• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1

Dalam Ilmu Syari’ah

Ol

eh :

Oleh : RUSLAN NIM : 2103047

FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii

PENGESAHAN Skripsi Saudara : Ruslan

Nomor Induk : 2103047

Judul : Analisis Hukum Islam Terhadap Pemikiran Imam Ahmad Ibn Hanbal Tentang Muhrim Mushaharah

Sebab Liwath (Sodomi)

Telah dimunaqosyahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo semarang, dan dinyatakan lulus pada tanggal :

29 Januari 2008

Dan dapat diterima sebagai syarat guna memperoleh gelar sarjana Strata 1 tahun akademik 2007/2008

Semarang, 29 Januari 2008 Ketua sidang Sekretaris Sidang

Achmad Arief Budiman, M.Ag Rustam DKAH, M.Ag

NIP. 150 274 615 NIP. 150 289 260

Penguji I Penguji II

Prof. DR. H. Ahmad Rofiq, MA Dra. Hj. Siti Amanah, M.Ag

NIP. 150 227 471 NIP. 150 218 257

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. H. A. Noer Ali Rustam DKAH, M.Ag

(3)

iii

mereka yang halal hanya untuk memenuhi hasrat seksual menyimpang tersebut (QS. As-Syuaro ; 165-166) akibat dari perilaku kaum Luth AS yang melampaui batas tersebut Allah menghancurkan mereka dengan hujan batu dan Kota mereka dibalik kebawah. (lihat QS ; Al-Hijr 73-76)

Para Ulama telah berselisih pendapat tentang liwath (sodomi) apakah ia menyebabkan muhrim nikah karena mushaharah atau tidak. Dalam Al-Qur’an surat An-Nissa ayat 22-23 yang dijadikan dasar pensyariatan muhrim nikah tidak disebutkan bahwa liwath (sodomi) termasuk bagian dari muhrim nikah. Kemudian Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (KHI) pasal 39 yang mengatur tentang larangan nikah, juga tidak dicantumkan bahwa liwath (sodomi) termasuk bagian dari muhrim nikah.

Adalah Imam Ahmad Ibn Hanbal pendiri madzhab Hanabillah, yang berpendapat bahwa liwath (sodomi) juga termasuk dari muhrim mushaharah. Pendapat Imam Ahmad Ibn Hanbal tersebut berbeda dengan mayoritas Imam madzhab yang lain. (Hanafi, Maliki, Safi’i). Berdasarkan hal tersebut penulis termotivasi untuk mencoba memaparkan mengenai pendapat Imam Ahmad Ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi) dan metode istinbath hukum yang ditempuh oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun dalam pengumpulan data dalam skripsi ini. Penulis menggunakan form

pencatatan dokumen-dokumen yang telah disiapkan sebelumnya. Kemudian dianalisa dengan menggunakan metode hermeneuitis (interpretasi).

Hasil analisis penulis bahwa menurut Imam Ahmad Ibn Hanbal, liwath

(4)

iv

skripsi ini tidak berisi materi yang pernah di tulis oleh orang lain atau di terbitkan. Demikian juga tidak berisi satu pun pikiran-pikiran orang lain kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Deklarator,

(5)

v )

ءﺎﺴّﻨﻟا

:

ا

(

Artinya:

“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang

telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya

Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah

mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

(Qs. An-Nisa:1).

1

1

(6)

vi

Karya sederhana ini aku persembahkan untuk :

• Kedua orang tuaku (bapak, emak)ini merupakan bagian dari cita-citamu dan hasil dari tetesan keringatmu, doa dan restumu selalu jadi motivasiku dalam menjalankan segala aktivitasku.

• Adikku tercinta Moh Sugeng, semoga kelak jadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua.

(7)

vii

hidayah-Nya kepada para hamba-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mewajibkan generasi muslim untuk selalu giat dalam menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi.

Atas Ridlo Allah SWT akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul: Analisis Hukum Islam Terhadap Pemikiran Imam Ahmad Ibn Hanbal Tentang Muhrim Mushaharah Sebab Liwath (Sodomi),

sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Agama pada Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

Akhirnya penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Ijinkanlah kami sampaikan kepada:

1. Bapak Drs. H. Muhyiddin, M. Ag. Selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

2. Bapak Drs. H. Noer Ali selaku dosen pembimbing satu yang telah mengarahkan dan membina penulis dalam menyusun skripsi ini.

3. Bapak Rustam DKA Harahap. M. Ag selaku dosen pembimbing dua yang telah mengarahkan dan membina penulis dalam menyusun skripsi ini. 4. Segenap dosen yang telah mengajar penulis di bangku kuliah;

(8)

viii

Atas bantuan dan jasanya penulis hanya mampu berdoa semoga mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Kami menyadari bahwa meskipun dalam penyusunan skripsi ini penulis sudah berusaha semaksimal mungkin, tentu masih banyak kekurangannya karena keterbatasan penulis. Oleh karena itu saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga bermanfaat.

Semarang, 14 Januari 2008 Penulis,

(9)

ix

PENGESAHAN ... iii

HALAMAN ABSTRAK ... iv

DEKLARASI ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pokok Permasalahan ... 4

C. Tujuan Penulisan Skripsi... 4

D. Kajian Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 10

F. Sistematika Penulisan skripsi ... 13

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG MUHRIM MUSHAHARAH DAN LIWATH (SODOMI) A. Muhrim Mushaharah... 8

1) Pengertian Muhrim Mushaharah ... 8

2) Macam-macam Muhrim nikah dan dasar hukumnya... 13

3) Pandangan ulama’ tentang Muhrim Mushaharah ... 22

B. Liwath (sodomi) ... 21

(10)

x

2. Kehidupan politik Imam Ahmad ibn Hanbal dan peristiwa mihnah

3. Karya dan murid Imam Ahmad ibn Hanbal... 4. Dasar Istinbath Imam Ahmad ibn Hanbal ... B. Pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Muhrim Mushaharah

sebab Liwath (sodomi) ... 42 C. Metode istinbath Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Muhrim

Mushaharah sebab Liwath (sodomi)... 45

BAB IV : ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMIKIRAN IMAM AHMAD IBN HANBAL TENTANG MUHRIM MUSHAHARAH

SEBAB LIWATH (SODOMI)

A. Analisis Hukum Islam terhadap Pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Muhrim Mushaharah sebab Liwath (sodomi)……… 57 B. Analisis Dasar Istinbath Hukum Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Muhrim

Mushaharah sebab Liwath (sodomi)……… 69 BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 74 B. Saran Saran ... 75

(11)

1 A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama fitrah, yakni sejalan dengan jati diri dan naluri manusia yang normal. Salah satu fitrah manusia bahkan makhluk adalah cenderung kepada lawan jenisnya. Oleh karena itu Islam tidak melarang hubungan seks dengan lawan jenis bahkan Islam menganjurkannya meskipun dengan persyaratan tertentu yaitu melalui pernikahan. Oleh karena itu pula Islam melarang keras hubungan seks dengan sesama jenis kelamin1 (liwath/sodomi).2

Perilaku seks menyimpang ini menurut Yusuf Qardhawi, ”merupakan penyimpangan fitrah, merusak kejantanan dan kejahatan terhadap hak-hak wanita. Merajalelanya perilaku seks menyimpang ini dalam suatu komunitas masyarakat akan merusak kehidupan mereka dan menjadikan mereka sebagai budaknya, lupa akan akhlak, adat dan bahkan selera yang wajar”.3 Cukup bagi seorang Muslim suatu peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kaum Nabi Luth as, yang pertama kali melakukan kebiasaan itu. Mereka meninggalkan istri-istri mereka yang halal hanya untuk

1

M.Quraish Shihab, Fatwa-Fatwa Seputar Ibadah Dan Muamalah. Bandung: Mizan, Cet. Ke-1, 1999, hlm. 82.

2

Liwath berasal dari kata liwathun yang artinya: liwath (perbuatan) homo seksual/sodomi. Bentuk fi’il madhi dari kata liwathun adalah latho yang artinya melakukan liwath

(homoseksual). Attabik Ali, Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia,

Yogyakarta: Multi Karya Grafika, Cet. Ke-4, hlm. 1536.

3

(12)

2

Artinya: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara seluruh alam dan kamu tinggalkan apa yang diciptakan untukmu oleh Tuhanmu yakni istri-istri kamu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Qs. As-Syuaro’: 165-166)5

Liwath (sodomi) ini banyak terjadi apabila suatu negeri sudah sangat maju dalam hal kemewahan. Orang menjadi bosan dengan perempuan. Will Durant dalam “History of Civilization” menulis bahwa penyakit seperti inipun sangat menular di zaman Yunani dan Romawi purbakala juga di India purbakala yaitu apabila kekayaan telah memuncak.6

Agama telah mengatur bagaimana menyalurkan hasrat seksual pada jalur yang sehat dan benar. Oleh karena itu mestinya seseorang menghindar dari dubur (liwath), karena dubur adalah tempat kotoran dan penyakit. Maka sudah sewajarnya jika agama melarangnya.7

Islam telah mengharamkan zina dan sodomi (liwath), akan tetapi Islam telah membolehkan bahkan menganjurkan pernikahan. Pernikahan

4

Ibid.

5

Al-Qur’an dan Terjemahanya, Departemen Agama RI, Semarang; CV. Adi Grafika, 1994, hlm. 585.

6

HAMKA, Tafsir al-Azhar, Jilid 4, Singapura: Pustaka Nasional, Cet. Ke-3, 1999, hlm. 243.

7

(13)

3 pernikahan.8 Firman Allah SWT:

ﺎَﻳ

Artinya: “Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”. (Qs. An-Nisa:1).9

Dalam pernikahan hubungan suami istri dan bahkan kemudian hubungan orang tua dan anak, akan mencerminkan hubungan kemanusiaan yang lebih terhormat, sejajar dengan martabat manusia itu sendiri. Dalam banyak hal hubungan suami istri memang harus berbeda dengan hewan yang juga memiliki nafsu seksual. Bedanya hewan, hanya memiliki naluri seks untuk seks; sementara manusia memiliki naluri seks untuk berketurunan dan sekaligus sebagai salah satu sarana penghambaan diri kepada Allah SWT.10

Benar bahwa di antara hal yang sangat penting dalam tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan seksual, namun sisi yang lain seperti pembinaan hubungan psikis secara baik dan timbal balik antara suami

8

Quraish Shihab, op.cit. hlm. 83.

9

Al-Qur’an dan Terjemahannya, op.cit, hlm. 114.

10

(14)

4

pernikahan, hubungan keluarga antara pihak suami dan istri dapat diwujudkan dalam satu konteks hubungan kekeluargaan, hubungan kekeluargaan karena pernikahan dalam fiqih disebut mushaharah.11 Kemudian sebab mushaharah

ini mengakibatkan larangan pernikahan.

Larangan pernikahan dalam bahasa agama disebut mahrom.12

Adapun wanita-wanita yang dilarang untuk dinikahi karena hubungan tali pernikahan ada empat macam yaitu:13

1. Ibu Mertua

Ibu mertua diharamkan oleh Islam semata-mata akad yang telah berlangsung terhadap anak perempuannya kendati belum disetubuhi. Sebab ibu dalam hubungannya dengan suami adalah sebagai ibu.

2. Anak tiri perempuan yang ibunya sudah digauli, firman Allah SWT;

ُﻢُﻜُﺒِﺋﺎَﺑَرَو

Artinya: “ Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri”. (Qs. Annisa: 23)14.

11

Musyoharoh: hubungan kekeluargaan sebab adanya ikatan pernikahan. Al-Azim Ma’ani dan Ahmad al-Jumbur. Hukum-Hukum Dari Al-Qur’an Dan Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, hlm. 240.

12

Mahrom atau Muhrim: berasal dari kata harama yang artinya mencegah. Bentuk masdar dari kata harama adalah al-harama yang artinya yang diharamkan atau dilarang dengan demikian maka mahrom secara istilah berarti orang yang haram, dilarang, atau dicegah untuk dinikahi. Qomarudin Sholeh, Ayat-Ayat Larangan Dan Perintah, Bandung: CV Diponegoro, 2002, hlm. 146.

13

Imam Ghozali. Benang Tipis Antara Halal Dan Haram, Surabaya: Putera Pelajar, cet. Ke-1,2002, hlm. 177.

14

(15)

5

Artinya: ”(Dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu)”. (Qs. Annisa: 23).15

4. Ibu tiri

Diharamkan seorang anak menikahi ibu tirinya karena pernikahan dengan ayahnya sekalipun belum digaulinya. Firman Allah SWT;

َﻻَو

Artinya: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”. (Q.S An-Nisa’:22).16

Di Indonesia larangan pernikahan ini diatur dalam pasal 39 Kompilasi Hukum Islam (KHI).17 Juga telah berselisih pendapat ulama’ tentang liwath (sodomi) apakah ia menjadi sebab mengharamkan atau tidak? Menurut Tsauri, jika seseorang mensodomi seorang laki-laki, maka haramlah ibu anak laki-laki itu padanya. Demikian juga menurut Auza’i, jika seseorang mensodomi seorang laki-laki, kemudian orang itu mempunyai anak

(16)

6

pendapat mengenai mushaharah sebab liwath (sodomi). Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada hubungan muhrim sebab liwath (sodomi). Tetapi menurut Madzhab Hanbali liwath termasuk muhrim

mushaharah dalam kitab Kitabul Fiqh ’Ala Madzahibil Arba’ah dikatakan :

ﻨﺤﻟا

Artinya: ”Tetap ada hubungan muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi). Sebagaimana zina, barang siapa melakukan liwath (sodomi) dengan seorang anak laki-laki yang telah mampu bersenggama atau dengan laki-laki dewasa diharamkan di antara keduanya ibu dan anak perempuan mereka secara lahiriyah. Karena sesungguhnya orang yang bersenggama pada lubang yang menggairahkan menyebabkan kemuhriman sebagaimana bersenggama pada perempuan, maka tetap ada kemahroman mushaharah bagi keduanya sebagai akibat hukum pada keduanya”.

Menurut imam hambal liwath (sodomi) juga termasuk bagian dari muhrim

mushaharah

Dalam kitab al-Muqni’ fi Fiqhi Imamissunnah Ahmad bin Hanbal As-Syaibani r.a juga dikatakan:

18

Abdul Halim Hasan Binjai, Tafsir Ahkam, Jakarta: Kencana, Cet. Ke-1, 2006, hlm. 240.

19

(17)

7

dan anak perempuannya”.

Kalau dilihat dari susunan muhrim mushaharah sebagaimana yang tercantum dalam pasal 39 KHI dan Al-Qur’an surat An-Nisa’ 22-23. Dapat disimpulkan bahwa muhrim mushaharah itu timbul dari pernikahan yang sah dan dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi mengapa Imam Ahmad ibn Hanbal berpendapat bahwa liwath (sodomi) termasuk muhrim mushaharah.

Padahal liwath (sodomi) jelas-jelas bukan dari pernikahan yang sah dan tidak dilakukan antara laki-laki dan perempuan.

Berpijak dari hal di atas, maka penulis mencoba menganalisis dan mendeskripsikan pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal tersebut dalam bentuk skripsi yang berkaitan dengan analisis hukum Islam terhadap pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi).

Penulis akan menguraikan pendapat dan metode istinbath hukum Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi).

B. Pokok Permasalahan

Dengan mengamati latar belakang masalah yang ada, penulis merasa tertarik untuk mengkaji dan meneliti beberapa pokok permasalahan yang perlu mendapat penjelasan yang lebih detail untuk dibahas, yaitu:

20

(18)

8

Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi). C. Tujuan Penulisan Skripsi

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim

mushaharah sebab liwath (sodomi).

2. Untuk mengetahui metode istinbath hukum Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi).

D. Telaah Pustaka

Kajian dan pembahasan mengenai pemikiran mengenai Imam Ahmad bin Hanbal sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh penulis sebelumnya. Tetapi pembahasan mengenai muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi) belum ada yang membahas. Kemudian dalam skripsi ini akan membahas tentang pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal mengenai muhrim mushaharah

sebab liwath (sodomi).

(19)

9

kitab tersebut diterangkan bahwa pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi) bertantangan dengan pendapat Imam madzhab yang lain (Hanafi, Syafi’i dan Maliki) yaitu madzab Hanbali berpendapat bahwa tetap ada kemahraman (hubungan muhrim) mushaharah sebab liwath (sodomi). Serta kitab tersebut sebagai bahan pokok permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini.

2. Skripsi yang berjudul “Studi Analisis Pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal Tentang Zina Menyebabkan Terjadinya Kemahraman Mushaharah” oleh Budi Mahbul NIM: 21096020. Dalam skripsi tersebut secara khusus telah disinggung mengenai pendapat Imam Ahmad bin Hanbal mengenai zina sebagai sebab timbulnya muhrim mushaharah. Sedangkan dalam skripsi ini membahas tentang kemahraman (hubungan muhrim) mushoharah

sebab liwath (sodomi).

3. Jurnal Justisia edisi 25 tahun 2004 yang berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis. Dalam jurnal tersebut secara panjang lebar dipaparkan mengenai asal mula liwath (sodomi), motivasi seseorang melakukan hubungan sesama jenis bahkan tafsir kawin sejenis dikupas secara tuntas dalam jurnal tersebut, akan tetapi dalam skripsi ini akan dibahas tentang pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal mengenai kemahraman (hubungan muhrim)

(20)

10

mushaharah.

5. Kitab Rahmatul Ummah Fihtilafil Aimmah Karya Abi Abdullah Muhammad bin Abdurrahman. Di dalamnya juga diterangkan tentang muhrim nikah serta pandangan Imam madzhab dalam menentukan hukum muhrim nikah, misalnya pendapat Abu Hanifah tentang hubungan muhrim

musoharoh sebab zina. Juga pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal tentang keharaman menikahi wanita zina sampai dia mau bertobat.

Dari berbagai buku dan kitab-kitab fiqh yang penulis baca kebanyakan tidak menyebut liwath (sodomi) menjadi sebab muhrim mushaharah.

Kemudian dalam penulisan skripsi sebelumnya juga belum pernah dikaji mengenai liwath (sodomi) menjadi sebab muhrim mushaharah dan dari skripsi yang penulis tampilkan menunjukkan adanya perbedaan dalam segi pembahasan dengan skripsi yang penulis susun.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hal ini karena sumber data berasal dari buku-buku yang terkait dengan masalah yang menjadi obyek kajian baik buku-buku maupun kitab-kitab hadits, fiqih dan ushul fiqh.

(21)

11

diekspresikan dalam bentuk tulisan dapat ditemukan dalam karya tulis yang bersangkutan dalam hal ini penulis memakai kitab al-Muqni’ fi fiqhi imamissunnah Imam Ahmad bin Hanbal Assyaibani r.a.

Kedua: Sumber Sekunder yakni bahan pustaka yang merujuk atau yang mengutip kepada sumber primer. Selain itu berupa komentar (syarh) atau ringkasan (Mukhtashar) atas matan sumber primer.21 Data itu adalah sebagai berikut:

a. Kitab Al-Muharror.

b. Kitab Rohmatul Ummah Fihtilafil Aimmah.

c. Kitab Fiqh’ Ala Madzahibil Arba’ah

d. Kitab al-mughni

e. kitab al-ihtirotul fiqhiyah min fatwa ibn taimiyyah

f. Dan buku-buku yang lain 3. Pengumpulan data

Pada tahap ini, peneliti menghimpun, memeriksa mencatat dokumen-dokumen yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan

form pencatatan dokumen yang telah disiapkan sebelumnya)22. 4. Metode Analisis Data

21

Cik Hasan Bisri, Metode Penelitian Fiqh, Jilid 1, Bogor: Prenada Media, Cet. Ke-1, 2003, hlm. 221.

22

(22)

12

mencakup unsur rujukan, kerangka pemikiran, cara kerja, dan substansi pemikiran, maka pilihan metode yang dipandang tepat untuk menganalisis adalah metode hermeneutis23.

Dalam pengertiannya yang sederhana hermeneutis adalah cara untuk menafsirkan teks masa silam dan menerangkan perbuatan pelaku sejarah.

Metode penelitian hermeneutis digunakan dalam memahami dan menafsirkan pemikiran fuqaha’24. Pemikiran fuqaha’ difahami dan ditafsirkan oleh peneliti (Hermeneut) sehingga dapat disarikan dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang lain. Pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk ungkapan lisan atau tulisan, pada dasarnya tersusun dalam jumlah pernyataan yang di dalamnya terdiri atas rangkaian huruf, kata dan kalimat. Ia dapat ditafsirkan melalui penafsiran kosa kata, pola kata, pola kalimat, dan konteks sosial budaya.

Dalam hal ini dilakukan pemahaman terhadap pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal di masa lampau kemudian diupayakan penghayatan di masa sekarang dan akan datang.

23

Hermeunetis berasal dari Istilah Yunani dari kata kerja Hermeneuein yang berarti

menafsirkan dan kata benda Hermenia yang bermakna interpretasi. Penjelasan dua kata ini membuka wawasan bagi karakter dasar interpretasi dalam teolog-teolog sastra dan dalam konteks sekarang menjadi keywords untuk memahami hermeneutika modern. Nasarudin Umar,

Argumentasi Keseteraan Gender Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999, hlm. 31.

24

(23)

13

BAB I: Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, kajian pustaka, metodologi penelitian, sistematika penulisan skripsi.

BAB II: Tinjauan umum tentang muhrim mushaharah dan liwath (sodomi) berisi tentang pengertian muhrimmushaharah, macam-macam muhrim nikah dan dasar hukumnya, pandangan ulama’ tentang muhrim

mushaharah, pengertian liwath (sodomi), sejarah dan dasar hukum

liwath (sodomi), pandangan ulama’ fiqih tentang liwath (sodomi). BAB III: Pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah

sebab liwath (sodomi) berisi tentang latar belakang Imam Ahmad ibn Hanbal, kehidupan politik Imam Ahmad ibn Hanbal, karya-karya dan murid Imam Ahmad ibn Hanbal, pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi). Dasar istinbath hukum Imam Ahmad ibn Hanbal, Dasar istinbath hukum Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim mushaharah sebab liwath (sodomi). BAB IV: Analisis hukum Islam terhadap pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal

(24)
(25)

15 A. Muhrim Mushaharah

1. Pengertian Muhrim Mushaharah

Ditinjau dari segi bahasa muhrimmushaharah terdiri dari dua kata yaitu muhrim dan mushaharah. Muhrim atau mahrom berasal dari kata

harama yangartinya mencegah bentuk mashdar dari kata harama adalah

َ ْﻟا َﺤ َﺮ َم

yang artinya yang diharamkan atau dilarang.

Dengan demikian, maka mahrom secara istilah adalah orang yang haram, dilarang atau dicegah untuk dinikahi.25

Sedangkan mushaharah dalam kamus kontemporer Arab Indonesia terdiri dari beberapa pola kata:

َﻗ

ُﺮ

: hubungan kekerabatan karena pernikahan.26

Adapun mushaharah menurut Abdurrahman al-Juzairi dalam kitab

Fiqh ala madzahibil arba’ah, adalah :

25

Qomarudin Sholeh, loc.cit.

26

(26)

ةﺮهﺎﺼﻤﻟا

Artinya: Mushaharah yaitu sifat yang menyerupai kekerabatan.

Dengan demikian mushaharoh menurut istilah ialah hubungan kekeluargaan sebab adanya ikatan pernikahan.28 Jadi apabila kata muhrim

dan mushaharah digabung dapat diartikan orang-orang yang haram, dilarang atau dicegah untuk dinikahi sebab adanya ikatan kekeluargaan dari hasil suatu pernikahan.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibn Rusyd disebutkan bahwa orang-orang yang haram dinikahi karena mushaharah ada 4 macam yaitu:

a. Ibu dari istri (mertua)

b. Anak (bawaan) istri yang telah dicampuri (anak tiri) c. Istri bapak (ibu tiri)

d. Istri anak (menantu).29

Ketentuan tersebut didasarkan kepada firman Allah surat An-Nisa’ : 22.

Artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah

27

Abdurrahman Al-Juzairi, Juz 4, op.cit., hlm.61.

28

Al Azim Ma’ani dan Ahmad al-Jumhur, loc.cit.

29

(27)

lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).(QS. An-Nisa : 22)30

2. Macam-macam Muhrim Nikah dan Dasar Hukumnya

Larangan pernikahan (muhrim nikah) ada dua macam : pertama larangan abadi (muabbad), dan kedua larangan dalam waktu tertentu (muaqqat). Larangan abadi diatur dalam pasal 39 Kompilasi Hukum Islam di Indonesia,31 yaitu:

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita disebabkan:

a. Karena pertalian nasab (hubungan darah)

1) Ibu, nenek (dari garis ibu atau bapak) dan seterusnya ke atas 2) Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah 3) Saudara perempuan sekandung, seayah dan seibu

4) Saudara perempuan ibu (bibi atau tante) 5) Saudara perempuan bapak (bibi atau tante)

6) Anak perempuan saudara laki-laki sekandung (kemenakan) 7) Anak perempuan saudara laki-laki seibu (kemenakan) 8) Anak perempuan saudara laki-laki seayah (kemenakan) 9) Anak perempuan saudara perempuan sekandung (kemenakan) 10)Anak perempuan saudara perempuan seayah (kemenakan) 11)Anak perempuan saudara perempuan seibu (kemenakan) b. Karena pertalian kerabat semenda (perkawinan/mushaharah)

1) Ibu dari istri (mertua 2) Anak tiri

3) Ibu tiri 4) Istri anak.32

c. Karena pertalian susuan

1) Dengan wanita yang menyusuinya menurut garis lurus ke atas

30

Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm.120.

31

Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1998, Cet.ke-.3, hlm.122.

32

(28)

2) Dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis ke atas

3) Dengan seorang saudara sesusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah

4) Dengan seorang wanita bibi sesuan dan nenek bibi sesusuan ke atas 5) Dengan anak yang disusui oleh istrinya dan keturunanya

Ketentuan pasal 39 KHI tersebut didasarkan firman Allah surat An-Nisa’ : 23

(29)

Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa: 23)33

Adapun perempuan yang haram dinikah untuk sementara ada 7, yaitu 34

a. Perempuan bersaudara haram dinikahi oleh seorang laki-laki dalam waktu bersamaan, firman Allah surat An-Nisa’: 23

ِﻦْﻴَﺘْﺧُﺄْﻟا

َﻦْﻴَﺑ

اﻮُﻌَﻤْﺠَﺗ

ْنَأَو

Artinya: (dan diharamkan bagimu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara….. (QS. An-Nisa: 23)35

b. Perempuan yang masih terikat satu perkawinan (yang bersuami), firman Allah surat An-Nisa’: 24

ْﻢُﻜُﻧﺎَﻤْﻳَأ

ْﺖَﻜَﻠَﻣ

ﺎَﻣ

ﺎﱠﻟِإ

ِءﺎَﺴﱢﻨﻟا

َﻦِﻣ

ُتﺎَﻨَﺼْﺤُﻤْﻟاَو

ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ

ِﻪﱠﻠﻟا

َبﺎَﺘِآ

Artinya: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu... (QS. An-Nisa: 24)36

c. Perempuan yang masih berada dalam massa iddah. Firman Allah surat al-Baqarah : 228

33

Al-Quran dan Terjemahnya, loc.cit,

34

Ahmad Rofiq,op.cit hlm.126.

35

Al-Quran dan Terjemahnya, loc.cit,

36

(30)

ﺎَﻟَو

ٍءوُﺮُﻗ

َﺔَﺛﺎَﻠَﺛ

ﱠﻦِﻬِﺴُﻔْﻧَﺄِﺑ

َﻦْﺼﱠﺑَﺮَﺘَﻳ

ُتﺎَﻘﱠﻠَﻄُﻤْﻟاَو

Artinya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah...(QS. Al-Baqarah : 228)37

d. Perempuan yang telah ditalak tiga haram dinikah oleh bekas suaminya kecuali sudah dinikah oleh orang lain dan sudah diduhul serta telah bercerai tidak direkayasa oleh suami yang pertama. Sabda Nabi:

ر

ﺔﺸﺋ

ﺎﻋ

ﻦﻋ

Artinya : Seorang laki-laki mentalak istrinya dengan talak tiga (bain) kemudian perempuan tersebut dikawin oleh laki-laki lain dan diceraikan sebelum dicampurinya. Laki-laki (bekas suami) yang pertama menginginkan untuk mengawininya. Maka bertanyalah kepada Rasulullah SAW. perihal rencananya itu, Rasul bersabda: “Jangan kecuali suami kedua telah merasakan madunya (mencampurinya), sebagaimana apa yang dirasakan suami pertama” (HR. Muslim)38

37

Ibid, hlm.55.

38

(31)

e. Perempuan yang sedang ihram, sabda Nabi:

Artinya: Dari Usman bin Affan r.a sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh menikah orang yang sedang dalam keadaan ihrom, demikian juga tidak boleh menikahkan dan khitbah. (HR. Muslim)39

f. Perempuan musyrik. Firman Allah surat al-Baqarah : 221

ٌﺔَﻨِﻣْﺆُﻣ

ٌﺔَﻣَﺄَﻟَو

ﱠﻦِﻣْﺆُﻳ

ﻰﱠﺘَﺣ

ِتﺎَآِﺮْﺸُﻤْﻟا

اﻮُﺤِﻜْﻨَﺗ

ﺎَﻟَو

Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah : 221)40

39

Hajar al-Asyqolani, Bulughul Marom, Bandung: Al-Ma’arif, t.th., hlm.147.

40

(32)

g. Perempuan haram dinikah oleh laki-laki yang telah beristri 4, sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar:

ﻦﻋ

Artinya: Sesungguhnya Gailan ibn Salamah masuk Islam dan ia mempunyai 10 (sepuluh) orang istri. Mereka bersama-sama dan masuk Islam. Maka Nabi SAW. memerintahkan kepadanya agar memilih empat saja di antara mereka. (HR. Ahmad, al Tirmidzi, dan disahihkan ibn Hibban)

Larangan nikah (muhrim nikah) untuk sementara tersebut, di Indonesia diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 40, 41, 42, dan 43.42

3. Pandangan Ulama fiqh tentang Muhrim Mushaharah

Pada pembahasan sebelumnya penulis telah menyebutkan bahwa terjadinya muhrim mushaharah adalah akibat dari pernikahan yang sah. Yang menjadi persoalan dalam hubungan muhrim mushaharah ini adalah apakah keharaman itu disebabkan karena semata-mata akad (pernikahan yang sah), atau dapat juga karena perzinaan. Mengenai hal ini ulama imam mazhab terjadi perbedaan pendapat.

41

Al-San’ani, Subul al-Salam, Juz 3, Kairo: Dar Ihya al-Turas al-Araby, 1960, hlm.124.

42

(33)

Imam Syafi’i berpendapat bahwa larangan pernikahan karena muhrim mushaharah hanya disebabkan karena semata-mata akad saja. Tidak bisa karena perzinaan, dengan alasan tidak layak perzinaan yang dicela disamakan dengan hubungan mushaharah.43 Menurut Imam Syafi’i anak perempuan yang lahir dari hubungan zina, dia boleh dinikah, karena dia bukanlah anak yang sah, dengan dalil bahwa ia tidak berhak mendapat warisan seperti anak yang sah yang lahir dari perkawinan sah.44

Sebaliknya Imam Abu Hanifah berpendapat larangan perkawinan karena muhrim mushaharah disamping akad yang sah, bisa juga disebabkan karena perzinaan. Perselisihan pendapat ini karena berbeda dalam menafsirkan firman Allah surat an-Nisa’ : 22.

ُﺤِﻜْﻨَﺗ

ﺎَﻟَو

ْﺪَﻗ

ﺎَﻣ

ﺎﱠﻟِإ

ِءﺎَﺴﱢﻨﻟا

َﻦِﻣ

ْﻢُآُؤﺎَﺑَﺁ

َﺢَﻜَﻧ

ﺎَﻣ

اﻮ

ﺎًﻠﻴِﺒَﺳ

َءﺎَﺳَو

ﺎًﺘْﻘَﻣَو

ًﺔَﺸِﺣﺎَﻓ

َنﺎَآ

ُﻪﱠﻧِإ

َﻒَﻠَﺳ

﴿

22

Artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An-nisa: 22)45

43

Abd. Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, Jakarta: Prenada media, 2003, Cet,ke-1, hlm.108.

44

Salim Bahresy dan Said Bahresy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, Jilid 2, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986, hlm.344.

45

(34)

Menurut Imam Syafi’i kata

ﺢﻜﻧﺎﻣ

ditafsirkan wanita yang dikawini ayah secara sah. Sedangkan Imam Hanafi menafsirkan wanita yang diwati oleh ayah, baik dengan pernikahan atau perzinaan.46

Sedangkan menurut Imam Ahmad ibn Hanbal berpendapat bahwa larangan perkawinan karena mushaharoh bisa juga disebabkan karena

wati halal dan haram. Apabila seseorang melakukan zina dengan seorang perempuan, maka perempuan tersebut haram dinikah oleh bapak dan anak laki-lakinya,orang yang telah menzinainya. Dan diharamkan baginya (laki-laki zina) ibu dan anak perempuan dari perempuan yang telah dizinainya.

Dalam kitab al-Mughni disebutkan wati dibagi menjadi 3 yaitu:

او

a. Wati mubah, yaitu wati dari pernikahan yang sah

b. Wati subhat, yaitu wati dari pernikahan yang fasid atau wati terhadap perempuan yang disangka istrinya.

c. Wati haram, yaitu zina maka tetap ada muhrim sebab zina.

B. Liwath (Sodomi)

1. Pengertian Liwath (Sodomi)

46

Abd. Rahman Ghozali, loc.cit.

47

(35)

Dari kamus kontemporer Arab Indonesia kata liwath (sodomi) ini terdiri dari beberapa kata :

طﻻ

: melakukan liwath (homoseksual)

طﻮﻟ

,

ﺔﻃاﻮﻟ

: liwath (perbuatan) homoseksual/sodomi.48

Sodomi atau seksual analisme ialah pemakaian anus untuk bersenggama.49

Sedangkan dalam ensiklopedi agama dan filsafat, liwath dalam bahasa Arab artinya melakukan jima’ (persetubuhan) melalui lubang dubur yang dilakukan oleh sesama pria.50

Dalam al-Quran perilaku liwath disebut dengan kata fahisyah”. Firman Allah surat al-A’raf : 80.

َﺔَﺸِﺣﺎَﻔْﻟا

َنﻮُﺗْﺄَﺗَأ

ِﻪِﻣْﻮَﻘِﻟ

َلﺎَﻗ

ْذِإ

ﺎًﻃﻮُﻟَو

Artinya: Dan (Kami juga Telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia Berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" (QS. Al-A’raf : 80)51

48 Attabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdhor,

op.cit., hlm.1536.

49

Marzuki Salabah, Perilaku Seks Menyimpang dan Seksualitas Kontemporer Umat Islam, Jakarta: UII Press, 2001, hlm.148.

50

Mochtar Efendy, Ensiklopedi Agama Filsafat, Surabaya: Universitas Sriwijaya, 2001, Cet.ke-2, hlm.269.

51

(36)

Menurut Muhammad Ali al-Sabuni dalam tafsirnya Shofwah al-Tafasir dijelaskan bahwa kata fahisyah tersebut diartikan: melampiaskan nafsu seks laki-laki kepada sesama jenisnya melalui duburnya.52

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa

liwath (sodomi) ialah hubungan seksual yang dilakukan antara pria dengan pria melalui dubur (anus).

2. Sejarah dan Dasar Hukum Liwath (Sodomi)

Dalam tafsirnya Shofwah al-Tafasir Muhammad Ali al-Sabuni menjelaskan bahwa kaum yang pertama kali melakukan liwath (sodomi) adalah kaum Nabi Luth as yang tinggal di daerah Sodom.53 Hal ini terbukti dengan adanya kalimat (

ﻢﻜﻘﺒﺳﺎﻣ

) yang menunjukkan bahwa orang/kaum yang pertama kali melakukan liwath (sodomi) adalah kaum Nabi Luth as.54

Keburukan paling besar dan tiada taranya dari kaum Nabi Luth as. setelah kemusyrikan adalah sodomi. Karena itu, Nabi Luth as mengecam mereka setelah menegaskan ketulusan dan kebebasan motivasinya dari

52

Muhammad Ali al-Sabuni, Shofwah al-Tafasir, Beirut Lebanon: Dar al-Fikr, t.th., hlm.457.

53

Dalam kajian arkeologi kota Sodom berada di wilayah laut mati yang terbentang di antara perbatasan Israel Yordania, lihat kaum Nabi Luth dalam situs [email protected].

54

(37)

segala kepentingan duniawi.55 Kecaman Nabi Luth as. terhadap kaumnya diabadikan oleh Allah dalam al-Quran surat asy-Syuaro : 165-166.

َﻦﻴِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا

َﻦِﻣ

َناَﺮْآﱡﺬﻟا

َنﻮُﺗْﺄَﺗَأ

Artinya: Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia. dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". (QS. Asy-Syuaro : 165-166)56

Kata (

ناﺮآذ

) dzukron adalah bentuk jamak dari kata (

ﺮآذ

)

dzakar yakni jenis kelamin laki-laki.

Kata (

ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟا

) al-alamin adalah bentuk jamak dari kata (

ﻢﻟﺎﻋ

) alam, yaitu kumpulan makhluk hidup sejenis, misalnya alam manusia, alam binatang, alam malaikat, dan alam tumbuh-tumbuhan. Huruf (

ﻦﻣ

)

min, pada kata (

ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟا

ﻦﻣ

) min al-‘alamin dapat dipahami dalam arti berbeda. Dengan demikian, ayat di atas menyatakan bahwa perbuatan sodomi yang mereka lakukan itu, berbeda dengan jenis-jenis makhluk yang lain.57 Makhluk hidup yang lain bila melakukan hubungan seks, maka itu dilakukannya dengan lawan jenisnya, yakni jantan dengan betina,

55

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2005, Cet,ke-3, hlm.120.

56

Al-Quran dan Terjemahannya, op.cit., hlm.585.

57

(38)

lelaki dengan perempuan, sedangkan kaum Nabi Luth as. melakukannya dengan sesama jenis lelaki.

Kaum Nabi Luth as. itu diberi gelar oleh Nabi Luth as. dengan “qoumun adun”. Kata ‘adun adalah bentuk jamak dari kata adiy yaitu yang melampaui batas haq/kewajaran dengan melakukan kebatilan, pelampauan batas yang menjadi penutup ayat ini mengisyaratkan bahwa kelakuan kaum Nabi Luth as. itu melampaui batas fitrah kemanusiaan, sekaligus menyia-nyiakan potensi mereka yang seharusnya ditempatkan pada tempatnya yang wajar, guna kelanjutan jenis manusia.58

Akibat dari perilaku kaum Nabi Luth as. yang melampaui batas tersebut Allah SWT menghancurkan kaum Nabi Luth as tersebut dengan hujan batu. Ayat yang menerangkan penghancuran kaum ini adalah sebagai berikut:

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras, yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu yang keras. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)”. (lihat QS. Al-Hijr ; 73-76)

Arkeolog Jerman Werner Keller membenarkan legitimasi ayat ini katanya: “Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini yang

58

(39)

persis melewati daerah ini, lembah Siddim termasuk Sodom dan Gomoroh, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman (laut mati). Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai letusan petir, keluarnya gas alam dan lautan mati.”59

3. Pandangan Ulama Fiqh tentang Liwath (Sodomi)

Ulama fiqh telah sepakat bahwa menyetubuhi laki-laki adalah dosa besar. Dosa perbuatan ini lebih besar dari pada zina, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.60 Hanya saja di antara ulama berbeda pendapat dalam menentukan ukuran hukuman yang harus ditetapkan bagi pelakunya. Ada tiga pendapat, mengenai hukumannya yaitu:

a. Pendapat yang mengatakan bahwa pelakunya harus dibunuh secara mutlak

b. Pendapat yang mengatakan bahwa pelakunya harus dihadd, sebagaimana had zina, jika pelakunya masih jejaka, maka ia harus di dera, sedangkan jika pelakunya sudah duda (muhson), maka ia harus dirajam.

c. Pendapat yang mengatakan bahwa pelakunya harus diberi sanksi (ta’zir)

Pendapat Pertama

59

Jurnal Justisia, Indahnya Kawin Sesama Jenis, edisi 25 tahun XI 2004, hlm.22

60

(40)

Para sahabat Rasulullah SAW. diantaranya : Nashir, Qosim bin Ibrahim dan al-Syafi’i (dalam satu pendapat) mengatakan bahwa hadd

terhadap pelaku liwath adalah hukum bunuh, meskipun pelakunya masih jejaka (ghoiru muhson),baik ia mengerjakan maupun yang dikerjai. 61

Pendapat ini berdasar dalil-dalil berikut:

لﺎﻗ مﺎﺻ ﷲالﻮﺳر ّن اس ﺎﺒﻋﻦﺑ اﻦﻋ

Artinya: “Diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa mengetahui seseorang telah berbuat liwath (perbuatan kaum Luth), maka bunuhlah keduanya, baik pelakunya maupun partnernya.”(HR. al-Khamsah kecuali an-Nasa’i)

Ahmad Ibn Hanbal juga meriwayatkan, sabda Rasulullah:

طﻮﻟمﻮﻗﻞﻤﻋﻦﻣﷲاﻦﻌﻟ

63

Artinya: “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.”

Pendapat Kedua

Para tabi’in diantaranya Sa’id bin Mussayyab, Atha’ bin Abi Rabah, Hasan Qotadah, Nakhai, al-Tsauri, al-Auzai, dan al-Syafii dalam satu pendapat mengatakan bahwa pelaku liwath yang masih jejaka dijatuhi hukuman hadd dera dan dibuang. Sedangkan pelaku liwath yang duda (muhson) dijatuhi hukum rajam.

61

Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz 9, Beirut Lebanon: Dar al-Fikr, t.th., hlm.144.

62

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Beirut: Daar Al-Fikr, t. th., Jilid I, hlm. 28.

63

(41)

“Bahwasanya liwath adalah perbuatan sejenis dengan zina, karena

liwath itu perbuatan memasukkan kemaluan laki (penis) ke anus laki-laki lain. Dengan demikian maka pelaku liwath dan partnernya sama-sama masuk dalam keumuman dalil dalam masalah zina, baik muhson ataupun tidak.64

Pendapat Ketiga

Menurut Abu Hanifah mengatakan bahwa bagi para pelaku liwath

tersebut hanya dikenakan ta’zir. Karena dalam liwath tidak ada percampuran nasab dan tidak ada konsekuensi yang ditimbulkan dari hubungan tersebut seperti umumnya hubungan suami istri, yang bisa menyebabkan hukuman mati bagi laith, karena liwath bukanlah zina.65

64

Sayyid Sabiq, op. cit., hlm.145.

65

(42)

32 A. Biografi Imam Ahmad Ibn Hanbal

1. Latar Belakang

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah imam yang keempat dari fuqoha Islam. Dia memiliki sifat-sifat yang luhur dan tinggi, imam umat Islam, imam Darussalam, Mufti di Irak, Zahid dan saleh, sabar menghadapi cobaan, seorang ahli hadits dan contoh teladan bagi orang-orang yang ahli hadits. Sayyid Rasyid Ridho berpendapat bahwa Ahmad ibn Hanbal adalah seorang mujaddid (pembaharu) abad ketiga. Bahkan dalam pandangan peneliti lainnya berpendapat bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal lebih utama, dengan gelar tersebut, dari pada Ibnu Suraij, Syafi’i, Thahawy, al-Khilal dan an-Nasa’i.1

Imam Ahmad ibn Hanbal al-Syaibany dilahirkan di Baghdad tepatnya di kota Maru/Mery, kota kelahiran sang ibu, pada bulan Rabiul awal tahun 164 H atau bulan Nopember 780 Masehi. Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad Ibn Idris ibn Abdillah ibn Hayyan ibn Abdillah bin Anas ibn Awf ibn Qasit ibn Mazin ibn Syaiban ibn Zulal ibn Ismail ibn Ibrahim. Dengan kata lain,

1

(43)

dia keturunan Arab dari suku bani Syaiban, sehingga diberi laqab al-Syaibany.2 Nasab keturunannya bertemu dengan Rasulullah SAW pada nizar ibn Ma’ad bin Adnan.

Pernasaban nama Ibn Hanbal diambil dari nama kakeknya yang bernama Hanbal. Sehingga orang-orang lebih suka memanggil ibn Hanbal, padahal Hanbal sendiri nama kakeknya. Sedangkan ayahnya bernama Muhammad. Itu semua disebabkan karena kakeknya lebih terkenal dari pada ayahnya. Kakeknya, Hanbal ibn Hilal adalah Gubernur di Sarakhs, Khurasan pada masa Daulah Umayyah.3

Ayah ibn Hanbal meninggal dunia ketika dia masih kecil. Karena itulah dia diasuh dan dibesarkan serta dididik oleh ibunya yang bernama Shatiyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy-Syaibani dari Bani Amir. Maka ayah dan bunda dia adalah keturunan Arab asli suku Syaiban yang tinggal di Basrah. Karena itu dia juga diberi gelar al-Basri. Ketika dia berziarah ke Basra dirinya menyempatkan untuk shalat di masjid Mazin bani Syaiban. Dia berkata, “sesungguhnya masjid ini adalah masjid nenek moyangku.”4

Ketika ayah ibn Hanbal meninggal dunia, ayahnya hanya meninggalkan harta pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa jika Ahmad ibn Hanbal ditanya asal usul

2

Al-Fatih Suryadilga (ed), Studi Kitab-kitab hadits, Yogyakarta: TERAS, 2003, Cet.ke-1, hlm.25.

3

Ahmad Asy-Syurbasy, Al-Aimmah al-Arba’ah, Terj. Futuhul Arifin, 4 Mutiara Zaman Biografi Empat Imam Madzhab, Jakarta: Pustaka Qalani, 2003, Cet.ke-1, hlm.168.

4

(44)

sukunya, dia mengatakan bahwa ia anak dari suku orang-orang miskin.5 Dan semenjak kematian ayahnya, ibunya tidak menikah lagi, meskipun dia masih muda dan banyak laki-laki yang melamarnya. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar ia bisa memfokuskan perhatian pada Ahmad ibn Hanbal sehingga bisa tumbuh sebagaimana yang ia harapkan.

Ahmad ibn Hanbal dibesarkan di Baghdad dan mendapatkan pendidikan awalnya di kota tersebut hingga usia 19 tahun. Sejak kecil Ahmad disekolahkan kepada seorang ahli Qiroat. Pada umur yang masih relatif muda ia sudah menghafalkan al-Quran, sejak usia enam belas tahun Ahmad juga belajar hadits. Karena kecintaan Ahmad terhadap hadits pagi-pagi buta dia selalu pergi ke masjid-masjid hingga ibunya merindukannya.6

Tahun 183 H Ahmad ibn Hanbal pergi ke beberapa kota dalam rangka mencari ilmu. Dia pergi ke Kuffah pada tahun 183 H, kemudian ke Bashrah pada tahun 186, ke Makkah pada tahun 187, dilanjutkan ke Madinah, Yaman (197), Siria dan Mesa Mesopotamia. Ibn Hanbal mempelajari hadits untuk pertama kalinya dari Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Qodhi,7 seorang ahl alra’yi pengikut Abu Hanifah. Dia belajar fiqih dan hadits dari Abi Yusuf. Karena itulah Abu Yusuf terhitung sebagai guru pertama bagi Ibn Hanbal.

5

Al-Fatih Suryadilga (ed), op.cit., hlm.25.

6

Ibid, hlm.26.

7

(45)

Sebagian peneliti berpendapat bahwa pengaruh Abu Yusuf terhadap Ibn Hanbal tidak begitu kuat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa Abu Yusuf bukan guru pertamanya melainkan Hasyim8 bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithy. Sesungguhnya dialah yang memberi pengaruh yang jelas pada diri Ibn Hanbal. Ibn Hanbal berguru pada Hasyim selama 4 tahun dan mengambil hadits dan menulisnya sebanyak 3000 hadits.9

Imam Syafi’i sebagai salah satu seorang guru dia dikatakan oleh sebagian peneliti adalah sebagai guru yang kedua. Dia bertemu dengan Imam Syafi’i di musim haji ketika sedang mengajar di masjidil Haram. Kesempatan kedua kali mereka bertemu di Baghdad. Waktu akan pindah ke Mesir Imam Syafi’i menyarankan supaya mengikuti dia ke Mesir. Dia menyetujui saran itu, tetapi tidak terlaksana. Ibn Hanbal belajar dari Imam Syafi’i tentang pemahaman istinbath (pengambilan hukum) atau penyimpulan sebuah hukum hingga Muhammad bin Ishak bin Khuzimah berkata : “Ahmad ibn Hanbal adalah murid imam Syafi’i.”10

Ibn Hanbal juga pernah belajar dari Ibrahim bin Saad, Yahya bin Al-Qattan Waki’ dan lain-lain. Dia pernah bercita-cita hendak menuntut ilmu dengan Malik bin Anas, tetapi Imam Malik meninggal sebelum ia

8

Hasyim adalah seorang imam hadits dari Baghdad yang bertakwa, wara’ (menjauhi barang yang haram), seorang tabit-tabi’in banyak mendengar hadits dari imam-imam, imam Malik dan ulama lainnya banyak meriwayatkan hadits darinya. Hasyim adalah orang yang jenius kuat ingatannya . dilahirkan pada tahun 104 H dan wafat pada tahun 183 H.

9

Ahmad As-Syurbasy, op.cit., hlm.172.

10

(46)

menuntut ilmu padanya. Sebagai gantinya dia belajar kepada Sufyan bin Uyainah yang tinggal di Mekkah.11

Ibn Hanbal menuntut ilmu sepanjang hayatnya, karena terus menuntut ilmu orang pun bertanya pada dia; “sampai kapankah engkau hendak menuntut ilmu, padahal engkau sudah mencapai pada tingkat tertinggi dan menjadi imam bagi umat Islam?” dia menjawab, “dari ujung pena sampai ke pintu kubur.”

Jawaban Ibn Hanbal merupakan realisasi dari ajaran agama, atau ucapan-ucapan ahli fikir, atau ahli hadits, karena memang para ahli ilmu pengetahuan bukan saja berpegang pada pendapat dan pemikirannya sendiri, tetapi juga berpegang kepada pendapat orang-orang lain termasuk dalil-dalil nash wahyu. Karena mereka menyalin pendapat orang lain dengan tinta mereka yang dijuluki dengan “Ashabul Mahabin”.12

2. Kehidupan Politik Imam Ahmad ibn Hanbal dan Peristiwa Mihnah

Ahmad ibn Hanbal dilahirkan pada tahun 164 H. ketika kekhalifahan dipegang oleh Musa al Mahdi (169 – 170 H) dari kalangan Abasiyah. Ia meninggal di Baghdad pada tahun 241 H. Jadi ia meninggal pada zaman kekuasaan al-Mutawakil (228 – 242 H) yang ketika itu dinasti

11

Ibid

12

(47)

Bani Abbas sedang berjalan menuju kehancuran.13 Para penguasa bani Abbas tidak jauh beda dengan para penguasa Bani Umayyah sebelumnya. Mereka tidak tahan menghadapi kritik dan oposisi. Siapa berani mengangkat kepala mengadukan kezaliman penguasa, mengkritik dan menentang pedang algojo akan terayun di atas lehernya.

Mengenai masalah kekhalifahan Ahmad ibn Hanbal tidak menetapkan persyaratan seorang khalifah harus dari kabilah Quraisy, dan menfatwakan tentang kewajiban taat kepada khalifah kendati khalifah itu durhaka. Muhammad Abu Zahrah mengatakan bahwa Ahmad ibn Hanbal berpendapat:

ﺮﺟﺎﻔﻟاو

ﺮﺒﻟا

ﻦﻴﻨﻣﺆﻤﻟاﺮﻴﻣاو

تﺎﻤﺋﻸﻟ

ﺔﻋﺎﻄﻟاو

ﻊﻤﺴﻟا

.

Artinya : Mendengarkan dan taat kepada para imam dan amirul mu’minin (adalah wajib), baik ia seorang yang baik maupun yang fajir.

Berdasar pada pertimbangan tersebut, Ahmad ibn Hanbal mewajibkan umat Islam taat kepada imam dan amirul mu’minin. Orang yang tidak taat pada imam dipandang telah berlaku maksiat; dan apabila seseorang meninggal dalam tidak keadaan taat kepada pemimpin, ia termasuk yang mati dalam keadaan jahiliah;14 karena Nabi Muhammad SAW bersabda:

ﺔﻴﻠهﺎﺟ

ﺔﺘﻴﻣ

تﺎﻣ

ﻪﻴﻠﻋ

جرﺎﺧ

تﺎﻣ

نﺎﻓ

13

Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, Cet.ke-2, hlm.116.

14

(48)

Artinya: Jika orang yang keluar dari ketaatan kepada imam meninggal dunia maka ia mati jahiliyah.

Menurut Ahmad ibn Hanbal, mentaati khalifah yang durhaka lebih baik dari pada kaum muslim harus menghadapi bencana yang tidak hanya akan menimpa orang-orang zalim saja, akan tetapi juga akan menimpa orang-orang yang tidak bersalah. Bila itu sampai terjadi, negara akan menjadi lemah, dan akhirnya dapat membangkitkan keberanian musuh-musuh Islam yang selalu mengintai kelemahan kaum muslimin. Maka memberontak terhadapnya adalah kezaliman yang lebih besar; sebab pemberontakan mengandung bencana, dan bencana atau malapetaka pada galibnya mendorong orang berani merenggut kehormatan orang lain dan menumpahkan darah orang yang tidak berdosa.15

Meskipun Ahmad ibn Hanbal memandang seperti itu, ia tidak membenarkan sikap diam terhadap khalifah yang zalim. Menurutnya kepada khalifah yang demikian, lebih baik diberi nasehat dari pada di lawan dengan pemberontakan, menurutnya memberi nasehat merupakan fardhu kifayah bagi orang-orang yang berpengetahuan dan berpandangan jauh. Maka jika tak seorangpun dari mereka memenuhi kewajiban itu, maka mereka semuanya berdosa. Jadi jelaslah bahwa menurut Imam Ahmad ibn Hanbal taat kepada khalifah yang zalim dan durhaka adalah

15

Abdurrahman asy-Syarqowi, A’immah al-Fiqh al-Tis’ah, Terj. M. Hamid al-Husaini,

(49)

wajib syar’i (wajib menurut hukum Islam), dan memberontak kepada khalifah yang demikian adalah berlawanan dengan sunnah.16

Fatwa Ahmad ibn Hanbal yang seperti itu oleh kaum Si’ah dianggap sebagai penghinaan terhadap al-Husain ibn Ali. Karena menurut kaum Si’ah tidak ada kewajiban taat kepada penguasa zalim dan rakyat wajib bangkit melawannya. Sedangkan jika rakyat bersikap diam, sikap mereka itu bukan karena taat kepadanya, melainkan ittiqa (sikap untuk menyelamatkan diri) dari kezaliman yang lebih besar sambil menunggu kesempatan yang tepat (bangkit untuk melawan).17

Walaupun pada mulanya Ahmad ibn Hanbal berpendapat bahwa taat kepada khalifah adalah wajib, baik yang zalim ataupun durhaka namun kemudian ia mengubah pendapatnya setelah dia melihat sendiri bagaimana kesengsaraan dan penderitaan rakyat akibat dari pemimpin yang zalim dan durhaka. Kemudian ia meninjau kembali pemikirannya, kemudian memandang keharusan taat kepada khalifah yang zalim merupakan salah satu bentuk kemunafikan yang harus dijauhi oleh setiap orang beriman.18

Sikap hidup dan sifat-sifat Ahmad ibn Hanbal sesungguhnya merefleksikan dekadensi sosial dan kekacauan moral yang telah mengakibatkan jatuhnya dinasti Abbasiyah pada awal abad ketiga

16

Ibid

17

Ibid

18

(50)

Hijriyah. Kesemrawutan politik dan ekonomi, perpecahan teologis filosofis dan tekanan hebat yang dihadapi masyarakat, semakin memperlebar jarak antara penguasa dan mereka yang dikuasai dan semakin meningkatkan ancaman masyarakat muslim.19

Kebesaran dan kemasyhuran nama Ahmad ibn Hanbal dikarenakan perlawanannya terhadap dogma-dogma agama dan politik yang disebarkan oleh kekhalifahan Abbasiyah yang menurut Ahmad tidak berdasarkan pada al-Quran dan hadits. Bahkan para penguasa mengeksploitasi agama sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan hak-hak istimewa mereka dalam perekonomian. Kaum Mu’tazilah adalah penasehat resmi otokrasi Abasiyyah. Formulasi teologis dari doktrin penciptaan al-Quran secara politis digunakan untuk menekan para tokoh masyarakat, buruh dan budak yang berada di bawah kekuasaan kaum feodal.20 Masyarakat dicekam rasa ketakutan menghadapi pengujian yang bisa mengantarkan mereka ancaman mihnah.

Sikap penolakan Ahmad ibn Hanbal inilah yang membawa ia menghadapi Mihnah, yang secara harfiah berarti pengadilan atau penganiayaan, merupakan praktek inkuisisi Mu’tazilah yang dikenal luas antara tahun 218 – 234 atau dogma resmi bahwa al-Quran adalah ciptaan dan bukan firman Allah.

19

Al Fatih Suryadilaga (ed), op.cit., hlm.35.

20

(51)

Atas pengaruh golongan Mu’tazilah yang ketika itu mempunyai pengaruh kuat terhadap kebijakan religio-politik al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan al-Wasiq. Di depan khalifah Abasiyyah al-Mu’tazim Ahmad dicambuk dan dipenjarakan karena tidak mengakui bahwa al-Quran adalah makhluk.21 Ahmad mempertahankan pendiriannya bahwa al-Quran bukan makhluk sehingga pada tahun 220 H dia dihukum, dipukul dan didera. Pada masa pemerintahan al-Wasiq Ahmad dibuang dari Baghdad, ketika al-Mutawakil menjadi khalifah pada tahun 232 H/846 M, ia menarik dekrit resmi mengenai khalq al-Quran dan Ahmad ibn Hanbal pun dibebaskan dari penjara.

Ahmad ibn Hanbal juga selalu berusaha menghindari kantor-kantor pemerintahan. Ketika suatu saat khalifah Harun al-Rasyid menawarkan jabatan hakim di Yaman atas dasar rekomendasi dari Imam Syafi’i Ahmad ibn Hanbal dengan keras menolaknya.

3. Karya dan Murid-Murid

Ahmad ibn Hanbal adalah seorang ilmuwan yang produktif. Dia banyak menulis kitab. Salah satu kitabnya yang paling agung dan monumental adalah kitab yang diberi nama Musnad Ahmad ibn Hanbal. Yaitu kitab yang berupa kumpulan hadits Rasulullah SAW yang berjumlah 40.000 hadits. Hadits-hadits tersebut dia kumpulkan dari perawi-perawi

21

(52)

yang dipercayai.22 Kitab tersebut dijadikan pedoman dalam menyelidiki hadits-hadits.

Kitab dia yang lain adalah “Az Zuhdi” yang menjelaskan sampai kemana kezuhudan Nabi-Nabi, sahabat-sahabat, khalifah-khalifah dan imam yang bersumberkan hadits, atsar dan “akhbar”. Adapun kitab-kitab yang lainnya adalah:23

a. Kitab al-‘Ilal b. Kitab al-Tafsir

c. Kitab al-Nasikh wal Mansukh d. Kitab Al-Zuhd

e. Kitab Al-Masail

f. Kitab Fadail al-Sahabah g. Kitab Al-Faraid

h. Kitab Al-Manasik i. Kitab Al-Imam j. Kitab Al-Asyribah k. Kitab Ta’at al-Rasul dan

l. Kitab Al-Rad ‘ala al-Jahmiyyah

Kitab yang disebut terakhir merupakan sebuah buku risalah dari surat Ahmad ibn Hanbal dalam menanggapi pendapat golongan Jihamiyah, yang mengatakan bahwa : al-Quran adalah percakapan Allah SWT yang hawadits. Dalam risalah tersebut Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan bahwa golongan Jihamiyah dengan segala macam pendapatnya itu kafir dan halal dibunuh.24

Selain kitab-kitab yang disusun langsung oleh Imam Ahmad ibn Hanbal ada juga gagasan Ahmad ibn Hanbal yang diteruskan dan

22

Imam Munawir, op.cit., hlm.306.

23

Al-Fatih Suryadilaga (ed)., op.cit., hlm.27.

24

(53)

dilestarikan oleh para pengikutnya. Di antara rujukan fikih Hanabillah adalah sebagai berikut:

1. Mukhtashar al-Khurqi karya Abu Qasim Umar ibn Husain al-KHurqi (w. 334 H)

2. Al-Mughni Syarkh Ala Mukhtasar al-Khurqi karya Ibnu Qudamah (w. 620 H)

3. Majmu’ Fatwa ibn Taimiah karya Taqiy al-Din Ahmad ibn Taimiah (w. 728 H)

4. Ghayat al-Muntaha fi al-Jami’ bain al-Iqna wl Muntaha karya Mar’i ibn Yusuf al-Hanbali (w. 1032 H)

5. Al-Jami’ al-Kabir karya Ahmad ibn Muhammad ibn Harun atau Abu Bakar al-Khallal.25

Adapun murid-murid dan sahabatnya adalah sebagai berikut: a. Al-Atsram Abu Bakar Ahmad bin Hani al-Khurasani (w. 273 H) b. Ahmad bin Muhammad bin al-Hajja al-Marwani (w. 275 H) c. Ibn Ishak al Harbi (w. 285 H)

d. Al-Qasim Umar bin Ali al-Husain al-Khiraqi (w. 334 H) e. Abdul Aziz ibn Ja’far (w. 363 H)

Orang-orang yang terkenal yang melanjutkan pemikiran fiqh Imam Ahmad ibn Hanbal yang kurun waktunya agak jauh darinya.26

- Ibn Qudamah Muwaffiquddin (w. 620 H) penulis al-Mughni

25

Jaih Mubarok, op.cit., hlm.122.

26

(54)

- Ibn Qudamah, Syamsuddin al-Maghsi (w. 682 H) penulis Syarh al-Kabir

Selanjutnya, tokoh yang membarui dan melengkapi pemikiran madzhab Hanbali terutama bidang muamalah adalah:

- Syeikh al-Islam Taqiyyudin ibn Taimiyyah (w. 728 H) - Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (w. 752 H) murid Ibn Taimiyyah

Tadinya pengikut madzhab Hanbali tidak begitu banyak, setelah dikembangkan oleh dua tokoh yang disebut terakhir maka madzhab Hanbali menjadi semarak,27 terlebih setelah dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (w. 1206 H), menjadi madzhab orang Nejed, dan kini menjadi madzhab resmi pemerintah kerajaan Saudi Arabia.

4. Dasar Istinbath Hukum Imam Ahmad ibn Hanbal

Imam Ahmad ibn Hanbal menganggap Imam Syafi’i sebagai guru besarnya, oleh karena itu di dalam pemikiran ia banyak dipengaruhi oleh Imam Syafi’i. Thaha Jabir Fayadl al-Ulwani mengatakan bahwa cara ijtihad Imam Ahmad ibn Hanbal sangat dekat dengan cara ijtihad Imam as-Syafi’i. Ibn Qoyyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa pendapat-pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal dibangun atas 5 dasar:28

1. Al-Nushus yaitu al-Quran dan hadits 2. Fatwa sahabat

27

Ibid, hlm.126.

28

(55)

3. Pendapat sahabat yang dekat dengan al-Quran dan sunnah 4. Hadits mursal dan hadits dhaif

5. Qiyas

Adapun penjelasan dari masing-masing pokok gagasan yang digunakan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam membina madzhabnya adalah sebagai berikut:

1. Al-Nushus yaitu al-Quran dan hadits

Al-Quran yaitu perkataan Allah SWT yang diturunkan oleh ruhul amin ke dalam hati Rasulullah dengan lafadz bahasa Arab, agar supaya menjadi hujjah bagi Rasulullah bahwa dia adalah utusan Allah SWT.29

Al-Hadits yaitu segala ucapan, segala perbuatan, dan segala keadaan atau perilaku Nabi SAW.30

Menurut Imam Ahmad ibn Hanbal al-Quran adalah sumber pertama dalam menggali sumber hukum fiqh dia. Sedangkan sunnah sendiri adalah penjelas al-Quran dan tafsir hukum-hukumnya maka tidak aneh apabila ia menjadikan al-Quran an sunnah sebagai perintis sumber-sumber bagi pendapat fiqh dia. Oleh karena itu ia menolak terhadap orang-orang yang mengambil teks-teks al-Quran dan meninggalkan sunnah. Dalam pendahuluan bantahannya ia berkata:

29

Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Usul Fiqh, Terj. Hallmudin, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005, Cet.ke-5, hlm.17

30

(56)

“Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Muhammad dan menurunkan kitab-Nya dengan membawa petunjuk bagi yang mengikutinya.” Rasulullah adalah penjelas dari kitab Allah SWT dan pemberi petunjuk terhadap makna-makna al-Quran.31 Bila jawaban atas persoalan hukum sudah didapat dalam nash-nash al-Quran dan hadits, ia tidak beranjak ke sumber lain, tidak pula menggunakan metode ijtihad.

2. Fatwa sahabat

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat sebagai generasi Islam pertama meneruskan ajaran dan misi kerasulan. Sahabat melakukan penelaahan terhadap al-Quran dan sunnah dalam menyelesaikan suatu kasus. Apabila tidak didapatkan dalam al-Quran dan sunnah, mereka melakukan ijtihad dalam menyelesaikan kasus disebut fatwa, yaitu suatu pendapat yang muncul karena adanya peristiwa yang terjadi.32 Jadi fatwa sahabat merupakan ijtihad para sahabat dalam menyelesaikan suatu kasus.

Sahabat-sahabat yang terkenal sebagai mufti atau mujtahid adalah: a. Zaid ibn Tsabit (nama lengkapnya Zaid ibn Tsabit ibn Dhalak

al-Anshari)

b. Abdullah ibn Abbas (nama lengkapnya Abdullah ibn Abbad Abdul Mutholib)

31

Ahmad Asy-Syurbasy, op.cit., hlm.176.

32

(57)

c. Abdullah ibn Mas’ud (nama lengkapnya Abdullah ibn Mas’ud ibn Ghafal)33

Apabila Imam Ahmad mendapat fatwa dari seorang sahabat dan ia tidak mendapatkan bantahan dari sahabat yang lain maka ia menjadikan pendapat tersebut sebagai hujjah.

3. Pendapat sahabat yang dekat dengan al-Quran dan sunnah

Apabila Imam Ahmad ibn Hanbal mendapatkan fatwa dari beberapa sahabat maka ia mengambil pendapat yang menurutnya lebih dekat dengan al-Quran dan sunnah. Ia tidak pernah meninggalkan pendapat-pendapat sahabat untuk membuat ijtihad sendiri. Jika dia tidak yakin pendapat mana yang lebih dekat dengan al-Quran dan as-Sunah maka dia menerangkan seluruh perbedaan pendapat tersebut tanpa menegaskan pendapat mana yang harus diambil.34

4. Hadits mursal dan dhaif

Hadits ini dipakai apabila tidak ada keterangan atau pendapat yang menolaknya. Pengertian mengenai hadits dhaif pada masa dahulu tidak sama dengan pengertiannya di zaman sekarang. Pada masa Imam Ahmad ibn Hanbal hanya ada dua macam hadits: hadits shahih dan hadis dhaif. Dimaksud dhaif disini bukan dhaif yang batil dan yang mungkar, tetapi merupakan hadits yang tidak berisnad kuat yang tergolong sahih atau hasan. Menurut Ahmad hadits tidak terbagi atas

33

Ibid, hlm.44.

34

(58)

sahih, hasan dan dhaif tetapi sahih dan dhaif. Pembagian hadits atas

sahih, hasan, dan dhaif dipopulerkan oleh al-Turmudzi.35 Hadits-hadits dhaif ada bertingkat-tingkat, yang dimaksud dhaif disini adalah pada tingkat yang paling atas. Menggunakan hadits semacam ini lebih utama dari pada menggunakan qiyas.

5. Qiyas

Apabila hadits mursal dan hadits dhaif sebagaimana disyaratkan di atas tidak didapatkan, Imam Ahmad ibn Hanbal menganalogikan (menggunakan qiyas) dalam pandangannya, qiyas adalah dalil yang dipakai dalam keadaan terpaksa.36

B. Pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal tentang muhrim Mushaharah Sebab Liwath (sodomi)

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah imam termuda dari keempat imam madzhab. Dia seorang ahli hadits dan ahli fiqh. Dalam bidang fiqh ia mempunyai tidak kurang dari 60.000 fatwa.37 Imam Ahmad ibn Hanbal tidak memberi fatwa kecuali pada masalah yang telah terjadi. Dia tidak suka pada masalah-masalah yang diasumsi atau menggambarkan masalah atau memecah cabang-cabang masalah. Karya-karya Ahmad dalam bidang fiqh lebih banyak disusun oleh sahabat-sahabat dan murid-murid dia dalam bentuk kitab fiqh

35

Muh. Zuhri, op.it., hlm.124.

36

Jaih Mubarok, Op Cit, hlm. 120.

37

(59)

yang merupakan himpunan pendapat-pendapat dia seperti kitab “Al-Jami’ al-Kabir” yang terdiri dari 20 jilid yang oleh Ahmad bin Muhammad al-Hillal dan lain-lain.

Salah satu pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal adalah liwath (sodomi) termasuk bagian dari muhrim mushaharah. Pendapat Imam Ahmad ini terdapat dalam kitab al-Muqni fi Fiqhi Imam Ahmad ibn Hanbal. Karya Imam ibn Qudamah Muwaffiquddin yaitu ulama yang terkenal melanjutkan pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal. Adapun pendapatnya sebagai berikut:

ﺎﺑ

ةﺮهﺎﺼﻤﻟا

ﻢﻳﺮﺤﺗ

ﺖﺒﺜﻳو

Artinya: “Tetap ada muhrim mushaharah sebab wati halal dan haram, dan apabila seseorang melakukan liwath (sodomi) pada seorang anak laki-laki, diharamkan setiap seorang dari keduanya ibu dan anak perempuannya.”

Dalam kitab rahmatul ummah fihtilafil aimmah juga dikatakan;

ﻖﻠﻌﺘﻳ

ﺔﻔﻴﻨﺣﻮﺑا

لﺎﻗو

Artinya; “Abu Hanifah berkata, tetap ada hubungan muhrim mushaharah sebab zina dan ahmad menambahi, ahmad berkata “ketika seseorang melakukan liwath dengan seorang anak laki-laki maka diharamkan kepadanya ibu dan anak perempuan anak laki-laki tersebut.”

Dalam kitab Almuharrar fi Fiqhi ‘ala Madzahibi Imam Ahmad ibn Hanbal

juga dikatakan;

38

Imam Muwafuqquddin ibn Qudamah,Al -muhgni, loc.cit.

39

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan kedua variabel tersebut juga dibahas oleh Sakthivel dan Jayakrishnan (2012), mereka menggunakan teori pertukaran sosial ( social exchange theory )

[0260] Kota Bandung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan..

NFS (Network File System) adalah aplikasi yang bertujuan agar komputer dapat melakukan mounting file atau data komputer lain dalam jaringan sehingga seakan-akan berada

Line Tracking Tracking Robot ini meru*akan ebua3 alat yang beker?a berdaarkan kondii *antulan Robot ini meru*akan ebua3 alat yang beker?a berdaarkan kondii *antulan ca3aya

review TripAdvisor terhadap keputusan pembelian kamar hotel. 7) adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada

Beberapa instrumen kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah selama ini adalah adanya (a) rasio impor bahan baku susu yang dikaitkan dengan keharusan serap susu segar domestik,

Hasil pengamatan terhadap pengaruh penambahan gliserol dalam bahan pembawa alginat terhadap viabilitas Pseudomonas berfluoresen setelah 42 hari masa inkubasi dapat

Berdasarkan gejala- gejala yang timbul dan juga hasil dari pemeriksaan tinja pasien, dapat langsung gejala yang timbul dan juga hasil dari pemeriksaan tinja