• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

36 4.1.1 Diskripsi Kondisi Prasiklus

SDN Muncar 02 beralamat di Dusun krajan RT 01 RW 03 Desa Muncar Kecamatan Sususkan Kabupaten Semarang. Berdasarkan lokasinya SDN muncar 02 berada di tengah-tengah wilayah perkampungan Desa Muncar yang terdiri dari lima kedukuhan. Jumlah total siswa di SDN Muncar 02 adalah 151 siswa yang terdiri dari 69 siswa perempuan dan 72 siswa laki-laki. Sedangkan jumlah siswa kelas V yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah 28 yang terdiri dari 14 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. Jumlah guru dan karyawan di SDN Muncar 02 12 orang. Guru yang Sarjana 7 orang, D2 ada 4 orang dan SMA 1 orang. Sarana dan prasarana yang ada di SDN Muncar 02 sudah baik. Ala-alat peraga sudah tersedia dan mencukupi untuk masing-masing mata pelajaran yang akan digunakan saat proses pembelajaran berlangsung. SDN Muncar 02 memiliki 6 ruang kelas, 2 ruang kantor guru yang salah satunya dalam masa perbaikan, 1 musholla, 1 perpustakaan, 1 ruang UKS, WC siswa dan guru yang terpisah, dan gudang sekolah. Tata ruang SDN Muncar 02 berbentuk leter U dengan lapangan serbaguna yang ada di tengah-tengahnya yang bisa dimanfaatkan untuk upacara bendera, tempat olahraga, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dilaksanakan di tempat terbuka.

Kondisi prasiklus atau kondisi awal merupakan keadaan siswa sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada siswa kelas V SDN Muncar 02 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 28 siswa pada pembelajaran IPS, bahwa guru melakukan proses belajar mengajar dengan meodel konvensional yaitu ceramah. Dengan model konvensional tersebut siswa hanya duduk mendengarkan penjelasan dari guru dan selanjutnya mengerjakan evaluasi yang diberikan oleh guru, sehingga hasil belajarnya

(2)

berdasarkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang diterapkan oleh sekolah sebesar >71 hanya 39,29 % siswa yang dapat mencapainya. Kemudian peneliti dan guru kelas berkolaborasi mencari masalah yang menyebabkan 60,71 % siswa nilainya masih dibawah KKM. Masalah yang ditemukan adalah rendahnya tingkat penguasaan materi pembelajaran oleh siswa dan dari 28 siswa yang mengikuti pelajaran hanya 3 sampai 5 siswa yang terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Karenanya peneliti dan guru mengambil kesimpulan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran agar pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan dapat lebih optimal yaitu dengan penerapan model pembelajaran cooperative script. Nilai KKM juga ditingkatkan agar guru termotivasi untuk mencapai nilai KKM tersebut. KKM tersebut adalah 90, jika siswa belum mencapai KKM 90 maka dinyatakan belum tuntas dalam belajarnya.

Kondisi awal sebelum diadakan tindakan penelitian, perolehan nilai tentang perjuangan melawan penjajah ketuntasan belajar siswa dari 28 siswa terdapat 2 siswa yang mencapai ketuntasan dan 26 siswa yang belum mencapai ketuntasan dengan kriteria ketuntasan minimum 90. Hal ini dapat terlihat dari tabel 4.1

Tabel 4.1

Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPS Kelas V Pada Prasiklus Skor Ketuntasan Frekuansi Persentase (%)

≥ 90 Tuntas 2 7,14

< 90 Tidak Tuntas 26 92,86

Jumlah 28 100

Dilihat dari tabel 4.1 hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS belum maksimal, hal ini ditunjukkan dari banyaknya siswa yang belum tuntas dalam belajarnya sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 90. Dari tabel diatas diketahui terdapat hanya 2 siswa yang tuntas dalam pembelajaran sesuai dengan KKM yang diterapkan dan terdapat 26 siswa yang belum tuntas dalam

(3)

pembelajaran IPS dengan Standar Deviasi 12,13. Sehingga peneliti merasa perlu mengadakan tindakan pembelajaran demi membantu meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas V SD Negeri Muncar 02 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang pada mata pelajaran IPS. Berdasarkan tabel 4.1 dapat digambarkan dalam diagram kerucut pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus

Berdasarkan penelitian sebelumnya, rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran sehari-hari adalah model pembelajaran konvensional yang ditandai dengan guru mengajar hanya dengan ceramah dan tanya-jawab dan tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan data hasil belajar yang rendah dari siswa kelas V di SD Negeri Muncar 02 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang Semester II Tahun Ajaran 2011/2012 di atas, peneliti akan melakukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Dalam penelitian ini peneliti akan memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe cooperative script dalam setiap pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang akan dilakukan dalam dua siklus.

0 5 10 15 20 25 30

Jumlah Siswa Persentase (%)

2 7,14

26

92,86

Tuntas Tidak Tuntas

(4)

4.1.2 Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Dalam Siklus I terdapat 2 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan ini hal-hal yang dilakukan adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang materi perjuangan melawan penjajah, menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan digunakan, menyusun instrumen penilaian, menyusun pedoman observasi, menyiapkan media yang diperlukan dalam pembelajaran nantinya yaitu materi tentang perjuangan melawan penjajah. Merencanakan personal yang akan dilibatkan dalam penelitian yaitu dengan guru kelas yang mengajar di kelas V pada tempat penelitian dilakukan. Merancang tes formatif dan menyiapkan rubrik penilaian proses yaitu meringkas, diskusi, dan presentasi.

Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan a. Pertemuan Pertama

1) Kegiatan Awal

Pertemuan pertama pada siklus 1 berlangsung pada hari Senin, 09 April 2012 pukul 07.35 WIB setelah kegiatan upacara bendera selesai, untuk mengawali pembelajaran ini guru mengucapkan salam, mengkondisikan siswa, mengabsen siswa dan melakukan apersepsi dengan bertanya pada siswa mengenai materi perlawanan terhadap penjajah. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tentang materi yang akan diajarkan yaitu perjuangan melawan penjajah sub bab perjuangan melawan penjajahan Belanda. Langkah selanjutnya yaitu guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan menjelaskan langkah-langkah atau prosedur tindakan pada model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe cooperative script.

2) Kegiatan inti

Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada kegiatan inti antara lain : siswa membentuk kelompok berpasangan dan duduk sebangku. Masing-masing siswa menerima materi perjuangan melawan penjajahan Belanda dari guru, selanjutnya tugas siswa adalah menyimak dan kemudian membuat ringkasan. Selanjutnya siswa yang telah duduk berpasangan menetapkan peran masing-masing yaitu

(5)

peran sebagai pembicara dan pendengar. Kemudian didapati kesepakatan bahwa deretan siswa yang duduk di bangku deretan kanan adalah siswa yang berperan sebagai pembicara dan siswa di deretan kiri menerima peran sebagai pendengar. Setelah masing-masing siswa menerima perannya selanjutnya mereka melakukan kegiatan diskusi berpasangan antara pembicara dan pendengar. Tugas pembicara adalah menyampaikan hasil ringkasannya tentang perjuangan melawan penjajah selengkap mungkin dan bisa juga ditambahkan hal-hal lain yang ia tau, sementara tugas pendengar adalah menyimak penjelasan dari pembaca, memberi tanggapan dan masukan, mengoreksi jika ada kesalahan dari pembicara serta membantu mengingat ide-ide pokok dari materi. Pembaca dan pendengar berdiskusi tentang perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bertukar peran, siswa yang semula berperan sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya kemudian mereka kembali melaksanakan diskusi berpasangan. penilaian proses dilakukan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa membuat kesimpulan. Siswa bersama-sama dengan guru meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan membuat kesimpulan.

3) Kegiatan Akhir

Siswa bersama-sama dengan guru menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa mengerjakan LKS dan dicocokkan bersama-sama dan hasilnya dikumpulkan kepada guru. Pelajaran diakhiri pukul 08.45 WIB.

b. Pertemuan Kedua

Tindakan ini dilaksanakan pada hari kamis , 12 April 2012. Uraian kegiatannya adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan Awal

Pertemuan ini berlangsung pada pukul 09.00 WIB yang diawali dengan upacan salam dan presensi oleh guru. Uraian kegiatan pada pertemuan kedua meliputi guru bertanya pada siswa tentang materi yang diterima pada pertemuan sebelumnya dan pertanyaan dari guru : “selain Belanda, negara mana yang kalian

(6)

ketahui pernah menjajah Indonesia?”. Guru menyampaikan tujuan dari pembelajaran tentang perjuangan melawan penjajahan Jepang, selanjutnya guru menyampaikan langkah-langkah dan prosedur pembelajaran yang akan dilakukan.

2) Kegiatan Inti

Uraian kegiatan pada kegiatan inti pertemuan kedua ini meliputi : siswa membentuk kelompok berpasangan dan duduk sebangku. Masing-masing siswa menerima materi perjuangan melawan penjajahan Jepang dari guru, selanjutnya tugas siswa adalah menyimak dan kemudian membuat ringkasan. Selanjutnya siswa yang telah duduk berpasangan menetapkan peran masing-masing yaitu peran sebagai pembicara dan pendengar. Kemudian didapati kesepakatan bahwa deretan siswa yang duduk di bangku deretan kanan adalah siswa yang berperan sebagai pembicara dan siswa di deretan kiri menerima peran sebagai pendengar. Setelah masing-masing siswa menerima perannya selanjutnya mereka melakukan kegiatan diskusi berpasangan antara pembicara dan pendengar. Tugas pembicara adalah menyampaikan hasil ringkasannya tentang perjuangan melawan penjajah selengkap mungkin dan bisa juga ditambahkan hal-hal lain yang ia tau, sementara tugas pendengar adalah menyimak penjelasan dari pembaca, memberi tanggapan dan masukan, mengoreksi jika ada kesalahan dari pembicara serta membantu mengingat ide-ide pokok dari materi. Pembaca dan pendengar berdiskusi tentang perjuangan melawan penjajahan Jepang. Bertukar peran, siswa yang semula berperan sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya kemudian mereka kembali melaksanakan diskusi berpasangan. penilaian proses dilakukan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa membuat kesimpulan. Siswa bersama-sama dengan guru meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan membuat kesimpulan.

3) Kegiatan Akhir

Siswa bersama-sama dengan guru menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa

(7)

mengerjakan LKS dan dicocokkan bersama-sama dan hasilnya dikumpulkan kepada guru. Pelajaran diakhiri pukul 10.10 WIB.

