• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN E-GOVERNMENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAKSANAAN E-GOVERNMENT"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1 PELAKSANAAN E-GOVERNMENT PADA LAYANAN PENGADAAN

SECARA ELEKTRONIK ( LPSE ) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2014

(Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement)

NASKAH PUBLIKASI

Oleh : EVINNALDY NIM : 100565201332

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MARITIM RAJA HAJI TANJUNGPINANG

(2)

1 PELAKSANAAN E-GOVERNMENT PADA LAYANAN PENGADAAN

SECARA ELEKTRONIK ( LPSE ) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2014

(Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement)

EVINNALDY

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP UMRAH

Provinsi Kepulauan Riau menggunakan e-procurement dimulai pada tahun 2008 dengan berdirinya kantor Layanan Pengadaan Secara Elektonik Provinsi Kepulauan Riau. Layanan Pengadaan Secara Elektronik adalah unit kerja yang dibentuk di berbagai instansi dan pemerintah daerah untuk melayani Unit Layanan Pengadaan atau Panitia Pengadaan yang akan melaksanakan pengadaan secara elektronik. Fenomena yang terjadi bahwa peneliti menemukan beberapa masalah pada kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik Provinsi Kepulauan Riau yang akan menghambat berjalannya Layanan Pengadaan Secara Elektronik Provinsi Kepulauan Riau, yaitu banyaknya keluhan yang datang dari pihak swasta, mereka mengatakan bahwa kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihak Layanan Pengadaan Secara Elektonik berkaitan dengan tata caea dan prosedur pelelangan. Karena ketidatahuan tersebut hanya beberapa dari pihak swasta yang benar-benar memahami. Bahkan sebagian pihak swasta lainnya sulit untk mengakses masuk ke situs Layanan Pengadaan Secara Elektonik untuk mengikuti pelelangan.

Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk mengetahui tentang implementasi e-government pada layanan pengadaan secara elektronik Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 dalam pelaksanaan E-Procurement. Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian Deskriptif Kualitatif. Dalam penelitian ini informan terdiri dari 6 orang dari pegawai dan dari pihak swasta. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Implementasi E-Government Pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik ( LPSE ) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 (Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement) sudah berjalan dengan baik di Provinsi Kepulauan Riau, walaupun masih ada beberapa pihak swasta yang masih belum mendukung Pelaksanaan E-Procurement dengan alasan tidak meaamahami tentang prosedur dan alur dalam pelelangan.

Kata Kunci : Implementasi, E-Goverment, E-Procurment, Layanan Pengadaan Secara Elektronik

(3)

2 EVALUATION OF VILLAGE EXPANSION AIR GLUBI

COASTAL BINTAN DISTRICT DISTRICT BINTAN

EVINNALDY

Students of Science Of Government, FISIP, UMRAH

The Riau Islands province using e-procurement started in 2008 with the establishment of the Office of Procurement Services by electronic Group In the province of Riau Islands. Procurement Services Electronically is a work unit that was formed in the various agencies and local governments to serve the Procurement Services Unit or the Procurement Committee will carry out procurement electronically. Phenomenon that occurs that researchers found several problems in Procurement Services Office Electronically the Riau Islands province that will impede the passage of Procurement Services Electronically the Riau Islands province, i.e., the number of complaints coming from private parties, they say that the lack of socialization which is done In the Procurement Service by electronic group parties associated with the caea and the auction procedure. Because the ketidatahuan are just some of the private companies that really understand. Even most other private parties difficult to access entry to the sites by electronic Group In the Procurement Service to follow the auction.

The purpose of this research is basically to find out about the implementation of e-government procurement service electronically on the Riau Islands province by 2014 in the implementation of E-Procurement. In this study the author uses Descriptive types of Qualitative research. Informants in this study consists of 6 people from employees and from private parties. Data analysis techniques used in this research is descriptive qualitative data analysis techniques.

