• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR TAHUN 2004

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR TAHUN 2004"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR TAHUN 2004

LEMBAGA BANTUAN HUKUM PALEMBANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Sejarah LBH Palembang

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang didirikan pada tahun 1980 dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradin). Kelahiran LBH dilatarbelakangi kondisi ketika banyak masyarakat di Indonesia tidak dapat membela hak-hak mereka di bidang hukum baik di dalam maupun diluar pengadilan. Pembentukan LBH pada saat itu diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang hukum yang berlaku di Indonesia atau hukum positif, sekaligus menjadi pembela bagi kepentinagn hukum masyarakat.

Seiring perjalanan waktu, pola relasi antara LBH dengan rakyat telah mengalami beberapa perkembangan. Relasi ini dapat pula dimaknai dengan istilah pendampingan, yang secara esensial adalah proses saling belajar dan saling memberikan input antara Pekerja Bantuan Hukum (PBH) LBH Palembang dengan rakyat. Peran baru ini merupakan refleksi dari peran-peran yang selama ini dominan berupa rutinitas pembelaan di pengadilan atau litigasi. Peran di pengadilan, khusus untuk kantor LBH Palembang sudah mulai selektif dilakukan dengan memilih kasus-kasus berdimensi struktural, dimana rakyat berhadapan langsung dengan negara maupun modal.

Advokasi terhadap kasus-kasus berdimensi struktural itu ditandai dengan intensitas aktivis LBH Palembang melakukan intervensi program dalam upaya resolusi konflik, baik itu buruh maupun petani dan masyarakat miskin kota sebagai upaya untuk mendorong keterlibatan rakyat dalam setiap proses politik. Hal demikian dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan yang membuka ruang-ruang politik bagi publik dan perubahan kebijakan di tingkat lokal.

Selanjutnya pada tahun 1997, LBH Palembang memprakarsai pembentukan lembaga-lembaga baru seperti OWAI (Organisation Women’s Advance Indonesia) yang khusus melakukan advokasi terhadap hak-hak perempuan di Sumatera Selatan dan Yayasan Kuala Merdeka (YKM) yang khusus melakukan advokasi terhadap hak-hak anak di kota Palembang.

Kemudian pada bulan April 1998, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Selatan resmi memiliki kantor sendiri di Jalan Raden Fatah No. 2C Bukit Besar Palembang, setelah lebih dari sepuluh tahun yaitu sejak tahun 1985 kantor Walhi Sumatera Selatan bergabung di kantor LBH Palembang. Pada awal tahun 1999, LBH Palembang juga memprakarsai pemisahan kantor KIPPDA Sumatera Selatan dari kantor LBH Palembang untuk lebih mengefektifkan tugas KIPP dalam pemantauan pemilu.

Dengan pendirian dan pemisahan lembaga-lembaga tersebut maka aktivis-aktivis gerakan kekuatan masyarakat sipil mulai menyebar ke berbagai issue masyarakat sipil. Jika sebelumnya semua berkumpul dan terpusat di kantor LBH Palembang di Jalan Jenderal Sudirman Palembang, maka merupakan hal yang wajar mengingat represi negara yang masih kuat pada waktu itu. Pada saat ini, lembaga-lembaga yang disebutkan di atas relatif telah eksis dan turut berkiprah dalam penguatan masyarakat sipil di Sumatera Selatan.

(3)

I.2 Visi dan Misi

LBH Palembang dengan sejarahnya yang panjang dan didasarkan pada analisis objektif tentang kondisi strategis lingkungannya, telah merumuskan Visi dan Misi sebagai berikut :

VISI :

"menentukan arah transisi demokrasi menuju terwujudnya transformasi struktural yang berkeadilan gender dengan berbasiskan gerakan rakyat."

