ARAHAN PENGEMBANGAN PARIWISATA
HERITAGE
MELALUI
BANGUNAN CAGAR BUDAYA DENGAN KONSEP
URBAN
ECOTOURISM
DI KOTA BANDUNG
Ahmad Rimba Dirgantara
(1), Heru Purboyo
(2), Arief Rosyidie
(3)(1)Magister Terapan Perencanaan Kepariwisataan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
(2)Terapan Perencanaan Kepariwisataan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
(3)Terapan Perencanaan Kepariwisataan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
Abstrak
Pariwisata heritage Pariwisata Kota Bandung yang cenderung mengikuti pasar, termasuk pariwisata heritage berakibat pada ketidaknyamanan warga masyarakat. Masalah yang timbul akibat dari aktivitas pariwisata, seperti kemacetan di titik-titik utama Kota Bandung dan juga polusi udara dan suara. Dampak negatif lainnya di Kota Bandung adalah terjadinya perubahan fungsi ruang sehingga tidak lagi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Untuk itu perlu adanya arahan pengembangan pariwisata heritage melalui bangunan cagar budaya dengan konsep
urban ecotourism (ekowisata perkotaan). Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan diversiikasi produk pariwisata di Kota Bandung, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi masyarakat Kota Bandung. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu analisis isi (content analysis) dan analisis deskriptif. Responden dalam penelitian ini adalah pemerintah dan pakar heritage. Ruang lingkup wilayah dalam penelitian ini yaitu kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika. Hasil dari penelitian, berdasarkan rumusan indikator arahan pengembangan pariwisata heritage
dengan konsep urban ecotourism, terdapat tujuh indikator yang menjadi kajian penelitian, yaitu; yakni: menikmati alam dan budaya, menjelaskan dan meningkatkan pemahaman mengenai lingkungan dan budaya lokal, memperkuat apresiasi dan dedikasi terhadap isu-isu konservasi secara umum, berkontribusi langsung terhadap pemeliharaan lingkungan, menyejahterakan penduduk lokal, pendapatan yang diperoleh dipergunakan untuk konservasi, dan melibatkan partisipasi penduduk lokal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsep urban ecotourism merupakan konsep ekowisata yang memungkinkan untuk diterapkan di kota, dengan tidak merusak ekosistem yang telah ada, berkontribusi pada upaya konservasi, dan menyejahterakan penduduk lokal. Tujuh indikator yang terdapat dalam urban ecotourism, semua masih dalam tahap menuju prosesperbaikan ke arah yang lebih baik
.
Kata-kunci : arahan pengembangan , pariwisata heritage, bangunan cagar budaya, konsep urban ecotourism
Pendahuluan
Pariwisata merupakan industri yang dinamis. UNWTO menyebutkan industri
Arahan Pengembangan Pariwisata Heritage Melalui Bangunan Cagar Budaya Dengan Konsep Urban Ecotourism di Kota Bandung
khusus, salah satunya adalah Pariwisata
Heritage (Pusaka/Warisan). Pariwisata
heritage adalah as that which “relies on living and built elements of culture and folkways of today, for they too are inheritances from the past; other immaterial heritage elements, such as music, dance, language, religion, foodways and cuisine, artistic traditions, and festivals; and material vestiges of the built and cultural environment, including monuments, historic public buildings and homes, farms, castles and cathedrals, museums, and archaeological ruins and relics” (Timothy and Nyaupane, 2009, p. 3–4). Pariwisata heritage Kota Bandung menjadi salah satu potensi pariwisata yang digagas oleh Pemerintah Kota Bandung selain wisata kuliner dan wisata belanja.Pariwisata heritage Kota Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara, khususnya bagi mereka yang mempunyai minat terhadap sejarah dan arsitektural bangunan. Hal tersebut ditunjang dengan promosi yang diberikan oleh Kemenparekraf, dimana 16 destinasi wisata yang dikembangkan sebagai tujuan
heritage salah satunya adalah Kota Bandung.
