• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK KELOMPOK ISLAM TRANSNASIONALIS D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POLITIK KELOMPOK ISLAM TRANSNASIONALIS D"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

POLITIK KELOMPOK ISLAM TRANSNASIONALIS DI INDONESIA

Sebagai Sebuah Ancaman Terhadap Pancasila

Dewasa ini isu Islam Transnasionalis di Indonesia selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan. Khususnya gerakan-gerakannya yang terjadi di Indonesia yang selalu di cap negatif dan selalu disamakan dengan gerakan fundamental dan radikal yang mengganggu kedamaian kehidupan berbangsa di Indonesia.

Lalu apakah benar gerakan Islam transnasionalis yang berkembang dewasa ini khususnya yang ada di Indonesia dapat mengancam dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yaitu Pancasila?

~*~

Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia selain kasus korupsi oleh para pejabat pemerintahan dan elit juga muncul sebuah diskursus baru mengenai munculnya kelompok Islam transnasionalis yang bersifat fundamental dan radikalis yang tidak hanya mengganggu kedamaian kehidupan berbangsa di Indonesia juga dapat mengancam dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yaitu pancasila.

(2)

Saat ini di Indonesia, terdapat dua gerakan Islam, yaitu, Islam transnasionalis dan Islam nasionalis. Istilah Islam transnasional ini menurut KH. Hasyim Muzadi (2007) merujuk pada ideologi keagamaan lintas negara yang sengaja di impor dari luar dan dikembangkan di Indonesia. Sedangkan Islam nasionalis (kebangsaan) adalah gerakan yang berlandaskan Islam tapi mereka menerima pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Jadi, dengan kata lain Islam transnasional ini merupakan sebuah reaksi terhadap despotis terhadap mereka dan reaksi intelektual muslim atas melencengnya nilai-nilai dari standart kebenaran. Lahir sebagai pemecahan dari persoalan-persoalan politik yang muncul di daerah Timur Tengah. Sedangkan Islam nasionalis (kebangsaan) organisasi sosial keagamaan atau organisasi politik yang lahir dari pergulatan dan pemecahan masalah-masalah yang terkait dengan Indonesia.

Dalam sejarah Islam, sejak umat Islam mengekspansi Eropa dan pada masa tertentu, Eropa tidak hanya melepaskan diri dari kekuasaan Islam bahkan banyak menjajah negara-negara Islam di Timur Tengah, lalu berbalik umat Islam berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Eropa, peperangan Islam dan negara-negara Eropa berlangsung sangat lama (Rahmat 2008: 64-65), mulai dari kehancuran Dinasti Turki Ustmani, perang Afganistan, umat Islam melawan Uni Soviet dan Amerika, dan yang terakhir kejadian 9/11 di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Al-Qaida di bawah kepemimpinan Osama Bin Laden.

Di akhir tahun 1990-an semakin banyak kelompok-kelompok oposisi di Timur Tengah yang menjadikan Islam sebagai dasar ideology politik yang ikut memberikan inspirasi bagi kelompok-kelompok yang serupa di Negara-negara lain. Hal ini menandakan bahwa semakin kuatnya posisi politik kelompok Islam oleh Negara-negara barat – AS, Eropa, dll – dianggap sebagai suatu penghalang dan tak segan melakukan tindakan reprresif untuk menghentikan kelompok-kelompok Islam bahkan memberikan cap “teroris”.

(3)

sering terjadi. Dari sinilah diantar warga muslim ada yang menyerukan untuk kembali ke Islam dan melakukan reformasi dengan cara politik Islam.

Selama hampir dua dekade, Islam dijadikan sebagai medium untuk melakukan kegiatan politik dan mobilisasi. Politik Islam diseluruh dunia menggunakan Islam sebagai alat untuk nation-building. Bahkan beberapa pemerintahn di negara-negara muslim menjadikan Islam ssebagai medium meneruskan kekkuasaan mereka. Meskipun demikian, politik Islam kontemporer menentang persepsi tentang fundamentalisme islam.

