MASTER CLASS
MASTER CLASS
CATATAN TUTORIAL OPTIMA
CATATAN TUTORIAL OPTIMA
ILMU KESEHATAN ANAK
ILMU KESEHATAN ANAK
OFFICE ADDRESS:
OFFICE ADDRESS: Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta
selatan
selatan
(belakang pasaraya manggarai)
(belakang pasaraya manggarai)
phone number : 021 8317064 phone number : 021 8317064 pin BB 2A8E2925 pin BB 2A8E2925 WA 081380385694 WA 081380385694 Medan : Medan :
Jl. Setiabudi no. 65 G, medan P
Jl. Setiabudi no. 65 G, medan P
Hone number : 061 8229229 Hone number : 061 8229229 Pin BB : 24BF7CD2 Pin BB : 24BF7CD2 Www.Optimaprep.Com Www.Optimaprep.Com
www.optimaprep.com
www.optimaprep.com
Terminologi newborn baby
Terminologi newborn baby
•
• Neonatus Kurang Bulan (Pre-term infant) : Usia gestasi < 37Neonatus Kurang Bulan (Pre-term infant) : Usia gestasi < 37
minggu minggu
•
• Neonatus Lebih Bulan Neonatus Lebih Bulan (Post-t(Post-term infant) : Usia erm infant) : Usia gestasi > 42gestasi > 42
minggu minggu
•
• Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : Usia gestasi 37 s/d 42Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : Usia gestasi 37 s/d 42 •
• Small for Gestational Age (SGA), Kecil Masa KehamilanSmall for Gestational Age (SGA), Kecil Masa Kehamilan
(KMK) : Berat lahir dibawah 2SD /
(KMK) : Berat lahir dibawah 2SD / persentil 10th daripersentil 10th dari populasi usia gestasi yang sama
populasi usia gestasi yang sama
•
• Large for Gestational Age (LGA), Besar MasaLarge for Gestational Age (LGA), Besar Masa
Kehamilan(BMK) : Berat lahir diatas persentil 90 untuk Kehamilan(BMK) : Berat lahir diatas persentil 90 untuk populasi usia gestasi yang sama
populasi usia gestasi yang sama
•
• Appropriate for Gestational Age (Sesuai Appropriate for Gestational Age (Sesuai Masa Kehamilan) :Masa Kehamilan) :
Diantaranya Diantaranya
Terminologi newborn baby
Terminologi newborn baby
•
• Neonatus Kurang Bulan (Pre-term infant) : Usia gestasi < 37Neonatus Kurang Bulan (Pre-term infant) : Usia gestasi < 37
minggu minggu
•
• Neonatus Lebih Bulan Neonatus Lebih Bulan (Post-t(Post-term infant) : Usia erm infant) : Usia gestasi > 42gestasi > 42
minggu minggu
•
• Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : Usia gestasi 37 s/d 42Neonatus Cukup Bulan (Term-infant) : Usia gestasi 37 s/d 42 •
• Small for Gestational Age (SGA), Kecil Masa KehamilanSmall for Gestational Age (SGA), Kecil Masa Kehamilan
(KMK) : Berat lahir dibawah 2SD /
(KMK) : Berat lahir dibawah 2SD / persentil 10th daripersentil 10th dari populasi usia gestasi yang sama
populasi usia gestasi yang sama
•
• Large for Gestational Age (LGA), Besar MasaLarge for Gestational Age (LGA), Besar Masa
Kehamilan(BMK) : Berat lahir diatas persentil 90 untuk Kehamilan(BMK) : Berat lahir diatas persentil 90 untuk populasi usia gestasi yang sama
populasi usia gestasi yang sama
•
• Appropriate for Gestational Age (Sesuai Appropriate for Gestational Age (Sesuai Masa Kehamilan) :Masa Kehamilan) :
Diantaranya Diantaranya
Maturasi newborn baby
Maturasi newborn baby
KriteriaKriteria 00 11 22
warna
warna Pucat atau biruPucat atau biru Merah pada bagianMerah pada bagian tubuh dan biru pada tubuh dan biru pada ekstremitas
ekstremitas
Merah pada tubuh Merah pada tubuh dan ekstremitas dan ekstremitas
Denyut nadi
Denyut nadi absenabsen < 100< 100 >100>100
Respirasi
Respirasi absenabsen Lambat dan tidakLambat dan tidak teratur
teratur
Pernapasan baik dan Pernapasan baik dan menangis
menangis