MISI :

1. Mendorong transformasi struktural yang berlandaskan gerakan rakyat dan berkeadilan gender.

2. Mempromosikan dan memperjuangkan terjaminnya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.

3. Memperkuat penegakan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik.

I.3 Organisasi LBH Palembang

Struktur dan komposisi personil LBH Palembang pada tahun 2004 ini adalah sebagai berikut :

No Nama Jabatan Keterangan

1. Nur Kholis, SH Direktur Pembela Umum

2. Anggiat M. Tiopan, SH Wakil Direktur Paralegal Bantuan Hukum 3. Yusmarwati, SH Manajer Keuangan Karyawan

4. Herlambang, SH Kadiv Litigasi Pembela Umum

5. Eti Gustina, SH Kabag Indok Pembela Umum

6. Sri Lestari Kadariah, SH Kadiv SDA Pembela Umum

7. M. Subardin SE, MSi Kabag Litbang Paralegal Bantuan Hukum 8. DD. Shineba Kadiv Perburuhan Asisten Pembela Umum 9. Hendro Setiawan, SH Staf SDA Asisten Pembela Umum

10. Yopie Bharata Staf Litigasi Pembela Umum

11. Aprili Firdaus Sakamta, SH Staf Indok Pembela Umum

12. Zulyaden, SH Staf Litigasi Pembela Umum

13. Hefriyadi Sataf Perburuhan Paralegal Bantaun Hukum

14. Tamsil Pembantu Umum Karyawan

15. Hasanudin Pembantu Umum Karyawan

16. Taslimin, SH Staf Litbang Volunteer

(4)

BAB II

PELAKSANAAN FUNGSI DAN TUGAS POKOK

II.1 Penanganan Pengaduan

Setiap penduduk Propinsi Sumatera Selatan dan warga negara Republik Indonesia lainnya yang memiliki kepentingan hukum berhak menyampaikan pengaduan kepada LBH Palembang sepanjang mengenai tindakan pelayanan atau penyimpangan hukum yang mengakibatkan terganggunya rasa keadilan umum yang diterima masyarakat. Dalam hal ini masyarakat dapat menyampaikan pengaduan kepada LBH Palembang melalui beberapa cara :

1. Telepon 2. Surat 3. Tatap Muka 4. Media lainnya

Biasanya masyarakat menyampaikan pengaduannya kepada LBH Palembang melalui tatap muka langsung. Selanjutnya pelapor diminta menjelaskan kronologi permasalahannya secara tertulis.

Cara penanganan pengaduan setelah diterimanya laporan masyarakat sangat tergantung pada substansi kasus yang dilaporkan tersebut. Terdapat tiga cara penanganan pengaduan yang ditempuh LBH sebagai bentuk pelayanan kepada publik, yaitu :

1. Konsultasi dan memberikan saran/advise

2. Advokasi, meliputi : investigasi lapangan, mediasi, negosiasi, pendampingan aksi, mengirim surat ke instansi terkait, siaran pers, dan lain-lain.

3. Menjadi kuasa hukum

Sesuai dengan fungsinya maka terhadap pengaduan dari masyarakat ke LBH Palembang tersebut tidak dipungut biaya.

II.2 Investigasi Kasus Atas Inisiatif Sendiri

Investigasi merupakan salah satu metode LBH Palembang dalam rangka menindaklanjuti kasus-kasus dugaan penyimpangan hukum baik yang dilaporkan masyarakat maupun atas inisiatif sendiri. Bagi LBH investigasi diperlukan guna memperoleh informasi yang lebih lengkap, tajam, seimbang dan objektif yang akan dijadkan bahan untuk merumuskan tindakan seperti apa yang dapat dilakukan selanjutnya.

Keahlian melakukan analisis terhadap sebuah permasalahan akan sangat menentukan akurasi penanganan yang menjadi keluhan pengadu. Penanganan setiap pengaduan masyarakat oleh LBH secara jangka pendek adalah untuk menolong pengadu, tetapi secara jangka panjang sebenarnya sebagai upaya untuk memperbaiki mutu pelayanan hukum atau merevitalisasi pejabat-pejabat publik yang kerap melakukan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

(5)

Permasalahan struktural dapat direspon dengan cara meneliti dan menguji secara khusus laporan masyarakat, berita-berita di media massa, dan hasil penelitian. Pada kasus- kasus tertentu, jika terhadap persoalan struktural tersebut telah ada penyelesaian secara kasuistik dan individual maka dilakukan pendokumentasian. Dalam hal ini, bukan berarti permasalahan strukturalnya selesai begitu saja. LBH tetap menindaklanjuti permasalahan strukturalnya sampai akhirnya terdapat upaya perbaikan tertentu.

Beberapa permasalahan struktural kadangkala memiliki kompleksitas tinggi, sehingga harus melibatkan banyak sumberdaya yang ada di LBH. Apabila teridentifikasi jumlah permasalahan struktural begitu banyak sedangkan sumberdaya di LBH tidak cukup, maka dalam hal ini terdapat indikator sebagai seleksi tentang permasalahan struktural mana yang menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur skala prioritas, yaitu :

1. Tingkat keseriusan dan urgensi masalah

2. Seberapa jauh dampaknya terhadap LBH apabila permasalahan tersebut diinvestigasi dan apakah dampak tersebut realistis dengan kemampuan personil dan keuangan LBH.