Refleksi

Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran pada siklus I dari pertemuan I dan II maka selanjutnya diadakan refleksi dalam bentuk diskusi atas segala kegiatan dalam proses pembelajaran.

Hasil observasi kinerja guru oleh observer Siklus I, pada perencanaan pembelajaran guru menggunakan RPP, pada pelaksanaan pembelajaran guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi, kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran siswa aktif, pada strategi pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran, apersepsi, memberikan kesempatan siswa mengungkapkan pendapatnya, pada manajemen kelas guru melaksanakan tata tertib kelas, pada penilaian guru melakukan penilaian pada siswa, memberikan umpan balik, dan memberikan pujian. Namun masih ada kekurangan guru yang perlu diperbaiki misalnya mobilitas guru ketika memberikan bimbingan pada siswa dalam pelaksanaan kerja kelompok, pengelolaan waktu yang belum maksimal sehingga proses pembelajaran masih terkesan kacau, dan penilaian pada setiap siswa juga belum maksimal sehingga perlu diperbaiki lagi. Lebih rinci untuk hasil observasi siswa dan guru dapat dilihat dari tabel di bawah ini :

Tabel 4. 2

Hasil Implementasi RPP IPS Pada Siswa Kelas V Siklus I

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

I. Pra

pembelaja ran

Kekuatan : Siswa sudah siap dengan pembelajaran, siswa telah menempati tempat duduknya dengan baik

(8)

II Kegiatan Awal Pembelaja ran

Kekuatan : siswa menjawab pertanyaan apersepsi

Hal perlu diperbaiki: menjawab pertanyaan dari guru

Lakukan tanya jawab yang lebih variatif sehingga siswa tertarik untuk menjawab

III. Kegiatan Inti Pembelaja ran

Kekuatan : siswa melaksanakan pembelajaran dengan baik, siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru.

Hal perlu diperbaiki: keaktifan siswa

Siswa perlu lebih aktif dan antusias lagi dalam

pembelajaran

IV. Penutup Kekuatan : siswa melakukan refleksi bersama guru

Hal perlu diperbaiki: refleksi bersama guru

Ajak semua siswa melakukan

refleksi

Tabel 4.3

Hasil Implementasi RPP IPS Pada Guru Kelas V Siklus I

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

A. Perencanaan Pembelaj aran

Kekuatan : tersedia RPP, tersedia materi pelajaran dan sarana penunjang pembelajaran kegiatan belajar.

B Strategi Pembelaj aran

Kekuatan : menyampaikan

apersepsi dan motifasi,

membantu siswa membangun pemahaman sendiri, memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapat.

Hal perlu diperbaiki: belum

menyampaikan tujuan pembelajaran dan dalam penyampaian langkah-langkah pembelajaran belum jelas dan tegas tujuan pembelajaran dan langkah-langkah pembelajaran harus disampaikan kepada siswa dengan jelas dan tegas hingga siswa benar-benar paham sebelum memulai

(9)

kegiatan pembelajaran.

C. Manajemen

Kelas

Kekuatan : tata tertib kelas terlaksana dengan baik, waktu untuk setiap langkah kegiatan belum dikelola dengan baik

Hal perlu diperbaiki: perli peningkatan dalam pengelolaan waktu

pengelolaan waktu perlu

ditingkatkan

D. Penilaian Kekuatan : perkembangan belajar siswa dipantau dengan baik, umpan balik diberikan terhadap hasil belajar, penghargaan terhadap siswa berupa pujian dan nilai proses yang tinggi

Hal perlu diperbaiki: penghargaan kepada siswa yang telah berani melakukan sesuatu yang positif

penghargaan terhadap siswa yang berani menjawab pertanyaan walaupun salah harus tetap diberi pujian karena keberaniannya.

Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan pada Siklus I, dan tes formatif yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 April 2012 diambil data secara kuantitatif melalui penilaian unjuk kerja hasil belajar materi perjuangan melawan penjajah maka dapat diperoleh hasil belajar yaitu nilai tertinggi yang dicapai sebelum tindakan sebesar 91 dan nilai terendah 53. Siswa yang telah mencapai KKM 90 ada 2 siswa (7,14 %), sedangkan yang belum mencapai KKM 90 sebanyak 26 siswa (92,86 %). Pada Siklus I nilai tertinggi yang bisa dicapai siswa telah meningkat yaitu 94, sedangkan nilai terendah 85. Siswa yang mencapai KKM 90 sebanyak 16 anak (57,14 %) sedangkan siswa yang belum mencapai

(10)

KKM 90 sebanyak 12 anak (42,86%). Standar deviasi yang diperoleh 2,92. Berikut ini tabel perolehan nilai siklus I :

Tabel 4.4

Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus I

Skor Ketuntasan Frekuensi Presentase (%)

≥ 90 Tuntas 16 57,14

< 90 Tidak Tuntas 12 42,86

Adapun hasil belajar IPS dengan menggunakan model cooperative script

siswa telah mencapai 57,14 % karena dari 28 siswa yang memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal 90 ada 12 siswa, sedangkan 16 siswa telah memperoleh nilai ≥ KKM atau dinyatakan tuntas belajar. Kondisi tersebut dapat digambarkan menggunakan diagram sebagai berikut:

