“
LANGKAH STRATEGIS PEMANFAATAN POTENSI
KELAUTAN DAN PERIKANAN DI PINTU GERBANG
ASIA PASIFIK DALAM MENGHADAPI ERA MEA
TAHUN 2015
”
Oleh
Dendy F. Amin 110611021
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2 DAFTAR ISI
Daftar isi ……….. 2
Daftar tabel ……….. 3
Abstrak ………. 4
I. Pendahuluan ……….. 5
1.1Latar Belakang Masalah ……… 5
1.2Rumusan Masalah ………. 7
1.3Tujuan Penelitian ……….. 7
1.4Manfaat Penelitian ……… 7
II. Landasan Teori ………. 8
2.1Perikanan ……….. 8
2.1.1 Nelayan ……….. 9
2.1.2 Jenis-Jenis Kapal Perikanan ……….. 9
2.1.3 Jenis-Jenis Alat Tangkap ……… 12
2.1.4 Cuaca dan Musim ……… 15
III.Metodologi Penelitian ……… 16
3.1Data dan Sumber Data ……… 16
3.2Metode Pengumpulan Data ……… 16
3.3Metode Analisis ……… 16
IV.Pembahasan ……… 17
4.1Pembahasan dan Hasil Penelitian ……… 17
V. Penutup ……… 20
5.1Simpulan ………. 20
5.2Saran ……… 20
Daftar Pustaka ……….. 21
3 Daftar Tabel
Tabel 4.1 Banyaknya Perahu Penangkap Ikan Menurut jenis
di Kota Bitung Tahun 2008-2012 ... 17 Tabel 4.2 Banyaknya Produksi Perikanan Laut di Kota Bitung
Tahun 2008-2012 ... 18 Tabel 4.3 Banyaknya Nilai Produksi Perikanan Laut Di Kota Bitung
Tahun 2008-2012 ... 18 Tabel 4.4 Perkembangan Nilai Investasi Sektor IndustriMenurut
4 Abstrak
Kota Bitung merupakan salah satu Kota yang terdapat di Provinsi Sulawesi Utara, posisinya yang begitu strategis yang berada di Pintu Gerbang Asia Pasifik, menjadikan Kota ini sebagai akses jalur yang paling dekat untuk perdagangan internasional antara negara yang berada di Kawasan Asia Pasifik, Indonesia dan Australia, Kota ini juga memiliki keunggulan komparatif pada sektor kelautan dan perikanan karena lokasinya yang merupakan alur migrasi berbagai jenis ikan lautan lepas. Potensi yang begitu besar ini tidak disia-siakan oleh nelayan sekitar dengan menggunakan peralatan, kapal dan alat tangkap yang masih tergolong tradisional Kurangnya teknologi canggih yang inovatif, serta pengetahuan dan penggunan teknologi yang masih tradisional sering menjadi masalah umum yang menjadikan hasil produksi sektor ini dari tahun ke tahun hanya mengalami sedikit peningkatan sehingga dikhawatirkan ketika era MEA 2015 sudah diberlakukan, sektor ini hanya akan menjadi followers dengan Negara-negara lain yang peralatannya lebih canggih.Oleh karena itu perlu adanya langkah strategis yang dilakukan agar nanti kedepannya nelayan Indonesia mampu menyaingi Negara lain dalam hal produktivitas, efektifitas dan efisiensi hasil tangkap. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode BARA (Because And Result Analysis) untuk mengetahui perubahan secara produktivitas akibat dari suatu kebijakan.
5 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sebagai Negara maritim yang sebagian besar wilayahnya merupakan laut, sudah sepantasnya Indonesia mengembangkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu sektor yang harus mendapatkan fokus dan prioritas utama dari pemerintah, dan juga sebagai sektor yang dapat memberikan pemasukan yang cukup besar bagi Negara. Berbagai macam keanekaragaman jenis ikan, terumbu karang dan juga populasi yang ada didalamnya diaharapkan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi hasil tangkapan para nelayan, sehingga sektor ini bisa memberikan sumbangsi yang begitu besar bagi pertumbuhan ekonomi dan Gross National Product Negara Indonesia.
Namun realita yang terjadi saat ini, sektor kelautan dan perikanan belum memberikan andil yang cukup besar bagi pendapatan Negara, hal ini bisa kita lihat dari Gross National Product dari sektor perikanan yang masih sangat kecil dan belum sesuai dengan harapan dan target yang diinginkan oleh pemerintah, sehingga mengakibatkan para pengambil keputusan beralih ke sektor lain yang lebih potensial dan dinilai perlu dikembangkan, kondisi ini yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan para stakeholder untuk dikembangkan sehingga hasil atau output yang diharapkan bisa maksimal.
