• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS PENGANTAR ILMU POLITIK (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS PENGANTAR ILMU POLITIK (2)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENGANTAR ILMU POLITIK

NAMA

: Raditya Rahagi

NIM

: 20170510051

KELAS

: A

FAKULTAS

: ILMU SOSIAL DAN POLITIK

(2)

Diplomasi Maritim Indonesia, Mampukah Pemerintah

Mewujudkannya?

Pendahuluan

Ide poros maritim dunia atau“global maritime axis” adalah gagasan besar Presiden Joko

Widodo (Jokowi) yang sudah dikampanyekan sejak kampanye Pilihan Presiden (Pilpres)

2014. Gagasan ini muncul di tengah berbagai permasalahan bangsa seperti korupsi,

kebocoran anggaran, ketidakadilan dan sebagainya. Ide poros maritim menjadi harapan besar

bangsa Indonesia agar kembali ke jati diri sebagai bangsa pelaut. Gagasan maritim yang

sudah dimulai diimplementasikan sudah tentu akan berdampak kepada kebijakan luar negeri

Indonesia. Namun poros maritim juga menimbulkan tantangan sekaligus peluang yang

apabila dapat diselesaikan bisa menjadi driving force agar negara semakin maju. Tidak dipungkiri, reaksi juga datang baik dari dalam maupun luar negeri yang jika tidak ditangani

dengan baik bisa menjadi batu sandungan ide poros maritim.1

Diplomasi maritim Indonesia mengandung prinsip Pembukaan UUD 1945, yang berbunyi

Ikut melaksanakan Ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan

keadilan social. Prinsip yang dianut oleh Republik Indonesia yang berdiri pada tahun 1945 itu

memiliki arti penting bagi stabilitas keamanan dunia dan kawasan. Sehingga pada tahun 1960,

Indonesia mengeluarkan prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif sebagai tindak lanjut dari

amanah Pembukaan UUD 45. Latar belakang munculnya, konsep ini selain dari amanat

Konstitusi juga melihat konstelasi dunia yang mengarah pada Perang Dingin pasca Perang

Dunia II saat itu. Konsep yang berangkat dari pemikiran Bung Hatta mengenai Mengayuh

Diantara dua karang. Dalam keterangan pemerintah di hadapan sidang BP KNIP tanggal 2

September 1948, Bung Hatta mengatakan bahwa “pendirian yang harus kita ambil ialah

supaya kita jangan menjadi obyek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita

harus tetap menjadi subyek yang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak

memperjuangkan tujuan kita sendiri, yaitu Indonesia merdeka seluruhnya.” Menurut Bung

Hatta, politik luar negeri Indonesia harus didasarkan pada kepercayaan diri dan berjuang

dengan kemampuan sendiri. Namun begitu, bukan berarti Indonesia tidak mengikuti perkembangan situasi internasional dan memanfaatkannya demi kepentingan nasional. “Ini

1

(3)

tidak berarti bahwa kita tidak akan mengambil keuntungan dari pada pergolakan internasional,” ungkap Bung Hatta.

Belakangan pidato Bung Hatta itu diterbitkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Mendayung di antara Dua Karang” untuk merujuk pada posisi Indonesia di antara dua negara adi daya, Amerika Serika dan Uni Soviet. Dalam dua tulisannya di Foreign Affairs

beberapa tahun kemudian, Bung Hatta kembali menegaskan prinsip bebas aktif yang dianut

Indonesia tersebut.

Prinsip bebas aktif ini tidak pernah berubah sejak Indonesia merdeka hingga sekarang. Dalam

konteks pasca-Perang Dingin, prinsip itu tetap dinilai relevan untuk menjaga independensi

Indonesia dalam mengambil keputusan terkait kebijakan luar negerinya tanpa campur tangan

negara lain. Sebab meski era bipolar lampau, namun kekuatan-kekuatan yang ingin menarik