Gambar 4.2 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus I

Refleksi dan analisis hasil tes unjuk kerja pada Siklus I terdapat 16 siswa yang tuntas dan 12 siswa belum tuntas belajar, sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran. Dari hasil pelaksanaan pembelajaran Siklus I diketahui masih

0 2 4 6 8 10 12 14 16 Jumlah Presentase (%) 16 57,14 12 42,86 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas

(11)

terdapat beberapa siswa yang tidak mendengarkan penjelasan tentang langkah-langkah pembelajaran yang disampaikan guru atau kurang serius pada saat model

cooperative script diterapkan. Serta ada sebagian siswa kurang memahami materi perjuangan melawan penjajah. Akan tetapi pada Siklus I telah terjadi peningkatan pembelajaran materi perlawanan terhadap penjajah yaitu pada kondisi awal yang dapat dilihat pada ketuntasan pembelajaran dari 7,14 % naik menjadi 57,14 % pada hasil belajar Siklus I. Berdasarkan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I, ada 12 siswa yang nilainya belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 90. Maka peneliti akan memperbaiki dalam pelaksanaan pembelajaran pada Siklus II, agar pembelajaran materi dalam KD (Kompetensi Dasar) selanjutnya tercapai secara optimal. Hal perlu dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran pada Siklus II antara lain dengan cara:

a. Pengelolaan waktu oleh guru yang ditingkatkan agar proses belajar lebih terarah dan teratur sesuai langkah-langkah pembelajaran.

b. Dalam penyampaian langkah-langkah pembelajaran memberi contoh dengan demostrasi oleh 2 siswa, sehingga siswa dapat memahami dengan benar langkah-langkah pembelajaran cooperative script.

c. Pemerataan mobilitas guru saat menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran.

d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal yang belum dipahami.

e. Penegasan peran terhadap masing-masing siswa.

Refleksi dalam bentuk diskusi atas segala kegiatan dalam proses pembelajaran dilakukan oleh guru kelas, peneliti, dan siswa kelas V. Dalam diskusi berisi tentang evaluasi bagaimana pembelajaran IPS melalui model pembelajaran cooperative script. Dari diskusi ini didapatkan bahwa guru kelas dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script mendapat pengalaman dan wawasan baru dalam pembelajaran serta guru merasa lebih mudah dalam mengajar, tidak menguras tenaga guru karena siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran sedangkan hanya menjalankan perannya sebagai fasilitator, bagi siswa pembelajaran dirasa mudah diterima dan dipahami karena

(12)

pembelajaran dilakukan bersama temannya sehingga mereka merasa lebih leluasa dan mudah menerima penjelasan dari teman karena kesetaraan tingkat bahasa dalam komunikasi serta siswa yang berkemampuan rendah merasa terbantu oleh temannya tentang hal-hal yang belum dimengerti karena mereka lebih leluasa bertanya pada teman tanpa merasa takut atau malu.

Hasil refleksi dilakukan untuk mengetahui keefektifan dari model pembelajaran cooperative script. Refleksi ini digunakan sebagai bahan perbaikan dengan membandingkan apakah hasil tindakan dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan indikator yang diharapkan. Setelah selesai pembelajaran pada siklus I pada hari Sabtu, 14 April 2012 dilakukan pertemuan untuk melaksanakan tes formatif untuk mengukur keberhasilan siswa dalam penguasaan materi. Berdasarkan indikator kinerja yang telah ditentukan yaitu ketercapaian KKM pada hasil belajar siswa peneliti memberikan patokan 80% dari keseluruhan siswa hasil belajarnya meningkat dengan mencapai nilai ≥ 90 berdasarkan hasil evaluasi siswa.

Hasil refleksi yang diperoleh pada proses pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut:

A.Kelebihan

1. Dalam pelaksanaan pembelajaran terarah dengan baik karena memang sudah diprogramkan dengan baik.

2. Rasa antusias dari siswa yang sangat besar karena mereka merasa mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga bisa menekan rasa jenuh mereka terhadap pelajaran.

3. Dalam kegiatan pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa belajar lebih leluasa.

4. Siswa merasa lebih senang dengan model pembelajaran yang

dilaksanakan karena mereka merasa proses belajar dilakukan sambil bermain dan bercakap-cakap dengan teman mainnya.

5. Bermanfaat karena dapat menumbuhkan dan memupuk keberanian siswa saat berada dalam proses belajar dikelas, yang dulunya tidak mau menjawab menjadi mau menjawab, mereka juga merasa percaya diri

(13)

menyampaikan pendapatnya didepan kelas melalui presentasi, dan mengurangi rasa rendah diri.

6. Melatih tanggung jawab siswa dalam keikutsertaanya dalam pelajaran. B. Kekurangan

a. Hambatan

1. Penerapan model pembelajaran cooperative script belum terbiasa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa masih kaku menjalankannya.

2. Mobilitas guru masih kurang dalam memberikan bimbingan pada siswa yang mengalami kesulitan.

3. Adanya siswa yang belum siap dalam kegiatan belajar mengajar. b. Penyelesaian

1. Dalam proses pembelajaran perlu adanya persiapan yang benar-benar matang agar pembelajaran terlaksana dengan baik dan optimal.