Conclusions in this study was the implementation of E-Government Services Procurement Electronically Riau Islands province by 2014 (a case study in implementing E-Procurement) is already well underway in the Riau Islands province, although there are still some private parties who still do not support the implementation of E-Procurement by reason not to understanding about the procedure and the Groove in the auction.

Keywords: Implementation, E-Government, E-Procurment, Procurement Services Electronically

(4)

3 PELAKSANAAN E-GOVERNMENT PADA LAYANAN PENGADAAN

SECARA ELEKTRONIK ( LPSE ) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2014

(Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement)

A. Latar Belakang

Good governance yang diidealkan tersebut akan terwujud jika di dalam praktik pemerintahan yang melibatkan banyak stakeholder tersebut diadopsi berbagai prinsip, seperti : transparansi, partisipasi, akuntabilitas, kepastian hukum dan lain-lain. Di Indonesia, buruknya praktik governance dapat ditemui dalam kasus pengadaan barang dan jasa. Praktik-praktik seperti kolusi dan manipulasi pengadaan seolah menjadi sesuatu yang wajar dan dapat ditemui di hampir setiap level pemerintahan.Untuk mengatasi persoalan tersebut penerapan prinsip-prinsip good governance perlu dilakukan di dalam pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah.

Salah satu alat atau instrumen yang dapat dipakai untuk mewujudkan prinsip-prinsip tersebut adalah dengan mengadopsi e-Procurement.Hal ini karena e-Procurement memfasilitasi proses barang dan jasa pemerintahan untuk dapat dilakukan secara transparan, yang secara virtual semua orang punya kesempatan untuk dapat terlibat di dalamnya. Keterlibatan tersebut dapat diterjemahkan dalam arti luas, tidak hanya mengikuti tender, akan tetapi juga dalam melakukan pengawasan terhadap proses pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah. Pada akhirnya dalam penerapan e-Procurement tersebut transparasi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa publik dapat diwujudkan.

(5)

4 Pengadaan (ULP) atau Pengadaan yang akan melaksanakan pengadaan secara elektronik. LPSE melayani registrasi penyedia barang dan jasa yang berdomisili di wilayah kerja LPSE yang bersangkutan. Perbedaan LPSE dan ULP adalah LPSE adalah unit kerja yang dibentuk di berbagai instansi dan pemerintah daerah untuk melayani Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau Panitia Pengadaan yang akan melaksanakan pengadaan secara elektronik.Unit layanan pengadaan (ULP) adalah unit organisasi yang menjadi bagian dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, institusi yang berfungsi melaksanakan pengadaan barang atau jasa yang bersifat permanen. Unit ini dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada.

Landasan hukum yang mendasari lahirnya layanan ini adalah: Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2003 tentang Paket Kebijakan Ekonomi Menjelang dan Sesudah Berakhirnya Program Kerjasama dengan International Monetary Fund (IMF).Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2003 (tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jada Pemerintah). Pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-Procurement) akan meningkatkan transparansi, sehingga persaingan sehat antar pelaku usaha dapat lebih cepat terdorong. Dengan demikian optimalisasi dan efisiensi belanja negara segera dapat diwujudkan.

(6)

5 Pengadaan barang dan jasa dalam konsep Government maka lahirnya E-Governmentprocurement. E-procurementdalam implementasinya jaminan keamanan data dimana dalam prosesnya akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Sehingga proses akan sangat terbuka yang pada gilirannya persaingan hebat yang adil dan non diskriminatif antar pelaku usaha dapat lebih cepat terdorong sehingga efisiensi dan efektivitas belanja Negara segera dapat diwujudkan.

Guna melaksanakan ketentuan pasal 111 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, dan meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi, persaingan sehat, dan akuntabilitas dalam pelasanaan pengadaan barang / jasa pemerintah maka perlu dibuat suatu peraturan menteri yang mengatur tentang proses pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik dilakukan. Penerapan e-Procurement di sektor publik sebenarnya diadopsi dari penerapan e-Procurement di bidang bisnis.Meningkatnya tekanan persaingan bisnis telah mendorong perusahaan untuk mengadopsi e-Procurement sebagai strategi mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan. Proses pembelian dan penjualan barang melalui cara konvensioanl (e-Procurement), dianggap tiodak efisien dan efektif lagi untuk mendukung kegiatan bisnis.