Sebenarnya kondisi yang terjadi saat ini bukanlah suatu masalah yang besar jiikalau pemerintah lebih memperhatikan wilayah timur dan utara Indonesia, sebab diwilayah inilah yang sangat banyak terdapat potensi-potensi dari sektor kelautan dan perikanan yang belum mampu dikelola secara optimal oleh pemerintah maupun masyarakat setempat, akibat keterbatasan pengetahuan, sumber daya manusia yang kompeten maupun teknologi yang canggih
6
16.167.443 juta ton, sedangkan Indonesia yang wilayah lautnya lebih besar dibandingkan China hanya mampu memproduksi yaitu sebesar 5.813.800 juta ton. Selisih yang sangat besar dan sangat disayangkan, ketika luas lautan Indonesia yang notabene begitu besar dibandingkan dengan china, namun hanya mampu memperoleh hasil tangkapan yang berasal dari kelautan dan perikanan yang jauh lebih sedikit.
Untuk mengatasi permasalahan itu semua, maka perlu adanya inovasi dibidang kelautan dan perikanan juga mencari lokasi baru yang dianggap mampu untuk meningkatkan hasil produksi sektor kelautan dan perikanan Indonesia sebab tidak lama lagi Indonesia akan memasuki era masyarakat ekonomi asean (MEA 2015) yang berarti setiap Negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara memiliki kebebasan untuk melakukan transaksi, perdagangan barang dan jasa, tenaga kerja terlatih dan aliran investasi yang lebih bebas antara Negara satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk mengelolah potensi-potensi daerah yang ada di Indonesia yang dirasa belum mampu dikelola secara optimal, sehingga kedepannya akan ada sektor baru yang mampu memberikan kontribusi bagi Negara, dan juga bisa bersaing dengan Negara lain dalam menyongsong MEA tahun 2015 ini
7
Namun, keunggulan komperatif yang dimiliki Kota Bitung akan memiliki tantangan di masa sehingga perlu adanya kebijakan, regulasi dan strategi yang dirancang secara tepat agar kedepannya Kota ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan di Indonesia terlebih khusus di Kawasan Timur Indonesia dan juga mampu bersaing dengan Negara lain ketika era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Strategi apa yang perlu di siapkan oleh sektor pemerintah agar sektor kelautan dan perikanan mampu bersaing dalam menghadapi MEA 2015”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini ialah untuk mencari langkah strategis apa yang perlu dilakukan, agar sektor kelautan dan perikanan bisa bersaing dengan Negara-negara lain dan menjadikan sektor ini sebagai sektor yang dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan Negara.
1.4 Manfaat Penelitian
8 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perikanan
Perikanan adalah suatu kegiatan ekonomi. Tujuan pembangunannya untuk Indonesia adalah sebagai devisa negara, sumber pendapatan nelayan dan sumber protein hewani bagi manusia. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, produk-produk perikanan biasanya harus mengalami perpindahan pemilikan dari nelayan atau petani ikan sebagai produsen kepada penduduk sebagai konsumen. Perpindahan pemilikan yang dimaksud terjadi karena adanya pasar. Sebab itu pemasaran adalah mata rantai yang penting dalam suatu pembangunan perikanan. (Evi,2001)
Menurut (Hemple dan Pauly, 2004) mendefinisikan bahwa perikanan sebagai kegiatan eksploitasi sumber daya hayati yang berasal dari laut.
Menurut (Lackey, 2005) Perikanan adalah suatu sistem yang terdiri dari tiga komponen yakni biota perairan, habitat biota, dan manusia sebagai pengguna sumber daya tersebut. Setiap komponen tersebut akan mempengaruhi performa perikanan.
Dalam konteks legal, Indonesia mengartikan perikanan melalui pengertian yang dituangkan dalam aturan perundang-undangan. Undang-undang No 31 Tahun 2004 tentang perikanan yang diubah dalam UU No 45/2009 mendefinisikan perikanan sebagai :
“ semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan
sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan, sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem
bisnis perikanan…” (UU 31/2004 Bab 1 pasal 1 ayat 1).
9
Terdapat beberapa objek yang memiliki peran yang sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan yakni : nelayan, jenis kapal dan peralatan yang digunakan, serta kondisi cuaca dan musim.
