TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar
lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk
menyerap unsur-unsur hara yang ada dalam tanah, sedangkan akar lumbung
berfungsi sebagai tempat untuk menimbun sebagian makanan yang nantinya akan
terbentuk umbi. Kedalaman tanah akar tidak lebih dari 45 cm. Biasanya sekitar
15 persen dari seluruh akarnya yang terbentuk akan menebal dan membentuk akar
lumbung yang tumbuh agak dangkal. Ukuran umbi meningkat selama daun masih
aktif (Sonhaji, 2007).
Kultivar ubi jalar dikelompokkan menjadi dua jenis yang umum yang
berwarna kuning-jingga warna yang lembut, lembab dan manis. Ketika dimasak
menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis
ini sering disebut ‘ubi’. Ubi adalah tanaman yang hanya tumbuh di iklim tropis
(Decoteau, 2000).
Tanaman ubi jalar adalah tanaman dikotil termasuk keluarga
convolvulaceae yang memiliki dua tipe akar, yaitu akar penyerap hara disebut
akar sejati dan akar penyimpan energi hasil fotosintesis yang disebut umbi. Akar
serabut dapat tumbuh di kedua sisi tiap ruas pada bagian batang yang
bersinggungan dengan tanah (Sarwono, 2005).
Ubi jalar berbatang lunak, berbentuk bulat, dan teras bagian tengah
bergabus, batang ubi jalar beruas-ruas dan panjang ruas antara 1-3 cm dan setiap
ruas ditumbuhi daun, akar, dan tunas atau cabang. Panjang batang utama beragam
dan 1-2 meter untuk varietas ubi jalar tidak merambat
(Juanda dan Cahyono, 2000).
Daun ubi jalar berbentuk bulat, menyerupai jantung (hati) atau seperti jari
tangan, tertopang tangkai yang tegak. Tipe daun bervariasi antara rata, berlekuk
dangkal dan menjari, ujung daun runcing atau tumpul. Warna daun bervariasi dari
hijau tua sampai hijau kekuningan, warna tangkai daun dan tulang daun antara
hijau sampai ungu, sesuai warna batangnya (Sarwono, 2005).
Daunnya yang panjang, sederhana, berbentuk hati dan tergantung varietas.
Pembuluh yang menonjol di permukaan bunga dan biasanya menunjukkan derajat
pigmentasi sebagai batang yang sama (Edmond, dkk, 1975).
Mahkota bunga menyatu berbentuk terompet, berdiameter 3-4 cm,
berwarna merah jambu pucat dengan leher terompet kemerahan, ungu pucat atau
ungu, menyerupai warna bunga ‘mekar pagi’. Biji terbentuk dalam kapsul,
sebanyak 1-4 biji. Biji matang berwarna hitam, bentuknya memipih, keras dan
biasanya membutuhkan pengausan (skarifikasi) untuk membantu perkecambahan
(Sarwono, 2005).
Buah pada tanaman ubi jalar berkotak tiga. Buah akan tumbuh setelah
terjadi penyerbukan. Satu bulan setelah terjadi penyerbukan, buah ubi jalar sudah
masak. Di dalam buah banyak berisi biji yang sangat ringan. Biji buah memiliki
kulit yang keras. Biji-biji tersebut dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman
secara generatif untuk menghasilkan varietas ubi jalar yang baru
(Juanda danCahyono, 2000).
Tanaman ubi jalar yang sudah berumur kira-kira 3 minggu setelah tanam
dengan permukaan rata sampai tidak rata. Kulit umbi berwarna putih, kuning,
ungu atau ungu kemerah-merahan tergantung jenisnya. Struktur kulit umbi
bervariasi antara tipis sampai dengan tebal, dan biasanya bergetah, daging umbi
berwarna putih, kuning, atau jingga sedikit ungu (Rukmana, 2007).
Struktur umbi: kompleks, berbentuk bulat, halus atau bergerigi, 8-30 cm,
permukaan umbi putih, kuning, jingga, merah, ungu, atau cokelat; daging putih,
kuning, jingga, merah atau ungu (Tindall, 1983).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman ubi jalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab.