Salah satu keuntungan terpenting penerapan e-Procurement adalah kemampuannya sebagai mekanisme integrasi baik di dalam perusahaan maupun dengan supplier.Selain itu, e-Procurement juga dipercaya mampu meningkatkan kolaborasi antara pembeli dan pemasok, mengurangi kebutuhan personel, meningkatkan koordinasi, mengurangi biaya transaksi, siklus pembelian dan

(7)

6 penjualan barang yang lebih pendek, tingkat inventarisasi yang lebih rendah dan transparansi yang lebih besar. Perusahaan multinasional sangat optimis dengan penghematan biaya yang akan diperoleh melalui penerapan e-Procurement secara penuh.

Dalam konteks ini, e-Procurement dipahami sebagai tempat pasar dari sektor bisnis ke bisnis, rangkaian pemasokan secara elektronik, pusat perdagangan atau komunitas dagang, yang secara substansial berbasis jaringan internet dimana satu atau lebih perusahaan berusaha untuk mendapatkan sumber supliernya pada harga serendah mungkin. Sistem e-Procurement melaksanakan tender melalui internet sehingga membantu perusahaan dalam mendapatkan sumber input produk dan jasa pada harga terendah, memastikan bahwa input tersebut memadai secara teknis dan spesifikasi tender lainnya. Dengan membuat proses tersebut berbasis internet, e-Procurement merubah proses sebelumnya yang hanya sekedar komputerisasi dan otomatisasi.

Pengadaan barang dan jasa dengan menggunakan cara e-Procurement dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lebih cepat dibanding dengan cara yang dilakukan dengan cara konvensional. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengadaan barang dan jasa cara manual adalah 36 (tiga puluh enam) hari sedangkan apabila dengan cara e-Procurement hanya berkisar 20 (dua puluh) hari. Hal ini dikarenakan dengan sistem elektronik, proses pengumuman pengadaan, penawaran, seleksi dan pengumuman pemenang dapat dilakukan dengan lebih cepat.

(8)

7 Disamping waktu yang bisa lebih cepat e-Procurement juga bisa menghemat anggaran, karena dapat mengurangi biaya konsumsi dapat maupun penggandaan dokumen dan terutama adalah dari adanya selisih antara pagu anggaran dan harga penawaran.Adanya kebijakan desentralisasi telah membawa harapan baru bagi pemerintah Kepri dan masyarakatnya untuk mengembalikan kejayaan yang pernah dimilikinya di masa lalu. Dengan posisi strategisnya, dan potensi alam yang dimilikinya Kepri mempunyai banyak peluang, yang dimungkinkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi Pemerintah Republik Indonesia di masa depan.

Adanya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi telah memberi keleluasaan kepada daerah untuk menata kembali baik ekonomi, politik, sosial budaya untuk mengembalikan citra dan kepercayaan masyarakat dan Negara tetangga baik dalam masalah kesehatan, keamanan, maupun masalah KKN yang sudah menggurita dalam tubuh birokrasi.

Perilaku koruptif yang sudah mengakar dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah telah membuat posisi para pejabat birokrasi di Kepri merasa terancam (tidak nyaman dan tidak aman) apalagi jika terjadi ketidakpuasan terhadap hasil pelaksanaan tender yang selaman ini dilakukan secara konvensional, meskipun proses lelang telah dilakukan secara normal sesuai aturan yang ada namun tetap saja berbagai tudingan seringkali menyudutkan pihak aparat yang terlibat dalam proses lelang / tender sehingga masalah tersebut memerlukan solusi untuk mengatasinya. Oleh karena itu adopsi e-Procurement di Kepri mendapat dukungan sepenuhnya baik dari jajaran eksekutif maupun legislatif