Dalam Peraturan Daerah No.1 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (PERDA RIPPARDA) Kota Bandung tahun 2012–2025, pembangunan kepariwisataan Kota Bandung diarahkan untuk mewujudkan visi “Kota Bandung sebagai Destinasi Pariwisata Perkotaan yang Kreatif, Berbudaya, dan Berakhlak Mulia”. Namun pada perkembangannya masih terdapat kendala atau permasalahan dalam mewujudkan Pariwisata Perkotaan Kota Bandung sebagaimana yang disebutkan dalam visi RIPPARDA di atas.
Perkembangan pariwisata Kota Bandung yang cenderung mengikuti permintaan pasar termasuk pariwisata heritage, berakibat pada ketidaknyamanan warga masyarakat. Dalam studi yang dilakukan oleh Adriani (2012) terdapat masalah yang timbul akibat dari aktivitas pariwisata, permasalahan seperti kemacetan di titik-titik utama Kota Bandung ataupun polusi udara. Dampak negatif lainnya di Kota Bandung adalah terjadinya perubahan fungsi ruang sehingga tidak lagi sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Arahan pengembangan diperlukan agar pengembangan pariwisata heritage Kota Bandung dapat sesuai dengan yang tertera dalam kebijakan pemerintah, baik itu dalam RIPPARDA dan RTRW Kota Bandung. Dua kebijakan pemerintah tersebut di dalamnya terdapat satu visi dan misi yang sama yaitu mengenai pembangunan kepariwisataan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan isik, sosial, dan budaya masyarakat kota; pembangunan kepariwisataan yang terintegrasi harus sinergis dengan pembangunan kota dan wilayah yang lebih luas; dan pembangunan kepariwisataan berbasis masyarakat.
Konsep ekowisata kota (urban ecotourism) dimaksudkan untuk memberikan arahan pengembangan pariwisata heritage
sebagai salah satu dari pariwisata yang diunggulkan oleh pariwisata Kota Bandung sehingga kegiatan pariwisata heritage
memberi dampak positif baik bagi lingkungan, social budaya dan ekonomi.
Ecotourism menurut Ceballos-Lascuráin (1987) adalah ‘travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the speciic objective of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in these areas’. Konsep ini tidak hanya terfokus pada lingkungan alam, namun bisa juga diterapkan pada ekosistem lain di sebuah kota, seperti bangunan dan kebudayaan lokal, seperti pada deinisi tersebut bahwa manifestasi budaya termasuk ke dalamnya. Penelitian ini bermaksud untuk memberikan arahan mengenai pengembangan pariwisata
heritage melalui bangunan cagar budaya dengan konsep urban ecotourism
(ekowisata perkotaan). Harapan penulis, penelitian ini dapat meningkatkan kualitas dan diversiikasi produk pariwisata di Kota Bandung, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi masyarakat Kota Bandung. Dengan sasaran yang akan dicapai yaitu Terumuskannya indikator dalam pengembangan pariwisata heritage
dengan konsep urban ecotourism;
berdasarkan konsep urban ecotourism; dan Terkajinya arahan pengembangan pariwisata heritage.
Metode
Metode pendekatan studi dalam penelitian ini ialah dengan metode kualitatif. Analisis data kualitatif dilakukan dengan mewawancarai para stakeholder yang terlibat, pada penelitian ini peneliti memilih stakeholder yang memiliki keterkaitan langsung dalam arahan pengembangan yaitu; pemerintah dan pakar heritage.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh melalui dua cara yaitu primer dan sekunder, sebagai berikut:
Data primer didapatkan melalui survei langsung langsung dengan melakukan observasi non partisipan, wawancara semistruktur terhadap stakeholder terkait yaitu pemerintah dan pakar heritage
melalui tehnik Non Probability Sampling
dengan cara purposives sampling, dimana sampel yang diambil berdasarkan pertimbangan subjektif dari peneliti dengan persyaratan tertentu (Rai Utama, 2012; Sugiono, 2010). Meskipun pertimbangan dilihat secara subjektif, namun penentuan kriteria tetap menjadi pertimbangan utama bagi peneliti. Kriteria pemilihan stakeholder yang dikemukakan oleh Schmeer (1999) dalam Fadalah (2012) yaitu:
1. Terlibat dalam proses
2. Mempunyai pengaruh dalam proses
3. Mempunyai kepentingan terkait implementasi konsep
4. Mempunyai posisi untuk mendukung atau melawan konsep 5. Memahami konsep
Pengumpulan data primer melalui observasi. Pada penelitian ini, observasi yang digunakan adalah partisipasi pasif (passive participation) yang merupakan subklasiikasi dari in participant observation. Partisipasi pasif yang dilakukan dengan mendatangi tempat penelitian namun tidak ikut terlibat dalam kegiatan di dalamnya (Rai Utama, 2012).
Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen perundang-undangan daerah mengenai pariwisata heritage, tinjauan literature yang berhubungan dengan konsep urban ecotourism, berita elektronik dan penelitian terdahulu yang berkorelasi dengan penelitian yang penulis lakukan.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah analisis isi (content analysis). Menurut Bauer (2000) dalam Marvasti (2004), content analysis involves “Systematic classiication and counting of text units [to] distill a large amount of material into a short description of some of its features‟. Pertimbangan penulis memilih metode ini karena karakteristik data dan informasi berupa dokumen-dokumen dan transkrip wawancara yang diperoleh memerlukan pemahaman interpretasi teks yang baik untuk dapat menentukan keluaran berupa interpretasi yang tepat dari data yang diperoleh. Arahan pengembangan pariwisata heritage melalui bangunan sejarah dianalisis berdasarkan pandangan dari pemerintah, dan pakar heritage yang diperoleh melalui wawancara.
Diskusi
Bangunan cagar budaya yang berada di kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika menjadi ruang lingkup yang difokuskan oleh penelitian ini. Dimana kawasan tersebut adalah tujuan dari wisatawan yang berkunjung di Kota Bandung, dan memiliki kekuatan hukum (peraturan daerah no 19 tahun 2009), juga memiliki nilai sejarah sehingga dapat berpotensi menjadi produk wisata urban ecotourism.
Arahan Pengembangan Pariwisata Heritage Melalui Bangunan Cagar Budaya Dengan Konsep Urban Ecotourism di Kota Bandung Jl Asia Afrika
sumber: http://wikimapia.org/.
Indikator yang dibahas merujuk pada komponen urban ecotourism yang diperoleh dari analisis isi tentang
ecotourism yang kemudian oleh penulis dijadikan suatu sintesis sehingga dapat diperoleh beberapa indikator urban ecotourism yang disajikan dalam bentuk sebagai berikut;
1. Indikator menikmati alam dan budaya
Indikator ini diperoleh dari sintesis teori para ahli mengenai ecotourism.
Indikator yang menjadi pembahasan yaitu menikmati alam dan budaya yang masuk ke dalam komponen berbasis alam (naturebased), aspek budaya yang dinilai pada indikator ini adalah bangunan cagar budaya, sedang alamnya sendiri adalah ekosistem yang berada di sekitar bangunan cagar budaya tersebut. Bangunan cagar budaya sebagai daya tarik pariwisata heritage harus dapat dinikmati oleh penduduk lokal dan juga wisatawan. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bangunan cagar budaya dapat dinikmati baik oleh wisatawan maupun oleh penduduk lokal, hal tersebut dikarenakan fungsi bangunan cagar budaya yang dipergunakan untuk aktivitas pemerintahan dan pertahanan. Jadi setiap wisatawan maupun penduduk lokal yang akan berwisata heritage ke bangunan cagar budaya yang memiliki fungsi tersebut terkadang memperlukan izin terlebih dahulu. Menurut pandangan pemerintah, pariwisata heritage
selama ini belum dapat optimal untuk dinikmati oleh wisatawan maupun penduduk lokal, karena informasi yang berkaitan dengan bangunan cagar budaya tidak tersedia dengan baik. 2. Indikator berkontribusi langsung
terhadap pemeliharan lingkungan
Gambar 2. Lingkungan sekitar Kawasan Jl Braga dan Jl Asia Afrika
Pemeliharaan lingkungan yang dimaksud adalah pariwisata heritage
melalui bangunan cagar budaya diharapkan mampu berkontribusi langsung terhadap pemeliharaan lingkungan sekitar dengan adanya kegiatan wisata heritage dampak negatif yang muncul seperti polusi udara dan suara juga kemacetan di sejumlah titik Kota Bandung berkurang, kegiatan wisata heritage
yang menfaatkan wisata secara berjalan kaki dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor penyebab dari polusi udara dan suara, juga kemacetan beberapa titik di Kota Bandung. Wisatawan diharapkan dapat lebih menghargai lingkungan (ekologi) di sekitar bangunan cagar budaya. Observasi lapangan menunjukkan terdapat beberapa manfaat dari pariwisata heritage,
pariwisata heritage yang merupakan
niche tourism (pariwisata minat khusus), memiliki manfaat secara langsung tidak mengganggu ekosistem lingkungan sekitar karena tujuannya yang jelas tentang apresiasi budaya mengenai bangunan cagar budaya.
