‘Revolusi M ental’ dan Reformasi Hukum Oleh
M irza Satria Buana
Jargon polit ik ‘revolusi m ent al’ yang saat ini sering t erdengar baik di media-media sosial sam pai
perbincangan sant ai di w arung kopi sangat m enarik unt uk dianalisa. Banyak pro dan kont ra t erkait
jargon polit ik t ersebut , salah sat u yang t erhangat adalah serangan polit ik yang m enuding jargon
t ersebut dan salah sat u calon presiden sebagai bagian dari ideologi dan ant ek-ant ek neo-kom unis di
Indonesia. Karena it u jargon t ersebut harus dit olak oleh m asyarakat luas. Tulisan ini dibuat t idak unt uk
m endukung salah sat u kandidat Presiden, nam un bert ujuan hanya unt uk m engklarifikasi pandangan
diat as sem bari m enam bah perspekt if dalam diskursus pem ilihan presiden yang sedang panas akhir-akhir
ini. Lebih spesifik t ulisan ini dit ujukan unt uk m enganalisa problem at ika reform asi hukum di Indonesia
yang dirasa kurang efekt if, dim ana ‘revolusi m ent al’ dapat m em perbaiki sist em nilai dan m oralit as
hukum .
Akar historis dan filosofis ‘revolusi mental’
‘Revolusi ment al’ at au dalam bahasa yang lebih sederhana dapat disebut sebagai pem baharuan
m ent alit as secara radikal, sejat inya m erupakan ajaran universal. Argumen ini dapat dilacak secara
hist oris dari perkem bangan dan prakt ek pergerakan ideologi m aupun dalam ajaran-ajaran agam a dan
kepercayaan besar di dunia. Am bil lah cont oh Islam , sebagai agam a m ayorit as di Indonesia. Nabi
M uham m ad m endapat kan w ahyu Illahi unt uk m e-‘revolusi’ m ent alit as dan akhlak um at pada um um nya
dan bangsa Arab pada khususnya, t erut am a pada m asa-m asa kegelapan Jahiliyah. Kit a bisa m engingat
bagaim ana Nabi M uham m ad dan para sahabat beliau sebagai minorit as m elaw an arus kezalim an di
m asa aw al penyebaran Islam di Jazirah Arab dengan cara yang sangat revolusioner. Beliau t idak hanya
m enyebarkan nilai-nilai kesalehan ilahiah, nam un juga nilai-nilai kesalehan sosial kepada m asyarakat
Jahiliyah pada m asa it u. M engakui ke-Esaan Ilahi sembari berbaik sangka kepada sesam a m ahluk, jujur,
t oleran dan m engedepankan perdam aian merupakan subst ansi dari ajaran Islam.
Begit u juga halnya dengan para pem im pin-pemim pin agam a lain yang bertindak radikal melawan arus
hegem oni pemim pin zalim. M ereka m em baw a sem angat -sem angat perubahan yang dim ulai dari aspek
t erkecil; diri sendiri, sam pai pada akt ualisasi dalam lingkup m asyarakat , berbangsa dan bernegara. Tidak
salah kiranya bila kit a m enyebut m ereka sebagai aw al m ula pem im pin-pemim pin revolusioner. Bila
agam a kit a sendiri lahir dari rahim ‘revolusi’, m engapa begit u alergi kit a dengan kat a ‘revolusi’?
Nilai t ransendent al-religius ini kem udian juga diadopsi oleh pem ikiran sekuler-humanis, semisal John
Locke, Volt aire, Karl M arx, dan M ahat m a Gandhi, disesuaikan dengan kont eks perjuangan mereka
m asing-m asing. Dalam kont eks perjuangan John Locke di Inggris dan Volt aine di Perancis, m usuh
bersam a kaum t erdidik adalah m onarki absolut dan hegem oni gereja yang cenderung ot orit er dan
Penulis adalah Dosen FH UNLAM dan Penelit i di program Dokt oral Hukum di Universit y of Queensland, Aust ralia.
m ahakuasa (omnipot ent ). Kont eks revolusi M arx Karl adalah kont eks pergerakan prolet arian m elaw an
sist em borjuis yang kapit alist is, yang m ana hal t ersebut adalah t onggak lahirnya sosialisme melawan
kapit alism e, bukan lahirnya paham kom unism e. Perjuangan m ereka m elahirkan sem angat pencerahan
di benua eropa (aufklarung). Karl M arx sendiri diakui sebagai salah sat u bapak ilm u sosiologi yang
pem ikirannya sam pai saat ini berpengaruh besar dalam ilm u sosial, polit ik dan hukum . Di India, nilai
t ersebut diakt ualisasi oleh Gandhi yang t am pil sebagai ant i-t esis prakt ek kolonial Inggris yang represif
dan ot orit er.
Tulisan ini t idak bert ujuan unt uk m engeneralisasi nilai-nilai yang m endasari prakt ek-prakt ek pergerakan
at au perjuangan diat as, karena dalam set iap prakt ek pergerakan pasti ada m odifikasi nilai yang berbeda
sat u sam a lain. Nilai-nilai t ransendent al yang m endasari perjuangan m ereka haruslah dicerm at i dari
kont eks at au t ujuan perjuangan m ereka. Adalah ahistoris dan m iskin filsafat bila m enilai suat u nilai at au
ajaran dengan alpa m elihat kont eks dan suasana kebat hinan yang m elingkupi akt ualisasi dari ajaran
t ersebut .
Reformasi atau revolusi (mentalitas) hukum?
Salah sat u generat or t erpent ing sebuah negara adalah hukum , dim ana hukum berperan t idak sem at a
sebagai ‘w asit ’ nam un juga berperan sebagai penjaga sist em nilai-nilai yang hidup dim asyarakat . Hukum
sebagai ‘w asit ’ cenderung eksklusif dan sem at a ‘berdiri dim enara gading’ dan sering alpa melihat
keberagam an dan kebut uhan m asyarakat dibaw ahnya. Dalam kont eks Indonesia di m asa Orde Baru, kit a
pernah hidup dibaw ah pengaw asan w asit bernam a Negara. Hukum t idak sert a mert a harus net ral,
nam un harus ‘berpihak’ kepada ket idak-adilan dan diskrim inasi, baik yang dilakukan oleh individu,
golongan at au oleh negara it u sendiri.
Revolusi dalam kont eks ini jangan dit afsirkan secara derogat if, nam un harus dim aknai sebagai ikht iar
radikal dan holist ik unt uk m erubah t at anan berhukum Indonesia. Ajaran ‘revolusi’ ini sebenarnya dekat
dengan konsep berhukum dari Law rence Friedm an, yang m em bagi hukum dalam t iga spekt rum ;
subst ansi, st rukt ur dan budaya hukum . Hukum dim aknai sebagai sebuah bangunan sist em yang holist ik
dim ana dalam m asing-m asing bagian ada hubungan yang saling berkelindan dan t idak t erlepaskan.
‘Revolusi’ dalam berhukum juga dapat dilacak dari beberapa pem ikiran t okoh-t okoh Realism e Hukum di
Am erika, yang m enit ik berat kan pem bangunan hukum pada aspek individu penegak hukum ; hakim ,
jaksa, polisi dan pengacara.
Perlu diinsyafi bahw a, reform asi hukum hanya menyent uh aspek subst ansi dan st rukt ur hukum .
Am andemen dan revisi beberapa produk perundang-undangan m asa lalu, sem bari diikut i dengan
pem bent ukan lem baga-lem baga baru semisal; M ahkam ah Konst it usi, Kom isi Yudisial dan Kom isi
Pem berant asan Korupsi, m erupakan cont oh-cont oh r eform asi subst ansi dan st rukt ur hukum . Reform asi
hukum pun t erasa m asih jauh panggang dari api.
Revolusi (ment alit as) hukum perlu digunakan unt uk m em perkuat aspek-aspek mikro dalam hukum ,
sem isal budaya hukum m asyarakat dan penegak hukum . M asyarakat dengan karakt erist ik het erogen
sepert i Indonesia perlu pendekat an yang lebih sosiologis-hum anis ket im bang legalist ik, karena
m enum buh suburkan pem aham an akan pent ingnya t aat at uran, disiplin dan kejujuran dalam diri
m asyarakat , t erut am a bagi generasi m uda m erupakan proyek besar hukum Indonesia. Pem aham an akan
hal t ersebut dim ulai dari spekt rum t erkecil; keluarga dan m asyarakat sekit ar dengan sokongan
pem erint ah lew at pendidikan hukum yang baik, dan t erut am a dengan m em beri cont oh yang baik
kepada m asyarakat . Disini lah esensi sem boyan ‘t ut w uri handayani’ yang sem angat nya sudah ham pir
pudar di Indonesia. Dari belakang pem erint ah memberi dorongan dan arahan, dit engah m asyarakat
m encipt akan prakarsa dan gagasan. Generasi kit a m ungkin sudah cukup fam iliar dengan adagium ‘Ada
Duit Arusan Lancar’ (ADUL) at au Ujung-Ujung Nya Duit (UUD), t egakah kit a bila anak-cucu kit a m ew arisi
budaya hukum yang sam a?
Tidak kalah pent ingnya adalah budaya hukum penegak hukum. Tidak asing dit elinga kit a, sum pah
serapah kepada para penegak hukum , m ulai dari pungut an liar di jalan raya, sam pai ket idak adilan
didepan pengadilan yang lazim t erjadi. Diinsyafi bahw a m oralit as hukum penegak hukum sendiri sudah
lam a t ercabik-cabik dari dalam . Dalam penegakan hukum , hukum jangan lah sem at a hanya dim aknai
sebagai t eks-t eks norm at if berisi at uran, larangan dan perint ah, nam un lebih pent ing lagi adalah
bagaim ana para penegak hukum mem aknai dan m emaham i t eks-t eks hukum t ersebut . Penegak hukum
bukanlah ‘robot ’ penghapal undang-undang t api m anusia yang penuh rasa em pat i dan kasih saying.
Kem bali lagi dit ekankan bahw a penegak hukum t idak sert a m ert a harus bert indak ibarat ‘w asit ’, nam un
juga harus m am pu ‘berpihak’ kepada keadilan dan m oralit as hukum . Dengan ‘revoluasi’ m ent alit as
hukum , hukum kem bali pada fit rah alam nya unt uk m em anusiakan m anusia. Dalam kont eks inilah
diperlukan individu-individu dalam sist em hukum yang berani m elakukan ot okrit ik t erhadap bobroknya
budaya hukum penegak hukum . Karena menyapu lantai dengan sapu yang basah dan kot or, t idak akan
berguna.
Di ujung t ulisan sederhana ini, kit a m ungkin bisa sedikit m em aham i m engapa pencipt a lagu kebangsaan,
Indonesia Raya menyelipkan sebait lirik filosofis dalam lagu kebangsaan kit a; ‘bangun lah jiw a nya,
bangun lah raga nya unt uk Indonesia Raya’.