PERANAN PENGUSAHA INDONESIA DALAM MENGHADAPI ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS ECONOMIC
COMMUNITY 2015
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI MATA KULIAH Ekonomi Pembangunan
yang dibina oleh Bapak Drs. H. Gatot Isnani, M. Si
oleh :
Anatasya Aulia Anisahadi 130413615009 No urut DPK : 4
081233639107
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
April 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Pembahasan ... 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 ASEAN Economy Community 2015... 6 2.1.1 Latar Belakang Terbentuknya ASEAN Economy
Community 2015... 6 2.1.2 Tujuan ASEAN Economy Community 2015... 7 2.1.3 Penerapan ASEAN Economy Community 2015... 7 2.1.4 Implementasi ASEAN Economy Community 2015di
Indonesia...12 2.2 Peran Pengusaha Indonesia dalam ASEAN Economy
Community 2015...13 2.2.1 Peluang Indonesia dalam ASEAN Economy
Community 2015...13 2.2.2 Tantangan Pengusaha Indonesia dalam ASEAN Economy Community 2015...17 2.2.3 Langkah-langkah Pengusaha Indonesia dalam
Menghadapi ASEAN Economy Community 2015...18 2.2.4 Strategi Pengusaha Indonesia dalam Menghadapi
ASEAN Economy Community 2015...20
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ... 22 3.2 Saran ... 22
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi penduduk terbanyak di kawasan ASEAN bahkan di dunia. Tidak hanya sebagai negara berpenduduk terbanyak, Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya adalah masyarakat heterogen dengan berbagai jenis suku, bahasa, dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Dengan populasi yang banyak ini, Indonesia mampu memiliki kekuatan ekonomi yang cukup bagus.
Sebagai negara yang sedang berkembang atau disingkat NSB, perkembangan ekonomi Indonesia sedang dalam masa pertumbuhan dan pembangunan yang diharapkan dapat meningkat secara signifikan. Menurut Djojohadikusumo dalam Isnani (2009:9) menyatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah upaya memperbesar pendapatan per kapita dengan jalan menambah peralatan modal dan menambah skills. Berbagai upaya pembangunan telah ditempuh oleh Indonesia demi peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan ekonomi. Namun pembangunan ekonomi di negara berkembang tidak bisa lepas dari permasalahan-permasalahan. Permasalahan pembangunan ekonomi tersebut adalah tingkat hidup masyarakat yang tertekan dan rendah (Isnani, 2009:43). Permasalahan ini merupakan permasalahan kompleks yang penanganannya membutuhkan waktu yang lama.
Menurut Isnani (2009:43-45) terdapat empat penyebab masalah dari tingkat hidup yang tertekan dan rendah yaitu:
dengan jumlah tenaga kerja dan sumber daya alam yang belum maksimal. Arah kebijakan untuk mengatasi masalah ini adalah berbagai bentuk upaya pembentukan modal dan pengembangan sumber daya manusia, termasuk di dalamnya menumbuhkembangkan jiwa entrepreneur.
b. Kepincangan tingkat pertumbuhan sektor-sektor produksi. Persoalan dalam hubungan ini adalah terdapat sektor kegiatan ekonomi yang tumbuh dengan pesat, namun di sisi lain ada pula sektor kegiatan ekonomi yang tertinggal. Investasi modal dan penggunaan teknologi pada masa lampau diarahkan secara intensif pada sektor-sektor yang terbatas, yaitu sektor perkebunan (pertanian yang terbatas) dan sektor pertambangan (sektor ekstraktif). Hal ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kebijakan masa lampau, yaitu sebagai kebijakan pemerintah kolonial yang memiliki pengaruh hingga jangka panjang. Akibatnya sebagian besar penduduk masih tergantung pada sektor pertanian dan selanjutnya akan memunculkan pengangguran tak kentara (disguised unemployment) sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Arah kebijakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah upaya untuk mengembangkan berbagai sektor kegiatan ekonomi yang semakin meluas.