Tingkat kebersihan juga menjadi pertimbangan penulis dalam indikator ini, kebersihan lingkungan merupakan faktor yang mendukung terwujudnya konsep urban ecotourism dalam pariwisata heritage.
Kebersihkan lingkungan sekitar bangunan cagar budaya, di kawasan jalan Braga dan Asia Afrika sudah memiliki fasilitas tempat pembuangan sampah yang baik.
Gambar 3.Lingkungan sekitar Kawasan Jl Braga dan Jl Asia Afrika
3. Indikator menyejahterakan penduduk local
Dari aspek ekonomi dengan indikatornya menyejahterakan penduduk lokal, maksudnya dimana tingkat penyerapan tenaga kerja dan aktivitas kepariwisataan khususnya pariwisata heritage di destinasi terhadap sumberdaya manusia pariwisata yang ada; keadilan distribusi pendapatan dari kegiatan kepariwisataan dan dampak penguatan pada masyarakat. Data yang diperoleh melalui survei angkatan kerja nasional 2012 diketahui bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja di Kota Bandung pada tahun 2012 adalah 63,14%. sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) tahun 2012 adalah 9,17%. jika dibandingkan dengan tahun 2010 maka TPT Kota Bandung turun sebesar 1,17% (1BPS, Kota
Bandung, 2013). Namun, angka tersebut belum bisa mewakili fakta yang terjadi di lapangan. Berdasarkan temuan di lapangan terhadap tokoh masyarakat sekitar kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika, menuturkan bahwa selama ini wisatawan yang datang ke bangunan cagar budaya kawasan jalan Braga hanya sekedar menikmati dan mengapreasiasi bangunan cagar budaya. Pakar heritage
menuturkan hal yang sama, ketika ia melakukan tour dengan beberapa mahasiswa dari hangtuah, tidak ada dari mereka
1
http://bandungkota.bps.go.id/publikasi/kota-bandungdalam-angka-2013
(mahasiswa) yang membeli
souvenir di kawasan jalan braga.
4. Indikator menggunakan
keuntungan yang diperoleh untuk konservasi
Berdasarkan wawancara penulis dengan pengelola Museum Konfrensi Asia Afrika, Bapak Thomas Siregar selaku Kepala Museum Konfrensi Asia Afrika. Beliau bertutur bahwa selama ini retribusi atau biaya masuk ke dalam museum tidak diadakan, sehingga wisatawan maupun penduduk lokal yang akan berkunjung ke Museum Konfrensi Asia Afrika dapat dengan mudah masuk tanpa dipungut biaya sepeser pun. Sedangkan mengenai pemeliharaan atau konservasi, anggaran yang diperoleh didapat dari Kementrian Luar Negeri, karena pengelolaan museum asia afrika dimiliki dua lembaga. Gedung Merdeka dikelola oleh Pemprov Jawa Barat sedangkan museum asia afrika oleh Kementrian Luar Negri. Jadi selama ini upaya konservasi dilakukan dengan anggaran yang didapat dari Kementrian Luar Negeri.
