BAB2
TINJAUAN PUSTAKA
Teori dan konsep yang berkaitan dengan hal yang akan diteliti akan diuraikan pada bab ini sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian. Adapun uraian tersebut terdiri dan konsep diare, tumbuh kembang dan karakteristik anak dibawah usia 2 tahun yang berhubungan dengan diare, konsep epidemiologi, peran perawat dalam pencegahan penyakit dan teori model promosi kesehatan menurut Nola.
3.
Pender.2.1.KONSEP DIARE 2.1.1 Pengertian
Diare didefmisikan sebagai inflamasi pada membran mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan diare, muntah-muntah yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit (Betz, 2009). Juffrie dkk ( 2010) menyebutkan diare adalah buang air besar pada bayi atau anak Iebih dan 3 kali sehari, disertai konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dan satu minggu.
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa peningkatan volume cairan, dan frekuensi dengan atau tanpa lendir darah, seperti lebth dan 3x1 han (Hidayat, 2008). Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selam dan frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan diare bila feses lebih berair dan biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam (Depkes, 2009).
Dan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa diare adalah bertambahnya frekuensi defekasi lebih dan 3 kali per han path bayi dan lebih dan 6 kali path anak, yang disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi encer.
2.1.2 Klasifikasi Diare
(failure to thrive) selama masa diare tersebut. Diane kronik dibagi menjadi beberapa jerns yaitu diane persisten yaitu diane yang disebabkan oleh infeksi. Protracted diane yaitu diare yang berlangsung lebih dan 2 minggu dengan tinja cain dan frekuensi 4 x atau lebih perhani. Diane Intraktabel adalah diare yang timbul berulang kali dalam waktu singkat
(
misalnya 1-3 bulan). Prolonged diane adalah diane yang berlangsunglebih dan 7 han. Cronic non specific diarrhea adalah diane yang berlangsung lebih dan 3 minggu tetapi tidak disertal gangguan pertumbuhan dan tidak ada tanda-tanda infeksi maupun malabsorsi.
2.1.2 Etiologi
Etiologi diare akut dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu faktor infeksi yang dibagi menjadi mfeksi enteral dan parenteral. Infeksi enteral yaitu mfeksi yang terjadi pada saluran pencemaan yang merupakan penyebab utama diare path anak, meliputi: mfeksi bakteri, virus, parasit, protozoa dan jamur. Bakteri yang sering menjadi penyebab diane adalah Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, infeksi virus disebabkan oleh Enteroovirus, Adenovirus, Rotarovirus, Astrovirus dan infeksi parasit disebabkan oleh cacmg Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides,
Protozoa disebabkan oleh Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Ttrichomonas hominis, dan jamur yaitu Candida albicans.
Sementara itu infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lam diluar alat pencernaan, seperti Otitis media akut (OMA), tonsilitis, bronkopneumonia dan ensefalitis. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
Etiologi berikutnya adalah faktor malabsopsi. Malabsopsi yang bisa terjadi yaitu terhadap karbohicirat: disakarida ( intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (mtoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah Iaktosa. Malabsopsi lemak dan protein juga merupakan penyebab timbulnya diare.
dan kecemasan juga berkonstribusi terhadap timbulnya diare, walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang Iebih besar.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare yaitu pertama terjadinya gangguan osmotik dimana terjadinya peningkatan tekanan osmotik dalam rongga usus akibat makanan yang tidak dapat dapat diserap sehingga mengakibatkan teijadinya pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus yang merangsang terjadinya diare. Kedua yaitu gangguan sekresi yang terjadi akibat toksin yang berada di dinding usus, sebingga terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit melalui saluran pencernaan. Ketiga yaitu gangguan mortalitas usus yang mengakibatkan terjadinya hiperperistaltik dan hipoperistaltik.
