Askep Lansia Dengan Gangguan Pernafasan

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A.

A. LaLatatar Br Belelakakanangg A

Appaabbiilla a taraf hidup taraf hidup masyaramasyarakat meningkat, kat meningkat, ditambah denganditambah dengan  berk

 berkembaembangnya ngnya ilmu ilmu penpengetgetahuahuan an dan dan tekteknolnologi ogi kedkedoktokteraneran, m, maka aka dapdapatat memberikan dampak yang sangat luas bagi masyarakat. Dampak yang timbul memberikan dampak yang sangat luas bagi masyarakat. Dampak yang timbul a

annttaarra a lain anlain angka kejanggka kejangkitan dkitan dan keman kematian peatian penyaknyakit-penit-penyakyakit Infit Infekeksisi

menurun, sedangkan insidensi penyakit lain (misalnya kardiovaskuler) menurun, sedangkan insidensi penyakit lain (misalnya kardiovaskuler) meni

meningkangkat. Dampt. Dampak lainak lainnya ialnya ialah usia hah usia harapaarapan hidun hidup menp menjajadi di lelebibihh meninggi dan jumlah anggota masyarakat yang berusia lanjut lehih banyak meninggi dan jumlah anggota masyarakat yang berusia lanjut lehih banyak (

(Martono. !!!)Martono. !!!) De

Dengangan n pertambahpertambahan an umur, umur, ditambah ditambah dengan dengan adanya adanya faktor-faktor-faktor faktor linglingkungkunganan yang lain, terjadilah perubahan anatomik-fisiologik tubuh. "ada tingkat a#al yang lain, terjadilah perubahan anatomik-fisiologik tubuh. "ada tingkat a#al  perub

 perubahan ahan itu itu mungkimungkin mern merupakaupakan homen homeostaostasis sis martial, kemudmartial, kemudian bisaian bisa timbul homeostasis abnormal atau reaksi adaptasi dan paling akhir terjadi timbul homeostasis abnormal atau reaksi adaptasi dan paling akhir terjadi kematian sel ($umar et al,

kematian sel ($umar et al, !!%). &alah satu organ tubuh yang mengalam!!%). &alah satu organ tubuh yang mengalamii  perubahan a

 perubahan anatomik-fnatomik-fisiologik isiologik akibat berakibat bertambatambahnya usia seseorang adalahhnya usia seseorang adalah sistem pernafasan.

sistem pernafasan. "ada

"ada usia usia lanjut, lanjut, selain selain terjadi terjadi perubahan perubahan anatomik-fisianatomik-fisiologik ologik dapat dapat timbultimbul  pula penyaki

 pula penyakit-penyakit-penyakit pada sist pada sistem pernatem pernafasan. fasan. 'mumnya, 'mumnya, penyakit-prpenyakit-prnyakitnyakit yang diderita kelompok usia lanjut merupakan  () kelanjutan penyakit yang yang diderita kelompok usia lanjut merupakan  () kelanjutan penyakit yang diderita sejak umur muda (%) akibat gejala sisa penyakit yang pernah diderita diderita sejak umur muda (%) akibat gejala sisa penyakit yang pernah diderita sebelumnya (*) penyakit akibat kebiasaan- kebiasaan tertentu di masa lalu sebelumnya (*) penyakit akibat kebiasaan- kebiasaan tertentu di masa lalu (misalnya kebiasaan merokok, minum alkoh

(misalnya kebiasaan merokok, minum alkohol dol dan sebaan sebagaingainya) ya) dan dan (+)(+)  pen

 penyakyakit-pit-penyenyakit akit yanyang mg mudah tudah terjaerjadi di akiakibat usia lanjut. bat usia lanjut. "enyakit-p"enyakit-penyakit parenyakit paruu yang diderita kelompok usia lanjut juga mengikuti pola penyebab atau yang diderita kelompok usia lanjut juga mengikuti pola penyebab atau kejadian tersebut (

kejadian tersebut (Martono. !!!)Martono. !!!) elum

elum banyak banyak dijumpai dijumpai laporan laporan para para ahli ahli tentang tentang insidens insidens ""M ""M orangorang usia lanjut. Insidens ""M usia lanjut yang dira#at di &'" Dr. $ariadi tahun usia lanjut. Insidens ""M usia lanjut yang dira#at di &'" Dr. $ariadi tahun !!

!!/ 0 !! ad/ 0 !! adalah sebalah sebesar 1,2esar 1,23 (Ma3 (Martonrtono. o. !!!!!!)) "ada

"ada kesempatan kesempatan ini ini akan akan diuraikan diuraikan mengenai mengenai gangguan gangguan sistem sistem respirespirasirasi  pada usia lanjut, meliputi aspek anatomik-fisiologik, aspek ep

 pada usia lanjut, meliputi aspek anatomik-fisiologik, aspek epideidemimiolologogikik, serta, serta aspek klinik, dan terapi modalitas yang akan diberikan.

(2)

B.

B. TTuujuajuan n PePenulnulisaisann

4ujuan dari pembuatan terapi modalitas ini adalah  4ujuan dari pembuatan terapi modalitas ini adalah  .

. MenMengetagetahui hui konkonsep dsep dasar pasar prosroses pees penuanuaanan %.

%. MengeMengetahui tahui perubperubahan ahan fisiolofisiologis gis pada pada proses proses penuapenuaanan *.

*. MemahMemahami peruami perubahan bahan anatomanatomi dan fii dan fisiolosiologis sistegis sistem respim respiratori pratori padaada lansia.

lansia. +.

