A
A.. LLaattaar r BBeellaakkaanngg
Dalam perkembangan di bidang
Dalam perkembangan di bidang kesehatan khususnya pada pemeriksaankesehatan khususnya pada pemeriksaan penunjang medik, seperti radiologi yang telah
penunjang medik, seperti radiologi yang telah mengalami banyak perubahanmengalami banyak perubahan sala
salah h satusatunya nya pada pada pemepemeriksariksaan an konvkonvensiensionalonal, , ada ada yang yang mengmenggunagunakankan ko
kontntraras s memedidia a dadan n adadapapun un yayang ng titidadak k memengnggugunanakakan n kokontntraras s memedidia.a. Pem
Pemerieriksaksaan an ronrontgetgen n konkonvenvensiosional nal ini ini dildilakuakukan kan dedengangan n pepengangambimbilanlan gam
gambar bar memenggnggunaunakan kan sinsinar-ar-X, X, yanyang g memeruprupakaakan n panpancarcaran an gelgelombombangang elektromagnetik dengan daya tembus tinggi yang terbentuk dari elektromagnetik dengan daya tembus tinggi yang terbentuk dari elektron-elektron yang diarahkan dengan kecepatan tinggi pada suatu sasaran atau elektron yang diarahkan dengan kecepatan tinggi pada suatu sasaran atau tar
targeget, t, dadari ri proproses ses tertersebsebut ut akaakan n terterjadjadi i suasuatu tu keakeadaadaan n dimdimanana a eneenergirgi elektron yang sebagian besar (99%) diubah menjadi panas dan sebagian elektron yang sebagian besar (99%) diubah menjadi panas dan sebagian kecil (1%) diubah menjadi sinar-X, dengan adanya pengambilan gambar kecil (1%) diubah menjadi sinar-X, dengan adanya pengambilan gambar menggunakan sinar-X maka anatomi dan fisiologi dari suatu organ bagian menggunakan sinar-X maka anatomi dan fisiologi dari suatu organ bagian da
dalalam m tutububuh h dadapapat t teterlrlihihat at jejelalas s dadalalam m gagambmbararan an raradidiogograrafi, fi, yayangng mem
mempunpunyayai i perperanaanan n sansangat pentgat penting daling dalam membaam membantu menentu menegakgakkankan diagnosa pada suatu penyakit ataupun kelainan.
diagnosa pada suatu penyakit ataupun kelainan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena adanya suatu penyakit salah satunya Pemeriksaan ini dilakukan karena adanya suatu penyakit salah satunya pada
pada penypenyakit akit diabdiabetes etes melitmelitus,us, yang yang merupmerupakan akan ganggangguan guan metametabolisbolismeme ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah yang disebabkan oleh ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah yang disebabkan oleh gangguan pada sekresi insulin.
gangguan pada sekresi insulin.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2007 mengenai Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2007 mengenai diabetes melitus yang merupakan salah satu penyakit tidak menular yang diabetes melitus yang merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun di dunia yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun di dunia yang terus meningkat disebabkan karena pola hidup yang semakin tidak sehat. terus meningkat disebabkan karena pola hidup yang semakin tidak sehat. Penyakit diabetes melitus dapat menyebabkan timbulnya
Penyakit diabetes melitus dapat menyebabkan timbulnya gangrene diabetic,gangrene diabetic, yang merupakan luka pada kaki yang berwarna merah kehitaman terkadang yang merupakan luka pada kaki yang berwarna merah kehitaman terkadang dis
disertertai ai babau u busbusukuk, , sehsehingingga ga pempemerieriksaksaan an radradiogiografrafii ossa ossa pedipediss dengan dengan kl
klininis is didiababetetes es memelilitutus s memememerlrlukukan an pepenanangngananan an khkhusususus, , sesepepertrtii
1 1
men
mengguggunanakankan handscoonhandscoon dadan memn memakakaiai medicalmedical face face mask mask saat kontasaat kontak k langsung dengan pasien.
langsung dengan pasien. Berd
Berdasarkasarkan an teori teori Frank pemeriFrank pemeriksaaksaan n radioradiografigrafi ossa pedisossa pedis dilakukan dilakukan den
dengan gan proproyekyeksi si AnAntertero-Po-Pososterterior ior (AP(AP),), rorotatasi si memedidia, a, rorotatasi si lalateteraral,l, mediolateral
mediolateral dan dan lateromediallateromedial. Di rumah sakit daerah Jakarta pemeriksaan. Di rumah sakit daerah Jakarta pemeriksaan radiografi
radiografi ossa pedisossa pedis dilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan dilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan rot
rotasi asi memediadial, l, sedsedangangkan kan penpengagalamlaman an pepenulnulis is padpada a saasaat t PraPraktektek k KerKerjaja Lap
Lapangangan an (PK(PKL) L) di di babagiagian n radradioliologogi i di di rumrumah ah sasakit kit PriPrikakasih sih di di daedaerahrah Pondok Labu, Cilandak, penulis menemuka
Pondok Labu, Cilandak, penulis menemukan pemeriksaann pemeriksaan ossa pedisossa pedis pada pada klini
klinis s diabdiabetes etes melitmelitus us dilakdilakukan ukan dengdengan an proyeproyeksi ksi AnteAntero-Poro-Posteristerior or (AP)(AP) dan
dan mediolateralmediolateral, maka penting dilakukan penelitian guna mengetahui hasil, maka penting dilakukan penelitian guna mengetahui hasil gambaran radiografi dari
gambaran radiografi dari ossa pedisossa pedis dan penulis ingin dan penulis ingin menganalisa mengapmenganalisa mengapaa di rumah sakit Prikasih pemeriksaan radiografi
di rumah sakit Prikasih pemeriksaan radiografi ossa pedisossa pedis dilakukan dengandilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral..
