• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan Pasien Mengenai Tangible Bukti (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tanggapan Pasien Mengenai Tangible Bukti (1)"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pelayanan publik merupakan tanggungjawab pemerintah dan

dilaksanakan oleh instansi pemerintah, baik itu di pusat, di Daerah, dan

dilingkungan Badan Usaha Milik Negara. Pelayanan publik berbentuk

pelayanan barang publik maupun pelayanan jasa.

Dewasa ini Masyarakat semakin terbuka dalam memberikan kritik

bagi pelayanan publik. Oleh sebab itu substansi administrasi sangat berperan

dalam mengatur dan mengarahkan seluruh kegiatan organisasi pelayanan

dalam mencapai tujuan.

Salah satu bentuk pelayanan publik yang dilaksanakan oleh

pemerintah adalah pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Reformasi

dibidang kesehatan dilaksanakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan

dan menjadikannya lebih efisien, efektif serta dapat dijangkau oleh seluruh

lapisan masyarakat. Seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia No. 951/Menkes/SK/VI/2000 yaitu bahwa

“tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud

derajat kesehatan masyarakat yang optimal”.

Dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan keadaan sosial

dalam masyarakat maka, meningkat pula kesadaran akan arti hidup sehat

dan keadaaan tersebut menyebabkan tuntutan masyarakat akan pelayanan

(2)

tinggi. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah pada Bab IV pasal 11 ayat (2) ditetapkan bahwa

bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan

Daerah Kota adalah pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan

kebudayaan, pertanian, perhubungan, industry dan perdagangan,

penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga

kerja. Berdasarkan undang-undang tersebut, bidang kesehatan menempati

urutan kedua (setelah bidang pekerjaan umum) dari bidang pemerintahan

yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten dan kota. Ini

berarti bahwa dalam rangka Otonomi Daerah, Pemerintah Kabupaten dan

Pemerintah Kota bertanggung jawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan

pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

di wilayahnya, dengan memberikan pelayanan yang memuaskan.

Adapaun proses pelayanan kesehatan dan kualitas pelayanan

berkaitan dengan ketersediaan sarana kesehatan yang terdiri dari pelayanan

kesehatan dasar (Puskesmas, Balai Pengobatan), pelayanan rujukan (rumah

sakit), ketersediaan tenaga kesehatan, peralatan dan obat-obatan.

Kinerja pelayanan menyangkut hasil pekerjaan, kecepatan kerja,

pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan harapan pelanngan, dan ketepatan

waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat

akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan Rumah Sakit dan Pusat

(3)

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di

suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas berfungsi sebagai :

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan .

2. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Namun, sampai saat ini usaha pemerintah dalam memenuhi

kebutuhan masyarakat akan kesehatan masih belum dapat memenuhi

harapan masyarakat. Banyak anggota masyarakat yang mengeluh dan

merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas milik

pemerintah ini baik itu dari segi pemeriksaan yang kurang diperhatikan oleh

petugas kesehatan, lama waktu pelayanan, keterampilan petugas,

sarana/fasilitas, serta waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan.

Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) sebagai salah satu

sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat

peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu Puskesmas

dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu yang memuaskan bagi

pasiennya sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau

seluruh lapisan masyarakatnya.

Salah satu keluhan yang sering terdengar dari masyarakat yang

berhubungan dengan aparatur pemerintah adalah selain berbelit–belit akibat birokrasi yang kaku, perilaku oknum aparatur yang kadang kala kurang

bersahabat, juga kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan dalam hal ini

ketepatan waktu dalam memberikan pelayanan, kuantitas dan kualitas

(4)

Rendahnya kinerja pelayanan akan membangun citra buruk pada

Puskesmas, dimana pasien yang merasa tidak puas akan menceritakan

kepada rekan-rekannya. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja

pelayanan yang diberikan akan menjadi nilai plus bagi Puskesmas, dalam hal

ini pasien akan merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh

Puskesmas.

Puskesmas dapat mengetahui kinerja pelayanan dari para pasien

melalui umpan balik yang diberikan pasien kepada Puskesmas tersebut

sehingga dapat menjadi masukan untuk peningkatan kinerja pelayanan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Sudiro (2001) di

beberapa Puskesmas di daerah Jakarta diketahui bahwa pada umumnya

pasien mengeluh dengan antrian pada saat pengurusan administrasi yang

mampu mencapai 15 sampai 20 menit. Hal ini merupakan salah satu

penyebab rendahnya jumlah kunjungan di Puskesmas.

Hasil poling pendapat pusat informasi Departemen Kesehatan

Jakarta (Tahun 2000), diketahui bahwa salah satu faktor yang paling sering

dikeluhkan oleh pasien adalah lambatnya petugas dalam memberikan

pelayanan kesehatan, baik itu pada saat pasien mendaftar di loket sampai

dengan pemeriksaan dan pengambilan resep. Hasil pemantauan Pusat

Informasi Kesehatan (PIK) diketahui bahwa untuk satu orang pasien di

Puskesmas dibutuhkan waktu tunggu di loket 10 menit, di ruang periksa 15

sampai 20 menit dan ditempat resep biasa mencapai 15 menit, jadi untuk

(5)

memuaskan bagi pasien melalui upaya kesehatan perlu adanya pelayanan

yang baik yang diberikan oleh pegawai oleh sebab itu dituntut kinerja yang

tinggi dari pegawai. Kinerja pelayanan pada Puskesmas Batua masih belum

sesuai dengan keinginan masyarakat karena masih seringnya terdengar

keluhan pasien maupun keluarganya dimana masih seringnya pegawai

Puskesmas yang lambat dalam memberikan pelayanan, pasien sering

menunggu lama untuk mendapatkan giliran dilayanani oleh pegawai. Oleh

karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan memilih judul

“Analisis Kinerja Pelayanan pada Puskemas Batua Makassar”.

I.2 Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan

yang akan dibahas yaitu Bagaimana Kinerja Pelayanan Puskesmas Batua

dilihat dari segi Kuantitas, Kualitas, dan Ketepatan Waktu.

I.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan yang ada, tujuan penelitian

ini yaitu untuk menggambarkan kinerja pelayanan Puskesmas Batua

Makassar, baik dari segi kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu

(6)

I.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini mengarah kepada aspek berikut :

1. Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi civitas

akademik mengenai tingkat kinerja pelayanan pada Puskesmas Batua

Makassar.

2. Praktis

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan

masukan kepada pelayan publik dalam hal ini pihak manajemen

organisasi atau perusahaan tentang pandangan masyarakat terhadap

kinerja pelayanan selama ini sehingga pelayan publik dapat memperbaiki

atau meningkatkan kinerja pelayanan sesuai dengan harapan

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Landasan Teori II.1.1. Konsep Analisis

Pengertian analisis dalam kamus Bahasa Indonesia (1990 : 32)

adalah :

Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perbuatan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab) dimana penguraian suatu pokok atau berbagai bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti secara keseluruhan.

Soejadi (1997 : 107) mendefinisikan analisis sebagai berikut :

Analisis adalah rangkaian kegiatan pemikiran yang logis, rasional, sistematis dan objektif dengan menerapkan metodologi atau teknik ilmu pengetahuan, untuk melakukan pengkajian, penelaahan, penguraian, perincian, pemecahan terhadap suatu objek atau sasaran sebagai salah satu kebulatan komponen yang utuh kedalam sub komponen–sub komponen yang lebih kecil.

The Liang Gie (1989 : 26) mengemukakan pengertian analisis

sebagai berikut :

Analisis adalah segenap rangkaian perubahan pikiran yang menelaah sesuatu secara mendalam terutama mempelajari bagian-bagian dari suatu kebulatan untuk mengetahui ciri- ciri masing–masing bagian, hubungannya satu sama lain dan peranannya dalam keseluruhan yang bulat itu.