Daerah yang paling ideal untuk budidaya ubi jalar adalah daerah yang bersuhu
21-27oC. Daerah yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari merupakan daerah
yang disukai. Pertumbuhan dan produksi yang optimal untuk usaha tani ubi jalar
tercapai pada musim kering. Di tanah yang kering (tegalan) waktu tanam yang
baik untuk tanaman ubi jalar yaitu pada waktu musim hujan, sedang pada tanah
sawah waktu tanam yang baik yaitu sesudah tanaman padi dipanen. Tanaman ubi
jalar dapat ditanam di daerah dengan curah hujan 500-5000 mm/tahun, optimalnya
antara 750-1500 mm/tahun (http://migroplus.com, 2011).
Daerah yang paling ideal untuk mengembangkan ubi jalar adalah daerah
bersuhu antara 21-270C, yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari,
berkelembaban udara (RH) 50%-60%, dengan curah hujan 750mm–1500mm per tahun. Pertumbuhan dan produksi optimal untuk usaha ubi jalar pada musim
Suhu yang dibutuhkan sekitar 240C sampai 270C dengan lama penyinaran
matahari 10 sampai 12 jam sehari. Meskipun demikian tanaman ubi jalar dapat
tumbuh sepanjang tahun, asalkan berada di tempat lahan yang terbuka dan tidak
tergenang air (Suparman, 2007).
Pemberian air pada tanaman harus mencukupi untuk menjamin hasil yang
bermutu tinggi. Bila selama masa pertumbuhan curah hujan tidak mencukupi,
pengairan perlu dilakukan. Hal ini merupakan keadaan yang kritis, terutama untuk
budidaya sayuran yang kekurangan lembab dalam tanah selama beberapa hari saja
dapat berakibat buruk bagi tanaman sayuran. Sebaliknya, curah hujan berlebihan
pun menimbulkan kerugian-kerugian. Kehilangan hasil yang sangat besar akan
terjadi, bila ubi jalar dipanen setelah mengalami masa dingin dan basah yang
panjang, meskipun langsung diawetkan (Pantastico, 1986).
Tanah
Tanaman ubi jalar tidak tahan terhadap genangan air, tanah yang becek
atau berdrainase buruk akan mengakibatkan tanaman tumbuh kerdil, daun
menguning dan umbi membusuk. Tanaman ubi jalar dapat tumbuh pada keasaman
tanah (pH) 4,5-7,5, tetapi yang optimal untuk pertumbuhan umbi pada pH 5,5-7.
Sewaktu muda tanaman membutuhkan kelembaban tanah yang cukup
(Sarwono, 2005).
Sifat fisik tanah yang baik mempengaruh peningkatan peredaran oksigen,
oksigen yang tersedia di dalam tanah mendukung aktivitas mikroorganisme
didalam tanah. Sifat fisik tanah yang gembur memudahkan perakaran tanaman
berkembang dengan baik sehingga pertumbuhan tanaman pun menjadi baik pula.
yang banyak, bentuknya bagus dan permukaan umbi yang rata
(Juanda danCahyono, 2000).
Tanah yang baik bagi ubi jalar ialah tanah pasir campur lempung yang
gembur dan tak mengandung banyak air. Pada tanah yang terlalu subur, ubi jalar
mempunyai banyak daun dan batang, sedang ubinya sedikit atau tidak ada sama
sekali. Juga pada tanah yang terlalu banyak air, akan menyebabkan ubi menjadi
busuk (Soemartono, 1983).
Daerah harus berdrainase baik, sebaiknya pasir atau lempung berpasir,
untuk perkembangan akar yang baik. Jika drainase buruk, tanaman harus
dibumbun. Tanah harus dibajak untuk menghilangkan gumpalan dan batu yang
dapat menghambat pembentukan akar (Acquaah, 1999).
Jarak Tanam
Pengaturan jarak tanam berpengaruh terhadap besarnya intensitas
cahaya dan ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman. Semakin
lebar jarak tanam, semakin besar intensitas cahaya dan semakin banyak
ketersediaan unsur hara bagi individu tanaman, karena jumlah tanaman lebih
sedikit. Sebaliknya semakin rapat jarak tanam semakin banyak jumlah
tanaman dan persaingan semakin ketat. Jarak tanam yang lebar jumlah
tanaman lebih sedikit, sehingga persaingan unsur hara lebih kecil. Di samping
itu jarak tanam yang lebar keterbukaan tajuk lebih besar, sehingga jumlah
cahaya matahari yang diserap untuk proses fotosintesis bagi tanaman lebih
banyak (Mawazin dan Suhaendi, 2008).
Pada jarak tanam yang rapat persaingan antar tanaman dalam
jarak tanam maka makin rendah hasil umbi segar per tanaman dan jumlah
umbi per tanaman (Sumarni, dkk, 2012).
Jarak tanam akan mempengaruhi pertumbuhan kanopi tanaman, sehingga
akan mempengaruhi besarnya cahaya matahari yang diterima oleh tanaman.
Daun-daun dari setiap tanaman saling tumpang tindih, sehingga menutup ruang
antar setiap tanaman. Daun tanaman yang saling tumpang tindih akan
mengakibatkan tanaman tidak menerima cahaya matahari secara maksimal.
Keadaan ini mengakibatkan fotosintesis berlangsung kurang optimal, karena
fotosintesis sangat memerlukan cahaya dan proses tersebut hanya berlangsung di
siang hari. Dengan fotosintesis yang kurang optimal, maka pertumbuhan tanaman
juga akan terhambat, karena pertumbuhan tanaman berlangsung didasarkan pada
jumlah fotosintat yang dihasilkan oleh tanaman (Noverita, 2005).
Hasil umbi tertinggi diperoleh pada jarak tanam terkecil dan hasil umbi
terendah diperoleh pada jarak tanam terbesar. Hasil umbi per hektar menurun
dengan jarak tanam yang meningkat. Jarak tanam terbesar memberikan jumlah
umbi tertinggi per tanaman, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan
jumlah umbi per tanaman yang diperoleh dari jarak tanam yang biasa digunakan
(Zamil, dkk, 2010).
Pada perlakuan jarak tanam menunjukkan bahwa peningkatan bobot umbi
per tanaman dengan semakin lebarnya jarak tanam, namun tidak demikian dengan
bobot umbi per petaknya. Hal ini karena bobot umbi per petak selain dipengaruhi
oleh bobot umbi per tanaman juga dipengaruhi oleh jumlah populasinya, dimana
Jarak tanam akan mempengaruhi populasi tanaman dan keefisienan
penggunaan cahaya, juga mempengaruhi kompetisi antara tanaman dalam
menggunakan air dan unsur hara yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil
(Sutiyono, 2007).
Pada jarak tanam yang lebih rapat terjadi persaingan untuk mendapatkan
cahaya matahari, unsur hara dan air, sementara pada jarak tanam yang lebih
renggang persaingan itu tidak terjadi sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman
dapat maksimal (Zulkarnain, 2005).
Jarak tanam yang rapat akan menimbulkan persaingan yang tinggi dalam
pengambilan unsur hara, air dan juga persaingan sinar matahari sehingga perlu
diperhatikan penggunaan jarak tanam yang mempengaruhi pertumbuhan dan
produksi tanaman. (Afrida, 2005).
Semakin lebar jarak tanam yang digunakan menyebabkan kecilnya
persaingan antar tanaman dalam memperoleh hara mineral dan cahaya matahari
karena pada masa perkembangan, akar tanaman dalam menyerap hara tidak terjadi
persaingan, begitu juga dengan tajuk antar tanaman. Selain itu juga dipengaruhi
oleh populasi tanaman yang tidak rapat sehingga pertumbuhan vegetatifnya lebih
baik (Yetti dan Ardian, 2010).
Makin rapat jarak tanam maka dalam pengambilan unsur hara dan sinar
matahari terjadi persaingan. Bila umbi yang dihasilkan terlalu banyak maka
tanaman tidak dapat menghasilkan umbi yang besar, atau hanya menghasilkan