• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model dan Pembelajaran dan Kontrustivistik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Model dan Pembelajaran dan Kontrustivistik"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam arus globalisasi saat ini berbagai hal kian menambah kemajuan yang ada saat ini meliputi berbagai aspek yang ada. Salah satunya dalam hal pembelajaran yang ada di setiap lembaga formal maupun informal dimana upaya ini dianggap mampu menumbuhkan pikiran dan kreatifitas dalam wawasan manusia. Belajar dapat dilakukan dimana saja, arti belajar ialah proses mencari menemukan serta memahami informasi baru. Sedangkan pembelajaran merupakan proses pemberian makna pada suatu informasi dan data melalui proses penyusunan konsep baru. Akhir-akhir ini banyak model-model pembelajaran yang menawarkan keunggulannya masing-masing seiring dengan kemajuan dibidang pendidikan. Dalam model-model pembelajaran tersebut ada banyak kelemahan dan keunggulan masing-masing salah satu diantaranya adalah model pembelajaran konstruktivistik.

(2)

lebih detail dan lebih jelas maka diperlukan suatu kajian yang membahas mengenai metode konstruktivistik kami mencoba membahas mengenai model pembelajaran lebih detail kami akan mencoba mengkaji lebih dalam melalui makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari pembelajaran konstruktivistik?

2. Aspek-aspek apasaja yang ada dalam pembelajaran konstruktivistik? 3. Apa tujuan dari pembelajaran konstruktivistik?

4. Bagaimana tahapan pembelajaran konstruktvistik?

5. Bagaimana rancangan dalam pembelajaran konstruktivistik? 6. Apa kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran konstruktivistik?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran konstruktivistik.

2. Untuk mengetahui aspek-aspek apasaja yang ada dalam pembelajaran konstruktivistik.

3. Untuk mengetahui tujuan dari pembelajaran konstruktivistik.

4. Untuk mengetahui bagaimana tahapan pembelajaran konstruktvistik. 5. Untuk mengetahui rancangan dalam pembelajaran konstruktivistik.

(3)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi. Pandangan konstruktivistik dilandasi oleh teori Piaget tentang skema, asimilasi, akomodasi, dan equilibration, konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dari Vygotsky, teori Bruner tentang discovery learning, teori Ausubel tentang belajar bermakna, dan interaksionisme semiotik.

(4)

Hal yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran adalah bahwa ‘si’ belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Ada beberapa hal yang mendapat perhatian dalam pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Dalam aliran konstruktivistik pengetahuan dipahami sebagai suatu pembentukan yang terus menerus adalah seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan bukanlah kemampuan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.

Von Glaserfeld (dalam Paul, 1996), mengemukakan bahwa beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu:

a. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman b. Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan megalami

(5)

c. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lain (selective consenscience).

B. Aspek-Aspek dan Ciri-Ciri dalam Pembelajaran Konstruktivistik

Fornot mengemukakan aspek-aspek konstruktivistik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

 Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.

 Akomodasi adalah disaat seseorang dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.

(6)

berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.

Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

(7)

daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Pengetahuan berjenjang tersebut seperti pada sekema berikut.

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.

Perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional (behavioristik) dengan pembelajaran konstruktivistik:

Pembelajaran Tradisional (Behavioristik) Pembelajaran Konstruktivistik Effective habits of mind

Cooperative colaborative

Effective communication

Information processing

(8)

Kurikulum disajikan bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.

Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju kebagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.

Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.

Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.

Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.

Kegiatan ekstrakurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan. Siswa dipandang sebagai kertas

kosong yang dapat di goresi informasi oleh guru, dan guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa

Siswa dipandang sebagai pemikir yang dapat memunculan teori-teori tentang dirinya. kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yag sedang

Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik Tentang Belajar dan Pembelajaran.

Konstruktivistik Behavioristik

Pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.

(9)

dengan rapi.

Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali

makna seta menghargai

ketidakmenentuan.

Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar.

Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang

dipakai dalam

menginterpretasikannya.

Si belajar akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar.

Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistic.

Fungsi mind adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.

(10)

menjadi unsure yang esensial Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.

Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.

Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang harus memapu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar.

Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek system yang berada di luar diri si belajar.

Tabel Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik Tentang Tujuan Pembelajaran

(11)

Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn)

Tujuan belajar ditekankan pada penambahan pengetahuan.

Tabel Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik Tentang Strategi Pembelajaran

Konstruktivistik Behavioristik

Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke-bagian.

Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni penekanan pada keterampilan berpikir kritis.

Pembelajaran menekankan pada proses.

Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan.

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat.

Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

Pembelajaran menekankan pada hasil

(12)

Konstruktivistik Behavioristik

Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata.

Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban menekankan pad aketerampilan proses dalam kelompok.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan ‘paper

Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasnaya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi

b. Elisitasi, yaitu siswa mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi menulis, membuat poster dan lain-lain.

(13)

d. Penggunaan ide baru dalam berbagai situasi, yaitu ide pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi.

e. Review, yaitu dalam mengaplikasikan pengetahuan gagasan yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah.

Menurut pendangan konstruktivistik, belajar merupaka suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya niat belajar adalah siswa sendiri, sementara peran guru dalam pembelajaran konstruktivistik ini adalah membantu agar penginstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak menstransferkan penegtahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar.

Peranan guru pada pendekatan konstruktivisme ini lebih sebagai mediator dan fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan berikut:

 Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab, mengajar atau bercemarah bukanlah tugas utama seorang guru.  Menyedikan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang

keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya. Guru perlu menyemangati siswa dan menyediakan pengalaman konflik.

 Memonitor, mengevaluasi dan menujukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan untuk mengahadapi persoalan baru yang berkaitan.

C. Tujuan Pembelajaran Konstruktivistik

(14)

dipelajarinya, untuk mengembangkan dirinya. Tujuan dari pembelajaran konstruktivitik adalah:

1) Memberikan motivasi bagi peserta didik bahwa belajar adalah tanggung jawab peserta didik itu sendiri, karena keberhasilan belajar ditentukan oleh perserta didik.

2) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. Peserta didik diberi kebebasan untuk bereksplorasi dengan lingkungannya guna menemukan atau mengkonstruksi pengetahuan dan menjawab atas pertanyaan sendiri.

3) Membantu peserta didik untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep. Kondisi belajar yang demokratis akan memberikan kesempatan peserta didik untuk berfikir kreatif dan kritis serta berfikir divergen bukan konvergen (satu arah).

4) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menjadi pemikir yang mandiri. Peserta didik akan terlatih untuk belajar menggunakan caranya sendiri sehingga akan lebih bermakna bagi peserta didik.

Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivistik yang diterapkan dalam pembelajaran adalah:

a) Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri.

b) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pendidik ke peserta didik, kecuali hanya dengan keaktifan peserta didik sendiri untuk menalar.

c) Peserta didik selalu aktif mengkonstruksi secara terus menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.

d) Pendidik sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi belajar untuk membantu proses konstruksi pengetahuan.

e) Belajar dengan menghadapi masalah yang relevan dengan peserta didik.

(15)

pembelajaran ini akan mengantarkan peserta didik ke dalam siatuasi belajar bermakna yang memberikan pengalaman langsung sehingga pembelajaran akan memberikan kesan yang mendalam bagi kegiatan belajar peserta didik. Peserta didik bukan hanya sekadar mengingat atau menghafal tetapi sampai pada tahap pemahaman bahkan menciptakan.

Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

D. Tahapan Pembelajaran Konstruktivistik

Pembelajaran konstruktivistik bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik dalam membangun sendiri konsep-konsep baru berdasarkan konsep-konsep awal yang telah dimilikinya. Adapun langkah-langkah prosedur pembelajaran konstruktivistik, meliputi:

1) Tahapan orientasi

Pada tahap ini pendidik menciptakan. Mengkondisikan situasi agar peserta didik siap untuk belajar dengan mendeskripsikan ruang lingkup materi, menunjukan relevansi materi dengan kehidupan nyata, menyampaikan tujuan serta menunjukan kemampuan prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari konsep-konsep baru. Artinya bahwa pembelajaran harus sesuai dengan pengalaman peserta didik.

2) Tahap penggalian ide

(16)

untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta didik tentang pengalamannya, sehingga akan lebih mudah untuk mengkaitkan materi dengan pengalaman peserta didik.

3) Tahap restrukturisasi ide

Tahap ini merupakan tahap pembelajaran inti yang mengarah pada perbaikan konsep meliputi langkah-langkah:

a. Klarifikasi dan pertukaran ide dengan diskusi. b. Ekspose pada situasi konflik.

c. Konstruksi ide baru.

d. Evaluasi untuk mengetahui penguasaan peserta didik tentang konsep ilmiah yang telah terbentuk.

Pada tahap ini menunjukan bahwa peserta didik aktif, tidak hanya menerima tetapi aktif melakukan penemuan (discovery) dengan mengkonstruksi konsep oleh peserta didik secara mandiri ataupun kelompok. Pembelajaran juga lebih bersifat kooperatif dengan adanya pertukaran ide dengan diskusi.

4) Tahap aplikasi ide

Pada tahap ini, pendidik memberikan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah baru yang berbeda dengan masalah-masalah sebelumnya kepada peserta didik. Peserta didik diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan menggunakan konsep-konsep yang baru saja dipelajari. Tahap ini merupakan tahap penerepan konsep atau rumus untuk memecahkan masalah.

5) Tahap review perubahan ide

(17)

mencapai pemahaman. Pendidik hanya membantu memfasilitasi peserta didik dalam pembentukan pengethauan, bukan mentrasfer pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didik.

E. Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik

Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan pembelajaran konstrukivistik dapat dirancang/didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:

1. Pertama, identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview

2. Kedua, penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.

3. Ketiga orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Pengungkapan gagasan tersebut dapat memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif.

(18)

Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.

5. Kelima, resrtukturisasi ide, (a) tantangan, siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alas an untuk mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.

6. Keenam, aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.

(19)

akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa bersangkutan.

F. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Konstruktivistik

Dari pengertian, tujuan dan prinsip pembelajaran konstruktivistik maka dapat dikemukakan kelebihan dan keterbatasan dari pembelajaran konstruktivis.

Kelebihan pembelajaran konstruktivistik:

1) Keterlibatan peserta didik secara langsung dalam menggali pengetahuan baru menjadikan peserta didik lebih paham sehingga dapat mengaplikasikannya dalam masalah-masalah yang kontekstual.

2) Peserta didik mendapatkan pengalaman dari keterlibatannya secara langsung, sehingga akan ingat lebih lama.

3) Dapat meningkatkan kemampuan sosial dengan berinteraksi dengan teman dan pendidik dalam membina pengetahuan baru.

4) Peserta didik akan terbiasa untuk berfikir kritis, kreatif dalam membetunk pengetahuan baru. Selain itu pembelajaran konstruktivis memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang suatu konsep dimana pelajar terlibat secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru dan mengaplikasikannya dalam kehidupan atau situasi baru.

Adapun kekurangan pembelajaran konstruktivistik bahwa model pembelajaran ini akan lebih tepat dan efektif jika diterapkan pada peserta didik yang benar-benar mampu mengikuti proses dan dibutuhkan keterampilan dan kreatifitas pendidik dalam meciptakan kondisi belajar yang mendukung proses konstruksi pengetahuan. Hasil dari proses pemahaman konsep tersebut diarahkan pada kemampuan memaknai

Kekurangan Pembelajaran Konstruktivistik:

(20)

2) Tingkat pemahaman peserta didik yang berbeda sehingga mengakibatkan beberapa peserta didik tertinggal dari teman-temannya.

3) Kurangnya sumber daya yang mendukung pembelajaran tersebut. 4) Adanya kesulitan belajar dan rendahnya prestasi peserta didik.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

(21)

pengetahuannya melalui berpikir dan tantangan yang akan dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan yang utuh. Pada pembelajaran konstruktivistik ini pula guru atau pendidik bukan sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didik sendiri yang harus membangun pengetahuan dalam dirinya. Pendidik hanya sebagai fasilitator dan motivator yang memberikan kemudahan dalam proses pengkostruksian pengetahuan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau menerapkan ide-ide dari peserta didik sendiri untuk belajar. Makna pembelajaran konstruktivistik memberikan pengalaman melalui kegiatan aktif untuk menemukaan sendiri kompetensi, pengetahuan dan memberi makna pada hal-hal yang sedang dipelajari yang diperlukan untuk mengembangkan dirinya.

Tujuan dari metode konstruktivistik adalah memotivasi peserta didik, kemampuan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya, mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep, serta kemampuan peserta didik untuk menjadi pemikir yang mandiri.

B. Saran

Metode pembelajaran sangat dibutuhkan disetiap proses belajar mengajar, oleh karena itu diperlukan metode yang tepat untuk proses belajar mengajar agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efiseien.

DAFTAR PUSTAKA

(22)

I Wayan Santyasa. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194704171973 032-MULIATI_PURWASASMITA/ MODEL _ MODEL _ PEMBELAJARAN .pdf pada 29 Oktober 2014 pukul 10.00WIB.

Siregar Eveline, Hartini Nara. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sugihartono, dkk. (2013). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sujarwo. (2014). Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: CV Venus Gold Press.

Gambar

Tabel  Pandangan  Konstruktivistik  dan  Behavioristik  Tentang  PenataanLingkungan Belajar
Tabel  Pandangan  Konstruktivistik  dan  Behavioristik  Tentang  Tujuan
Tabel  Pandangan  Konstruktivistik  dan  Behavioristik  Tentang  Strategi

Referensi

Dokumen terkait

1) Pembelajaran berbasis masalah dapat merangsang perkembangan kemampuan siswa, karena ia harus terlibat secara aktif untuk mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Hal ini

Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivistik Dengan Pendekatan Siklus Belajar Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Konsep pembelajaran konseling kelompok konstruktivistik in- tegrasi antara tahapan konselling kelompok menurut Gladding yaitu: (1) pembentukan, (2) peralihan,

Konstruktivistik merupakan salah satu pendekatan dalam belajar yang menekankan bahwa proses belajar terbaik seorang individu terjadi ketika individu secara

Seting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri: (1) menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang

Hakikat pembelajaran menurut teori Konstruktivistik adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk melakukan proses aktif

Konstruktivistik merupakan salah satu pendekatan dalam belajar yang menekankan bahwa proses belajar terbaik seorang individu terjadi ketika individu secara

Konsep pembelajaran konseling kelompok konstruktivistik in- tegrasi antara tahapan konselling kelompok menurut Gladding yaitu: (1) pembentukan, (2) peralihan,