(9)

8 yang menginginkan terciptanya iklim investasi yang kondusif melalui penerapan good governance dan clean government di Kepri.Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mencegah KKN, maka Gubernur Kepri telah menetapkan e-Procurement sebagai prioritas pembangunan daerah pada tahun 2009. Dengan adanya unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) proses pengadaan barang dan jasa bisa lebih transparan, member akses lebih luas pada penyedia barang / jasa sehingga akan lebih kompetitif, lebih efisien serta akuntabel karena semua dikendalikan oleh sistem.

Dukungan dan komitmen pemerintah ditujukan dengan telah direalisasikannya LPSE Kepri yang struktur pengelolaannya di bawah Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kepri disertai dengan berbagai fasilitasnya baik prasarana fisik, (gedung), infrastruktur teknologi (jaringan internet, hardware & software), peraturan-peraturan pendukung pelaksanaan e-Procurement maupun mempersiapkan sumber daya manusianya dalam pengeloaan LPSE semua telah difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Kepri.

Dasar hukum pembentukan LPSE adalah Pasal 111 Nomor 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah yang ketentuan teknis operasionalnya diatur oleh Peraturan Kepala LKPP Nomor 2 Tahun 2010 tentang Layanan pengadaan Secara Elektronik. LPSE dalam menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik juga wajib memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

(10)

9 Layanan yang tersedia dalam Sistem Pengadaan Secara Elektronik saat ini adalah e-tendering yang ketentuan teknis operasionalnya diatur dengan Peraturan Kepala LKPP Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara E-Tendering. Selain itu LKPP juga menyediakan fasilitas Katalog Elektronik (e-Catalogue) yang merupakan sistem informasi elektronik yang memuat daftar,jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia barang/jasa pemerintah, proses audit secara online (e-Audit), dan tata cara pembelian barang/jasa melalui katalog elektronik (e-Purchasing).

Provinsi Kepulauan Riau menggunakan e-procurement dimulai pada tahun 2008 dengan berdirinya kantor Layanan Pengadaan Secara Elektonik (LPSE) Provinsi Kepulauan Riau . Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) adalah unit kerja yang dibentuk di berbagai instansi dan pemerintah daerah untuk melayani Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau Panitia Pengadaan yang akan melaksanakan pengadaan secara elektronik. Seluruh Unit Layanan Pengadaan (ULP) dan Panitia Pengadaan dapat menggunakan fasilitas Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang terdekat dengan tempat kedudukannya. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) melayani registrasi penyedia barang dan jasa yang berdomisili di wilayah kerja Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Kepulauan Riau yang bersangkutan kegiatan/pekerjaan yang kategori pelaksanaannya berupa pengadaan barang di seluruh satuan kerja dilingkungan Pemerintah Provinsi Kepuluan Riau.

Proses pelelangan yang dilakukan oleh rekanan pada awalnya dilakukan secara manual dimana para reakanan pelelang melakukan pendaftaran kepada

(11)

10 Satuan Kerja Perangkat Daerah yang pengadaan barang dan jasa. Pemerintah Provinsi Kepri sangat tertarik ketika pertama kali mendapat informasi tentang e-procurement pada bulan November 2007 dari Bappenas.

Pemerintah Provinsi Kepri memiliki progress yang sangat baik dalam adopsi e-procurement. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap pentingnya pelaksanaan e-procurement kemudian pemerintah mengeluarkan Peraturan Gubernur No 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Secara Elektronik di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 12 Maret 2008, sebagai dasar hukum pelaksanaan e-procurement di Provinsi Kepri.