2.1.1 Nelayan
Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir laut. Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat namun pada umumnya mereka hanya memiliki ketrampilan sederhana. Kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan merupakan profesi yang di turunkan oleh orang tua, bukan yang dipelajari secara professional, struktur sosial nelayan sendiri hanya terdiri atas komunitas yang heterogen dan homogen. Komunitas yang heterogen adalah mereka yang bermukim di desa-desa yang mudah dijangkau secara transportasi darat, sedangkan komunitas yang homogen terdapat di desa-desa nelayan terpencil biasanya menggunakan alat-alat tangkap ikan yang sederhana sehingga produktivitas yang mereka dapatkan kecil, selain itu kesulitan transportasi angkutan hasil ke pasar juga akan menjadi penyebab rendahnya harga hasil laut di daerah mereka. (Sastrawidjaya, 2002)
2.1.2 Jenis-jenis Kapal Perikanan
Menurut Kepmen nomor : KEP. 02/MEN/2002 Kapal Perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan termasuk melakukan survei atau eksplorasi kelautan. Kapal Perikanan secara umum terdiri dari: Kapal Penangkap Ikan, Kapal Pengangkut Hasil Tangkapan, Kapal Survey, Kapal Latih, dan Kapal Pengawas Perikanan. Kapal penangkapan ikan antara lain sebagai berikut:
Kapal Pukat Cincin (Purse Seine)
10
kapal pukat cincin berukuran besar diberi juga fasilitas bangunan pengamatan dan helipad.
Kapal Pukat Hela
Kapal Pukat Hela (trawler) adalah kapal yang didesain untuk menarik pukat hela di belakang kapal. Umumnya kapal-kapal pukat hela memiliki geladak kerja diburitan kecuali untuk kapal hasil modifikasi dari kapal lain (kapal-kapal niaga) yang digunakan untuk mengoperasikan kapal pukat hela samping (side trawl). Kapal pukat hela belakang (Stern trawl) dan kapal pukat hela samping dapat digunakan untuk mengoperasikan trawl dasar, pertengahan, dan permukaan. Hasil tangkapan ada yang langsung ditangani di atas dek dan untuk kapal-kapal pukat hela yang berukuran besar di lakukan di bawah dek (working spaces).
Kapal Pukat Hela Belakang (Stern Trawl)
Jenis kapal ini dapat berukuran hingga 200 GT. Kapal-kapal berukuran ≥ 300 GT dilengkapi dengan slip way dan roller di buritan, yang berfungsi sebagai alur pukat hela dari dan ke kapal.
Kapal Pukat Hela Samping (Side Trawl)
Kapal Pukat Hela Samping (Side Trawl) adalah kapal yang didisain untuk mengoperasikan pukat hela dari samping terutama saat setting dan hauling. Sedangkan bagian towing di hela di belakang seperti kapal-kapal pukat pada umumnya.
Kapal Pukat Hela Rig Ganda (Double Rigger Trawl)
11 Kapal Pukat Garuk
Kapal pukat garuk termasuk kategori kapal pukat hela dasar. Kapal ini dirancang untuk mengoperasikan pukat garuk sebagai pengumpul kerang-kerangan di dasar laut dengan cara menghelanya di belakang kapal.
Kapal Jaring Angkat
Kapal jaring angkat (Lift netter) adalah kapal yang didesain dan dilengkapi peralatan yang digunakan untuk mengoperasikan lift net berukuran besar. Peralatan ini ditata di geladak untuk menaik-turunkan lift net di lambung kanan dan lambung kiri kapal secara bergantian. Kapal-kapal ini juga dilengkapi dengan lampu-lampu penarik perhatian ikan baik dipermukaan maupun di bawah air (underwater fishing lamp).
Kapal Jaring Insang
Kapal Jaring Insang (gill netter) adalah kapal yang didisain sangat sederhana, umumnya berukuran kecil dan memiliki geladak terbuka hingga yang berukuran besar yang beroperasi di lautan terbuka. Jenis kapal ini tidak banyak memerlukan perlengkapan penangkapan. Kapal gillnet kecil umumnya memiliki kamar kemudi di bagian belakang yang sekaligus berfungsi sebagai ruang akomodasi.
Kapal Pancing Joran (Pole and Line/huhate)
12 Kapal Tonda
Kapal tonda adalah kapal penangkapan ikan dengan pancing yang ditarik sepanjang permukaan. Ukuran kapal tonda sangat variatif dari yang berukuran kecil dengan geladak terbuka hingga berukuran besar yang dilengkapi dengan sistem refrigerasi sepanjang 25-30 meter. Umumnya kapal digerakan dengan mesin tetapi juga dipasang layar untuk mempertahankan haluan saat sedang melakukan tarikan/towing. Di Indonesia kapal tonda masih menggunakan layar terutama yang beroperasi di sekitar kepulauan Karimun Jawa dan Bawean.
