• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAPLIKASIAN BAMBU LAMINASI PADA PRODU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGAPLIKASIAN BAMBU LAMINASI PADA PRODU"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAPLIKASIAN

“STANDING LA

Nama

NIM

Mata Kul

PROGRAM S-1

FAKULTA

INSTITUT TEKN

AN BAMBU LAMINASI PADA PRO

LAMP” DI IKM CAHAYA MANDI

Oleh :

: AHMAD KAMIL HILMI

: 131.12.008

Kuliah : DPI-3131 Desain Produk III

Dosen Pembimbing :

Drs. IYUS SUSILA.,M.Ds

S-1 DESAIN PRODUK INDUSTR

LTAS TEKNIK DAN DESAIN

TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUN

RODUK

DIRI

STRI

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang dan Rumusan Masalah

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya

bambu yang cukup potensial. Sumber daya bambu yang cukup melimpah tersebut

perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap

pertumbuhan ekonomi nasional. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada

umumnya untuk mebel, barang kerajinan, supit dan konstruksi ringan. Bambu yang

digunakan untuk mebel biasanya berbentuk bulat atau kombinasi antara bambu bulat

dan anyaman. dimana masih ada kulitnya dan pengolahan bambu yang saat ini lagi

berkembang adalah teknologi laminasi bambu.

Bambu laminasi adalah suatu material yang dibuat dari beberapa bilah bambu

yang direkat dengan arah serat sejajar. Perekat yang digunakan adalah perekat organik

seperti urea formaldehida, melamin formaldehida, fenol formaldehida atau perekat

isosianat. Hasil perekatan tersebut dapat berupa papan atau balok tergantung dari

ukuran tebal dan lebarnya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu

lamina memiliki kekuatan setara dengan kayu kelas kuat III – II bahkan bisa setara

dengan kayu kelas kuat I tergantung dari jenis perekat, perlakuan dan proses yang

digunakan.

Bambu laminasi juga bisa digunakan sebagai material pengganti kayu,

mengingat persediaan kayu di Indonsesia semakin menipis dan terus berkurang dari

waktu kewaktu. Jumlah pemakaian kayu jauh lebih tinggi dari pada stok yang

tersedia. Jika kondisi ini terus menerus di biarkan, tentu pada suatu saat akan

memunculkan masalah baru di Indonesia.

Menghadapi problem seperti ini, telah membuat beberapa pihak seperti IKM (

Industri Kecil Menengah) atau pun industry manufaktur lainnya untuk melakukan

inovasi-inovasi terhadap pengolahan bambu, yang pada akhirnya terciptalah suatu

material baru yang menyerupai kayu yaitu bambu laminasi ini. Jika selama ini bambu

berbentuk bundar dan berongga, maka laminasi bambu mempunyai bentuk yang

sangat berbeda, yaitu seperti papan kayu, bahkan ukurannya bisa dibuat lebih lebar

seperti papan triplek, playwood atau material lain sejenisnya.

Bambu laminasi ini bila dibandingkan dengan kayu, justru daya tekannya

(3)

plywood. Hal ini dikarenakan pembuatannya menggunakan bambu yang masih utuh.

Berbeda dengan material press lain yang mengguanakan bahan dasar kayu, sebelum

dijadikan lembaran, kayu terlebih dahulu harus dipotong kecil-kecil bahkan ada yang

dijadikan bubur kertas terlebih dahulu, maka kekuatan dari material tersebut kurang

maksimal.

Karena penggunaan bambu laminasi di Indonesia belum begitu populer,

menjadikan harga bambu laminasi terbilang masih mahal, sebab ongkos atau biaya

produksinya yang sanagt tinggi. Didaerah Bali, harganya sekitar 13 juta permeter

kubik, bahkan di Yogyakarta lebih mahal yaitu 15 juta permeter kubik., dibandingkan

dengan harga kayu di Kalimantan seperti bangkirai harganya jauh lebih murah yaitu

sekitar 7,5 juta. Perbedaannya memang sangat jauh sekali.

Hanya saja jika teknologi dan inovasi untuk membuat bambu laminasi ini

sudah berkembang dengan baik, saya yakin harnganya akan menurun drastis dan

menjadi lebih murah dibandingkan dengan bahan lain dari kayu, mengingat

(4)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan diajukan

adalah bagaimana cara mengembangkan teknologi laminasi bambu secara sederhana

dan mengaplikasikannya secara langsung pada produk dengan cara menggabungkan

dengan material yang berbeda dengan tujuan untuk mengembangkan inovasi desain

pada produk di ikm bambu.

C. Tujuan Perancangan

1. Untuk mengembangakan inovasi desain pada produk ikm

2. Untuk meningkatkan presentase produk berbahan dasara laminasi bambu di

ikm

3. Untuk mencoba menggabungkan dua material yang berbeda dan

menghasilkan produk baru pada ikm.

D. Batasan Masalah

Pada perancangan kali ini, saya akan membuat sebuah produk yaitu standing lamp

sebagai studi kasus perancangan Desain Produk III, dengan menggunakan bambu

laminasi sebagai struktur kaki lampu dan di mix dengan material kerang simping

sebagai kap lampu, dan standing lamp ini selain untuk penerangan, berfungsi juga

(5)

BAB II DATA TEORI 1. Data dan Analisa Data Bambu

A. Apa itu Bambu ?

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan

ruas di batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah

buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan

pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik,

dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih,

tergantung pada kondisi tanah danklimatologi tempat ia ditanam

B. Jenis-Jenis Bambu

Di Indonesia terdapat lebih kurang 125 jenis bambu. Ada yang masih

tumbuh liar dan belum jelas kegunaannya. Beberapa jenis bambu tertentu

mempunyai manfaat atau nilai ekonomis tinggi seperti : bambu apus, bambu

ater, bambu andong, bambu betung, bambu kuning, bambu hitam, bambu

talang, bambu tutul, bambu cendani, bambu cangkoreh, bambu perling, bambu

tamiang, bambu loleba, bambu batu, bambu belangke, bambu sian, jepang,

bambu gendang, bambu tali dan bambu pagar (Berlian dan Rahayu, 1995).

C. Manfaat dan Kegunaan Batang Bambu

Batang bambu baik yang masih muda maupun yang sudah tua dapat

digunakan untuk berbagai macam keperluan. Namun demikian, tidak semua

jenis bambu dapat dimanfaatkan.

Batang bambu yang masih bulat dapat dimanfaatkan untuk komponen

bangunan rumah seperti dinding, atap, lantai, pintu jendela, dan tiang; juga

sebagai komponen konstruksi jembatan, pipa, saluran air dan sebagainya.

Batang bambu yang sudah dibelah banyak dimanfaatkan untuk industri

kerajinan tangan dalam bentuk anyaman atau ukiran, perabot rumah tangga,

dan lain-lain.

Batang bambu bulat dan belah banyak dimanfaatkan oleh industri

furniture seperti meja, kursi, lemari rak dan tempat tidur. Bambu dalam bentuk

(6)

D. Karakteristik Bambu

Berikut adalah kelemahan dan kelebihan pada bambu antaralain :

1. Kelebihan

• Memiliki sifat fisik dan mekanik yang baik. Batangnya berwujud pipa beruas dengan kekuatan struktur yang terkonsentrasi pada

permukaan dinding luar, liat namun lentur, mudah dibelah,

dipotong, dan dibentuk. Seratnya elastis, optimal menahan beban

tarik, tekan, geser, dan tekuk. Beberapa jenis bambu memiliki

kekuatan tarik 480 Mpa, setara 12 ton/m2, melebihi kekuatan tarik

baja mutu sedang yang hanya 370 Mpa.

• Rupanya artistik, memiliki pembawaan warna alami, mulus nan cantik meski tanpa dicat, jika cukup umur saat ditebang. Bentuk

batang relatif lurus rapi, mudah dikemas, dan dikirim ke lokasi

proyek.

• Relatif murah dibanding bahan bangunan lain karena tumbuh di banyak tempat dan produksi per tahunnya cukup melimpah.

• Tidak bersifat polutif. Seluruh bagian berguna, tanpa menyisa. Semisal, batangnya untuk bangunan, daunnya untuk obat dan dibuat

kompos, bahkan sisa-sisa industri perabot dapat disulap menjadi

arang.

• Ramah lingkungan karena memiliki siklus hidup kurang dari 6 tahun (rentang waktu yang digunakan para ahli sebagai parameter

tanaman itu bisa atau tidak diperbaharui). Dalam sepuluh tahun bisa

dipanen hingga tiga kali, sedangkan kayu hanya sekali bahkan ada

yang harus menunggu hingga seratus tahun baru bisa ditebang.

2. Kelemahan

 Rentan lapuk, reyot, tidak tahan air hujan dan api. Maka, bambu harus diposisikan di tempat yang tidak lembab dan jangan sampai

terbakar.

(7)

adalah dengan sistem pengawetan, baik secara alami maupun

kimiawi.

 Dalam pengerjaannya, ada beberapa hal yang cukup sulit, seperti teknik penyambungan antarbambu, penyambungan dengan material

lain, dsb. Namun, para ahli terus mengadakan penelitian hingga

ditemukannya bermacam teknologi sambungan bambu.

E. Metoda Laminasi pada Bambu 1. Pengertian Bambu Laminasi

Bambu lamina adalah suatu produk yang dibuat dari beberapa bilah

bambu yang direkat dengan arah serat sejajar. Perekat yang digunakan adalah

perekat organik seperti urea formaldehida, melamin formaldehida, fenol

formaldehida atau perekat isosianat. Hasil perekatan tersebut dapat berupa

papan atau balok tergantung dari ukuran tebal dan lebarnya. Beberapa hasil

penelitian menunjukkan bahwa bambu lamina memiliki kekuatan setara

dengan kayu kelas kuat III – II bahkan bisa setara dengan kayu kelas kuat I

tergantung dari jenis perekat, perlakuan dan proses yang digunakan.

2. Cara Membuat Bambu Laminasi

Bambu yang digunakan untuk membuat bambu lamina harus

mempunyai diameter yang cukup besar dan dinding bambunya tebal sehingga

diperoleh bilah bambu yang cukup tebal. Pada prinsipnya proses pembuatan

bambu lamina adalah sebagai berikut :

a) Proses Cross Cutting

Batang bambu dari storage dipotong

sesuai kebutuhan mendapatkan ukuran bambu

laminasi nantinya dengan menggunakan mesin

cross cutting. Dalam proses ini, batang bambu

dipotong dengan ukuran panjang 115 cm.

Sehingga dari satu batang bambu petung yang

(8)

b) Splitting

Batang bambu yang telah

dipotong-potong selanjutnya akan di rajang, yaitu

membuat batang bambu menjadi bilah-bilah

dalam arah memanjang. Untuk satu batang

bambu yang telah dipotong sebelumnya,

dirajang menjadi bilah-bilah berjumlah 6.

Sehingga bila satu batang bambu pada awal pemotongan didapatkan

menjadi 17 potong bambu, maka pada proses splitting ini didapatkan

102 bilah bambu.

Setelah batang bambu dirajang menjadi bilah-bilah, maka perlu

dilakukan penyortiran mengenai ukuran dari hasil proses perajangan

tersebut. Karena Ukuran diameter batang bambu bisa tidak seragam

dalam pembelian ataupun penyimpanannya. Tujuan dari penyortiran

ini adalah memudahkan dalam proses pengeleman nantinya. Sehingga

dapat membantu kemudahan memperoleh ukuran yang dibutuhkan

dalam membuat bambu laminasi.

c) Four-side Planning

Pada proses ini, bilah bambu dibentuk menjadi empat persegi.

Hal ini dilakukan agar pada proses pengeleman selanjutnya, bilah

tidak mengalami gap. Sehingga proses pengeleman akan lebih baik

dan rapi. Pada proses ini juga bentuk dari bilah disesuaikan dengan

ukuran bambu laminasi yang akan dicapai.

d) Pengawetan Bilah Bambu

Proses pengawetan yang dilakukan adalah dengan perendaman

dalam larutan bahan pengawet. Bilah bambu dimasukkan ke dalam

palungan yang berisi larutan bahan pengawet. Bahan pengawet bambu

yang ramah lingkungan adalah 2.5% boraks (Natriumtetraborat) yang

dilarutkan dalam air [Frick,Heinz. 2004]. Tumpukan bilah-bilah yang

direndam dalam larutan pengawet ini ditahan dengan batu alam pada

permukaan larutan agar bilah bambu tidak mengapung. Di atas

permukaan palungan diberi penutup plastik untuk melindungi terhadap

(9)

menjaga kestabilan palungan diberi batu alam sebagai penahan. Proses

ini memerlukan waktu 2–5 hari.

Proses pengeringan dilakukan setelah perendaman, bilah bambu

diletakkan di atas permukaan palungan dengan bantuan batang melintang

sebagai alas. Untuk mengetahui kadar kesetimbangan air dalam bilah

bambu, digunakan alat ukur kadar air elektronik. Prinsip kerja alat ini

berdasarkan perhitungan hambatan listrik (resistan), yang terjadi antara

jarum yang satu dengan jarum lainnya. Bila kedua jarum atau paku alat

ukur tersebut dibenamkan ke bilah bambu, besar kandungan air dalam

bilah akan berfungsi sebagai konduktor yang mengantarkan listrik dari

jarum positif ke jarum negatif. Besarnya nilai kandungan air sangat

mempengaruhi besarnya muatan listrik yang dapat dialirkan ke jarum

yang satu.

Struktur zat padat bilah bambu dan kandungan kadar air bilah

merupakan hambatan listrik yang dapat diukur. Perbedaan hambatan

listrik ini kemudian dikonversikan dalam nilai kadar air bilah bambu

yang ditampilkan dalam skala digital analog/jarum.

Bila ternyata kadar air yang ada belum memenuhi standar

kebutuhan yang diizinkan, maka perlu dilakukan pengeringan ulang

dengan menggunakan oven.

e) Sorting dan Gluing

Bilah bambu yang telah dikeringkan disortir kembali berdasarkan

ukuran dan warna. Hal ini dilakukan untuk penyeragaman bentuk dan

warna sebelum perekatan. Untuk material perekat serta penguat

digunakan jenis Resornicol Phenol Formaldehyde (RPA-401) yang

diproduksi oleh PT Pamolite Adhesive Industry Probolinggo [Tarkono,

2005]. Sesuai kebutuhan bidang perkapalan, RPA-401 mempunyai

kemampuan rekat yang cukup tinggi dan tahan terhadap air serta segala

cuaca.

Adhesive ini digunakan untuk kayu dengan sistem pengeleman

tempa dingin (cold press) atau juga bisa dengan menggunakan klem.

Dalam penggunaannya harus dicampur dengan hardener jenis HRP-1,

dengan komposisi pencampuran 1 : 1. Hal ini dimaksudkan untuk

(10)

Pengadukan campuran lem hanya membutuhkan waktu 3 -5 menit.

Waktu pengeleman lem realtif singkat yaitu sekitar 1- 5 jam, tergantung

suhu ruangan pada saat bekerja. Jika pencampuran telah rata, maka lem

tersebut sudah dapat digunakan untuk pengeleman.

Pada saat membuat campuran

hendaknya mempertimbangkan luas

permukaan yang akan dilem. Sebab

jika terlalu banyak dan berlebih, maka

dalam waktu 4 jam lem tersebut

berubah menjadi gel, sehingga tidak

bisa digunakan. Kebutuhan RPA-401 adalah 40-50 gram/. Sehingga jika

ingin membuat balok laminasi berukuran 2.5 x 1 x 100 cm, diasumsikan

bahwa tiap layer mempunyai ketebalan 10 mm, maka luas permukaan

yang hendak dilem adalah 15.1 gram/.

f) Cold Press

Proses tempa dingin dilakukan dengan gaya tekan vertikal 10 kg/

serta beban samping 2.5 kg untuk laminasi arah horisontal. Dan juga 10

kg/cm2 untuk gaya tekan samping serta 2.5 kg gaya tekan vertikal untuk

vertikal laminasi. Lamanya proses tekan panas ini tergantung dari

ketebalan yang ingin dicapai dari laminasi.

g) Board Shaping

Pada tahap ini bambu laminasi telah terbentuk, namun perlu

dilakukan pengecekan terhadap bentuk yang dihasilkan. Bila ternyata

masih terdapat bentuk pada laminasi dimana mesih terdapat sudut-sudut

yang kurang baik, maka dilakukan pembentukan kembali dengan

bantuan mesin four-side grinding. Dan kedua ujung laminasi dipotong

untuk kemudian dibentuk lagi dalam shaping machine.

h) Sanding

Bambu laminasi yang berupa papan permukaannya diperhalus,

untuk kemudian dilakukan proses finishing yaitu pengecatan.

(11)

Sebagai bahan material alam, bambu mempunyai

bermacam-macam sifat yang tergantung pada jenis, lingkungan pertumbuhan dan

asalnya. Adapun yang termasuk karakteristik fisika bambu, antara lain: • Berat Jenis

Berat jenis bambu menunjukkan banyaknya massa bambu,

dengan kata lain jumlah sel-sel penyusun bambu dengan berat sel

masing-masing menunjukkan berat total bambu. Berat jenis bambu

dihitung sebagai nilai perbandingan antara berat bambu kering

dibagi berat air dengan volume sama dengan volume bambu

tersebut. • Kadar Air

adalah nilai yang menunjukkan banyaknya air yang ada dalam

bambu. Kadar air dihitung sebagai persentase perbandingan berat

air dalam bambu dengan berat kering tanur. Berat bambu kering

tanur adalah berat bambu total tanpa air akibat pengeringan dalam

tanur pada suhu 101–105°C.

b. Sifat Mekanik

Sifat - sifat mekanis bambu Laminasi secara teoritis menurut

Frick, 2004 dalam Sjelly Haniza, 2005 tergantung pada: • Kuat Tarik

Kekuatan bambu untuk menahan gaya tarik tergantung pada

bagian batang yang digunakan. Bagian ujung memiliki kekuatan

terhadap gaya tarik 12% lebih rendah dibandingkan dengan bagian

pangkal. • Kuat Tekan

Kekuatan bambu untuk menahan gaya tekan tergantung pada

bagian ruas dan bagian antar ruas batang bambu. Bagian batang

tanpa ruas memiliki kuat tekan (8 – 45)% lebih tinggi dari pada

batang bambu yang beruas. • Kuat Geser

Kemampuan bambu untuk menahan gaya-gaya yang membuat

(12)

dengan kuat geser. Kuat geser bambu bergantung pada ketebalan

dinding batang bambu. Bagian

batang tanpa ruas memiliki kekuatan terhadap gaya geser 50%

lebih tinggi dari pada batang bambu yang beruas. • Modulus Elastisitas

Modulus elastisitas merupakan keteguhan lentur pada batas elastis

bahan. Keteguhan lentur adalah rasio beban terhadap regangan

dibawah proporsional. Peningkatan nilai modulus elastisitas seiring

dengan peningkatan keteguhan lentur suatu bahan (Prayitno,

1995).

2. Data dan Analisa Data Tentang Kerang Simping

a. Karakteristik Kerang Simping /Amusium

pleuronectes adalah salah satu biota yang banyak dijumpai di perairan,

salah satunya di perairan Indonesia. Jenis kerang yang memiliki distribusi

sangat luas dari perairan Asia Tenggara, Asia Timur hingga Australia. Kerang

simping ini banyak dijumpai pada substrat dari pasir sampai lumpur berpasir

pada kedalaman 550 m (Widowati et al., 2002)Pola

Pola yang dimaksudkan disini adalah berupa guratan atau garis

tahun yang menunjukkan usia pada kerang itu sendiri. Garis tahun ini

memiliki daya tarik tersendiri dan sudah menjadikan ciri khas

tersendiri. • Tekstur

Kerang memiliki dua permukaan yaitu halus dan kasar. Pada

permukaan yang kasar merupakan bagian terluar dari kerang. Tekstur

tersebut terjadi karenapermukaan tersebut digunakan untuk melindungi

bagian dalam. • Warna

Untuk warna alamai dari kerang sendiri adalah cokelat muda

menuju keputih. Hal ini dapat memberikan nuansa estetika dimana arti

(13)

Kerang pada umumnya berbentuk bundar, walaupun terkadang

tidak berbentuk lingkaran secara sempurna akibat dari sisi-sisinya yang

tidak semuanya rata. Bentuk yang demikian bila dimanfaatkan akan

lebih banyak dalam bentuk lingkaran, lengkung. Namun tidak menutup

kemungkinan akan dimanipulasi bentuknya menjadi berbentuk persegi

(14)

1. Sejarah IKM Cahaya M

IKM Cahaya mandi

observasi lapangan meng

Berikut adalah hasil obs

Tanggal : 18 Oktober 2014.

Tasikmalaya merupa

anyaman bambu terbaik di

ini merupakan salah satu

bambu yang berada di Ka

Kampung Paniis Hilir, Ke

Bapak Oman (60)

generasi ke-2 dari sejaka

mulai merintis IKM ini pa

mengolah bambu menjadi

kipas, dan lain lain.

Pak Oman pada a

tempat tinggal dan pasar

Jakarta dan Bandung. Na

pelatihan dari seorang dos

Ibu Rini tersebut

anyaman bambu menjadi

Hingga sampai saat ini m

lagi dikarenakan kondisi

IKM tersebut sangat berte

IKM tersebut menjadi lebi

Pada awalnya sis

perkiraan serta dimuali da

oleh satu orang. Sehingga

Namun pada saat ini belia

beliau menggunakan syst

yang sudah jadi kemudian

BAB III DATA LAPANGAN aya Mandiri

andiri ini merupakan salah satu ikm yang menjadi

engenai bambu untuk tugas matakulaih Desain

observasi lapangan saya yang dilaksanakan pada

2014.

erupakan pusat penghasil kerajinan

k di Indonesia. IKM Cahaya Mandiri

atu IKM penghasil kerajinan olahan

Kabupaten Tasikmalaya Tepatnya di

Kecamatan Leuwisari.

60) merupakan pemilik IKM tersebut

ka pertama IKM ini berdiri. Beliau

ni pada tahun 1990 sampai saat ini. Pada awalnya

jadi produk alat rumah tangga seperti, bakul, ase

a awalnya memasarkan produknya hanya pada d

sar-pasar tradisional terdekat serta luar kota se

Namun seiring berkembangnya IKM ini, belia

dosen ITB yang bernama Ibu Rini.

but mulai memberikan inovasi dan mengkreasika

di produk-produk yang memiliki nilai jual yang

ni meskipun pemilik IKM tersebut sudah tidak be

kondisi fisik Ibu Rini sudah tidak memungkinkan, nam

berterimakasih terhadap jasa beliau, karena berkat

lebih berkembang.

sistem produksi pada IKM ini hanya sebatas m

i dari pengolahan bahan baku sampai produksi i

ga pada saat ada orderan banyak Pak Oman meras

beliau sudah tidak menggunakan sistem produksi te

ystem pabrikasi, artinya beliau membeli bahan ba

udian dirakit di IKM tersebut.

(15)

Berikut adalah beberapa produk IKM Cahaya Mandiri yang sudah berkualitas

ekspor :

(16)

2. Jenis–Jenis Penerangan a. General lighting

adalah penerangan umum dari sumber cahaya yang

cukup besar dan sinarnya mampu menerangi

keseluruhan ruang. Pada area luar bisa bersumber

dari matahari, sedangkan pada area indoor biasanya

berasal dari cahaya lampu yang diletakkan di

plafond langit-langit berfungsi sebagai reflector yang meneruskan cahaya merata

ke seluruh penjuru ruang. Yang biasanya membutuhkan penerangan yang cukup

kuat untuk menunjang aktivitas seperti di ruang keluarga, dapur, ruang belajar.

b. Accent lighting

adalah untuk menerangi sesuatu yang khusus

seperti lukisan, benda seni, lemari antic dll untuk

menampilkan unsur estetikanya. Agar maksimal

usahakan cahaya lampu accent lighting paling

sedikit tiga kali lebih terang dari cahaya

penerangan ruang itu sendiri. Lampu yang biasa dipakai seperti spotlight,

mini-spot, lampu halogen, lampu tungsten.

c. Task lighting

adalah penerangan yang diperlukan untuk

mempermudah / memperjelas pekerjaan spesifik

seperti di ruang kerja, ruang belajar, ruang hobi

atau dapur. Dapat memperjelas pandangan, tidak

membuat mata lelah, membuat bekerja lebih focus.

Di meja belajar berupa lampu meja. Di dapur berupa lampu di bagian atas kitchen

(17)

d. Decorative lighting

adalah penerangan yang menonjolkan bentuk

dekoratif dalam tatanan ruang. Lampu dipilih

bentuk yang menarik untuk menghias ruang.

Contoh lampu meja yang kapnya memiliki pola

hias atau bahan yang cantik. Atau lampu dinding,

lampu berdiri atau lampu gantung yang cantik.

e. Kinetic lighting

adalah penerangan yang bergerak. Berasal dari

api seperti lilin, lentera, obor. Pendar cahaya

lembut, tidak terlalu kuat namun bergerak-gerak.

Menciptakan suasana temaram, dramatis dan

romantic. Cocok untuk kamar tidur, kamar mandi atau restoran tertentu. Muncul

istilah ‘candle light dinner’ yang artinya makan malam dengan pendar lilin yang

romantis. Banyak dijual lilin wangi yang berfungsi ganda sebagai sumber

penerangan dan juga aromaterapi. Ada produk lampu yang bisa bergerak-gerak

seperti ini tapi tidak sebaik aslinya.

3. Tabel Tingak Pencahayaan sesuai SNI 2001

Fungsi ruangan

Ruang tamu 120~250 1 atau 2

Ruang makan 120~250 1 atau 2

Ruang kerja 120~250 1

Kamar tidur 120~250 1 atau 2

Kamar mandi 250 1 atau 2

Dapur 250 1 atau 2

Garasi 60 3 atau 4

Perkantoran :

Ruang Direktur 350 1 atau 2

Ruang kerja 350 1 atau 2

Ruang komputer 350 1 atau 2

Ruang rapat 300 1 atau 2

Ruang gambar

(18)

Gudang arsip 150 3 atau 4 Ruang arsip aktif. 300 1 atau 2

Lembaga Pendidikan :

Ruang kelas 250 1 atau 2

Perpustakaan 300 1 atau 2

Laboratorium 500 1

Ruang gambar

750 1 atau 2 Gunakan pencahayaan

setempat pada meja gambar.

Kantin 200 1

Hotel dan Restauran :

Lobby, koridor 100 1

Pencahayaan pada bidang vertikal sangat penting untuk menciptakan suasana/kesan ruang yang baik.

Ballroom/ruang

sidang. 200 1

Sistem pencahayaan harus di rancang untuk menciptakan suasana yang sesuai. Sistem pengendalian “switching” dan “dimming” dapat digunakan untuk memperoleh berbagai efek pencahayaan.

Ruang makan. 250 1

Cafetaria. 250 1

Kamar tidur. 150 1 atau 2

Diperlukan lampu tambahan setempat pada tempat yang diperlukan.

Laboratorium 500 1 atau 2

Ruang rekreasi

dan rehabilitasi. 250 1

(19)

Ruang pamer

alat tulis/gambar. 300 1

Toko perhiasan,

arloji. 500 1

Toko Barang

kulit dan sepatu. 500 1

Toko pakaian. 500 1

Pasar Swalayan. 500 1 atau 2 Pencahayaan pada bidang vertical pada rak barang. Toko alat listrik

Pekerjaan kasar. 100~200 2 atau 3 Pekerjaan sedang 200~500 1 atau 2

Pekerjaan halus 500~1000 1

Mesjid 200 1 atau 2

Untuk tempat-tempat yang mem butuhkan tingkat

pencahayaan yang lebih tinggi dapat digunakan pencahayaan setempat.

Gereja 200 1 atau 2 Idem

(20)

4. Perhitungan Tingakt Pencahayaan

a. Tingkat Pencahayaaan Rata-rata (Erata-rata).

Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan pada umumnya didefinisikan sebagai

tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja. Yang dimaksud dengan bidang kerja

ialah bidang horisontal imajiner yang terletak 0,75 meter di atas lantai pada seluruh

ruangan. Tingkat pencahayaan rata-rata Erata-rata (lux), dapat dihitung dengan

persamaan :

b. Koefisien Penggunaan (kp).

Sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh lampu diserap oleh armatur,

sebagian dipancarkan ke arah atas dan sebagian lagi dipancarkan ke arah bawah.

Faktor penggunaan didefinisikan sebagai erbandingan antara fluks luminus yang

sampai di bidang kerja terhadap keluaran cahaya yang dipancarkan oleh semua

lampu. Besarnya koefisien penggunaan dipengaruhi oleh faktor : • distribusi intensitas cahaya dari armatur.

• perbandingan antara keluaran cahaya dari armatur dengan keluaran cahaya dari

• lampu di dalam armatur.

• reflektansi cahaya dari langit-langit, dinding dan lantai.

• pemasangan armatur apakah menempel atau digantung pada langit-langit,

dimensi ruangan.

Besarnya koefisien penggunaan untuk sebuah armatur diberikan dalam

bentuk table yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat armatur yang berdasarkan

hasil pengujian dari instansi terkait. Merupakan suatu keharusan dari pembuat

(21)

pencahayaan yang menggunakan armature tersebut tidak dapat dilakukan dengan

baik.

c. Koefisien Depresiasi (penyusutan) (kd).

Koefisien depresiasi atau sering disebut juga koefisien rugi-rugi cahaya

atau koefisien pemeliharaan, didefinisikan sebagai perbandingan antara tingkat

pencahayaan setelah jangka waktu tertentu dari instalasi pencahayaan digunakan

terhadap tingkat pencahayaan pada waktu instalasi baru.

Besarnya koefisien depresiasi dipengaruhi oleh : • kebersihan dari lampu dan armatur.

• kebersihan dari permukaan-permukaan ruangan.

• penurunan keluaran cahaya lampu selama waktu penggunaan. • penurunan keluaran cahaya lampu karena penurunan tegangan

listrik.

Besarnya koefisien depresiasi biasanya ditentukan berdasarkan estimasi.

Untuk ruangan dan armatur dengan pemeliharaan yang baik pada umumnya

koefisien depresiasi diambil sebesar 0,8.

d. Jumlah armatur yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan

tertentu. Untuk menghitung jumlah armatur, terlebih dahulu dihitung fluks

luminus total yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang

(22)
(23)

BAB IV

PERANCANGAN PRODUK DAN PROSES PRODUKSI A. Perancangan Produk

1. Pertimbangan Desain

a. Bahan yang digunakan harus mendukung aksi go-green

b. Produk harus menggunakan system knock-down

c. Selain untuk penerangan, berfungsi juga sebagai element estetis

d. Produk harus informatif

e. Lampu harus mudah diganti

2. Batasan Desain

a. Tinggi standing lamp±165 cm

b. Struktur standing lamp terbuat dari bambu laminasi

c. Cup lampu terbuat dari kerang simping

d. Terdapat dua buah lampu

3. Aspek Desain

Aspek yang di perhatikan dalam pembuatan standing lamp adalah sebagai berikut :

a. Aspek Keamanan

a) Nama Produk : Luminos

b) User / Pengguna : Ibu Rumah Tangga, Dewasa 20-55 tahun

c) Fungsi / Tujuan produk : untuk element estetis yang berfungsi sebagai penerangan di

sudut ruangan.

d) Bahan / Material produk

a. Struktur : bambu laminasi

b. Cup Lampu : kerang simping

e) Operasional produk

Produk menggunakan system knoc-down

• Produk dapat ditempatkan di sudut-sudut ruangan • Produk memiliki dua buah lampu

(24)

5. Image Chart

(25)
(26)
(27)
(28)

B. Proses Produksi

1. Skema Proses Produksi

2. Proses Produksi Standing Lamp di IKM Cahaya Mandiri No Gambar Deskripsi

1.

Konsultasi dengan salah satu pengrajin IKM

Cahaya Mandiri, dengan memberikan gambar

kerja.

2.

Proses penjemuran setelah sebelumnya di

awetkan terlebih dahulu menggunakan

campuran kamper, minyak tanah dan air.

3.

Prose pengukuran dan penyortiran bahan yang

memenuhi standar serta layak untuk

digunakan sebagai laminasi bambu.

4.

Proses perautan untuk menyamakan ketebalan

(29)

5.

Gambar disamping merupakan lembaran

bambu yang sudah diraut.

6.

Proses pelengkungan bambu menggunakan

obor tradisional atau pada ikm ini disebut

cempor.

7.

Lembaran bambu yang sudah dilengkungkan.

8.

Lembaran bambu yang sudah ditumpuk dan

direkatkan dengan menggunakan lem korea.

9.

Proses pengepresan menggunakan presan C.

10.

Lembaran yang sedang dipres kemudian dilem

(30)

3. Proses Produksi Kap Lampu di CV. Kerang Kurnia No Gambar Deskripsi

1.

Proses pembuatan malt atau cetakan kap

lampu menggunakan material Styrofoam.

2.

Gambar disamping merupakan kup lampu

yang sudah jadi menggunakan material kerang

(31)
(32)

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu

https://bamboeindonesia.wordpress.com/bambu-lamina/artikel-bambu-lamina/

http://www.moriscobamboo.com/artikel_07.html

http://www.imagebali.net/detail-artikel/986-mengenal-teknologi-pembuatan-bambu-laminasi%20.php

http://propertytoday.co.id/mengenal-karakteristik-bambu-sebagai-alternatif-bahan-bangunan.html

http://desain-interior8870.blogspot.com/2012/09/macam-macam-armatur-lampu.html

https://www.academia.edu/5622828/Metode_penggunaan_pencahayaan_berdasarkan_

SNI

http://id.wikipedia.org/wiki/Simping

http://repository.upnyk.ac.id/

Gambar

Gambar  : Produk hasil karya IKM Cahaya MandiriSumber : Dokumen Pribadi
Gambar disamping
GambarDeskripsi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian Nugroho dan Ando (2001) menunjukkan bahwa pengembangan linier bambu lamina 4 lapis yang dibuat dari pelupuh bambu moso dan direkat dengan perekat berbahan

Bambu lamina dari bambu andong dan bambu mayan yang dibuat menggunakan perekat UF memiliki sifat mekanis yang cukup tinggi yaitu keteguhan lentur rata-rata 1.196 kg/cm dan

Panel zephyr bambu adalah suatu papan atau lembaran tiga lapis dari zephyr bambu atau serat bambu dengan arah serat bersilangan yang direkat dengan menggunakan

Ber- dasarkan nilai keteguhan lentur, secara keseluruh- an BBL 3 lapis yang dibuat dari susunan bilah bambu andong secara tegak dan direkat meng- gunakan perekat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika bambu petung dan mengetahui pengaruh dua perekat yang berbeda, terhadap keruntuhan lentur bambu laminasi

Hal-hal yang diatur dalam spesifikasi teknis bambu laminasi antara lain: Modulus elastisitas ; Kuat lentur; Kuat tarik sejajar serat; Kuat tekan sejajar serat; Kuat geser

bambu laminasi sejajar arah serat terjadi interaksi gesek antara pelat dengan bahan bambu lebih kecil dari benda uji tahanan lateral bambu laminasi-pelat baja-

Berdasarkan data pada Tabel 4, keteguhan rekat sejajar serat permukaan terbaik terdapat pada bambu lapis yang dibuat dari bahan baku bambu tali dan perekat MDI,