c. Kepincangan pembagian kekayaan dan pendapatan. Persoalan dalam hubungan ini adalah hanya sebagian kecil masyarakat yang menguasai kekayaan dan menikmati sebagian besar pendapatan. Kepincangan ini pun juga berlaku pada pembagian pendapatan di daerah perkotaan dan pedesaan. Pada beberapa daerah tertentu mengalami perkembangan pesat dan masyarakatnya memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang lain. Arah kebijakan dalam hubungan ini adalah berbagai upaya untuk menciptakan pembagian pendapatan yang merata, antar golongan maupun antar daerah dalam masyarakat.
sifat kebiasaan hidup, bila diuji dengan pertimbangan modernisasi. Aspek-aspek tersebut kurang memadai dari sudut kelancaran pembangunan dan kemajuan masyarakat. Modernisasi masyarakat memerlukan perubahan dan penyesuaian, baik dalam sikap hidup maupun pada kelembagaannya. Arah kebijakan dalam mengatasi problema ini adalah berbagai upaya untuk memberdayakan kelembagaan masyarakat serta upaya untuk memperbaiki sifat-sifat hidup masyarakat yang lebih kondusif.
Dalam perekonomian global saat ini, kita harus menghadapi permasalahan bukan hanya mengenai permasalahan pembangunan nasional seperti di atas, namun juga permasalahan yang berasal dari eksternal yang berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi nasional, salah satunya yaitu permasalahan persaingan pasar bebas. Pasar bebas merupakan konsep yang telah cukup lama dikenal dalam perdagangan internasional. Konsep pasar bebas yang menawarkan kebebasan bagi pihak-pihak di dalamnya untuk mengambil keputusan ekonomi, termasuk harga, barang, dan jasa disusun sedemikian rupa dengan tidak saling memaksa dan disetujui oleh penjual dan pembeli. Dalam hal ini, campur tangan pemerintah dalam regulasi harga diminimalisir bahkan ditiadakan. Konsep ini sudah diterapkan di banyak negara, beberapa di antaranya adalah Uni Eropa yang melibatkan negara-negara di Eropa dan NAFTA yang melibatkan negara-negara-negara-negara di Amerika Utara. Menyusul kesuksesan Uni Eropa dan NAFTA, negara-negara di Asia Tenggara menyepakati dibentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau yang biasa disebut ASEAN Economic Community yang akan mulai diterapkan pada akhir tahun 2015.
Selain itu juga dengan terwujudnya ASEAN Community yang dimana di dalamnya terdapat AEC, dapat menjadikan posisi ASEAN menjadi lebih strategis di kancah Internasional. Selain itu, dengan terwujudnya komunitas masyarakat ekonomi ASEAN ini dapat membuka mata semua pihak, sehingga terjadi suatu dialog antar sektor yang dimana nantinya juga saling melengkapi diantara para stakeholder sektor ekonomi di negara-negara ASEAN.
Dengan adanya pasar bebas yang berlaku, Indonesia mulai mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai salah satu pilar ekonominya. Dibukanya pasar bebas ASEAN Economic Community memiliki pengaruh besar tidak hanya bagi perusahaan-perusahaan besar, namun juga bagi UMKM-UMKM tersebut. Bayang-bayang persaingan langsung dengan produk impor menuntut pelaku UMKM untuk mencari jalan keluar.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi IX ASEAN di Bali tahun 2003 lalu merupakan sejarah baru bagi solidaritas kawasan Asia Tenggara dengan tercapainya kesepakatan Bali Concord II. Kesepakatan Bali Concord II tidak hanya menyepakati pembentukan ASEAN Economic Community, namun juga menyepakati pembentukan komunitas ASEAN di bidang Keamanan Politik (ASEAN Political-Security Community) dan Sosial Budaya (ASEAN Socio-Culture Community) (Syukriah dan Hamdani, 2013:112)
Dalam pertemuan itu menghasilkan blue print AEC yang intinya bahwa ASEAN sebagai pusat perdagangan regional yang terintegrasi dan dapat disejajarkan dengan Masyarakat Uni Eropa. Menurut Suatma (2012), dalam blue print ASEAN Economic Community terdapat empat prioritas dalam kerangka AEC yaitu:
1. Adanya arus barang dan jasa yang bebas (free flow good services), 2. Ekonomi regional yang kompetitif (competitive economic region), 3. Perkembangan ekuitas ekonomi (equitable economic development),
Pada dasarnya Indonesia memiliki permasalahan yang kompleks dalam menghadapi program ASEAN Economic Community 2015. Dalam Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 buku 1 mengenai Agenda Pembangunan Nasional halaman 27 menyebutkan bahwa mulai diberlakukannya ASEAN Community pada tahun 2015 merupakan peningkatan integrasi yang di satu pihak akan menciptakan peluang yang lebih besar bagi perekonomian nasional, tetapi di lain pihak juga menuntut daya saing perekonomian nasional yang lebih tinggi. Bukan hanya karena produk barang dan jasa Indonesia yang belum mampu bersaing dengan negara lain, namun juga karena faktor sumber-sumber seperti stakeholder, pendanaan modal, dan sumber produksi lainnya yang belum mampu menghadapi persaingan dalam pasar ASEAN. Sehingga perlu adanya strategi-strategi yang dikembangkan sebelum maupun saat menghadapi ASEAN Economic Community 2015.