+. MengeMengetahui tahui masalahmasalah-masalah -masalah pada pada perubperubahan sahan sistem istem respiratrespiratori pori padaada lansia.

lansia. 1.

1. MengeMengetahui tahui dan dadan dapat mpat memberiemberikan gkan gambaraambaran ""n ""M padM pada lansia lansiaa 2.

2. MeMememenunuhi thi tugugas mas mata kata kululiaiah 5h 5 Keperawatan Keperawatan GerontikGerontik6.6.

C.

C. RuaRuang Ling Lingkngkup Peup Penulnulisaisann

"enyusunan ini hanya membahas tentang perubahan fisiologis sistem "enyusunan ini hanya membahas tentang perubahan fisiologis sistem respiratori dan terapi modalitas sistem respiratori pada lansia.

respiratori dan terapi modalitas sistem respiratori pada lansia.

D.

D. MeMetotode Pede Penunulilisasann "enulisan

"enulisan ini ini menggunakan menggunakan metode metode deskriptif deskriptif yaitu yaitu dengandengan

menggambarkan perubahan fisiologis sistem respiratori dan terapi modalitas menggambarkan perubahan fisiologis sistem respiratori dan terapi modalitas sistem respiratori pada lansia dengan studi literature yang diperoleh dari sistem respiratori pada lansia dengan studi literature yang diperoleh dari buku- buku perpustakaan, internet dan hasil dari diskusi kelompo

 buku perpustakaan, internet dan hasil dari diskusi kelompok yang disajikank yang disajikan dalam bentuk makalah.

(3)

BAB II

LANDAAN TE!RI

A. Peru"a#an Anato$i %isi ologi iste$ Perna&asan Pada Usia Lanjut

"ada orang orang sehat, peruhahan anatomik fisiologik tersebut merupakan  bagian dari proses menua, 'sia Ianjut bukanlah merupakan penyakit, tetapi

merupakan tahap lanjut dari suatu kehidupan yang ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap stres atau pengaruh lingkungan. "roses menua melandasi berbagai kondisi yang terjadi pada usia lanjut

(Martono. !!!)

'ntuk dapat mengatakan bah#a suatu kemunduran fungsi tubuh adalah disebabkan oleh proses menua dan bukan disebabkan oleh peayakit yang menyertai proses menua, ada + kriteria yang harus dipenuhi 

'. $emunduran fungsi dan kemampuan tubuh tadi harus bersifat universal, artinya umum terjadi pada setiap orang.

(. "roses menua dis ebabkan oleh fa ktor intrinsik, yang berarti perubahan fungsi sel dan jaringan disebabkan oleh penyimpangan yang terjadi di dalam sel dan bukan oleh faktor luar.

). "roses menua terjadi se7ant progresif, berkelanjutan, berangsur Iambat dan tidak dapat berbalik lagi.

*. "roses menua bersifat proses kemunduran8kerusakan(injury). a. Peru"a#an anato$i siste$ perna&asan

"ada usia lanjut terjadi perubahan-perubahan anatomik yang mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi tel, jaringan atau organ yang bersangkutan. 9ang mengalami perubahan adalah

a. Dinding dada  tulang-tulang mengalami osteoporosis, tulang - tulang ra#an mengalami osifikasi, terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. &udut epigastrik relatif menge7il dan volume rongga dada menge7il. ". tot-otot pernafasan  mengalami kelemahan akibat atrofi.

+. &aluran nafas  akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis  bronkus dan alveoli menyebabkan lumen bronkus menge7il. :in7in-7in7in

tulang ra#an bronkus mengalami perkapuran.

d. &truktur jaringan parenkim paru  bronkiolus, duktus alveolaris dan alveolus membesar se7ara progresip, terjadi emfisema senilis. &truktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga

(4)

menyebabkan elastisitas jaringan parenkim pam mengurang. "enurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurunnya tegangan perrnukaan akibat pengurangan daerah permukaan alveolus. ". Peru"a#an,peru"a#an &isiologis siste$ perna&asan

"erubahan fisiologis (fungsi) pada sistem pernafasan yang terjadi antara lain  '. ;erak pernafasan adanya perubahan hentuk, ukuran dada, maupun volume

rongga dada akan merubah mekanika pernafasan, amplitudo

 pernafasan menjadi dangkal, timbul keluhan sesak nafas. $elemahan otot pernafasan menimbulkan penurunan kekuatan gerak nafas, lebih-Iebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan.

(. Distribusi gas. "erubahan struktur anatomik saluran nafas akan

menimbulkan penumpukan <arn dalam alveolus (air trapping) ataupun gangguan pendistribusian udara nafas dalam 7abang-7abang bronkus. ). =olume dan kapasitas paru menurun. >al ini disebabkan karena beberapa

faktor () kelemahan otot nafas, (%) elastisitas jaringan parenkim parts menurun, (*) resintensi saluran nafas (menurun sedikit). &e7ara umum dikatakan bah#a pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru. *. ;angguan transport gas.

"ada usia lanjut terjadi penurunan "a/% se7ara bertahap, yang

 penyebabnya terutama disebabkan (adanya ketidakseimbangan ventilasi - perfusi (Mangunegoro, !!%). &elain itu diketahui bah#a pengambilan /% oleh

darah dari alveoli (difusi) dan transport /% ke jaringan-jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olah raga. "enurunan pengambilan /% maksimal disebabkan antara lain karena  () berbagai perubahan  pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan (%) karena  berkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnya 7urah jantung. -. ;angguan perubahan ventilasi pain.