refleks
refleks absenabsen Grimace dengan facialGrimace dengan facial movement minimal movement minimal
Batuk atau bersin Batuk atau bersin
Tonus otot
Tonus otot absenabsen Sedikit fleksi padaSedikit fleksi pada ekstremitas ekstremitas Gerak ekstremitas Gerak ekstremitas aktif aktif
Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit Jantung Bawaan
•
•
Asianotik: L-R shunt
Asianotik: L-R shunt
–
– ASD:ASD: fixed s fixed splittingplitting S2,S2,
murmur ejeksi sistolik murmur ejeksi sistolik
–
– VSD: murmurVSD: murmur pansistolik pansistolik –
– PDA:PDA: continuous murmur continuous murmur
•
•
Sianotik: R-L shunt
Sianotik: R-L shunt
–
– TOF: AS, VSD,TOF: AS, VSD, overridingoverriding
aorta,
aorta, RVH.RVH. Boot likeBoot like heart
heart pada pada radiogrradiografiafi
–
Penyakit Jantung Bawaan (Coartasio
aorta)
Ikterus neonatorum
•
Diskolorasi kuning pada kulit, membran
mukosa, dan sklera akibat peningkatan kadar
bilirubin dalam darah. Orang dewasa tampak
kuning bila kadar bilirubin serum >2 mg/dL,
sedangkan pada neonatus bila kadar bilirubin
>5 mg/dL
Ikterus neonatorum
Berdasarkan awitan dapat dibagi menjadi:
• Ikterus fisiologis:
– Awitan terjadi setelah 24 jam
– Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
– Ikterus fisiologis berlebihan → ketika bilirubin serum puncak adalah
7-15 mg/dl pada NCB • Ikterus non fisiologis:
– Awitan terjadi sebelum usia 24 jam – Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
– Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
– Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB – Tanda penyakit lain
• Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk.
Ditandai bilirubin direk > 2 mg/dl. Penyebab: kolestasis, atresia bilier, kista duktus koledokus.
Ikterus neonatorum (ikterus fisiologis)
•
Berkaitan dengan ASI
Indikator Breast feeding jaundice Breast milk jaundice
Awitan Usia 2-5 hari Usia 5-10 hari
Lama 10 hari >30 hari
Volume asi Kurang sering diberi ASI karena ASI masih sedikit
Tidak tergantung volume asi
Kadar bilirubin Tertinggi 15 mg/dl Bisa mencapai > 20mg/dl
Tatalaksana Teruskan ASI Penghentian susu formula atau ASI yang digunakan jika bil > 16 dan fototerapi
Ikterus neonatorum (non fisiologis)
• Paling sering ditimbulkan Inkompatibilitas Rh,ABO, infeksi
TORCH, malaria, bakteri dan defisiensi enzim G6PD.
Indikator Inkopabilitas ABO Inkompabilitas Rhesus Patofisiologi Anak dengan golongan darah
A atau B memiliki ibu dengan gol darah O
Anak dengan Rh (+) memiliki ibu dengan Rh (-)
Proses
desensitisasi
Tidak memerlukan proses desensitisasi. Dapat terjadi pada anak 1
Butuh proses
desensitisasi. Terjadi pada anak ke dua atau lebih
Gejala Gejala yang timbul biasanya ringan
Ikterus neonatorum (sindrom
obstruksi)
•
Berkaitan dengan hepatitis neonatal dan
kolestasis ekstrahepatik (tipe embrional dan
perinatal)
Ikterus neonatorum (tatalaksana)
•
Fototerapi
meradiasi bayi ikterik dengan
lampu energi foton sehingga merubah
struktur molekul bilirubin supaya mudah
diekskresi ke empedu atau urin tanpa
membutuhkan glukoronidase hepatic seperti
biasanya. Biasanya pada bilirubin total >15
•
Transfuse tukar
metode tercepat untuk
menurunkan kadar bilirubin serum. Biasanya
pada bil total > 20
TRAUMA LAHIR (Paralisis bahu)
• The basic types of BPPs include the following:
– Erb'spalsy affects nerves arising from C5 and C6. – Klumpkepalsy results in deficits at levels C8 and T1 – Total BPP affects nerves at all levels (C5-T1).
