• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPONEN PROBLEMATIKA DAN SIKAP TERHADAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOMPONEN PROBLEMATIKA DAN SIKAP TERHADAP"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KOMPONEN PROBLEMATIKA DAN SIKAP TERHADAP FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN TEROI ARCHIE J. BAHM

Oleh:

Shinta Kurnia Dewi 12702251010

Tyas Pratama Puja Kusuma 13702251007

Kalfein M. Wuisan 13702251027

Yus Hariadi 13702251042

Nuur Wachid Abdul Majid 13702251059

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN PROGRAM PASCASARJANA

(2)

WHAT IS SCIENCE

Pendahuluan

(Terminologi : Pengetahuan, Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains)

Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya seperti perasaan, pikiran, pengalaman,

pancaindera dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstraksikan tangkapan

tersebut dalam dirinya dengan berbagai bentuk “ketahuan” umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni,

sejarah dan filsafat. Terminologi ketahuan ini diartikan sebagai keseluruhan bentuk produk kegiatan

manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu. Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui

tersebut tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya kita masukkan ke dalam kategori yang

disebut “ketahuan/pengetahuan” ini. Dalam bahasa Inggris sinonim dari pengetahuan ini adalah

“knowledge”. Ketahuan atau knowledge ini merupakan terminologi umum yang mencakup segenap

bentuk yang kita ketahui, seperti filsafat, ekonomi, seni bela diri, matematika dll. Jadi matematika

termasuk dalam ketahuan (“knowledge”), seperti juga ekonomi, fisika, dan seni. Untuk membedakan

tiap-tiap bentuk anggota kelompok ketahuan (knowledge) ini terdapat tiga criteria yakni: ontologism,

epistemology, axiologis.

Jadi seluruh bentuk dapat digolongkan ke dalam kategori ketahuan (knowledge) dan masing masing

bentuk dapat dicirikan oleh obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan axiologisnya.

Salah satu dari bentuk ketahuan (“knowledge”) ditandai dengan:

1) obyek ontologis: pengalaman manusia, yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat

pancaindera atau peranti (“device”) yang membantu kemampuan pancaindera;

2) landasan epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika

induktif dengan pengajuan hipotesis, atau yang disebut metode deduct hypotetico-verifikatif;

3) landasan axiologis: kemaslahatan manusia, artinya secara segenap ujud ketahuan itu secara

moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.

Bentuk ketahuan (“knowledge”) seperti ini dalam bahasa Inggris disebut “science”. Dengan demikian

maka masalahnya adalah terdapat perbedaan antara “knowledge” dan “science”; antara ketahuan yang

bersifat umum dan bentuk ketahuan yang spesifik yang mempunyai obyek ontologis, landasan

epistemologis dan landasan axiologis yang khas. Lalu apakah sinonim-sinonim “knowledge” dan

“science” dalam bahasa Indonesia?

Alternatif pertama adalah menggunakan “ilmu pengetahuan” untuk “science” dan “pengetahuan”

untuk “knowledge”. Pengetahuan ilmiah bisa diartikan “scientific knowledge” yang dalam bahasa

Inggris adalah sinonim dengan “science” sedangkan ke-ilmu-pengetahuanan rasanya terlampau

(3)

adalah kedua benda, yakni “ilmu” dan “pengetahuan”. Dalam hal ini maka yang lebih tepat kiranya

adalah penggunaan kata “pengetahuan” untuk “knowledge” dan “ilmu” untuk “science”. Dengan

demikian maka “social sciences” kita terjemahkan menjadi “ilmu-ilmu sosial” dan “natural sciences”

menjadi “ilmu-ilmu alam”. Ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora (seni filsafat, bahasa dan

sebagainya) tercakup dalam “pengetahuan” yang merupakan terminologi generik. Kata sifat dari

“ilmu” adalah ilmiah” atau “keilmuan”, metode yang dipergunakan dalam kegiatan ilmiah (keilmuan)

adalah metode ilmiah (keilmuan). Ahli dalam bidang keilmuan adalah ilmuwan. Sains adalah

terminologi yang dipinjam dari bahasa Inggris, yakni dari “science”. Keberadaan kedua adalah bahwa

terminologi “science” dalam bahasa asalnya penggunaannya sering dikaitkan dengan “natural

science”, seperti kimia. “Economics”, sering dikonotasikan sebagai bukan “science”, melainkan