Indonesia demi kepentingan mereka tetap akan ada. Hanya saja, bentuk implementasi dari

prinsip ini berlainan di tiap rezim dan pemerintahan.2

Poros maritim merupakan gagasan besar Presiden Jokowi yang ingin mengembalikan

kejayaan Indonesia sebagai bangsa pelaut. Namun Presiden Jokowi menggaris bawahi bahwa

yang dimaksud bangsa pelaut dengan ide besar poros maritim bukanlah sekedar menjadi “jongos-jongos di kapal. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, armada militer, yang kesibukannya di laut menandingi

irama gelombang lautan itu sendiri."2 Namun inti dari pesan Jokowi sebenarnya terletak pada

meningkatan infrastruktur selama ini terbengkalai. Akibatnya Indonesia kehilangan banyak

peluang yang seharusnya bisa menjadi sumber pendapatan negara. Lebih jauh lagi, ide poros

maritim tidak lain adalah untuk meningkatkan konektivitas antar pulaupulau yang sangat

lemah akibat buruknya sarana dan prasarana. Ini merupakan agenda pokok poros maritim

yang berambisi menguhubungkan ribuan kilometer garis pantai terutama dengan menambah

fasilitas pelabuhan

2

(4)

DISKUSI

Poros Maritim dan Respon NegaraNegara Sekitar

Ide dan kebijakan poros maritime tampaknya sudah mendapat perhatian banyak pengamat

internasional dan tentunya negara-negara sekitar seiring kepopuleran Calon Presiden Jokowi.

Sejak munculnya isu pencalonan Jokowi, liputan media asing memang signifikan. Terlepas

berbagai spekulasi yang berkembang bahwa liputan media internasional terkait dengan rantai

kampanye, pemberitaan tentang fenomena Jokowi tersebut menjadi pintu gerbang dikenalnya

konsep gagasan poros maritim dunia. Dalam hal ini jelas bahwa kebijakan poros maritim

berdampak signifikan terhadap postur kebijakan luar negeri Indonesia. Isu keamanan

kawasan menjadi poin penting meningkatnya diskursus tentang poros maritim oleh berbagai

negara khususnya di Asia Pasifik terutama pasca kemenangan Jokowi atas rivalnya Prabowo

Subianto. Amerika Serikat sebagai salah satu mitra Indonesia misalnya cenderung

menyambut baik gagasan poros maritim Jokowi. Melalui Asisten Menteri Luar Negeri bidang

Asia Timur dan Pasifik, Scot Marciel menyatakan bahwa pemerintahnya mendukung penuh

langkah Jokowi terkait poros maritim dunia. Lebih lanjut menurut mantan Duta Besar untuk

Indonesia 2010- 2013 tersebut, pemerintahnya mendukung dalam aspek pembangunan

infrastruktur seperti pelabuhan yang akan mengkonektivitaskan perairan dan kemaritiman di

Indonesia.45 Bahkan terkait dengan pembangunan besar-besaran pelabuhan, pemerintah

Rusia sudah siap untuk mensukseskan program Jokowi. Menurut salah satu orang terkuat

nomor dua di Rusia, Indonesia adalah mitra terpenting di kawasan Asia Pasifik.3

Diplomasi Poros Maritim Dunia

Terutama dalam memasuki era poros maritim dunia yang dikumandangkan oleh Presiden RI

Ke-7 Joko Widodo saat ini. Indonesia dituntut untuk memegang teguh prinsip politik luar

negeri bebas aktif yang berujung pada tegaknya kedaulatan bangsa Indonesia di dunia

internasional. Dalam perjalanan poros maritim dunia, guna mencapai kedaulatan maritim,

pemerintah merancang lima pilar pembangunan maritim, yang salah satunya terdapat

penguatan diplomasi maritim.

Arah politik pemerintahan Joko Widodo dengan poros maritim dunia-nya itu diharapkan

membawa perubahan signifikan pada arah diplomasi kita, baik pada masa sebelum Reformasi

3

(5)

maupun sesudah Reformasi ( Era Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY).

Kegagalan dipomasi pada rezim setelah reformasi seperti lepasnya Timor Leste, Sipadan

Ligitan, kemudian masalah MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM dinilai oleh

banyak pihak memiliki banyak kelemahan. Di antaranya yan paling terlihat sekali sewaktu

masa SBY, di mana mengeluarkan prinsip „Zero Enemy, Thousand Friends‟ telah dianggap

sebagai prinsip yang lemah dan tidak memiliki arah. Begitupun dalam penafsiran amanat

Pembukaan UUD 45 dan Politik luar negeri bebas aktif, prinsip itu dianggap salah kaprah dan

tafsir. Akibatnya, Indonesia memiliki Bergainning politik yang lemah di kancah dunia