Sedangkan etiologi path diare kronik sangat komplek dan merupakan gabungan faktor yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Menurut WHO ada beberapa faktor penyebab diare kronik yaitu adanya infeksi bakteri dan parasit yang sudah resisten terhadap antibiotika/anti parasit, disertai overgrowth bakteri non-patogen seperti pseudomonas, klebssiella, streptokok, stafilokok. Kerusakan path epitel usus pada awalnya akan terjadmya kekurangan enzim laktase dan protase yang mengakibatkan teijadmya maldigesti dan malabsorpsi karbohidrat dan protein, dan path tahap lanjut setelah terjadi KEP yang menyebabkan terjadi atropi mukosa lambung, usus halus disertai penumpukan viii serta kerusakan hepar dan pankreas. Gangguan imunologis yang terjadi pada anak akan berdampak penurunan path sistem pertahanan tubuh anak terhadap bakteri, virus, parasit dan jamur yang masuk kedalam usus yang berkembang deagan cepat, dengan akibat lanjut menjadi diare persisten dan malabsorpsi makanan yang lebih berat. Faktor lain yang juga menjadi penyebab diare kronik yaitu penangan diare yang tidak efektif, penghentian pemberian ASI dan makanan serta pemberian obat-obatan antimotalitas (Suraatmaja, 2009).
Proses terjadinya gastroenteritis dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya pertama faktor infeksi, proses
mi
dapat diawali adanya niikroorgaizisnze (kuman) yang masuk kedalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakten atau akan menyebabkan sistim transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat.Faktor malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehinga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi gastroenteritis. Ketiga, faktor makanan dapat terjadi apabila toksm yang ada tidak mampu diserap dengan baik sehingga terjadi peningkatan dan penurunan peristalistik yang mengakibatkan penunman kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan gastroenteritis (Hidayat, 2008.)
2.1.4 Gejala Diare
Menurut Ngastiah (2005) Path mulanya bayilanak menjadi cengeng, kemudian suhu tubuh menmgkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbulah diare. Tinja makin cair, mungkin bercampur Lendir dan darah, warna tinja makin lama makin berubah kehijauh ijauan karena bercampur dengan empedu. Karena anak sering defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi makin asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dan pemecahan Iaktosa yang tidak dapat diabsopsi oleh usus. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
Bila anak telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan menurun, turgor kulit berkurang, dan ubunu bun besar menjadi cekung (pada bayi), turgor kulit berkurang, selaput lendir path bibir, mulut serta kulit tampak kering dan tcrjadi keram abdomen (Suraatmaja, 2009)
Menurut Suraatmaja (2009) derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan
2.1.6.2 Kehilangan berat badan
Pada dehidrasi ringan terjadi penurunan berat badan sebesar 2,5 sampai 5 %, path dehidrasi sedang terjadi penurunan berat badan 5 sampai 10% sedangkan pada dehidrasi berat terjadi pemirunan berat badan> 10%
2.1.6.2 Skor Maurice King
Tabel 2.1
Derajat dehidrasi menurut Maurice King
Bagian tubuh
yang diperiksa NiIai untuk gejala yang ditemukan
o
1 2Keadaan
umum sehat
Gelisah, cengeng, apatis, ngantuk
Mengigau, koma/syok
Elastisitas kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit kurang Sangat cekung
Ubun-ubun Normal Sedikit kurang Sangat cekung
besar
Mulut Normal Kering Keringsianosis &
Denyut Kuat>120 Sedang (120-140) Kering &
Untuk menentukan elastisitas kulit, kulit perut “dicubit” selama 3 0-60 detilc, kemudian dilepas. Jika kulit kembali normal dalam waktu 2 sampai 5 detik menandakan anak mengalami dehidrasi ringan, 5 sampai 10 detik anak mengalami dehidrasi sedang dan bila terjadi dehidrasi tinggi turgor kulit kembali lebth dari 10 detik. Berdasarkan skor yang ditemukan path penderita, dapat ditentukan derajat dehidrasinya yaitu dehidrasi ringan
(skor 0 sampai 2), dehidrasi sedang (3 sampai 6), dehidrasi berat (skor >7). 2.1.6.3 Berdasarkan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
Yang termasuk dalam kategori dehidrasi berat adalah terdapatnya tanda-tanda letargis atau anak tidak sadar, mata cekung, anak tidak bisa minum atau malas minum serta cubitan perut kembalmya sangat lambat. Dehidrasi ringan/sedang terjadi apabila terdapat dua atau lebih dan tanda-tanda benikut anak rnenjadi gelisah dan rewel/marah, mata cekung, haus. Minum dengan lahap, cubitan kulit perut kembalmya lambat.