Dalam penyelenggaraan e-procurement, langkah penting untuk menyatukan visi tentang pentingnya e-procurement dalam mewujudkan good governance dan clean goverment selanjutnya Pemerintah Kepri melakukan sosialisasi yang pertama Peraturan Gubernur tentang “Layanan Pengadaan Secara Elektronik (e-procurement) di lingkungan Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 25 April 2008, dengan sasaran para Pengguna Anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pengadaan Barang /Jasa, Panitia Pengadaan dari masing-masing SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota di lingkungan wilayah Pemprov. Kepulauan Riau dengan menghadirkan nara sumber dari LKPP Bappenas. Sosialisasi tersebut dimaksudkan agar e-procurement dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh dukungan dan komitmen dari jajaran birokrasi terutama yang terlibat dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah.

(12)

11 Kelemahan dari lelang dengan sistem on- line ini terletak pada server yang down dan website yang tidak bisa diakses dalam waktu sekian jam.Jika hal ini terjadi, peserta tender bisa gagal melakukan upload dokumen penawaran karena telah melewati batas waktu yang telah ditentukan. Kelemahan lainnya adalah tidak semua pertanyaan peserta tender mendapat jawaban dari panitia lelang, sehingga adakalanya peserta lelang tidak melengkapi persyaratan lelang dan berakibat panitia menggugurkan peserta lelang. Kelemahan lainya adalah system tidak bisa mendeteksi kualitas dari suatu barang yang ditawarkan hanya berdasarkan harga penawaran, sehingga kualitas barang yang diberikan/dihasilkan tidak sepenuhnya memuaskan.

Fenomena yang terjadi bahwa peneliti menemukan beberapa masalah pada kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Kepulauan Riau yang akan menghambat berjalannya Layanan Pengadaan Secara Elektronik(LPSE) Provinsi Kepulauan Riau, yaitu banyaknya keluhan yang datang dari pihak swasta, mereka mengatakan bahwa kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihak LPSE berkaitan dengan tata caea dan prosedur pelelangan. Karena ketidatahuan tersebut hanya beberapa dari pihak swasta yang benar-benar memahami. Bahkan sebagian pihak swasta lainnya sulit untk mengakses masuk ke situs LPSE untuk mengikuti pelelangan.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan pengkajian lebih jauh tentang fenomena yang terjadi dilapangan dalam bentuk tulisan ilmiah dengan judul :“Pelaksanaan E-Government Pada

(13)

12 Layanan Pengadaan Secara Elektronik ( LPSE ) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 (Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement)”

B. Landasan Teoritis 1. Implementasi Kebijakan

Taliziduhu (2000:7) mengatakan bahwa Ilmu Pemerintahan dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana pemerintah (unit kerja publik) bekerja memenuhi dan melindungi tuntutan (harapan, kebutuhan) yang diperintah akan jasa publik dan layanan publik, dalam hubungan pemerintahan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah membuat sebuah kebijakan e-Procurement untuk mempermudah masyarat mendapatkan jasa layanan publik. LPSE adalah suatu sistem yang dibentuk untuk menciptakan nilai-nilai good governance dalam suatu layanan pengadaan barang dan atau jasa yang dilindungi LPSE sebagai system tentu dirancang sedemikian rupa agar mengurangi kontak antara panitia pengadaan dan rekanan yang dimungkinkan akan terjadi korupsi. Selain itu juga supaya proses pengadaan lebih transparan dan akuntabel.

Implementasi (pelaksanaan) kebijakan merupakan suatu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perumusan kebijakan penetapan kebijakan dan evaluasi kebijakan. Setelah kebijakan ditetapkan secara sah dan mempunyai kekuatan hukum (legitimasi), maka kebijakan tersebut harus segera di implementasikan sebab, kebijakan itu baru mempunyai arti bila kebijakan di implementasikan melalui jalan yang sesuai dan sebagaimana seharusnya untuk kepentingan.

Menurut Winarno (2007:144) Implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang dimana berbagai aktor,

(14)

13 organisasi, prosedur dan teknik bekerja bersama-sama menjalankan kebijakan dalam upaya untuk meraih tujuan-tujuan kebijakan. Implementasi pada sisi yang lain merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses, suatu keluaran (output) maupun sebagai suatu dampak (outcome).