2. Perlu adanya pengarahan yang maksimal dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan siswa.

3. Membuat siswa lebih aktif dalam setiap kegiatan belajar sehingga keterampilan kerjasama kelompok siswa lebih meningkat.

4. Pemberian peringatan kepada siswa yang tanggung jawabnya kurang saat melaksanakan kegiatan belajar.

4.1.3 Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

Praktik pembelajaran pada Siklus II dilaksanakan dengan melihat kekurangan dan kelebihan pada Siklus I. Pelaksanaan Siklus II merupakan upaya perbaikan pada Siklus I dengan lebih memberi semangat kepada siswa. Dalam Siklus II, terdapat dua kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan ini hal-hal yang dilakukan adalah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang materi perjuangan melawan penjajah, menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan digunakan, menyusun instrumen penilaian, menyusun pedoman observasi, menyiapkan media yang

(14)

diperlukan dalam pembelajaran nantinya yaitu materi tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Merencanakan personal yang akan dilibatkan dalam penelitian yaitu dengan guru kelas yang mengajar di kelas V pada tempat penelitian dilakukan. Merancang tes formatif dan menyiapkan rubrik penilaian proses yaitu meringkas, diskusi, dan presentasi.

Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan a. Pertemuan Pertama

Tindakan ini dilaksanakan pada hari Senin, 16 April2012 melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan Awal

Pertemuan pertama pada siklus 1 berlangsung pada hari Senin, 16 April 2012 pukul 07.35 WIB setelah kegiatan upacara bendera selesai, untuk mengawali pembelajaran ini guru mengucapkan salam, menginstruksikan pada siswa untuk merapikan tempat duduknya, mengabsen siswa dan melakukan apersepsi dengan bertanya pada siswa mengenai materi perlawanan terhadap penjajah. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tentang materi yang akan diajarkan yaitu perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Langkah selanjutnya yaitu guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan menjelaskan langkah-langkah atau prosedur tindakan pada model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe cooperative script.

2) Kegiatan Inti

Kegiatannya inti pada siklus ini seperti kegiatan pada Siklus I. Kegiatan inti meliputi: siswa membentuk kelompok berpasangan dan duduk sebangku. Masing-masing siswa menerima materi tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dari guru, selanjutnya tugas siswa adalah menyimak dan kemudian membuat ringkasan. Selanjutnya siswa yang telah duduk berpasangan menetapkan peran masing-masing yaitu peran sebagai pembicara dan pendengar. Kemudian didapati kesepakatan bahwa deretan siswa yang duduk di bangku deretan kanan adalah siswa yang berperan sebagai pembicara dan siswa

(15)

di deretan kiri menerima peran sebagai pendengar. Setelah masing-masing siswa menerima perannya selanjutnya mereka melakukan kegiatan diskusi berpasangan antara pembicara dan pendengar. Tugas pembicara adalah menyampaikan hasil ringkasannya tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia selengkap mungkin dan bisa juga ditambahkan hal-hal lain yang ia tahu, sementara tugas pendengar adalah menyimak penjelasan dari pembaca, memberi tanggapan dan masukan, mengoreksi jika ada kesalahan dari pembicara serta membantu mengingat ide-ide pokok dari materi. Pembaca dan pendengar berdiskusi tentang perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bertukar peran, siswa yang semula berperan sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya kemudian mereka kembali melaksanakan diskusi berpasangan. penilaian proses dilakukan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa membuat kesimpulan. Siswa bersama-sama dengan guru meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan membuat kesimpulan.

3) Kegiatan Akhir

Siswa bersama-sama dengan guru menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa mengerjakan LKS dan dicocokkan bersama-sama dan hasilnya dikumpulkan kepada guru. Pelajaran diakhiri pukul 08.45 WIB.

b. Pertemuan Kedua

Tindakan ini dilaksanakan pada hari kamis, 19 April 2012 melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan Awal

Pertemuan ini berlangsung pada pukul 09.00 WIB yang diawali dengan upacan salam dan presensi oleh guru. Guru mengawali pelajaran dengan tanya-jawab dengan siswa. Guru menyampaikan tujuan dari pembelajaran tentang perjuangan melawan penjajahan Jepang, selanjutnya guru menyampaikan langkah-langkah dan prosedur pembelajaran yang akan dilakukan.

(16)

2) Kegiatan Inti

Uraian kegiatannya seperti kegiatan pada Siklus I. Kegiatan inti meliputi: siswa membentuk kelompok berpasangan dan duduk sebangku. Masing-masing siswa menerima materi lanjutan tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dari guru, selanjutnya tugas siswa adalah menyimak dan kemudian membuat ringkasan. Selanjutnya siswa yang telah duduk berpasangan menetapkan peran masing-masing yaitu peran sebagai pembicara dan pendengar. Kemudian didapati kesepakatan bahwa deretan siswa yang duduk di bangku deretan kanan adalah siswa yang berperan sebagai pembicara dan siswa di deretan kiri menerima peran sebagai pendengar. Setelah masing-masing siswa menerima perannya selanjutnya mereka melakukan kegiatan diskusi berpasangan antara pembicara dan pendengar. Tugas pembicara adalah menyampaikan hasil ringkasannya tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia selengkap mungkin dan bisa juga ditambahkan hal-hal lain yang ia tahu, sementara tugas pendengar adalah menyimak penjelasan dari pembaca, memberi tanggapan dan masukan, mengoreksi jika ada kesalahan dari pembicara serta membantu mengingat ide-ide pokok dari materi. Pembaca dan pendengar berdiskusi tentang perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Bertukar peran, siswa yang semula berperan sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya kemudian mereka kembali melaksanakan diskusi berpasangan. penilaian proses dilakukan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa membuat kesimpulan. Siswa bersama-sama dengan guru meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan membuat kesimpulan.