Internasional. Penafsiran politik luar negeri beabs aktif sendiri pun bukan berarti kita harus

netral dan tidak memihak. Kita dapat condong dan bahkan memihak kepada blok manapun

dengan National Interest sebagai tinjauan utamanya. Meskipun belum secara terperinci

pemerintah Jokowi menjelaskan maksud dari diplomasi maritim dalam 5 pilar

pembangunannya, setidaknya sudah ada itikad dari pemerintah untuk memperbaiki masalah

diplomasi Indonesia khususnya diplomasi maritim.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya dalam konteks ini TNI AL memberikan kontribusi yang

nyata baik dalam bentuk pemikiran maupun tindakan. Karena hal itu telah sesuai dengan Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia pada Pasal 9.

Disebutkan bahwa TNI AL memiliki tugas diplomasi Angkatan Laut guna mendukung

kebijakan politik luar negeri pemerintah. Hal yang sebenarnya jarang dilakukan oleh

pemerintah sebelumnya dalam melibatkan TNI AL untuk menyelesaikan masalah diplomasi

maritim seperti masalah Ambalat dan Tanjung Datuk dengan Malaysia, masalah Pulau Pasir

dengan Australia, dan masalah perbatasan di Laut Andaman dengan Thailand dan India, serta

masalah-masalah lainnya. Namun yang perlu digarisbawahi saat melakukan diplomasi

maritim untuk masalah perbatasan maritim ialah dengan memperhatikan aspek hukum

internasional dan hukum nasional dengan memperimbangkan National Interest sebagai tujuan

utamanya. Selain itu seoptimal mungkin juga dipertimbangkan penyelesaian masalah dengan

damai, meskipun tidak menutup kemungkinan perang fisik merupakan konsekuensi yang

ditempuh apabila National Interest kita terpinggirkan. Seperti pada persoalan pencurian ikan

yang melampaui batas negara. Pencurian ikan sebagai kejahatan yang sangat serius juga

(6)

disebutkan dalam Statuta Roma, pencurian ikan sebagai kejahatan luar biasa harus dianggap

sebagai suatu kejahatan yang melanggar hak asasi manusia atau crimes against humanity.4

Hal ini sangat tepat, karena kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pencurian ikan telah

menghilangkan hak-hak asasi masyarakat Indonesia, sehingga hal ini bukan hanya tanggung

jawab Indonesia saja untuk memeranginya. Tetapi menjadi kewajiban dan tanggung jawab

negara-negara lain yang terlibat untuk juga menegakan hukum bagi pelanggarnya. Sehingga

Pemerintah Indonesia harus mendesak negara-negara di dunia untuk turut serta menegakan

hukum bagi para pencuri ikan yang berada di wilayah yuridiksi hukumnya.

Keterlibatan Angkatan Laut

Keterlibatan TNI AL dalam menanggulangi pencurian ikan yang merupakan penerapan

contsbulary role juga mengandung Naval Diplomacy role, mengingat banyaknya negara yang

tidak terima saat kapal nelayannya ditenggelamkan. Maka TNI AL bersama Kementerian

Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Luar Negeri harus bisa menjelaskan kepada dunia

internasional mengenai landasan penenggelaman tersebut yang sesuai pula dengan tugas dan

peran universal Angkatan Laut. Paling tidak dunia internasional harus mampu menghargai

kedaulatan maritim Indonesia.

Selain itu guna membina Brotherhood sesama Angkatan Laut se-dunia, TNI AL terlibat aktif

dalam event internasional seperti latihan multilateral dari Angkatan Laut baik kawasan

maupun dunia. Sehingga poin-poin tersebut mampu menguatkan kiprah diplomasi Angkatan

Laut guna mencapai poros maritim dunia. Langkah itu juga mampu diwujudkan saat

pemerintah memerlukan investasi guna membangun Tol laut, seperti adanya bantuan

anggaran dari Tiongkok, namun juga harus disertai dengan tenaga kerjanya. Praktis hal ini

tentunya menggores kedaulatan kita juga mengingat kelangkaan pekerjaan kian meningkat di

Indonesia. Sehingga anggapan Poros Maritim-nya Tiongkok dapat ditepis oleh pemerintah.

