibiarkan maka ada pengurangan pemasukan karena digunakan untuk menalangi biaya
pengiriman tersebut. Sementara itu dari sisi politik ada pandangan yang menilai bahwa
Indonesia dianggap sebagai ancaman baru bagi negara-negara lain akibat kebijakannya ini.
Ada asumsi jika hubungan Indonesia dengan negara-negara yang kapalnya terbukti
KESIMPULAN
Indonesia menerapkan kebijakan baru di bawah Presiden Joko Widodo yakni dengan
memberi sanksi tegas kepada para pelaku, salah satunya dengan menenggelamkan
kapal-kapal yang terbukti melakukan illegal fishing. Kebijakan baru ini dalam pendekatan ekonomi politik lingkungan merupakan langkah perlindungan ekosistem laut dari masifnya aktivitas
ekonomi yang berorientasi pada efisiensi dan sebagainya. Kerusakan lingkungan yang
ditimbulkan oleh adanya illegal fishing di Indonesia patut menjadi perhatian karena pencemaran air, matinya biota laut, dan kepunahan ikan serta hasil laut lainnya akan
memengaruhi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya, pemasukan negara,
maupun mencapai kepentingan nasionalnya. Akan tetapi, di sisi lain, masih berdasarkan
pendekatan ekonomi politik lingkungan pula, mekanisme yang diterapkan yakni
penenggelaman kapal berpotensi merusak ekosistem laut dan membunuh biota laut. Hal ini
disebabkan oleh cara peletakan peledak dan penembakan yang akan merusak karena
substansi kimia di dalamnya yang berbahaya. Selain itu ada problematika lain di bidang
ekonomi dan politik yang timbul akibat kebijakan tersebut. Di bidang ekonomi, kebijakan
maritime Indonesia ini berpotensi meningkatkan biaya tambahan dalam ekspor dan impor
ikan karena ketatnya perizinan kapal-kapal. Sementara itu di sektor politik, ada potensi
DAFTAR PUSTAKA
Armindya, Yolanda Ryan, 2014. Walhi Tolak Ide Menteri Susi Mengebom Kapal Liar
[online]. dalam :
http://nasional.tempo.co/read/news/2014/11/11/206621173/walhi-tolak-ide-menteri-susi-mengebom-kapal-liar [diakses 27 Juni 2015].
BBC, 2014. Angkatan Laut RI Tenggelamkan Kapal Asing [online]. dalam : http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141205_indonesia_kapal_as
ing [diakses 27 Juni 2014].
Bloomberg, t.t. The World's Fish: Growing Demand, Shrinking Supply [online]. dalam :
http://www.bloomberg.org/press/infographics/worlds-fish-growing-demand-shrinking-supply/ [diakses 30 Juni 2015].
Clark, Brett, & Rebecca Clausen, t.t. The Oceanic Crisis : Capitalism and the Degradation of Marine Ecosystem [online]. dalam :
http://monthlyreview.org/2008/07/01/the-oceanic-crisis-capitalism-and-the-degradation-of-marine-ecosystem/ [diakses 30 Juni
2015]
Halford, Kashfi, 2013. “FAQ : Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing”, The PEW Charitable Trusts, September.
Indira, Dewi B., 2009. Kerjasama Maritim Asia Tenggara dalam Penanggulangan Penangkapan Ikan Ilegal Studi Kasus : Praktik Penangkapan Ikan Ilegal di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia, Ch. 2. Langenheim, Johnny, 2015. Indonesia’s New Marine Laws Threaten Sustainable Fisheries
[online]. dalam :
http://www.theguardian.com/environment/the-coral-triangle/2015/jan/14/indonesias-new-marine-laws-threaten-sustainable-fisheries
[diakses 27 Juni 2015].
Rita, Maria, 2014. Jokowi Ancam Pencuri Ikan, Ini Respon Thailand. [online]. dalam :
http://dunia.tempo.co/read/news/2014/12/13/118628230/jokowi-ancam-pencuri-ikan-ini-respons-thailand [diakses 27 Juni 2015].
The Economist, 2015. For the New Administration, the Path to Prosperity One is a Watery One [online]. dalam :
http://www.economist.com/news/asia/21637451-new-administration-path-prosperity-watery-one-fishing-trips [diakses 27 Juni 2015].
Thayer, Carl, 2014. Indonesia : Playing with Fire in the South China Sea [online]. dalam : http://thediplomat.com/2014/12/indonesia-playing-with-fire-in-the-south-china-sea/
Tempo, 2011. Tuna Terancam Punah Akibat Tekanan Berlebih. [online]. dalam :
http://tekno.tempo.co/read/news/2011/07/11/095345894/tuna-terancam-punah-akibat-tekanan-penangkapan-berlebih [diakses 27 Juni 2015].
World Wild Fund, t.t. Marine Problems : Pollution [online]. dalam :
http://wwf.panda.org/about_our_earth/blue_planet/problems/pollution/ [diakses 30
Juni 2015].
___________________, t.t. Illegal Fishing [online]. dalam :