Ripley dan Franklin (dalam Winarno, 2007;145) berpendapat bahwa implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan dan benefit. Sementara itu , Grindle (dalam Winarno 2007:146) juga memberikan pandangannya tentang implementasi dengan mengatakan bahwa secara umum, tugas implementasi adalah membentuk suatu kaitan yang memudahkan tujuan-tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah.

Dari beberapa pendapat di atas dapat kita ketahui bahwa implementasi menunjuk pada sejumlah kegiatan yang mengikuti pernyataan maksud tentang tujuan-tujuan program dan hasil-hasil yang diinginkan oleh para pejabat pemerintah.Implementasi mencakup tindakan-tindakan oleh berbagai aktor, khususnya para birokrat yang dimaksud untuk membuat program berjalan.

Menurut Edward III (dalam Winarno, 2007:174) ada 4 faktor atau variabel krusial yang menentukan keberhasilan suatu kebijakan :

1. Komunikasi

Tanpa adanya komunikasi maka pelaksanaan kebijakan tidak bisa berjalan dengan efektif. Dengan komunikasi para pelaksana akan lebih mudah melaksanakan tujuan-tujuan atau maksud dari kebijakan.

2. Sumber – Sumber

Sumber-sumber layak mendapat perhatian dalam melaksanakan kebijakan baik itu sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta sumber dana. Tanpa adanya sumber-sumber maka kebijakan yang telah dirumuskan mungkin hanya akan menjadi rencana saja tanpa adanya realisasi.

3. kecenderungan-kecendrungan

Kecenderungan dari para pelaksanan kebijakan merupakan faktor yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif.jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu

(15)

14 kebijakan tertentu, dan hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka melaksanakan kebijakan sesuai dengan yang diinginkan pembuat kebijakan awals. Demikian pula sebaliknya, bila tingkah laku para pelaksana berbeda dengan para pembuat keputusan,, maka proses pelaksanaan suatu kebijakan akan menjadi semakin sulit.

4. Struktur Birokrasi

Birokrasi merupakan salah satu badan yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kebijakan. Kerja sama yang baik dalam birokrasi dan struktur yang kondusif akan membuat pelaksanaan kebijakan efektif.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan implementasi kebijakan publik adalah suatu tindakan pejabat pemerintah atau lembaga pemerintah dalam menyediakan sarana untuk melaksanakan progam yang telah ditetapkan sehingga program tersebut dampak menimbulkan dampak terhadap tercapainya tujuan.

2. e- Government/ e Procurement

Menurut Cahyana (2006) menerangkan bahwa: ”e-Government merupakan kegiatan yang terkait dengan upaya seluruh lembaga pemerintah dalam bekerja bersama-sama memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi, sehingga dapat menyediakan jasa layanan elektronik dan informasi yang akurat kepada individu masyarakat dan dunia usaha. Inisiatif e-Government adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus untuk memperbaiki kinerja pemerintah dan penyelenggaraan layanan yang efisien bagi publik.

Perlu ditekankan bahwa, efisiensi sangat tergantung pada kurun waktu dan teknologi. E-Government yang sangat efisien saat ini belum tentu efisien beberapa tahun ke depan karena perkembangan TIK dan demand dari stakeholdernya.” Pengembangan e-Government merupakan upaya untuk mengembangkan

(16)

15 penyelenggaraan kepemerintahan melalui penggunaan media elektronik untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Dengan adanya pengembangan eGovernment maka perlu dilakukan penataan sistem dan proses kerja di lingkungan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Pemanfaatan teknologi informasi tersebut mencakup 2 (dua) kegiatan atau aktifitas yang berkaitan langsung, (Inpres No.3, 2003) yaitu: a. Pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronis; b. Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.