Gerakan Islam kontemporer pada dekade 1990an adalah sumber kekuatan dari gerakan-gerakan perlawanan Islam. Banyak diantara gerakan-gerakan ini yang tidak rasional dan melakukan perlawanan dengan jalan kekerasan misalnya pembunuhan. Akan tetapi perkembangan ini sangat kompleks. Banyak kelompok politik Islam yang memilih jalan pemilu untuk mendapatkan kursi di parlemen.Namun pada perkembangan selanjutnya, politik Islam tumbuh sebagai oposisi ilegal terhadap pemerintahan yang sah. Hal ini dikarenakan oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Di Indonesia gerakan Islam transnasionalis sudah menapakkan jejak politiknya paska kemerdekaan Republik Indonesia. Misalnya, dalam kasus pembentukan pancasila sebagai dasar kebangsaan Indonesia, ketika NU, Muhammadiyah, HMI, PPMI, dan kelompok ormas Islam lainnya yang menerima asas tunggal pancasila, kelompok Masyumi (berpaham Wahabi), seperti DDII, PII, GPI, dan HMI MPO secara kukuh menolaknya, lalu muncul gerakan separatisme yang dilakukan oleh gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang menimbulkan banyak korban jiwa. Lalu, kelompok ini mendapat tindakan represif dari pemerintah.

Munculnya gerakan Islam transnasional semakin marak muncul paska runtuhnya pemerintahan orde baru. Gerakan-gerakan tersebut antara lain:

1. Ikhwanul Muslimin 2. Hizbut Tahrir 3. Jihadi (Radikal)

4. Salafi Dakwah dan Salafi Sururi 5. Jama’ah Tabligh

(4)

Mayoritas gerakan-gerakan Islam Transnasionalis tersebut menginginkan sebuah negara berdasarkan Islam atau Khilafah, meskipun menggunakan metode yang berbeda-beda. Untuk memudahkan terdapat beberapa karakter antara kelompok fundamentalis dan radikal (Iqbal dan Nasution 2010; 58-217).

Karakter Fundamentalis:

1. Membid’ahkan dan memusyrikkan amalan-amalan kaum pesantren, seperti Mauludan, ziarah kubur, Dzibaan, Tahlil, Dzikir, dan sebagainya. Mereka menganggap itu semua menodai kemurnian Islam.

2. Literalis: menolak ta’wil dan penafsiran Qur’an dan Sunnah secara yang tersurat.

3. Tidak mengakui akal, mereka hanya mengakui wahyu. Wahyu merupakan sumber satu-satunya dalam Islam.

4. Anti imam-imam madzhab dan tidak mengakui kitab kuning. Hanya menganut Imam Ahmad bin Hambal versi Ibnu Taymiyyah, dan Muhammad bin Abdul Wahab.

5. Intoleran: cenderung memusuhi kelompok lain dan menganggap hanya ajaran kelompoknya sendiri yang benar. Mudah mengkafirkan orang yang tidak seajaran dengan mereka.

Karakter Islamis-Radikal:

1. Radikal: menganggap kehidupan Islam dan sistem kenegaraan yang telah ada di dunia muslim sebagai penyimpangan, dan harus diubah dengan cara yang mendasar.

2. Pro kekerasan: sangat mendukung kekerasan dimana kondisi yang menyimpang menurut mereka harus diluruskan baik dengan jalan dakwah maupun jalan jihad (perang).

3. Fanatic-militant: meyakini dengan mutlak bahwa ajarannya sendiri sebagai kebenaran tunggal yang harus disebarluaskan dengan jalan apapun.

4. Anti-Barat: Barat dipersepsikan sebagai penyebab hancurnya sistem kehidupan yang Islami baik budayanya, intelektualnya, ekonominya, maupun sistem politiknya.

(5)

6. Menempatkan yang sunnah sebagai yang wajib, menjadikan yang furu’ sebagai ushul, mengubah segala sesuatunya menjadi sakral.

Kelompok Islamis-Radikal dan teroris di Indonesia mempunyai dua pokok agenda. Pertama, merobohkan NKRI dan pancasila. Menjadikan Islam sebagai entitas politik yakni untuk membentuk negara Islam atau khilafah Islamiyah versi mereka sendiri. Kedua, menerapkan ajaran Islam dalam masyarakat menurut versi mereka sendiri. Tanpa menerapkan hal tersebut, masyarakat di anggap jahiliyah (Rahmat 2008: 70-90).

Akar-akar kekerasan terinspirasi oleh Sayyid Quthb adalah ideolog gerakan Ikhwanul Muslimin, yaitu memrangi orang kafir saat ini adalah wajib bagi setiap muslim. Pemerintah yang tidak menerapkan hukum Islam adalah “toghut” yang harus diperangi. Masyarakat yang membiarkan dan mentaati hukum bukan hukum Islam adalah jahiliyah, wajib diperangi. Jihad melawan orang kafir harus dilakukan tanpa harus di serang lebih dahulu (Iqbal dan Nasution 2010: 210-216).

Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa kehadiran gerakan kelompok-kelompok Islam Transnasionalis telah merubah wajah rasa kebangsaan bangsa Indonesia terutama dalam Pancasila. Berbagai adaptasi budaya dan adat istiadat yang telah dilakukan kelompok gerakan Islam nasionalis (kebangsaan) dan gerakan-gerakan agama kebangsaan lainnya di Inonesia digugat oleh gerakan transnasionalis ini. Mereka menganggap bahwa memasukkan unsur kultural budaya Indonesia diantara agama Islam telah menodai ajaran Islam itu sendiri, tidak murni dan tidak otentik. Segala sesuatu dalam kerangka pembaharuan Islam juga dituduh menyebabkan sekulerime, dan penyelewengan Islam. Padahal dalam sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia dari Pancasila mengharuskan kita agar bersatu sebagai bangsa Indonesia yang utuh tanpa terpecah-pecah hanya karena suku, agama, dan ras.

(6)

pemecahan masalah sosial dan politik di Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa dan agama yang menganut asas bhineka tunggal ika.

Selain itu, keadaan defensif pada perkembangan sejarah gerakan-gerakan tersebut di Timur Tengah menuntut berperang mencapai kemenandengan menggunakan panji-panji Islam mampu mendorong semangat internalnya, seperti menanamkan kebencian terhadap agama, budaya, ilmu pengetahuan dan perilaku kehidupan Barat dengan menggunakan dalil ayat-ayat perang yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul untuk melegitimasi kegiatan-kegiatan militan mereka.

Mereka juga mengajak umat Islam untuk berjihad dan menjelaskan tentang pahala mati sahid melalui cara jihad (perang) agar mau bertempur dan mempunyai militasi tinggi, menciptakan tentara yang tidak takut mati. Mereka akan bilang kafir jika terdapat umat Islam yang tidak mau berperang melawan Barat. Jadi, mereka memandang ajaran Islam adalah ajaran melawan kekafiran dengan segala macam cara. Dapat dibayangkan jika pemikiran dan kondisi umat Islam di Timur Tengah yang sangat berbeda dengan di Indonesia dimana orang-orangnya sudah lama hidup damai dalam keberagaman suku, keyakinan, agama dan ras dan juga damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Akibatnya dari pemaksaan pemikiran sosial dan politik yang dilakukan oleh gerakan-gerakan kelompok tersebut adalah konflik beragama yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia selama kurang lebih kurun waktu 15 tahun. Seperti konflik agama, yaitu antara Islam dan Kristen di Poso dan Ambon. Berbagai serangkaian tindakan terorisme, yaitu pengeboman di hotel-hotel berbintang, di gereja-gereja, di tempat-tempat umum, di kedutaan besar. Lalu kasus penganiayaan dan pembubaran Ahmadiyah di Monas tanggal 1 Juni 2008, lalu masih Ahmadiyah di Cikesik Pendelang, Banten. Dimana konflik-konflik tersebut juga memakan banyak korban jiwa dan harta yang cukup banyak. Hal tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan jiwa pancasila. Selain memecah persatuan bangsa Indonesia juga konflik-konflik yang disebabkannya memakan korban jiwa tidak sedikit sangat bertentangan dengan sila kemanusiaan yang beradab dalam pancasila.

(7)

idenya yang ingin mendirikan negara khilafah. Maka harus dilakukan pemecahan permasalahan ini yaitu dengan cara:

1. Hukum

Keharusan menggunakan pancasila dalam kehidupan berorganisasi, baik berupa organisasi masyarakat, partai politik, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat menghambat ideologi gerakan Islam transnasionalisme yang menggurita di Indonesia. Mungkin bisa juga dengan melakukan kontrol dan meregulasi melalui payung hukum yang mengikat tentang penyebaran ideologi kelompok Islam transnasional yang jika dibiarkan dan tanpa kontrol akan mengancam ideologi pancasila dan keutuhan NKRI.

(8)

KESIMPULAN

Gerakan-gerakan Islam yang berkembang di Timur Tengah jika dipandang sekilas tanpa melihat konteks, realitas yang terjadi dan hanya melihat pertimbangan HAM hanya akan dapat disimpulkan bahwa gerakan-gerakan tersebut adalah gerakan yang fundamental dan terkesan redikal dalam prakteknya. Namun ketika dikaji dengan memasukkan beberapa pengetahuan, maka gerkan-gerakan Islam tersebut merupakan sebuah kewajaran atas reaksi terhadap despotis terhadap mereka dan reaksi intelektual muslim atas melencengnya nilai-nilai dari standart kebenaran.

Maka saya menyimpulkan bahwa gerakan-gerakan Islam yang ada dan berkembang saat ini merupakan sebuah reaksi dan pembaharuan aksi yang dilakukan oleh orang-orang yang sadar akan sebuah kebenaran yang sejatinya dianggap melenceng dari niali-nilai yang dipahami oleh masyarakat. Dimana gerakan-gerakan atau organisasi ini digunakan sebagai alat untuk melakukan perjuangan Islam saat ini dan beberapa khususnya adalah alat perjuangan untuk memperjuangkan kemerdekaan negaranya dan perjuangan politik untuk menciptakan sebuah rezim yangdapat mensejahterakan negara dan rakyatnya.

Namun pada konteks Indonesia, hal tersebut tidak akan bisa terwujud karena sejak jaman sebelum kemerdekaan bangsa ini sudah terdiri dari berbagai macam keyakinan yang harus kita hargai sebagai sebuah fitrah. Dan sejak negara Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, lalu merumuskan dasar ideologinya, yang juga merupakan hasil konsensus yang sifatnya memang telah disepakati bersama, Indonesia bukanlah negara Islam.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat, M. Imdadun.2008. Ideologi Politik PKS, Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen. Yogyakarta: LKiS.

Referensi

Dokumen terkait

mengajukan keluarga sebagai kandidat), buruknya tata pemerintahan, termasuk kasus di Kabupaten Kaur Bengkulu pada 27 Juni 2005, aksi kekerasan terjadi ketika muncul kekecewaan

Berdasarkan pembahasan maka kesimpulan dari analisa mengenai pengaruh hubungan kekerasan dalam rumah tangga terhadap munculnya perceraian (Studi kasus 3

Selain dari kasus korupsi yang muncul kepermukaan terutama karena adanya pressure media, sehingga menjadi perhatian publik, LBH juga mensinyalir banyak kasus

Di Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi, saat ini banyak kasus-kasus dalam pemerintahan karena para pejabat yang menjalankan sistem politik

Masih dalam kasus yang sama, keterlibatan politik yang ditampilkan oleh kalangan elit Persatuan Tarbiyah Islamiyah telah membangun suasana politik yang secara tidak

Akhir-akhir ini upaya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kasus korupsi adalah dengan mencabutan hak politik berupa hak dipilih dalam jabatan

Selain itu, analisis terhadap sikap PDIP dalam kasus ini juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara partai politik dan elit politik, serta implikasinya bagi

Pengedaran gelap narkoba melibatkan berbagai tindak kejahatan lainnya seperti penyuapan pejabat negara, elit politik, pejabat pemerintahan, jajaran penegak hukum persekongkolan jahat,