2.1.7 Komplikasi
Kebanyakan penderita diare sembuh tanpa mengalami komplikasi, tetapi sebagian kecil mengalami komplikasi dan dehidrasi, kelainan elektrolit atau pengobatan yang diberikan. Adapun komplikasi yang dapat terjadi yaitu hiponatremia dapat terjadi path penderita diane yang minum cairan sedikit! tidak mengandung natrium. Penderita gizi buruk mempunyai kecendrungan mengalami hiponatremia. Sedangkan hipernatremia sering terjadi pada bayi barn lahir sampai usia 1 tahun (khususnya bayi berumur kurang dan 6 bulan). Biasanya terjadi path diare yang disertai muntah dengan intake cairanlmakanan kurang, atau cairan yang di minum mengandung terlalu banyak natrium.
Ileus paralitik merupakan komplikasi yang penting dan sering berakibat fatal, terutama path anak kecil sebagai akibat penggunaan obat antimotilitas yang ditandai
dengan distensi abdomen, muntah, peristaltik usus berkurang atau tidak ada. 2.1.8 Penatalaksanaan
Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare path anak balita baik yang dirawat di rumah sakit maupun dirawat dirumah, yaitu:
2.1.8.1 Pemberian cairan atau rehidrasi
Pada klien diare yang hams dipethatikan adalah terjadinya kekurangan cairan atau dehidrasi. Oleh sebab itu, pemantauan derajat dehidrasi dan keadaan umum pada pasien sangatlah penting. Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCI dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk gastroenteritis akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi nngan, atau sedang kadar natrium 50- 60 Meq/1 dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas athlah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawah ke rumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebth lanjut. Untuk pemberian cairan parenteral junilah yang akan diberikan tergantung dan berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya (Juifrie, 2011).
2.1.8.2 PemberianZmc
Zinc diberikan untuk mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan anak. Penggunaan zinc ini memang popular beberapa tahun terakhir karena memiliki evidence based yang bagus. Beberapa penelitian telah membuktikannya. Penggunaan zinc dalani pengobatan diare
akut didasarkan path efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cema selama diare. Pemberian
Menurut Depkes (2008) dan penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa zinc mempunyai efek protektif terhadap diare dan menurunkan kekambuhan diare sebanyak 11% dan menurut hasil pilot studi menunjukkan bahwa zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67%. Zinc diberikan selama 10 -14 han berturut-turut meskipun anak telah sembuh dan diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk
anak yang lebih besar, Zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit (Juffrie, 2011).
2.1.8.3 Pengobatan dietetik dan pemberian ASI
Pengobatan dietetik adalah dengan pemberian makanan dan minuman khusus pada Mien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan. Adapun hal yang perlu diperhatikan adalah untuk anak dibawah satu tahun dengan berat badan kurang dan
7 Kg, jenis makanan yang diberikan adalah memberikan asi
dan susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh misalnya LLM, makanan setengah patht (bubur, makanan padat Nasi Tim). Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
Prinsip pengobatan dietetik yaitu B — E — S — E singkatan dan
Oralit, Breast Feeding, Early Feeding, Stimulaneously with
Education (Suraatmaja, 2009).
2.1.8.4 Pengobatan Kausal
Pengobatan yang tepat terhadap kausa diane diberikan setelah di ketahui penyebab pasti. Jika kausa diare penyakit parental, diberikan antibiotika sistemik. Jika tidak terdapat infeksi parental, antibiotik baru boleh diberikan kalau path pemeriksaan laboratorium ditemukan bakteri patogen.
Pemberian obat anti diare bertujuan untuk menghentikan diare secara cepat seperti antispasmodik
2.1.9. Pencegahan Diare
Menurut Juffie (2010), upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diane. Kuman-kuman pathogen penyebab diare
umumnya disebarkan secara fekal-oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan path cara penyebaran. Adapun upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi pemberian ASI yang benar, memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI, penggunaan air bersih yang cukup, membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dansebelum makan, penggunaan jamban yang bersih dan hiegienis oleh seluruh anggota keluarga, membuang tinja bayi yang benar dan memperbaiki daya tahan tubuh penjamu.
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan dapat mengurangi resiko diane antara lain dengan memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun, meningkatkan nilai
gizi makanan pendampmg ASI badan memben makanan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status gizi anak, pemberian imunisasi campak.