"ada usia lanjut terjadi gangguan pengaturan ventilasi paru, akibat adanya  penurunan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral

ataupun pusat-pusat pernafasan di medulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan "a/%, peninggian "a:%, perubahan p> darah arteri dan sebagainya.

(5)

&elain penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru (Martono. !!!) ?aktor-faktor yang memperburuk fungsi paru antara lain 

. ?aktor merokok 

Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan saluran nafas. "ada tingkat a#al, saluran nafas akan mengalami obstruksi 7lan terjadi penurunan nilai =@" yang besarnya tergantung pada beratnya  penyakit paru tad. "ada tingkat lanjut dapat terjadi obstruksi yang

iereversibel, timbul penyakit paru obstruktif menahun (""M). %. besitas

$elebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru ses eorang. "ala obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada dan (finding  perut, akan dapat mengganggu compliancedinding dada, berakibat penurunan

volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif.

*. Imobilitas

Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital. paksa atau volume paru akan relatifB berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru (ventilasi paru). ?aktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas (paru), misalnya efusi pleura,

 pneumotoraks, tumor paru dan sebagainya (Mangunegoro, !!%). "erbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan olah raga se7ara intensif +. perasi

4idak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari

 pengalaman para ahli diketahui bah#a yang pasti memberikan pengaruh faal paru adalah  () pembedahan toraks (jantung dan paru) (%)

 pembedahan abdomen bagian atas dan (*) anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. "eruhahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru. Adanya  perubahan patofisiologik paru pas7a bedah mudah menimbulkan komplikasi  paru atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian,

karena timbulnya gagal nafas.

(6)

Mekanisme timbulnya penyakit yang menyertai usia lanjut dapat dijelaskan atau dapat dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut. "erubahan-perubahan tersebut. adalah 

a. "erubahan anatomis - fisiologis

Dengan adanya perubahan anatomis C fisiologis sistem pernafasan ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya

 beberapa ma7am penyakit paru bronkitis kronis, emfisema pa ru, ""M, 4 paru, kanker paru dan sebagainya.

 b. "erubahan daya tahan tubuh

"ada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena lemahnya fungsi limfosit  dan 4, sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman pathogen virus, protooa, bakteri atau jamur.

7. "erubahan metabolik tubuh

"ada orang usia lanjut sering terjadi peruban metabolik tuhuh, dan paru dapat ikut mengalami peruban penyebab tersering adalah

penyakit- penyakit metabolik yang bersifat sistemik diabetes mellitus, uremia, artritis rematoid dan sebagainya. ?akator usia peranannya tidak jelas, tetapi

lamanya menderita penyakit sistemik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru tadi.

d. "erubahan respons terhadap obat

"ada orang usia lanjut, bisa terjadi bah#a penggunaan obat-ohat tertentu akan nemnemberikansan respons atau perubahan pada paru dan saluran nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia muda. :ontoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sering digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda.

e. "erubahan degenerative

"erubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat dielakkaan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses  penuaan. "enyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan)

degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru,

 penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada usia lanjut dan sebagainya.

(7)

Ada pengaruh-pengaruh lain yang terjadi sebelum atau selama usia lanjut yang dapat mempengaruhi dirinya sehingga dapat memudahkan penyakit  paru tertentu pada usia lanjut, misalnya 

• $ebiasaan merokok masa lalu dan sekarang

Merokok yang berlangsung lama dapat menimbulkan

perubahan- perubahan struktur pada saluran nafas, juga dapat menurunkan fungsi sistem pertahanan tubuh yang diperankan oleh paru dan saluran nafas, sehingga memudahkan timbulnya infeksi pada paru dan saluran nafas. Merokok selain dapat memberikan perubahan- perubahan pada saluran nafas, dapat pula memudahkan timbulnya keganasan paru, ""M,  bronkiti s kronis dan se bagainya .

• "engaruh atau akibat kekurangan gii

"ada usia lanjut telah diketahui terjadi penurunan daya tahan tubuh, terutama respons imun seluler. Ini merupakan konsekuensi lanjut atas terjadinya involusi kelenjar timus pada usia lanjut. "roses

in vo lu si ke le nj ar ti mu s menyebabkan jumlah hormon timus yang  beredar dalam peredaran darah menurun, berakibat proses pemasakan

limfosit 4 berkurang dan limfosit 4 yang beredar dalam peredaran darah  juga berkurang. Imunitas humoral pada usia lanjut juga terdapat

 perubahan yang berarti, bahkan terdapat peninggian kadar autoantibodi. IgA dan Ig; terdapat peningkatan, sedangkan IgM mengalami  penurunan.

D. Aspek /linik 

Ada beberapa penyakit paru yang menyertai orang usia lanjut, yang paruing ada + ma7am pneumoni, tuberkulosis paru, penyakit paru obstruktif menahun (""M),dan karsinoma paru.

a. De&inisi Penakit Paru !"strukti& Mena#un 0PP!M1

""M adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru  berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya  penyempitan saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam

masa observasi beberapa #aktu. ""M adalah klasifikasi luas dari gangguan yang men7akup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. ""M merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan

(8)

dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru- paru. 4ermasuk dalam kelompok ""M adalah bronkitis kronis, emfisema  paru dan penyakit saluran nafas perifer.

