1)
Mahasiswa PGSD UPI Kampus Cibiru, NIM 1101533 2) Dosen Pembimbing I, Penulis Penanggung Jawab 3)
Dosen Pembimbing II, Penulis Penanggung Jawab
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL
MULTILITERASI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR
Arini Maharani
1, Tatang Herman
2, Edi Rohendi
3 Jurusan S-1 PGSD Kampus Cibiru Universitas Pendidikan IndonesiaABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berfikir kritis siswa sekolah dasar. Hal ini dapat terlihat dari hasil PISA 2012 yang menyatakan bahwa Indonesia berada diperingkat dua terbawah dalam proses evaluasi pendidikan international. Salah satu penyebabnya adalah karena kemampuan berfikir kritis yang siswa belum berkembang, dimana kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan tes tersebut ataupun permasalahan lainnya. Pembelajaran matematika dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, karena pembelajaran matematika memerlukan pemikiran yang mendalam dalam menyelesaikannya. Selain itu pembelajaran matematika menjadi media untuk siswa dalam memahami berbagai hal yang bersumber dari lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memilih model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa salah satunya dengan menggunakan model Multiliterasi. Pembelajaran dengan model Multiliterasi terdiri dari empat siklus belajar yaitu setup, explore, share and discuss, dan presenting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berfikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model multiliterasi dan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Penelitian ini berbentuk penelitian kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Berdasarkan pengolahan data yang didapatka, diketahui rata-rata skor pretes kelompok kontrol sebesar 23,33 dan kelompok eksperimen sebesar 21,81. Setelah mendapatkan perlakuan berbeda, maka diperoleh rata-rata kelompok kontrol sebesar 50,74 dan kelompok eksperimen sebesar 72,93. Kualitas peningkatan kemampuan berfikir kritis berada di batas atas kategori sedang sedangkan peningkatan kelompok kontrol berada di batas bawah kategori sedang serta peningkatan kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Dengan demikian, model Multiliterasi dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa Sekolah Dasar.
Kata kunci : Multiliterasi, Berpikir Kritis, Pembelajaran Matematika di Indonesia, Kelas V Sekolah Dasar, Penelitian Kuasi Eksperimen.
THE INFLUENCE OF MATH LEARNING MULTILITERATION
MODEL TO INCREASE 5
THELEMENTARY SCHOOL STUDENTS
CRITICAL THINKING SKILLS
Arini Maharani
1, Tatang Herman
2, Edi Rohendi
3 Jurusan S-1 PGSD Kampus Cibiru Universitas Pendidikan IndonesiaABSTRACK
The research is motivated by the lower critical thinking skill of the elementary school students. It based on the results of PISA 2012, which states that Indonesia is the lowest second state on the international education evaluation. One of the reason is the student critical thinking skill are did not yet developing, which this one is very important to solve the test or the other problem. Mathematics learning would develop the critical thinking skill, because it would thinking hardly. Besides of that, mathematic would be their media to learn various knowledge from their environment. Therefore, teachers should be able to choose a learning model to develop students critical thinking skills. One of the solution is by using Multiliteration model. Multiliteration learning model consists of four learning cycles they are, setup, explore, share and discuss, and presenting. The purpose of this research is to determine the differences of raising critical thinking skills between the multiliteration learning student and the convensional learning student. This research is a quasi-experimental research with non-equivalent control group design. This research was done in SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Based on data processing of critical thinking skill test, the average pretest results of control group is 23,33 and experimental group is 21,81. After receiving different treatments, the average posttest result of control group is 50,74 and experimental group is 72,93. Improvement quality of student’s critical thinking of experimental group is upper limit medium category and control group is lower limit medium category. Moreover, improvement of mathematical connection of students from experimental group is higher than control group. Based on the results, Multiliteration learning model can be one of the alternative learning model to improve the student’s critical thinking skill.