Di bidang Administrasi analisis yang dilakukan itu tergolong dalam

pengertian logical analysis (analisis dengan pikiran menurut logika) untuk

dibedakan dengan analisis dalam ilmu alam atau kimia (physycal atau

(8)

Selanjutnya Komaruddin (1994 : 31) mengemukakan pengertian

analisis sebagai berkut :

Analisis adalah kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen, sehingga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama lain dan fungsi masing-masing dalam suatu keseluruhan.

Dari pengertian di atas, maka analisis menyangkut beberapa

unsur pokok antara lain sebagai berikut :

1. Analisis merupakan suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan yang

didasari pikiran yang logis mengenai suatu hal yang ingin diketahui.

2. Mempelajari bagian pembagian secara rinci dan cermat sehingga

apa yang ingin diketahui menjadi gambaran yang utuh dan jelas.

3. Ada tujuan yang ingin dicapai yaitu pemahaman yang tepat

terhadap sebuah objek kajian.

Menurut Handoko (2000 : 24) analisis secara sistematik adalah

mengumpulkan, mengevaluasi dan mengorganisasi informasi tentang

sesuatu pekerjaan-pekerjaan.

II.1.2. Konsep Kinerja

Secara etimologi, kata kinerja berarti suatu yang hendak dicapai,

prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja. Dalam Dictionary

Contemporary English Indonesia, istilah kinerja digunakan bila seseorang

menjalankan suatu proses dengan terampil sesuai dengan prosedur dan

(9)

Kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan individu, kelompok, maupun organisasi. Kinerja selalu merupakan tanda keberhasilan suatu organisasi dan orang-orang yag ada dalam organisasi tersebut.

Kinerja dapat dilihat dari berbagai sudut pandang tergantung

kepada tujuan masing-masing organisasi misalnya untuk profit ataukah

untuk customer satisfaction, dan juga tergantung pada bentuk organisasi

itu sendiri (misalnya organisasi publik, swasta, bisnis, sosial dan

keagamaan).

Samsudin (2005:159) menyebutkan bahwa:

Kinerja adalah tingkat pelaksanaan tugas yang dapat dicapai seseorang, unit atau divisi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan.

Sementara menurut Sedarmayanti (2001:50) bahwa: “Kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti prestasi kerja,

pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja atau penampilan kerja”.

Menurut Gomes (1999 : 159-160), kinerja sering dihubungkan

dengan tingkat produktivitas yang menunjukkan resiko input dan output

dalam organisasi. Kinerja bahkan dapat dilihat dari sudut performansi

dengan memberikan penekanan pada nilai efisiensi yang dikaitkan

dengan kualitas output yang dihasilkan oleh para pegawai berdasarkan

beberapa standar yang telah ditetapkan sebelumnya oleh organisasi yang

bersangkutan.

Adapun definisi kinerja menurut Dharma (1991 : 1) “kinerja atau prestsi kerja adalah suatu yang dihasilkan atau produk atau jasa yang

(10)

Untuk dapat melakukan penilaian terhadap efektivitas atau kinerja ini,

Gibson dkk (1990 : 11) menyatakan bahwa “Penilaian yang kita buat sesuai dengan prestasi individu, kelompok dan organisasi makin dekat

mereka terhadap prestasi yang diharapkan makin efektif kita menilai

mereka”.

Gibson dkk (1990 : 6) berpendapat bahwa sebagai prasyarat

terbentuknya kinerja yang tinggi adalah adanya perubahan sikap dan

perilaku positif.

Ada juga yang memberikan pengertian kinerja sebagai

pelaksanaan suatu fungsi, seperti yang dikemukakan oleh Whitmore

(1997 : 104) “Kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang.

Kinerja dapat juga diartikan sebagai hasil atau prestasi yang

dicapai oleh individu, unit, organisasi yang memiliki output yaitu kualitas

dan kuantitas atau the Degre Of Accomplishment. Untuk mengetahui

prestasi sebuah organisasi tentu memerlukan ukuran atau kriteria sebagai

indikator keberhasilan yang ingin dicapai.

Berman (keban 2008 : 209) mengartikan kinerja sebagai

“Pemanfaatan sumber daya secara efisien dan efektif untuk mencapai

hasil”.

(11)

mengandung maksud bahwa lebih banyak bidang kerja yang

diikutsertakan dalam pengukuran kinerja. pengembangan kinerja secara

intensif dimaksudkan bahwa lebih banyak fungsi-fungsi manajemen yang

diikut sertakan dalam pengukuran kinerja, sedangkan pengembangan

secara eksternal diartikan lebih banyak pihak luar yang diperhitungkan

dalam pengukuran kinerja.

Bernardin dan Russel (Keban 2008 : 210) mendefinisikan kinerja

pada aspek yang ditekankan adalah catatan tentang outcome atau hasil

akhir yang diperoleh setelah suatu pekerjaan atau aktivitas dijalankan

selama kurun waktu tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja hanya

mengacu pada serangkaian hasil yang diperoleh seorang pegawai

selama periode tertentu dan tidak termasuk karakteristik pribadai pegawai

yang dinilai.

Swanson (Keban 2008 : 211) membagi kinerja atas tiga tingkatan

yaitu :

1. Kinerja proses menggambarkan apakah suatu proses yang

dirancang dalam organisasi memugkinkan organisasi tersebut

mencapai misinya.

2. Kinerja individu menggambarkan sampai seberapa jauh seseorang

telah melaksanakan kegiatan-kegiatan pokoknya sehingga

mencapai hasil sebagaimana ditetapkan oleh institusi.

3. Kinerja organisasi berkenaan dengan sampai seberapa jauh suatu

institusi telah melaksanakan semua kegiatan pokok sehingga

(12)

Menurut Pamungkas dalam makalah seminar kinerja organisasi

publik oleh Atmoko menjelaskan bahwa kinerja adalah penampilan

cara-cara untuk menghasilkan suatu hasil yang diperoleh dengan aktivitas

yang dicapai dengan suatu unjuk kerja. Dengan demikian, kinerja adalah

konsep utama organisasi yang menunjukkan seberapa jauh tingkat

kemampuan pelaksanaan tugas-tugas organisasi dilakukan dalam rangka

pencapaian tujuan. Penilaian terhadap kinerja dapat dijadikan sebagai

ukuran keberhasilan suatu organisasi dalam kurun waktu tertentu.

Penilaian tersebut dapat juga dijadikan input bagi perbaikan atau

peningkatan kinerja organisasi selanjutnya.

Menurut Lenvine yang dikutip oleh Atmoko dalam makalah

Standar Operasional Prosedur dan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah mengemukakan tiga konsep yang dapat digunakan untuk

mengukur kinerja organisasi publik, yakni :

1. Responsivitas ( Responsiveness): menggambarkan kemampuan

organisasi publik dalam menjalankan misi dan tujuannya terutama

untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penilaian responsivitas

bersumber pada data organisasi dan masyarakat, data organisasi

dipakai untuk mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan dan program

organisasi, sedangkan data masyarakat pengguna jasa

dipergunakan untuk mengidentifikasi demand dan kebutuhan

masyarakat.

(13)

atau eksplisit. Responsibilitas dapat dinilai dari analisis terhadap

dokumen dan laporan kegiatan organisasi. Penilaian dilakukan

dengan mencocokkan pelaksanaan kegiatan dan program

organisasi dengan prosedur administrasi dan ketentuan-ketentuan

yang ada dalam organisasi.

3. Akuntabilitas (accountability): menunjuk pada seberapa besar

kebijakan dan kegiatan perusahaan tunduk pada para pejabat politik

yang ditunjuk oleh rakyat. Data akuntabilitas dapat diperoleh dari

berbagai sumber, seperti penilaian dari wakil rakyat, para pejabat

politis, dan oleh masyarakat.