“social studies”, yang mencakup “social sciences” lainnya. Dengan demikian maka terminologi

“science” sering dikaitkan dengan “teknologi”. Hal ini meskipun tidak disengaja dan mungkin tidak

(4)

WHAT IS SCIENCE

(PROBLEM & SCIENTIFIC ATTITUDE)

Archie J. Bahm

Archie J. Bahm menulis artikel tentang ilmu pengetahuan ini karena beberapa alasan, yaitu

antara lain:

1. Makin kompleksnya ilmu pengetahuan dalam segala pengertiannya, termasuk kompleksitas

dalam setiap konteks yang lebih khusus, dan beragamnya pandangan tentang sifat dasar ilmu

pengetahuan (nature of science) yang membuat penentuan suatu sifat dasar ilmu

pengetahuan menjadi bermasalah.

2. Masyarakat ilmiah telah mengabaikan kebutuhan akan penyelidikan ilmu pengetahuan

tentang ilmu pengetahuan yang diandalkan (biasanya disebut “Filsafat Ilmu Pengetahuan”).

3. Sebagai bahan perdebatan dengan pihak yang mendefenisikan ilmu pengetahuan dengan

tidak mengikutsertakan aksilogi dan nilai-nilai yang lainnya.

4. Ketiga hal diatas bersifat penting terutama dengan perkembangan dewasa ini, yaitu dengan

semakin berkembangnya teknologi dan industralisasi yang terkait erat dengan ilmu

pengetahuan (Pure science and technologhy are not antagonistic but in the long perpective

of history reveal themselves to be mutually fructifying, complementary). Selain proses

tersebut diatas dapat menimbulkan efek-efek negative juga tidak dapat dibalikkan kembali.

Untuk maksud diataslah Bham menulis artikel tentang Pengetahuan dan menawarkan

pemikirannya tentang sifat dasar ilmu pengetahuan (the nature of science). Dalam deskripsi tentang

pemikirannya itulah maka banyak dijumpai berbagai posisi dari beragamnya ilmu pengetahuan yang

eksis sekarang ini, dan disitu Bahm mencoba untuk berusaha menanggapi, mensintesiskan,

mengkritik, mengusulkan normativitas, dan pada akhirnya mengambil posisinya sendiri diantara

keberagaman itu. Deskripsi tersebut adalah sebagai berikut :

I. MASALAH (PROBLEM)

Tidak semua masalah dianggap ilmiah (scientific). Untuk dapat dikatakan bahwa suatu

masalah dikarakteristikkan sebagai ilmiah paling tidak harus memiliki 3 (tiga) hal yaitu :

Communicability (mampu untuk dapat dikomunikasikan), Sikap Ilmiah dan Metode Ilmiah.

‐ Archie J. Bahm Mengatakan, bahwa suatu masalah tidak layak untuk dikatakan ilmiah

(scientific) jika tidak dapat dikomunikasikan. Seorang ilmuan yang menemukan suatu

masalah dan kemudian menganalisanya secara pribadi untuk jangka waktu yang lama dan

tidak mengkomunikasikan kepada orang lain, belu bisa dikatakan ilmiah. Suatu masalah

(5)

‐ Suatu masalah dikatakan ilmiah bila dapat didekati dengan cara-cara sikap ilmiah (Scientific Attitude).

‐ Suatu masalah dapat dikatakan ilmiah bila dilakukan dengan cara-cara metode ilmiah

(Scientific Method). Tidaklah dapat dikatakan ilmiah bila metode ilmiahnya tidak dapat

diterapkan.

Ilmu bermula dari pemecahan permasalah, tapi tidak semua permasalahan merupakan

masalah keilmuan. Persoalan ilmiah harus selalu dapat dikomunikasikan. Seorang ilmuwan

yang menemukan problem dan berusahaan mencari pemecahannya. Kemudian

mengkomunikasikan kesimpulannya pada yang lain, hal ini menunjukkan tidak masuk akal

untuk menilai bahwa pekerjaan pribadinya tidak ilmiah. Komunikasi itu memadai. Tetapi

permasalahan yang tidak dapat dikomunikasikan tidak mencapai status "masalah ilmiah"

(scientific problem).