Maka perlu diketahui proyeksi-proyeksi yang tepat agar mendapatkan Maka perlu diketahui proyeksi-proyeksi yang tepat agar mendapatkan inf
informormasi asi yanyang g opoptimtimal al untuntuk uk kepkeperlerluauan n diadiagnognosa sa yanyang g dadapat pat dipdipakaakaii seba
sebagai acuan pemegai acuan pemeriksariksaanan ossa pedisossa pedis dengan klinis diabetes melitus di dengan klinis diabetes melitus di rum
rumah ah saksakit it PriPrikaskasih, ih, oleoleh h karkarena ena itu itu penpenuliulis s tertertartarik ik untuntuk uk memmembuabuatt p
prrooppoossaal l kkaarryya a ttuulliis s iillmmiiaah h ddeennggaan n jjuudduull ProProsedusedur r PemPemerikeriksaasaann Rad
Radiogiografrafii Ossa PedisOssa Pedis Pada Klinis Diabetes Melitus dengan Proyeksi Pada Klinis Diabetes Melitus dengan Proyeksi
AP dan
AP dan Mediolat Mediolateral eral di Rumah Sakit Prikasih. di Rumah Sakit Prikasih.
B
B.. RRuummuussaan n MMaassaallaahh Ber
Berdasdasarkarkan an urauraian ian latlatar ar belbelakakang ang di di ataatas, s, makmaka a penpenuliulis s menmengkagkajiji per
permasmasalaalahahan n dendengan gan memerumrumuskuskan an suasuatu tu masmasalaalah h yaiyaitu tu “Ba“Bagaigaimamanana pro
prosesedur pemedur pemerikriksaasaann osossa sa pedpedisis pada pada kliklinis nis diadiabetbetes es melmelituitus s dendengangan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral di rumah sakit Prikasih.” di rumah sakit Prikasih.”
C
men
mengguggunanakankan handscoonhandscoon dadan memn memakakaiai medicalmedical face face mask mask saat kontasaat kontak k langsung dengan pasien.
langsung dengan pasien. Berd
Berdasarkasarkan an teori teori Frank pemeriFrank pemeriksaaksaan n radioradiografigrafi ossa pedisossa pedis dilakukan dilakukan den
dengan gan proproyekyeksi si AnAntertero-Po-Pososterterior ior (AP(AP),), rorotatasi si memedidia, a, rorotatasi si lalateteraral,l, mediolateral
mediolateral dan dan lateromediallateromedial. Di rumah sakit daerah Jakarta pemeriksaan. Di rumah sakit daerah Jakarta pemeriksaan radiografi
radiografi ossa pedisossa pedis dilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan dilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan rot
rotasi asi memediadial, l, sedsedangangkan kan penpengagalamlaman an pepenulnulis is padpada a saasaat t PraPraktektek k KerKerjaja Lap
Lapangangan an (PK(PKL) L) di di babagiagian n radradioliologogi i di di rumrumah ah sasakit kit PriPrikakasih sih di di daedaerahrah Pondok Labu, Cilandak, penulis menemuka
Pondok Labu, Cilandak, penulis menemukan pemeriksaann pemeriksaan ossa pedisossa pedis pada pada klini
klinis s diabdiabetes etes melitmelitus us dilakdilakukan ukan dengdengan an proyeproyeksi ksi AnteAntero-Poro-Posteristerior or (AP)(AP) dan
dan mediolateralmediolateral, maka penting dilakukan penelitian guna mengetahui hasil, maka penting dilakukan penelitian guna mengetahui hasil gambaran radiografi dari
gambaran radiografi dari ossa pedisossa pedis dan penulis ingin dan penulis ingin menganalisa mengapmenganalisa mengapaa di rumah sakit Prikasih pemeriksaan radiografi
di rumah sakit Prikasih pemeriksaan radiografi ossa pedisossa pedis dilakukan dengandilakukan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral..
Maka perlu diketahui proyeksi-proyeksi yang tepat agar mendapatkan Maka perlu diketahui proyeksi-proyeksi yang tepat agar mendapatkan inf
informormasi asi yanyang g opoptimtimal al untuntuk uk kepkeperlerluauan n diadiagnognosa sa yanyang g dadapat pat dipdipakaakaii seba
sebagai acuan pemegai acuan pemeriksariksaanan ossa pedisossa pedis dengan klinis diabetes melitus di dengan klinis diabetes melitus di rum
rumah ah saksakit it PriPrikaskasih, ih, oleoleh h karkarena ena itu itu penpenuliulis s tertertartarik ik untuntuk uk memmembuabuatt p
prrooppoossaal l kkaarryya a ttuulliis s iillmmiiaah h ddeennggaan n jjuudduull ProProsedusedur r PemPemerikeriksaasaann Rad
Radiogiografrafii Ossa PedisOssa Pedis Pada Klinis Diabetes Melitus dengan Proyeksi Pada Klinis Diabetes Melitus dengan Proyeksi
AP dan
AP dan Mediolat Mediolateral eral di Rumah Sakit Prikasih. di Rumah Sakit Prikasih.
B
B.. RRuummuussaan n MMaassaallaahh Ber
Berdasdasarkarkan an urauraian ian latlatar ar belbelakakang ang di di ataatas, s, makmaka a penpenuliulis s menmengkagkajiji per
permasmasalaalahahan n dendengan gan memerumrumuskuskan an suasuatu tu masmasalaalah h yaiyaitu tu “Ba“Bagaigaimamanana pro
prosesedur pemedur pemerikriksaasaann osossa sa pedpedisis pada pada kliklinis nis diadiabetbetes es melmelituitus s dendengangan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral di rumah sakit Prikasih.” di rumah sakit Prikasih.”
C
Pen
Penuliulis s memmembatbatasi asi penpenelielitiatian n ini ini padpada a pempemerieriksaksaan an radradiogiografrafii ossaossa
pedis
pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP)
dan
dan mediolateralmediolateral di rumah sakit Prikasih. di rumah sakit Prikasih.
D
D.. TTuujjuuaan n PPeenneelliittiiaann 1
1.. TTuujjuuaan n UUmmuumm Meng
Menganalanalisa isa prosprosedur pemeriksedur pemeriksaanaan ossa ossa pedipediss dengdengan an kliniklinis s diabdiabetesetes melitus di rumah sakit Prikasih.
melitus di rumah sakit Prikasih.