• The damage in neonates usually results from slow traction injuries • Risk factors:
– Large birth weight (average vertex BPP, 3.8-5.0 kg; average breech BPP,
1.8-3.7 kg; average unaffected, 2.8-4.5 kg)
– Breech presentation – Maternal diabetes – Multiparity
– Second stage of labor that lasts more than 60 minutes
TRAUMA LAHIR (Paralisis bahu)
• The infant with an upper plexus palsy/Erb‘s(C5-C7) keeps the arm
adducted and internally rotated, with the elbow extended, the forearm pronated, the wrist flexed, and the hand in a fist. In the first hours of life, the hand also may appear flaccid, but strength soon returns. Biceps reflexis a reflex test that
examines the function of the C5 reflex arc and the C6 reflex arc. • The infant with a nerve injury to
the lower plexus/Klumpke(C8-T1) holds the arm supinated, with the elbow bent and the wrist
TRAUMA LAHIR (trauma kepala)
Injuries to the infant that result from mechanical
forces (ie, compression, traction) during the
TRAUMA LAHIR (trauma kepala)
• Cephalhematoma
– A subperiosteal collection of blood secondary to rupture of blood vessels between the skull and the periosteum, hence always limited to the surface of one cranial bone
– No discoloration of the overlying scalp occurs
– Most commonly parietal, occasionally be observed over the occipital bone
– Cranial meningocele may be differentiated from cephalohematoma by pulsation, increased pressure on crying, and roentgenographic
evidence of a bony defect
– Resolution occurs over weeks, occasionally with residual calcification – Management solely consists of observation
– Transfusion for anemia, hypovolemia, or both is necessary if blood accumulation is significant. Aspiration is not required for resolution and is likely to increase the risk of infection
TRAUMA LAHIR (trauma kepala)
• Caput succedaneum
– Serosanguineous, subcutaneous, extraperiostealfluid collection with poorly
defined margins
– Caused by the pressure of the presenting part against the dilating cervix
– Extends across the midline and over suture lines and is associated with head
molding
– Does not usually cause complications and usually resolves over the first few
days. Management consists of observation only
• Subgalealhematoma
– Bleeding in the potential space between the skull periosteumand the scalp
galeaaponeurosis. Result from a vacuum applied to the head at delivery
– Fluctuant, boggy mass developing over the scalp (especially over the occiput).
The swelling may obscure the fontanelleand cross suture lines
– Patients with subgalealhematoma may present with hemorrhagic shock.
SINDROM DISTRES PERNAPASAN
(hialin membran disease)
• Kolapsnya alveolus akibat ketiadaan surfaktan yang
dihasilkan oleh sel kuboid/sel pneumosit tipe 2
• Terjadi pada bayi lahir prematur
• Ro : ground glass or finely appearance, air bronchogram
dan ekspansi paru yang jelek
• Tatalaksana
– Penggunaan ETT
– Mode ventilator continius positive airway pressure
– Penggantian surfaktan : disarankan pada bayi yg tergantung
ventilator pada usia > 3 minggu
• Pencegahan
– Pemberian dexametasone pada ibu dengan usia persalinan < 34
mgu
SINDROM DISTRES PERNAPASAN
(hialin membran disease)
Sindrom distres pernapasan
TTN
•
Terjadi akibat gagalnya cairan dalam alveolus
janin yang keluar pada saat persalinan
•
Terjadi pada bayi matur dengan FR riwayat SC,
polihidramnion dan asfiksia.
•
Ro : peningkatan corakan perihiler dengan
hiperinflasi paru
•
Tatalaksana : observasi dan tidak ada
Sindrom distres pernapasan
TTN
Sindrom distress pernapasan (Aspirasi
mekonium)
•
Hipoksia janin akibat mekonium masuk ke dalam
saluran pernapasan bayi.