3. Apakah permasalahannya merupakan bagian dari program prioritas LBH.

4. Adakah institusi lain yang melakukan investigasi lebih mendalam dari LBH.

II.3 Pengembangan Institusi

Dalam rangka meningkatkan keterampilan litigasi dan non litigasi bagi Pekerja Bantuan Hukum (PBH) pada LBH Palembang, maka berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan serta penugasan staf selama tahun 2004 adalah sebagai berikut :

Tabel II.1

Pendidikan dan Pelatihan Serta Penugasan Staf LBH Palembang Tahun 2004

No Kegiatan Peserta Tempat Waktu Penyelenggara

1 Pemantauan pemilu Sri Lestari Afghanistan Agustus 2004 UN 2 PNK VI (Kopbumi) Hefri Yadi Malang Juni 2004 Kopbumi 3 Training Advokasi BMI Hefri Yadi Jakarta Juli 2004 Kopbumi 4 Training Adokasi

kebijaan perempuan

Hefri Yadi Palembang Oktober 2004 Solidaritas Perempuan 5 Lokakarya Multi.Stake

Forest Program

Anggiat Padang April 2004 Yayasan Qibar Padang

6 Raker Tifa Anggiat Jakarta Juni 2004 Yayasan Tifa

7 Pelatihan penaggulangan keluhan masyarakat

M.

Subardin

Sungai Liat September 2004 Komisi Obudsman Nasional 8 Seminar Ekosistem

Esensial

Anggiat Palembang Desember 2004 Dinas Kehutanan Sumatera Selatan 9 Interfait Dialogue

Program

Nurkholis USA April 2004 UhioUniversity, USA

10 Etnicity Conflict Nurkholis Budapest dan Turki

Desember 2004 Open Societry Institute 11 Pelatihan Website Aprili Jakarta Januari 2004 YLBHI-PIRD 12 Training Lawyer Aprili Medan Oktober 2004 Aji Jakarta

(6)

Perspektif Pers

13 Rapat Anggota PBHI Yopie Makasar September 04 PBHI 14 Training Investigasi

HAM

Yopie Semarang Desember 2004 LBH Semarang

Sumber : Bagian Indok LBH Palembang, 2004 II.4 Pengembangan Program

Untuk mencapai Visi dan Misi Organisasi, maka aktivitas Bantuan Hukum LBH Palembang dibagi dalam bidang penanganan berdasarkan isu stategis tertentu, yaitu : Divisi Litigasi, Divisi Sumberdaya Alam dan Hak Petani, dan Divisi Perburuhan dan Miskin Kota. Di samping itu, untuk mendukung keberhasilan program masing-masing divisi maka organisasi LBH juga dilengkapi dengan bagian Informasi dan Dokumentasi (Indok) dan Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Dinamika sosial masyarakat yang berkembang pesat juga mengharuskan LBH melakukan penyesuaian yang diperlukan. LBH Palembang secara serius akan mengambil peran dalam advokasi kebijakan yang berpotensi dapat merugikan rakyat. Namun demikian, peran-peran dengan model pendekatan korban yang selama ini dilakukan LBH tetap dilkasanakan dengan lebih menekankan pada peran serta masyarakat.

Untuk mencukupi kebutuhan dana, maka LBH Palembang telah menempuh berbagai upaya. Di samping tetap menggalang dana dari donatur institusional baik dari dalam maupun luar negeri, potensi penggalangan dana (fund rising) dari alumni dan konstituen LBH dicoba untuk dikembangkan lebih lanjut. Diharapkan dengan dukungan dana dari berbagai kalangan masyarakat, LBH dapat lebih meningkatkan peran dan kapasitasnya sebagai pelayan dan pelindung masyarakat (public defender).

(7)

BAB III

BEBERAPA ISU UTAMA TAHUN 2004

III.1 Umum

Sepanjang tahun 2004 relatif belum terlihat kebijakan negara yang secara signifikan dapat mengartikulasikan kepentingan rakyat. Kebijakan negara terhadap isu-isu kemiskinan, pendidikan dan kesehatan, hak rakyat atas SDA, perburuhan dan HAM, relatif tenggelam dengan isu pertumbuhan ekonomi, kedatangan investor, dan gegap gempita pelaksanaan PON XVI maupun anggaran biaya pelaksanaannya.