2
2.. TTuujjuuaan Kn Khhuussuuss a.
a. MeMengngaananalilisa sa hahassil il gagambmbaararan n pepenanatatalalaksksaananaaann ossossa a pedpedisis padpada a kliklinisnis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral di di rumah sakit Prikasih.
rumah sakit Prikasih. b.
b. MengMenganalanalisa tujuaisa tujuan penataln penatalaksaaksanaannaan ossa pedisossa pedis pada klinis diabetes melitus pada klinis diabetes melitus deng
dengan proyekan proyeksi Antero-Posi Antero-Posteristerior or (AP) dan(AP) dan medimediolatolateraleral di rumah sakitdi rumah sakit Prikasih dengan teori.
Prikasih dengan teori.
E
E.. MMaannffaaaat t PPeenneelliittiiaann Penu
Penulisalisan n propoproposal sal penepenelitian litian yang dilakukayang dilakukan n ini, ini, maka maka dihardiharapkaapkann
bermanfaaat untuk hal-hal sebagai berikut:
bermanfaaat untuk hal-hal sebagai berikut:
1.
1. HaHasil dari pensil dari penelielitiatian dapan dapat t menmenamambah dabah dan mempen memperdardalam ilmu mahlam ilmu mahasiasiswaswa kh
khususususnynya a ililmu mu pepengngetetahahuauan n di di bibidadang ng raradidiododiaiagngnosostitik k memengngenenaiai pena
penatalaktalaksanasanaanan ossa pedisossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan
Antero-Posterior (AP) dan mediolateralmediolateral.. 2.
2. HaHasil darsil dari i penpenelielitiatian n ini dihini diharaarapkapkan dapat menn dapat mengemgembanbangkagkan n ragragam tekam teknik nik dan posisi
dan posisi pemeriksaanpemeriksaan ossa pedisossa pedis di Rumah Sakit Prikasih. di Rumah Sakit Prikasih.
F
F.. KKeeaasslliiaan n PPeenneelliittiiaann Penu
Penulis tellis telah melah melihat kaihat karya turya tulis ilmilis ilmiah dari tah dari tahun 2ahun 2012-2012-2016 Ju016 Jurusanrusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, salah satunya mengangkat judul KTI tentang “Penatalaksaaan Pemeriksaan salah satunya mengangkat judul KTI tentang “Penatalaksaaan Pemeriksaan Radi
Radiografografii Ossa PedisOssa Pedis Pada Kli Pada Klinisnis SepsisSepsis di Rumah Sakit Tebet Jakarta” di Rumah Sakit Tebet Jakarta” oleh Mustaqi
oleh Mustaqim m pada tahun 2016, pada tahun 2016, sedasedangkangkan n pada penelitpada penelitian ian ini ini penupenulislis mengangkat judul proposal KTI tentang “Prosedur Pemeriksaan Radiografi mengangkat judul proposal KTI tentang “Prosedur Pemeriksaan Radiografi Oss
Ossa a PedPedisis PaPada da KlKlininis is DiDiababetetes es MeMelilitutus s dedengngan an PrProyoyekeksi si AP AP dadann Mediolat
A. Landasan Teori
1. Anatomi Fisiologi Ossa Pedis
Ossa pedis terdiri dari 26 ruas tulang, yang dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu ossa phalanges atau tulang jari-jari kaki, ossa metatarsal atau tulang tempurung kaki, dan ossa tarsalia atau tulang pergelangan kaki. Untuk tujuan deskripsi (penggambaran), kaki dibagi menjadi bagian depan yang mencakup metatarsal dari jari kaki, bagian tengah kaki yang mencakup os cuneiform, os navicular , dan os cuboid (os calcis). Permukaan superior (anterior) dari kaki diistilahkan dengan permukaan dorsum atau dorsal dan aspek inferior (posterior) kaki diistilahkan dengan permukaan plantar (Ballinger, 2003) dapat dilihat pada gambar 2.1, gambar 2.2, dan
gambar 2.3.
a. Ossa Phalanges (jari kaki)
Jari kaki terdapat 14 ruas tulang, dua ruas tulang pada ibu jari dan tiga tulang pada setiap jari yang lain. Tulang ibu jari dibagi dua, yaitu phalanges distal dan proksimal, keempat jari yang lain terdiri dari phalanges proksimal, medial dan distal. Masing-masing phalanges dibentuk oleh tubuh tulang dan persendian pada kedua ujungnya. Phalanges distal adalah kecil dan merata, memiliki sebuah pinggiran kasar pada jaringan calcaneus pada ujung distal untuk menahan kuku. (Ballinger, 2003) (lihat gambar 2.1)
b. Ossa Metatarsal
Ossa metatarsal merupakan tulang pipa yang terdiri dari tubuh dan dua persendian, pada bagian proksimal membentuk persendian dengan os cuboid dan os cuneiform. Ossa metatarsal terdiri dari lima bagian, dimulai bagian, dimulai pada bagian medial atau pada ibu jari kaki yaitu os metatarsal pertama pada umumnya tulang-tulang sesamoid terdapat pada permukaan plantar os metatarsal pertama dan tulang ini sangat pendek dan
1 4
tebal, os metatarsal kedua lebih panjang dan yang kelima menonjol bagian tuberosity pada sisi lateral. (Ballinger, 2003) (lihat gambar 2.1)
c. Ossa Tarsalia (Tulang pangkal kaki)
Ossa Tarsalia terdiri dari 7 ruas tulang yaitu: os calcaneus (os calci / tulang tumit), os talus (astragalus), os navicular (os scaphoid / tulang bentuk kapal), os cuboid (tulang bentuk dadu), dan 3 buah os cuneiform yaitu cuneiform lateralis, cuneiform intermedialis dan cuneiform medialis. Dimulai pada sisi medial pada kaki, cuneiform juga dapat disebut sebagai: cuneiform pertama atau medial, kedua atau internal dan ketiga atau eksternal. (Ballinger, 2003) (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2)
d. Os Calcaneus (Tulang tumit)
Os calcaneus merupakan tulang tarsal yang kuat dan besar bentuknya. Tulang ini ada di sebelah belakang bagian posterior dan inferior dari calcaneus terdiri dari tuberositas posterior. Pada aspek superior tiga permukaan sendi dan bergabung dengan talus. Antara permukaan persendian talus bagian tengah, sebuah lekukan sederhana pada permukaan talus inferior. Aspek medial pada calcaneus meluas kearah yang diistilahkan sustentaculum tali. (Bontrager, 2005) (lihat gambar 2.1, gambar 2.2, dan gambar 2.3)
e. Os Talus