1.2 Tujuan Pembahasan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengertian dari ASEAN Economic Community 2015. b. Untuk mengetahui peranan pengusaha Indonesia dalam menghadapi
ASEAN Economic Community 2015.
Teknis penulisan makalah ini berpedoman pada Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (UM, 2010)
PEMBAHASAN 2.1 ASEAN Economic Community 2015
ASEAN Economic Community atau dalam bahasa Indonesia disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN sebagai salah satu pilar komunitas ASEAN merupakan hasil dari post agreement negotiation negara-negara anggota ASEAN dimana tujuan dari post agreement negotiation tersebut adalah melanjutkan dialog untuk mendorong kemajuan dan perkembangan dari implementasi perjanjian yang telah disepakati, yang kemudian proses negosiasi tersebut juga menjadi mekanisme untuk menyelesaikan permasalahan dan perbedaan kepentingan dalam implementasi perjanjian guna menciptakan solusi dan mencapai kesepakatan yang akan ditaati oleh semua pihak yang terlibat (Sholeh, 2013). AEC merupakan salah satu program masyarakat ASEAN yang dicetuskan dalam kesepakatan Bali Concord II. Dalam kesepakatan Bali Concord II tersebut AEC dicetuskan sebagai bentuk integrasi ekonomi sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal.
ASEAN Economic Community (AEC) 2015, yaitu AEC blue print. Dimana setiap negara-negara anggota ASEAN berkewajiban untuk komitmen dalam blue print tersebut yang berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN, yaitu menuju single market, penciptaan kawasan regional ekonomi berdaya saing tinggi, kawasan pembangunan ekonomi merata, dan menuju integrasi penuh ekonomi global.
2.1.2 Tujuan ASEAN Economy Community 2015
Sekretariat Negara Republik Indonesia (2014) menyatakan bahwa tujuan dari pembentukan ASEAN Community adalah untuk lebih mempererat integrasi ASEAN dalam menghadapi perkembangan konstelasi politik internasional. ASEAN menyadari sepenuhnya bahwa ASEAN perlu menyesuaikan cara pandangnya agar dapat lebih terbuka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal. Sedangkan Pemberlakuan AEC 2015 sendiri bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, berdaya saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk perdagangan dan investasi, yang di dalamnya terdapat arus bebas lalu lintas barang, jasa, investasi, dan modal serta difasilitasinya kebebasan pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja.
2.1.3 Penerapan ASEAN Economy Community 2015
pasar tunggal dan integrasi basis produksi sehingga pada akhirnya mendorong peningkatan daya saing dalam menembus pasar global.
Dalam ASEAN Economic Community 2015 Blue Print halaman 8-30, penerapan AEC dilakukan melalui tiga tahapan strategis, meliputi :
a. Pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Aliran bebas barang merupakan salah satu sarana utama dalam mewujudkan pasar tunggal dan basis produksi. Pasar tunggal untuk barang dan jasa juga akan mempermudah pengembangan jaringan produksi di kawasan dan meningkatkan kapasitas ASEAN sebagai pusat produksi global atau sebagai bagian dari mata rantai pasokan global. Aliran bebas sektor jasa merupakan salah elemen penting dalam mewujudkan komunitas ekonomi ASEAN, yang di dalamnya tidak ada hambatan bagi para pemasok jasa ASEAN dalam penyediaan jasanya secara lintas-negara di kawasan, sesuai dengan aturan domestik di setiap negara anggota. b. Kawasan ekonomi yang berdaya saing. Tujuan utama kebijakan
persaingan usaha adalah memperkuat budaya persaingan yang sehat. Institut dan perundang-undangan yang terkait dengan kabijakan persaingan usaha baru-baru ini telah terbentuk di beberapa negara ASEAN.
untuk maju secara bersama-sama. Untuk memungkinkan para pelaku usaha ASEAN bersaing secara internasional, menjadikan ASEAN sebagai bagian yang lebih dinamis dan kuat dalam mata rantai pasokan global serta menjadi agar pasar ASEAN tetap menarik bagi investasi asing, maka sangat penting bagi ASEAN untuk melihat kawasan lain diluar ASEAN Economic Community.
Instruksi Presiden nomor 11 tahun 2011 tentang Pemenuhan Komitmen Cetak Biru AEC Tahun 2015 menyatakan bahwa blue print AEC menggambarkan sebuah kesiapan dan langkah yang harus dicapai dan jadwal pembentukan AEC. Dalam blue print tersebut disebutkan bahwa ASEAN memberikan kesempatan kepada negara-negara yang belum siap menghadapi perdagangan bebas ini. Setiap enam bulan antara anggota ASEAN akan melakukan pertemuan guna mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan akan membantu negara-negara yang belum siap seperti Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Dalam blue print ini setidaknya terdapat 12 sektor yang menjadi prioritas integrasi dalam AEC yaitu produk industri, jasa penerbangan, otomotif, electronic-ASEAN, elektronika, perikanan, peralatan kesehatan, produk berbahan baku karet, tekstil dan garmen, pariwisata, produk berbahan baku kayu, dan jasa logistik.
Menurut Hidayat (2008:30) terdapat tujuh poin penting yang dituangkan dalam ASEAN Economic Community blue print untuk menjelaskan mekanisme ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dalam pembentukan pasar tunggal dan basis produksi beserta jadwal strategis yang akan dicapainya, yaitu:
a. Penghapusan Hambatan Tarif (Elimination of Tariffs).
2015 bagi CLMV (Cambodia, Laos, Myanmar, Vietnam) dengan kelonggaran sampai tahun 2018 untuk beberapa sensitive products.
2. Menghapuskan bea masuk untuk barang dalam kelompok sektor prioritas pada tahun 2007 bagi ASEAN 6 dan 2012 bagi CLMV.
3. Memasukkan barang yang masih ada dalam sensitive list (SL) ke dalam skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT) dengan mengurangi tarif menjadi 0-5 persen.
4. Memasukkan barang dalam kelompok general exeption list (GEL) sesuai dengan CEPT agreement
b. Penghapusan Hambatan Non Tarif (Elimination of Non Tariff Barriers). Dalam framework AFTA, ASEAN telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam proses pengurangan tarif, maka selanjutnya kerja sama dalam skema ASEAN Economic Community (AEC) akan lebih difokuskan pada penghapusan hambatan non-tarif. Langkah-langkah strategis yang akan diimplementasikan untuk program ini adalah:
1. Meningkatkan transparansi dengan mematuhi protocol on notification procedure dan membuat mekanisme pengawasan yang lebih efektif.
2. Mematuhi komitmen standstill (tidak lebih mundur dari komitmen saat ini) dan roll-back (lebih maju dari komitmen saat ini) dalam hambatan non-tarif.
3. Menghapus semua hambatan non-tarif pada tahun 2010 untuk ASEAN 5 (Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei), tahun 2012 untuk Filipina, tahun 2015 untuk CLMV dengan kelonggaran sampai 2018.
5. Bekerja sama menuju situasi di mana regulasi regional ASEAN sesuai dengan yang berlaku di dunia internasional. c. Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin/RoO). Dalam sistem
produksi yang sudah terintegrasi, penetapan RoO cukup kompleks. Secara prinsip, setiap barang berasal dari suatu negara, namun terkadang dalam proses produksinya melibatkan beberapa negara melalui pengiriman input atau tempat produksi yang tersebar.
d. Fasilitas Perdagangan (Trade Facilitation). Fasilitas perdagangan diarahkan untuk terciptanya proses perdagangan dan kepabeanan yang sederhana, terharmonisasi dan terstandarisasi baik di tingkat regional maupun internasional.
e. Penyatuan Kapabean (Custom Integration).
f. ASEAN Singel Window (ASW). Proses pembentukan ASW didahului oleh keharusan bagi setiap anggota ASEAN untuk membentuk National Singel Window (NSW), yaitu suatu sistem tunggal dalam pengumpulan, pemrosesan, dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan data dan informasi custome clearance of cargo. Dengan sistem ini, maka dalam kegiatan perdagangan intra ASEAN diharapkan akan bisa mengurangi waktu dari biaya-biaya transaksi (transaction time and cost), sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing.
g. Harmonisasi standard dan pengaturan teknis penghambat perdagangan. Harmonisasi standar diarahkan untuk mencapai biaya produksi yang efisien dan efektif di kawasan ASEAN.
Sebelum diberlakukannya ASEAN Economy Community 2015 akhir tahun 2015 ini, Indonesia telah mulai mempersiapkan datangnya pasar bebas ASEAN ini. Walaupun dirasa belum sepenuhnya maksimal, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait dengan AEC 2015 ini telah memproyeksi segala hal berkaitan dengan peran Indonesia dalam AEC 2015 seperti peluang, tantangan, dan strategi dalam mengimplementasikan program ASEAN Economy Community 2015.
Kuntadi (2014:8) telah merumuskan empat hal terpenting mengenai Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, yaitu:
a. Implementasi AEC berpotensi menjadikan Indonesia sekedar pemasok energi dan bahan baku bagi industrilasasi di kawasan ASEAN, sehingga manfaat yang diperoleh dari kekayaan sumber daya alam mininal.
b. Melebarnya defisit perdagangan jasa seiring peningkatan perdagangan barang.
c. Implementasi AEC juga akan membebaskan aliran tenaga kerja sehingga harus mengantisipasi dengan menyiapkan strategi karena potensi membanjirnya tenaga kerja asing (TKA) akan berdampak pada naiknya remitansi TKA yang saat ini pertumbuhannya lebih tinggi daripada remitansi TKI. Akibatnya, ada beban tambahan yaitu dalam menjaga neraca transaksi berjalan dan mengatasi masalah pengangguran.
d. Implementasi AEC akan mendorong masuknya investasi ke Indonesia dari dalam dan luar ASEAN.
diupayakan. Pemerintah bersama masyarakat pun kini akan menapaki era perekonomian baru dimana akan terjadi persaingan bebas regional membutuhkan banyak kemampuan dan peran banyak pihak.
2.2 Peran Pengusaha Indonesia dalam ASEAN Economy Community 2015 Keterlibatan semua pihak di seluruh negara anggota ASEAN mutlak diperlukan agar dapat mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang kompetitif bagi kegiatan investasi dan perdagangan bebas yang pada gilirannya dapat memberikan manfaat bagi seluruh negara ASEAN. Bagi Indonesia, dengan jumlah populasi, luas, dan letak geografi serta nilai PDB terbesar di ASEAN harus menjadi aset agar Indonesia bisa mendapat keuntungan besar dalam AEC 2015.
Strategi dan persiapan yang selama ini telah dilakukan oleh para stakeholder terutama pengusaha yang ada di Indonesia dalam rangka menghadapi sistem liberalisasi yang diterapkan oleh ASEAN, terutama dalam kerangka integrasi ekonomi yang memang dirasakan masih kurang optimal. Namun hal tersebut memang dilandaskan isu-isu dalam negeri yang membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Di samping itu, seiring perkembangan waktu, Indonesia dengan potensi sumber dayanya yang melimpah membawa pergerakannya ke arah yang lebih maju lagi.
Para pengusaha di dalam negeri diharapkan menyambut baik rencana pemberlakuan komunitas ekonomi ASEAN pada 2015 mendatang. Langkah itu dinilai sebagai peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan produksi, mengingat pasar ASEAN yang sangat besar. Diharapkan AEC 2015 ini menjadikan Indonesia sebagai pemain besar dalam penyelenggaraannya.
meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan, serta memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Di samping itu, pembentukan AEC juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra-ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan-peraturan dan standardisasi domestik.