Kapal Rawai (Longline)
Kapal rawai adalah kapal yang dilengkapi dengan pancing dibedakan atas tipe Eropa dan tipe Jepang. Longline umumnya ditarik dari lambung kapal (bow side) dengan menggunakan line hauler sedangkan setting dan penataan komponen longline ditentukan oleh tipe longline yang digunakan.
2.1.3 Jenis-Jenis Alat Tangkap
Mini Trawl
Trawl didefinisikan sebagai jaring yang berbentuk kantong yang ditarik satu atau dua buah kapal bermotor dan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang alat pembuka (otter board) atau karena ditarik oleh dua buah kapal motor. Disini jaring bergerak bersama kapal motor untuk jangka waktu tertentu.
Mini trawl merupakan jenis otter trawl yaitu trawl yang terbukanya mulut jaring disebabkan oleh dua buah papan/alat pembuka mulut jaring (otter board) yang dipasang pada ujung sayapnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan tali selambar yang panjangnya tergantung kedalaman perairan di daerah penangkapan ikan dan situasi penangkapan.
Payang
13
pukat kantong tersebut ke arah kapal yang berhenti atau ke arah daratan melalui kedua sayapnya. Dilihat dari alat konstruksi, alat ini sama dengan trawl, tetapi mempunyai sayap lebih panjang dan berbeda dalam operasi penangkapan, dimana
trawl bergerak bersama-sama kapal, sedangkan pukat kantong hanya jaring yang bergerak.
Jaring Insang Hanyut (Drift Gill Nets)
Jaring insang adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh bidang jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dilengkapi dengan pemberat pada tali ris bawahnya dan pelampung pada tali ris atasnya. Dalam operasi penangkapan, jaring dipasang tegak lurus di dalam air dan menghadang arah gerak ikan. Ikan-ikan tertangkap karena tutup insang tersangkut pada mata jaring atau terpuntal oleh jaring tersebut.
Jaring Insang Hanyut merupakan jaring insang yang dalam metode penangkapannya dibiarkan hanyut terbawah arus dan salah satu ujungnya dikaitkan pada kapal/perahu.
Jaring Insang Lingkar (Encircling Gill Nets)
Jaring Insang Lingkar merupakan jaring insang yang cara pengoperasiannya dengan melingkari gerombolan ikan pelagis. Supaya gerombolan ikan dapat dilingkari dengan sempurna sehingga dapat tertangkap dengan jumlah yang optimal, dalam operasinya bentuk jaring dapat berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, berbentuk huruf V atau U atau bengkok-bengkok seperti gelombang. Tinggi jaring disesuaikan dengan kedalaman perairan ikan yang telah dikurung, dikejutkan sehingga menubruk jaring dan tersangkut pada mata jaring.
Jaring Insang Tetap (Set Gill Nets)
14 Jaring Udang (Trammel Net)
Trammel net merupakan jaring insang yang dibuat dengan tiga lapis jaring dimana jaring lapisan tengah dengan ukuran mata jaring kecil dan jaring lapisan
luar dengan ukuran yang besar. Ikan tertangkap karena terpuntal “terpulut" oleh
badan jaring dengan mata kecil dan masuk ke dalam mata jaring besar sehingga menjadi kantong. Alat penangkap ini dapat ditujukan untuk semua jenis ikan.
Serok dan Sondong (Scoop Nets)
Serok dan Sodong atau Sungkur termasuk grup jaring angkat. Jaring angkat adalah yang berbentuk empat persegi panjang atau kerucut atau kantong, dalam operasinya jaring dibentangkan dalam air sedemikian dengan menggunakan kerangka bambu atau kayu.
Serok dan Sondong merupakan jaring angkat yang berbentuk kerucut atau kantong, mulut jaring terbuka dengan memakai bingkai yang terbuat dari bambu atau rotan atau metal dan operasi penangkapan dapat dilakukan tanpa perahu. Bila menggunakan perahu atau perahu/kapal motor alat ini didorong dengan menggerakkan perahu atau perahu/kapal motor. Metode penangkapan dengan cara disorong dengan perahu atau perahu/kapal motor disebut sondong.
Rawe (Drift Longline Other Tuna Long Lines)
Rawai merupakan alat penangkapan ikan yang terdiri dari sederetan tali-tali utama dan pada tali utama pada jaring tertentu terdapat beberapa tali cabang yang lebih pendek dan lebih kecil diameternya. Pada ujung tali cabang dikaitkan pancing yang berumpan. Ada 3 jenis rawai yaitu Rawai Tuna, Rawai Hanyut dan Rawai Tetap.
Pancing (Hook and Lines)
15
Selain dari jenis alat tangkap, dan jenis kapal yang mempengaruhi hasil tangkap yang termaksud dalam faktor teknis, terdapat juga beberapa factor non teknis yang bisa mempengaruhi hasil tangkapan nelayan yaiut :
2.1.4 Cuaca dan Musim
16 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Data Dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari berbagai lembaga yang berhubungan dengan judul penelitian seperti Fishery and Aquaculture Statistics 2012, Badan Pusat Statistik Kota Bitung dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Bitung.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini berupa data sekunder selama 5 (lima) tahun yaitu dengan cara mendatangi instansi terkait (BPS Kota Bitung dan BAPPEDA Kota Bitung) untuk wawancara, mengambil dan mengumpulkan data sesuai dengan judul penelitian yang telah diolah oleh lembaga tersebut sebagai bahan dan referensi dari karya tulis ilmiah, selain itu juga mengunjungi situs-situs online yang terkait guna memperluas informasi dalam penulisan.
3.3 Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
17 BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan dan Hasil Penelitian
Seiring dengan perkembangan waktu dan informasi yang terus beredar dan juga dengan melihat adanya potensi yang begitu luar biasa dari sektor kelautan dan perikanan, maka terjadi peningkatan jumlah kapal dan proses transformasi jenis kapal penangkap ikan dari jenis tradisional ke modern yang berasal dari Kota Bitung.
Tabel 4.1 Banyaknya Perahu Penangkap Ikan Menurut jenis di Kota Bitung Tahun 2008-2012
TAHUN PERAHU
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bitung Tahun 2013
18 Tabel 4.2 Banyaknya Produksi Perikanan Laut di Kota Bitung
Tahun 2008-2012
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bitung Tahun 2013
Tabel 4.3 Banyaknya Nilai Produksi Perikanan Laut Di Kota Bitung Tahun 2008-2012
2008 845,110,815 1,605,050 3,774,580 - 850,490,445
2009 929,123,250 1,711,500 2,119,480 7,600 932,961,830 2010 1,209,886,829 1,943,940 3,105,450 30,800 1,214,967,019 2011 1,685,450,570 2,792,840 3,325,850 32,000 1,691,579,260 2012 1,696,129,945 2,563,300 3,286,200 36,000 1,692,015,445
2013 2,818,731,956 - 1,540,130 - 2,820,272,065
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bitung Tahun 2013
19
menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN, yang nantinya nelayan local akan bersaing dengan Negara lain yang berada di kawasan Asia Tenggara.
Tabel 4.4 Perkembangan Nilai Investasi Sektor IndustriMenurut Kelompok Industri Di Kota Bitung Tahun 2008-2012
(000 Rp)
INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH INDUSTRI AGRO,
2011 5.594,411 8.289.988 13.884.399
2012 18.650,950 75.102.000 93.752.950
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bitung Tahun 2013
Akibat dari proses transformasi ini, maka terdapat dampak yang cukup besar bagi sektor lain yang berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan di Kota Bitung.
20 BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Kota Bitung dapat dijadikan sebagai daerah utama produksi perikanan dan kelautan di wilayah Timur Indonesia, karena posisinya yang begitu strategis antara wilayah Indonesia, dan Negara-negara di Asia Pasifik, selain itu terdapat multiplayer effect
yang muncul akibat dari pemanfaatan sektor tersebut seperti meningkatnya investasi. Dengan investasi yang begitu tinggi, maka akan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja sehingga menurunkan angka pengangguran. Proses transformasi yang dilakukan ini, juga dianggap mampu menyaingi Negara-negara lain dari segi hasil tangkapan dan nantinya para pihak yang terlibat dalam usaha ini, mampu bersaing dengan Negara lain dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
5.2 Saran
21 Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Kota Bitung (2013)
Badan Pusat Statistik. (2013) Kota Bitung dalam angka.
Fauzi Akhmad. (2010). Ekonomi Perikanan. Teori, Kebijakan dan Pengelolaan. Edisi Pertama. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Fishery and Aquaculture Statistics (2012)
Ningsih dan Heri. (2009). Kajian Strategi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan. Deputi Bidang Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Hidup Direktorat Kelautan Dan Perikanan
22 Lampiran 1
Jenis-Jenis Alat Tangkap
Mini Trawl
Payang
Jaring Insang Hanyut (Drift Gill Nets)
23 Jaring Insang Tetap (Set Gill Nets)
Jaring Udang (Trammel Net)
24 Rawai (Drift Longline Other Tuna Long Lines)
Rawai Tuna
Rawai Hanyut
Rawai Tetap
Pancing (Hook and Lines)
Pancing Tonda