Tujuan berkaitan dengan arah yang hendak ditempuh organisasi

karena itu tujuan organisasi harus direncanakan sebaik mungkin dengan

melibatkan anggota organisasi, mulai dari perumusan sampai pada

pelaksanaan atau upaya pencapaiannya. Struktur berkaitan dengan

hubungan-hubungan logis antara berbagai fungsi dalam organisasi

termasuk juga semua kegiatan pembagian kerja kedalam

satuan-satuannya dan koordinasi satuan-satuan tersebut. Struktur organisasi

merupakan suatu kerangka yang mewujudkan pola tetap dari

hubungan-hubungan diantara bidang-bidang kerja maupun orang-orang yang

menunjukkan kedudukan, wewenang dan tanggung jawab masing-masing

dalam suatu kerja sama.

Mekanisme tata kerja adalah sesuatu yang terdiri atas

bagian-bagian yang saling berhubungan dan membentuk satuan tersebut.

Mekanisme dapat mengacu pada barang, aturan, organiasi, perilaku dan

(14)

organisasi dalam hal membantu koordinasi dan integrasi kerja, dan

membantu memonitor kerja organisasi sehingga dapat diketahui apakah

suatu kegiatan berjalan baik atau buruk. Unsur-unsur penting dalam

mekanisme tata kerja meliputi, prosedur kebijakan, agenda, pertemuan

formal, aktivitas dan tersedianya sarana atau alat yang mungkin

ditemukan untuk membantu orang-orang untuk bekerja sama, dan

penemuan kreativitas pegawai secara spontan untuk memecahkan

permasalahan dalam bekerja.

Penilaian kinerja aparatur pemerintah dapat dilakukan eksternal

yaitu melalui respon kepuasan masyarakat. Pemerintah menyusun alat

ukur untuk mengukur kinerja pelayanan publik secara eksternal melalui

keputusan Menpan No. 25/KEP/M.PAN/2/2004. Tentang pedoman

penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan instansi

pemerintah, terdapat 14 indikator kriteria pengukuran kinerja organisasi

sebagai berikut :

1. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang

diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur

pelayanan.

2. Persyaratan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif

yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis

pelayanannya.

3. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian

(15)

4. Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam

memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja

sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan

tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian

pelayanan.

6. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan

keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan atau

menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat

diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit

penyelenggara pelayanan.

8. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan

dengan tidak membedakan golongan atau status masyarakat yang

dilayani.

9. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku

petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara

sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.

10. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat

terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan.

11. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang

dibayarkan dengan biaya yang ditetapkan.

12. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan

(16)

13. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana

pelayanan yang bersih, rapih dan teratur sehingga dapat

memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan.

14. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan

lingkungan unit penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang

digunakan sehingga masyarakat merasa tenang untuk

mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan

dari pelaksanaan pelayanan.

Berdasarkan pada uraian di atas, pengukuran kinerja organisasi

publik dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Penilaian secara

internal adalah mengetahui apakah proses pencapaian tujuan sudah

sesuai dengan rencana bila dilihat dari proses dan waktu, sedangkan

penilaian keluar (eksternal) dilakukan dengan mengukur kepuasan

masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh organisasi.

Bagi organisasi, kinerja yang efektif berarti output tetap

dipertahankan meskipun jumlah pekerjaannya sedikit, atau

produktivitasnya ditambah. Perlu ditekankan bahwa keefektifan kinerja

seseorang tergantung pada organisasi itu sendiri, apakah mempunyai

kejelasan misi, strategi dan tujuan.

Seperti juga dikemukakan oleh Robert Bacal (2002:120) dalam

bukunya Performance Management, menyebutkan bahwa manajemen

kinerja harus memberikan :

(17)

2. Suatu cara untuk mengidentifikasikan masalah dalam proses-proses

yang menghalangi organisasi untuk menjadi lebih efektif.

3. Suatu cara untuk mengidentifikasi masalah-masalah kinerja untuk

membantu perusahaan memenuhi segenap perlu.

4. Informasi untuk membuat keputusan-keputusan promosi, strategi

pengembangan karyawan dan pelatihan.

5. Informasi agar manajer dan penyedia dapat mencegah terjadinya

masalah, membantu para staff melakukan pekerjaan mereka secar

lengkap dan menguasai persoalan.

6. Suatu cara bagi para manejer untuk bekerja sama dengan para

karyawan, dalam mengidentifikasi wilayah permasalahan,

mendiagnosis penyebabnya, dan mengambil tindakan untuk

menyelesaikan masalah tersebut.

7. Suatu cara untuk mengkoordinir semua karyawan yang bertangung

jawab pada seorang manejer yang sama.

8. Suatu metode untuk memberikan umpan balik secara berkala dan

terus menerus kepada para karyawan, dengan cara mendukung

motivasi mereka.

9. Suatu cara untuk mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan,

dengan memberikan penjelasan tentang apa yang diharapkan

dalam kerja, menanamkan pemahaman bersama tentang apa yang

boleh dan tidak boleh dikerjakan sendiri oleh karyawan, serta

menunjukkan apa dan bagaimana kedudukan pekerjaan para

(18)

10. Suatu cara untuk merencanakan berbagai aktivitas pengembangan

diri dan pelatihan karyawan.

Ke sepuluh poin di atas membantu mengarahkan manajemen

kinerja pada tujuan memperbaiki kinerja organisasi dan semua orang.

Dari beberapa uraian diatas, terdapat dua kategori dalam

pendefinisian kinerja, maka dalam pengukuran kinerja terdapat dua

kategori pula, yaitu :

1. Pengukuran kinerja secara individual

2. Pengukuran kinerja secara organisasi.

II.1.3. Indikator Kinerja

Menurut Agus Darma, mengatakan bahwa hampir semua cara

pengukuran kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai.

Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses

atau pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran

yang dihasilkan.

2. Kualitas, adalah mutu yang dihasilkan. Mencerminkan pengukuran

tingkat “kepuasan“, yakni seberapa baik penyelesaiannya.

3. Ketepatan waktu, adalah sesuai tidaknya dengan waktu yang

direncanakan. Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis

(19)

Selain itu ada juga pengukuran kinerja menurut Wibowo adalah

sebagai berikut :

1. Produktivitas

Produktivitas biasanya dinyatakan sebagai hubungan anatara input

dan output fisik suatu organisasi. Oleh karena itu, produktivitas

merupakan hubungan antara jumlah output dibandingkan dengan

sumber daya yang dikonsumsi dalam memproduksi output.

2. Kualitas

Pada kualitas biasanya termasuk baik ukuran internal seperti susut,

jumlah ditolak, dan cacat per unit, maupun ukuran eksternal rating

seperti kepuasan pelanggan atau penilaian frekuensi pemesanan

ulang pelanggan.

3. Ketepatan waktu

Ketepatan waktu menyangkut persentase pengiriman tepat waktu

atau persentase pesanan dikapalkan sesuai dijanjikan. Pada

dasarnya, ukuran ketepatan waktu mengukur apakah orang

melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan.

4. Cycle Time

Cycle time menunjukkan jumlah waktu yang diperlukan untuk maju

dari satu titk ke titik lain dalam proses. Pengukuran cycle time

mengukur barapa lama sesuatu dilakukan.

5. Pemanfaatn sumber daya

Pemanfaatan sumber daya merupakan pengukuran sumber daya

(20)

dipergunakan. Pemanfaatan sumber daya dapat diterapkan untuk

mesin, komputer, kendaraan dan bahkan orang.

6. Biaya

Ukuran biaya terutama berguna apabila dilakukan kalkulasi dalam

dasar per unit.

Indikator kinerja Menurut Bernadin & Russel bahwa dalam

mengukur kinerja pegawai diperlukan indikator antara lain:

1. Kualitas pekejaan

Nilai dimana proses atau hasil dari ketelitian dalam melaksanakan

pekerjaan kesempurnaan pekerjaan itu sendiri

2. Kuantitas pekerjaan

Jumlah pekejaan yang dihasilakan atau dilakukan, dan ditandakan

seperti nilai uang, jumlah barang, atau jumlah kegiatan yang telah

di kerjakan atau yang terlaksana.

3. Ketepatan waktu

Nilai dimana suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan

waktu yang telah ditetapkan, atau pada waktu yang ditentukan.

4. Efektivitas harga

Dimana sumber daya organisasi dimaksimalkan sehingga

mendapatkan hasil yang lebih baik dengan jumlah biaya yang

rendah

5. Kebutuhan akan pengawasan

(21)

6. Hubungan antar pribadi

Dimana dalam meningkatkan kinerja pegawai, haruslah terjalin

kerjasama antar pegawai

II.1.4. Konsep Kualitas

Definisi mengenai kualitas cukup banyak namun sebenarnya

defenisi tersebut antara satu dengan yang lain hampir sama artinya.

Goetsch dan Davis, 1994 (Tjiptono dan Diana, 2003:4) memberikan

Defenisi kualitas yaitu “Suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses lingkungan yang memenuhi atau melebihi

harapan”.

Kualitas adalah menjaga janji pelayanan agar pihak yang dilayani

merasa puas dan diuntungkan. Meningkatkan kualitas merupakan

pekerjaan semua orang dalam organisasi.

Defenisi kualitas yang dikemukakan oleh Juran, Jasep M. (dalam

Tjiptono, Fandy, 2000:53) mendefinisikan kualitas dengan menyatakan

bahwa: “ Kualitas sebagai cocok atau sesuai untuk digunakan (fitness for use), yang mengandung pengertian bahwa suatu produk atau jasa harus

dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh pemakainya”.

Sedangkan dalam Crosby, Philip B. (dalam M.N. Nasution,

2005:37) mengemukakan bahwa :

Kualitas adalah memenuhi atau sama dengan persyaratannya. Meleset sedikit saja dari persyaratannya, maka suatu produk atau jasa dikatakan tidak memuaskan. Persyaratan itu sendiri dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi pemasok dan sumber pemerintah, teknologi serta

(22)

Berdasarkan beberapa pengertian yang telah disebutkan di atas,

tampak bahwa kualitas selalu berfokus pada pelanggan. Dengan

demikian pelayanan yang diberikan untuk memenuhi keinginan

pelanggan.

Pelayanan yang memuaskan sangat dibutuhkan oleh masyarakat

khususnya pasien di Puskesmas Batua Makassar mengingat pasien yang

mempunyai keinginan yang selalu ingin dipenuhi dan dipuaskan, dalam

hal ini mereka ingin diperlakukan secara profesional serta memperoleh

pelayanan sesuai dengan yang mereka harapkan. Tantangan utama yang

dihadapi Puskesmas Batua adalah bagaimana memadukan kualitas

pelayanan yang prima dengan apa yang diharapkan oleh pasien untuk

mewujudkannya maka kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan di

Puskesmas Batua harus ditingkatkan.

Dalam melaksanakan pelayanan yang memuaskan, tentunya tak

terlepas dari sikap dalam menghadapi pelanggan atau contact personal.

Hal ini merupakan aspek yang penting dalam menentukan kualitas dalam

pemberian pelayanan. Untuk mencapai hal ini, maka performance atau

penampilan yang baik dan rapi turut mendukung dengan sikap ramah,

memperlihatkan gairah kerja, sikap siap melayani, tenang dalam bekerja,

mengetahui dengan baik pekerjaannya baik yang berhubungan dengan

tugas unitnya maupun unit lain, mampu berkomunikasi dengan baik dan

(23)

II.1.5. Konsep Pelayanan

Menurut petugas pelayanan, lamanya pemberian pelayanan

kepada masyarakat pengguna jasa disebabkan adanya kendala internal

dan eksternal. Kendala internal meliputi peralatan pendukung yang tidak

memadai, kualitas SDM rendah dan koordinasi antar unit. Sarana dan

prasarana yang tidak memadai yang dimiliki oleh instansi sering

menghambat pemberian pelayanan kepada pengguna jasa.

Selain itu, faktor kualitas SDM yang relatif rendah semakin

menghambat pemberian pelayanan kepada masyarakat. Kualitas SDM

yang rendah tersebut ditandai dengan ketidakmampuan petugas

memberikan solusi kepada pelanggan.

Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya

pemuasan pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib

dioptimalkan baik oleh individu maupun organisasi, karena dari bentuk

pelayanan yang diberikan tercermin kualitas individu atau organisasi yang

memberikan pelayanan.

Karisma dalam Kamus Bahasa Indonesia (1997:571) Istilah

pelayanan berasal dari kata “layan” yang artinya membantu menyiapkan atau mengurus segala apa yang diperlukan orang lain untuk perbuatan

melayani. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata pelayanan

diartikan sebagai berikut :

1. Perihal cara melayani

2. Servis jasa

3. Kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli

(24)

Pelayanan jika dihubungkan dengan administrasi publik dapat

didefinisikan sebagai kualitas pelayanan birokrat kepada masyarakat.

Sianipar (1998 : 4) mengemukakan pengertian pelayanan sebagai

berikut :

Cara melayani, menyiapkan atau menjamin keperluan seseorang

atau kelompok orang. Melayani adalah meladeni atau membantu

mengurus keperluan atau kebutuhan seseorang sejak diajukan

permintaan sampai penyampaian atau penyerahannya.

Menurut The Liang Gie (1997 : 23) yang mendefinisikan

pelayanan bagi masyarakat atau kegiatan dari organisasi yang dilakukan

untuk mengamalkan dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Pengertian pelayanan secara terinci yang dikemukakan oleh

Gronroos (Ratminto dan Atik, 2004:3) yaitu:

Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata ( tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen atau pelanggan.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa

Pelayanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus,

menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.

Artinya objek yang dilayani adalah masyarakat yang terdiri dari individu,

(25)

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor 81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan

adalah:

Segala bentuk pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dalam bentuk barang dan jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang–undangan.

Kegiatan pelayanan dalam suatu organisasi memiliki peran

penting dan strategi, terutama bagi organisasi yang berorientasi pada

pelayanan jasa. Hal itu tercermin pada pengertian pelayanan yang

dikemukakan oleh Moenir (2000 : 12) sebagai berikut :

Pelayanan adalah setiap kegiatan oleh pihak lain yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan orang banyak, pelayanan ini sifatnya selalu kolektif, sebab pelayanan kepentingan itu masih termasuk dalam rangka pemenuhan hak dan kebutuhan bersama yang telah diatur termasuk dalam pengertian pelayanan.

Sementara itu Sinambela (2008 : 5) memberikan pengertian

Pelayanan Publik sebagai berikut:

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pda suatu produk secara fisik.

Adapun pengertian Pelayanan Publik menurut Kurniawan (2005 :

4) adalah “Pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepntingan pada organisasi itu sesuai

(26)

Menurut Undang-undang nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayan

Publik, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan public

adalah:

Kegiatan atau ragkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan

kebuthan pelayanan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan bagi setiapa warga Negara dan penduduk atas barang,

jasa dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh

penyelenggara pelayanan publik.

Menurut Nugroho (2004 : 75) mengatakan bahwa:

Tugas Pelayanan Publik adalah memberikan pelayanan, kepada umum tanpa membeda-bedakan dan diberikan secara Cuma-Cuma atau dengan biaya sedemikian rupa sehingga kelompok paling tidak mampu menjangkaunya.

Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi

pengguna jasa, penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas–asas pelayanan. Berdasarkan Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2004 yang

menyatakan asas–asas pelayanan sebagai berikut : 1. Transparansi

Bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang

membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah

dimengerti.

2. Akuntabilitas

Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan

(27)

Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima

pelayanan dengan tetap berpegang pada efisiensi dan efektifitas.

4. Partisipatif

Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan

pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan

harapan masyarakat.

5. Kesamaan hak

Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama,

gender, dan status ekonomi.

6. Keseimbangan hak dan kewajiban

Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan

kewajiban masing–masing pihak.

Berdasarkan uraian diatas maka Puskesmas Batua perlu

memberikan pelayanan yang baik atau pelayanan prima, karena hal

tersebut merupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Pengertian pelayanan yang dikemukakan oleh Catherine Devrye (

1997 : 10) dengan menggunakan servis adalah sebagai berikut :

1. Pengabdian mereka yang kalah terhadap yang menang atau

2. Menjadi berguna.

Berdasarkan kedua hal tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan

bahwa servis atau pelayanan merupakan usaha yang dilakukan untuk

melakukan persaingan dengan orang organisasi lain dengan cara

persaingan–persaingan dalam hal pemberian pelayanan sehingga pelayanan yang diberikan dapat menjadi berguna bagi pelanggan atau

(28)

atau masyarakat, menurut Catherine Devrye (1997 : 10) mengemukakan

tujuh hal pokok yang perlu diperhatikan terhadap kepuasan konsumen,

yaitu :

1. Tetapkan, penuhi dan lampauilah harapan-harapan konsumen

menguasai pasar.

2. Riset membuktikan bahwa persepsi konsumen tentang pelayanan

yang baik secara langsung mempenagruhi garis dasar.

3. Dekatkanlah kesenjangan antara apa yang diharapkan konsumen

dengan apa yang mereka rasakan mereka terima.

4. Rekor tidak cukup berarti.

5. Ciptakanlah pengalaman–pengalaman positif yang dapat diharapkan dengan konsistensi.

6. Antisipasilah perubahan harapan–harapan konsumen keistimewaan servis masa lalu akan menjadi norma besok.

7. Dalam organisasi jasa sendiri saya akan mengembangkan servis

dalam hal melampaui harapan–harapan.

Ke tujuh hal tersebut merupakan harapan yang diinginkan oleh

setiap konsumen dalam menerima pelayanan. Karena jika pelayanan

yang diberikan dapat melampaui harapan–harapan yang diinginkan, maka konsumen atau masyarakat akan menjadi puas.

Berdasarkan pengertian di atas, maka pelayanan bagi instansi

atau lembaga pemerintah, khususnya yang bergerak dalam bidang

(29)

masyarakat (konsumen) maupun posisinya sebagai mitra dalam hal

mewujudkan efektivitas pelayanan.

Bagi institusi pemerintah yang berorientasi pada pelayanan publik

Puskesmas Batua Pada prinsipnya mengacu pada pola pelayanan umum

yang sama. Pola pelayanan yang dimaksud adalah Pedoman

TataLaksana Pelayanan Umum berdasarkan surat keputusan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara tersebut tercantum bahwa :

Segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh

instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan di Lingkungan Badan

Usaha Milik Negara atau Daerah dalam bentuk barang dan jasa, baik

dalam rangka upaya pemenuhan pelaksanaan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Adapun syarat–syarat pelayan umum sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor : 81 Tahun 1993 adalah sebagai berikut :

1. Hak dan kewajiban bagi pemberi maupun penerima pelayanan

harus jelas dan diketahui secara pasti oleh masing–masing pihak. 2. Penggunaan setiap bentuk pelayanan umum harus disesuaikan

dengan kondisi berdasarkan ketentuan perundang–undangan yang berlaku tetap berpegang pada efisiensi dan efektivitas.

3. Mutu proses dan hasil pelayanan umum harus diupayakan agar

dapat memberi keamanan, kenyamanan, kepastian, kelancaran dan

kepastian hukum pelayanan umum yang dilaksanakan.

4. Apabila pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi

(30)

bersangkutan berkewajiban memberikan peluang kepada

masyarakat untuk ikut menyelenggarakan sesuai peraturan

perundang–undangan yang berlaku.

Memahami pengertian pelayanan seperti yang termuat dalam Surat

Keputusan Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 81 / 1993,

maka dapat dipahami bahwa instansi pemerintah yang berorientasi pada

pelayanan umum harus memberikan pelayanan prima kepada yang

dilayani. Artinya pelayanan yang memuaskan adalah suatu tanggung

jawab (kewajiban) pihak pemberi pelayanan dan merupakan hak dari

pihak penerima layanan yang dibenarkan oleh ketentuan hukum.

Puskesmas Batua Sebagai suatu institusi pemerintah yang salah

satu bidang tugasnya menangani pelayanan kesehatan, pada dasarnya

mengembangkan dua fungsi utama dalam hal operasionalnya yaitu,

Fungsi pelayanan teknis dan pelayanan administrasi. Fungsi pelayanan

teknis merupakan tatacara yang digunakan dalam memberikan pelayanan

kepada pelanggan, sedangkan pelayanan administrasi merupakan

pelayanan pengurusan surat–surat atau dokumen–dokumen yang diberikan kepada pelanggan.

Pelayanan hendaknya memuaskan keinginan masyarakat. Oleh

karena itu, pemerintah harus selalu memperhatikan keinginan masyarakat

dan berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.

Layanan umum bentuknya tidak terlepas dari tiga macam, yaitu

(31)

1. Layanan dengan lisan

Layanan dilakukan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas di

bidang hubungan masyarakat (HUMAS), bidang layanan informasi

dan bidang–bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapa pun yang memerlukan.

2. Layanan dengan tulisan

Agar layanan tulisan ini memuaskan pihak yang dilayani, satu hal

yang harus diperhatikan ialah faktor kecepatan, baik dalam

pengelolaan masalah maupun dalam proses penyelesaiannya

(pengetikan, penandatanganan dan pengiriman kepada yang

bersangkutan). Layanan tulisan terdiri atas dua golongan, pertama

layanan berupa petunjuk, informasi dan yang sejenis ditujukan pada

orang–orang yang berkepentingan, agar memudahkan mereka dalam berurusan dengan instansi atau lembaga. Kedua, layanan

berupa reaksi tertulis atas permohonan, laporan, keluhan,

pemberitahuan.

3. Layanan berbentuk perbuatan

Layanan dalam bentuk perbuatan 70% - 80% dilakukan oleh

petugas-petugas tingkat menengah dan bawah. Karena itu faktor

keahlian dan keterampilan petugas tersebut sangat menetukan

terhadap hasil perbuatan atau pekerjaan. Layanan perbuatan dan

layanan lisan sering bergabung. Jadi tujuan utama orang yang

berkepentingan ialah mendapatkan pelayanan dalam bentuk

perbuatan atau hasil perbuatan bukan sekedar penjelasan dan

(32)

II.1.6. Konsep Puskesmas a. Pengertian Puskesmas

Puskesmas adalah pusat pengembangan pembinaan, dan

pelayanan sekaligus merupakan pos pelayanan terdepan dalam

pelayanan pembangunan kesehatan masyarakat yang

menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan pada masyarakat yang bertempat tinggal dalam

wilayah tertentu (Depkes RI, 2001).

b. Kedudukan dan fungsi Puskesmas

1). Kedudukan

a. Kedudukan dalam bidang administrasi, Puskesmas merupakan

perangkat Pemda/Kota dan tanggung jawab langsung baik secara

teknis medis maupun secara administratif kepada dinas kesehatan

kota.

b. Dalam hirarki pelayanan kesehatan, seseuai SKN maka

Puskesmas berkedudukan pada tingkat fasilitas kesehatan

pertama.

2). Fungsi

a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah

kerjanya.

b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam

(33)

Untuk melakukan fungsi tersebut Puskesmas melakukan kegiatan:

a. Perencanaan program kesehatan di wilahnya.

b. Pergerakan pelaksanaan kegiatan.

c. Pengawasan, pengendalian dan penelitian kegiatan.

3). Upaya pelayanan kesehatan Puskesmas

Dalam SKN disebutkan bahwa upaya pelayanan kesehatan

dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan suatu bentuk atau pola

upaya pelayanan kesehatan Puskesmas, peran serta masyarakat dan

rujukan upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan melalui Puskesmas di

kecamatan merupakan upaya menyeluruh dan terpadu, yang paling dekat

dengan masyarakat, pengembangan pemulihan. Pembinaan,

pengembangan dengan pelayanan Puskesmas diselenggarakan melalui

18 kegiatan kelompok.