". Etiologi.

@tiologi penyakit ini belum diketahui. 4imbulnya penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor resiko yang terdapat pada penderita, antara lain merokok sigaret yang berlangsung lama, polusi udara, infeksi paru berulang, umur, jenis kelamin, ras, defisiensi alfa- antitripsin, defisiensi antioksidan dan

sebagainya. "engaruh dari masing-masing faktor resiko terhadap terjadinya ""M adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan dalam menimbulkan penyakit ini.

+. Pato&isiologi.

?aktor-faktor resiko yang telah disebutkan di atas akan mendatangkan  proses inflamasi bronkus dan juga menimbulknn kerusakan pada dinding  bronkiolis terminal. Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi  bronkus keel (bronkiolus terminal), yang mengalami penutupan atau obstruksi

a#al fase ekspirasi. 'dara yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli, saat ekspirasi banyak yang terjebak . dalam alveolus dan terjadilah  penumpukan udara (airtrapping). >al inilah yang menyebabkan adanya

keluhan sesak nafas dengan segara akibat-akibatnya. Adanya obstruksi dini saat a#al ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan

 pemanjangan fase ekspirasi. ?ungsi-fungsi paru ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan.

d. 2a$"aran klinik.

;ambaran klinik yang ditemukan adalah gambaran penyakit paru yang mendasari ditambah tanda-tanda klinik akihat terjadinya obstruksi bronkus. ;ambaran klinik bila diamati se7ara 7ermat akan mengarah pada dua hal atau dua tipe pokok () mempunyai gambaran klinik dominan ke arah bronkitis kronis(blue bloater type); dan (%) gambaran klinik predominant ke arah emfisema(pink puffer type).

e. Diagnosis.

Diagnosis ""M ditegakkan dengan metode yang laim (terarah dan sistimatik), meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

 penunjang. "ada anamnesis dapat ditemukan keluhan kelemahan badan, batuk, sesak nafas, sesak nafas #aktu aktivitas 7lan nafas berbunyi, mengi atau #heee.

(9)

leh karena perjalanan penyakitnya lambat, maka anamnesis harus dilakukan se7ara hati-hati dan teliti.

"ada pemeriksaan fisik, pada penderita tingkat penyakitnya masih a#al mungkin tidak ditemukan kelainan. Adanya ekspirasi yang memanjang merupakan petunjuk kelainan dial. "ada penyakit tingkat lanjut, tampak bentuk  dada seperti tong, ditemukan penggunaan otot-otot bantu nafas, suara na&as melemah, terdengar suara mengi yang lemah. $aitting ditemukan (gerak)  pernafasan paradoksal. &elain itu dapat ditemukan edema kaki, mites dan jari

tabuh.

"emeriksaan faal paru merupakan pemeriksaan penunjang yang penting, untuk  mendiagnosis ""M. 'ntuk menentukan apakah pada penderila terdapat

obtruksi saluran nafas dapat dilakukan pemeriksaan dengan spirometri

(spirogram) atau memeriksa nilai arus pun7ak ekspirasi (A"@) dengan alat sederhana, yaitu menggunakan mini Wright Peak Plow Meter.

"engukuran volume ekspirasi paksa satu detik pertama (=@" I) merupakan  pemeriksaan akurat, standar, mudah dilakukan dengan spirometer, dan dapat

digunakan untuk melihat beratnya obstruksi saluran nafas. 4ingkatan hemoglobin dalam darah itu dapat memperkirakan adanya "oly7ytemia, yang mengakibatkan terjadinya >ypoEemia se7ara perlahan-lahan.

4ingkatan ""M menurut Fational Institute f >ealth Gung and lood, ethesda %//

4IF;$A4AF FIGAI 8 D@AHA4 "@&@F4A&I =@" I

/ esiko

&pirometry Formal ;ejala menaun (batuk,

 produksi sputum)

I ingan  J/ 3

II &edang KJ/ 3

III erat K*/3

&. Penatalaksanaan.

Dalam penatalaksanaan penderita ""M perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat memperjelek perjalanan penyakit, yang hams di7egah terjadinya  pada penderita. Apabila faktor-faktor tadi sudah ada pada penderita, hendaknya

diusahakan .meniadakannya atau menguranginya. ?aktor-faktor yang dapat memperjelek keadaan penyakit penderita, misalnya 

(10)

• ?aktor-faktor resiko, yaitu faktor yang dapat memperjelek penyakit, misalnya kebiasaan merokok, polusi udara dan lingkungan pekerjaan, faktor

genetik, infeksi (saluran nafas) dan perubahan 7uara.

• Derajat obstruksi saluran nafas yang terjadi. leh karena itu identifikasi komponen-komponen yang memungkinkan terdapatnya reversibilitas

(obstruksi) sangat perlu dilakukan. • 4ahap perjalanan penyakit.

"erjalanan penyakit ""M lambat progresif. leh karena itu perlu diketahui apakah penyakit ""M sedang tenang atau progresif

 perjalanannya. "enyakit lain di luar paru, misalnya sinusitis, faringitis dan sebagainya.

4ujuan penatalaksanaan ""M adalah

• Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala, tidak hanya pada fase akut, tetapi juga pada fase kronik.

• Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian. • Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat

dideteksi lebih a#al.

"enanganan untuk penderita ""M usia lanjut adalah sebagai berikut  • Meniadakan faktor etiologik8presipitasi, misalnya segera menghentikan

merokok, menghindari polusi udara..

• Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai 7ara. • Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi,

antimikroba tidak perlu diberikan. "emberian anti-mikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi, yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau  pengobatan empirik.

• Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. "ent gunaan kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronko spasme) masih kontroversial.

• "engobatan simtomatik (lihat tanda dan gejala yang mun7ul) o atuk produktif beri obat mukolitik 8 ekspektoran

o &esak nafas beri posisi yang nyaman (fo#ler) , beri % o Dehidrasi beri minum yang 7ukup bila perlu pasang infus

• "enanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul. "engobatan oksiogen, bagi yang memerlukan. ksigen harus diberikan dengan aliran lambat  0 % liter8menit.

(11)

4indakan rehabilitasi terhadap penderita meliputi Aktivitas-aktivitas  berikut 

o ?isioterapi, terutama ditujukan untuk membantu pengeluaran sekret  bronkus.

o Gatihan pernafasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan  pernafasan yang paling efektif baginya

o Gatihan, dengan beban olah raga tertentu, dengan tujuan uatuk memulihkan kesegaran jasmaninya.

o Vocational guiance ! usaha yang dilakukan terhadap pendeiita agar sedapat-dapat kembali mampu mengerjakan pekerjaan semula. o "engelolaan psikososial terutama ditujukan untuk penyesuaian

diri penderita dengan penyakit yang dideritanya. g. Pen+ega#an penakit paru pada usia lanjut

"roses penuaan pada seseorang tidak bisa dihindari. "erubahan struktur anatomik maupun fisiologik alami juga tidak dapat dihindari, "en7egahan terhadap timbulnya penyakit-penyakit paru pada usia lanjut dilakukan pada  prinsipnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan memperbaiki

keadaan gii, menghilangkan hal-hal yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, misalnya menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya.

"en7egahan terhadap timbulnya beberapa ma7am penyakit dilakukan dengan ?ara yang laim.

. 'saha pen7egahan infeksi paru8saluran nafas

'saha untuk men7egahnya dilakukan dengan jalan menghambat mengurangi atau meniadakan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi. >al positif yang dapat dilakukan misalnya dengan melakukan vaksinasi dengan vaksin pneumokok untuk menghindari timbulnya pneumoni, tetapi sayangnya pada usia lanjut vaksinasi ini kurang berefek (Mangunegoro, !!%. Didalam buku .oedi-Dharmojo dan >.>adi Martono. !!!)

%. 'saha men7egah timbulnya 4 paru.

9ang bisa dilakukan ialah menghindari kontak person dengan  penderita 4 paru atau mengbindari ?ara-7ara penularan lainnya. *. 'saha pen7egahan timbulnya ""M atau karsinoma paru.

&ejak usia muda, bagi orang-orang yang beresiko tinggi terhadap timbulnya kelainan paru (""M dan karsinoma paru), perlu dilakukan  pemantauan se7ara berkala () pemeriksaan foto rontgen toraks, dan (%)

(12)

 pemeriksaan faal paru, paling tidak setahua sekali. &angat dianjurkan  bagi mereka yang beresiko tinggi tadi (perokok berat dan laki-laki)

menghindari atau segera berhenti merokok (Mangunegoro, !!%. Didalam buku .oedi-Dharmojo dan >.>adi Martono. !!!)

(13)

BAB III

AUHAN /EPERA3ATAN PADA LANIA DEN2AN 2AN22UAN ITEM PERNAPAAN

0PEN4A/IT PARU !BRU/I MENAHUN1 PP!M

Dalam hal ini kelompok mengangkat askep ""M pada lansia dikarenakan  penyakit ini sangat menonjol (berdasarkan buku "edoman "engelolaan $esehatan

"asien ;eriatri hal *! tahun %///) A. Pengkajian

"engkajian pada pernafasan dengan klien ""M yang didasarkan pada kegiatan sehari C hari. 'kur kualitas pernafasan antara skala  sampai /. Dan  juga mengidentifikasi faktor sosial dan lingkungan yang merupakan faktor  pendukung terjadinya gejala. "era#at juga mengidentifikasi type dari gejala

yang mun7ul antara lain, tiba-tiba atau membahayakan dan faktor presipitasi lainnya antara lain perjalanan penularan temperatur dan stress.

"engkajian fisik termasuk pengkajian bentuk dan kesimetrisan dada, espiratory ate dan "ola pernafasan, posisi tubuh menggunakan otot bantu  pernafasan dan juga #arna, jumlah, kekentalan dan bau sputum. "alpasi dan  perkusi pada dada diidentifikasikan untuk mengkaji terhadap peningkatan

gerakan ?remitus, gerakan dinding dada dan penyimpanan diafragma. $etika mengauskultasi dinding dada pada de#asa tua 8 akhir seharusnya diberi 7ukup #aktu untuk kenyamanan dengan menarik nafas dalam tanpa adanya rasa  pusing (diy) (Goukenotte, M.A, %///).

erikut ini adalah daftar pertanyaan yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan ri#ayat kesehatan yang jelas dari proses penyakit 

. &udah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan L %. Apakah aktivitas meningkatkan dispneaL Henis aktivitas apaL *. erapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitasL

+. $apan selama siang hari pasien mengeluh paling letih dan sesak napasL 1. Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruhL

2. Apa yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinyaL

Data tambahan dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan pertanyaan yang patut dipertimbangkan untuk mendapatkan data lebih lanjut termasuk  . erapa frekuensi nadi dan pernapasan pasienL

%. Apakah pernapasan sama dan tanpa upayaL

(14)

+. Apakah pasien menggunakan otot-otot aksesori pernapasan selama  pernapasanL

1. Apakah tampak sianosisL

2. Apakah vena leher pasien tampak membesarL . Apakah pasien mengalami edema periferL J. Apakah pasien batukL

!. Apa #arna, jumlah dan konsistensi sputum pasienL /. agaimana status sensorium pasienL

. Apakah terdapat peningkatan stuporL $egelisahanL >al-hal yang juga perlu dikaji adalah 

. Aktifitas 8 istirahat

$eletihan, kelemahan, malaise, ketidak mampuan melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas.