Berdasarkan letaknya yang strategis, Indonesia seharusnya memiliki Bergainning yang kuat

saat mengambil keputusan terkait politik luar negeri. Misalnya, ketika suatu negara

memberikan persyaratan yang tinggi supaya mau menginvestasi di Indonesia, maka jangan

sampai kedaulatan kita tergadaikan. Kita tentunya memiliki keyakinan bahwa masih banyak

4

(7)

negara lain yang respect terhadap Indonesia. Begitu pun juga saat ikut serta dalam meredakan

konflik kawasan, seperti yang terjadi di Laut China Selatan, Indonesia khususnya TNI AL

harus mampu terlibat di kawasan Natuna yang berbatasan langsung dengan pusara konflik.

Oleh karena itu, dengan diplomasi maritim bagaimana kehidupan rakyat Indonesia dapat

terlindungi (rasa aman), sejahtera, dan meningkat SDM-nya. Selain itu juga tidak ada

sejengkal tanah dan lautan yang dimiliki oleh negara lain. Setelah itu baru secara

internasional kita mampu menjadi stabilisator konflik atau ikut melaksanakan ketertiban dan

perdamaian dunia.

Diplomasi Angkatan Laut

Suatu peristiwa yang diawali dengan blokade kekuatan angkatan laut Amerika di moncong

perairan Kuba merupakan peristiwa yang menunjukkan suatu resultante koersif yang dikenal

dengan Gunboat Diplomacy atau diplomasi kapal perang yang pada akhirnya menjadi Naval

Diplomacy atau diplomasi Angkatan Laut. Di sisi lain, Diplomasi Angkatan laut tidak hanya

mengarah kepada Coercive diplomacy namun kekuatan angkatan laut bisa menjadi suatu

instrumen Cooperative diplomacy seperti pada kegiatan kegiatan: Honour Visit, Fleet review,

Join Exercise, Capacity Building, Human Disaster Relief. Salah satu faktor kenapa angkatan

laut adalah ketahan lamaan operasi dalam ruang dan waktu serta mudah untuk manuver

menjadikan suatu kekuatan maritim atau kekuatan angkatan laut merupakan instrumen yang

baik guna mencapai tujuan politik luar negeri.5

Menurut Ken Booth bahwasannya Angkatan Laut dapat memerankan tiga fungsi secara

universal, yakni peran Diplomasi, Militer dan Konstabulari. Aturan tentang peran diplomasi

bagi TNI AL baru tertuang pada undang undang no.34 tahun 2004 pasal 9c. Dalam peran

Diplomasi sangat erat kaitannya dengan Foreign Policy dan Pertanyaannya adalah apakah

Negara kita sudah mengimplementasikan peran ini? The diplomatic role of navies is

concerned with the management of foreign policy short of the actual employment of force.

Diplomatic applications support state policy in particular bargaining situations or in the

general international intercourse. Peran ini mencakup mulai dari naval presence walaupun

tidak semua angkatan harus dan bisa memiliki opsi ini dan kemampuan laten yang disebut (latent naval capabilities). Peran ini sering disebut juga sebagai “unjuk kekuatan Angkatan

5

(8)

Laut” yang telah menjadi peran tradisional Angkatan Laut. Diplomasi merupakan dukungan terhadap kebijakan luar negeri pemerintah yang dirancang dan digelar untuk mempengaruhi

kepemimpinan negara lain dalam keadaan damai maupun pada situasi perang.

Amerika menerapkan Shaping Environment-nya dengan instrumen Angkatan Lautnya

melalui peran diplomasinya. Pelajaran dari bagaimana kita mengamankan kepentingan

nasional dalam bentuk deploy kekuatan laut ke Somalia telah mampu melaksanakan

pengamanan terhadap KM Sinar Kudus bahwa TNI AL kita telah mampu sebagai fighting

instrument dalam rangka mengamankan aset negara diluar yurisdiksi Nasional. Disisi lain,

Negeri yang Besar ini belum sepenuhnya memaksimalkan peran diplomasi TNI AL sebagai “Part of Maritime and Defence Diplomacy” karena masih dalam konteks kerja sama dan dialog. Aplikasi maritime power untuk kepentingan diplomasi telah berlangsung berabad– abad silam, serta tidak akan sirna selama di dunia ini masih ada Angkatan Laut.