Menurut Sekretariat Negara Republik Indonesia (2014) terdapat beberapa potensi Indonesia untuk merebut persaingan AEC 2015, antara lain:
a. Indonesia merupakan pasar potensial yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk yang terbesar di kawasan (40% dari total penduduk ASEAN). Hal ini dapat menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan dengan kesempatan penguasaan pasar dan investasi.
b. Indonesia merupakan negara tujuan investor ASEAN. Proporsi investasi negara ASEAN di Indonesia mencapai 43% atau hampir tiga kali lebih tinggi dari rata-rata proporsi investasi negara-negara ASEAN di ASEAN yang hanya sebesar 15%.
c. Indonesia berpeluang menjadi negara pengekspor, dimana nilai ekspor Indonesia ke intra-ASEAN hanya 18-19% sedangkan ke luar ASEAN berkisar 80-82% dari total ekspornya, Hal ini berarti peluang untuk meningkatkan ekspor ke intra-ASEAN masih harus ditingkatkan agar laju peningkatan ekspor ke intra-ASEAN berimbang dengan laju peningkatan impor dari intra-ASEAN. d. Liberalisasi perdagangan barang ASEAN akan menjamin
usaha lainnya untuk memproduksi dan mendistribusikan barang yang berkualitas secara efisien sehingga mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain. Di sisi lain, para konsumen juga mempunyai alternatif pilihan yang beragam yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Indonesia sebagai salah satu negara besar yang juga memiliki tingkat integrasi tinggi di sektor elektronik dan keunggulan komparatif pada sektor berbasis sumber daya alam, berpeluang besar untuk mengembangkan industri di sektor-sektor tersebut di dalam negeri.
e. Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar akan memperoleh keunggulan tersendiri, yang disebut dengan bonus demografi. Perbandingan jumlah penduduk produktif Indonesia dengan negara-negara ASEAN lain adalah 38:100, yang artinya bahwa setiap 100 penduduk ASEAN, 38 adalah warga negara Indonesia.
Melihat dari segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia, bukanlah tidak mungkin Indonesia berpotensi dalam ASEAN Economic Community ini. Kemampuan dan sumber daya potensial tersebut adalah sumber daya manusia, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak di Asia tenggara. Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan integrasi ekonomi jika sebelum penyelenggaraan AEC Indonesia bisa melakukan peningkatan sumber daya manusia baik hard skill maupun soft skill dengan baik.
menjadikan Indonesia yang bergeliat ekonominya sebagai mesin pendorong pertumbuhan negara-negara di Asia Tenggara. Dengan jumlah pasar yang lebih besar dari jumlah penduduknya, industri Indonesia juga akan semakin berkembang dengan memperluas pangsa pasar mereka.
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar sekali jika kita mampu bersikap untuk menyesuaikan diri menghadari Asean Economic Community 2015. Hal ini dapat menguntungkan negara kita bila masyarakat Indonesia dapat meminimalir tingkat konsumsi barang impor dan sebaliknya meningkatkan konsumsi barang lokal. Selain menguntungkan negara, peningkatan konsumsi barang lokal akan meningkatkan pendapatan pengusaha lokal. Potensial ini seharusnya dimulai dengan membuat sosialisasi kepada masyarakat akan datangnya pasar bebas sehingga masyarakat mulai waspada dan akhirnya menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneurship untuk dapat menguasai dunia dimulai dengan menguasai pasar ASEAN.
Indonesia sebagai negara yang luas, banyak budaya, dan cukup strategis mampu menarik banyak investor demi membangun teknologi di negara ini. Investasi-investasi dalam penanaman modal ini, dapat meningkatkan kemampuan berwirausaha masyarakat kita. Hal ini dapat dicapai jika Indonesia memulai menjalin kerja sama yang bisa membuat klien luar negeri mampu menanamkan modalnya dengan tetap menjadi hak milik dan dijalankan oleh rakyat Indonesia.
2.2.2 Tantangan Pengusaha Indonesia dalam ASEAN Economy Community 2015
Integrasi negara-negara ASEAN dalam AEC tidak hanya akan memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk tumbuh dan berkembang bersama tetapi kemajuan tentunya juga akan memicu lahirnya persoalan-persoalan yang akan menggangu kecepatan tumbuh dari setiap anggota. Kebebasan yang diberikan kepada masing-masing negara dalam konsep penyatuan ekonomi ASEAN dikhawatirkan juga akan memicu tumbuh suburnya kejahatan yang terintergasi dan transnational.
AEC 2015 tidak hanya menarik bagi para pelaku usaha di luar kawasan, namun juga menjadi impian yang menjanjikan bagi pelaku bisnis masing-masing anggotanya. Kebijakan AEC akan lebih menguntungkan bagi para anggota, mengingat ketahanan dan keberlangsungan pembangunan di kawasan menjadi prioritas agar mengalami peningkatan yang signifikan. Artinya, dengan dibukanya AEC maka seluruh konsentrasi akan dititik beratkan pada kerjasama ekonomi dan peningkatan kualitas atau mutu dari tiap-tiap komoditi utama negara anggota.
Kita menganut keterbukaan ekonomi dan kerjasama pertukaran barang dan jasa untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi yang kita miliki untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tetapi negara Indonesia tidak menganut perdagangan bebas dalam arti keterbukaan tanpa kendali. Tidak ada satupun produk yang dapat diperdagangkan lintas negara secara bebas.
Menurut Kuntadi (2014:9) terdapat beberapa permasalahan yang akan dihadapi Indonesia dalam pelaksanaan ASEAN Economy Community 2015. Beberapa permasalahan tersebut adalah:
dan komponen yang menandakan kerapuhan struktur industri dalam negeri.
b. Dari sisi perdagangan kita masih mengalami defisit neraca perdagangan yang menunjukkan bahwa perekonomian kita kurang kompetitif dalam pasar ekspor.
c. Dari sisi perdagangan sektor jasa, Indonesia menghadapi daya saing tenaga kerja Singapura dan Malaysia.
d. Dari sisi produk pertanian akan menghadapi produk pertanian hortikultura China dan Thailand.
2.2.3 Langkah-langkah Pengusaha Indonesia dalam Persiapan Menghadapi ASEAN Economy Community 2015
Sementara itu, Sekretariat Negara Republik Indonesia (2014) menyatakan Indonesia akan dapat ikut berperan dalam AEC jika dapat meningkatkan daya saing dan mengejar ketertinggalan dari negara anggota ASEAN lainnya. Untuk itu, diperlukan suatu langkah-langkah strategis, di antaranya:
a. Penyesuaian, persiapan dan perbaikan regulasi baik secara kolektif maupun individual (reformasi regulasi);
b. Peningkatan kualitas sumber daya manusia baik dalam birokrasi maupun dunia usaha ataupun profesional;
c. Penguatan posisi usaha skala menegah, kecil, dan usaha pada umumnya;
d. Penguatan kemitraan antara sektor publik dan swasta;
e. Menciptakan iklim usaha yang kondusif dan mengurangi ekonomi biaya tinggi, yang juga merupakan tujuan utama pemerintah dalam program reformasi komprehensif di berbagai bidang seperti perpajakan, kepabeanan, dan birokrasi;
f. Pengembangan sektor-sektor prioritas yang berdampak luas dan komoditi unggulan;
g. Peningkatan partisipasi institusi pemerintah maupun swasta untuk mengimplementasikan AEC blue print;
h. Reformasi kelembagaan dan kepemerintahan. Pada hakikatnya AEC blue print juga merupakan program reformasi bersama yang dapat dijadikan referensi bagi reformasi di Negara Anggota ASEAN termasuk Indonesia;
j. Perbaikan infrastruktur fisik melalui pembangunan atau perbaikan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, jalan tol, pelabuhan, revitalisasi, dan restrukturisasi industri.
2.2.4 Strategi Pengusaha Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economy Community 2015
Menurut Kuntadi (2014:25) strategi dalam menghadapi ASEAN Economy Community 2015 sama dengan strategi dalam menghadi kerjasama perdagangan ekonomi global lainnya, yaitu dengan pengembangan wirausaha, peningkatan ekspor, dan pengembangan investasi.
a. Pengembangan wirausaha. Berbagai program yang dilakukan pemerintah untuk mengubah mindset, menanamkan sikap, menempa, dan mengembangkan wirausaha sedini mungkin. Kebijakan-kebijakan lainnya adalah dengan mendorong pengusaha pemula, kemitraan, dan kerjasama, seperti akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), akses pasar dan kemudahan berusaha.
b. Peningkatan ekspor. Peningkatan ekspor negara dapat dilakukan dengan memperluas pasar dan mendiversifikasi produksi ekspor, meningkatan daya saing ekspor, dan mengoptimalisasi pemanfaatan free trade area (FTA).
Nasional, melakukan penataan hubungan industri, dan mengoptimalisasi pemanfaatan insentif fiskal.
Sementara itu, menurut Suatma (2012:4) menyatakan bahwa dalam menghadapi ASEAN Economic Community 2015, para pengusaha bersama pemerintah dapat melakukan strategi-strategi menyangkut usaha menghadapi AEC, diantaranya yaitu:
a. Penguatan ekspor. Mendorong pengusaha bersama pemerintah dan lembaga terkait untuk melakukan penguatan perwakilan Indonesia di luar negeri, promosi pariwisata, perdagangan dan investasi, penanggulangan masalah ekspor, pengembangan trading house, dan peningkatan peran LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) dalam pembiayaan ekspor.
b. Mendorong pemberian insentif fiskal dan non fiskal. Insentif ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan dalam ekonomi khusus, seperti pemberian insentif untuk barang dengan produk 100% pasar ekspor, mendorong pembenahan tata ruang dan pemanfaatan lahan, pembenahaninfrastruktur dan energi, pemberian insentif, memperkuat FTZ (Free Trade Zone) dan membangun kawasan Ekonomi Khusus, perluasan akses pembiayaan, penyederhanaan peraturan, serta pengembangan industri prioritas dan kompetensi inti daerah.
c. Pengawasan dan promosi produk lokal di dalam negeri. Untuk pengamanan pasar domestik, diperlukannya dorongan pengusaha dibantu dengan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan peredaran barang di pasar dalam negeri serta peningkatan promosi penggunaan produk dalam negeri.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas dan dijelaskan dalam bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. ASEAN Economic Community 2015 adalah salah satu program kerjasama yang dibentuk dalam Bali Concord 2020 dalam sektor ekonomi yang menitikberatkan pada ekonomi pasar bebas barang dan jasa intra regional Asia Tenggara dan bertujuan untuk mengintegrasi ASEAN untuk menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas diantara negara ASEAN.
b. Peran pengusaha Indonesia dalam ASEAN Economy Community 2015 adalah sebagai pelaku disamping pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk barang dan jasa yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonseia agar dapat bersaing dalam pasar bebas ASEAN.
3.2 Saran
ketersediaan infrastruktur yang memadai. Semoga seluruh masyarakat Indonesia bisa membantu untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar bisa segera mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.
DAFTAR RUJUKAN
Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. 2009. ASEAN Economic Community 2015 Blue Print (Online) (http:// www.asean.org/archive/5187-10.pdf) diakses 29 Maret 2015.
Hidayat, A.S. 2008. ASEAN Economic Community (AEC): Peluang dan Tangtangan bagi Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, (Online) 16 (2): 29-31. (http://www.fe.unpad.ac.id) diakses 17 Maret 2015.
Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Pemenuhan Komitmen Cetak Biru AEC Tahun 2015 (Online). (www.bappenas.go.id), diakses 23 Februari 2015.
Isnani, G. 2009. Ekonomi Pembangunan: Sebuah Pengantar untuk Memahami Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Bahan Ajar tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
Kuntadi, E. 2014. Peranan Pengusaha Daerah dalam Menghadapi MEA 2015 (Online) (http://www.bsn.go.id) diakses 25 Februari 2015
Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. (Online), (www.bappenas.go.id.), diakses 6 Januari 2015.
Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2014. Peluang dan Tantangan Indonesia pada ASEAN Economic Community 2015 (Online) (http://www.setneg.go.id) diakses 10 Maret 2015.
Sholeh. 2013. Persiapan Indonesia Menghadapi AEC (ASEAN Economic Community) 2015. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, (Online) 1(2), (http://www. ejournal.hi.fisip-unmul.org), diakses 1 Maret 2015.
Suatma, J. 2012. Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015. Jurnal STIE Semarang. (Online), 4(1) 1-7, (http:www.stiesemarang.ac.id), diunduh 20 Februari 2015.
Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Tugas Akhir, Laporan Penelitian. Edisi Kelima. Malang: Universitas Negeri Malang.