Adapun program kesehatan dasar adalah minimal yang harus

dilaksanakan setiap Puskesmas yang berkemas dalam Basic six yaitu :

a. Promosi Kesehatan (Promkes)

b. Kesehatan lingkungan (Kesling)

c. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk KB

d. Perbaikan Gizi

e. Pemberantasan penyakit menular (P2M)

f. Pengobatan

c. Stratifikasi Puskesmas

Stratifikasi Puskesmas adalah upaya untuk melaksanakan

(34)

Puskesmas, sehingga pembinaan dalam rangka perkembangan fungsi

Puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini dapat menimbulkan

gairah kerja, rasa tanggung jawab dan kreatifitas kerja yang dinamis

melalui perkembangan falsafah mawas diri.

Ruang lingkup stratifikasi Puskesmas dikelompokkan dalam

empat aspek yaitu:

Hasil kegiatan Puskesmas dalam bentuk cakupan

masing-masing kegiatan

Hasil dan cara pelaksanaan manajemen kesehatan

Sumber daya yang tersedia di Puskesmas

Keadaan lingkungan yang mempengaruhi pencapaian hasil

kegiatan Puskesmas.

II.2. Kerangka Konseptual

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Agus Dharma ada

tiga indikator dalam menilai kinerja yaitu, kuantitas pekerjaan, kualitas

pekerjaan, ketepatan waktu. Untuk mengukur Kinerja Pelayanan

Puskesmas Batua Makassar, maka penulis menggunakan tiga indikator

tersebut. Dari segi Kuantitas diukur dari hasil pekerjaan, dan kecepatan

dalam bekerja. Dari segi kualitas pekerjaan diukur dari hasil pekerjaan

yang sesuai dengan harapan pasien, dan dari segi ketepatan waktu

diukur dari ketepatan waktu dalam menyelesaiakan pekerjaan. Untuk

(35)

Gambar 1. Kerangka Konseptual KETEPATAN WAKTU

Ketepatan Waktu

Dalam Menyelesaikan Pekerjaan

KINERJA PELAYANAN PUSKESMAS

BATUA KUANTITAS

1. Hasil pekerjaan 2. Kecepatan kerja

KUALITAS

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan

Mei 2011 di Puskesmas Batua yang terletak di Kecamatan Manggala,

Kota Makassar.

III.2. Tipe dan Dasar Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif

dimana dalam penelitian ini dilakukan hanya bersifat deskriptif yang

memberikan gambaran tentang permasalahan yang akan diteliti dalam

bentuk angka-angka. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dengan

objek dan pokok permasalahan yang akan diteliti yang memerlukan suatu

pengamatan dan pemahaman yang cermat dan seksama terhadap objek

peneliti.

III.3. Unit Analisis

Unit analisis penelitian ini adalah “organisasi”. Penetuan unit analisis ini didasarkan pada pertimbangan bahwa objek penelitian adalah

(37)

III.4. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Dalam penelitian ini populasi adalah keseluruhan individu yang

mendapatkan pelayanan rawat jalan pada Puskesmas Batua, adapun

populasi dalam penelitian ini adalah 266 pasien per hari.

2. Sampel

Untuk mempermudah dalam pengumpulan data, penulis

mengambil sampel dari populasi yang ada, jenis sampel yang

digunakan adalah sampel insidensial yaitu penentuan sampel secara

„kebetulan‟ yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu

dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang

orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

Sugiyono (2005:96). Adapun sampel dalam penelitian ini sebanyak 30

pasien.

III.5. Defenisi Operasional

1. Menurut Dharma (1991 : 1) “kinerja atau prestsi kerja adalah suatu yang dihasilkan atau produk atau jasa yang dihasilkan atau yang

diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang”.

Ada tiga cara dalam mengukur kinerja:

a) Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai.

Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari

(38)

b) Kualitas, yaitu mutu yang dihasilkan. Dalam hal ini mencerminkan

pengukuran tingkat kepuasan, yakni seberapa baik

penyelesaiannya.

c) Ketepatan waktu, adalah sesuai tidaknya dengan waktu yang

direncanakan. Indikatornya yaitu Ketepatan waktu dalam

menyelesaikan pekerjaan.

III.6. Operasionalisasi Konsep

Variabel Dimensi Indikator Kategori Tingkat

Pengukuran

Kinerja Pegawai

Kuantitas 1. Hasil pekerjaan 2. Kecepatan kerja

Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan

Tingkat pengukuran indikator di atas dijabarkan dengan lima

pilihan yang disesuaikan dengan pernyataan/pertanyaan yang diberikan

(39)

III.7. Instrument Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,

yaitu:

1) Kuesioner (angket)

Teknik pengumpulan data yang berisi rangkaian pertanyaan tertulis

mengenai pokok permasalahan yang diteliti dengan mengacu pada

variabel–variabel penelitian untuk mendapatkan informasi dari para responden. Teknik ini digunakan untuk mengambil data primer.

2) Telaah Dokumen

Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan mengkaji

dokumen-dokumen baik berupa buku referensi maupun peraturan

atau pasal yang berhubungan dengan penelitian ini.

III.8. Jenis dan Sumber Data

Jenis sumber data terdiri dari :

1) Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari para

responden (pasien yang berobat)

2) Data sekunder, yaitu data pendukung data yang diperoleh dari

literatur–literatur dan dokumen–dokumen serta laporan–laporan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

III.9. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan metode tabel frekuensi, yaitu

(40)

data yang telah terkumpul dan menyajikannya dalam bentuk angka-angka

tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum.

Adapun rumus yang digunakan untuk menganalisis tabel yaitu :

P = F X 100%

N

X= ∑( F.X) x 100%

N

Keterangan :

P = persentase (%)

F = frekuensi

X = Rata - rata

∑(F.X) = Jumlah skor kategori jawaban

N = Jumlah responden

Rata persen = Rata –rata skor x 100%

(41)

Analisis data juga menggunakan Skala Likert untuk memudahkan

analisa pertanyaan yang diajukan kepada responden. Pemberian skor

dimulai dari nilai tertinggi dengan skor 5 dan skor terendah 1 (menurut

Sugiono, 2003 : 107), klasifikasi antara lain sebagai berikut :

 Sangat bersih / sangat lengkap

 Sangat tidak Bersih /sangat tidak lengkap

 Sangat tidak Adil / sangat tidak cepat

 Tidak pernah / sangat tidak jelas

 Sangat tidak Aman / sangat tidak teliti / sangat tidak jelasjelas

 Sangat tidak sabar / sangat tidak sopan/

Skor 1

Selanjutnya untuk mengukur bagaimana Kinerja Pelayanan maka dibagi

menjadi lima kategori yaitu :

1. Sangat memuaskan : 81% - 100%

2. Memuaskan : 61% - 80%

3. Cukup memuaskan : 41% - 60%

4. Kurang memuaskan : 21% - 40%

(42)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

IV.1. Sejarah Puskesmas Batua

Puskesmas Batua sesuai dengan Undang-Undang No.9 Tahun

1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan (lembaran Negara tahun 1960 no.

131 tambahan lembaran negara no 2068 sebagai Puskesmas Pendukung

Inpres No.4 tahun 1976-1977 dengan wilayah kerja mencakup : disebut

Puskesmas Panakkukang.

1. Kelurahan Tello Baru

2. Kelurahan Panaikang

3. Kelurahan Antang

4. Kelurahan Tamangapa

5. Kelurahan Karuwisi

Peralihan nama Puskesmas Panakkukang menjadi Puskesmas

Batua pada tanggal 1 November 1987 didasarkan upaya peningkatan

Puskesmas sekotamadya Ujung Pandang dari 13 Puskesmas Menjadi 27

Puskesmas. 20 Juni 1992 ; Keputusan Walikota Madya Kepala Daerha Tk II

Ujung Pandang No 1551/1992 tentang Penetapan Armada dan wilayah

kerja Puskesmas dan Puskesmas Pembantu dalam wilayah kota madya

daerah tingkat II Ujung Pandang. Dari 27 Puskesmas menjadi 31

Puskesmas hingga Puskesmas Batua membawahi kelurahan Tello Baru.

(43)

1. Kelurahan Batua Kec. Manggala

2. Kelurahan Borong Kec Manggala

3. Kelurahan Paropo Kec Panakkukang

4. Kelurahan Tello Baru Kec Panakkukang

IV.2. Gambaran Umum Lokasi

Puskesmas Batua terletak sekitar 10 km sebelah kanan kota

Makassar, tepatnya di Kelurahan Batua Kecamatan Manggala yang dapat

dicapai dengan kendaraan umum, tepatnya Jl. Abdullah Dg.Sirua No.338.

Wilayah kerja puskesmas meliputi dua kecamatan dan empat kelurahan

yaitu :

1. Kelurahan Batua Kec.Manggala : 11 RW

2. Kelurahan Borong Kec. Manggala : 11 RW

3. Kelurahan Tello Baru Kec Panakkukang : 11 RW

4. Kelurahan Paropo Kec. Panakkukang : 10 RW dengan luas kerja

1017.01km.

IV.3. Batas-Batas Wilayah Kerja Puskesmas Batua

Wilayah kerja Puskesmas Batua yang meliputi Kecamatan

Panakkukang dan Kecamatan Manggala. Kecamatan Panakkukang

meliputi Kelurahan Batua dan Tello Baru, sedangkan Kecamatan Manggala

meliputi Kelurahan Borong dan Kelurahan Paropo dengan jumlah RW dan

RT sebagai berikut :

- Kel. Batua terdapat 11 RW dan 53 RT

(44)

- Kel. Paropo terdapat 10 RW dan 49 RT

Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Batua adalah :

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Antang.

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Panaikang.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tamalate.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Pandang dan Kelurahan

Karang Puang.

IV.4. Keadaan Demografis

Jumlah Penduduk

Tabel 1

Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelurahan Pada Puskesmas Batua Tahun 2010.

No. Kelurahan Jumlah Penduduk (Jiwa)

Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Jumlah penduduk pada wilayah kerja Puskesmas Batua adalah

sebesar 51112 jiwa dimana yang tertinggi terdapat di kelurahan batua

dengan jumlah penduduk sebesar 38 jiwa/ha/m2, dan yang terendah di

Kelurahan Tello Baru dengan jumlah penduduk sebesar 8780 jiwa

(45)

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamain

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin tahun 2010 adalah

sebagai berikut :

Tabel 2

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Puskesmas Batua Tahun 2010

Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan

lebih tinggi dari jumlah penduduk laki-laki yaitu sebesar 23.580(46,13%)

dan laki-laki sebanyak 27532(53,87%)

Distribusi Penduduk Berdasarkan Umur

Tabel 3

Distribusi Penduduk Berdasarkan Umur Di Puskesmas Batua Tahun 2010 Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Dari 10% penyakit terbesar di Puskesmas Batua penyakit Ispa

(46)

19.985(67,34%) dengan prevalensi rate sebesar 377/1000, dan terendah

adalah penyakit Thypoid(0,67%) dengan prevalensi rate sebesar 4/1000.

IV.5. Visi dan Misi Puskesmas Batua Makassar

Visi :

Menjadi Puskesmas dengan pelayanan terbaik di Makassar.

Misi :

1. Meningkatkan sarana prasarana.

2. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam

pelaksanaan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.

3. Mengembangkan jenis pelayanan dan mutu pelayanan kesehatan

4. Meningkatkan sistem informasi dan manajemen puskesmas

5. Mengembangkan kemitraan

6. Meningkatkan kemandirian masyarakat

IV.6. Nilai-Nilai Organisasi SEGAR

Senyum, merupakan modal dalam memberi pelayanan

Efektif dengan pelayanan tepat guna, berdaya guna , berhasil

Gerakan, adalah upaya cepat tindak dalam pemberian pelayanan kes

masyarakat

Amal merupakan bentuk kerelaan hati petugas dalam memberi pelayanan

Ramah adalah sikap yang tertanam dalam jiwa petugas kesehatan.

(47)

- Gedung Rawat Inap/RB : 1 unit

- Ruang Obat : 1 unit

- Rumah dinas : 3 unit

- Pustu : 1 unit

- Poskesdes : 1 unit

- Mobil Puskel : 1 unit

- Kendaraan roda dua : 3 unit

- Telepon : 0411-493808

- Air : PDAM + sumur

- Listrik

IV.8. Struktur Organisasi Diklat Puskesmas Batua

1. Penanggung jawab : dr. Hj. Eny Murtini, M.Kes

2. Koordinator diklat : Ramluddin,SKM

3. Sekretaris : Arfain,SKM

4. Bendahara : Lusiana,AMK

5. Pembimbing Siswa Mahasiswa :

a). Fak. Kedokteran : 1) Dr.Hj.Eny Murtini,M.Kes

2) Dokter Umum Puskesmas Batua

b). Fak. Kedok. Gigi : 1) drg. Nurwahidah

2) Dokter gigi Puskesmas Batua

c). Keperawatan :

1) S1 Kep : 1) Herawati,S.Kp,Ns

2) Marwah,Skp,Ns

(48)

3) Abd. Latif,SKM

4) Maritha Pasenggong,AMK

5) Muliana,AMK

6) Sundari,AMK

7) Reskiati Aprianti,AMK

d). D3 Kebidanan : 1) Hermin Lambe,SKM

2) Herlina AR,A.Mkeb

3) Adriyani Amiruddin,A.MKeb

4) Ratih Puspita Ratu, A.Mkeb

e). Farmasi : 1) Decy Tandilinting,S.Si.Apt

2) Miryam (SMK,D3,S1)

f). FKM :

1) Epidemiologi : 1) Ramluddin,SKM

2) Naba,SKM

2) AKK : 1) Abd.Latif,SKM

2) Arfain,SKM

3) H.Muchlis Ali,SKM

3) Gizi/Kespro : 1) Hermin Lambe,SKM

2) Hj. Rosdiana,AMKG

3) Naomi,B.Sc

4) Kesling/Promkes : 1) Nurjannah,SKM

2) Rita,AMKL

(49)

3) Hj.Kurniati, S.Sos

h). Perawat Gigi : 1) H. Muchlis Ali,SKM

2) Nurhaedah,BSc

i). D3/SMK Analis : 1) Naba,SKM

j). D3 Gizi : 1) Rosdiana,AMKG

2) Naomi Pangingi,B.Sc

3) Nurhaedah, B.Sc

k). Penelitian/Pengambilan Data/ Institusi Non Kesehatan :

1) Ramluddin,SKM

(50)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengumpulan data mulai dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei

2011 dengan menyebarkan kuesioner dan mengambil data sekunder yang

diperlukan dalam penelitian ini. Adapun yang menjadi responden dalam

penelitian ini adalah Pasien Rawat Jalan Puskesmas Batua Makassar, dimana

total jumlah keseluruhan pasien yang menjadi responden adalah sebanyak 30

orang pasien.

V.1. Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini penulis mengambil 30 responden yang

merupakan pasien yang berobat di Puskesmas batua Makassar. Dari hasil

penelitian yang dilakukan terhadap 30 responden maka diketahui beberapa

karakteristik responden sebagai berikut:

1. Berdasarkan Jenis kelamin Tabel 4

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

1 Perempuan 27 orang 90

2 Laki-laki 3 orang 10

Jumlah 30 orang 100

Sumber : Olahan Data Primer, April 2011

Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 30 orang yang

(51)

2. Berdasarkan Umur

Tabel 5

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

No Klasifikasi Umur Jumlah Persentase (%)

1 Dibawah 20 tahun 0 0

Sumber : Olahan Data Primer, April 2011

Data pada tabel 5 menunjukkan kebanyakan responden berusia

31-40 tahun yaitu sebanyak 13 orang (43,33%), lima orang berusia 20-30

tahun ((16,67%) lima orang berusia 41-50 tahun (16,67%) dan responden

yang berusia 51 tahun keatas sebanyak 7 orang (23,33%). Dengan

demikian responden terbanyak berusia 31-40 tahun dengan jumlah 13

orang.

3. Berdasarkan Pendidikan Terakhir Tabel 6

Karakteristik Responden berdasarakan Pendidikan Terakhir

No Kategori Jumlah Persentase (%)

Sumber : Olahan Data Primer, April 2011

Tabel 6 menunjukkan kebanyakan responden berpendidikan SMP

yaitu 19 responden (63,33%), 10 orang berpendidikan SMA (33,33%),

(52)

V.2. Pembahasan Analisis Kinerja Pelayanan Publik

Untuk mengetahui seberapa besar kinerja Pelayanan pada

Puskesmas Batua Makassar, maka peneliti menggunakan Teori Agus

Darma yang mengemukakan tiga dimensi untuk menilai kinerja dalam suatu

organisasi yaitu dari dimensi kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu.berikut

ini pemaparan Kinerja Pelayanan di Puskesmas Batua Makassar,

berdasarkan hasil penelitian penulis :

V.2.1. Kuantitas

Dimensi yang pertama untuk menilai Kinerja Pelayanan di

Puskesmas Batua Makassar adalah Kuantitas, kuantitas, yaitu jumlah

pekerjaan yang harus diselesaikan atau dicapai dalam kurun waktu yang

telah ditetapkan sebelumnya. Puskesmas Batua tidak memiliki banyak

program kerja karena mereka berfokus pada Rutinitas kegiatan pelayanan

kesehatan setiap hari yang sudah ditetapkan dari Dinas Kesehatan yaitu

sebagai pemberi layanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Agar kegiatan

pelayanan kesehatan dan program kerja di Puskesmas Batua bisa tercapai

dengan baik, maka terbagi beberapa sub bagian. Dimana semua pegawai

(perawat, dokter) bekerja sama dalam melaksanakan tugas. Pada

Puskesmas Batua Makassar khususnya rawat jalan memiliki sub bagian

yang dimulai dari Loket Kartu, Poli Umum, Poli Gigi, Poli KIA, Sub bagian

Kamar obat. Masing- masing bagian memiliki tugas yang berbeda dan dibagi

(53)

Tabel 7

HASIL PENCAPAIAN KEGIATAN TAHUN 2010 SUB BAGIAN : Poli Umum

NO. JENIS KEGIATAN VOLUME TARGET SASARAN WAKTU PENCAPAIAN % 2. Memberikan Therapy

& Penyuluhan

Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Melalui tabel 7 di atas dapat kita lihat kegiatan di Puskesmas

Batua mulai dari memeriksa pasien dan menentukan diagnose, memberikan

Therapy dan penyuluhan, merujuk pasien (Eksternal/Internal), memberikan surat

keterangan sakit, memberikan surat keterangan sehat, memberikan pelayanan

P3K, dan mendokumentasikan kunjungan pasien merupakanugas pokok dari

Puskesmas Batua yang dilaksanakan setiap hari kepada semua masyarakat

yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Batua. Adapun kegiatan

membuat laporan bulanan atau data kesakitan dan membuat laporan kunjungan

puskesmas merupakan tugas dari bagian Administrasi, yang dilakukan satu kali

daam satu bulan (akhir bulan). Melalui tabel di atas dapat kita lihat semua

(54)

kegiatan ini dilaksanakan secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah

ditetapkan sebelumnya.

Tabel 8

HASIL PENCAPAIAN KEGIATAN TAHUN 2010 SUB BAGIAN : POLI GIGI

NO. JENIS KEGIATAN

VOLUME TARGET SASARAN WAKTU PENCAPAIAN %

Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa semua kegiatan Pelayanan

Kesehatan Sub Bagian Poli Gigi Puskesmas Batua Makassar terlaksana 100%.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari kerja khususnya memeriksa dan

menentukan diagnose. Adapun kegiatan penambalan sementara, penambalan

tetap, pencabutan gigi sulung, pencabutan gigi dewasa, pembersihan karang

gigi, Incise Abses, dan merujuk pasien (eksternal/internal) dilaksanakan sesuai

dengan hasil diagnose dokter. Salah satu dokter gigi di Puskesmas Batua

(55)

maka harus dilakukan tindakan pembersihan karang gigi agar gigi pasien tidak

rusak, sehat dan tetap bersih.

Tabel 9

HASIL PENCAPAIAN KEGIATAN TAHUN 2010 SUB BAGIAN : KIA/KB

NO. JENIS KEGIATAN VOLUME TARGET SASARAN WAKTU PENCAPAIAN %

Sumber : Puskesmas Batua Makassar

Melalui tabel di atas bisa terlihat bahwa semua kegiatan

Pelayanan Kesehatan Tahun 2010 Sub Bagian KIA/KB Puskesmas Batua

Makassar terlaksana dengan sangat baik, bahkan ada program kerja yang

melebihi target yang ditentukan bisa kita lihat dari pemeriksaan ibu hamil dan K4,

di tabel terlihat target 95% akan tetapi pencapaian untuk pemeriksaan ibu hamil

dan k4 100%. Adapun kegiatan yang tidak mencapai target 100% tepatnya

hanya mencapai 98,85% yaitu Neunatus hal ini dikarenakan partisipasi dari ibu

pasca melahirkan dimana kurangnya kesadaran beberapa ibu untuk

(56)

Tabel 10

PENCAPAIAN KEGIATAN BAGIAN OBAT TAHUN 2010

NO. PROGRAM TUJUAN KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN SASARAN VOLUME PENCAPAI

1. Pelayanan

Menerima resep, Menyiapkan obat, Memberikan etiket, Menyerahkan obat kepada pasien

Obat diracik/digerus hingga homogency

Obat dibagi sesuai permintaan, dibungkus lalu dikemas diminta, Menghitung obat sesuai jumlah permintaan dan diberi label, Mengemas obat lalu mengecek satu persatu, Menyerahkan obat ke unit-unit pelayanan

Memberi penyuluhan pada pasien dan masyarakat tentang obat sehingga kualitas pelayanan pelayanan kefarmasian lebih meningkat

Gambar

Gambar 1. Kerangka Konseptual
Tabel 1  Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelurahan Pada
Tabel 2  Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Puskesmas
Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menutup Pembelajaran.. Skor keterampilan guru pada siklus II memperoleh rata-rata skor 42 dengan kategori sangat baik. Guru sudah menunjukkan adanya peningkatan pada siklus

menunjukkan bahwa: 1) Keterlaksanaan rencana pembelajaran yang dilakukan termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata pada pertemuan pertama dan kedua mendapatkan

pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) menunjukkan bahwa Penilaian Guru terhadap Bahan Ajar menunjukkan rata-rata skor 3,4 dengan kategori Sangat Baik dan rata-rata semua

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterlaksanaan pembelajaran berada pada kategori sangat baik yakni dengan skor rata-rata 4,72, (2) Hasil belajar siswa

menunjukkan skor total perilaku yang termasuk kategori sangat tinggi, sedangkan skor teknik sosiodrama dengan rata-rata terjadi pada setiap subjek dari 11 subyek

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) skor rata-rata hasil belajar Matematika pada kelompok eksperimen adalah 24,83 dengan kategori sangat baik, (2) skor rata-rata hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kemapuan numerik siswa kelas XI MAN 1 Kajuara terdapat kategori sangat rendah dengan skor rata-rata 13,22 dari skor ideal 30 untuk 30

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik suka penggunaan Google Form dengan rata-rata skor sebesar 70,26 dengan kategori sangat tinggi