Os talus merupakan tulang terbesar kedua dari ossa tarsalia yang terletak antara ujung bawah tibia dan permukaan atas os calcaneus, kepala talus diarahkan anterior dan memiliki permukaan yang bersambung ke os navicular dan os calcaneus. Sulcus tali yang membentuk sinus tarsi adalah posterior dari os talus membentuk persendian dengan os calcaneus, sisi medial dari os talus membentuk sendi dengan medial malleolus. (M.R.E.Dean, 1975:135) (lihat gambar 2.1, gambar 2.2, dan gambar 2.3)
Os cuboid berada di sebelah lateral kaki. Os cuboid berada pada sisi lateral pada kaki antara os calcaneus dan metatarsal keempat dan kelima. Os navicular (os scapoid ) berada pada sisi medial pada kaki antara talus dan ketiga os cuneiform. Os cuneiform berada aspek sentral dan medial pada kaki antara os navicular dan os metatarsal pertama, kedua dan ketiga. Os cuneiform medial adalah paling besar dan os cuneiform intermedial adalah paling kecil dari ketiga os cuneiform. (Ballinger, 2003) (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.3)
g. Os Navicular
Os navicular terletak diantara os talus dan os cuneiform dan biasanya disebut tulang perahu. Permukaan belakang terdapat permukaan sendi yang lebar untuk bersendi dengan os talus. Permukaan depannya merupakan muka sendi yang cekung dan dipisahkan oleh dua tepi tegak menjadi tiga permukaan untuk bersendi dengan os cuneiform. Permukaan tengahnya membentuk tuberculum navicular , permukaan sampingnya terdapat dataran kecil untuk bersendi dengan os cuboid , permukaan atasnya kasar dan agak lebar dari permukaan bawahnya yang juga kasar dan agak cembung dari sisi satu ke sisi lainnya. (M.R.E.Dean, 1975) (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2)
h. Os Cuneiform
Os Cuneiform terletak di antara os navicular dan os metatarsal pertama, kedua dan ketiga. Os cuneiform terdiri dari tiga ruas tulang yaitu cuneiform medial, intermedial dan lateral. Cuneiform medial adalah ruas yang paling besar dan cuneiform intermedial adalah ruas paling kecil dari ketiga os cuneiform. (M.R.E.Dean, 1975) (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2)
i. Lengkung pada kaki
Lengkung pada kaki terdapat empat lengkung. Lengkung medial atau internal yang terbentuk dari belakang ke depan oleh calcaneus, yang merupakan pendukung posterior lengkung; talus menjadi puncak lengkung; dan kepala ketiga metatarsal sebelah dalam membentuk dukungan anterior
lengkung. Lengkung lateral atau lengkung longitudinal luar dibentuk oleh calcaneus, cuboid , dan dua tulang metatarsal sebelah luar.
Lengkung melintang ada dua, yaitu lengkung tarsal melintang dibentuk oleh tulang tarsal, dan lengkung metatarsal melintang biasanya dikenal sebagai lengkung transversus anterior, dibentuk oleh kepala tulang-tulang itu. Tulang yang pertama dan kelima merupakan sumbu pancang lengkung.
Dalam keadaan normal lengkung ini hampir menyentuh tanah kalau berdiri, tetapi bila dalam keadaan istirahat, kaki mendapat bentuk yang lebih tegas. Tulang-tulang ini disatukan ligamen dan didukung otot. (Pearce, 2012) (lihat gambar 2.1, gambar 2.2, dan gambar 2.3)
Gambar 2.1 Anatomi OsteologiOssa Pedis Antero-Posterior (AP) Pandangan dorsal tulang-tulang tapak kaki kanan.
Gambar 2.2 Anatomi OsteologiOssa Pedis Mediolateral
Tulang-tulang kaki kanan memperlihatkan lengkung medial atau lengkung longitudinal tengah. (Merril’s, 2003)
Gambar 2.3 Anatomi OsteologiOssa Pedis Lateromedial
Tulang-tulang tapak kaki kanan yang memperlihatkan lengkung lateral atau lengkung longitudinal luar.
(Merril’s, 2003)
2. PatologiOssa Pedis
Ada beberapa macam yang menyerang ossa pedis, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Arthtritis Rheumatoid (AR) adalah peradangan kronik yang mengenai sendi yang salah satunya menyebabkan timbulnya rasa sakit. (Price, 2003)
b. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan. Fraktur dibagi menjadi dua yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka, dimana fraktur tertutup yaitu fragmen tulang yang tidak menembus kulit atau luka, proses penyembuhannya berlangsung lebih cepat sedangkan fraktur terbuka yaitu fragmen tulang yang menembus kulit atau perlukaan
pada kulit, proses penyembuhan fraktur terbuka membutuhkan waktu yang lebih lama. (Nasar, 2010)
c. Hallux Rigidus adalah pertumbuhan ibu jari yang miring dan seiring bersamaan dengan pembengkakan kaki. (Pearce, 2012)
d. Dislokasi adalah keluarnya kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera. Hal ini dapat menimbulkan nyeri. (Price, 1992)
e. Depresi (lekukan) adalah rasa nyeri terhadap saraf jari-jari neuroma digitalis (metatarsalgia morton) yang biasa terjadi pada kepala metatarsal (lengkung transversus). (Pearce, 2012)
f. Osteochondritis adalah radang tulang dan tulang rawan, yang timbul akibat pecahnya kepingan tulang rawan ke dalam sendi yang terkena. (Dorland, 1995)
g. Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. (Price, 2003) h. Talipes Ekuinovarus disebut juga clubfoot adalah suatu penyakit masa kecil
lainnya yang dapat dirawat secara optimal apabila diagnosis dini dengan penanganan konservatif. (Price, 1992)
3. Teknik Radiografi
Menurut Frank (2012) teknik pemeriksaan pedis: a. Proyeksi Antero-Posterior (AP)
1) Posisi Pasien
Pasien diposisikan dalam keadaan posisi supine di meja pemeriksaan, fleksikan bagian sisi yang diperiksa dengan menempatkan telapak kaki pada meja pemeriksaan. (lihat gambar 3.1)
2) Posisi Objek
Pasien diminta untuk memfleksikan lutut berlawanan dengan sandaran lutut pada sisi yang diperiksa, pada posisi kaki yang ingin diperiksa keseluruhan permukaan plantar diletakkan pada kaset di bawah kaki, pusatkan pada dasar metatarsal ketiga, dan aturlah sehingga garis tengahnya pararel dengan sumbu panjang kaki.