Dominannya kebijakan negara yang sangat bias kapiltalistik telah mendorong praktek perencanaan pembangunan yang lebih ditekankan pada pembangunan fisik spasial semata. Implikasinya terlihat dari pertumbuhan kota-kota di Sumsel yang cenderung memarjinalkan masyarakat miskin dan tidak bersahabat dengan lingkungan. Oleh karenanya pada tahun 2004 ini LBH Palembang menyebutnya sebagai “TAHUN KONFLIK PEREBUTAN RUANG DI PERKOTAAN”.

III.2 Perebutan Ruang di Perkotaan

Akar dari konflik perebutan ruang diperkotaan dapat dilacak dari kebijakan para perencana kota. Badan-badan perencana kota bukan merupakan pewaris alami dari para pebisnis. Namun yang banyak terjadi adalah badan-badan resmi tersebut sibuk menjabarkan gairah membangun dari developer dalam bentuk rencana tata ruang kota yang cenderung berorientasi pada kepentingan swasta untuk memperoleh keuntungan sebesar- besarnya.

Selama ini sering terjadi bahwa dari tiga aktor utama yang ada dalam pembangunan perkotaan yang dikenal dengan PPP (Power, Profit dan People) yang sangat berperan adalah dua aktor yang disebut pertama. Power (dipegang oleh penguasa kota), Profit (orientasi utama dari pebisnis) dan People (mayoritas penduduk), tampaknya dua motor yang disebut pertama itulah yang selama ini berperan dalam penataan ruang kota.

Keterlibatan masyarakat dalam perumusan arah dan tujuan perencanaan tata ruang kota relatif kecil sekali.

Selama tahun 2004 ini LBH mencatat terdapat 36 kasus konflik perebutan ruang perkotaan di kota-kota besar propinsi Sumsel. Kasus-kasus tersebut meliputi pemindahan paksa pedagang K5 dan pedagang kecil pasar tradisional, penggusuran paksa pemukiman penduduk miskin, pemindahan rute angkutan dalam dan luar kota, dan alih fungsi kawasan hijau. Sebagian besar konflik terjadi di kota Palembang terutama dapat dikaitkan dengan persiapan pelaksanaan PON XVI. Namun demikian kasus-kasus serupa juga mulai terjadi di kota-kota seperti Lahat, Pagaralam, Lubuk Linggau dan Prabumulih.

Dalam pengamatan LBH, terdapat beberapa pola konflik perebutan ruang perkotaan yang terjadi di Sumsel.

Pertama, konflik Pemda dengan warga yang timbul karena perubahan peruntukan ruang yang tidak transparan dan berulang kali.

Kedua, Konflik Pemda dengan warga yang tanahnya digusur untuk pelebaran jalan atau kepentingan umum.

(8)

Ketiga, Konflik eksekutif dengan DPRD dan publik karena eksekutif mengalihkan asset pemda tanpa persetujuan atau setidaknya meminimalkan kewenangan DPRD.

Keempat, Konflik yang diakibatkan oleh cara pandang pemerintah terhadap masyarakat miskin kota. Dilihat dari sebutannya, kegiatan masyarakat miskin kota adalah informal, sehingga timbul kesan pelecehan, sebab arti informal yang sebenarnya adalah tidak resmi, tidak sah, liar dan haram. Demikian pula dengan sebutan “pemukiman kumuh”

tersirat adanya vonis yang tidak adil karena arti kumuh yang sesungguhnya adalah kotor, jorok.

LBH Palembang cukup khawatir terhadap perkembangan kasus-kasus konflik perebutan ruang di perkotaan mengingat kecenderungan birokrasi dan modal yang sangat ekspansif dalam memanfatkan ruang. LBH ke depan akan terus melakukan advokasi kebijakan dan upaya hukum untuk membela kepentingan masyarakat perkotaan (publik) yang hak-haknya terhadap ruang terdiskriminasi.

II.2 Korupsi

Selain dari kasus korupsi yang muncul kepermukaan terutama karena adanya pressure media, sehingga menjadi perhatian publik, LBH juga mensinyalir banyak kasus dugaan korupsi yang dilaporkan masyarakat tidak ditanggapi atau dibiarkan oleh Kejaksaan, atau bahkan terjadi penghentian perkara dengan alasan seperti tidak cukup bukti atau sedang mengumpulkan bukti, sehingga lambat laun hilang dari ingatan publik.