3) Kegiatan Akhir

Siswa bersama-sama dengan guru menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa mengerjakan LKS dan dicocokkan bersama-sama dan hasilnya dikumpulkan kepada guru. Pelajaran diakhiri pukul 10.10 WIB.

(17)

Refleksi

Berdasarkan refleksi dan analisis hasil belajar pada Siklus II terdapat 25 siswa yang tuntas dan ada 3 siswa yang tidak tuntas belajar. Dari hasil pelaksanaan pembelajaran Siklus II diketahui bahwa terdapat peningkatan pembelajaran IPS. Hal ini dapat dilihat pada ketuntasan hasil belajar siswa yang sudah mencapai KKM.

Hasil observasi kinerja guru sangat baik pada Siklus II ini, pada perencanaan pembelajaran guru menggunakan RPP, kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran siswa aktif, pada strategi pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran, apersepsi, memberikan kesempatan siswa mengungkapkan pendapatnya, pada manajemen kelas guru melaksanakan tata tertib kelas, mengelola waktu pembelajaran dengan lebih baik dan efisien, pada penilaian guru melakukan penilaian pada siswa, memberikan umpan balik, dan memberikan pujian. Berdasarka hasil observasi yang dilakukan terhadap siswa terlihat bahwa siswa antusias mengikuti pembelajaran, siswa merasa senang dan hampir keseluruhan siswa memiliki keaktifan, konsentrasi dan mampu bekerja sama dengan baik. Hal ini bisa dilihat pada tabel rekapitulasi hasil pengamatan siswa dan guru pada Siklus II di bawah ini :

Tabel 4.5

Hasil Implementasi RPP IPS Pada Siswa Kelas V Siswa Siklus II

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

I. Pra

pembelaja ran

Kekuatan : Siswa sudah siap dengan pembelajaran, siswa telah menempati tempat duduknya dengan baik.

II Kegiatan Awal Pembelaja ran

Kekuatan : siswa menjawab pertanyaan apersepsi

Hal perlu diperbaiki: menjawab pertanyaan dari guru Lakukan tanya jawab yang lebih variatif sehingga siswa tertarik untuk menjawab

(18)

III. Kegiatan Inti Pembelaja ran

Kekuatan : siswa melaksanakan pembelajaran dengan baik, siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru, siswa juga terlihat lebih antusias pada pelajaran yang diikutinya. Siswa lebih leluasa dalam mengikuti pelajaran.

IV. Penutup Kekuatan : siswa dan guru kompak dalam menarik

kesimpulan, siswa melakukan refleksi bersama

guru

Hal perlu diperbaiki: refleksi bersama guru

Ajak semua siswa melakukan refleksi

Tabel 4.6

Hasil Implementasi RPP IPS Pada Guru Kelas V Siklus II

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

A. Perencanaan Pembelaj aran

Kekuatan : RPP disediakan dengan baik, tersedia materi pelajaran yang lengkap dan sarana penunjang pembelajaran kegiatan belajar.

B Strategi Pembelaj aran

Kekuatan : menyampaikan

apersepsi dan motifasi,

membantu siswa membangun pemahaman sendiri, memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapat.

Hal perlu diperbaiki: ketegasan dalam menginstruksikan siswa ketika melaksanakan langkah-langkah dalam pembelajaran

Tegaslah dan jelaskan dengan

sungguh-sungguh tentang apa yang harus dilakukan siswa saat pelajaran berlangsung.

(19)

C. Manajemen Kelas

Kekuatan : tata tertib kelas terlaksana dengan baik, waktu untuk setiap langkah kegiatan dalam pembelajaran sudah lebih terarah

Hal perlu diperbaiki: perlu peningkatan dalam pengelolaan waktu pengelolaan waktu perlu dimaksimalkan demi tercapainya sebuah pembelajaran yang maksimal pula

D. Penilaian Kekuatan : perkembangan belajar siswa dipantau dengan baik, umpan balik diberikan terhadap hasil belajar, penghargaan terhadap siswa berupa pujian dan nilai proses yang tinggi

Hal perlu diperbaiki: penghargaan kepada siswa yang telah berani melakukan sesuatu yang positif

penghargaan terhadap siswa yang berani menjawab pertanyaan walaupun salah harus tetap diberi pujian karena keberaniannya.

Berdasarkan tindakan yang dilaksanakan pada Siklus II dan tes formatif yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2012, yaitu nilai tertinggi yang dicapai pada Siklus I sebesar 94, dan nilai terendah 85. Siswa yang telah mencapai KKM 90 ada 16 siswa (57,14 %), sedangkan yang belum mencapai KKM 90 sebanyak 12 siswa (42,86 %). Pada Siklus II nilai tertinggi yang bisa dicapai siswa telah meningkat yaitu 98 sedangkan nilai terendah 86. Siswa yang mencapai KKM 90 sebanyak 25 siswa (89,29 %) dan sedangkan siswa yang tidak mencapai KKM ada 3 siswa (10,71 %). Standar deviasi yang diperoleh 2,69. Berikut tabel perolehan nilai Siklus II.

Tabel 4.7

Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus II

Skor Ketuntasan Frekuensi Presentase (%)

≥ 90 Tuntas 25 89,29

(20)

Berdasarkan tabel 4.3 bahwa peningkatan hasil belajar mencapai 89,29 % dari 28 siswa yang mengikuti tes, 25 siswa nilainya tuntas sedangkan siswa yang tidak tuntas atau memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 90 ada 3 (10,71 %). Kondisi tersebut digambarkan menggunakan diagram kerucut sebagai berikut:

Gambar 4.3 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus II

Gambar 4.3 di atas mendeskripsikan persentase dari 28 siswa pada Siklus II yaitu siswa yang tuntas adalah siswa yang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih besar dari KKM 90 sebanyak 25 siswa (89,29 %), sedangkan siswa yang tidak tuntas adalah siswa yang mendapat nilai di bawah KKM 90 masih ada 3 siswa (10,71 %)

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

1. Siklus I

Berdasarkan hasil analisis data dari penelitian yang dilaksanakan di SDN Muncar 02 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2011/2012 kelas V terlihat bahwa terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa setelah

0 5 10 15 20 25 Jumlah Presentase (%) 25 89,29 3 10,71 Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas

(21)

diadakan pembelajaran dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe

cooperative script, dengan nilai rata-rata 67 sebelum diadakan penelitian dan setelah diadakan penelitian pada Siklus I nilai rata-rata menjadi 90. Berarti pembelajaran telah berhasil baik dengan jumlah siswa yang nilainya tuntas dari KKM 90 sebanyak 16 siswa dengan tingkat keberhasilan 57,14% dari jumlah siswa sebanyak 28 siswa, dan pada Siklus I ini sudah terjadi peningkatan hasil belajar, tetapi masih ada siswa yang belum tuntas sebanyak 12 siswa dengan persentase 42,86 %. Hal tersebut dikarenakan siswa belum terlihat antusias dalam kegiatan pembelajaran karena mereka belum terbiasa pada penggunaan model pembelajaran cooperative script, ada pula siswa yang belum siap mengikuti pelajaran karena mereka belum jelas tentang apa yang harus mereka lakukan, selain itu mobilitas guru dalam membimbing siswa juga belum maksimal. Penelitian ini tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanaan, ada beberapa kendala yang mempengaruhi penelitian sehingga penelitian ini belum maksimal. Misalnya adanya siswa yang bercanda disaat diskusi kelompok berlangsung dan beberapa penjelasan serta perintah dari guru kurang tidak tegas sehingga siswa kurang memperhatikan tetapi mereka malah berbicara dengan teman yang lain di saat guru memberi perintah atau penjelasan kepada siswa.

2. Siklus II

Berbagai hal yang merupakan kekurangan yang ada pada Siklus I diperbaiki pada siklus II. Kegiatan yang dilakukan pada Siklus II ini masih sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu pada siklus I. pada pembelajaran di Siklus II siswa sudah antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hasil dari siklus II, siswa telah mengalami peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPS dengan persentase 89,29 %. Siswa tersebut telah tuntas dengan patokan nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 90, tetapi masih ada 3 siswa dari 28 siswa yang belum tuntas dengan persentase 10,71 %. Pada siklus II rata-rata kelas menjadi 93 dengan nilai tertinggi 98 dan nilai terendah 86.

(22)

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, partisipasi siswa dalam pembelajaran cukup besar. Siswa lebih aktif mengikuti proses pembelajaran dan lebih aktif menjawab pertanyaan dari guru serta lebih berani mengemukakan pendapat. Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe cooperative script ternyata telah memberikan antusias besar kepada siswa di dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran IPS. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Setelah dilakukan siklus I dan siklus II dengan siklus I sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus II sebanyak 2 kali pertemuan, dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPS pada KD “Mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dan Menghargai jasa dan peranan para tokoh pejuang dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia”.

Berdasarkan hasil tindakan dapat diketahui telah terjadi keberhasilan dalam menggunakan model pembelajaran cooperative script pada mata pelajaran IPS khususnya materi perjuangan melawan penjajah dan perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia di kelas V SDN Muncar 02 Kecamatan Sususkan Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2011/2012. Keberhasilan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.8

Perbandingan Hasil Belajar IPS Pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II

Ketuntasan

Belajar Skor

Pra Siklus Siklus I Siklus II Frekuensi % Frekuensi % Jumlah %

Tidak Tuntas < 90 26 92,86 12 42,86 3 10,71

Tuntas ≥ 90 2 7,14 16 57,14 25 89,29

Jumlah 28 100 28 100 28 100

Berdasarkan tabel 4.4 perbandingan hasil pembelajaran materi perjuangan melawan penjajah dan perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dapat dijelaskan bahwa pada kondisi awal ada 26 siswa (92,86 %) yang

(23)

belum tuntas karena mendapat nilai di bawah KKM 90, sedangkan 2 siswa (7,14 %) telah tuntas karena mendapat nilai di atas KKM 90. Pada kondisi awal nilai tertinggi yang dicapai 91 dan nilai terendahnya 53. Karena terdapat 92,86 % siswa yang belum tuntas maka digunakan model pembelajaran cooperative script.