5. Indikator melibatkan partisipasi penduduk local
Melibatkan partisipasi penduduk lokal, maksudnya adalah kegiatan pariwisata heritage harus dapat melibatkan penduduk lokal baik itu dijadikan sebagai pemandu atau pun pegawai yang bertugas dalam pengelolaan bangunan cagar budaya. Berdasarkan wawancara di lapangan dengan pengelola bangunan cagar budaya di kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika, tidak ada partisipasi dari penduduk lokal dalam kegiatan pariwisata heritage, adapun penduduk lokal yang memiliki toko yang berada di kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika mengatakan hal serupa bahwa kegiatan seperti
Arahan Pengembangan Pariwisata Heritage Melalui Bangunan Cagar Budaya Dengan Konsep Urban Ecotourism di Kota Bandung
berjualan di depan toko mereka. Hasil temuan lapangan yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan tokoh masyarakat di kawasan jalan braga, bahwasannya tidak ada dari penduduk lokal yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, penyelenggaran event
sepenuhnya dikordinir oleh event organizer. Pedagang yang terdapat dalam event tersebut kebanyakan didatangkan dari luar. 6. Indikator menjelaskan dan
meningkatkan pemahaman mengenai lingkungan dan budaya local
Indikator yang dinilai adalah adanya informasi mengenai bangunan cagar budaya baik itu berupa pamlet dan rambu kawasan (signedge) yang menjelaskan kepada penduduk lokal maupun wisatawan mengenai keberadaan bangunan cagar budaya. Hal ini merupakan suatu keharusan bagi bangunan cagar budaya sehingga status dan informasi sejarah bangunan jelas. Temuan peneliti di lapangan menunjukkan tidak adanya papan informasi yang menjelaskan tentang informasi sejarah berdiri dan status bangunan cagar budaya. Menurut pandangan dari pakar heritage, bangunan cagar budaya yang menjadi daya tarik pariwisata heritage di Kota Bandung kebanyakan tidak memiliki informasi tertulis atau
signage. Sedangkan informasi secara lisan dapat dengan mudah diperoleh dari pemilik bangunan cagar budaya maupun komunitas
heritage. Sehingga informasi tentang bangunan cagar budaya terkadang sulit untuk didapat oleh wisatawan maupun penduduk lokal. Padahal informasi mengenai sejarah bangunan cagar budaya penting kiranya untuk wisatawan. 7. Indikator memperkuat apresiasi
dan dedikasi terhadap isu-isu konservasi secara umum.
Maksudnya ialah adanya kegiatan pariwisata heritage melalui bangunan cagar budaya,
penduduk setempat memiliki kecintaan terhadap budayanya sendiri, terutama bangunan cagar budaya sehingga upaya untuk melestarikan bangunan cagar budaya tumbuh dari masyarakat lokal itu sendiri. Disamping itu, terdapat dedikasi terhadap isu-isu konservasi secara umum didalamnya. Berdasarkan observasi penulis di lapangan menunjukkan bahwa rasa apresiasi dari penduduk lokal masih kurang terhadap bangunan cagar budaya, begitu juga dengan isu-isu konservasi, sebagian besar dilakukan oleh beberapa komunitas yang secara sukarela memberikan pemahaman kepada penduduk lokal mengenai pentingnya upaya koservasi. Berdasarkan wawancaran terhadap pemerintah, mereka mengklaim isu-isu mengenai konservasi telah di sosialisasikan oleh pemerintah terhadap masyarakat tentang penting konservasi lingkungan. Namun di lapangan beberapa masyarakat tidak mengetahui tentang adanya sosialisasi tentang isu-isu konservasi lingkungan.
Ketujuh indikator di atas dijadikan arahan pengembangan yang kemudian dijadikan rujukan untuk memilih bangunan cagar budaya yang berada di kawasan Jalan Braga dan Asia Afrika, ditambah dengan arahan pengembangan dari pandangan pemerintah dan pakar heritage. Berikut ini adalah rekomendasi yang dijadikan arahan untuk bangunan cagar budaya yang berpotensi menjadi daya tarik urban ecotourism sebagaimana yang tertera pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1 Rekomendasi bangunan cagar budaya dengan konsep urban ecotourism
Milik Pemerintah
Nama Bangunan
Konsep urban ecotourism
Arahan Pengembangan
•Kantor Pos •Pusat Koperasi
Arahan Pengembangan Pariwisata Heritage Melalui Bangunan Cagar Budaya Dengan Konsep Urban Ecotourism di Kota Bandung
Milik Swasta
isu konservasi bangunan cagar budaya yang mampu menjaga bangunanan tetap pada keasliannya.