Electronic Procurement (e-procurement) di definisikan sebagai penggunaan teknologi informasi untuk mempermudah business-to-business (B2B) bertransaksi pembelian untuk bahan/barang dan jasa. Penerapan teknologi sistem informasi untuk memfasilitasi proses pengadaan (procurement) secara terpadu merupakan fenomena yang terus mendapat perhatian dari para manajer, bahkan secara khusus menjadi bahan kajian akademik.

Keuntungan utama e-procurement meliputi menghemat uang, waktu, dan beban kerja tambahan yang normalnya berhubungan dengan pekerjaan tulis menulis. Proses pengadaan konvensional biasanya melibatkan banyak pemrosesan kertas-kertas, yang mana menghabiskan sejumlah besar waktu dan uang.

Tujuan dari E-Government adalah Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang berkualitas, cepat, dan terjangkau masyarakat luas.Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk menghadapi perubahan dan persaingan perdagangan internasional. Pembentukan mekanisme

(17)

16 dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik.

Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien. Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memenuhi tuntutan transformasi dimaksud. Dalam gagasan good governance, prinsip poko didalam upaya mengatasi berbagai kelemahan praktik pemerintahan adalah dengan mengurangi monopoli pemerintah di dalam meng-exercise kekuasaan, terutama di dalam pembuatan kebijakan, implementasi sampai evaluasinya dengan melibatkan stakeholder yang lain, yaitu : sektor swasta dan masyarakat sipil (civil society).

C. Hasil Penelitian

1. Keluaran Kebijakan (Keputusan)

Diketahui bahwa sudah ada prosedur yang mengatur jalannya pelelangan secara elektronik. Adanya prosedur pelaksanaan sangat penting bagi operasional suatu instansi. Pengadaan barang atau jasa pemerintah merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan publik, di mana pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang memiliki badan usaha untuk dapat berkesempatan mengikuti kegiatan pengadaan barang dan jasa yang diadakan oleh pemerintah sesuai dengan jenis badan usaha yang dimilikinya.

2. Kepatuhan kelompok sasaran

Pegawai LPSE sudah konsisten dalam menjalankan e-procurment. Sikap konsisten adalah setiap pegawai mau terus belajar dan tidak menyimpang dari

(18)

17 tujuan e-procurment ini dibuat. Seluruh pegawai LPSE, diharapkan mampu mengembangkan kemampuan di bidang pengadaan, karena orang yang ahli di bidang pengadaan semakin lama semakin sedikit. Pegawai LPSE untuk turut berperan aktif dalam meningkatkan pelayanan dan saling bekerja sama dengan meningkatkan keakraban satu sama lain, serta kerapihan dan kebersihan tempat bekerja agar tercipta kenyamanan dalam bekerja. Kemudian secara umum sebagian besar baik pegawai maupun pihak swasta sudah taat, hanya saja penyimpangan tidak dapat dielakkan. Masih ada yang tidak mau mematuhi aturan tersebut.

3. Dampak nyata kebijakan

Antara rekanan dan pihak penyelenggara dalam hal ini LPSE Provinsi Kepulauan Riau sudah dapat mengikuti semua prosedur yang ada serta sudah patuh terhadap aturan yang berlaku. Kepatuhan berbagai pihak dalam pelaksanaan pelelangan akan mendukung jalannya e-procurement yang sesuai dengan tujuannya. Dapat diketahui dengan adanya LPSE setiap pelaku usaha dapat mengetahui informasi yang rinci mengenai barang dan jasa yang dibutuhkan oleh panitia pengadaan.Pelelangan tersebut bersifat terbuka bagi setiap pelaku usaha yang memenuhi kualifikasi yang telah diberikan

4. Persepsi terhadap dampak

Dapat diketahui bahwa dukungan swasta sudah baik. Tetapi berbicara mengenai e-government bukan berarti hanya menerapkan sistem pemerintahan secara elektronik saja, melainkan mempunyai pengertian yang lebih mendalam daripada itu. Pelelangan yang berjalan di Provinsi Kepulauan Riau secara umum

(19)