Pada hasil belajar Siklus I terlihat peningkatan hasil belajar materi tentang perjuangan melawan penjajah. Siswa kelas V SDN Muncar 02 telah mencapai hasil belajar materi perjuangan melawan penjajah 57,14 % karena dari 28 siswa yang memperoleh nilai yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 90 sebanyak 16 siswa dan 12 siswa lainnya masih memperoleh nilai di bawah KKM 90. Pada Siklus I ini nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 94 dan nilai terendah 85. Kemudian tindakan dilanjutkan dengan Siklus II. hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia siswa mencapai 89,29 %. Dalam Siklus II nilai tertinggi yang diperoleh siswa 98 dan nilai terendahnya 86. Pembelajaran IPS materi perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia telah dicapai sesuai dengan indikator kinerja yang peneliti harapkan yaitu 80% dari jumlah siswa keseluruhan mendapatkan nilai ≥ 90 sesuai KKM 90 sebagai hasil belajar mata pelajaran IPS. Hasil belajar IPS secara umum sudah berhasil walaupun peningkatannya tidak bisa mencapai 100% dari jumlah siswa keseluruhan siswa yang mengikuti tes, namun siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan KKM yang ditentukan yaitu 90 sebanyak 26 siswa (89,29%) yang berarti indikator kinerja yang peneliti harapkan telah terlampaui. Sedangkan siswa yang tidak mencapai KKM 90 hanya 3 siswa (10,71 %).

Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar pada materi perjuangan melawan penjajah sampai dengan perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia setelah siswa mengikuti proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran cooperative script. Hasil belajar siswa berdasarkan tes formatif dan penilaian proses dari Siklus I dan Siklus II selalu mengalami kenaikan. Bila dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak perbandingan pembelajaran

(24)

IPS materi perjuangan melawan penjajah sampai dengan perjuangan para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sebagai berikut:

Gambar 4.4 Diagram Perbandingan Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

Selain pada tingkat ketuntasan hasil belajar yang meningkat, rata-rata hasil belajar IPS juga mengalami peningkatan dari hasil prasiklus 67, ke siklus I menjadi 90 dan ke siklus II sebesar 93. Hasil tersebut dapat dilihat dari grafik perbandingan skor rata-rata hasil belajar IPS berikut ini :

Gambar 4.5 Diagram Perbandingan Skor Rata-Rata Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

0 20 40 60 80 100

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Kondisi awal Siklus I Siklus II

26 92.86 12 42.86 3 10.71 2 7.14 16 57.14 25 89.29 Tidak Tuntas Tuntas 67 90 93 0 20 40 60 80 100

Prasiklus Siklus I Siklus II

(25)

Adapun perolehan skor maksimal juga mengalami peningkatan dari hasil prasiklus sebesar 91 meningkat menjadi 94 pada siklus I dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II sebesar 98. Hasil tersebut dapat dilihat pada grafik perbandingan skor maksimal berikut ini :

Gambar 4.6 Diagram Perbandingan Skor Maksimal Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

Pada perolehan skor minimal juga mengalami peningkatan dari hasil prasiklus 53 meningkat menjadi 85 pada siklus I dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II sebesar 86. Hasil tersebut dapat dilihat pada grafik perbandingan skor minimal berikut ini :

Gambar 4.7 Diagram Perbandingan Skor Minimal Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

91 94 98 86 88 90 92 94 96 98 100

Prasiklus Siklus I Siklus II

Skor Maksimal 53 85 86 0 20 40 60 80 100

Prasiklus Siklus I Siklus II

Gambar

Gambar 4.1 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus   Berdasarkan penelitian sebelumnya, rendahnya hasil belajar siswa  dipengaruhi oleh penggunaan model pembelajaran yang digunakan dalam  pembelajaran sehari-hari adalah model pembelajaran konve
Gambar 4.2 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus I
Gambar 4.3 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus II
Gambar 4.4 Diagram Perbandingan Hasil Belajar IPS Pada Prasiklus, Siklus  I, dan Siklus II
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengetahui arus skala penuh Idp, tahanan dalam gerakan Rm, tegangan batere E dan nilai Rh yang diinginkan, rangkaian dapat dianalisis, yakni nilai R1 dan R2

Pada pertemuan kedua ini dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, diperoleh data pada aspek koordinasi tidak ada anak yang mendapat

14/06/2016 Salinan informasi nilai hasil SBMPTN 2014, a.n Julian Hadi Prasetyo, Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas

Era globalisasi merupakan sebuah era yang bergantung pada kemajuan teknologi akibat dari adanya perkembangan zaman (Pebriana et al., 2018). Perkembangan teknologi

Dari wawancara singkat yang peneliti lakukan dengan salah satu siswa dengan status C1 Famili Lain, siswa memaparkan bahwa status kepindahannya dari C1 keluarganya menuju

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengevaluasi kesesuaian tingkat kenyamanan termal, visual, dan akustik lingkungan pabrik dengan standard yang berlaku, dan

Perdagangan melalui jaringan elektronik yang berkenaan dengan transaksi antara perusahaan-perusahaan yang tidak melibatkan pemakai akhir Contoh Amazon dgn supplier (penerbit