Di samping itu terdapat kecenderungan bahwa pada umumnya tersangka korupsi tidak ditahan. Kalaupun ditahan ternyata acapkali mendapat penangguhan penahanan. LBH juga berpretensi bahwa kasus korupsi yang sampai ke pengadilan akan mendapat vonis yang relatif ringan.

Tabel III.1

Kasus Korupsi di Sumsel (2003-2004)

Kasus Tersangka/Terdakwa Status Hukum

1. Kasus dana operasional DPRD Sumsel

Ajis Saip Divonis 2 tahun tidak ditahan.

2. Dugaan Korupsi TPU Gandus Yusuf Sumo. Penangguhan penahanan 3. Dugaan Korupsi Proyek Jl.

Riding-Airsugihan OKI

Ir.Nuchrodi Ahmad Tahanan Kota (Dijamin oleh Pemkab OKI) 4. Dugaan Korupsi Proyek Plat

Duiker Muara Enim

Sekretaris Daerah Muara Enim/Darwis, Ss

Tidak Ditahan/Ditahan 5. Korupsi Dana PUKK tahun

2000 dari PT BA

Ir. Ichsan Azhari Tahanan Kota (Dijamin Walikota Pagaralam) 6. Dugaan Korupsi Dana Bantuan

Pengadaan bibit Itik Jawa

Drs. Kasim Penangguhan penahanan 7. Pemetaan Tanah Fiktif BPN Ir. H. Bachrunsyah Tidak ditahan

8. Dugaan Penyimpangan dana proyek OPT II PT Semen Baturaja

Ir. Azam Dw ST Tidak ditahan

9. Penyimpangan dana proyek pembangunan jembatan Sakatiga

Zubir Ali Tidak ditahan

(9)

10. Penerimaan gaji ganda sebagai PNS dan Anggota DPRD Lahat

Hazairin Hanafiah Tidak Ditahan 11. Penerimaan Gaji ganda sebagai

PNS dan Anggota DPRD Lahat

Drs. Imam Ghazali Tidak ditahan 12. Korupsi Honor Kades Kec. Ulu

Musi Lahat

Abdul Shobur Tidak ditahan 13. Kasus Dana Operasional DPRD

Sumsel

Wid Ditahan

14. Penyimpangan proyek tanggul di Kikim Lahat

RA Tidak ditahan

15. Dugaan korupsi KUD Pesari Suni

Ansyori Manahan Tidak ditahan 16. Penggelapan dana Perjalanan

Dinas DPRD Sumsel ke Menado

Sup Tidak ditahan

17. Korupsi dana penggemukan Sapi Potong di Baturaja

Ir. Surya Dewanto Tidak ditahan 18. Penyimpangan pekerjaan

pembuatan tebing Sei Ogan OKU

Asmawi HS Idem

19. Korupsi dana KUD (Koptan) kantor Badan Ketahanan Pangan Sumsel

Drs. Azra’ie KR, MSc dan Drs. Karsono SW

Idem

20. Kasus lelang asset PT Wai Hitam

Idem 21. Korupsi dana perjalanan dinas

DPRD Sumsel ke Luar Negeri

Drs. Zamzami Achmad Idem 22.Penyalahgunaan Wewenang

Pengelolaan Proyek Pemkab MUBA

Ir. Alek Noerdin Idem

23.Dugaan Korupsi pelepasan asset tanah Pemda Sumsel

Rosihan Arsyad Tidak Jelas 24.Penyimpangan kontrak

pembelian 2 unit mobil Land Cruiser 4200 cc

Arkan Arif, cs Tidak jelas

25. Penyimpangan dana pengadaan transportasi PON XVI

Oknum Dishub Tidak Jelas 26. Penyimpangan Proyek PU Ishak Mekki Tidak Jelas Sumber : Litbang LBH Palembang, Diolah dari berbagai sumber

Pada periode 2003-2004 ini LBH mencatat 26 kasus korupsi yang cukup menonjol menjadi sorotan masyarakat. Diduga kasus korupsi ini sebenarnya masih lebih banyak lagi baik yang dilaporkan atau tidak dilaporkan dan isunya tenggelam begitu saja.

Berkaitan dengan gerakan pemberantasan korupsi yang dicanangkan pemerintahan SBY, LBH memandang hal tersebut cukup baik. Namun demikian menurut LBH juga perlu diperhatikan upaya pemberantasan perilaku koruptif karena merupakan embrio terjadinya korupsi.

(10)

BAB IV ANALISIS DATA

IV.1 Pengaduan Masyarakat

Pada tahun 2004 ini LBH Palembang secara keseluruhan menerima pengaduan atau laporan masyarakat sebanyak 91 kasus. Kasus-kasus yang masuk ke LBH tersebut sebagian besar menggunakan media tatap muka di mana pelapor datang langsung ke kantor LBH.

Tabel IV.1

Jumlah Pengaduan/ Laporan yang Diterima LBH Palembang Berdasarkan Media yang Digunakan Tahun 2004

No Media yang Digunakan Jumlah Pengaduan Persentase 1.

2.

3.

4.

Telepon Surat Tatap Muka E-Mail

14 5 72 -

15,5 5,5 79,0 -

T o t a l 91 100

Walaupun juga terdapat pengaduan melalui telepon atau surat tetapi demi mendapatkan data yang valid biasanya Pekerja Bantuan Hukum yang menangani kasusnya meminta pelapor untuk datang ke kantor LBH guna mendiskusikan dan menentukan langkah penyelesaian kasus selanjutnya.

Berdasarkan substansi kasus maka pada laporan yang diterima LBH tahun 2004 ini didominasi kasus perburuhan sebanyak 34% dan yang paling sedikit adalah kasus SDA dan lingkungan hidup yakni hanya 1 kasus atau 1,1%.

Tabel IV.2

Jumlah Pengaduan/Laporan yang Diterima LBH Berdasarkan Substansi Kasus Tahun 2004

No Substansi Kasus Jumlah Persentase

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Perburuhan Pertanahan Miskin Kota

SDA dan Lingkungan Hidup HAM (Hak Sipil Politik) Korupsi, Kolusi, Nepotisme Pidana Umum

Perdata TUN

Lainnya (malpraktek, pilkades, IMB)

31 8 2 1 9 7 16 12 2 3

34,0 8,7 2,1 1,1 9,9 7,7 17,5 13,1 2,1 3,2

T o t a l 91 100

Perkembangan pengaduan masyarakat ke LBH Palembang tampaknya relatif belum menunjukkan pergeseran yakni masih didominasi permasalahan struktural utama yang meliputi perburuhan, pertanahan, HAM, KKN, dan hak-hak masyarakat miskin kota.

Namun demikian terdapat juga kecenderungan meningkatnya pengaduan untuk kasus

(11)

pidana dan perdata yang mencapai 17,5% dan 13,1%. Kecenderungan tersebut memang telah dirasakan sejak dua tahun terakhir seiring dengan semakin kompleknya dinamika dalam masyarakat akibat pesatnya pembangunan fisik, sehingga LBH Palembang memutuskan untuk membentuk divisi litigasi yang khusus menangani kasus-kasus tersebut.

Pengaduan atau laporan masyarakat yang disampaikan ke LBH Palembang merupakan bentuk kepercayaan publik terhadap kinerja LBH. Selain itu dengan adanya pengaduan masyarakat yang meminta bantuan hukum berarti masyarakat relatif telah mengetahui tentang kompetensi LBH di bidang hukum. Oleh karena itu untuk lebih meningkatkan kinerja pelayanan LBH kepada publik, maka dalam setiap penanganan kasus -berdasarkan substansinya- dilakukan tiga jenis pelayanan, yaitu (1) konsultasi, (2) advokasi, (3) Kuasa Hukum. Keadaan tiga jenis pelayanan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel IV.3

Jumlah Pengaduan/Laporan yang Diterima LBH Palembang Berdasarkan Pelayanan yang Diberikan Tahun 2004

No Pelayanan yang Diberikan Jumlah Persentase

1.

2.

3.

Konsultasi dan memberikan advise/saran Melakukan Advokasi (mengirim surat, mediasi, negosiasi, siaran pers,

pendampingan aksi) Menjadi Kuasa Hukum

52

30 9

57,2

32,9 9,9

T o t a l 91 100

Dari tabel terlihat bahwa dari 91 pengaduan yang diterima LBH, ternyata lebih dari separuh atau 57,2% terbatas pada hal yang bersifat konsultatif. Terhadap pelapor/pengadu yang ingin berkonsultasi atas kasusnya maka LBH memberikan advise. Demikian juga dengan kasus yang relatif ringan dan dapat diselesaikan secara internal oleh pengadu, maka LBH cukup memberikan saran dan konsultasi.