Keywords: Multiliteration, Critical Thinking, Mathematic Learning in Indonesia, 5th of Elementary School, Quasi Experimental Research
1)
Mahasiswa PGSD UPI Kampus Cibiru, NIM 1101533 2)
Dosen Pembimbing I, Penulis Penanggung Jawab 3)
Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama (Kemendikbud, 2012). Pendidikan yang dimaksud bukan sekedar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan haruslah menjadi sarana latihan siswa untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Sejalan dengan hal tersebut, maka setiap warga Indonesia berhak mendapatkan pembelajaran yang dapat menuntunnya menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.
Matematika adalah salah satu bidang studi yang dipelajari siswa pada setiap jenjang pendidikan. Pembelajaran Matematika tentunya memiliki tujuan untuk menyelesaikan permasalahan khusunya yang berkaitan dengan permasalahan ilmu hitung dalam kehidupan siswa. Akan tetapi siswa yang telah mendapatkan pembelajaran matematika masih kesulitan dalam menghadapi permaslahan nyata dalam kehidupan. Hal ini merupakan bentuk kesenjangan nyata yang menjadi permasalahan besar bagi pendidikan Indonesia.
Kesenjangan ini terbukti dengan hasil Programme for International Student Asessment (PISA) 2012. PISA
adalah program internasional yang menilai kemampuan berbahasa, matematika dan sains anak yang telah menyelesaikan pendidikan dasarnya dan tengah menempuh sekolah mennegah. Berdasarkan keterangan Organisation for
Economic Co-operation and
Development atau OECD (2012) dalam
hasil PISA Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara yang mengikuti survei ini. Kondisi ini tentunya menjadi PR besar bagi penyelenggara Pendidikan Indonesia.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan bukti langsung proses pembelajaran matematika. Siswa tidak terbiasa dengan tantangan menyelesaikan permasalahan.
Siswa pada umumnya hanya melihat deretan angka dan melewatkan proses menganalisis, mengkomunikasikan dan langkah-langkah penting lainnya. Keadaan ini membuktikan ketidaksiapan siswa dalam menghadapi tantangan abad 21.
Tuntutan kemampuan abad 21 secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi. Morocco, Aguilar, dan Bershad, (2008) menyampaikan tentang empat kompetensi yang harus dikuasia siswa dalam menghadapi abad 21. Kompetensi tersebut berkaitan dengan pemahaman, berpikir kritis, elaborasi, komunikasi dan berpikir kreatif. Pada umumnya siswa Indonesia dapat memahami konteks yang dihadapinya. Akan tetapi siswa belum mampu mengkritisi permasalahan yang ada. Begitupun dengan kemampuan lainnya, belum nampak pada diri siswa.
Siswa akan mampu
mengkounikasikan dan membuat karya yang kreatif ketika siswa mampu mengkritisi suatu permaslahan. Oleh karena itu kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting dimiliki siswa. Berpikir kritis adalah kemampuan siswa dalam mengenali suatu permasalahan. Secara sederhana berpikir kritis dapat dimaknai sebagai kemampuan menilai kebenaran suatu pernyataan yang diberikan dengan menggunakan berbagai cara. Cara tersebut meliputi proses analisis, pemberian alasan, penilaian, sintesis, dan lain-lain. Dengan demikian kita sadari bersama bahwa penting adanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah yaitu penggunaan kurikulum 2013. Akan tetapi berdasarkan pelaksanaan kurikulum 2013 sejauh ini, konsep matematika menjadi bias karena tuntutan pembelajaran yang terintegrasi. Selain itu, penyampain konsep menjadi kabur karena kurangnya pendalaman konsep. Oleh sebab itu pendidik perlu
mempertimbangkan strategi atau model pembelajaran yang digunakannya. Dalam hal ini, peneliti merekomendasikan penggunaan model Multiliterasi dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa khususnya kemampuan berpikir kritis.
Model multiliterasi adalah model pembelajaran yang mewadahi pembelajaran integratif. Model ini memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kompetensi berpikir kritisnya. Abidin (2014) menyampaikan bahwa Model Pembelajaran Multiliterasi dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran yang mengoptimalkan keterampilan-keterampilan multiliterasi. Keterampilan multiliterasi yang dimaksud adalah kemampuan memformulasikan, membangun dan menginterpretasikan matematika dalam berbagai konteks kehidupan.
Multiliterasi dapat diartikan pula pembelajaran yang menggunakan berbagai literatur dan keterampilan belajar. Dalam penelitian ini peneliti mengintegrasikan pembelajaran matematika dengan kemampuan berbahasa. Dimana dalam mempelajari matematika diperlukan pula kemampuan berbahasa seperti menyimak, membaca, memahami dan lain-lain. Dalam praktiknya pembelajaran multiliterasi menuntut berbagai macam penggunaan media, sumber belajar, literatur dan lain-lain. Dengan demikian multiliterasi dapat dipahami pula sebagai model yang mengoptimalkan keterampilan-keterampilan multiliterasi untuk memahami konteks lintas kurikulum.
Pemilihan model multiliterasi berdasarkan kesesuaian model tersebut dengan rujukan teori belajar. Model ini sesuai dengan teori yang disampaikan Ausubel karena pada tahap pertama pembelajaran multiliterasi menekankan pemahaman siswa pada pentingnya pembelajaran yang akan diikutinya. Pembelajaran ini sesuai pula dengan yang
disampaikan Vygotsky (dalam Suyono dan Hariyanto, 2013) dimana disampaikan bahwa kebudayaan menjadi salah satu faktor utama dalam suksenya belajar. Dalam hal ini bahasa adalah budaya yang sangat lekat dengan diri siswa. Dapat diartikan pula bahwa kemampuan berbahasa dapat memabantu proses pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran Multiliterasi dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran Multiliterasi dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Dasar Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Peneliti menetapkan Kelas V sebagai sampel penelitian. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara non probability
sampling yaitu dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil
observasi pada guru bidang studi matematika dan guru wali kelas, terdapat dua kelas yang dapat digunakan untuk pelaksanaan penelitian dimana kemampuan awal kedua kelas tidak jauh berbeda. Kedua kelas dipilih untuk menjadi sampel penelitian. Kemampuan matematis kedua kelas yang sama menjadi landasan peneliti dalam menentukan kelas yang dapat dipilih menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kedua kelas tersebut adalah kelas VA dan VC. Pada penelitian ini, peneliti menetapkan kelas VA sebagai
kelompok eksperimen dan kelas VC sebagai kelompok kontrol.
Penelitian kuantitatif ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Sugiyono (2013, hlm.107) mengemukakan bahwa “metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”. Pemilihan metode kuasi eksperimen berdasarkan kesesuain kebutuhan peneliti di lapangan. Metode ini sesuai dengan permasalahan yang dirasakan.
Desain penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah nonequivalent kontrol group design. Dimana dalam
desain ini kedua kelompok mendapatkan pretes dan postes. Pretes dan postes adalah soal tes kemampuan berpikir kritis yang diberikan kepada kedua kelas. Soal pretes dan postes adalah bundel soal yang sama. Pretes diberikan diawal sebelum perlakuan dilaksanakan, sedangkan postes diberikan setelah seluruh perlakuan selesai dilaksanakan. Pada penelitian ini kelas eksperimen memperoleh perlakuan dengan mnedapatkan pembelajaran menggunakan Model multiliterasi dan kelas kontrol mendapatkan pembelajaran biasa yakni
saintifik pembelajaran yang biasa dilakukan dalam kurikulum 2013. Berikut ini merupakan gambaran desain penelitian kuasi eksperimen
nonequivalent kontrol group design
menurut Ruseffendi (2010).
O X O
O O
Keterangan:
O : Pretes dan Postes (tes kemampuan berpikir kritis)
X : Pembelajaran menggunakan Model Multiliterasi
Soal tes yang diberikan dalam pretes dan postes merupakan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan
adalah tes, berupa soal dalam bentuk uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, selain itu digunakan pula instrumen pendukung berupa lembar observasi untuk kegiatan yang dilakukan guru dan siswa. Lembar observasi digunakan sebagai upaya pengumpulan informasi otentik atas apa yang dilakukan di kelas. Lembar observasi ini digunakan di kelas eksperimen.
Sebagai upaya mendapatkan data yang baik, sebelum soal digunakan sebagai instrumen penelitian terlebih dahulu peneliti membuat kisi-kisi instrument dan dilakukan uji coba. Instrumen yang diujicobakan merupakan instrumen yang telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Uji coba soal dilakukan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap butir soal yang akan digunakan dalam penelitian. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud pemilihan soal yang baik dan sesuai. Hasil uji coba tes kemampuan berpikir kritis ini dianalisis menggunakan program software Anates V4 dan software SPSS (Statistic Product
and Servive Solution) versi 17.0 for Windows.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, perolehan rata-rata skor pretes dan postes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sebagai berikut. Tabel 1 Deskripsi Skor Pretes dan Postes
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelas N Sum Min Max Mean Std. Deviasi Eksp erime n Pre tes 27 589 3,0 50,0 21,81 14,37 Pos tes 27 1969 32,0 92,0 72,93 15,47 Kont rol Pre tes 27 670 3,0 67,0 23,33 16,84 Pos tes 27 1370 10,0 82,0 50,47 19,86
Berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak jauh berbeda. Hal ini dapat dilihat dari perolehan rata-rata skor pretes kelas eksperimen sebesar 21,81 dan rata-rata skor pretes kelas kontrol 23,33. Selisih rata-rata skor pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 1,52 Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa rata-rata skor pretes kelas kontrol sedikit lebih besar dibandingkan dengan rata-rata skor pretes kelas eksperimen. Namun, secara keseluruhan kedua kelas penelitian memiliki kemampuan berpikir kritis yang sama. Untuk melihat persamaan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka dapat dilihat dari analisis statistik perbedaan rerata kedua kelas. Sebagai syarat pengujian maka perlu diketahui terlebih dahulu normalitas dan homogenitas dari data yang didapatkan.
Uji normalitas terhadap dua kelompok tersebut dilakukan dengan uji
Kolmogorov-Smirnov untuk data 30 dengan menggunakan program SPSS 17.0
for Windows. Hipotesis dalam uji
normalitas ini adalah sebagai berikut. H0 : Data berasal dari populasi
berdistribusi normal
Ha : Data tidak berasal dari populasi
berdistribusi normal
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar =5% kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah H0 diterima jika nilai
signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak
jika nilai signifikansi < 0,05. Berikut adalah hasil perhitungan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan program SPSS versi 17.0
for Windows.
Tabel 2 Normalitas Distribusi Skor
Pretes Kelas Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. eksperimen .115 27 .200* kontrol .169 27 .045
Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa hasil output uji normalitas varians dengan menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov menunjukkan signifikansi data
skor pretes untuk kelompok eksperimen adalah 0,200 dan kelompok kontrol adalah 0,045. Karena nilai signifikansi kedua kelompok lebih dari 0,05, maka H0
diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwa distribusi kedua sampel adalah normal.
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi sama. Berikut adalah hipotesis untuk uni homogenitas.
Ho : tidak terdapat perbedaan varians
antara kedua kelompok sampel Ha : terdapat perbedaan varians antara
kedua kelompok sampel
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar =5% kriteria pengambilan keputusan ini adalah H0
diterima jika signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak jika nilai signifikansi (sig)
< 0,05. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3 Homogenitas Dua Varians Skor Pretes
Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig.
.321 1 52 .573 Berdasarkan tabel 3 di atas, dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi uji
Levene Statistic berada di atas 0,05 yaitu
0.573. Berdasarkan hasil uji Levene
Statistic tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa H0 diterima, artinya tidak terdapat
perbedaan varians antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Karena uji normalitas dan uji homogenitas memenuhi kriteria untuk dilakukan uji t, maka berikut adalah hipotesis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan rerata skor pretes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu:
Ho : µ1 = µ2, tidak terdapat perbedaan
rata-rata kemampuan berpikir kritis H1 : µ1 ≠ µ2, terdapat perbedaan rata-rata
kemampuan berpikir kritis
Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima.
b) Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak.
Tabel 4 Independent Sampel Test Pretes
Independent Sampel Test
T df Sig (2-tailed) Mean Difference Std.Error Difference -.355 52 .724 -1.51852 4.27909
Hasil uji beda dua rata-rata dapat dilihat dari tabel 4.6, maka hasil dari
output didapat nilai thitung adalah -0,355
dengan signifikansi 0,724. Ttabel dapat
dilihat pada tabel statistik signifikansi (uji dua sisi) diperoleh untuk ttabel 2,052,
dengan derajat kebenaran (df) n-2=54-2=52. Karena signifikansi > 0,05 (0,355 > 0,05) dan –ttabel ≤ thitung ≤ ttabel (2,052 ≤
-0,355 ≤ 2,052) maka Ho diterima. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol adalah sama. Dalam artian tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol.
Postest dilakukan untuk melihat kemampuan berpikir kritis siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah mendapatkan perlakuan yang berbeda. Hasil postes kedua kelas tersebut dapat kita lihat kembali di tabel1. Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dilihat setelah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mendapat perlakuan yang berbeda, diperoleh rata-rata skor postes kelompok eksperimen sebesar 72,93 dan rata-rata skor postes kelompok
kontrol sebesar 50,47. Dengan demikian terlihat bahwa rata-rata skor postes kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan rata-rata skor postes kelompok kontrol dengan selisih 22,46. Untuk melihat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka dapat dilihat dari analisis statistik perbedaan rerata kedua kelas. Sebagai syarat pengujian maka perlu diketahui terlebih dahulu normalitas dan homogenitas dari data yang didapatkan.
Uji normalitas terhadap data skor
postes dua kelompok penelitian dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk data 30 menggunakan program SPSS 17.0 for Windows. Hipotesis dalam uji normalitas ini adalah sebagai berikut.
H0 : Data berasal dari populasi
berdistribusi normal
Ha : Data tidak berasal dari populasi
berdistribusi normal
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar =5% kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah H0 diterima jika nilai
signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak
jika nilai signifikansi < 0,05. Berikut adalah hasil perhitungan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan program SPSS versi 17.0
for Windows.
Tabel 5 Normalitas Distribusi Skor
Postes
Kelompok Kolmogorov-Smirnov
Statistic Df Sig.
Eksperimen .166 27 .055
Kontrol .130 27 .200*
Berdasarkan tabel 5 di atas diperoleh nilai signifikansi skor postes kelas eksperimen adalah 0,055 dan kelas kontrol 0,200. Nilai signifikansi kedua kelompok tersebut lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima. Hal ini dapat diartikan
bahwa data skor postes untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol
berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi sama. Berikut adalah hipotesis untuk uji homogenitas.
Ho : tidak terdapat perbedaan varians
antara kedua kelompok sampel Ha : terdapat perbedaan varians antara
kedua kelompok sampel
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar =5% kriteria pengambilan keputusan ini adalah H0
diterima jika signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak jika nilai signifikansi (sig)
< 0,05. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6 Homogenitas Dua Varians Skor
Postes
Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig.
2.152 1 52 .148
Berdasarkan tabel 6 diperoleh nilai signifikansi skor pretes adalah 0,148. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho
diterima, artinya tidak terdapat perbedaan
varians antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa data skor postes hasil belajar untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan varians. Dengan demikian hasil uji homogenitas postes kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.
Selanjutnya dilakukan uji t, berikut merupakan hipotesis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan rerata skor
postes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu:
Ho : µ1 = µ2, tidak terdapat perbedaan
rata-rata kemampuan berfikir kritis H1 : µ1 ≠ µ2, terdapat perbedaan rata-rata
kemampuan berfikir kritis
Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima.
b) Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak.
Pada tahap ini akan dilakukan uji t (T-Test Sample Independent) dengan asumsi data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Hasil uji perbedaan rerata dari postes kedua sampel tersaji pada tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7 Independent Sampel Test Postest
Independent Sampel Test
T df Sig (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 4.579 52 .000 22.18519 4.84504
Hasil uji beda 2 rata-rata dapat dilihat dari tabel 7, maka hasil dari output didapat nilai thitung (Equal Variance
Assumed) adalah 4,579 dengan
signifikansi 0,000. Ttabel dapat dilihat
pada tabel statistik signifikansi 0,05 (uji dua sisi) diperoleh untuk ttabel 2,052
dengan derajat kebenaran (df) n-2=54-2=52. Karena signifikansi ≤ 0,05 (0,00 > 0,05) dan thitung > ttabel (4,381 > 2,052)
maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa rata-rata populasi kelompok berbeda. Kesimpulan ini dapat pula diartikan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran multiliterasi dan siswa kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran biasa (saintifik).
Dari semua uraian diatas, dapat ditarik sebuah benang merah bahwasanya terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara kelompok siswa eksperimen yang menggunakan pembelajaran Model Multiliterasi dengan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran biasa (konvensional) dalam konteks Kurikulum 2013 yaitu pembelajaran biasa adalah pembelajaran saintifik.
Berdasarkan data hasil postes menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran Model Multiliterasi lebih
baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Untuk mengetahui kualitas pembelajaran matematika yang sudah dilakukan dapat dilakukan uji statsistik yaitu uji gain. Uji gain dilaksanakan dengan cara membandingkan nilai pretes dan postes. Pada tahap ini akan dilihat perubahan atau peningkatan kemampuan berpikir kritis setiap siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 8 Deskripsi Skor Gain Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelas N Sum Min Max Mean Std.
Deviasi Eksperi men 27 17,7 6 0,27 0,93 0,65 0,179 Kontrol 27 9,6 0,03 0,81 0,35 0,193 Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwasanya rata-rata indeks gain kelas eksperimen yaitu 0,6578 yaitu menurut kriteria indeks gain termasuk kualitas gain sedang, dan rata-rata indeks gain kelas kontrol yaitu 0,35 menunjukkan bahwa kualitas gainya juga termasuk kategori sedang. Meskipun keduanya ada dalam kategori yang sama yaitu sedang tapi memiliki perbedaan, kelas eksperimen di batas atas kategori sedang sedangkan kelas kontrol di batas bawah kategori sedang. Hal ini berarti bahwa kualitas pembelajaran siswa yang mendapatkan pembelajaran Model Multiliterasi lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran biasa. Untuk memperkuat semua uraian diatas, maka akan dilakukan uji t terhadap rata-rata skor indeks gain, yang sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terlebih dahulu.
Hipotesis dalam uji normalitas ini adalah sebagai berikut.
H0 : Data berasal dari populasi
berdistribusi normal
Ha : Data tidak berasal dari populasi
berdistribusi normal
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar = 5% kriteria
pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah H0 diterima jika nilai
signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak
jika nilai signifikansi < 0,05. Pengajuan hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 9 Normalitas Distribusi Gain Kelompok Kolmogorov-Smirnov
Statistic Df Sig.
Eksperimen .139 27 .197
Kontrol .100 27 .200*
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hasil output uji normalitas varians dengan mengunakan uji
kolmogorov-smirnov menunjukkan nilai
signifikansi data skor gain untuk kelompok eksperimen adalah 0.197 dan kelompok kontrol adalah 0,200. Nilai signifikansi kedua kelompok lebih dari 0,05, oleh sebab itu Ho diterima. Hal ini
dapat diasumsikan bahwa distribusi data kedua sampel adalah normal.
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi sama. Berikut adalah hipotesis untuk uni homogenitas.
Ho : tidak terdapat perbedaan varians
antara kedua kelompok sampel Ha : terdapat perbedaan varians antara
kedua kelompok sampel
Dengan mengambil taraf signifikansi sebesar =5% kriteria pengambilan keputusan ini adalah H0
diterima jika signifikansi (sig.) 0,05 dan H0 ditolak jika nilai signifikansi (sig)
< 0,05. Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan output dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10 Homogenitas Dua Varians Skor
Gain
Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig.
Berdasarkan tabel 10 diperoleh nilai signifikansi berdasarkan rata-rata indeks gain adalah 0,981. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima, artinya
tidak terdapat perbedaan varians antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa indeks gain untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terdapat perbedaan varians atau homogen.
Selanjutnya dilakukan uji t, karena uji normalitas dan uji homogenitas memenuhi kriteria untuk dilakukan uji t. Berikut adalah hipotesis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan rerata skor
gain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Ho : µ1 ≤ µ2, peningkatan kemampuan
berpikir kritis siswa kelompok eksperimen tidak lebih baik daripada kelompok kontrol
H1 : µ1 > µ2, peningkatan kemampuan
berpikir kritis siswa kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol
Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,025, maka H0 diterima.
b) Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,025, maka H0 ditolak.
Tabel 11 Independent Sampel Test
Postest
Independent Sampel Test
T df Sig (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 5.96 52 .000 .30230 .05072
Berdasarkan tabel 11 di atas, terlihat bahwa t hitung untuk gain equal
variance assumed adalah 5,960 dengan
signifikansi 0,000. Nilai signifikansi di atas adalah nilai signifikansi dua pihak, maka untuk uji t satu fihak nilai signifikansi harus dibagi dua yaitu 0,000 :
2 = 0,00. Perolehan signifikansi uji satu fihak lebih kecil dari 0,025 (0,00 < 0,05) dan t hitung lebih besar dari t tabel (5,960 > 2,052), maka Ho ditolak. Hal ini dapat
didefinisikan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelompok eksperimen lebih baik dari kelompok kontrol.
Dari semua uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran Multiliterasi lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.
Hasil analisis pengujian hipotesis secara ststistik yang diungkapkan sebelumnya, menyatakan secara empirik hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Hal ini memiliki artian bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan model multiliterasi dengan yang mendapatkan pembelajaran menggunakan model biasa (saintifik) di kelas V sekolah dasar Laboratorium UPI Kampus Cibiru.
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya, rata-rata skor pretes kelompok eksperimen diperoleh sebesar 21,81. Setelah siswa mendapat perlakuan melalui pembelajaran Model Multiliterasi, kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari tingginya perolehan rata-rata skor postes siswa yaitu sebesar 72,93. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Model Multiliterasi mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan.
Hal ini sejalan dengan teori belajar kognitivisme dari Ausubel yang disampaikan oleh Suyono dan Hariyanto (2013) yang menyatakan bahwa proses belajar haruslah memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Sejalan dengan hal tersebut Vygotsky dalam Suyono dan Hariyanto (2013, hlm.120) mengungkapkan “Seluruh pengetahuan
terkonstruksi secara sosial dan kultural”. Bertemali dengan hal tersebut, Piaget dalam Suyono dan Hariyanto (2013) menyampaikan “guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari mengamati dan menemukan, memungut berbagai hal dari lingkungan”.
Pembelajaran Multiliterasi mampu memberikan pembelajaran dan menstimulus siswa melalui empat tahapan pembelajaran. Pada pembelajaran ini, pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa dengan dukungan lingkungannya menjadi menjadi modal utama yang kemudian diperkuat melalui kegiatan
setup, explorasi, share and discuss, dan presenting. Rasa penting akan pembelajaran mulai tumbuh di diri siswa dengana tahapan setup. Kegiatan pembelajaran secara individu dan kelompok dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan menciptakan interaksi sosial yang baik diantara siswa. Dengan strategi pembelajaran koperatif pada tahap
explorasi, share & discuss, dan
presenting menjadikan siswa memiliki
tanggung jawab yang sama untuk memaknai setiap pembelajaran dan penyelesaian masalah yang dihadapinya. Setiap tahapan pembelajaran Multiliterasi sangat mempengaruhi kemampuan berpikir siswa.
Kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan model Multiliterasi berkualitas sedang dengan nilai di batas atas kategori sedang. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji gainnya yaitu dengan skor 0,6578. Selain itu, model multiliterasi berpengaruh dengan sangat signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, hal ini dapat dilihat perbandingannya dengan model pembelajaran yang lazim digunakan. Pengaruhnya dapat dilihat dari perbedaan
kemampuan berpikir kritis antara kelompok eksperimen dan kontrol dengan melihat rata-rata skor postes masing-masing kelas. Kelompok eksperimen mendapatkan rata-rata skor postes sebesar 72,94 dan rata-rata postes kelompok kontrol adalah sebesar 50,74. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis kelompok eksperimen lebih baik dari kelompok kontrolnya.
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya, diperoleh t hitung untuk postes yang dilakukan terhadap kelompok eksperimen dan kontrol sebesar 4,579 dengan signifikansi 0,000 dengan t tabel untuk derajat kebebasan 52 adalah 2,052. Dengan demikian, karena perolehan t hitung lebih besar dari t tabel (4,381 > 2,052), serta
nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka pengambilan keputusan terhadap hipotesisnya adalah Ho ditolak.
Hal ini dapat didefinisikan bahwa model Multiliterasi berpengaruh dengan signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis yang dapat dilihat dari perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model Multiliterasi dan biasa. Berdasarkan rata-rata postes yang diperoleh kelompok eksperimen 72,92 dan kelompok kontrol 50,74. Berdasarkan fakta tersebut terlihat bahwa terdapat perbedaan peningkatan kelompok eksperimen dan kelas kontrol, dengan hasil lebih baik untuk kelompok eksperimen.
Pembelajaran model Multiliterasi merupakan model pembelajaran yang mampu membuat iklim pembelajaran yang aktif, menciptakan interaksi sosial yang baik diantara seluruh masyarakat kelas, memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya, serta melatih siswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Selain itu, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan
disesuaikan dengan perkembangaan kognitif siswa yaitu tahap operasional konkret. Penyampaian pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa dengan optimal.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang berbanding lurus dengan fokus permasalahan penelitian, dapat ditarik kesimpulan mengenai pembelajaran matematika dengan Model Multiliterasi di kelas V Sekolah Dasar berlandaskan pada kurilulum 2013 sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan Model Multiliterasi dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model biasa (pembelajaran yang lazim digunakan di sekolah tersebut). Pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Multiliterasi berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Hal ini disebabkan Model Multiliterasi memberikan banyak kesempatan dan memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis dan berdampak baik pada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.
2. Kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Model Multiliterasi dan pembelajaran Biasa (saintifik) mengalami kualitas peningkatan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil indeks gain ternormalisasi. Berdasarkan indeks gain, kualitas kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Model Multiliterasi dan model biasa mengalami peningkatan dalam kategori sedang. Akan tetapi hasil di kelas eksperimen berada di
batas atas kategori sedang sedangkan kelas kontrol berada di batas bawah kategori sedang. Dengan demikian, peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Model Multiliterasi lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model biasa (saintifik).
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2014). Desain Sistem
Pembelajaran Dalam Konteks Kulrikulum 2013. Bandung : PT.
Refika Aditama
Kemendikbud (2012). Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia Tentang: Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS).
Bandung: Nuansa Aulia
Morocco, C.C., Aguilar, C.M, & Bershad, C.J. (2008). Supported
Literacy for Adolescents : Transforming Teaching and content Learning for Twenty-First Century.
San Fransisco : Jossey-Bass A Wiley Imprint
OECD (2012). PISA 2012 Result Fokus. French: OECD
Ruseffendi (2010). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Eksakta Lainnya. Tursito: Bandung
Sugiyono (2013). Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Suyono & Hariyanto (2013). Belajar dan