Sedangkan menurut Suraatmaja (2007) ada tujuh mtervensi pencegahan diare yang efektif yaitu dengan pemberian ASI, memperbaiki asupan makanan sapihan, menggunakan air bersih yang cukup banyak, mencuci tangan, menggunakan jamban keluarga, cara membuang tinja yang baik dan benar serta pemberian immunisasi campak, pada balita, 1 sampai 7 % kejadian diare berhubungan dengan campak, dan diare yang terjadi pada campak umumnya lebth berat dan lebih lama (susah diobati, cendrung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel usus. Diperkirakan imunisasi campak yang mencakup 45 sampai 90 % bayi berumur 9 sampai 11 bulan dapat mencegah 40 sampai 60% kasus campak, 0,6 sampai 3,8% kejadian diare dan 6 sampai 25% kematian karena diare pada balita.
Banyak faktor nsiko yang mempengaruhi terjadinya diare pada bayi dan balita. Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal—oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung dengan tangan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. (melalui 4 F =finger,flies,fluidfield.
Adapun faktor resiko terjadinya diare yaitu:
2.1.10.1 FaktorAnak
Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang paling banyak mendenta diare, kerentanan kelompok usia ini juga banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur anak, pemberian ASI, status gizi anak dan status imunisasi campak.
a. Faktor umur
Sebagian besar diare terjadi path 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi tertinggi terjadi path kelompok umur 6 sampai 11 bulan, path saat diberikan makanan pendamping ASI (Juffrie, 2011). Hal ini dikarenakan belum terbentuknya kekebalan alami dan anak usia dibawah satu tahun. Pola mi menggambarkan kombmasi efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakten tmja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau bmatang path saat bayi mulai thpat merangkak (Depkes, 1999).
Dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinthamurniwaty (2005) terhadap faktor-faktor risiko kejadian diane akut di Semarang menyatakan bahwa kelompok umur yang paling banyak menderita diare adalah umur < 24 bulan
yaitu sebesar 58,68 %, kemudian 24-36 bulan sebesar 24,65 %, sedangkan paling sedikit umur 37-60 bulan 16,67 %.
Dan beberapa penelitian yang dilakukan bahwa terdapat perbedaan jumlah kasus anak laki-laki dan perempuan yang mendenita dIane. Palupi (2009) dalam penelitiannya tentang status gizi hubungannya dengan kejadian diane path anak diane, menjelaskan bahwa pasien laki-laki yang mendenita diane lebih banyak dan pada perempuan dengan perbandingan 1,5:1 (dengan proporsi pada anak laki-laki sebesar 60 % dan anak perempuan sebesar 40%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Santoso (2005) yang menyatakan bahwa risiko kesakitan diane path balita
perempuan sedikit lebih rendali dibandingkan dengan balita laid-laid dengan perbandingan 1: 1,2, walaupun hingga saat liii belum diketahui penyebab pastinya. Kemungkinan terjadinya hal tersebut dikarenakan path anak laki-laki lebth aictif dibandingkan dengan perempuan, sehingga mudah terpapar dengan agen penyebab diare.
c. Status Gizi
Status gizi pada anak sangat berpengaiuh terhadap kejadian penyakit diare. Pada anak yang mendeiita kurang gizi dan gizi buruk yang mendapatkan asupan makan yang kurang mengakibatkan episode diare akutnya menjadi lebih berat dan mengakibatkan diare yang lebih lama dan sering. Risiko meninggal akibat diare persisten dan atau disentri sangat meningkat bila anak sudah mengalami kurang gizi. Beratnya penyakit, Iamanya dan risiko kematian karena diare meningkat path anak-anak dengan kurang gizi, apalagi path yang menderita gizi buruk (Palupi, 2009).
Dan penelitian yang dilakukan oleh Adisasmito (2007) terhadap beberapa penelitian faktor risiko diare di Indonesia didapatkan basil bahwa status gizi yang buruk merupakan faktor risiko teijadinya diare. Hal mi sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinthamunuwaty (2005) yang menyatakan bahwa balita dengan status gizi rendah mempunyai risiko 4,21 kali terkena diare akut dibanding balita dengan status gizi baik.
Menurut Suraatmaja (2007), pada balita, 1-7% kejadian diare berhubungan dengan
campak, dan diare yang terjadi pada campak umumnya lebih berat dan lebih lama (susah diobati, cendrung menjadi kroms) karena adanya kelainan path epitel usus. Diare dan disentri lebih sering terjadi atau berakibat berat path anak-anak dengan campak atau menderita campak thiam 4 minggu terakhir. Hal liii disebabkan karena penurunan kekebalan pada penderita (Depkes, 1999).
2.1.10.2 FaktorOrangtua
Peranan orang tua dalam pencegahan dan perawatan anak dengan diare sangatlab penting. Faktor yang mempengaruhinya yaitu umur ibu, tingkat pendidikan, pengetahuan ibu mengenai hidup sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Rendahnya tingkat pendidikan
ibu dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pencegahan diare dan perawatan anak dengan diare merupakan penyebab anak terlambat ditangani dan terlambat mendapatkan
pertolongan sehingga beresiko mengalami dehidrasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hermin (1994), ditemukan bahwa kelompok ibu
dengan status pendidikan SLTP keatas mempunyai kemungkinan 1,25 kali memberikan cairan rehidrasi oral dengan baik path balita diban’ding dengan kelompok ibu dengan status pendidikan SD kebawah. Dan penelitian Cholis Bachnoen dan Soemantri (1993) diketahui pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhathp morbiditas anak balita, begitu pula basil penelitian Sunoto (1990).
Tingkat pengetahuan ibu, sikap dan perilaku keluarga dalam tatalaksana penderita diare mencegah terjadinya kondisi anak dengan dehidrasi (Sukawana, 2000)
Sementara itu dan hasil survei yang dilakukan oleh SDKI (2007) terhadap pengetahuan ibu tentang diare didapatkan data bahwa pengetahuan ibu tentang pembenian paket oralit lebih rendah pada wanita dengan kelompok umur 15-19 tahun dibandingkan dengan wanita yang lebih tua. Sementara itu pendidikan ibu mempunyai hubungan yang positif dengan pengetahuan ibu tentang pembenian paket oralit.
Di daerah kumuh yang padat penduduk, kurang air bersth dengan sanitasi yang jelek akan mengakibatkan penyakit mudah menular. Pada beberapa tempat shigellosis yaitu penyebab diare merupakan penyakit endemik, infeksi dapat benlangsung sepanjang tahun, terutama pada bayi dan anaka nak yang berumur 6 bulan sampai 3 tahun (Depkes, 1999).
Penularan penyakit diare sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana sebagian besar penularan melaluifaecalo ral yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana air bersih dan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan serta perilaku sehat dan keluarga.
2.1.10.4 Hyegine dan Kebersihan din
Perilaku hyegine dan kebersihan ibu dan anak mempunyai pengaruh terhadap pencegahan terjadinya diare path bayi dan balita, salah satu perilaku hidup bersih yang sening dilakukan adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan path anak dan juga setelah anak buang air besar (Hira, 2002)
Banyak penyakit mudah ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau dan tangan ke mulut. Perilaku mencuci tangan mengurangi nsiko penularan penyakit pada salman cema (tinja) maupun salman pernafasan. (SDKI, 2007)
Tangan yang kotor dan kuku panjang merupakan sarana berkembang biaknya agen kuman dan bakteri terutama penyebab penyakit diane. Oleh sebab itu pentingnya orang ma memperhatikan kebersihan tangan dan kuku pada anak usia bayi dan balita, dmiana pada usia mi anak berada pada tahapan dimana lebih cendnrng untuk memasukkan benda atau tangan ke dalam mulut.
2.1.10.5 Sosial ekonomi
syarat kesehatan sehingga mudah terserang diane. Menurut Adisasmito (2007) ada beberapa hal yang mempengaruhi faktor sosial ekonomi yaitu jumlah balita dalam keluarga, jenis pekeijaan , pendidikan ayah, pendapatan, jumlah anak dalam keluarga dan faktor ekonomi. Dan berbagai faktor yang diteliti falctor ekononii dan pendapatan keluargalah yang menunjukkan hubungan yang sigrnfikan. Hal ini menunjukkan bahwa rendabnya status ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor risiko penyebab teijadinya diane tertutama path anak bayi dan balita.
Konsep Health Promotion (RPM) dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam pencegahan terhadap kejadian penyakit diare path anak. Diperlukan komitmen bersama dan