%. &irkulasi

"embengkakan pada ekstremitas ba#ah, peningkatan tekanan darah,takikardi.

*. Integritas ego

"erubahan pola hidup, ansietas, ketakutan,peka rangsang +. Makanan 8 7airan

Mual 8 muntah, anoreksia, ketidakmampuan untuk makan karena distress  pernafasan, turgor kulit buruk, berkeringat.

1. >igiene

"enurunan kemampuan 8 peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktifitas sehari-hari, kebersihan buruk, bau badan.

2. "ernafasan

 Fafas pendek, rasa dada tertekan, dispneu, penggunaan otot bantu  pernafasan.

. $eamanan

i#ayat reaksi alergi 8 sensitif terhadap at atau faktor lingkungan. J. &eksualitas

"enurunan libido. !. Interaksi sosial

>ubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, keterbatasan mobilitas fisik.

(Doengoes, %/// 1% ). '. Diagnosa /epera5atan

Diagnosa kepera#atan yang laim pada lansia dengan ""M, antara lain  . $etidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan tertahannya

sekresi.

%. ;angguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen. *. esiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan in adekuat pertahanan

(15)

+. "erubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disprisa, kelemahan, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual 8 muntah.

1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen, kelemahan, dispnea.

2. Defisit pengetahuan tentang ""M berhubungan dengan kurang informasi, salah mengerti tentang informasi, kurang mengingat 8 keterbatasan kognitif  ( Doenges, %///).

&edangkan diagnosa menurut Gu7kenotte,antara lain 

. $etidak efektifan bersihan jalan nafas b.d tertahannya sekresi. %. ;angguan pertukaran gas b.d berkurangnya suplai oksigen.

*. erkurangnya pera#atan kesehatan b.d ketidakefektifan koping individu. +. esiko infeksi b.d in adekuat pertahanan primer dan sekunder, dan

 penyakit kronik.

1. Defisit pengetahuan  ""M b.d kurangnya informasi.

2. In adekuat nutrisi b.d ketidakmampuan men7erna makanan atau absorbsi . erkurangnya peran b.d perubahan persepsi diri dan perubahan kapasitas

fisik dalam menjalankan peran.

J. In efektif pola nafas b.d kelemahan muskuloskeletal dan penurunan energi atau fatiNue.

!. $etidakmampuan untuk melakukan ventilasi se7ara spontan b.d kelemahan otot pernafasan.

/. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan  permintaan (Goukenotte, M.A, %///). C. Inter6ensi 7 Peren+anaan N o D 8 Diagnosa

/epera5atan Tujuan Dan /H Inter6ensi Rasional '. $etidakefektifa n jalan nafas  berhubungan dengan tertahannya sekresi. 4ujuan  Mengefektifkan  jalan nafas • >asil yang diharapkan  Mempertahanka n jalan nafas  paten dengan  bunyi nafas . Auskultasi  bunyi nafas, 7atat adanya  bunyi nafas, misal  mengi, krekels, ronki. %. $aji 8 pantau frekuensi . eberapa derajat  bronkus terjadi dengan obstruksi  jalan nafas dan

tidak

dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius

(16)

 bersih 8 jelas • Menunjukkan  perilaku untuk memperbaiki  bersihan jalan nafas Misal  atuk efektif dan mengeluarkan sekret.  pernafasan, 7atat rasio inspirasi mengi (emfisema) *. $aji pasien untuk posisi yang nyaman misal  peninggian kepala tempat tidur, duduk dan sandaran tempat tidur. +. "ertahankan  polusi lingkungan minimum debu, asap dll 1. antu latihan nafas abdomen 8  bibir  2. Ajarkan teknik nafas dalam  batu efektif  . erikan obat sesuai indikasi  beberapa derajat dan dapat ditemukan pada  penerimaan 8 selama stress 8 adanya proses infeksi akut *. "eninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi, namun  pasien dengan

slifres berat akan men7ari posisi yang paling mudah untuk bernafas. +. "en7etus tipe reaksi alergi  pernafasan yang dapat mentrigen episode akut. 1. Memberikan  pasien beberapa 7ara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan  jebakan udara. 2. atuk dapat menetap tetapi

(17)

efektif khususnya  bila pada lansia,sakit akut, atau kelemahan . Membantu dalam  proses  penyembuhan. (. ;angguan  pertukaran gas  berhubungan dengan suplai oksigen 4ujuan  Memenuhi suplai oksigen pada tubuh.

