TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung Manis (Zea mayssaccharata Sturt L.)
Akar primer awal memulai pertumbuhan tanaman setelah perkecambahan. Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan
tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini merupakan akar adventif dengan percabangan yang amat lebat. Akar penyokong memberikan
tambahan topangan untuk tumbuh tegak dan membantu penyerapan hara. Akar ini tumbuh di atas permukaan tanah, tumbuh rapat pada buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke tanah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Batang jagung manis berbantuk padat (solid). Batang mempunyai jumlah ruas antara 8-21 ruas tetapi pada umumnya 14 ruas. Tinggi batang bergantung
pada varietasnya, yang normal antara 2-3 meter. Penampang batang 2-3 cm, dimana kelopak daun membungkus batang (Tobing, dkk, 1995).
Daun memiliki lebar agak seragam dan tulang daunnya terlihat jelas
dengan banyak tulang daun kecil sejajar dengan panjang daun. Pelepah daun terbentuk pada buku dan membungkus rapat-rapat panjang batang utama. Lembar
daun berselang-seling dan bentuknya seperti rumput (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Jagung manis memiliki bunga jantan dan betina yang terpisah dalam satu
tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku poaceae yang disebut floret. Pada jagung manis, dua floret dibatasi oleh
daun. Bentuk biji ada yang bulat,berbentuk gigi sesuai dengan varietasnya. Warna
biji bervariasi antara lain kuning, putih, merah/orange dan merah hampir hitam (Tobing, dkk, 1995).
Kandungan gizi jagung manis menurut Tabel 1. Kandungan Gizi Jagung Manis
No Zat Gizi (Tiap 100 g bahan) Jagung manis
Tanaman jagung banyak kegunaannya : hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Batang dan daun tanaman
yang muda digunakan untuk pakan ternak. Batang dan daun tanaman yang tua (setelah dipanen) dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau kompos. Di daerah sentra tanaman jagung yang kering digunakan untuk kayu bakar. Buah muda
jagung yang tua digunakan sebagai pengganti nasi, dibuat marning, brondong, roti
(roti jagung), tepung dan sebagainya. Kegunaan lain jagung adalah sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak dan industri bir, industri farmasi, dekstrin termasuk
untuk perekat dan industri tekstil (Warisno, 1998).
Jagung manis (sweet corn) mempunyai rasa manis karena kadar gulanya
5 - 6 % yang lebih dari rasa jagung biasa dengan kadar gula 2 – 3 % (Sirajuddin,
2010). Rasa manis ini lebih disukai masyarakat yang dapat dikonsumsi secara segar atau dikalengkan.
Walaupun memiliki nilai ekonomis yang tinggi, namun hasil jagung rata-rataan nasional masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi hasil jagung baik kultivar bersari bebas maupun hibrida (Febrina et al, 2008). Pada tahun 2005,
Indonesia mengimpor jagung 1,80 juta ton dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 2,20 juta ton kalau produksi nasional dipacu (Deptan, 2007).
Tanaman jagung manis dalam hal pertumbuhan dan produksinya juga
membutuhkan unsur hara. Salah satunya adalah unsur hara nitrogen dalam batas tertentu dapat memperbaiki komponen pertumbuhan dan hasil jagung manis,
seperti akar, batang, daun, bunga, tongkol, biji dan kadar gula. Sebaliknya bila terjadi kekurangan unsure nitrogen seluruh bagian tanaman menunjukkan gejala kekuningan, kuantitas dan kualitas hasil akan menurun (Koswara, 1986).
Sistem Jarak Tanam
Salah satu faktor penentu produktivitas jagung adalah populasi tanaman
tumbuh karena peluangnya untuk tumbuh normal sangat kecil dan biasanya
tongkol yang terbentuk tidak berisi biji ( Suryana, 2003).
Populasi jarak tanaman atau jarak tanam, merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi produksi tanaman. Peningkatan produksi jagung dapat dilakukan dengan cara perbaikan tingkat kerapatan tanam. Untuk meningkatkan hasil biji tanaman jagung salah satunya adalah dapat dilakukan dengan
penambahan tingkat kerapatan tanaman persatuan luas. Peningkatan tingkat kerapatan tanam persatuan luas sampai suatu batas tertentu dapat meningkatkan
hasil biji, akan tetapi penambahan jumlah tanam akan menurunkan hasil karena terjadi kompetisi hara, air, radiasi matahari dan ruang tumbuh sehingga akan mengurangi jumlah biji pertanaman (Irfan, 1999).
Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antara tanaman maupun antara tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsure hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum dengan pembentukan bahan kering yang
maksimum (Effendi, 1977). Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman menghambat pancaran cahaya ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat,
disamping juga laju evaporasi dapat ditekan (Resiworo, 1992). Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit mungkin tanaman budidaya akan memberikan hasil
Produsen terus mencari metode yang dapat meningkatkan hasil lahan,
mengurangi biaya, ataupun kombinasi keduanya. Jumlah tanaman pada lahan sebagai akibat kerapatan tanaman ataupun jarak tanam masih menjadi perhatian
selama beberapa decade. Dengan penambahan kerapatan, maka jarak tanam
menjadi lebih dekat dan meningkatkan persaingan antar tanaman (Farnham, 1999).
Pengaturan jarak tanam pada suatu areal tanah pertanian merupakan salah satu cara yang berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapai. Makin rapat jarak
tanam menyebabkan lebih banyak tanaman yang tidak berbuah. Harjadi (2002) mengatakan bahwa jarak tanam juga mempengaruhi persaingan antar tanamn dalam mendapatkan air dan unsure hara, sehingga akan mempengaruhi hasilnya
Penyebab perbedaan hasil dari pengaruh jarak tanam terhadap
pertumbuhan dan produksi jagung belum diketahui pasti. Menurut Barbieri et al (2000), faktor ilkim mempengaruhi produksi jagung pada jarak
tanam yang berbeda. Dengan curah hujan yang lebih banyak akan menghasilkan produksi jagung lebih tinggi pada jarak yang lebih sempit. Namun berbeda halnya
Westgate et al (1997) yaitu jarak tanam tidak memberikan pengaruh pada
produksi jagung karena tergantung pada interepsi radiasi sinar matahari.
Sistem jarak tanam mempengaruhi cahaya, CO2, angin dan unsur hara
yang diperoleh tanaman sehingga akan berpengaruh pada proses fotosintesis yang pada akhirnya memberikan pengaruh yang berbeda pada parameter pertumbuhan
dan produksi jagung (Barri, 2003). Jarak yang lebih sempit mampu meningkatkan
didapatkan ketika jarak antar tanaman berkurang, persentase peningkatan produksi
perlahan secara nyata ditentukan oleh persentase peningkatan intersepsi cahaya matahari.
Selain pengolahan tanah, variasi pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara pengendalian gulma secara kultur teknis, yang dapat meningkatkan daya saing tanamn budidaya terhadap gulma dan meningkatkan hasil. Menurut
Mintarsih et al (1989), peningkatan kerapatan populasi tanaman persatuan luas
pada suatu batas tertentu dapat meningkatkan hasil biji jagung. Namun
penambahan jumlah tanaman selanjutnya akan menurunkan hasil karena terjadi kompetisi unsure hara, air, ruang tumbuh, dan sinar matahari.
Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya saing tanaman terhadap
gulma karena tajuk tanaman menghambat pancaran cahay ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma terhambat, disamping juga laju evaporasi dapat ditekan (Resiworo, 1992). Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit mungkin
tanaman budidaya akan memberikan hasil yang relaitif kurang karena adanya kompetisi antar tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak tanam
optimum untuk memperoleh hasil yang maksimum. Sebagai parameter pengukur pengaruh lingkungan, tinggi tanaman sensitive terhadap faktor lingkungan tertentu seperti cahaya. Tanaman yang mengalami kekurangan cahaya biasanya lebih