3) Central Ray
Central ray tegak lurus terhadap metatarsal ketiga. 4) Kriteria Evaluasi
a) Tidak adanya perputaran pada kaki.
b) Overlap metatarsal kedua sampai kelima.
c) Gambaran ruas jari kaki dan tarsal distal ke talus seperti metatarsal.
Gambar 3.1 Proyeksi Antero-Posterior Pemeriksaan Ossa Pedis
(Merril’s, 2003)
Gambar 3.2 Hasil RadiografOssa Pedis Proyeksi Antero-Posterior (AP) (Merril’s,2003)
b. Proyeksi AP Oblique 1) Posisi Pasien
Memposisikan pasien pada posisi supine dan memfleksikan bagian lutut pasien pada sisi yang diperiksa diatas meja pemeriksaan. (lihat gambar 3.3)
Menempatkan kaset dibawah kaki, paralel dengan long axis kaki dan arahkan ke garis tengah kaki setinggi metatarsal ketiga. Merotasikan kaki secara medial pada permukaan kaki membentuk sudut 30º kebidang film. 3) Central Ray
Central ray tegak lurus terhadap metatarsal ketiga. 4) Kriteria Evaluasi
Hal-hal berikut yang harus secara jelas ditunjukan: (lihat gambar 3.4) a) Metatarsal ketiga sampai keempat pada dasar bebas dari superposisi. b) Tarsal lateral dengan sedikit superposisi pada proyeksi AP.
c) Terlihatnya basis metatarsal pertama dan kedua.
d) Densitas yang cukup untuk menunjukan ruas jari kaki, metatarsal, dan tarsal.
Gambar 3.3 Proyeksi AP Oblique PemeriksaanOssa Pedis
Gambar 3.4 Hasil Radiograf Ossa Pedis Proyeksi APOblique
(Merril’s, 2003)
c. Proyeksi Mediolateral
Proyeksi mediolateral secara rutin digunakan pada sebagian besar radiologi karena posisinya yang nyaman bagi pasien. (lihat gambar 3.5) 1) Posisi Pasien
Memposisikan pasien di atas meja pemeriksaan dan arahkan sisi yang ingin periksa sampai tungkai dan kaki lateral.
2) Posisi Objek
Meluruskan lutut untuk menempatkan patella tegak lurus terhadap bidang horizontal dan atur penyangga atau sandbag di bawah lutut pertengahan kaset pada daerah tengah kaki dan aturlah sehingga garis tengah pararel dengan sumbu panjang kaki, dorsifleksikan kaki secukupnya untuk meletakkannya pada permukaan lateralnya dan mengatur permukaan plantar tegak lurus terhadap film.
3) Central Ray
Central ray tegak lurus terhadap metatarsal ketiga.
4) Kriteria Evaluasi
Hal-hal berikut yang harus secara jelas ditunjukkan: (lihat gambar 3.6) a) Metatarsal mendekati superposisi.
b) Tampak kaki bagian distal dan Ankle joint.
d) Densitas yang cukup memperlihatkan superimposisi tarsal dan metatarsal.
Gambar 3.5 Proyeksi Mediolateral PemeriksaanOssa Pedis
(Merril’s. 2003)
Gambar 3.6 Hasil RadiografOssa Pedis Mediolateral
(Merril’s. 2003)
4. Patofisiologi
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang terjadi karena kadar glukosa darah yang meningkat karena hormon pengaturannya (insulin) tidak ada, berkurang, atau kerja insulinya terganggu. Insulin merupakan hormon yang dihasilkan pankreas, sebuah organ disamping lambung, hormon tersebut melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin bertugas membantu menyalurkan gula kedalam sel agar diubah menjadi energi. Jika jumlah insulin tidak mencukupi, akan terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes. Tanda-tanda
penyakit dari gula biasanya terdapat kadar gula yang tinggi saat puasa. (Djatmiko,2016)
Penyakit DM merupakan salah satu penyakit yang tidak menular dan tidak berbahaya, oleh karena itu penanganan penderita DM hanya memerlukan handscoon dan medical face mask saat kontak langsung dengan penderita, dikarenakan penyakit tersebut dapat menimbul luka atau gangrene yang merupakan luka atau radang yang terjadi pada daerah bagian kaki yang berwarna kehitaman disebabkan sebagian jaringannya mati dan berbau busuk, tidak jarang pada akhirnya kaki penderita harus diamputasi. (Misnadiarly, 2016)
Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit: a. Substansi
Mengganti bahan atau alat yang beresiko tersentuh langsung oleh penderita, seperti mengganti alas pada kaset yang telah digunakan.
b. Pelindung Diri
Melindungi setiap pekerja agar tidak kontak langsung terhadap pasien, seperti menggunakan handscoon dan medical face mask saat melakukan tindakan.
c. Ventilasi
Mengatur keluar masuknya udara dalam tempat kerja. d. Pelatih atau Pendidikan
Melatih serta mendidik pekerja agar mengetahui tata cara menangani pasien.
e. Pemeriksaan Kesehatan
Melakukan pemeriksaan secara jelas dan berkala kepada pekerja agar dapat mengetahui gejala-gejala penyakit secara dini. (Djatmiko, 2016)
Diabetes melitus memiliki dua tipe, yaitu tipe I dan tipe II. diabetes melitus tipe I terjadi karena pankreas memproduksi terlalu sedikit atau sama sekali tidak lagi bisa memproduksi insulin. Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi insulin, dalam pankreas, mengakibatkan produksi insulin berhenti. Untuk dapat mengatur kadar gula darahnya penderita harus menggunakan suntikan insulin.
Pada diabetes melitus tipe II, merupakan yang terbanyak diderita saat ini (90% lebih), sering terjadi pada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, gemuk, dan mempunyai riwayat diabetes dalam keluarga. Pada
diabetes melitus tipe II pankreas tetap memproduksi insulin, namun cacat pada sel-sel tubuh membuat mereka resisten terhadap pengaruh insulin sehingga tidak dapat menyerang glukosa seperti yang seharusnya. Tubuh yang mulai kekurangan gula akibat dari sel-sel yang tidak menyerang glukosa, pankreas merespon dengan semakin meningkat produksi insulin, namun hormon insulin yang berlebih tidak dapat mampu membuat glukosa diserap dengan baik oleh sel-sel tubuh hingga akhirnya pankreas menjadi kehabisan daya dan mengurangi produksi insulin.
Komplikasi penyakit yang berkenaan dengan diabetes melitus berikut: a. Diabetik Ketoasidosis
Diabetik Ketoasidosis (DKA) merupakan gangguan secara potensial yang terjadi akibat difisiensi insulin lama yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia ekstrem, biasanya terjadi pada diabetes melitus tipe I.
b. Sindrom Nonketotik Hiperosmolar Hiperglikemia
Sindrom Nonketotik Hiperosmolar Hiperglikemia (SNKHH) merupakan krisis metabolik yang mempengaruhi diabetes melitus tipe II.
c. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kandungan glukosa darah di bawah 60 mg/dL, terjadi jika insulin telalu banyak. (Barbara Engram, 1994) d. Angiopati Diabetic
Angiopati Diabetic merupakan penyempitan pembuluh darah pada penderita diabetes.
Penderita diabetes melitus perlu mengontrol kadar gula darahnya agar terhindar dari kompliksi jangka panjang lainnya, seperti stroke, penyakit jantung, kebutaan, gagal ginjal, penyakit pada pembuluh darah, dan kerusakan saraf sehingga dapat menyebabkan amputasi pada anggota tubuh, dan pada pria dapat terjadi gangguan ereksi.
Penderita diabetes umumnya menunjukkan gejala berikut:
a. Sering buang air kecil; ini adalah respon tubuh terhadap glukosa berlebihan dalam darah.
b. Haus dan banyak minum karena tubuh kekurangan cairan akibat sering buang air kecil.
c. Badan lelah atau lemah dan mudah mengantuk dan diikuti dengan berat badan turun karena tubuh mencoba mengatasi kehilangan gula dengan memecah protein, lemak, dan glikogen (gula yang disimpan dalam otot).
d. Pada stadium lanjut, diabetes mengakibatkan mata kabur, luka dan sulit sembuh, dan mudah terjadi infeksi pada kulit (gatal-gatal), saluran kencing, dan gusi.
Diabetes dapat terjadi pada siapa saja, namun khusus bagi yang mempunyai riwayat keluarga diabetes, kemungkinan untuk menderita diabetes lebih besar. Faktor risiko lainnya adalah berat badan berlebih (gemuk), kolestrol tinggi (pola makan yang tidak baik), hipertensi, dan kurang aktivitas fisik. Bagi yang berusia lebih dari 40 tahun disertai dengan kegemukan akan semakin meningkatkan risiko menderita diabetes.
Belum ditemukannya obat yang dapat menyembuhkan diabetes hingga saat ini, namun dengan menurunkan berat badan yang berlebih, diet yang baik, berolahraga secara teratur, menjaga ketenangan pikiran, dan mengendalikan stres, gula darah dapat kembali normal. Hal ini tidak berarti penderita telah sembuh total dari diabetes. Jika penderita kembali gemuk, diet buruk, serta tidak berolahraga, gula darah akan meningkat kembali. Kesimpulannya diabetes tidak dapat sembuh, tapi gula darah dapat dikontrol dalam batas normal. (Kompyang Rata, 2016)
B. Kerangka Konsep
Prosedur Pemeriksaan Ossa Pedis pada Klinis Diabetes Melitus dengan Proyeksi AP dan Mediolateral di Rumah Sakit Prikasih.
Prosedur pemeriksaan radiografi ossa pedis.
Penatalaksanaan ossa pedis menurut teori Frank dengan proyeksi Antero-Posterior (AP), rotasi medial, rotasi lateral, mediolateral, dan lateromedial. Deskripsi hasil gambaran radiografi ossa pedis. Penatalaksanaan radiografi ossa pedis di rumah sakit Prikasih menggunakan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan Mediolateral.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, berupa studi kasus dengan melakukan observasi pada Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih, dan untuk mendeskripsikan secara jelas fakta-fakta yang ada dalam lapangan tentang penatalaksanaan dua proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Mei 2017 di Instalasi Radiologi rumah sakit Prikasih.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien di instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih, dengan pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus yang tidak membatasi jenis kelamin.
2. Sampel
Sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu 3 pasien dengan penatalaksaan teknik pemeriksaan ossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral.
D. Metode Pengumpulan Data
Penulis menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan beberapa data yang dapat membantu dalam penulisan proposal karya tulis ilmiah, Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Observasi
Mengamati secara langsung dengan melihat dan memahami penatalaksanaan pemeriksaan radiografi ossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi AP dan mediolateral di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih.
2. Dokumentasi
Mendokumentasikan hasil observasi yang berbentuk hasil gambaran radiografi dengan cara mencatat dan mengumpulkan data, yang berkaitan
dengan prosedur penatalaksanaan pemeriksaan ossa pedis untuk mendukung hasil penelitian.
3. Wawancara
Wawancara ini bertujuan untuk menambah wawasan penulis tentang prosedur pemeriksaan ossa pedis dalam penulis melakukan wawancara dengan radiografer dengan cara tanya jawab yang tentang prosedur penatalaksanaan pemeriksaan radiografi ossa pedis pada pasien pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi AP dan mediolateral yang dilakukan di instalasi radiologi rumah sakit Prikasih. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan guna menunjang masalah-masalah yang akan dibahas dalam penulisan proposal karya tulis ini.
E. Pengolahan dan Analisis Data
Data-data yang didapat dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan data untuk menyusun prosedur tetap yang dibutuhkan pada pemeriksaan ossa pedis dengan proyeksi AP dan mediolateral secara deskriptif sehingga menjadi kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang dibahas dalam proposal karya tulis ilmiah ini.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Observasi
Mengenai prosedur penatalaksanaan pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus yang diperoleh berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara yang dilakukan penulis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih dengan menggunakan berupa data sekunder.
1. Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada saat pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus di Rumah Sakit Prikasih adalah sebagai berikut:
a. Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen adalah alat atau pesawat medik yang bekerja menghasilkan radiasi sinar-x, untuk radiografi medik. Pesawat rontgenyang digunakan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih pada saat melakukan pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus yang memiliki spesifikasi sebagai berikut:
1) Merk : Toshiba 2) Tipe : DRX-1603B 3) Model : BLR-1000A 4) Nomor Seri : 2G0398 5) Produksi : Japan 6) Kondisi Maksimum : 150 kV 20
Gambar 4.1 Pesawat Rontgen merk Toshiba di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih. b. Control Panel
Control Panel merupakan perangkat pengatur eksposi. Merk: Toshiba
Gambar 4.2 Control Panel merk Toshiba di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih.
c. Komputer
Perangkat ini berfungsi untuk mengolah data, memanipulasi gambar, menyimpan data-data (gambar), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
1) Merk : Samsung
2) Nomor Model : LS220170580XD 3) Nomor Tipe : LS220170
Gambar 4.3 Komputer merk Samsung di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih. d. Detektor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film.
1) Merk : Samsung
2) Nomor Model : 1417WCA 3) Nomor Seri : CA0E15130006
Gambar 4.4 Imaging Plate atau Detektor merk Samsung di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih. e. Printer
Printer berfungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan yaitu sebagai alat pencetak hasil gambaran yang sudah diproses. Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk menghasilkan gambar.
Merk: Agfa
Gambar 4.5 Printer merk Agfa
di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih. f. Apron
Apron atau alat pelindung diri. Pada pemeriksaan ossa pedis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih, pasien menggunakan alat
pelindung diri atau apron setiap pemeriksaan ossa pedis, tujuannya untuk melindungi bagian vital pada daerah tubuh dari sinar-x.
Merk: Bar-Ray
Gambar 4.6 Apron merk Bar-Ray di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih.
2. Subyek Penelitian
Berdasarkan hasil observasi dilakukan di Rumah Sakit Prikasih permintaan dengan pemeriksaan ossa pedis sebanyak 3 sampel.
Sampel Penelitian 1
Nama Pasien : Tn. M. A. R
Umur : 49 tahun 10 bulan Diagnosa : Diabetes Mellitus No. Rontgen : L-138
Dokter Pengirim : dr. Ida Ayu Made K, Sp.PD
Sampel Penelitian 2
Nama Pasien : Tn. A. Z
Umur : 58 tahun 8 bulan Diagnosa : Diabetes Mellitus No. Rontgen : L-076
Dokter Pengirim : dr. Ida Ayu Made K, Sp.PD Sampel Penelitian 3
Nama Pasien : Ny. W. S
Umur : 70 tahun 5 bulan Diagnosa : Diabetes Mellitus No. Rontgen : P-295
Dokter Pengirim : dr. Ida Ayu Made K, Sp.PD
3. Persiapan Pasien
Pada pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus pasien tidak memerlukan persiapan khusus. Pasien datang ke instalasi radiologi dan langsung dapat dilakukan pemeriksaan ossa pedis. Pasien tidak perlu mengganti baju, hanya saja pasien diinstruksikan untuk berbaring di atas meja pemeriksaan dan meminta pihak keluarga untuk menunggu di ruang tunggu Instalasi Radiologi.
4. Prosedur Pemeriksaan
Prosedur yang dijalankan dalam pemeriksaan ossa pedis :
a. Melihat form permintaan pemeriksaan pasien dan memasukan data pasien ke komputer.
b. Memanggil pasien sesuai dengan nama yang tertera diform permintaan pemeriksaan.
c. Mengecek kembali data yang tertera diform permintaan pemeriksaan, dengan menanyakan nama dan tanggal lahir pasien dan disesuaikan diform pemeriksaan.
d. Mempersilahkan pasien masuk ke ruang pemeriksaan, dan meminta keluarga untuk menunggu di ruang tunggu pemeriksaan.
e. Menginstruksikan pasien untuk berbaring dimeja pemeriksaan. f. Memasukkan pendeteksi di bawah kaki yang ingin diperiksa.
g. Posisikan objek pemeriksaan ossa pedis dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan Mediolateral.
i. Atur faktor eksposi sesuai dengan pasien yang melakukan pemeriksaan ossa pedis.
j. Pasien dipersilahkan untuk keluar dari ruang pemeriksaan dan diberitahukan untuk hasil pemeriksaan dapat diambil pada keesokan harinya atau saat kontrol.
k. Setelah pemeriksaan selesai kemudian gambar diproses dikomponen DR untuk dicetak.
l. Hasil gambaran diberikan kepada dokter spesialis radiologi untuk diekspertise.