$riteria hasil yang diharapkan  • Menunjukkan  perbaikan ventilasi dan oksigenasi  jaringan adekuat yang bila dalam rentang • normal O bebas gejala distres  pernafasan. • erpartisipasi dalam program  pengobatan dalam tingkat kemampuan 8 situasi. . $aji frekuensi kedalaman  pernafasan, 7atat  penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidakmampua n bi7ara 8  berbin7ang. %. 4inggikan kepala tempat tidur, bantu  pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas. *. Dorong mengeluarkan sputum "enghisapan  bila diindikasikan. +. $aji 8 a#asi se7ara rutin kulit dan #arna

. erguna dalam evaluasi distress  pernafasan dan kronisnya proses  penyakit. %. "engiriman oksigen dapat diperbaiki dengan  posisi duduk

tinggi, dan latihan nafas untuk

menurunkan kolaps  jalan nafas, dispnea

dan kerja nafas. *. $ental, tebal,  banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan  pertukaran gas +. &ianosis mungkin  perifer (terlihat  pada kuku) atau

sentral (terlihat sekitar bibir 8 daun

(18)

membran mukosa

1. A#asi tanda vital dan irama  jantung

2. A#asi 8

gambaran seri ;DA dan nadi, oksimetri . erikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil ;DA dan toleransi pasien. telinga) keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan  beratnya hipoksemia. 1. 4akikarena, disritimia, dan  perubahan 4D dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. 2. "a:% biasanya meningkat (bronkhitis, emfisema) dan "a:% se7ara umum menurun, sehingga hipoksia terjadi dengan derajat lebih 8 lebih  besar  . Dapat memperbaiki 8 men7egah  buruknya hipoksia. ). esiko tinggi terhadap infeksi  berhubungan dengan inadekuat 4ujuan  Men7egah terjadinya infeksi. $riteria hasil yang diharapkan  • Menyatakan  pemahaman . A#asi suhu %. $aji pentingnya latihan nafas,  batuk efektif,  perubahan . Demam dapat terjadi karena infeksi 8 dehidrasi %. Aktifitas ini meningkatkan mobilisasi dan

(19)

 pertahanan  primer dan sekunder,  penyakit kronis.  penyebab 8 faktor resiko individu • Mengidentifikas i intervensi untuk men7egah 8 menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik,  perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.  posisi sering, dan masukan 7airan adekuat. *. 4unjukkan dan  bantu pasien tentang  pembuangan

tisu dan sputum +. Dorong keseimbangan antara aktifitas dan istirahat 1. Dapatkan spesimen dengan batuk 8  penghisapan untuk  pe#arnaan kuman gram kultur 8 sensitivitas. 2. erikan anti mikrobia sesuai indikasi  pengeluaran sekret untuk menurunkan resiko terjadi infeksi paru. *. :egah penyebaran  ppatogen melalui 7airan +. Menurunkan konsumsi 8 kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki  pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan  penyembuhan. 1. Dilakukan untuk mengidentifikasika n organisme  penyebab dan kerentanan 2. Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kulturdan sensitivitas, atau diberikan se7ara

(20)

 profilaktik karena resiko tinggi. *. "erubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan dispnea, kelemahan efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual 8 muntah. 4ujuan  Memenuhi kebutuhan nutrisi klien se7ara adekuat

$riteria hasil yang diharapkan  • Menunjukkan  peningkatan  berat badan menuju tujuan yang tepat. • Menunjukkan  perilaku  perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan 8 mempertahanka n berat yang tepat. . $aji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, 7atat derajat kesulitan makan, evalusi  dan ukuran tubuh. %. 4unjukkan dan  bantu pasien tentang  pembuangan

tisu dan sputum

*. Dorong keseimbangan antara aktifitas dan istirahat +. Dapatkan spesimen dengan batuk 8  penghisapan untuk  pe#arnaan kuman gram kultur 8 sensitivitas. . "asien distress  pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea,  produksi sputum dan obat %. Aktifitas ini meningkatkan mobilisasi dan  pengeluaran sekret untuk menurunkan resiko terjadi infeksi paru *. Menurunkan konsumsi 8 kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki  pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan  penyembuhan. +. Dilakukan untuk mengidentifikasika n organisme  penyebab dan kerentanan terhadap berbagai anti mikrobia.

(21)

1. erikan anti mikrobia sesuai indikasi 1. Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitivitas, atau diberikan se7ara  profilaktik karena resiko tinggi. 1. Intoleransi aktifitas  berhubungan dengan keseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen, kelemahan, dispnea. 4ujuan  Mengembalikan aktifitas klien seperti semula. $riteria hasil yang diharapkan 

Melaporkan 8 menunjukkan  peningkatan

toleransi terhadap aktifitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan  berlebihan, dan

tanda vital dalam rentang normal. . @valuasi respons pasien terhadap aktifitas. %. :atat laporan dispnea,  peningkatan kelemahan 8 kelelahan dan  perubahan tanda

vital selama dan setelah aktivitas. *. antu aktivitas  pera#atan dini yang diperlukan. erikan kemajuan  peningkatan aktivitas selama fase  penyembuhan. . Menetapkan kemampuan 8 kebutuhan pasien dan memudahkan  pilihan intervensi %. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. *. Mengurangi kelelahan

(22)

+. Ajarkan klien untuk mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan kelelahan 2. Defisit  pengetahuan tentang ""M  berhubungan dengan kurang informasi, salah mengerti tentang informasi, kurang mengingat 8 keterbatasan kognitif. 4ujuan  $lien mampu untuk mengetahui tentang  pengertian 8 informasi ""M. $riteria hasil yang diharapkan  • Menyatakan  pemahaman kondisi 8 proses  penyakit dan tindakan • Mengidentifikas i hubungan tanda 8 gejala yang ada dari  proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor  penyebab . Helaskan 8 kuatkan  penjelasan  proses penyakit individu %. Instruksikan 8 kuatkan rasional untuk latihan nafas, batuk efektif dan latihan kondisi umum. *. Diskusikan obat  pernafasan, efek  samping O reaksi yang tak diinginkan

+. 4ekankan  pentingnya  pera#atan oral 8

. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan  perbaikan

 partisipasi pada ren7ana

 pengobatan.