Bagaimanapun, dengan kemampuannya untuk beroperasi yang jauh dari negara induknya

dalam waktu yang lama, Angkatan Laut senantiasa akan menjadi pilihan utama diplomasi

bagi negara-negara yang paham akan karakteristik Angkatan Laut.6

Ancaman di wilayah laut Indonesia dan diplomasi Pertahanan

Mari berfikir secara realistis, jika negara kita merupakan negara kepulauan dengan 80 %

wilayah laut dan 20 % wilayah darat, pertanyaannya adalah di manakah ancaman terbesar

terhadap kedaulatan NKRI berada? Ancaman ini menjadi semakin tinggi karena posisi

geografis Indonesia berada dalam lalu lintas perdagangan dunia. Mengingat berbagai

kepentingan negara yang melintas tersebut, sangat mungkin mereka melakukan kegiatan

intelijen atau mencuri ikan, tanpa terdeteksi oleh kemampuan pertahanan dan keamanan laut.

Fakta bahwa wilayah laut adalah wilayah terbuka, maka dengan leluasa kekayaan laut

Indonesia dimanfaatkan bangsa lain tanpa ada kemampuan untuk melindunginya.7

Secara yuridis, Pasal 3 Ayat (2) Undang-Undang 3/2002 mengatur bahwa pertahanan negara

disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Permasalahannya adalah bahwa landasan yuridis ini tidak diimplementasikan sebagai

kerangka landasan pemikiran dalam melaksanakan reformasi pertahanan. Hal ini disebabkan

6

http://nasional.kompas.com/read/2014/10/10/06370401/Jokowi.Poros.Maritim.Dunia.Tol.Laut.dan.Si.Vis.Pac em.Para.Bellum.

7

(9)

belum adanya kesamaan pemahaman di antara stake holder pertahanan, termasuk warga

negara dan politisi tentang implementasinya. Dari potensi ancaman yang ada diwilayah NKRI

pengembangan pertahanan negara Kepulauan atau negara bahari harus menjadi acuan.

Apabila dilaksanakan sebaliknya, yaitu dengan pendekatan Continental Oriented, maka

mengakibatkan kemampuan pertahanan negara hanya sebesar 20%. Konsekwensinya wilayah

kedaulatan yang menjadi pilar utama dalam menjabarkan pembangunan kemampuan

pertahanan Indonesia menjadi sempit. Wilayah laut yang mencapai 80 % justru tidak

mendapatkan perhatian secara maksimal. Potensi Geografis tersebut selain menimbulkan

ancaman namun juga merupakan suatu bagian elemen statis untuk membangun negara

maritim yang kuat yang mana akan sangat berbeda dengan negara yang berada di tengah

benua atau disebut juga dengan Land Lock. Wilayah geografis Indonesia yang berbentuk

kepulauan dimana luas lautnya melebihi daratannya, serta berada pada posisi silang dunia

maka diplomasi pertahanan, khususnya diplomasi maritim dan diplomasi angkatan laut

merupakan suatu kebutuhan yang vital dan mendasar dan harus terus di kembangkan yang

sejalan dengan perkembangan lingkungan strategis yang ada. Defense Diplomacy merupakan

bagian dari diplomasi yang sangat berkaitan erat dengan domain pertahanan, dalam

rangkaiannya mulai pamer kekuatan, ancaman serta penggunaan kekuatan. Pada era sekarang

bahwa diplomasi maritim yang mencakup pula diplomasi angkatan laut atau lebih terkenal

dengan sebutan Naval Diplomacy, merupakan bagian dari diplomasi pertahaan NKRI.

Implementasi dari naval diplomasi yang terjadi sekarang sebagai contoh adalah latihan

bersama Korea Selatan dengan Amerika Serikat setelah terjadi konflik di perbatasan Korut

dan Korsel dengan kode sandi Ulchi Freedom Guardian salah satu tujuannya adalah

membuktikan bahwa keberadaan kekuatan Militer Amerika Serikat masih menguasai di

wilayah tersebut.

Begitu pula memanasnya konflik Laut China Selatan, baik China maupun Amerika keduanya

memamerkan kekuatan lautnya. Diplomasi sebagai salah satu instrumen strategi pertahanan

negara NKRI harus bersinergi dengan instrumen lainnya yang akan membentuk suatu satu

kekuatan yang sangat efektif dan handal dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Kurangnya

penerapan diplomasi angkatan laut dalam strategi pertahanan negara merupakan cerminan

bahwa negara kita belum memberikan perhatian khusus pada diplomasi pertahanan

khususnya diplomasi angkatan laut.8

8

(10)

KESIMPULAN

Konsep “bebas aktif” masih dipertahankan pemerintahan Jokowi dengan beberapa

penyesuaian. Terkait kebijakan poros maritim dunia, berbagai pihak dalam negeri

menaggapinya secara beragam. Pro dan kontra atas kebijakan tersebut tidak lain akibat

polarisasi politik pasca Pilpres 2014. Konstelasi tersebut mengakibatkan kurang padunya

dukungan dalam negeri atas gagasan poros maritim namun dampaknya tidak sesignifikan

dengan impementasi kebijakan tersebut. Sebaliknya, ide poros maritim dunia mendapat

perhatian serius dan menjadi isu keamanan kawasan. Sebagian negaranegara sekitar

melihatnya sebagai agresifitas, sebagian berhati-hati misalnya Malaysia. Kebijakan poros

maritim dunia juga memunculkan evaluasi sekaligus kewaspadaan kawasan terhadap

kemampuan pertahanan Indonesia sebagai negara paling penting di Asia Tenggara. Jika

peluang ini benar-benar direspon dan dimanfaatkan pemerintah, otomatis bisa meningkatkan

daya tawar diplomasi Indonesia tidak hanya di kawasan tetapi di tingkat global.

Diplomasi maritim dan diplomasi angkatan laut bukan seluruhnya domain TNI AL,

pemerintahlah yang harus mengeluarkan kebijakan yang lebih tinggi sehingga apa yang

dibilang kepanjangan tangan dari Foreign Policy akan terwujud dan pemerintah harus segera

membenahi dan mengerti lingkup dan penjabaran kebijakan dalam penggunaan maritime

power.

Diplomasi Maritim, Diplomasi Angkatan Laut dan Diplomasi Pertahanan Indonesia

merupakan aplikasi bagian terkecil dalam upaya mewujudkan atau membentuk Indonesia

maritime power, apabila ingin benar-benar mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim

Dunia.

Ketika visi pemerintah ingin mewujudkan negeri ini sebagai poros maritim dunia, Strategi

Pertahanan Maritim dari Kemhan akan dikeluarkan. Lantas bagaimana dengan Doktrin

Maritim Indonesia? Strategi Militer Maritim indonesia dan Strategi Maritim Indonesia?

Diplomasi pertahanan, diplomasi maritim dan diplomasi angkatan laut yang handal

(11)

DAFTAR PUSTAKA

 Raja Samudera (2016,3 januari) Diplomasi Maritim Indonesia . Diperoleh tanggal 17 Oktober 2017, dari https://rajasamudera.com/2016/01/diplomasi-maritim-indonesia/

 Academia (2015, mei) Poros politik dan Hubungan Luar Negeri . Diperoleh tanggal

18 Oktober 2017 dari

http://www.academia.edu/11964690/Poros_Maritim_dan_Politik_Luar_Negeri_Joko

Referensi

Dokumen terkait

Di sisi pembiayaan, potensi kenaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga terindikasi dari penyaluran kredit konsumsi oleh perbankan yang masih tumbuh tinggi dan dibarengi

Ditinjau dari perbaikan sifat fisika dan kimia tanah serta hasil biji kering kedelai, aplikasi formula pembenah tanah alternatif Biochar SP50 Submikron dan Volkanorf K424

(satu) unit prediktor pengetahuan siswa tentang ekosistem mangrove akan meningkatkan nilai kreatifitas siswa sebesar 0,098; dan peningkatan 1 unit prediktor

Akan tetapi kalau hanya sekedar prasangka adanya kemanfaatan atau prasangka adanya penolakan terhadap kemazdaratan, maka pembinaan hokum semacam itu adalah

Communication Objective Dari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui 60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kota Semarang, sebanyak 43, yang berminat gabung

Merupakan struktur yang dibentuk oleh mineral yang equidimensional sehingga terdiri alas butiran - butiran (granular), dapat dijumpai pada batuan hornfelsa. Foliasi

DRPP/Kuitansi Nama Kegiatan Hasil Pemeriksaan Berkas Kurang 1 000442 Pembelian parang -Belum dilengkapi tanda. tangan pejabat keuangan - SPBY 2 000443 Biaya Parkir -Belum

Penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya,