MAKALAH SOSIOANTROPOLOGI PENDIDIKAN
MEMPERBAIKI BUDAYA MENGAJAR GURU SMK MELALUI
OPTIMALISASI STRATIVIKASI SOSIAL GURU
Disusun oleh :
Sri Jamaliah ( 12520241018 ) Fikry Abdullah Aziz ( 12520241038 ) Lovelita Indrikasih L ( 13520241001 ) Muhammad Shodiq ( 13520241002 ) Vani Sohaya ( 13520241004 ) Fahmi Tyastomo ( 13520241006 )
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pikiran, akal budi manusia. Dan makna mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan (Syah, 2002 : 181). Sehingga makna budaya mengajar adalah hasil karya atau nilai-nilai yang dihasilkan dari proses mengajar.
Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melakukan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri (Noor Jamaluddin, 1978:1).
Menurut Dardjo Sukardja (2003), pada dasarnya ada tiga hal pokok yang harus dimiliki seorang guru. Ketiga hal tersebut meliputi, kepribadian yang mantap, wawasan yang luas dan kemampuan professional yang memadai. Dikaitkan dengan hal tersebut, berdasarkan UU No 14 tahun 2005, guru memiliki beberapa kewajiban. Kewajiban guru dalam pendidikan yaitu, merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran serta meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berlanjutan sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Strativikasi sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (Soerjono Soekanto, 1981:133). Perbedaan tersebut dapat menimbulkan pelapisan sosial yang memisahkan kelas tinggi dan kelas rendah. Pelapisan sosial merupakan unsur sosial yang tidak akan lepas dari kehidupan bermasyarakat. Salah satu, profesi yang berada dalam penggolongan kelas-kelas tersebut yaitu profesi guru.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan strativikasi sosial? 2. Apakah yang dimaksud dengan budaya mengajar guru? 3. Apa yang dimaksud dengan optimalisasi?
4. Bagaimana mengoptimalkan stratifikasi sosial guru?
5. Bagaimana optimalisasi strativikasi sosial dalam budaya mengajar guru? 6. Bagaimana hubungan strativikasi sosial dengan budaya mengajar guru?
7. Apakah optimalisasi strativikasi sosial dapat mempengaruhi budaya mengajar? 8. Bagaimana cara memperbaiki budaya mengajar guru melalui optimalisasi
strativikasi sosial guru?
C. Pembahasan
1. Strativikasi Sosial
a. Pengertian stratifikasi sosial
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).
b. Bentuk – bentuk stratifikasi sosial
Terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat dikarenakan adanya sesuatu yang dihargai dan dianggap bernilai. Pada dasarnya sesuatu yang dihargai selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Keadaan ini menjadikan bentuk-bentuk stratifikasi sosial semakin beragam. Selain itu, semakin kompleksnya kehidupan masyarakat semakin kompleks pula bentuk-bentuk stratifikasi yang ada. Secara garis besar bentuk-bentuk stratifikasi sosial sebagai berikut:
1) Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Ekonomi
Dalam stratifikasi ini dikenal dengan sebutan kelas sosial. Kelas sosial dalam ekonomi didasarkan pada jumlah pemilikan kekayaan atau penghasilan. Secara umum klasifikasi kelas sosial terdiri atas tiga kelompok: kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah.
2) Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Sosial
Contoh: seorang tokoh agama atau tokoh masyarakat akan menempati posisi tinggi dalam pelapisan sosial.
3) Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Politik
Apabila kita berbicara mengenai politik, maka pembicaraan kita berhubungan erat dengan sistem pemerintahan. Dalam stratifikasi sosial, media politik dapat dijadikan salah satu kriteria penggolongan. Orang-orang yang menduduki jabatan di dunia politik atau pemerintahan akan menempati strata tinggi. Mereka dihormati, disegani, bahkan disanjung-sanjung oleh warga masyarakat. Orang-orang yang menduduki jabatan di pemerintahan dianggap memiliki kelas yang lebih tinggi dibandingkan warga biasa.
4) Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang dapat dijadikan sebagai dasar pembedaan dalam masyarakat. Seseorang yang bekerja di kantor dianggap lebih tinggi statusnya daripada bekerja kasar, walaupun mereka mempunyai gaji yang sama. Adapun penggolongan masyarakat didasarkan pada mata pencaharian atau pekerjaan sebagai berikut:
Elite yaitu orang kaya dan orang yang menempati kedudukan atau pekerjaan yang dinilai tinggi oleh masyarakat.
Profesional yaitu orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan serta orang dari dunia perdagangan yang berhasil.
Semiprofesional mereka adalah para pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah, mereka yang tidak berhasil mencapai gelar, para pedagang buku, dan sebagainya.
Tenaga terampil mereka adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut, pekerja pabrik, sekretaris, dan stenografer.
Tenaga tidak terdidik, misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
5) Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pendidikan
2. Budaya Mengajar Guru
a. Pengertian budaya mengajar guru
Budaya adalah semua aspek kehidupan manusia yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan kemampuan lain atau kebiasan-kebiasaan yang dikerjakan oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat (Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1991). Budaya mengajar guru ialah segala aspek pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral dan kemampuan lain yang diberlakukan guru pada proses pembelajaran yang diharapkan dengan budaya mengajar guru tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran.
b. Faktor penyebab budaya mengajar
Banyak orang yang belajar dengan susah payah, tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa, hanya kegagalan yang ditemui. Penyebabnya tidak lain karena belajar tidak teratur tidak disiplin, dan kurang bersemangat, tidak tahu bagaimana cara berkonsentrasi dalam belajar, mengabaikan masalah pengaturan waktu dalam belajar, istirahat yang tidak cukup, dan kurang tidur.
Menurut ajaran Rousseau dalam Dalyono (2001:106), “Manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan.” Namun, pengaruh budaya yang lebih fatal terjadi apabila sebagian besar masyarakat mengalami keterbelakangan budaya. Tirtarahardja (2000:246) menggambarkan bahwa keterbelakangan budaya terjadi akibat dari sekelompok masyarakat yang tidak mau mengubah cara dan kebiasaan yang selama ini mengganggap dirinya sudah maju. Pada kelompok ini mereka tidak mau menerima segala macam pembaharuan dan tidak mau mengubah tradisi yang selama ini sudah diyakini kebenarannya.
Menurut Koentjaraningrat (1990:147), “faktor budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan.” Peserta didik selalu melakukan kontak dengan masyarakat. Pengaruh-pengaruh budaya yang negatif dan salah terhadap dunia pendidikan akan turut berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Peserta didik yang bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah atau putus sekolah akan terpengaruh dengan mereka.
belajar mengandung kebiasaan belajar dan cara-cara belajar yang dianut oleh siswa. Pada umumnya setiap orang (siswa) bertindak berdasarkan force of habit (menurut kebiasaannya) sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan.
Sehubungan dengan hal itu, budaya belajar siswa akan menjadi tradisi yang dianut oleh siswa. Tradisi tersebut akan selalu melekat di dalam setiap tindakan dan perilaku siswa sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat. Misalnya tradisi dalam memanfaatkan waktu belajar, disiplin dalam belajar, kegigihan/keuletan dalam belajar, dan konsisten dalam menerapkan cara belajar efektif.
3. Optimalisasi peran stratifikasi sosial guru dalam budaya mengajar
Guru dalam mengajar tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda. Budaya mengajar guru ini mendeskripsikan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses belajar. Budaya mengajar mendeskripsikan pengalaman belajar siswa yang berproses sehingga jelas dan bertahap. Dari budaya mengajar dapat kita lihat bagaimana pengalaman belajar siswa berkembang sehingga siswa menguasai pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan menguatkan sikap yang terbentuk melalui proses belajar. Tiap metode memiliki kebermaknaan tertentu terhadap hasil belajar siswa. Namun semua bergantung pada guru juga yang menggunakan metode. Bergantung pada keterampilannya menggunakan metode, berbatung pada faktor-faktor lain yang mendukung kegiatan pembelajaran.
Penggunaan metode mengajar dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu, langsung dan tak langsung. Pengkategorian ini jika diurai lebih lanjut keadaannya jauh sedikit lebih rumit daripada yang dapat dilihat secara sepintas. Tiap metode pembelajaran memiliki kelebihan, kekurangan, serta membutuhkan persiapan awal yang berbeda-beda. Kelebihan dan kekurangan bisa juga secara alami karena terkait erat pada metode yang lain.
harus siswa kuasai, pada mata pelajaran apa, SK-dan KD apa, dan indikator pembelajaran seperti apa, ketersediaan waktu, sumber belajar yang tersedia, serta waktu belajar yang digunakan seperti pagi, siang, sore dsb.
Yang cukup menyulitkan guru adalah memilih metode mengajar yang paling sesuai dengan materi pelajaran serta sesuai dengan harapan siswa seingga dapat mengembangkan potensi belajarnya secara optimal. Siswa menyukainya karena metode sesuai dengan gaya mengajar dan suasana belajar. Motivasi belajar siswa meningkat karena siswa menyukai cara guru berinteraksi. Sekali pun guru dapat memilih metode yang paling sesuai, namun tak ada satu pun metode yang berhak mendapat julukan terbaik. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan dan menganalisis karakteristik khas tiap metode. Dengan memhami itu maka guru terbantu memilih keputusan terbaik.
Di bawah ini terdapat sejumlah metode yang sangat populer yang dapat dipertimbangkan untuk membuat pembelajaran lebih aktif dan menggunakan metode yang lebih variatif. Berikut analisis dari sisi kelebihan dan kekurangannya, serta hal-hal yang perlu guru persiapkan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Sejumlah metode di bawah ini dimuat pada penulisnya menyatakan bahwa urutan itu dikembangkan begitu saja tanpa memperhatikan adanya prioritas tertentu atau karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.
a. Tatap Muka (Directing Teaching)
Kelebihan:
a) Memungkinkan mencapai target belajar yang sangat spesifik. b) Siswa dapat mendalami mengapa materi yang dipelajarinya penting. c) Siswa dapat mengklarifikasi tujuan pembelajaran
d) Dengan cepat dapat mengukur materi yang telah siswa kuasai. e) Metode ini digunakan secara luas oleh guru di mana pun
f) Baik digunakan untuk menjelaskan fakta yang spesifik dan keterampilan dasar. g) Dapat membatasi kreativitas guru.
Kekurangan:
a) Memerlukan pengorganisasian materi pelajaran dengan baik dan persiapan keterampilan komunikasi yang prima.
b) Tiap tahap pembelajaran perlu dirancang dan dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan.
d) Materi pelajaran harus dikemas dengan baik sebelum pelaksanaan pembelajaran.
b. Belajar Bersama (Kooperatif Learning)
Kelebihan:
a) Membantu meningkatkan keterladanan dan tanggungjawab b) Didukung dengan riset dengan teknik yang efektif.
c) Siswa belajar bersabar, mengurangi mengkritik, dan lebih toleran.
Kekurangan:
a) Tidak seluruh siswa bekerja optimal b) Siswa cenderung sulit berbagi jawaban.
c) Siswa agresif cenderung mengambil alih bicara. d) Siswa yang cerdas menunjukkan dominasinya. c. Metode Guru
Kelebihan:
a) Materi yang faktual dijelaskan secara langsung, dan logis. b) Diperkaya dengan inspirasi dari pengalaman guru.
c) Bermanfaat untuk kelompok belajar kelas besar.
Kekurangan:
f) Tidak diajurkan metode ini digunakan untuk siswa di bawah 5 tahun. d. Ceramah-Diskusi
Kelebihan:
a) Memberi ruang kepada siswa untuk berpartisipasi, paling tidak setelah ceramah selesai.
b) Siswa dapat ditantang bertanya atau mengklarifikasi. c) Guru dapat menyelingi ceramah dengan diskusi.
Kekurangan:
a) Sedikitnya waktu yang bersisa menjadi kendala diskusi.
b) Efektifitas diskusi sangat bergantung pada ketepatan pertanyaan dan diskusi sehingga guru harus berpindah antara menjelaskan dengan diskusi.
4. Cara memperbaiki dan memaksimalkan budaya mengajar guru
Untuk mengantisipasi tantangan dunia pendidikan yang semakin berat, maka profesionalisme guru harus dikembangkan. Beberapa cara yang dapat ditempuh dalam pengembangan profesionalitas guru menurut Balitbang Diknas antara lain adalah:
Perlunya revitalisasi pelatihan guru yang secara khusus dititikberatkan untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan dan bukan untuk meningkatkan sertifikasi mengajar semata-mata;
Perlunya sistem penilaian yang sistemik dan periodik untuk mengetahui efektivitas dan dampak pelatihan guru terhadap mutu pendidikan;
Perlunya desentralisasi pelatihan guru pada tingkat kabupaten/kota sesuai dengan perubahan mekanisme kelembagaan otonomi daerah yang dituntut dalam UU No. 22/1999;
Perlunya upaya-upaya alternatif yang mampu meningkatkan kesempatan dan kemampuan para guru dalam penguasaan materi pelajaran;
Perlunya tolok ukur (benchmark) kemampuan profesional sebagai acuan pelaksanaan pembinaan dan peningkatan mutu guru;
Perlunya peta kemampuan profesional guru secara nasional yang tersedia di Depdiknas dan Kanwil-kanwil untuk tujuan-tujuan pembinaan dan peningkatan mutu guru;
Perlunya untuk mengkaji ulang aturan atau kebijakan yang ada melalui perumusan kembali aturan atau kebijakan yang lebih fleksibel dan mampu mendorong guru untuk mengembangkan kreativitasnya;
Perlunya reorganisasi dan rekonseptualisasi kegiatan Pengawasan Pengelolaan Sekolah, sehingga kegiatan ini dapat menjadi sarana alternatif peningkatan mutu guru;
Perlunya upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penelitian, agar lebih bisa memahami dan menghayati permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
Perlu mendorong para guru untuk bersikap kritis dan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan;
Memperketat persyaratan untuk menjadi calon guru pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK);
Menumbuhkan apresiasi karier guru dengan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan karier;
Perlunya ketentuan sistem credit point yang lebih fleksibel untuk mendukung jenjang karier guru, yang lebih menekankan pada aktivitas dan kreativitas guru dalam mendorong tumbuhnya semangat profesionalisme pada diri guru.
tetapi guru harus lebih mengoptimalkan rasa tanggungjawabnya. Peranan guru sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada pepatah Sunda mengatakan, guru adalah “digugu dan ditiru” (diikuti dan diteladani), berarti guru harus memiliki:
a. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Seorang guru harus mempersiapkan diri sedini mungkin, jangan sampai ia kerepotan ketika berhadapan dengan siswa. Penguasaan materi sangat penting, jangan sampai pengetahuan seorang guru jauh lebih rendah dibandingkan siswa, dan seorang guru harus terampil tatkala proses kegiatan belajar berjalan.
b. Kemampuan profesional yang baik. Seorang guru harus menjadikan, tanggungjawabnya merupakan pekerjaan yang digandrungi. Tidak bisa seorang guru hanya mengandalkan, mengajar merupakan sebagai pelarian dan adem ayem ketika menerima gaji di habis bulan.
c. Penuh rasa tanggung jawab sangat dibutuhkan, kemampuan untuk mengajar sesuai disiplin ilmu yang dimilikinya. Ironisnya kenyataan kini masih ada seorang guru mengajar tidak sesuai bidangnya. Misalnya, jurusan Matematika mengajar Bahasa Indonesia, jurusan Dakwah mengajar PPKn, jurusan Bahasa Indonesia mengajar Penjas, dan lain sebagainya.
d. Idealisme dan pengabdian yang tinggi. Hakikat seorang guru adalah pengabdian, dedikasi seorang guru harus tinggi, serta harus mampu menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dengan tujuan mendidik, membina, mengayomi anak didiknya.
e. Memiliki keteladanan untuk diikuti dan dijadikan teladan. Keteladanan seorang guru merupakan perwujudan dari realisasi kegiatan belajar mengajar, serta menanamkan sikap kepercayaan terhadap siswa. Seorang guru berpenampilan baik dan sopan akan sangat berpengaruh terhadap sikap siswa. Sebaliknya seorang guru yang berpenampilan premanisme, akan berpengaruh buruk terhadap sikap dan moral siswa.
D. Kesimpulan
Dalam pengoptimalan budaya mengajar guru melalui peningkatan strativikasi sosial, peranan aktif guru dalam peningkatan dengan menggunakan metode ini sangatlah penting. Berdasarkan pembahasan diatas, pemerintah bertanggung jawab dalam peningkatan startifikasi sosial guru, baik itu melalui kenaikan gaji, ataupun penghargaan lebih melalui sertifikasi sehingga dapat dicap sebagai profesional.
bisa menjaga keprofesionalitasannya akan berdampak buruk pada kinerja guru tersebut dalam mengajar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam memperbaiki budaya mengajar guru dengan peningkatan stratifikasi sosial, perlu campur tangan aktif dari pihak pemerintah dan para guru yang terlibat.
E. Daftar Buku
Buku : koentjaraningrat Manusia Dan Kebudayaan di Indonesia, 1971
Buku: Muhibbin Syah Psikologi belajar 2003
Buku: Noor Jamaluddin Ilmu Pendidikan 1978
Buku: Dardjo Sukardja
Buku: Dalyono Psikologi Pendidikan 2001
Buku: Tirtarahardja Pengantar Pendidikan 2000:246