5. Teknik Pemeriksaan
Pemilihan teknik proyeksi dan penerapannya pada pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih adalah sebagai berikut:
a. Proyeksi Anterior-Posterior (AP)
Langkah-langkah dari foto proyeksi Anterior-Posterio (AP):
Posisikan pasien supine diatas meja pemeriksaan, fleksikan lutut sehingga bagian plantar pedis menempel pada imagimg plate yang telah diletakkan di atas meja pemeriksaan, atur metatarsal digiti ketiga berada tepat pada pertengahan, dan pastikan pedis nantinya tidak ada gambaran yang terpotong. Atur central ray tegak lurus terhadap bidang image receptor dengan central point pada metatarsal digiti ketiga. Atur Focus Film Distance (FFD) 100cm, atur faktor eksposi dengan 45 kV, 100 mA, dan 0,025 s.
b. Proyeksi Mediolateral
Langkah-langkah dari foto proyeksi Mediolateral:
Posisikan pasien supine diatas meja pemeriksaan, Atur kaki true lateral, sisi lateral kaki menempel dan berada dipertengahan imaging plate. Fleksikan kaki membentuk sudut 90º , dan pastikan pedis
nantinya tidak ada gambaran yang terpotong. Atur central ray tegak lurus terhadap bidang pendeteksi dengan central point pada
metatarsal digiti ketiga. Atur Focus Film Distance (FFD) 100 cm, atur faktor eksposi dengan 45 kV, 100 mA, dan 0,025 s.
6. Hasil Gambaran
Gambaran radiografi yang dihasilkan pada pemeriksaan ossa pedis terhadap salah satu dari ketiga sampel adalah sebagai berikut:
SAMPEL 1
Gambar 4.7 Hasil RadiografiOssa Pedis Sinistra Proyeksi Antero-Posterior (AP) pada Sampel 1 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih.
Kriteria gambaran yang dihasilkan pada pemeriksaan radiografi ossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral. Metatarsal ketiga sampai keempat bebas dari superposisi, tarsal lateral dengan sedikit superposisi pada proyeksi Antero-Posterior (AP) dan terlihat basis metatarsal pertama dan kedua.
Gambar 4.8 Hasil Radiografi Ossa Pedis Sinistra Proyeksi Proyeksi Mediolateralpada Sampel 1 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih.
Kriteria gambaran yang dihasilkan pada pemeriksaan radiografi ossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral. Metatarsal dan tarsal terlihat superposisi, terlihat bagian distal pada ankle joint , fibula overlapping dengan bagian posterior dari tibia.
B. Pembahasan
Berdasarkan observasi dan wawancara penulis lakukan tindakan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Prikasih pada pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus:
Pembahasan Penatalaksanaan pemeriksaan ossa pedis pada klinis diabetes melitus di Rumah Sakit Prikasih adalah sebagai berikut
1. Proyeksi pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus di Rumah Sakit Prkasih. Proyeksi rutin yang dilakukan di Rumah Sakit Prikasih untuk pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus sesuai SOP (Standar operasional Prosedur) adalah Antero-Posterior (AP) dan mediolateral. Klinis dilakukannya pemeriksaan ini yaitu diabetes melitus. Namun, jika terdapat klinis seperti fraktur dilakukan proyeksi tambahan yaitu oblique. Pada pemeriksaan ossa pedis tidak
diperlukan persiapan khusus pasien datang ke bagian administrasi Instalasi Radiologi untuk mendaftar dengan membawa surat pengantar permintaan pemeriksaan dari dokter pengirim untuk didata. Pasien dipanggil dan mengecek identitas pasien yang tertulis disurat permintaan pemeriksaan. Pada pemeriksaan ossa pedis tidak perlu mengganti baju dan pasien dibaringkan di atas meja pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan dengan proyeksi Antero-Posterior (AP). Selanjutnya, proyeksi mediolateral dan jika terdapat klinis fraktur proyeksi tambahan yaitu proyeksi oblique. Setelah dilakukan eksposi, hasil gambaran dicek terlebih dahulu pada komputer, jika hasil sudah memenuhi kriteria diagnostik maka hasil dicetak pada film radiodiagnostik untuk di ekspertise oleh dokter radiolog. Pemeriksaan ossa pedis dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral di Rumah Sakit Prikasih sudah sesuai dengan teori yang ada di buku (Phillip w. Ballinger; 2003, Bontrager: 2005, Eugene D. Frank; 2007, Eugene D. Frank; 2012).
2. Menganalisa tujuan penatalaksanaan radiografi ossa pedis pada klinis diabetes melitus dengan proyeksi Antero-Posterior (AP) dan mediolateral di Rumah Sakit Prikasih dengan teori.
Di Rumah Sakit Prikasih dalam penatalaksanaan radiografi ossa pedis pada klinis diabetes melitus dilakukan dengan proyeksi Anteo-Posterior (AP) dan mediolateral. Proyeksi tersebut bertujuan untuk memperlihatkan ulkus dan soft tissue pada ossa pedis.
Pada pemeriksaan ossa pedis proyeksi Antero-Posterior dan proyeksi mediolateral memiliki kelebihan dan kekurangan pada klinis diabetes melitus di instalasi Rumah Sakit Prikasih berikut.
a. Kelebihan dari proyeksi pada pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus di Rumah Sakit Prikasih. Proyeksi Antero-Posterior (AP) merupakan proyeksi yang sering digunakan di rumah sakit Prikasih yang memiliki tujuan yaitu untuk mendapatkan hasil
gambaran yang menunjukan sebuah proyeksi AP (dorsoplantar ). Pada proyeksi Antero-Posterior (AP) terdapat kelebihan yaitu dapat menunjukkan bagian ossa pedis secara keseluruhan dan juga dapat menunjukkan soft tissue pedis bagian medial dan lateral, sedangkan proyeksi mediolateral memiliki kelebihan yaitu dapat menunjukkan soft tissue pedis bagian anterior dan posterior .
b. Kekurangan dari proyeksi pada pemeriksaan ossa pedis dengan klinis diabetes melitus di Rumah Sakit Prikasih. Proyeksi Antero-Posterior (AP) merupakan proyeksi yang sering digunakan di rumah sakit Prikasih yang memiliki tujuan yaitu untuk mendapatkan hasil gambaran yang menunjukan sebuah proyeksi AP (dorsoplantar ). Pada proyeksi Antero-Posterior (AP) terdapat kekurangan yaitu membutuhkan proyeksi lain seperti seperti lateral ataupun oblique karena proyeksi Antero-Posterior (AP) tidak bisa menunjukkan soft tissue pada pedis bagian anterior dan posterior , sedangkan pada proyeksi mediolateral memiliki kekurangan yaitu tidak bisa menunjukkan soft tissue bagian medial dan lateral pada pedis.