%. Fafas bibir O nafas abdominal 8 diafragmatik menguatkan otot  pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan nafas ke7il dan

memberikan

individu arti untuk mengontrol

dispnea.

*. "asien ini sering mendapat obat  pernafasan banyak

sekaligus yang mempunyai efek samping hampir

(23)

kebersihan gigi 1. Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi mis udara terlalu kering, angin, lingkungan dengan suhu ekstrem, serbuk, asap tembakau, sprei aerosol,  polusi udara. 2. Diskusikan  pentingnya mengikuti  pera#atan medik, foto dada periodik dan kultur  sama O potensial interaksi obat +. Menurunkan  pertumbuhan

 bakteri pada mulut, dimana dapat menimbulkan infeksi saluran nafas atas. 1. ?aktor lingkungan ini dapat menimbulkan iritasi bronkial menimbulkan  peningkatan

 produksi sekret dan hambatan jalan nafas. 2. "enga#asan proses  penyakit untuk membuat program terapi untuk memenuhi  perubahan kebutuhan dan dapat membantu men7egah komplikasi  ( Doenges, %///  1%).

(24)

E. E6aluasi

?okus utama pada klien Gansia dengan ""M adalah untuk

mengembalikan kemampuan dalam ADG&, mengontrol gejala, dan ter7apainya hasil yang diharapkan. $lien Gansia mungkin membutuhkan pera#atan

tambahan di rumah, evaluasi juga termasuk memonitor kemampuan

 beradaptasi dan menggunakan tehnik energi 7onserving, untuk mengurangi sesak nafas, dan ke7emasan yang diajarkan dalam rehabilitasi paru. $lien Gansia membutuhkan #aktu yang lama untuk mempelajari tehnik rehabilitasi yang diajarkan. agaimanapun, saat pertama kali mengajar, mereka harus mempunyai pemahaman yang baik dan mampu untuk beradaptasi dengan gaya hidup mereka.(Geukenotte, M A, %///  1/%)

(25)

BAB I9 PENUTUP

A. /esi$pulan

"ada usia lanjut terjadi penularan analomi - fisiologi paru dan saluran nafas, antara lain berupa pengurangan ela"tic recoil paru ke7epatan arus ekspirasi, tekanan oksigen a7ted serta respons pusat reflek pernafasan terhadap rangsangan oksigen arteri atau hiperkapnia. >al-hal tersebut berpengaruh pada mekanisme perthanan tubuh terhadap timbulnya penyakit paru

"enyakit paru yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah infeksi saluran nafas akut bagian ba#ah ""M. erhagai 7ara dapat dilakukan untuk  pen7egahan terhadap timbulnya infeksi pernafasan akut bagian ba#ah, ""M. 'ntuk men7egab melanjunya penurunan fungsi paru, antara lain dapat diatasi dengan melakukan olah raga atau latihan fisik yang teratur, selain meningkatkan taraf kesehatan usia lanjut. Gaju penurunan fungsi paru dapat diketahui dengan  pemeriksaan faal paru se7ara berkala.

B. aran

'ntuk Gansia menghindari faktor resiko  . Anjurkan klien untuk tidak merokok  %. Anjurkan klien untuk 7ukup istirahat

*. Anjurkan klien untuk menghindari alergen +. Anjurkan klien untuk mengurangi aktifitas

1. Anjurkan klien untuk mendapatkan asupan gii yang 7ukup 'ntuk keluarga memberikan dukungan 

. Anjurkan keluarga untuk memberi perhatian pada klien %. Anjurkan keluarga untuk memantau kondisi klien

(26)

DA%TAR PUTA/A

:or#in, @liabeth H. uku saku "atofisiologi. Hakarta @;:.

Doengoes, Marilynn @. %///. en7ana Asuhan $epera#atan. Hakarta  @;:. ;uyton, Arthur :. !+1. ?isiologi Manusia dan Mekanisme "enyakit. Hakarta  @;:.

Gue7kenotte, A.;. %///. ;erontologi7 nursing. &t. Gouis Mosby, IF:.

Gong, arbara :. !!2. "era#atan Medikal edah. andung  9ayasan Ikatan Alumni "endidikan $epera#atan "ajajaran andung.

Matteson, M.A and M:, :onnel, @.&. !JJ. ;erontologi7al nursing  :on7ept and "ra7ti7e. "hiladelphia  < &ounders :ompany.

"ri7e, &yna, A and <ilson, Gorraine M. !!+. "atofisiologi, $onsep $linis  proses-proses "enyakit, edisi ke-+. Hakarta  @;:.

.oedi-Dharmojo dan >.>adi Martono (!!!). uku Ajar ;eriatri (Ilmu $esehatan usia lanjut) edisi ke-*. Hakarta  @;:.

&uddarth dan runner. %//%. $epera#atan Medikal edah, edisi J. Hakarta  @;:. <ood, 'nder H.:.@. !!2. "atologi 'mum dan &istemik. H akarta  @;:.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :