SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH ERFAN 10543 0049 14
JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng
Mahasiswa yang bersangkutan: Nama Mahasiswa : ERFAN NIM : 10543 0049 14
Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.
Makassar, September 2019 Disetujui oleh,
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd. Rismawati, S.Pd., M.Pd.
Diketahui:
Dekan FKIP Ketua Jurusan
Unismuh Makassar PPKn
Erwin Akib, M.Pd., Ph.D Dr. Muhajir, M.Pd
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : ERFAN
NIM : 10543 0049 14
Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, September 2019 Yang Membuat Pernyataan
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ERFAN
NIM : 10543 0049 14
Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2 dan 3, saya akan bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, September 2019 Yang Membuat Perjanjian
vi
Pengalaman adalah guru yang terbaik tetapi buanglah pengalaman buruk yang hanya merugikan
Seorang sahabat adalah orang yang menjawab, apabila kita memanggil dan sering menjawab sebelum kita panggil.
Segala yang indah belum tentu baik, namun segala yang baik sudah tentu indah.
Jangan tunda sampai besok apa yang bisa engkau kerjakan hari ini.
Persembahan khusus:
Karya ini bukanlah apa-apa tanpa dukungannya Keringatku dalam karya ini bukanlah apa-apa Namun keringatnya lah yang lebih dan lebih
Dorongan demi dorongan untuk memberiku semangat Tanpa memandang apapun
vii
ERFAN 2019. Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng. Skripsi jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar dibimbing olehH. Nasrun HasandanRismawati.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan hasil model pembelajaran Snowball Throwing dalam pembelajaran PPKn? Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi-evaluasi, dan analisis refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng sebanyak 22 siswa (9 laki-laki dan 13 perempuan). Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian dianalisis secara kuantitatif yaitu dengan menghitung presentasi keaktifan siswa dengan rumus dan menentukan rata-rata nilai tes yang diperoleh siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus I nampak bahwa siswa yang tuntas secara individual hanya sebesar 55%, dan meningkat pada siklus II sehingga target-target pencapaian belajar yang telah dirumuskan dan indikator keberhasilan tindakan dengan model pembelajaran Snowball Throwing telah terpenuhi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah melalui penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran PPKn kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng. Saran untuk guru agar menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
viii
Segala puji dengan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Merupakan kebahagiaan tersendiri yang penulis rasakan, karena banyaknya hambatan-hambatan yang penulis temui sejak awal pengamatan sampai pada berakhirnya penyusunan skripsi ini. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat dalam rangka penyelesaian studi SI.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai pihak, baik bentuk material ataupun moril skripsi ini tidak akan terwujud. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada orang tuaku Ayahanda Hirwan, dan Ibunda Lily serta seluruh keluargaku yang sangat banyak memberikan bantuan moril, material, arahan, dans selalu mendoakan keberhasilan serta keselamatan selama menempuh pendidikan. Kepada Bapak Drs. H. Nasrun Hasan, M.Pd. pembimbing I dan Ibu Rismawati, S.Pd., M.Pd. pembimbing II yang telah memberikan dorongan, bimbingan, masukan, komentar, nasehat, dan saran sampai terwujudnya skripsi ini.
Demikian juga terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
ix
Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Ibu Dra. Hj. Sitti Hadzirah selaku Kepala MA Negeri 2 Soppeng Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng, dan Bapak H. Rusli S.Pd. Selaku Guru kelas X MIA 2 yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam mengumpulkan data penelitian ini, serta seluruh siswa kelas X MIA 2 atas kerjasamanya selama penulis melakukan penelitian. 6. Sahabat dan teman-teman seperjuanganku khususnya kelas PPKn B
Angkatan 2014 yang telah banyak memberi masukan, saran, dan nasehat selama penyusunan skripsi ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas amal ibadah dan bantuan yang diberikan dengan tulus ikhlas serta limpahan rahmat dan karunia-Nya senantiasa tercurah kepada kita. Aamiin
Makassar, September 2019
x
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN TEORI ... 7
A. Kajian Pustaka ... 7
B. Penelitian yang Relevan ... 35
C. Kerangka Pikir ... 36
D. Hipotesis Tindakan ... 37
BAB III METODE PENELITIAN ... 38
A. Jenis Penelitian ... 38
B. Subjek Penelitian ... 38
xi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42
A. Hasil Penelitian ... 42
B. Pembahasan ... 62
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 64
A. Simpulan ... 64
B. Saran ... 64 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Pra Siklus ... 43
Table 4.2 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Siklus I ... 49
Tabel 4.3 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I ... 53
Tabel 4.4 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Siklus II ... 57
xii
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 36
Gambar 4.1 Grafik Nilai Hasil Belajar Pra Siklus ... 45
Gambar 4.2 Grafik Nilai Hasil Belajar Siklus I ... 51
xiv
Lampiran 2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Lampiran 3 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II
Lampiran 4 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng dengan menerapkan Model Pembelajaran Snowball Throwing
Lampiran 5 Dokumentasi Kegiatan Siklus I dan II Lampiran 6 Surat Permohonan Izin Penelitian Lampiran 7 Lembar Konsultasi Skripsi
1 A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal terpenting yang berhak diperoleh setiap individu. Dengan adanya pendidikan yang diberikan kepada setiap individu dapat berpengaruh terhadap kehidupannya. Pendidikan mampu mengembangkan potensi setiap individu dalam menjalani kehidupannya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1.1, tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menghidupkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan Negara.
Menurut Wahyudin (2008: 1.1) “Pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan manusia atau upaya manusia agar mampu mewujudkan diri manusia (siswa) itu mengerti, paham, dan lebih dewasa serta mampu membuat manusia (siswa) lebih kritis dalam berpikir”.
Guna mewujudkan tujuan tersebut, maka lembaga pendidikan perlu melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pendidikan serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam meningkatkan pendidikan di Negara Indonesia ini.
Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa tidak terlepas dari peran guru sebagai tenaga pengajar. Oleh karena itu, guru sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran di dalam kelas. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran PPKn dapat menjadi salah satu cara dalam proses pembelajaran untuk mengaktifkan siswa serta menanamkan karakter dan keterampilan sosial. Guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri, bukan untuk memindahkan pengetahuan. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung pada tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, kompetensi dasar yang diharapkan, tingkat perkembangan siswa, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada sebagai media pembelajaran.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang sangat berkaitan erat dengan pembentukan karakter peserta didik dalam menyadari hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik, cerdas serta memiliki pemahaman tentang nilai dan moral sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut disajikan beberapa materi pokok bahasan yang di harapkan mampu menambah wawasan peserta didik tentang pentingnya memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara dan diharapkan mampu mengimplementasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Pada proses pembelajaran PPKn saat ini, masih
banyak peserta didik yang kurang memahami materi yang disajikan oleh guru atau model yang digunakan oleh guru belum efektif membuat jalannya pembelajaran yang aktif. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu menganalisis model-model pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan mutu belajar peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara pada pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti di MAN 2 Soppeng, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan, diantaranya peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran, peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi, kemudian model yang diterapkan pada proses pembelajaran monoton misalnya ceramah dan pemberian tugas. Hasilnya menunjukkan bahwa model yang digunakan itu kurang dapat mencapai tujuan pembelajaran PPKn secara maksimal, karena pembelajaran lebih didominasi oleh teori. Hal ini menyebabkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik belum mencapai ketuntasan yang diharapkan berdasarkan ketuntasan minimal yang harus dicapai oleh peserta didik. Di samping itu, siswa menilai mata pelajaran PPKn sebagai pelajaran yang membosankan, membuat jenuh, karena mata pelajaran ini terkesan hapalan dan teoritik serta kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PPKn. Hasil belajar yang diperoleh siswa cenderung bersifat kognitif teoritis yang tidak berkembang, sedangkan pembelajaran PPKn bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik serta memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara dan memiliki kesadaran nilai dan moral berdasarkan Pancasila.
Hal inilah yang mengakibatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang diperoleh siswa kurang memuaskan. Selain itu, pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di MAN 2 Soppeng masih menganut cara pembelajaran dengan metode ceramah, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan menjadikan siswa sebagai objek pasif yang harus hanya menerima informasi, sedangkan kenyataannya, siswa yang mempunyai karakter beragam memerlukan sentuhan-sentuhan khusus dari guru sebagai pendidik dan pelatih agar mampu mengambil makna dari setiap informasi yang diterima.
Untuk mengatasi permasalahan ini, peneliti memilih model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan hasil belajar PPKn di MAN 2 Soppeng karena model pembelajaran ini diyakini dapat membantu guru dalam meningkatkan hasil belajar dari yang sebelumnya kurang efektif menjadi lebih efektif. Model pembelajaran Snowball Throwing merupakan model pembelajaran yang menuntut peserta didik aktif dalam proses pembelajaran, serta dapat melatih kecepatan berpikir peserta didik dalam menjawab pertanyaan yang diberikan, serta mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan yang diajukan.
Oleh karena itu peniliti mengambil judul “Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan hasil model pembelajaran Snowball Throwing dalam pembelajaran PPKn?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
Penelitian ini dapat menjadi suatu model yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn.
2. Bagi Guru
Penelitian ini dapat memperkaya khasanah model dan strategi dalam pembelajaran PPKn, juga dapat memperbaiki model pembelajaran yang selama ini digunakan, serta dapat menciptakan suasana pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.
3. Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah penggunaan model pengajaran PPKn khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya.
4. Bagi Peneliti
Proses penelitian ini sangat bermanfaat bagi peneliti karena dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana menggunakan model pembelajaran yang efektif dan menjadi bekal bagi peneliti yang nantinya akan menjadi seorang tenaga pendidik profesional.
7 1. Model
Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Pada pembelajaran istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman dalam merencanankan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Model dapat diartikan sebagai suatu pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, merancang, dan menyampaikan materi, mengorganisasikan, dan memilih media dan metode dalam suatukondisi pembelajaran. Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pembelajaran dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untukmenyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas pembelajaran untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten).
2. Pembelajaran
a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Di sisi lain
pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda.
Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Tujuan pembelajaran sebenarnya adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa dan merangsang keingintahuan serta memotivasi kemampuan mereka (Dahar, 1996:106). Tujuan pembelajaran dibagi menjadi tiga kategori yaitu: kognitif (kemampuan intelektual), afektif (perkembangan moral), dan psikomotorik (keterampilan). Hal ini diperkuat oleh pendapat Blomm yang membagi tiga kategori dalam tujuan pembelajaran yaitu, kognitif, afektif, psikomotorik (Nasution, 1998:25).
Tujuan kognitif berkenaan dengan kemampuan individu mengenal dunia sekitarnya yang meliputi perkembangan intelektual. Tujuan afektif mengenai perkembangan sikap, perasaan, nilai-nilai
yang disebut juga perkembangan moral. Sedangkan tujuan psikomotorik adalah menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung unsur-unsur motorik sehingga siswa mengalami perkembangan yang maju dan positif.
b. Komponen–komponen dalam Pembelajaran
Dalam peningkatan kualitas pembelajaran harus memperhatikan komponen-komponen yang mempengaruhi proses pembelajaran. Komponen-komponen pembelajaran tersebut dapat di uraikan sebagai berikut :
1) Tujuan Pembelajaran
Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang paling penting yang harus di tetapkan dalam proses pembelajaran yang mempunyai fungsi sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Menurut Chris Kyriacou (2011: 44) tujuan pembelajaran merupakan upaya perubahan tingkah laku siswa yang berlangsung sebagai akibat dari keterlibatannya dalam sebuah pengalaman pendidikan.
Kemampuan yang harus dimiliki peserta didik merupakan suatu tujuan yang ditargetkan oleh guru setelah berakhirnya proses pembelajaran. Dengan kata lain tujuan merupakan suatu komponen yang dapat mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi, yang harus disesuaikan dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan
seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2) Guru
Seorang guru memiliki peranan yang sangat berat dan penting karena guru harus bertanggung jawab atas terbentuknya moral siswa, peranan guru sebagai pendidik, membimbing dan melatih jasmani dan rohani siswanya (Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, 2009).
Guru mempunyai wewenang mengajar berdasarkan kualifikasi sebagai tenaga pengajar dan memiliki kemampuan profesional dalam proses pembelajaran. Jadi guru adalah pembimbing, pendidik dan pelatih dalam proses belajar mengajar yang harus mampu menciptakan suasana belajar yang baik.
3) Peserta didik/Siswa
Peserta didik atau siswa adalah seseorang anggota masyarakat yang sengaja belajar di sekolah tingkat dasar sampai menengah atau lembaga pendidikan lain (Depdiknas, 2003:1077). Maka siswa adalah seseorang yang bertindak sebagai pencari, penerima dan penyimpan isi pelajaran sehingga perlu mendapat bimbingan dari guru melalui proses belajar mengajar di sekolah. Siswa merupakan unsur penting yang memiliki hak dan kewajiban dalam rangka sistem pendidikan menyeluruh dan terpadu.
4) Bahan/Materi Pelajaran
Materi pelajaran adalah semua bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa pada proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Bahan pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam proses belajar mengajar.
5) Metode Pembelajaran
Metode diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Endang Mulyatiningsih, 2011: 213). Jadi untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran guru memerlukan suatu metode yang tepat sesuai dengan kondisi psikologis peserta didik.
6) Media Pembelajaran
Media pembelajaran sangat berperan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar karena dengan media peserta didik dapat menerima pesan yang disampaikan oleh guru. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan–pesan pengajaran dari guru kepada siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat, dan perhatian siswa dalam belajar.
7) Evaluasi
Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran perlu dilakukan usaha dan tindakan untuk mengevaluasi pencapaian kompetensi/hasil belajar. Jadi yang dimaksud dengan evaluasi adalah suatu kegiatan menilai yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dengan cara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
3. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran adalah pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan-tahapan, prinsip-prinsip reaksi guru dan siswa serta sistem penunjang yang disyaratkan.
Menurut Arends (dalam Suprijono, 2013: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran dan pengelolaan kelas. Menurut Joice & Weil (dalam Isjoni, 2013: 50) model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya.
Ciri-ciri Model Pembelajaran
1) Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelendan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2) Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
3) Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajardi kelas, misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas.
4) Memiliki bagian-bagian yaitu, urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), adanya prinsip-prinsip reaksi, sistem social, dan sistem pendukung. Bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
5) Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut yaitu, dampak pembelajaran yaitu, hasilbelajar yang dapat diukur, dan dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
Model Pembelajaran memiliki fungsi sebagai pedoman bagi pengajar dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa setiap model yang akan digunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dipakai dalam pembelajaran tersebut.
4. Model Pembelajaran Snowball Throwing
a. Pengertian Model Pembelajaran Snowball Throwing
Model pembelajaran Snowball Throwing adalah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual (CTL). Snowball secara etimologi berarti bola salju, sedangkan throwing artinya melempar. Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Dalam pembelajaran Snowball Throwing, bola salju merupakan kertas yang berisi pertanyaan yang dibuat oleh peserta didik kemudian dilempar kepada temannya sendiri untuk dijawab.
Menurut Saminanto (2010: 37) “Metode Pembelajaran Snowball Throwing disebut juga metode pembelajaran gelundungan bola salju”. Metode pembelajaran ini melatih peserta didik untuk lebih tanggap menerima pesan dari peserta didik lain dalam bentuk bola salju yang terbuat dari kertas, dan menyampaikan pesan tersebut
kepada temannya dalam satu kelompok. Snowball Throwing adalah paradigma pembelajaran efektif yang merupakan rekomendasi UNESCO, yakni: belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001: 5).
b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing Menurut Suprijono (2009: 128) dan Saminanto (2010: 37), langkah-langkah metode pembelajaran Snowball Throwing adalah: a) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan, dan KD yang
ingin dicapai.
b) Guru membentuk peserta didik berkelompok, lalu memanggil masing- masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing- masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
d) Kemudian masing-masing peserta didik diberikan satu lembar kertas kerja
e) Untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
f) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke peserta didik yang lain selama ±5 menit.
g) Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. h) Evaluasi.
i) Penutup.
Untuk melaksanakan model pembelajaran dengan menggunakan Snowball Throwing, pendidik perlu melakukan beberapa persiapan. Persiapan/langkah yang harus dilakukan adalah: a) Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan minimal 25 pertanyaaan
singkat, lebih banyak lebih baik.
b) Guru menyiapkan bola kecil (bisa bola karet atau bola kain), yang akan di gunakan sebagai alat lempar.
c) Guru menerangkan cara bermain Snowball Throwing kepada peserta didik.
Aturan atau cara bermain snowball throwing adalah sebagaimana diterangkan berikut ini.
a) Guru melemparkan bola secara acak kepada salah satu peserta didik.
b) Peserta didik yang mendapatkan bola melemparkannya ke peserta didik yang lain, boleh secara acak atau secara sengaja.
c) Peserta didik yang mendapatkan bola dari temannya melemparkannya kembali ke peserta didik lainnya.
d) Peserta didik ketiga/peserta didik terakhir, berkewajiban untuk mengerjakan soal yang telah disiapkan oleh guru.
e) Mengulangi terus metode di atas, sampai soal yang disediakan habis atau waktu habis.
f) Guru memulai dengan melemparkan bola kepada peserta didik secara acak.
g) Peserta didik melemparkannya kembali ke arah peserta didik yang lain, sesuai dengan peraturan yang telah dijelaskan sebelumnya. h) Peserta didik terakhir yang menerima bola harus menjawab
pertanyaan nomor satu.
i) Guru membenarkan jika jawaban salah, menegaskan apabila kurang pas dan menerangkan / membahas soal yang baru saja dijawab.
5. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slameto (2008: 7) “Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa”. Lebih lanjut Slameto (2008: 2) mengemukakan bahwa “Hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan hasil tes belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa”
Dimyati dan Mudjino (2008: 3) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar dari sisi guru, tindakan diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar sedangkan dari siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengalaman belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2008: 36) mengatakan bahwa “Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan”.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan yang meliputi aspek kognitif, efektif, dan psikomotor.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu yang berasal dari dalam peserta didik yang belajar (faktor internal) dan ada pula yang berasal dari luar peserta didik yang belajar (faktor eksternal).
Menurut Slameto, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu:
1) Faktor internal terdiri dari: a) Faktor jasmaniah b) Faktor psikologis 2) Faktor eksternal terdiri dari:
a) Faktor keluarga b) Faktor sekolah c) Faktor masyarakat
Tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi banyak faktor-faktor yang ada, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi upaya pencapaian hasil belajar siswa dan dapat mendukung terselenggaranya kegiatan proses pembelajaran, sehingga dapattercapai tujuan pembelajaran.
c. Manfaat Hasil Belajar
Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku seseorangyang mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar tertentu. Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang tampak pada siswa merupakan akibat dari proses belajar mengajar yang dialaminya yaitu proses yang ditempuhnya melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam proses pengajarannya. Berdasarkan hasil belajar siswa, dapat diketahui kemampuan dan perkembangan sekaligus tingkat keberhasilan pendidikan.
Hasil belajar harus menunjukkan perubahan keadaan menjadi lebih baik, sehingga bermanfaat untuk:
a) Menambah pengetahuan.
b) Lebih memaham sesuatu yang belum dipahami sebelumnya. c) Lebih mengembangkan keterampilannya.
d) Memiliki pandangan yang baru atas sesuatu hal. e) Lebih menghargai sesuatu daripada sebelumnya.
Dapat disimpulkan bahwa istilah hasil belajar merupakan perubahan dari siswa sehingga terdapat perubahan dari segi pegetahuan, sikap, dan keterampilan.
6. Siswa
Siswa adalah istilah yang diberikan pada peserta didik yang ada pada jenjang pendidikan. Siswa merupakan komponen masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan sehingga menjadi manusia yang berkulitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau melalui berbagai pendekatan seperti pendekatan sosial, pendekatan psikologis dan pendekatan edukatif atau pendekatan pedagogis.
Menurut Sarwono, siswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di dunia pendidikan. Menurut Muhaimin dkk, siswa dilihat sebagai seseorang “subjek didik” yang mana nilai kemanusian sebagai individu, sebagai makhluk sosial yang mempunyai identitas moral, harus dikembangkan untuk mencapai tingkatan optimal dan kriteria kehidupan sebagai warga negara yang diharapkan.
Selanjutnya Menurut Prof. Dr. Shafique Ali Khan (2005: 62), siswa merupakan orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari beberapa tipe pendidikan, selanjutnya orang ini disebut pelajar atau orang yang mempelajari ilmu pengetahuan berapapun usianya, dari manapun, siapapun, dalam bentuk apapun, dengan biaya apapun untuk meningkatkan pengetahuan dan moral pelaku belajar.
Mengacu dari beberapa istilah siswa, siswa diartikan sebagai orang yang berada dalam taraf pendidikan, yang dalam berbagai literatur siswa juga disebut sebagai anak didik. Sedangkan Dalam Undang-undang Pendidikan No.2 Th. 1989, siswa disebut peserta didik. Dalam hal ini siswa dilihat sebagai seseorang (subjek didik), yang mana nilai kemanusiaan sebagai individu, sebagai makhluk sosial yang mempunyai identitas moral, harus dikembangkan untuk mencapai tingkatan optimal dan kriteria kehidupan sebagai manusia warga negara yang diharapkan.
Akan tetapi dalam literatur lain ditegaskan, bahwa anak didik (siswa) bukanlah hanya anak-anak yang sedang dalam pengasuhan dan pengasihan orang tua, bukan pula anak yang dalam usia sekolah saja. Pengertian ini berdasar atas tujuan pendidikan, yaitu manusia sempurna secara utuh, untuk mencapainya manusia berusaha terus menerus hingga akhir hayatnya.
7. Hasil Belajar Siswa
a. Pengertian Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusah untuk memperoleh suatu bentuk peubahan prilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau keadaan
intruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh pendidik. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan intruksional.
Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Data hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik dalam ranah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor) dikumpulkan dan kemudian dianalisis melalui prosedur dan alat penilaian sesuai dengan kompetensi/pencapaian indikator yang akan dicapai. Hasil belajar siswa dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil periode sebelumnya untuk melihat perkembangan pencapaian indikator/kompetensi dari masing-masing siswa.
b. Indikator Hasil Belajar Siswa
Yang menjadi indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
1) Ketercapaian Daya Serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok. Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya dilakukan dengan penetapan Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM).
2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.
Namun demikian, menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.
c. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa di sekolah merupakan salah satu ukuran terhadap penguasaan materi pelajaran yang disampaikan. Peran guru dalam menyampaikan materi pelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa penting sekali untuk diketahui, artinya dalam rangka membantu siswa mencapai hasil belajar yang seoptimal mungkin.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa, terutama kamampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar siswa yang dicapai.
Di samping faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada factor lain seperti motivasi belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Adapun pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakekat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan disadarinya, siswa harus merasakan adanya
suatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi. Ia harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencapainya.
Hasil belajar dapat dikatakan tuntas apabila telah memenuhi kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh masing-masing guru mata pelajaran. Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacam-macam aturan terdapat apa yang telah dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir catur wulan dan sebagainya.
8. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) a. Pengertian PPKn
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam konteks nilai dan moral pancasila, kesadaran berkonstitusi Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia (Permendikbud nomor 58 tahun 2014 lampiran III).
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang sangat esensial diberikan dipersekolahan di negara kita sebagai wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter. Selain itu, mata pelajaran PPKn ini juga merupakan
kegiatan pembinaan sikap dan perilaku siswa sesuai dengan nilai moral pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah salah satu bagian dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah yang merupakan bagian dari ilmu sosial yang mampu menempatkan dirinya sebagai suatu tolak ukur untuk membina dan mengembangkan tujuan pendidikan nasional dalam membina Good Citizenship melalui situasi apapun. PPKn merupakan pendidikan yang harus diperhatikan Karena pendidikan ini sangat mengutamakan pada pembentukan sikap yaitu sikap yang mengarah pada tingkah laku yang sesuai dengan pancasila.
Mata pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran penyempurnaan dari mata pelajaran PKn yang semula dikenal dalam kurikulum 2006. Penyempurnaan PKn menjadi PPKn tersebut terkandung gagasan dan harapan untuk menjadikan PPKn sebagai salah satu mata pelajaran yang mampu memberikan konstribusi dalam solusi atas berbagai krisis yang melanda Indonesia, terutama krisis multidimensional.
Jadi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan Pusat Kurikulum (2003 : 3) Pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk memberikan kompetensi sebagai berikut :
1) Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
2) Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
4) Berinteraksi dengan bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
A.Ubaedillah (2011:9) menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk membangun karakter (character building) bangsa Indonesia yang antara lain :
1) Membentuk kecakapan partisipatif warga negara yang bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 2) Menjadikan warga negara Indonesia yang cerdas, aktif, kritis, dan
demokratis, namun tetap memiliki komitmen menjaga persatuan dan integritas bangsa.
3) Mengembangkan kultur demokrasi yang berkeadaban, yaitu kebebasan, persamaan, toleransi dan tanggung jawab
Dapat disimpulkan dari berbagai pendapat diatas bahwa PPKn bertujuan untuk;
a) Menjadikan warga negara Indonesia yang kritis, rasional, kreatif, cerdas, aktif, dan demokratis.
b) Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
c) Mengembangkan kultur demokrasi yang berkeadaban, yaitu kebebasan, persamaan, toleransi, dan tanggung jawab.
d) Berinteraksi dengan bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.s
c. Karakteristik PPKn
Berdasarkan Permendikbud nomor 58 tahun 2014 lampiran III mata pelajaran PPKn dalam Kurikulum 2013, secara utuh memiliki karakteristik :
4) Nama mata pelajaran yang semula Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) telah diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
5) Mata Pelajaran PPKn berfungsi sebagai mata pelajaran yang memiliki misi pengokohan kebangsaan dan penggerak pendidikan karakter.
6) Kompetensi Dasar (KD) PPKn dalam bingkai Kompetensi Inti (KI) yang secara psikologis-pedagogis menjadi pengintegrasi kompetensi peserta didik secara utuh dan koheren dengan penanaman, pengembangan, dan/atau penguatan nilai dan moral Pancasila, nilai dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta wawasan dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7) Pendekatan pembelajaran berbasis proses keilmuan (scientific
approach) yang dipersyaratkan dalam kurikulum 2013 memusatkan perhatian pada proses pembangunan pengetahuan (KI-3), keterampilan (KI-4), sikap spiritual (KI-1) dan sikap sosial (KI-2) melalui transformasi pengalaman empirik dan pemaknaan konseptual. Pendekatan tersebut memiliki langkah sebagai berikut: Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, mengomunikasikan.
d. Ruang Lingkup PPKn
Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1) Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan NKRI, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap NKRI.
2) Norma, hukum, dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat,
peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, system hokum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
3) Hak asasi manusia, meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
4) Kebutuhan warga negara, meliputi: gotong royong, harga diri sebagai masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
5) Konstitusi negara, meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi. 6) Kekuasaan dan politik, meliputi: pemerintahan desa dan
kecamatan, pemerintah daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan system politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.
7) Pancasila, meliputi: kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila sebagai ideologi terbuka.
8) Globalisasi, meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.
e. Manfaat PPKn
1) Menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila
Pancasila merupakan ideologi landasan negara kita. Segala perbuatan yang kita lakukan, bahkan hingga aturan perundang-undangan pun mengacu pada nilai dari Pancasila itu sendiri. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa Pancasial merupakan salah satu lanasan paling luhur yang ada di Negara kita. Karena itu, pendidikan pancasila sangat penting diberikan, terutama pada mereka yang masih usia anak-anak. Agar mereka mengerti dan juga memahami nilai luhur dari Pancasila bagi kehidupan bermasyarakat dan juga kehidupan bernegara.
2) Membantu memahami arti sebenarnya dari Pancasila
Pancasila merupakan ideologi, yang berarti masih ada kemungkinan banyak orang yang belum memahami arti sebenarnya secara mendalam dari Pancasila. Mungkin anda hafal kelima sila yang terkandung dalam pancasila, namun apakah anda memahami arti sebenarnya dari sila tersebut? Maka dari itu, diperlukan pendidikan pancasila di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga tingkat universitas. Hal ini tidak lain adalah
agar kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik memahami betul apa arti sebenarnya dari Pancasial, sebaga landasan ideologi bangsa.
3) Membantu individu untuk mencintai Negara Indonesia
Ada pepatah yang berbunyi tak kenal maka tak sayang. Dalam kehidupan bernegara, hal ini dapat dikaitkan dengan hubungan antara manfaat pendidikan pancasila dan kewarganegaraan Indonesia itu sendiri. Bagi mereka yang tidak dapat mengenal pancasila dengan baik, maka mereka tidak akan mencintai Indonesia. Karena untuk mencintai Indonesia, maka paling tidak kita juga harus mencintai landasan ideologis yang membentuk Indonesia. Dengan adanya pendidikan pancasila ini, maka kita akan dapat mencintai Negara Indonesia. Dengan mempelajasi pancasila, maka secara tidak langsung kita akan mengenal Indonesia, dari dasarnya.
4) Agar individu dapat berperilaku sesuai dengan isi dari butir-butir pancasila
Pancasila, sesuai namanya memilki 5 sila yang berbeda-beda. Masing-masing dari kelima sila tersebut memiliki butir-butir sila tersendiri, yang merupakan ekstraksi atau penjabaran dari setiap sila yang terdapat pada pancasila. Manfaat pendidikan pancasila maka diharapkan, siapa saja yang menempuh pendidikan
pancasila dapat berperilaku sesuai dengan apa yang ditulis melalui butir-butir pancasila tersebut.
5) Individu dapat mengamalkan Pancasila di segala situasi
Masih dari perilaku, pendidikan pancasila dapa membantu warga Negara Indonesia dalam mengamalkan segala macam nilai, butir dan juga perilaku yang sejalan dengan pancasila. Nilai dan butir-butir yang terkandung dalam pancasila merupakan hal yang baik terutama dalam kehidupan berbangsa dan juga bernegara Hal ini membuat individu sebagai warga negara yang baik wajib, akan mengamalkan berbagai macam nilai-nilai luhur dari pancasila. 6) Sebagai pedoman menjadi warga Negara yang baik
Pancasila tak ubahnya merupakan suatu buku pedoman. Buku pedoman ini merupakan buku pedoman yang berisi 5 poin penting atau yang kita kenal dengan nama lima sila, yang berisi bagaimana cara agar kita dapat menjadi warga Negara yang baik. Bagaimana kita dapat menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi masyarakat, apabila kita tidak pernah belajar mengenai pedoman menjadi warga Negara yang baik. Tentunya hal ini terdapat pada manfaat pendidikan pancasila, yang tentunya dapat kita peroleh melalui pendidikan pancasila.
7) Untuk memahami ideologi bangsa Indonesia
Dari awal sudah dijelaskan bahwa pancasila merupakan landasan ideologi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Ideologi sendiri merupakan suatu ide atau gagasan yang terbentuk untuk melandasi atau menyelesaikan suatu masalah. Dalam hal ini pancasila berfungsi sebagai landasan ideologis Negara Indonesia. Dengan adanya pendidikan pancasila, maka kita sebagai warga negara akan memahami mengenai ideologi dan juga dasar-dasar Negara Indonesia dengan baik.
8) Membangun karakter warga negara yang bermartabat
Pancasila merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi Indonesia dan juga warga negaranya. Hal ini disebabkan karena pancasila sendiri selain merupakan landasan ideologis bagi Negara, juga merupakan cerminan karakteristik dari masnyarakat Indonesia itu sendiri. Maka dari itu, manfaat pendidikan pancasila sangatlah penting, karena melalui pendidikan pancasila, dapat terbangun karakter dari masyarakat Indonesia yang baik, bermartabat dan juga berintegritas dalam melakukan kehidupan berbangsa dan juga bernegara.
9) Mewujudkan kehidupan bermoral dalam kehidupan
Moral merupakan hal yang sulit diperoleh. Kita bisa mewujudkan kehidupan bermoral dalam kehidupan kita sehari-hari, salah
satunya adalah dengan cara memahami nilai dari pancasila, yang kita pelajari dalam pendidikan pancasila.
B. Penelitian yang Relevan
Adapun hasil penelitian terdahulu yang menjadi patokan penulis dalam membuat penelitian ini, akan dijelaskan pada berikut ini:
1. Penelitian Santi Aprianti (2011)
Santi Aprianti meneliti tentang judul “Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam meningkatkan partisipasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Penelitian tindakan kelas peserta didik kelas XII – A di SMK 45 Lembang). Berdasarkan hasil penelitiannya, penerapan metode pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran PPKn telah mampu meningkatkan partisipasi belajar peserta didik. Peserta didik sudah dapat terlibat secara aktif pada pembelajaran PPKn, peserta didik juga sudah mulai berani mengemukakan pendapatnya secara sistematis.
2. Penelitian Moch Arinal Rifa (2014)
Mochamad Arinal Rifa meneliti tentang “Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Penelitian tindakan kelas pada peserta didik Kelas X IPA-2 di SMA N 1 Tasikmalaya). Berdasarkan hasil penelitiannya, penerapan metode pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran PPKn telah meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, terlihat dari hasil
setiap siklus. Siklus 1 menunjukan 51,67% dengan kategori“cukup aktif”, siklus ke II menunjukan 66,68% dengan kategori“sangat aktif”, dan siklus ke III menunjukan 96,67% dengan kategori“sangat aktif”.
C. Kerangka Pikir
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki materi berupa konsep-konsep dan terkadang membuat siswa menjadi kurang termotivasi dalam proses belajar mengajar dikarenakan penggunaan model pembelajaran guru lebih mendominasi atau lebih aktif dibandingkan dengan siswanya.
Kondisi awal hasil belajar siswa kurang karena guru menggunakan metode ceramah, sehingga peneliti melakukukan tindakan dengan menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing dengan menggunakan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Kondisi Awal Hasil Belajar Siswa Kurang Karena Guru Menggunakan Metode Ceramah
Tindakan Menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing
SIKLUS II SIKLUS I
D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Jika diterapkan model pembelajarn Snowbal Throwing, maka hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng meningkat”.
38
Jenis penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ciri khas penelitian ini adalah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi-evaluasi, dan refleksi yang dapat diulang sebagai siklus.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Kabupaten Soppeng sebanyak 22 siswa (9 laki-laki dan 13 perempuan) pada tahun ajaran 2019/2020.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk keperluan dalam penelitian seperti lembar observasi dan kamera. Dalam instrumen penelitian ini, alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Observasi yaitu alat yang digunakan untuk mengobservasi atau mengukur aktivitas siswa.
2. Lembar Tes yaitu lembar kerja yang berisikan soal-soal untuk mengetahui kemampuan dan hasil belajar siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2015). Dalam penelitian mengenai Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PPKn di Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng, peneliti mengunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data, yaitu:
1. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung maupun tidak langsung tentang hal-hal yang diamati dalam proses belajar mengajar terhadap aktivitas belajar siswa baik yang berhubungan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan atau yang termasuk golongan aspek-aspek yang perlu dinilai.
2. Tes adalah instrumen atau alat untuk mengumpulkan data tentang kemampuan subjek penelitian dengan cara pengukuran, misalnya untuk mengukur kemampuan subjek penelitian dalam menguasai materi pelajaran tertentu baik berupa pre test maupun post test . Dengan digunakannya instrumen tes maka dalam penelitian ini, maka peneliti dapat mengukur dengan mudah hasil belajar siswa.
E. Teknik Analisis Data
Analisis dilakukan pada setiap aspek kegiatan, analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara merefleksi hasil observasi terhadap
proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa di dalam kelas. Analisis data dalam penelitian ini adalah :
1. Analisis data hasil obsevasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, langkah-langkahnya sebagai berikut :
a) Berdasarkan data hasil observasi nilai keaktifan masing-masing siswa pada tiap-tiap indikator diolah dengan menjumlahkan skor yang diperoleh untuk mengetahui nilai total perolehan keaktifan tiap indikator dan tiap siswa.
b) Setelah diperoleh nilai total keaktifan tiap indikator dari tiap siswa, langkah selanjutnya membandingkan dengan jumlah skor maksimal yang diharapkan.
c) Menghitung presentasi keaktifan siswa dengan rumus.
2. Analisis data hasil tes. Analisis terhadap tes hasil belajar siswa dilakukan dengan analisis kuantitatif dengan menentukan rata-rata nilai tes. Rata-rata nilai tes diperoleh dari penjumlahan nilai yang diperoleh siswa.
F. Indikator Keberhasilan
Standar yang digunakan untuk menentukan kriteria keberhasilan tindakan yaitu dari segi proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar 75 % siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar berdasar model pembelajaran yang telah diterapkan.
Sedangkan Hasil belajar siwa dikatakan berhasil apabila terlihat hampir keseluruhan nilai rata-rata kelas siswa telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu minimal siswa mencapai nilai diatas 75.
42
A.
Hasil Penelitian1. Hasil Penelitian Pra Siklus
Pelaksanaan kegiatan pra siklus dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah dikumpulkan oleh peneliti terkait dengan strategi, metode atau media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran PPKn di kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng. Metode Pembelajaran yang digunakan pra siklus adalah ceramah dan penugasan. Kendala yang timbul dalam proses pembelajaran PPKn di kelas X MIA 2 yaitu siswa terlihat kurang semangat dan kurang aktif dalam proses belajar mengajar didalam kelas karena guru lebih aktif dan siswa hanya pasif yang menyebabkan masih banyak siswa kelas X MIA 2 yang memiliki nilai dibawah KKM atau belum mencapai KKM. Hal ini dapat dilihat dari 22 siswa Kelas X MIA 2 hanya 13 siswa yang memenuhi KKM dan terdapat 9 siswa yang belum tuntas atau memiliki nilai yang sangat rendah dibawah KKM.
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng pada mata pelajaran PPKn masih rendah atau dibawah rata-rata.
Adapun data hasil belajar siswa kelas X MIA 2 pada mata pelajaran PPKn adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Pra Siklus
No. NAMA SISWA
L/ P KKM NILAI KETERANGAN TUNTAS TIDAK TUNTAS 1. Abdul Hadi L 75 71 √
2. Ahmad Musyarif Shabir L 75 69 √
3. Arfandi L 75 77 √
4. Della Mardiana P 75 81 √
5. Dwi Miratul Ginayah P 75 69 √
6. Eva Sri Wahyuti P 75 80 √
7. Ismail L 75 79 √ 8. M. Aldiansyah L 75 80 √ 9. M. Rizal L 75 60 √ 10. Magvirah P 75 80 √ 11. Miftahul Jannah P 75 75 √ 12. Mirnawati S P 75 82 √ 13. Muh. Tauhid Khurahman L 75 80 √
14. Muh. Pratama Syahid L 75 65 √
15. Munawara Yusuf P 75 70 √
16. Mustafa L 75 72 √
18. Nurul Helmalia Putri P 75 80 √
19. Nurul Putri Aini P 75 70 √
20. Restu Amalia P 75 70 √
21. Sutriani P 75 75 √
22. Vivi Fatmila P 75 75 √
Jumlah Nilai 1.638
Nilai Rata-rata 74,4
Jumlah siswa yang tuntas 13
Jumlah siswa yang tidak tuntas 9
Dari hasil data di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas 13 orang, dan siswa yang tidak tuntas 9 orang dengan nilai rata-rata yang dibawah KKM. Nilai rata-rata mata pelajaran PPKn pada siswa kelas X MIA 2 yaitu 74,1 jadi belum mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah. Nilai rata-rata tersebut harus mencapai 75 atau diatas 75 dikatakan telah tuntas dan mencapai KKM . dengan melihat hasil belajar siswa diatas perlu adanya perbaikan dengan mengambil tindakan yaitu menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Adapun nilai hasil belajar pra siklus juga ditampilkan dalam gambar grafik 4.1 dibawah ini:
Berdasarkan Grafik 4.1 diatas terdapat 1 orang siswa yang memiliki nilai 60, 1 Orang siswa yang memiliki nilai 65, 2 orang siswa yang memiliki nilai 69, 3 orang siswa yang memiliki nilai 70, 1 orang siswa yang memiliki nilai 71, 1 orang siswa yang memiliki nilai 72, 3 orang siswa yang memiliki nilai 75, 1 orang siswa memiliki nilai 77, 1 orang siswa memiliki nilai 78, 1 orang siswa memiliki nilai 79, 5 orang siswa memiliki nilai 80, 1 orang siswa memiliki nilai 81, dan 1 orang siswa memiliki nilai 82. Sehingga nilai rata-rata yang diperoleh pada mata pelajaran PPKn siswa kelas X MIA 2 yaitu 74,1 yang belum mencapai nilai 75 atau KKM yang telah ditentukan oleh sekolah jadi perlu adanya penerapan model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Hasil Penelitian Siklus I a. Perencanaan Tindakan
Kegiatan perencanaan tindakan dilaksanakan pada Tanggal 15 Juli 2019 pada kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng. Dari hasil observasi awal motivasi belajar siswa yang rendah pada mata pelajaran PPKn sehingga dalam proses belajar mengajar siswa cenderung diam dan bersifat Pasif dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan hasil pembelajaran PPKn tidak memenuhi KKM yaitu 75 sesuai yang telah ditentukan oleh sekolah. Untuk mengatasi masalah tersebut peneliti memilih model pembelajaran Snowball Throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada siswa kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng.
Dalam tahap perencanaan tindakan, adapun hal-hal yang dipersiapkan dalam perencanaan yaitu Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dilengkapi dengan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga dilengkapi dengan membuat tes atau soal evaluasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
Instrumen lembar observasi juga dibuat oleh peneliti untuk mengetahui keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar didalam kelas dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing.
Sebelum perencanaan dilakukan, peneliti terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada guru Mata Pelajaran PPKn MAN 2 Soppeng, H. Rusli, S.Pd untuk melihat kelayakan yang telah dibuat terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan soal tes hasil belajar.
Tahap terakhir dalam perencanaan ini yaitu menetapkan kriteria ketuntasan minimal. Dalam penelitian ini siswa dikatakan berhasil apabila nilai siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal dengan nilai 75.
b. Pelaksanaan tindakan
Setelah membuat perencanaan maka peneliti siap melaksanakan penelitian sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Penelitian siklus 1 dimulai pada hari senin tanggal 17 Juli 2019 di kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng pada jam pelajaran ketujuh atau jam terakhir pada pukul 12.30-14.00 WITA dengan alokasi waktu 2x45 menit.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan pembelajaran sesuai dengan perangkat pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan Peneliti dibagi menjadi 3 tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dalam kegiatan awal pada proses pembelajaran, yaitu Peneliti mengucapkan salam dan mengajak semua siswa berdo’a serta
melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa. Ketika Peneliti memberikan salam siswa menjawab dengan serentak. Ketika Peneliti mengajak semua siswa berdo’a siswa melakukan dengan sungguh-sungguh. Pada saat Peneliti menanyakan kehadiran siswa tidak ada siswa yang absen.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti yaitu :
1) Peneliti memberikan penjelasan kepada siswa bahwa pembelajaran yang akan mereka ikuti beberapa hari ke depan adalah merupakan tugas akhir yang harus dilaksanakan oleh peneliti.
2) Peneliti memberikan motivasi mengenai pentingnya materi pelajaran khususnya pelajaran PPKn.
3) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 4) Peneliti melaksanakan pembelajaran yang ada di kelas dengan
menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing.
5) Peneliti melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang ada yaitu menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing pada proses pembelajaran.
c. Observasi
Dari hasil pelaksanaan siklus I pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran PPKn di kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng diperoleh dari hasil penilaian tes hasil belajar yang telah dilakukan yaitu Hasil belajar yang didapatkan siswa mengalami peningkatan
dibandingkan dengan hasil pada pra siklus atau sebelum diterapkan model pembelajaran Snowball Throwing.
Berikut ini merupakan hasil penilaian hasil belajar siswa pada siklus I:
Tabel 4.2 Hasil Belajar Siswa Kelas X MIA 2 MAN 2 Soppeng Siklus I
No. NAMA SISWA L/P KKM NILAI
KETERANGAN TUNTAS TIDAK TUNTAS 1. . Abdul Hadi L 75 72 √ 2. Ahmad Musyarif Shabir L 75 70 √ 3. Arfandi L 75 80 √ 4. Della Mardiana P 75 82 √
5. Dwi Miratul Ginayah P 75 70 √
6. Eva Sri Wahyuti P 75 82 √
7. Ismail L 75 80 √ 8. M. Aldiansyah L 75 82 √ 9. M. Rizal L 75 64 √ 10. Magvirah P 75 82 √ 11. Miftahul Jannah P 75 80 √ 12. Mirnawati S P 75 84 √
13. Muh. Tauhid Khurahman
L 75 84 √
14. Muh. Pratama Syahid L 75 70 √
15. Munawara Yusuf P 75 72 √
16. Mustafa L 75 74 √
17. Nur Intang P 75 80 √
18. Nurul Helmalia Putri P 75 86 √
19. Nurul Putri Aini P 75 74 √
20. Restu Amalia P 75 74 √
21. Sutriani P 75 78 √
22. Vivi Fatmila P 75 80 √
Jumlah Nilai 1.700
Nilai Rata-rata 77,2
Jumlah siswa yang tuntas 13
Jumlah siswa yang tidak tuntas 9
Dari hasil data di atas, dapat diketahui bahwa dengan pembelajaran Snowball Throwing pada mata pelajaran PPKn jumlah siswa yang tuntas 13 orang atau 55%, dan siswa yang tidak tuntas 9 orang atau 45% dengan nilai rata-rata 77,2. Hal ini menunjukkan pada siklus 1 mengalami peningkatan dari nilai rata-rata pra siklus 74,4 yang memiliki nilai belum memenuhi KKM setelah melakukan siklus 1 memperoleh nilai rata-rata yang meningkat yaitu 77,2 yang sudah