Kajian berikut ini akan dilihat secara berurutan dari keenam kompenen di atas. Mengapa

masalah merupakan komponen penting ? menurut Bahm, ilmu pengetahuan itu ada karena

masalah yang terpecahkan. Dengan kata lain tanpa masalah tidak akan ada ilmu pengetahuan,

tanpa masalah tidak ada solusi, dengan sendirinya tidak akan ada pengetahuan ilmiah.

Berangkat dari pandangan di atas akan muncul pertanyaan baru. Pertama apakah semua

masalah itu ilmiah? Apa yang menyebabkan masalah menjadi ilmiah? Jika jawaban pertama

adalah tidak semua masalah itu ilmiah, lalu apa yang menjadikan masalah menjadi ilmiah?

Meski para ilmuan berbeda-beda dalam menjawab pertanyaan di atas, namun Archie J. Bahm

mengajukan hipotesa bahwa masalah dianggap ilmiah jika memenuhi tiga ciri khas, yaitu

dapat dikomunikasikan, bisa didekati dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah. Demikian pula

sebaliknya, jika masalah yang dimaksud tidak memenuhi tiga karakter di atas maka tidak

layak di anggap sebagai masalah ilmiah. Dengan demikian masalah yang dapat

dikomunikasikan, mampu didekati dengan sikap dan metode ilmiah, maka ia disebut sebagai

(6)

II. SIKAP ILMIAH (SCIENTIFIC ATTITUDE)

Sikap ilmiah paling tidak mencakup 6 unsur utama yakni keingintahuan (curiosity), spekulatif

(speculativeness), kesediaan untuk bersifat obyektif (willingness to be objective),

berpandangan terbuka (open-mindedness), kesediaan untuk menangguhkan keputusan,

tentative (sifatnya sementara).

1. Keingintahuan (Curiosity), keingintahuan ilmiah menyangkut tentang bagaimana sesuatu

itu ada, sifat, fungsi serta hubungannya dengan yang lain.

Tujuan ilmiah adalah pemahaman. Aktivitas ini terus berlanjut dan berkembang melalui

pencarian, penelitian, pengujian, eksplorasi, penjajakan dan eksperimen.

Rasa ingin tahu ilmiah adalah memperhatikan rasa ingin tahu. Ini menyangkut tentang

bagaimana ada benda-benda, apa karakter dasarnya, bagaiman mereka berfungsi, dan

bagaimana mereka dihubungkan pada benda-benda lain. Rasa ini bertujuan untuk

pemahaman. Ini berkembang mendalam dan berkelanjutan yang mengarah pada

penyelidikan, penelitian, pengujian, eksplorasi, penjelajahan, dan eksperimentasi.

Seorang ilmuawan tidak akan dalam sikap ilmiah melampau bidangnya karena memang

mereka dilatih dalam sikap ilmiahnya untuk mengatasi persoalan sesuai dengan bidang

keilmuan yang dikuasainya. Sebagian ilmuwan menjadikan sikap ilmiah ini menjadi

bagian pandangan hidup mereka, sehingga mereka cenderung untuk ingin tahu akan

segala sesuatu.

2. Spekulasi (Speculativeness), untuk menjadi ilmiah seseorang harus mau mencoba untuk

memecahkan masalah, melakukan beberapa upaya dan solusinya dengan mangajukan satu

atau lebih hipotesis dengan resiko pendapatnya tidak diakui. Tetapi tetap harus dilakukan

hipotesis alternative secara berlanjut. Hipotesis awal memang sering spekulatif dan setap

hipotesis baru melibatkan beberapa spekulasi. Spekulasi ini memang disengaja dan sangat

perlu di dalam mengembangkan uji coba. Dengan denikian, spekulatif merupakan unsure

esensial sikap ilmiah.

3. Kesediaan untuk bersifat obyektif (willingness to be objective) mencakup kesediaan untuk

mengikuti keingintahuan ilmiah (scientific curiosity), kesediaan untuk dibimbing melalui

pengalaman dan akal (penalaran), kesediaan untuk menerima data sebagai apa adanya

serta tidak bias, kesediaan untuk diubah oleh objek karena adanya penambahan

pengetahuan baru artinya kesediaan untuk diubah oleh hasil-hasil penelitian ilmiah,

(7)

untuk mencapai keberhasilan final, kesediaan untuk terus berusaha memahami obyek atau

masalah hingga dicapai suatu pemahaman (willingness to persist).

Objektifitas adalah salah satu hal dari sikap subjektifitas. Objek selalu merupakan objek

dari subjek. Objektifitas bukan saja berhubungan erat dengan eksistensi subjek tetapi juga

berhubungan dengan kesediaan subjek untuk memperoleh dan memegang suatu sikap

objektif. Bahm menyatakan bahwa kesediaan untuk menjadi objektif meliputi beberapa hal

yaitu :

a. Kesediaan untuk mengikuti rasa ingin tahu ilmiah kemana saja rasa itu

membimbing.

Kesediaan ini mengisyaratkan keingintahuan dan kepedulian tentang penyelidikan

lebih lanjut yang dibutuhkan demi pengertian sampai tahap kebijaksanaan yang

dimungkinkan.

b. Kesediaan untuk dituntun oleh pengalaman dan rasio.

Bahms menunjukkan bahwa ada perbedaan yang besar antara kaum empirisis yang

ekstrim dan rasionalis yang ekstrim. Empirisis ekstrim memandang bahwa kita dapat

memperoleh pengetahuan hanya berdasarkan hal yang partikular yaitu pengalaman

partikular yang dapat ditangkap indera di mana data diintuisi. Rasionalis ekstrim

memandang bahwa kita hanya dapat memperoleh pengetahuan karena hal yang

universal dan deduksi yang valid untuk itu. Tetapi sesungguhnya, yang partikular dan

universal dalam hal ini baik empirisis maupun rasionalis saling berinteraksi dan saling

bergantung dalam pengalaman dan proses-proses dari investigasi ilmiah tergantung

pada hubungan yang terbangun antara keduanya. Khusus tentang rasio, ditunjukkan

oleh Bahms dua pengertiannya yang seringkali berbeda dan dipisahkan. Di satu sisi,

rasio diartikan sebagai persesuaian pada hukum rasional. Di sisi lain, rasio diartikan

sebagai kemampuan untuk memilih apa yang terbaik di antara dua atau lebih

kemungkinan. Sesungguhnya, kedua pengertian itu saling berhubungan, bagi mereka

yang meyakini bahwa menjadi rasional sebagai penyesuaian dengan hukum rasional

melakukan itu karena mereka percaya bahwa penyesuaian itu merupakan pilihan yang

terbaik. Artinya, untuk memilih yang terbaik di antara dua atau lebih alternatif,

pilihan terbaik itu adalah persesuaian dengan hukum rasional.

Kesediaan untuk dibimbing baik oleh akal maupun pengalaman termasuk di dalamnya

(8)

c. Kesediaan untuk mau menerima

Yang dimaksudkan Bahms di sini adalah penerimaan terhadap data. Data adalah

sesuatu yang sebagaimana adanya (given) dalam pengalaman ketika objek-objek

diamati, diterima sebagai evidensi yang relevan bagi suatu masalah untuk dipecahkan.

Sikap ilmiah menurutnya termasuk kesediaan untuk menerima data sebagaimana

adanya, tidak sebelum diinterpretasikan dengan penilaian-penilaian bias dari

pengamat.

Data yang ditampilkan sebagaimana adanya baru dapat diinterpretasikan secara

ilmiah ketika diperhadapkan dengan hipotesis yang dibangun. Jika

interpretasi-interpretasi itu berhasil memecahkan masalah, maka akan merefleksikan struktur yang

nyata dari masalah itu. Dengan demikian, data dan hipotesis dilihat sebagai instrumen

untuk menerima kebenaran tentang objek itu sendiri, dapat mewujudkan kesediaan

menjadi objektif.