18 sudah berjalan terbuka dalam setiap pengumuman pemenangan akan di rinci alasan-alasan pemenang dan alasan sebagian peserta yang tidak terpilih. Salah satu bentuk konsistensi dapat dilihat melalui prosedur yang dilaksanakan oleh pegawai LPSE Provinsi Kepulauan Riau

D. Penutup 1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan E-Government Pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik ( LPSE ) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 (Studi Kasus Dalam Pelaksanaan E-Procurement) sudah berjalan dengan baik di Provinsi Kepulauan Riau, walaupun masih ada beberapa pihak swasta yang masih belum mendukung Pelaksanaan E-Procurement dengan alasan tidak meaamahami tentang prosedur dan alur dalam pelelangan. 2. Saran

Berdasarkan hasil temuan ada beberapa saran yang dapat diberikan :

a. Pengawasan wajib dilakukan secara independen dalam pelaksanaan kebijakan e-procurement agar dapat meminimalisir tindakan penyimpangan

b. Harus ada tindakan yang tegas terhadap perusahaan yang masih melanggar aturan yang telah ditetapkan agar tidak mengganggu sistem yang sudah berjalan.

(20)

19 DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

Abidin, Said Zainal. 2002. Kebijakan Publik. Jakarta : Yayasan Pancur Siwah. Agustino, Leo. 2006. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung : CV Alfabetha Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan

Praktik).Jakarta, Rineka Cipta.

Arafat, Wilson. 2006. Manajemen Perbankan Indonesia (Teori dan Implementasi.Jakarta, LP3ES

Djojosoekarto, Agung. 2008. E-procurement di Indonesia. Jakarta, Kemitrraan. Dunn, William N , 2000 Pengantar Analisa Kebijakan Publik II. Gadjah Mada

University Press, Yogyakarta.

Dwijowijoto, Riant Nugroho. 2004. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi dan Evaluasi. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Islamy, M Irfan. 2003. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta :

Bumi Aksara

Nugroho, Riant D. 2007. Kebijakan Publik Formulasi Implementasi dan Evaluasi. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo.

Pamudji, S. 2003, Kepemimpinan Pemerintahan Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

Subarsono. 2008. Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung, Alfabeta. Suharno. 2010. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. UNY Press.

Syafarudin. 2008. Efektifitas Kebijakan Pendidikan (Konsep, Strategi dan Aplikasi Kebijakan Menuju Organisasi Sekolah Efektif). Jakarta: Rineka Cipta.

Tangkilisan, Hesel Nogi. 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Lukman.

(21)

20 Taliziduhu, Ndraha, 2000. Ilmu Pemerintahan (Kybernology), Jakarta: Rineka

Cipta.

Umar, Husein. 2002. Metode Riset Komunikasi Organisasi. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Umum.

Wahab. Solichin Abdul. 2001. Analisis Kebijaksanaan: dari Formula ke ImplementasiKebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik, Teori dan Proses. Jakarta: PT. Buku Kita.

B. Perundang-Undangan :

Instruksi Presiden Nomor. 3 Tahun 2003 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government

Keppres No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Referensi

Dokumen terkait

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU UNIT LAYANAN

Untuk mengetahui kondisi saat ini dan perencanaan ke depan, Dinas Komunikasi Informatika dan PDE Provinsi Riau bermaksud melaksanakan pendataan pendukung e-government pada setiap

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan Seleksi Kompetensi

(Studi Kasus : Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik di LPSE Provinsi Sumatera

Untuk variabel sikap pelaksana dalam imple- mentor dalam implementasi E-Government pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil Kota Pekanbaru studi kasus penyelenggaraan E-KTP

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU. TAHUN

Kesimpulan Penelitian ini, adalah pelaksanaan penilaian kinerja pegawai berdasarkan DP3 pada Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Riau, masih belum

IMPLEMENTASI DATA MINING CLUSTERING DATA PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN ALGORITMA K-MEANS PADA KOLEKSI PERPUSTAKAAN Studi Kasus : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan