• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Kebijakan Tax Amnesty dan Suns

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Kebijakan Tax Amnesty dan Suns"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Penerapan Kebijakan Tax Amnesty dan

Sunset Policy dalam Rangka

Meningkatkan Penerimaan

Pajak 2015

Oleh:

Alexander Arif C ( 3203012189 ) Kelas A

Universitas Katolik Widya Mandala

Jl. Dinoyo 42-44, Surabaya

Fakultas Bisnis

Jurusan Akuntansi

Semester Ganjil

(2)
(3)

Abstraksi

Tingginya target penerimaan pajak untuk Tahun 2015 ini yakni sebesar Rp. 1.294,258 Triliun membuat Aparatur Direktorat Jenderal Pajak harus bekerja keras untuk tercapainya target tersebut. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan oleh lembaga yang kini dipimpin oleh Sigit Priadi Pramudito. Salah satunya kebijakan akan diberlakukannya Tax Amnesty dan Sunset Policy 2015 bagi para subyek pajak yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar sebagai wajib pajak.

Dua kebijakan tersebut merupakan alat bagi Direktorat Jenderal Pajak agar dapat tercapainya target penerimaan pajak pada tahun 2015. Selain itu kebijakan – kebijakan tersebut merupakan bagian daripada Program Pembinaan bagi Wajib Pajak yang diselenggarakan pada tahun ini dengan motto Reach the Unreachable, Touch the Untaouchable.

Kata kunci : Tingginya Target Penerimaan Pajak, Tax Amnesty, Sunset Policy, dan Program Pembinaan bagi Wajib Pajak 2015.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

(4)

sedangkan hingga bulan Juli 2015 realisasi penerimaan pajak telah mencapai 41,04% atau sebesar Rp. 531,114 Triliun. Artinya masih kurang Rp. 763,144 Trilliun atau 58.96 % untuk batas waktu selama 5 bulan.

Pada tahun 2015 ini berdasarkan program yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia merupakan Tahun Pembinaan Pajak bagi Wajib Pajak dengan motto Reach the Unreachable, Touch the Untouchable maka Dirjen Pajak mencanangkan program Tax Amnesty dan Sunset Policy bagi para wajib pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak jangka pendek yakni pada tahun 2015 dengan cara menarik dana para wajib pajak yang “terparkir” di luar negeri dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak di masa yang akan dating. Dengan adanya pengampunan bagi wajib pajak berupa penghapusan denda dan sanksi administrasi perpajakan maka diharapkan para wajib pajak diharapakan dapat dengan sukarela ikut berpartisipasi dalam program tersebut. Dengan adanya program tersebut maka jumlah wajib pajak yang terdaftar dan memperoleh NPWP sebagai identitas untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan dapat meningkat. Berdasarkan data pada tahun 2014, jumlah penduduk Indonesia yang memiliki penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) ada sebanyak 44,8 juta orang. Namun demikian, baru 26,8 juta orang di antaranya yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak. Dari jumlah tersebut, hanya 10,3 juta Wajib Pajak yang menyampaikan SPT. Hal serupa juga terjadi dengan Wajib Pajak Badan. Dari 1,2 juta perusahaan yang terdaftar sebagai Wajib Pajak Badan, hanya sekitar 45,8 persen atau 550 ribu perusahaan yang menyampaikan SPT.

(5)

Rumusan Masalah

1. Mengapa Indonesia perlu menerapakan kebijakan Tax Amnesty dan Sunset Policy untuk meningkatkan penerimaan pajak pada tahun 2015 ?

2. Bagaimanakah penerapan Tax Amnesty dan Sunset Policy yang telah dilaksanakan selama di Indonesia ?

3. Mengapa penerapan kebijakan Tax Amnesty dan Sunset Policy dapat menemui kegagalan ?

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui seberapa pentingnya penerapan kebijakan Tax Amnesty dan Sunset Policy untuk meningkatkan penerimaan pajak tahun 2015.

2. Mengetahui sejauh mana realisasi penerimaan pajak tahun 2015 hingga saat ini.

3. Mengetahui penerapan Tax Amnesty dan Sunset Policy yang pernah dilaksanakan di Indonesia.

4. Mengetahui kebijakan – kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dalam melaksanakan program Tax Amnesty dan Sunset Policy pada Tahun Pembinaan Wajib Pajak pada tahun 2015 ini.

(6)

Tinjauan Pustaka

Definisi Pajak

Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH

Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.