Dari tabel IV.3 di atas terlihat juga bahwa pelayanan dalam bentuk menjadi kuasa hukum menempati porsi terkecil yakni 9,9%. Hal demikian sangat wajar karena LBH sedapat mungkin membantu penyelesaian kasus diluar pengadilan karena jika sampai di pengadilan akan memakan waktu dan menguras energi PBH dan Klien. Di samping itu pengadilan kita relatif masih formal legalistik dalam melihat kasus rakyat, sehingga harapan penemuan dan pembaharuan hukum bagi kepentingan rakyat masih menjadi impian.

II. Kasus Struktural dan Sistemik

LBH Palembang memiliki cara untuk melakukan analisis terhadap laporan masyarakat atau permasalahan yang berkembang di masyarakat dengan menggunakan pendekatan sistem (systemic approach). Pendekatan sistemik merupakan salah satu strategi yang diterapkan LBH Palembang dalam melakukan kerja bantuan hukum, khususnya untuk permasalahan-permasalahan struktural yang hanya dapat diselesaikan dengan cara melakukan perubahan sistem.

Pada saat menganalisis suatu pengaduan, aktivis PBH akan selalu memberi perhatian terhadap aspek-aspek sistemik dari substansi kasus yang menjadi keluhan

(12)

pelapor. Apakah kasus tersebut berdiri sendiri atau merupakan akibat dari suatu kebijakan negara yang mengakibatkan implementasi kebijakan negara tersebut menjadi tidak tepat dan merugikan rakyat.

Misalnya, ketika kita menemukan bohlam listrik di rumah putus secara terus menerus walaupun diganti dengan yang baru, maka ada dua hal tindakan yang perlu dipertimbangkan , yaitu bertindak cepat (urgen) dan atau bertindak tepat (akurat). Tentu saja mengganti bohlam dengan yang baru adalah tindakan yang urgen untuk mengatasi kegelapan sementara. Tetapi sebenarnya tindakan yang paling tepat adalah bukan mengganti bohlam listrik baru secara terus menerus, melainkan mencari penyebab mengapa tiap kali diganti bohlam baru tidak lama kemudian tetap putus. Apakah sistem alokasi daya listrik yang memang tidak normal sehingga mengakibatkan tegangan arus listrik mengalir secara fluktuatif melebihi kemampuan bohlam menampung arus listrik.

Begitulah ilustrasi sederhana yang barangkali mudah dipahami untuk memperoleh gambaran apa itu permasalahan struktural dan sistemik.

Data mengenai kasus-kasus struktural dan sistemik yang terjadi di Sumatera Selatan yang berhasil dirangkum oleh LBH Palembang pada tahun 2004 ini disajikan pada tabel-tabel berikut dibawah ini :

Tabel IV.4

Jumlah Kasus Perburuhan di Propinsi Sumsel Tahun 2004

No Kabupaten/Kota Ditangani LBH Diluar LBH Jumlah 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Palembang Prabumulih Muara Enim

Ogan Komering Ilir Ogan Ilir

Musi Banyuasin Banyuasin

Ogan Komering Ulu Lahat

Pagaralam Musi Rawas Lubuk Linggau

14 1 6 - 2 3 2 1 1 - - 1

5 - - - 1 1 1 1 1 - 1 -

19 1 6 - 3 4 3 2 2 - 1 1

Total 2004 31 11 42

Tabel IV.5

Jumlah Kasus Perburuhan Berdasarkan Klasifikasi Permasalahan di Propinsi Sumsel Tahun 2004

No Klasifikasi Permasalahan Jumlah Persentase

1.

2.

3.

PHK

Sistem Kontrak

Pelanggaran Hak-hak Normatif a. THR

b. Lembur c. Jamsostek d. K3

14 3 11 2 2 1

33,3 7,1 26,2 4,8 4,8 2,4

(13)

4.

5.

6.