Kesimpulan
Kondisi pariwisata Kota Bandung yang semakin berkembang menimbulkan beberapa dampak, di antaranya kemacetan di sejumlah titik pada saat liburan, polusi udara dan suara, dan peralihan tata guna lahan. Pariwisata
heritage melalui bangunan cagar budaya merupakan salah satu pariwisata yang menjadi unggulan dari pariwisata kota bandung, selain pariwisata kuliner dan belanja. Arahan pengembangan perlu dilakukan sehingga pariwisata heritage
dapat dijadikan sarana bagi penduduk lokal untuk mengapresiasi dan menikmati kota tempat tinggalnya, dan dapat mengurangi dampak pariwisata yang terjadi di Kota Bandung.
Konsep urban ecotourism adalah konsep ekowisata yang memungkinkan untuk diterapkan di kota, dengan tidak merusak ekosistem yang telah ada, berkontribusi pada upaya konservasi, dan menyejahterakan penduduk lokal. Dari hasil analisis penilitian terhadap konsep
urban ecotourism penulis mendapatkan indikator yang mempunyai pengaruh terhadap konsep tersebut, yakni: menikmati alam dan budaya, menjelaskan dan meningkatkan pemahaman mengenai lingkungan dan budaya lokal, memperkuat apresiasi dan dedikasi terhadap isu-isu konservasi secara umum, berkontribusi langsung terhadap pemeliharaan lingkungan, menyejahterakan penduduk lokal, pendapatan yang diperoleh dipergunakan untuk konservasi, dan melibatkan partisipasi penduduk lokal. Tujuh indikator yang terdapat dalam urban ecotourism, semua masih dalam tahap menuju proses perbaikan ke arah yang lebih baik. Berdasarkan indikator tersebut kawasan jalan Braga dan Asia Afrika berpontesi untuk menjadi produk urban ecotourism melalui bangunan cagar budaya yang terdapat di dalamnya. Untuk itu perlu dukungan dari stakeholder
(pemerintah, penduduk lokal, insane
pariwisata dan pakar-pakar pariwisata) yang terkait dengan pariwisata heritage
.
Daftar Pustaka
Dallen J, Timothy and Stephen W. Boyd. 2003. Heritage Tourism. Pearson Education Limited.
David L. Edgell, Sr , Maria DelMastro Allen , Ginger Smith , and Jason R. Swanson. 2008. Tourism Policy and Planning : Yesterday, Today and
Tomorrow. Elsevier. Oxford OX2 8DP, UK. DH, Harastoeti. 100 Bangunan Cagar
Budaya di Bandung. Bandung Society for Heritage Conservation, Kingdom of the Netherland.
Dimitrios Buhalis and Carlos Costa. 2006. Tourism Management Dynamics Trends, management and tools. Elsevier
Butterworth-Heinemann.
Fennell, David A.. 1999. Ecotourism : An Introduction. London, GBR: Routledge. _____________. 2002. Planning NatEcotourism Programme Planning
Cambridge, MA, USA: CABI Publishing.
Goeldner, Charles R. and Ritchie, J. R. Brent,. 2009. Tourism: Principles, Practices, Philosophies. Eleventh Edition. John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey.
Graeme Davison and Chris McConville. 1991. Heritage Handbook. Allen & Unwin. Australia.
Hutagalung, Ridwan dan Nugraha, Taufanny. 2008. Braga: Jantung Parijs Van Java. Ka Bandung, Depok.
I Gde Pitana, Prof.Dr., M.sc. dan I Ketut Surya Diarta, SP., MA. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Penerbit Andi.
I Gusti Bagus Rai Utama dan Ni Made Eka Mahadewi. 2012. Metodologi Penelitian: Pariwisata dan Perhotelan. Penerbit Andi Kreg Lindberg, Megan Epler Wood and
David Engeldrum. 1998. Ecotourism: A Guide for Planners and Manager. Volume 2. The Ecoutourism Society, North Bennington, Vermont.
Marvasti, Amir B. 2004. Qualitative Research in Sociology. SAGE Publication. London.
Nugroho, Iwan. 2011. Ekowisata Dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Patria, Teguh Amor. 2014. Telusur Bandung: Belanja Kuliner, Bangunan Histori, Objek Wisata Malam “Urban Legend”. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Spirou, Costas. 2011. Urban Tourism and Urban Change: Cities in a Global Economy. Routledge , New York and London.
Wardiyanta, Drs,. M.Hum. 2010. Metode Penelitian Pariwisata. Penerbit Andi, Yogyakarta.