•
Biasanya terjadi pada bayi matur dengan amnion
yang terkontaminasi mekonium
•
Foto Ro akan tampak
air trapping, patchy opacity
dan hiperinflasi paru
•
Pencegahan
pembersihan saluran napas bayi
•Tatalaksana
penggunaan ventilator pada kasus
Sindrom distress pernapasan (Aspirasi
mekonium)
Sindrome distres pernapasan
(pneumonia)
•
Terjadinya sindrom gagal napas akibat
komplikasi korioamnionitis jika terjadi saat
lahir ataupun karena infeksi nosokomial jika
terjadi setelah lahir
•
Gejala klinis akan tampak pus cells dan bakteri
pada cairan lambung
•
Ro thoraks akan tampak daerah paru yang
kolaps dan konsolidasi
Sindrom distres pernapasan
Kelainan Gejala
Sindrom aspirasi mekonium
Biasanya pada bayi matur, pertumbuhan janin
terhambat, terdapat staining mekonium di cairan amnion dan kulit, kuku, atau tali pusar. Pada radiologi tampak air trapping dan hiperinflasi paru, patchy opacity, terkadang atelektasis.
Penyakit membran hyalin
Pada bayi prematur, pada bayi dengan ibu DM atau
kelahiran SC, gejala muncul progresif segera setelah lahir. Pada radiologi tampak gambaran diffuse “ground -glass” or finely granular appearance, air bronkogram, ekspansi paru jelek.
Transient tachypnea of newboorn
Biasanya pada bayi matur dengan riwayat SC. Gejala muncul setelah lahir, kemudian membaik dalam 72 jam pasca lahir. Pada radiologi tampak peningkatan corakan perihilar, hiperinflasi, lapangan paru perifer bersih.
Pneumonia neonatal Terdapat risiko pneumonia (KPD, demam pada ibu, cairan amnion berbau, dsb). Gejala meliputi gejala distress dan gejala sepsis. Gambaran radiologis :Diffuse, relatively homogeneous infiltrates
Asfiksia perinatal (hypoxic ischemic encephalopathy )
Asidemia pada arteri umbilikal, Apgar score sangat rendah, terdapat kelainan neurologis, keterlibatan multiorgan
PERTUMBUHAN
Interpretasi Pengukuran TB/U • Z Score – >2 SD: Tergolong sangat tinggi. – 2 sd (-2) SD : Normal – <-2 SD : Stunted – <-3 SD : Severly stunted • CDC-NCHS – 90-110% : Baik/normal – 70-89% : Tinggi kurang – <70% : Tinggi sangat kurang Interpretasi Pengukuran BB/U • Z Score – > 2 SD : Memiliki masalah – 2 sd (-2) SD : Normal – <-2 SD : Underweight – <-3 SD : Severly underweight • CDC-NCHS – >120% : Gizi lebih – 80-120% : Gizi baik – 60-80% : Gizi kurang,Pertumbuhan
• Pengukuran BB/TB
• Z-score → menggunakan kurva WHO weight-for-height
– >3 – obesitas – >2 – overweight – >1 – possible overweight – <-2 – moderate wasted – <-3 – severe wasted • Kurva CDC – ≥120% obesity – ≥110 -120% overweight – ≥90-110% normal – ≥80-90% mild malnutrition – ≥70-80% moderate malnutrition – ≤70% severe malnutrition.
Pertumbuhan (marasmus)
•
Wajah seperti orang tua
•Kulit terlihat longgar
•
Tulang rusuk terlihat
jelas
•
Kulit paha keriput dan
tulang ekor terlihat jelas
(
baggy pants)
Pertumbuhan (Kwashiorkor)
•Edema
•Rambut kemerahan
•Pengurusan otot
•Crazy pavement
dermatosis
Pertumbuhan
•
Fase stabilisasi (Inisiasi)
– Energi: 80-100 kal/kg/hari – Protein: 1-1,5 gram/kg/hari
– Cairan: 130 ml/kg/hari atau 100 ml/kg/hari (edema)
•
Fase transisi
– Energi: 100-150 kal/kg/hari – Protein: 2-3 gram/kg/hari •Fase rehabilitasi
– Energi: 150-220 kal/kg/hari – Protein: 3-4 gram/kg/hariKejang Demam
Kejang yang terjadi akibat demam (suhu rektal di atas 38°C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat (SSP) atau gangguan elektrolit akut, dan tidak ada riwayat
kejang tanpa demam sebelunmnya. Terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Kejang demam sederhana bersifat umum, singkat, dan hanya sekali dalam 24 jam
b. kejang demam kompleks kejang demam fokal, lebih dari 15 menit, atau berulang dalam 24 jam
c. Status epilepticus terjadi > 30 menit atau tidak ada perbaikan kesadaran antara periode kejang
Kejang Demam (tatalaksana)
• Antipiretik asetaminofen 10-15 mg/kg/hari setiap 4-6 jam atau
ibuprofen 5-10
mg/kg/hari tiap 4-6 jam.
• Anti kejang dengan diazepam oral 0,3 mg/kg/hari tiap 8 jam saat demam
atau diazepam rektal 0,5 mg/kg/kali setiap 12 jambila demam di atas 38°C.
• Pengobatan jangka panjang dengan pemberian asam valproat
15-40mg/hari atau fenobarbital 3-5mg/hari. Diberikan bila dijumpai salah satu keadaan di bawah ini:
– Kejang demam lebih dari 5 menit.
– Adanya defisit neurologis yang jelas baik sebelum maupun sesudah
kejang (misalnya palsi serebral, retardasi mental, atau mikrosefal).
– Kejang demam fokal
– Adanya riwayat epilepsi dalam keluarga • Dipertimbangkan bila:
Kejang Demam (tatalaksana saat
kejang)
Diare dengan dehidrasi
• BAB yang tidak normal dimana terjadi perubahan konstruksi tinja dengan
frekuensi > 3 kali dalam 24 jam
Diare dengan dehidrasi (tatalaksana)
encana terapi A ASI ad libitum Rehidrasi oral nak < 2thn 50-00/BAB nak > 2thn 100-00/BAB Tablet zinc nak < 6 bln 10 g/hari nak > 6 bln 20 g/hari Rencana terapi B• cairan oralit atau iv
75ml/kgbb selama 3 jam • Tablet zinc Anak < 6 bln 10 mg/hari Anak > 6 bln 20 mg/hari Rencana terapi C • Pemberian cairan parenteral • Tablet zinc Anak < 6 bln 10 mg/hari Anak > 6 bln 20 mg/hari
Umur Pemberian 30ml/kgbb Pemberian Bayi < 1 tahun 1 jam 5 jam
Pneumonia
• Signs and symptoms :
– Non respiratory: fever, headache, fatigue, anorexia, lethargy, vomiting
and diarrhea, abdominal pain
– Respiratory: cough, chest pain, tachypnea , grunting, nasal flaring,
subcostal retraction (chest indrawing), cyanosis, crackles and rales (ronchi) • Treatment No Pneumonia Pneumonia Severe Pneumonia Very severe
No tachypnea, no chest indrawing Do not administer an antibiotic
Tachypnea, no chest indrawing
Home treatment with cotrimoxazole or amoxicilln
Chest indrawing, no cyanosis and able to feed
Admit, admininster benzyl penicillin IM Chest indrawing with cyanosis and not
Bronkiolitis
• Infeksi virus akut saluran pernapasan yang menyebabkan obstruksi dan
biasa mengenai anak 6bln-2thn
• Etiologi
– RSV 45-80%
– Parainfluenza virus (PIV) 25-50% kasus
• Gejala dan tanda : rhinorhea,demam subfebris, nafas cepat, retraksi
dada, wheezing, rales
• Tatalaksana
– Rawat inap – Antibiotik – Cairan IV – oksigen
Eksantema (morbili)
•
Disebabkan ooleh Infeksi Paramyxovirus pada
anak sekolah yang belum pernah vaksi. Masa
Inkubasi antara lain 8-12 hari dengan masa
Infeksius: 1-2 hari sebelum prodrome hingga 4
hari setelah keluar rash
•
Gejala :
Demam tinggi,
rhinitis, konjungtivitis,
koplik spot, ruam muncul pada hari ke 3 demam
Eksantema (Rubella)
• Infeksi Togavirus
• Faktor resiko : remaja belum pernah vaksin • Inkubasi: 14-21 hari
• Infeksius: 5-7 hari sebelum rash hingga 3-5 hari setelah keluar rash • Prodromal
– Anak: ringan
– Remaja & Dewasa: demam ringan , malaise, nyeri tnggorok, nausea,
anorexia, limfadenopati
• Enanthem Forschheimer’s spots
• Komplikasi:Arthralgias/arthritis, Peripheral neuritis, encephalitis,
thrombocytopenic purpura
• Congenital rubella syndrome IUGR, buta, tuli, jantung, anemia,