Tuntutan Perbaikan Kesejahteraan Intimidasi Terhadap Serikat Buruh Kriminalisasi

6 2 1

14,2 4,8 2,4

T o t a l 42 100

Tabel IV.6

Jumlah Kasus Pertanahan di Propinsi Sumsel Tahun 2004

No Kabupaten/Kota Ditangani LBH Diluar LBH Jumlah Korban (KK) 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Palembang Prabumulih Muara Enim

Ogan Komering Ilir Ogan Ilir

Musi Banyuasin Banyuasin

Ogan Komering Ulu Lahat

Pagaralam Musi Rawas Lubuk Linggau

3 - - - 1 3 1 - - - - -

- 2 1 3 1 1 - 1 - - 1 -

Masih dilakukan verifikasi

Jumlah 2004 8 10

Tabel IV.7

Jumlah Kasus Pertanahan Berdasarkan Jenis Sengketa di Propinsi Sumsel Tahun 2004

No Jenis Sengketa Ditangani LBH Diluar LBH

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8

Perkebunan Besar HPH/HTI

Pertambangan Sertifikat Ganda

Masyarakat tidak Punya Surat Proyek Pembangunan

Proyek Swasta Tenurial

4 - - 2 1 - - 1

7 - 1 - - 2 - -

Total 2004 8 10

Tabel IV.8

Kasus Konflik Sumberdaya Alam di Sumatera Selatan Tahun 2004

No Jenis Konflik Jumlah Persentase

1.

2.

3.

Konflik Tenurial (Kepemilikan SDA) Illegal loging

Konflik Pertambangan

1 5 -

16,6 83,4

-

J u m l a h 6 100

(14)

Tabel IV.9

Kasus Pencemaran Lingkungan Hidup di Sumatera Selatan Tahun 2004

No Jenis Pencemaran Jumlah Persentase

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Pencemaran minyak Industri Kimia

Industri Pengolahan Karet Industri CPO

Industri Pertambangan

Industri Kecil dan Rumah Tangga Industri Perhotelan

Kegiatan Perdagangan dan Jasa

8 1 - - 7 1 - 1

44,6 5,5 - - 38,9 5,5 - 5,5

J u m l a h 18 100

(15)

Tabel IV.10

Konflik Perebutan Ruang di Perkotaan di Sumatera Selatan tahun 2004

No Kota Jenis Konflik Perebutan Ruang

Penggusuran Pedagang K5

Penggusuran Pemukiman dan

lahan Warga

Pemindahan Paksa Pedagang Pasar

Tradisional

Pemindahan Paksa Rute Angkutan Kota dan atau luar

kota

Alih Fungsi Kawasan Hijau

Jumlah

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Palembang Prabumulih Pagaralam Lahat Lubuk Linggau Muara Enim Sekayu Baturaja Kayu Agung

4 2 1 - 2 - 1 1 -

3 - 1 - - - - - -

4 - 1 1 1 - 1 - -

2 1 1 1 1 - 1 - -

4 - - 1 - - 1 - -

17 3 4 3 4 - 4 1 -

Total 11 4 8 7 6 36

Gambar

Tabel II.1
Tabel III.1
Tabel IV.2
Tabel IV.3
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah di bangun tentang Sistem informasi pelayanan jasa tour dan travel berbasis web (Studi kasus Smart Tour) dapat mampu mengurangi resiko

Deskripsi hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul “Peningkatan Aktivitas Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui Metode Kerja Kelompok di.. Data yang diperoleh

pelatihan Peserta didik melakukan pelatihan awal yang berkaitan dengan cara menumbuhkan niat baik, menghindari hal-hal yang tidak baik,.. mengendalikan diri, dan mentaati

dalam Pelatihan Fasilitator Daerah USAID PRIORITAS Banten. Di bulan Maret 2013 lalu, tim USAID PRIORITAS Banten menyelenggarakan dua kali Pelatihan Fasilitator Daerah

Fadjrir, SpOG beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan sarana kepada Saya dalam bekerja selama mengikuti pendidikan di Departemen Obstetri dan

Untuk itu, peran pendidikan tinggi terutama pendidikan bahasa Inggris sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat agar masyarkat dapat berkomunikasi aktif dengan bahasa

Paskalis Kopong (54 tahun), Guru Kelas Sekolah Dasar Swasta Pundarika Makassar, Wawancara, di Sekolah Dasar Pundarika Makassar, 14 Mei 2018.. memiliki identitasnya sendiri

Jika pada masyarakat akhirnya muncul benda-benda unisex yang sifat maskulin dan feminin dihilangkan sehingga dapat dipakai oleh laki-laki dan perempuan maka yang saya hadirkan