Fungsi pajak

Beberapa jenis fungsi pajak antara lain:

1. Fungsi anggaran (budgetair) sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara.

2. Fungsi mengatur (regulerend), pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

3. Fungsi stabilitas, dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan,

4. Fungsi redistribusi pendapatan, pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan.

Asas Pemungutan Pajak

Menurut Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations dengan ajaran yang terkenal "The Four Maxims", asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut:

(7)

3. Asas Convinience of Payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan)

4. Asas Efficiency (asas efisien atau asas ekonomis)

Asas Pengenaan Pajak

1. Asas domisili atau disebut juga asas kependudukan. 2. Asas sumber. Pajak yang menyimpan dananya di luar negeri dan tidak mematuhi kewajibannya dalam membayar pajak.

Jenis Amnesti Pajak

Menurut literatur, sekurangnya terdapat empat jenis amnesti pajak.

 Yang pertama adalah amnesti yang tetap mewajibkan pembayaran pokok pajak, termasuk bunga dan dendanya, dan hanya mengampuni sanksi pidana perpajakan.Tujuannya adalah untuk memungut pajak tahun-tahun sebelumnya, sekaligus menambah jumlah wajib pajak terdaftar.

 Yang kedua yang sedikit longgar adalah amnesti yang mewajibkan pembayaran pokok pajak masa lalu yang terutang berikut bunganya, namun mengampuni sanksi denda dan sanksi pidana pajaknya.

 Bentuk ketiga yang lebih longgar adalah amnesti yang tetap mewajibkan pembayaran pokok pajak yang lama, namun mengampuni sanksi bunga, sanksi denda, dan sanksi pidana pajaknya.

(8)

Tujuan Pemberian Tax Amnesty

a. Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek. Peningkatan penerimaan pajak dari program tax amnesty hanya akan terjadi selama program tax amnesty dilaksanakan mengingat wajib pajak bisa saja kembali kepada perilaku ketidapatuhannya setelah program tax amnesty berakhir.

b. Meningkatkan kepatuhan pajak di masa yang akan datang. Hal ini didasari pada harapan bahwa setelah program tax amnesty dilakukan wajib pajak yang sebelumnya belum menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan akan masuk menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan. Dengan menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan, maka wajib pajak tersebut tidak akan bisa mengelak dan menghindar dari kewajiban perpajakannya.

c. Mendorong repatriasi modal atau asset. Dalam konteks pelaporan data harta kekayaan tersebut, pemberian tax amnesty juga bertujuan untuk mengembalikan modal yang parkir di luar negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir di luar negeri tersebut karena akan memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang data kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.

d. Transisi ke sistem perpajakan yang baru. Dalam konteks ini, tax amnesty menjadi instrumen dalam rangka memfasilitasi reformasi perpajakan dan sebagai kompensasi atas penerimaan pajak yang berpotensi hilang dari transisi ke sistem perpajakan yang baru tersebut.

Karakteristik Tax Amnesty

(9)

1) Durasi. Secara umum, program tax amnesty berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu, dan umumnya berjalan selama 2 bulan hingga 1 tahun. Untuk mendukung berhasilnya program tax amnesty, hal yang perlu ditekankan adalah luasnya publisitas dan promosi program tax amnesty serta tersampaikannya pesan bahwa wajib pajak hanya memiliki kesempatan sekali ini saja untuk memperoleh pengampunan atas pajak yang terutang, bunga, dan/atau sanksi administrasi.

2) Kelompok wajib pajak. Secara umum, setiap wajib pajak yang belum menunaikan kewajiban perpajakannya diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam program tax amnesty. Artinya, program tax amnesty ini ditujukan kepada wajib pajak yang telah berada dalam sistem administrasi perpajakan dan wajib pajak yang belum masuk dalam sistem administrasi perpajakan.

3) Jenis pajak dan jumlah pajak atau sanksi administrasi yang diberikan ampunan. Ketentuan tentang tax amnesty harus menspesifikasi pajak apa saja yang diberikan ampunan. Pada umumnya, pajak yang diberikan ampunan hanya bersumber dari satu jenis pajak atau satu kategori subjek pajak saja misalnya tax amnesty hanya diberikan pada pajak penghasilan orang pribadi saja tidak termasuk pajak penghasilan badan, atau program tax amnesty hanya dikhususkan kepada pajak bumi dan bangunan saja.

Definisi Sunset Policy

(10)

diatur dalam Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007).

Berdasarkan Sunset Policy yang telah diberlakukan di Indonesia pada tahun 2008, maka pada saat itu yang dapat memanfaatkan Sunset Policy adalah:

 Orang Pribadi yang belum memiliki Momor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang dalam tahun 2008 secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2007 dan tahun-tahun pajak sebelumnya paling lambat 31 Maret 2009.

 Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang telah memiliki NPWP seklum tahun 2008, yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan tahun-tahun pajak sebelumnya untuk melaporkan penghasilan yang belum diperhitungkan dalam pelaporan SPT Tahunan PPh yang telah disampaikan.

Pembahasan

(11)

Kebutuhan Tax Amnesty di Indonesia

(12)

atau saat ini setara dengan Rp 22,5 triliun. Selain itu, Publikasi di media ini harus menekankan rencana-rencana otoritas pajak setelah program tax amnesty, misalnya peningkatan pemeriksaan pajak setelah program tax amnesty berakhir. Meskipun peningkatan pemeriksaan akan berdampak pada peningkatan biaya administrasi, namun hal ini merupakan cara termurah untuk membuat jera tax evaders. Hal ini juga dapat disebabkan setelah program tax amnesty berakhir,tax evaders mungkin saja kembali ke tindakan mereka menggelapkan pajak. Peningkatan pengawasan kewajiban perpajakan setelah program tax amnesty merupakan kunci dari suksesnya program tax amnesty. Untuk itu, otoritas pajak sebaiknya menyampaikan pesan kepada para tax evaders bahwa mereka tidak akan menerima ketidakpatuhan tax evaders tersebut di masa yang akan datang. Selain Sunset Policy, Indonesia juga pernah mengeluarkan program pengampunan pajak yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1984 tanggal 18 April 1984. Pengampunan pajak ini diberikan kepada Wajib Pajak orang pribadi atau badan dengan nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak diberi kesempatan untuk mendapatkan pengampunan pajak. Pengampunan pajak tersebut diberikan atas pajak-pajak yang belum pernah atau belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun bentuk pengampunannya dikenakan tebusan dengan tarif:

1. 1% (satupersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya Keputusan Presiden ini telah memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984;

(13)

Sejarah Penerapan Sunset Policy di Indonesia

Pemerintah RI pertama kali menerapkan kebijakan sunset policy pada tahun 2008 dan hanya berlaku selama satu tahun yaitu mulai berlaku dari 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2008.Pada tahun 2015 ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan kembali menerapkan sunset policy jilid II dengan penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Saat ini program tax amnesty yang sudah berjalan adalah penghapusan sanksi administrasi bunga, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.03/2015 tertanggal 13 Februari 2015.

Penerapan Sunset Policy pada tahun 2008 dan perbedaannya dengan Tahun Pembinaan Wajib Pajak yang dilaksanakan pada tahun 2015.

Secara umum, kedua kebijakan ini memiliki tujuan akhir yang sama, yakni menghapuskan sanksi administrasi bagi Wajib Pajak yang terlambat menyampaikan SPT Tahunan atau pembetulan SPT Tahunan. Namun demikian, terdapat perbedaan yang mendasar atas kedua kebijakan tersebut, dimana kebijakan Sunset Policy 2008 dilandasi pasal 37 A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Meski sudah diatur secara detil pada UU KUP, namun kebijakan ini juga diperkuat melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.03/2008.

Sunset Policy 2008 sebenarnya memiliki keterbatasan seperti: 1. Insentif hanya diberikan atas PPh.

2. Insentif hanya diberikan jika Wajib Pajak menyampaikan pembetulan SPT tahun pajak sebelum 2007.

3. Khusus Wajib Pajak Orang Pribadi yang belum terdaftar.

(14)

perpajakan. Karena sifatnya yang diatur secara terbuka melalui UU KUP, dibutuhkan ketentuan yang lebih rinci mengatur kebijakan tersebut, yakni melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.03/2015 serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.03/2015.

Karena sifatnya yang lebih terbuka dalam UU KUP, maka TPWP 2015 memiliki kelebihan seperti:

1. Insentif diberikan kepada seluruh jenis pajak.

2. Insentif diberikan kepada Wajib Pajak yang menyampaikan SPT pertama kalinya atau SPT pembetulan.

3. Insentif diberikan atas keterlambatan pembayaran maupun keterlambatan pelaporan SPT yang dilakukan di tahun 2015.

Secara umum, perbedaan mendasar antara kedua kebijakan tersebut dapat dilihat pada infografis di bawah ini.

Realisasi Penerimaan Pajak pada tahun 2015 hingga akhir Juli 2015

(15)

pajak di tahun 2015 ini mengalami pertumbuhan yang cukup baik di sektor tertentu, namun juga mengalami penurunan pertumbuhan di sektor lainnya.Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Non Migas, sebagai satu-satunya sektor yang bertumbuh, mencatatkan pertumbuhan 13,55% dibandingkan periode yang sama di tahun 2014. Berdasarkan data yang tercatat pada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sampai dengan 31 Juli 2015, penerimaan PPh Non Migas adalah sebesar Rp 293,521 triliun. Angka ini lebih tinggi 13,55% dibandingkan periode yang sama di tahun 2014 dimana PPh Non Migas tercatat sebesar Rp 258,486 triliun. Sedangkan pertumbuhan yang dicatatkan oleh PPh Non Migas diantaranya didukung oleh pertumbuhan PPh Non Migas Lainnya, PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi, PPh Pasal 25/29 Badan, PPh PPh Final, PPh Pasal 21, PPh Pasal 26, serta PPh Pasal 23.

Pemerintah Siapkan Kebijakan Penghapusan Sanksi Pajak

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) tentang Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Sebagai Akibat dari Keterlambatan Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT), Pembetulan SPT, dan Keterlambatan Pembayaran atau Penyetoran Pajak untuk diusulkan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan sebagai Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Jenis SPT yang dapat dilaporkan dan dibetulkan dalam RPMK itu adalah SPT Tahunan PPh Badan, SPT Tahunan PPh Orang Pribadi, SPT Masa PPh, SPT Masa PPN dan SPT Masa PPN bagi Pemungut PPN.

RPMK tersebut mengacu pada Pasal 36 ayat (1) huruf a Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Sanksi Administrasi yang dimaksud dalam RPMK tersebut terbatas atas sanksi administrasi yang dikenakan sebagai akibat dari:

(16)

2. Keterlambatan pembayaran atau penyetoran atas kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2013 dan sebelumnya;

3. Keterlambatan pembayaran atau penyetoran atas kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Masa untuk Masa Pajak Desember 2014 dan sebelumnya;

4. Pembetulan yang dilakukan oleh wajib pajak atas SPT Tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2013 dan sebelumnya dan/atau SPT Masa untuk Masa Pajak Desember 2014 dan sebelumnya;

Efektivitas Penerapan Tax Amnesty dan Sunset Policy untuk Meningkatkan Penerimaan Pajak.

Keberhasilan Penerapan kebijakan Tax Amnesty dan Sunset Policy oleh Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak bergantung pada beberapa hal agar penerapan kebijakan tersebut dapat berhasil dan memberikan kontribusi yang positif dalam penerimaan pajak Negara dan administrasi perpajakan. Hal – hal tersebut diantaranya :

 Seberapa cepat dan menyakinkannya otoritas pajak dalam menjalankan progam tersebut. Dengan kata lain, program tax amnesty akan efektif apabila dilakukan secara mendadak dan tidak dapat diantisipasi oleh wajib pajak. Sebagai ilustrasi, jika program ini sudah diketahui misal 1 tahun sebelum diluncurkan, maka terdapat kecenderungan dari wajib pajak untuk tidak patuh karena menunggu akan pengampunan.

(17)

pemeriksaan pajak), kepemimpinan politik, serta kebijakan dan peraturan pemerintah.

 Kebijakan tax amnesty jika dilakukan secara periodik bisa membuat orang tidak membayar pajak karena berharap ada pengampunan pada masa mendatang. Penerapan kebijakan pengampunan harus merujuk pada alasan-alasan yang benar dan ditopang pengawasan yang baik. Maka Direktorat Jenderal Pajak harus memiliki data lengkap siapa saja yang layak diampuni dan data perpajakan mereka.

 Penegakan hukum tegas harus dijalankan. Maksudnya Tax amnesty harus dibarengi dengan penegakan hukum yang tegas yang berarti adanya paying hokum yang jelas misalnya dengan penerbitan Undang - Undang atau Peraturan Pemerintah.

Selain hal – hal tersebut ada beberapa factor utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah untuk mendukung keberhasilan dilaksanakannya program Tax Amnesty dan Sunset Policy untuk meningkatkan penerimaan pajak, diantaranya :

1. Adanya dasar hukum untuk pelaksanaan dua kebijakan tersebut. 2. Dibutuhkan revisi UU Ketentuan Umum Perpajakan.

3. Adanya dukungan kuat dari lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

(18)

5. Aparatur Direktorat Jenderal Pajak memiliki akses terhadap sistem perbankan di seluruh Bank – Bank baik negeri maupun Swasta di Indonesia.

(19)

Kesimpulan dan Saran

(20)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH dan

PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, kami sebagai mahasiswa Unika Widya Mandala Surabaya :

Kami yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Alexander Arif Christian Siswanto

NRP : 3203012189

Judul Paper : Penerapan Kebijakan Tax Amnesty dan Sunset Policy dalam Rangka Meningkatkan Penerimaan Pajak 2015

Menyatakan bahwa tugas paper 1 ini adalah ASLI karya tulis kami. Apabila terbukti karya ini merupakan plagiarism, kami bersedia menerima sanksi yang akan diberikan oleh Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kami menyetujui pula bahwa karya tulis ini dipublikasikan/ ditampilkan di internet atau media lain ( digital library Perpustakaan Unika Widya Mandala Surabaya ) untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang – Undang Hak Cipta.

Demikian pernyataan keaslian dan persetujuan publikasi karya ilmiah ini kami buat dengan sebenarnya.

Surabaya,10 Oktober 2015

Yang menyatakan,

(21)

Daftar Pustaka

Wardiyanto, Bintoro, 2010, Kebijakan Pengampunan Pajak ( Tax Amensty ), Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik, Volume 21, Nomor 4:328 – 335.

Ragimun, Analisis Implementasi Pengampunan Pajak ( Tax Amnesty ) di Indonesia, (http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php? option=com_content&view=article&id=114:kebijakan-pengampunan-pajak-tax-amnesty&catid=34:mkp&Itemid=61, diunduh 20 Mei 2015).

Darussalam, Danny, 2014, Tax Amnesty Dalam Rangka Rekonsiliasi Nasional, Inside Tax, Edisi 26, Desember 2014.

B. Bawono Kristiaji, Toni Febriyanto, danYanuar F. Abiyunus, “Memahami Ketidakpatuhan Pajak”, Inside Tax Edisi 14 (2013).

Silitonga, Erwin : Ekonomi Bawah Tanah Dan Pengaruhnya Terhadap Perpajakan, ( unpublished), National Talk Show 2005, Universitas Padjadjaran, Bandung, 1 April, 2005.

Alm, James, McKee, Michael, and Beck, William:Amazing Grace : Tax Amnesties and Compliances, National Tax Journal, Vol.43, N o.1, March 1990, pp.23-37.

Joint Committee on Taxation : Tax Amnesty, 105th Congress, 2nd session :Januari 30,1998. US Government Printing

Office,Washington,1998.

Kellner, Martin : Tax Amnesty 2004/2005: An Appropriate Revenue Tool? German Law Journal,Volume 5, No.4, 1 April 2004.

(22)

Santoso, Urip & Justina, Setiawan. Tax amnesty dan Pelaksanaanya di Beberapa Negara : Perspektif Bagi Pebisnis Indonesia, Kopertis, Volume 11 No. 2 Juli 2009.

Silitonga, Erwin, Makalah berjudul: Ekonomi bawah Tanah, Pengampunan Pajak dan Referandum, 2006.

www.wikipedia.org

Referensi

Dokumen terkait

Tax amnesty merupakan program pemerintah yang berisikan tentang pengampunan pajak terhadap wajib pajak yang belum melaporkan harta dan hutang maupun pengampunan

Meskipun Tax amnesty atau amnesti pajak merupakan kebijakan yang dapat digunakan untuk mendorong atau meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan perekonomian

Lagi-lagi, dikaitkan dengan tipe-tipe perilaku kepatuhan diatas, program tax amnesty jelas mengakomodir wajib pajak yang mungkin karena ketidaktahuan atau alasan lain

Menurut UU Tax Amnesty No 11 tahun 2016 Pengampunan Pajak ( Tax Amnesty ) adalah pengampunan atau pengurangan pajak terhadap property yang dimiliki oleh perusahaan

Hasil ini menggambarkan bahwa justru Tax Amnesty (TA) memiliki pe- ngaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan kepatuhan wajib pajak. Penerapan Tax Amnesty

Hubungan tax amnesty dengan penerimaan pajak bahwa mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ngadiman dan Huslin (2015) yang menunjukkan bahwa tax amnesty

Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Dhila (2018) yang menyatakan bahwa kesadaran wajib pajak memediasi pengaruh tax amnesty terhadap kemauan mengikuti program tax

Hubungan tax amnesty dengan penerimaan pajak bahwa mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ngadiman dan Huslin (2015) yang menunjukkan bahwa tax amnesty