Walaupun demikian, tiap formulasi dari suatu hipotesis yang eksplanatory terkandung

di dalamnya dua hal yaitu penemuan (pengamatan fakta-fakta tentang objek atau

masalah) dan hasil dari penemuan (ide-ide yang bertujuan untuk membangun konsep

tentang objek atau masalah). Objektifitas berarti objek, bukan subjek, yang menjadi

otoritas, sumber pengetahuan yang dicari oleh para ilmuan.

d. Kesediaan untuk diubah oleh objek

Ketika seorang ilmuan menemukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya, dia

menjadi dirubah oleh tambahan pengetahuan barunya itu. Penemuan-penemuan baru

menjadikan konsep-konsep lama tentang dirinya sebagaimana hal-hal lain direvisi dan

direkonstruksi. Ketika seseorang tidak bersedia untuk diubah dalam hal-hal yang

dibutuhkan oleh hasil-hasil dari investigasi ilmiah yang berhasil, maka dia tidak

memiliki kesediaan untuk menjadi objektif.

e. Kesediaan untuk melakukan kesalahan

Kesediaan untuk melakukan kesalahan ada dalam pengertian baik untuk menerima

kebenaran maupun untuk menyatakan kebenaran. Kesediaan itu ada dalam kajian

terus menerus dan ketika suatu kajian tidak menunjukkan hasil memuaskan, kajian

lain dapat dilakukan. Dalam hal ini, frustasi ilmiah sangatlah membantu untuk

(9)

f. Kesediaan untuk bertahan

Tidak ada aturan yang menyatakan berapa lama seorang ilmuan harus bertahan dalam

pergulatan dengan masalah yang alot. Kesediaan untuk tetap objektif mensyaratkan

kesediaan untuk terus melanjutkan dan bertahan selama mungkin dan mencoba

mengerti objek atau masalah sampai pengertian diperoleh.

4. Berpandangan terbuka (open-mindedness), kesediaan untuk mempertimbangkan semua

saran yang relevan sehubung dengan hipotesa, metodologi dan bukti sehubungan dengan

suatu masalah. Termasuk dalam hal ini adalah kesediaan untuk memberikan toleransi

gagasan-gagasan baru, tidak hanya gagasan-gagasan yang berbeda dari ilmuwan lain

tetapi juga gagasan-gagasan kontrdiktif dengan kesimpulannya sendiri. Berpandangan

terbuka berarti juga mau mendengarkan dan menguji pandangan ilmuwan lain.

5. Kesediaan untuk menunda keputusan (willingness to suspend judgment) hingga semua

bukti yang diperlukan ada artinya bersedia untuk tetap ragu-ragu (uncertain) atau tidak

pati terhadap keputusannya tetap. Oleh karena itu, penundaan kesimpulan tersebut

diperlukan kesabaran.

6. Kesediaan untuk bersikap bahwa semua kesimpulan ilmiah bersifat sementara

(tentativity), seorang ilmuwan harus tetap bertahan pada pendapat dan hipotesisnya

selama hipotesisnya memang yang terbaik. Sebaliknya, dia harus merasa tidak yakin lagi

bilamana kesimpulan atau hipotesisnya sudah tidak lagi memenuhi syarat atau tidak bisa

menjamin. Dalam kondisi yang demikian, seorang ilmuwan juga harus bersedia untuk

tetap gigih (tenacious).

Studi dalam sejarah ilmu menyediakan fakta-fakta sitematik ilmiah yang telah mapan dan hampi

disepakati secara umum dalam sebuah jaman, ditetapkan selalu tidak memadai dan yang akhirnya

memberikan jalan pada konsepsi revolusioner sebagai pemimpin untuk membangun kemampanan

system baru sebagai dasar perbedaan pengertian secara radikal. Fakta-fakta sejarah paling tidak

menunjukan bahwa pendirian yang kuat yang menjadi pegangan sekarang dan sebagian besar rumit

dan system interpretasi memadai tersebar merata sebelum memberikan jalan untuk sesuatu yang lebih

baik. Selama kemungkin ini tetap prospektif, saat ini dogmatisme dipandang kesimpulan tanpa dasar.

Sikap ilmiah menghendaki bersikap tentative (sementara) dalam memandang semua kesimpulan yang

dihasilkan ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan untuk tidak dogmatis mengenai metode, karena

perbedaan kesimpulan lebih banyak terletak pada perbedaan metode yang digunakan untuk

membangun pengetahuan. Interpretasi terdahulu mengenai sikap ilmiah, menyangkut potret ilmuwan

(10)

tetap bersabar dalam penyelidikannya dan berpegang pada hipotesanya sepanjang yang bisa

diperolehnya. Disisi lain, ia harus tetap tidak yakin bahwa kesimpulan terbaiknya tidak sepenuhnya

terjamin. Sekalipun seorang ilmuwan mungkin sebenarnya sangat menderita, namun pada dasarnya, ia

memang harus berkemauan untuk mengalami berbagai ketegangan, dengan mewujudkan kemauan

ganda yaitu kemauan untuk bertahan dan kemauan untu tetap bersifat sementara.

KESIMPULAN

Knowledge, menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari

melalui pengalaman kesadaran, informasi. Sedangkan Science didalamnya terkandung adanya

pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah dan mencakup kebenaran umum

mengenai obyek studi yang lebih bersifat fisis [natural]. Jadi, “knowledge” dapat dipahami sebagai

pengetahuan yang mempunyai cakupan lebih luas dan umum, sedangkan “science” dapat dipahami

sebagi ilmu yang mempunyai cakupan yang lebih sempit dan khusus dalam arti metodis, sistematis,

dan ilmiah. “Ilmu” membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill atau ketrampilan yang

bias mengkonsumsi masalah-masalah atau kebutuhan keseharian. Sedangkan “pengetahuan”

membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang

berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan. Maka secara

filosofis, tidaklah berlebihan jika dipilih nama” ilmu-pengetahuan”

Science secara substansial setidaknya mengandung enam komponen, yaitu: problem, sikap, metode,

aktivitas, kesimpulan, dan efek.

Dua dari komponen tersebut yaitu

1. Problem/masalah

Masalah yang bersifat ilmiah saja yang bisa disebut sebagai komponen permulaan sains. Masalah

ilmiah setidaknya memiliki tiga karakter: komunikabilitas, mampu dipecahkan dengan sikap dan

metode ilmiah.

2. Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah memiliki ciri: keingintahuan, bersifat spekulatif, kesediaan untuk objektif, kesediaan

(11)

REFERENSI

Bahm, A. (1980). What is Science. Albuquerque, New Mexico: World books

Suhartono, S. (2005). Fisafat Ilmu. Depok Sleman, Yogyakarta : Ar. Ruzz

Referensi

Dokumen terkait

This research was conducted in order to test the effect of the analysis of the influence of the Straits Time Index (STI), the Nikkei 225, the Dow Jones Industrial Average (DJIA),

HOC yang digunakan oleh Khairuddin (2000) pada imej tulisan tangan Jawi menggunakan TPSPS 5x5 pada model warna skala perduaan (Mohd Sanusi 2003).. HOC yang dipelopori oleh Sun

Menimbang, bahwa sesuai ketentuan Pasal 23 huruf (b) Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974, SEORANG WANITA sebagai isteri sah ketika itu adalah merupakan pihak yang paling

Peneltian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan ibu tentang peran dan fungsi Posyandu terhadap motivasi kunjungan di Posyandu dusun Gareh

(b) Diagnosis, Diagnosis merupakan langkah penetapan masalah yang dialami oleh subyek kasus berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang diperoleh dari hasil

Pada tahap ini, petugas kesehatan mengamati apakah tangan klien benar-benar lemas, jika klien masih dapat menggerakkan tangannya dengan mudah, maka segera ulangi bagian sript

Berdasarkan hasil dan kesimpulan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut: (1) kepala sekolah dapat menjadi motor penggerak

Namun, dalam mengharungi dunia keusahawanan ini penting bagi graduan mengetahui faktor-faktor dan cabaran yang menjadi kekangan yang sering dihadapi oleh