• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Seminar Tugas Akhir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Seminar Tugas Akhir"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1) Mahasiswa Teknik Elektro UNDIP 1 2) Dosen Teknik Elektro UNDIP

Makalah Seminar Tugas Akhir

SIMULASI KINERJA PROTOKOL TCP PADA JARINGAN WIMAX

MENGGUNAKAN

NETWORK SIMULATOR 2

(NS-2)

Toni Rachmanto 1), Sukiswo, ST., MT. 2), Ajub Ajulian Z., ST., MT. 2) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Jln. Prof. Sudharto, SH., Tembalang, Semarang, Indonesia

Abstract

Corresponding developments in technology, information access more affordable and easier. Today, more communications media that can be applied as a medium of information access. One way is to use wireless technology or media without cable as the backbone of the communication lines. One of wireless technology is now growing as an access point broadband data communications (Broadband Wireless Access) is a WiMAX. WiMAX stands for Worldwide Interoperability for Microwave Access is nirkbel technology that provides communication with a large bandwidth. WiMAX is the combination between the IEEE 802.16 standard with ETSI HiperMAN standars.

Transport layer protocol type in the data communications network is TCP and UDP. TCP is a transport layer protocol that provides a service known as a connection oriented. Connection oriented means that before two applications exchange data, TCP have to do connection establishment (handshake) first. TCP New reno is an improvement of TCP Reno is allowing packet loss detection more than one in one window. TCP Westwood + is developed by Saverio Mascolo and friends of UCLA based on TCP New reno by changing from the AIMD (Additive Increase Multiplicative-Decrease) to AIAD (Additive Increase Adaptive Decrease).

In WiMAX network has five scheduling services are UGS, rtPS and ertPS using UDP protocol and nrtPS and BE are using the TCP protocol. By using the software Network Simulator (NS2) to obtain performance comparation TCP protocol-based services on the WiMAX network with QoS parameters are time delay, packetloss and throughput.

Keyword : WiMAX, TCP,New reno, Westwood+, QoS, Network Simulator-2 (NS2).

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perkembangan sistem telekomunikasi yang begitu pesat yang mendorong akses data yang semakin besar membutuhkan jaringan Broadband Wireless Acces(BWA) atau titik akses tanpa kabel pita lebar yang handal. WiMAX sebagai teknologi terkini yang mulai dikembangkan sebagai teknologi generasi keempat memberikan solusi kebutuhan akses data pita lebar dan handal. WiMAX dikembangkan oleh IEEE

yang merupakan penggabungan antara IEEE 802.16 dan ETSI HiperMAN.

Pada jaringan WiMAX terdapat dua protokol pengiriman data yaitu UDP dan TCP. TCP sebagai protokol connection oriented yang memiliki mekanisme congestion avoidance untuk menjamin pengiriman paket data tidak hilang dan sampai ke tujuan. TCP Westwood+ merupakan TCP yang telah dikembangkan dari TCP New reno dalam mekanisme

congestion avoidance perlu untuk di uji perbandingan kinerjanya dalam jaringan BWA WiMAX.

Network Simulator 2 (NS2) sebagai aplikasi yang akan mensimulasikan kinerja TCP Westwood+ dan TCP New reno untuk melihat congestion window,

waktu tunda dan Throughput.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari penelitian ini adalah mensimulasikan jaringan WiMAX menggunakan

program Network Simulator 2 (NS2) serta mengetahui perbandingan kinerja TCP Westwood+ dan TCP New reno dengan parameter throughput, time delay, dan

fairness. Diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk membantu menganalisa dan mempelajari jaringan WiMAX. Mempelajari mekanisme TCP Westwod+ dibandingkan TCP New reno.

1.3 Pembatasan Masalah

1. Topologi jaringan yang digunakan adalah topologi jaringan WiMAX pada ruang terbuka dengan model Two Ray ground dengan variasi

error rate.

2. Analisa kinerja berdasarkan parameter QoS yaitu

throughput, time delay, dan fairness pada protokol TCP.

3. Transport Agent yang digunakan TCP dan UDP .

4. Varian TCP yang dibandingkan adalah TCP New reno dan TCP Westwood+.

5. Layanan WiMAX pada protokol TCP yang digunakan adalah nrtPS.

6. Tidak membahas secara detail terhadap modulasi dan keamanan jaringan WiMAX.

7. Menggunakan network simulator NS-2 2.29, modul TCP Westwood+ yang dikembangkan UCLA dan modul WiMAX 802.16-2004 yang dikembangkan NDSL.

8. Waktu pengamatan simulasi dibatasi selama 120 detik.

(2)

2

II. DASARTEORI

2.1 Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX)

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) didefinisikan sebagai sebuah sertifikasi untuk produk-produk yang lulus tes dan cocok sesuai dengan standar IEEE 802.16. WiMAX merupakan teknologi broadband nirkabel yang menyediakan hubungan pita lebar dengan jangkauan yang jauh. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya yang memiliki keterbatasan baik dalan kecepatan data ataupun jangkauan layananya. WiMAX merupakan penggabungan antara standar IEEE 802.16 dengan standar ETSI HiperMAN.

Gambar 1. Standar teknis jaringan tanpa kabel ( wireless )[12]

2.2 Spesifikasi WiMAX

2.2.1 Perkembangan Teknologi WiMAX

Standar IEEE 802.16 WiMAX merupakan sebuah standar untuk Wireless Metropolitan Area Network (WMAN) yang merupakan air interface

untuk aplikasi BWA sebagai landasan untuk teknologi

wireless multimedia generasi ke empat (4G). Sertifikasi IEEE 802.16-2004(d) untuk jaringan fixed

dan IEEE 802.16e secara umum dibuat untuk mendukung aplikasi fixed dan mobile sekaligus pada band terlisensi 2-6 GHz pada kondisi LOS maupun NLOS. WiMAX menyediakan transmisi non line-of-sight (NLOS) sampai 6-10 km (4-6 miles) untuk

Customer Premise Equipment (CPE) fixed.

Tabel 1. Spesifikasi teknologi WiMAX[2]

2.2.2 Topologi Jaringan WiMAX

Dalam penggunaan arsitektur jaringan WiMAX dapat digunakan 3 jenis topologi yaitu:.

1. Topologi Point To Point ( PTP ). Pada topologi

point to point digunakan untuk menghubungkan antara dua titik yaitu satu pengirim dan satu penerima. Topologi ini biasanya digunakan sebagai backhaul atau transfer dari titik sumber data ( data center, central office dan lain-lain ) ke titik penerima seperti base station penyebar atau juga repeater untuk didistribusikan menggunakan topologi point to multi point ke sejumlah pelanggan. Pada topologi ini pancaran fokus antara dua titik dan throughput radio akan lebih kuat dari topologi point to multi point sehingga jarak antar dua titik bisa sangat jauh. Namun demikian pada topologi ini harus memenuhi kriteria LOS Line Of Sight (terlihat tanpa ada penghalang di antaranya). Boleh ada penghalang di antaranya tetapi tidak boleh masuk dalam area jari-jari pertama zona Fresnel (Fresnel Zone 1).

2.

Topologi

Point To Multi Point ( PMP ).

Topologi PMP biasanya digunakan untuk melayani akses langsung ke pelanggan. Dalam topologi ini BS ( Base Station ) WiMAX melayani beberapa SS ( Sub Scriber ) sekaligus. Kemampuan dari jumlah subscriber tergantung dari tipe QoS yang ditawarkan oleh operator. Ketika tiap SS mendapatkan bandwidth yang cukup besar, maka dapat disimpulkan bahwa kapasitas jumlah pengguna juga akan semakin berkurang dan sebaliknya bila bandwidth yang dialokasikan semakin sedikit, maka kapasitasnya akan semakin besar. Jaringan point-to-multipoint

ada yang mampu membentuk jaringan yang baik walaupun diantaranya terdapat penghalang (NLOS = Not Line Of Sight). Teknologi yang digunakan adalah OFDM (OrthogonalFrequency Division Multiplexing). Memanfaatkan penghalang (obstacle) sebagai media pemantul sinyal OFDM yang mempunyai banyak pembawa (multi-carrier) sampai ke tujuan. Sehingga sinyal yang datang dari berbagai arah pantulan sampai di sisi penerima dibuat saling memperkuat. Jika jarak antar antena tidak ada penghalang maka jangkauannya akan lebih jauh.

3. Topologi Mesh. Pada topologi mesh merupakan penggabungan antara topologi point to point dan

point to multi point sehingga pada setiap titik akan dapat saling terhubung secara langsung untuk melakukan hubungan komunikasi. Topologi ini cocok diterapkan untuk melayani cakupan wilayah yang luas dengan beberapa

repeater yang saling terhubung satu dengan yang lainya.

(3)

3

2.2.3 Struktur Layer pada Jaringan WiMAX IEEE 802.16d

Standar WiMAX IEEE 802.16d secara khusus mengembangkan teknologi pada lapisan layer 1 atau layer fisik (PHY) dan layer 2 atau layer data link (MAC) untuk mendapatkan kehandalan dalam menjamin QoS yang diberikan pada pelanggan. Berikut ini adalah struktur layer sistem WiMAX.

Gambar 2. Struktur layer fisik dan data link WiMAX 802.16d[8]

2.3 Quality of Service (QoS) 2.3.1 QoS WiMAX.

Pembagian kelas QoS WiMAX menurut standar IEEE 802.16 antara lain:

1. UGS(Unsolicited Grant Service). Didesain untuk mendukung layanan constant bit rate (CBR) yang dapat memberikan transfer data secara periodik dalam ukuran yang sama (burst), untuk mentransmisikan suara yang tidak terkompresi, layanan ini mengirimkan sejumlah data yang telah ditentukan sebelumnya pada interval waktu yang juga telah ditentukan sebelumnya dengan cara mengalokasikan sejumlah time slot untuk setiap koneksi

2. Real Time Polling Service (rtPS). Didesain untuk mendukung real-time service flow yang

meng-generate variable size data paket dalam periode basis, untuk layanan multimedia terkompresi dengan jumlah bandwidth yang dibutuhkan bisa bervariasi setiap saat. Memiliki daransi rate dan syarat delay telah ditentukan. Contoh layanan ini antara lain MPEG video, VoIP, streaming audio dan video.

3. Non-Real-Time Polling Service (nrtPS). Layanan nrtPS efektif untuk aplikasi yang membutuhkan

throughput yang intensif dengan garansi minimal pada latency-nya. Layanan non real-time dengan

regular variable size burst. Layanan mungkin dapat di-expand sampai full bandwidth namun dibatasi pada kecepatan maksimum yang telah ditentukan. Garansi rate diperlukan namun delay

tidak digaransi. Contoh : FTP (File Transfer Protokol) dan video and audio streaming.

4. Extended Real-time Polling Service (ertPS).

Merupakan kelas yang dibuat berdasarkan efisiensi dari kelas UGS dan rtPS yaitu Unicast grant diberikan oleh Base station tanpa meminta terlebih dahulu dan paket yang dapat beragam ( tidak fixed size).Merupakan layanan dengan

Maximum Sustained Traffic Rate, Maximum latency, Request/transmission polic, dan minimum Reserved traffic Rate. Contoh aplikasi aitu Voice Over IP with silence suppression.

5. Best Effort (BE). Layanan ini cocok untuk trafik yang bersifat best-effort yang tidak membutuhkan jaminan kecepatan data. Layanan ini tidak ada jaminan (requirement) pada rate atau delay-nya. Aplikasi yang menggunakan layanan ini mendapatkan jatah bandwidth yang tersisa setelah keempat tipe layanan di atas mendapatkan bagianya. Contoh: telnet dan layanan internet web surfing.

2.3.2 Parameter QoS

Parameter QoS menggolongkan kualitas

transfer yang diberikan oleh suatu koneksi yang diperoleh dengan membandingkan unit data pada sisi masukan dan keluaran interface. Parameter QoS

adalah :

1. Waktu tunda (time delay).

2. Throughput.

3. Fairness.

2.4 TCP

Transmission Control Protocol

(TCP) adalah suatu protokol yang berada di lapisan transport (baik itu dalam tujuh lapis model referensi OSI atau model DARPA) yang berorientasi sambungan (connection-oriented) dan dapat diandalkan (reliable). TCP dispesifikasikan dalam RFC 793. TCP memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Berorientasi sambungan (connection-oriented): Sebelum data dapat ditransmisikan antara dua host, dua proses yang berjalan pada lapisan aplikasi harus melakukan negosiasi untuk membuat sesi koneksi terlebih dahulu. Koneksi TCP ditutup dengan menggunakan proses terminasi koneksi TCP (TCP connection termination).

2. Full-duplex: Untuk setiap host TCP, koneksi yang terjadi antara dua host terdiri atas dua buah jalur, yakni jalur keluar dan jalur masuk. Dengan menggunakan teknologi lapisan yang lebih rendah yang mendukung full-duplex, maka data pun dapat secara simultan diterima dan dikirim. Header TCP berisi nomor urut (TCP sequence number) dari data yang ditransmisikan dan sebuah acknowledgment dari data yang masuk.

(4)

4

3. Dapat diandalkan (reliable): Data yang

dikirimkan ke sebuah koneksi TCP akan diurutkan dengan sebuah nomor urut paket dan akan mengharapkan paket positive acknowledgment dari penerima. Jika tidak ada

acknowledgment dari penerima, maka segmen TCP (protocol data unit dalam protokol TCP) akan ditransmisikan ulang. Pada pihak penerima, segmen-segmen duplikat akan diabaikan dan segmen-segmen yang datang tidak sesuai dengan urutannya akan diletakkan di belakang untuk mengurutkan segmen-segmen TCP. Untuk menjamin integritas setiap segmen TCP, TCP mengimplementasikan penghitungan TCP

Checksum.

4. Byte stream: TCP melihat data yang dikirimkan dan diterima melalui dua jalur masuk dan jalur keluar TCP sebagai sebuah byte stream yang berdekatan. Nomor urut TCP dan nomor acknowlegment dalam setiap header TCP didefinisikan juga dalam bentuk byte. Meski demikian, TCP tidak mengetahui batasan pesan-pesan di dalam byte stream TCP tersebut. Untuk melakukannya, hal ini diserahkan kepada protokol lapisan aplikasi (dalam DARPA Reference Model), yang harus menerjemahkan byte stream

TCP ke dalam "bahasa" yang ia pahami.

5.

Memiliki layanan flow control: Untuk mencegah data terlalu banyak dikirimkan pada satu waktu, yang akhirnya membuat "macet" jaringan internetwork IP, TCP mengimplementasikan layanan flow control yang dimiliki oleh pihak pengirim yang secara terus menerus memantau dan membatasi jumlah data yang dikirimkan pada satu waktu. Untuk mencegah pihak penerima untuk memperoleh data yang tidak dapat disangganya (buffer), TCP juga mengimplementasikan flow control dalam pihak penerima, yang mengindikasikan jumlah buffer yang masih tersedia dalam pihak penerima.

6.

Mengirimkan paket secara "one-to-one": hal ini

karena memang TCP harus membuat sebuah sirkuit logis antara dua buah protokol lapisan aplikasi agar saling dapat berkomunikasi. TCP tidak menyediakan layanan pengiriman data secara one-to-many.

2.4.1 TCP Standar

TCP Standar dirancang oleh Van Jacobson pada akhir tahun 80-an. TCP menggunakan algoritma untuk mengatur pengiriman data untuk menghindari kongesti jaringan dengan suatu fase slow start, congestion avoidance dan fast retransmit. Pada fase

slow start, window akan naik secara eksponensial hingga ssthresh tercapai kemudian akan menaikkan secara additive untuk setiap paket yang terkirim. Jika terjadi packet loss akan masuk fase congestion

avoidance dengan menurunkan ssthresh menjadi setengahnya dan cwnd=1.

Gambar 3.Kontrol kongesti pada TCP[10]

2.4.2 TCP New reno

TCP New reno merupakan pengembangan dari TCP Reno yang hanya dapat menangani satu segmen paket data yang hilang sehingga dapat menangani pengiriman ulang paket data hilang lebih dari satu dalam satu window tanpa menurunkan

ssthresh berkali-kali karena tidak akan meninggalkan fase fast recovery sebelum semua paket dalam satu

window di ack semua.

Gambar 4.Kontrol kongesti pada TCP Reno[18]

2.4.3 TCP Westwood+

TCP Westwood merupakan varian TCP yang dikembangkan oleh Saverio Mascolo dan kawan-kawan di UCLA yang akan berevolusi menjadi TCP westwood+ dengan pengembangan lebih lanjut berdasar TCP Reno/New reno. Hal yang membedakan antara Westwood+ dengan TCP New reno terletak pada kontrol kongesti. TCP New reno menggunakan AIMD (Additive Increse, Multiplicative Decrease) sedangkan pada TCP Westwood+ menggunakan AIAD (Additive Increse, Adaptive Decrease). Pada AIMD TCP New reno, saat terjadi kongesti maka paket hilang akan direspon dengan menurunkan

ssthres dan cwnd menjadi setengah sehingga lebar pita yang dipakai menurun drastis. Pada AIAD TCP Westwood+, paket hilang tidak akan direspon secara ekstrim karena nilai ssthres dan cwnd akan diestimasi secara adaptif berdasarkan bandwidth end-to-end pada jaringan.

(5)

5

Gambar 5. Kontrol ukuran congestion window (cwnd) pada TCP

Westwood+[18]

2.5 Network Simulator 2 (NS-2)

Network simulator (NS) dibangun sebagai

varian dari REAL Network Simulator pada tahun 1989 di UCB (University of California Berkeley). Dari awal tim ini dibangun sebuah perangkat lunak simulasi jaringan Internet untuk kepentingan riset interaksi

antar protokol dalam konteks pengembangan protokol

internet pada saat ini dan masa yang akan 5ating.

Network Simulator merupakan salah satu perangkat lunak atau software yang dapat menampilkan secara simulasi proses komunikasi dan bagaimana proses komunikasi tersebut berlangsung.

Network Simulator melayani simulasi untuk komunikasi dengan kabel dan komunikasi wireless.

III. PERANCANGANSIMULASI 3.1ParameterWiMAX

Pada perancangan simulasi kinerja protokol TCP pada jaringan WiMAX menggunakan Network Simulator 2 (NS-2) ini akan digunakan untuk menganalisa kinerja TCP New Reno dan TCP Westwood+. Kedua jenis TCP tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengatasi kongesti pada jaringan. Simulasi WiMAX menggunakan NS-2 terdiri dari 1 BS melayani beberapa SS tergantung skenario jaringan pada daerah yang berukuran 1000 m X 1000 m. Perancangan program simulasi bertujuan untuk merancang sistem yang semirip mugkin dengan kondisi jaringan WiMAX yang sebenarnya. Parameter WiMAX yang dipakai dalam modul ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 2.Parameter pada WiMAX[4]

No Parameter Nilai

1 Rasio UL/DL 3:2

2 Jumlah simbol OFDMA tiap frame

48

3 OFDMA symbol time 100.84 µs

4 Panjang frame OFDMA 5 ms 5 Jumlah subchannel 30

6 Bandwidth Request opp 12 simbol OFDMA

7 Initial ranging CID 0

8 Basic CIDs 1-1000 9 Primary CIDs 1001-2000 10 Transport/secondary Management CIDs 2001-65278 11 Broadcast CIDs 65535 12 SFID range 1-4294967295 13 TTG 200 µs 14 RTG 200 µs 3.2Skenario Simulasi

3.2.1 Skenario 1: Server Client

Pada skenario pertama ini akan menguji perbandingan kinerja TCP New reno dibandingkan dengan TCP Westwood+ dengan menggunakan konfigurasi sederhana antara 1 server dan 1 client. Konfigurasi ini untuk menguji kinerja TCP juga akan diubah-ubah nilai error rate pada jaringan WiMAX tersebut agar bisa diketahui kinerja congestion window dari masing-masing TCP dengan variasi sebagai berikut:

Tabel 3. Error rate pada konfigurasi server client

No. Error Rate

1 0,001

2 0,01

3 0,1

Gambar dari konfigurasi server client pada jaringan WiMAX node 0 bertindak sebagai server sedangkan node 1 bertindak sebagai client. Layanan QoS dari WiMAX yang digunakan untuk membangkitkan trafik TCP baik TCP New reno dan TCP Westwood+ adalah layanan QoS Non-Real-Time Polling Service (nrtPS). Konfigurasi skenario 1 dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 6.Konfigurasi skenario 1 server client

3.2.2 Skenario 2: Konfigurasi Jaringan Antar Layanan QoS WiMAX

Pada konfigurasi 2 ini akan menguji perbandingan kinerja antara TCP New reno dan TCP Westwood+ pada jaringan yang terdiri dari beberapa layanan QoS pada WiMAX antara lain layanan UGS

(6)

6

(Unsolicited Grant Service), rtPS (Real Time Polling Service), ertPS (Extended Real Time Polling Service)

serta Non Real Time Polling Service (nrtPS). Jumlah

node pada konfigurasi ini ada 4 buah jadi masing-masing layanan QoS terdapat 1 node untuk membangkitkan trafik layanan. Layanan QoS yang digunakan oleh TCP New reno dan TCP Westwood+ adalah layanan QoS nrtPS. Pada konfigurasi ini akan diuji kinerja TCP jika dihadapkan pada layanan WiMAX lainnya yang memiliki garansi kualitas layanan yang lebih mendapat prioritas. Dari skenario ini diharapkan dapat terlihat bagaimana WiMAX memberikan garansi layanan untuk menjaga QoS yang dapat diandalkan. Untuk melihat kehandalan garansi layanan WiMAX maka pada skenario ini akan menggunakan error rate 0,001 dan 0,02. Konfigurasi skenario 2 ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 7.Konfigurasi antar layanan QoS WiMAX

3.2.3 Skenario 3: Uji Fairness TCP

Pada skenario 3 ini digunakan untuk menguji

fairness antar protokol TCP dalam satu jaringan. Pada skenario ini menggunakan konfigurasi jaringan

bottleneck yang terdiri dari 3 sumber trafik TCP yang berjalan dalam satu jaringan. Jadi dalam skenario ini ada 1 server yang melayani 3 client yang membangkitkan trafik TCP secara bersama-sama. Pada protokol yang memiliki tingkat fairness yang baik maka distribusi lebar pita akan merata antara satu trafik dengan trafik yang lainnya, jadi tidak ada trafik yang lebih mendominasi diantara trafik yang lainnya. Sehingga dalam skenario ini akan diuji tingkat

fairness antara TCP New reno dan TCP Westwood+ terhadap protokol yang sejenis. Untuk uji fairness ini akan dilakukan dua jenis skenario. Skenario pertama, ketiga trafik TCP akan dibangkitkan secara bersamaan dari awal mulainya simulasi dan skenario kedua, ketiga trafik TCP tidak dibangkitkan bersamaan namun bertahap dengan selang waktu 30 detik. Trafik TCP pertama dibangkitkan pada detik 0, selanjutnya trafik TCP kedua dibangkitkan pada detik ke-30 dan terakhir trafik TCP ketiga dibangkitkan pada detik ke-60. Gambar skenario uji fairness TCP ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 8. Konfigurasi uji fairness TCP

IV. EVALUASI UNJUK KERJA PROTOKOL

TCP

4.1 Evaluasi Skenario 1: Konfigurasi Server Client

4.1.1 Error Rate 0,001

Pada simulasi pertama ini didapatkan hasil berikut ini:

Gambar 9. Congestion window (cwnd) antara TCP New reno dengan TCP Westwood+ e=0,001

Dari gambar 9 di atas terlihat kinerja TCP Westwood+ lebih baik karena cwnd berada di atas TCP New reno. Pada TCP New reno nilai maksimum

cwnd mencapai 90, sedangkan pada TCP Westwood+ bisa di atas 120.

Tabel 4. Perbandingan Throughput TCP New reno dan Westwood+ e=0,001

No Waktu (detik)

TCP New reno TCP westwood+

Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) 1. 10 30.193 24,2 0,015294 30.193 24,2 0,015294 2. 20 28.122 22,5 0,015294 41.747 33,4 0,015294 3. 30 28.667 22,9 0,015294 86.001 68,8 0,015294 4. 40 66.163 52,9 0,015294 120.772 96,6 0,015294 5. 50 110.417 88,3 0,015294 175.163 140,1 0,015294 6. 60 136.141 108,9 0,015294 161.974 129,6 0,015294 7. 70 109.981 88,0 0,015294 144.861 115,9 0,015294 8. 80 85.238 68,2 0,015294 105.621 84,5 0,015294 9. 90 97.337 77,9 0,015294 111.180 88,9 0,015294 10. 100 91.778 73,4 0,015294 111.180 88,9 0,015294 11. 110 138.321 110,7 0,015294 105.621 84,5 0,015294

(7)

7

12 120 161.974 129,6 0,015294 100.934 80,7 0,015294

Total/Rata2 1.084.332 72,3 0,015294 1.295.247 86,4 0,015294

Gambar 10. Throughput TCP New reno dan Westwood+ e=0,001 Nilai throughput TCP berbanding lurus dengan ukuran window-nya karena menunjukkan jumlah Byte yang dikirimkan untuk tiap 1 MSS (Maximum Segment Size, semakin tinggi ukuran window-nya maka jumlah Byte yang dikirimkan semakin besar sehingga throughput juga menjadi besar. Dari tabel 4 dapat terlihat perbandingan

throughput antara TCP New reno terhadap TCP Westwood+, dari tabel tersebut terlihat bahwa

throughput TCP Westwood+ lebih tinggi dibandingkan TCP New reno. Pada 10 detik awal simulasi terlihat ukuran cwnd dari kedua TCP sama sehingga throughput dari kedua TCP juga sama sekitar 24,2 Kbps dan jumlah paket yang diterima 30.193 Byte. Namun untuk detik-detik berikutnya kinerja dari TCP Westwood+ lebih baik dibandingkan dengan TCP New reno. Hal tersebut bisa dilihat pada gambar 10 bahwa throughput TCP Westwood+ berada di atas garis throughput TCP New reno walaupun di detik akhir simulasi TCP New reno bisa di atas TCP Westwood+. Klo dilihat secara total selama 120 detik simulasi, jumlah paket yang diterima oleh TCP New reno berjumlah 1.084.332 Byte, sedangkan jumlah paket yang diterima TCP Westwood+ berjumlah 1.295.247 Byte. Jadi kinerja TCP Westwood+ lebih baik karena jumlah paket yang diterima lebih tinggi 19,45% dibandingkan jumlah paket yang diterima TCP New reno. Rata-rata

throughput TCP Westwood+ yaitu 86,4 Kbps juga lebih tinggi dari rata-rata throughput TCP New reno pada nilai 72,3 Kbps. Untuk waktu tunda rata-rata kedua TCP sama pada nilai 0,015294 detik.

4.1.2 Error Rate 0,01

Pada simulasi kedua ini menghasilkan data sebagai berikut:

Gambar 11. Congestion window (cwnd) antara TCP New reno dengan TCP Westwood+ e=0,01

Dari gambar 11 terlihat bahwa congestion window dari TCP Westwood+ lebih baik dibandingkan congestion window dari TCP New reno. Nilai maksimum dari congestion window TCP Westwood+ mencapai sekitar 70-an sedangkan nilai maksimum congestion window TCP New reno hanya mencapai 20-an.

Tabel 5. Perbandingan throughput TCP New reno dan Westwood+ e=0,01

No Waktu (detik)

TCP New reno TCP westwood+

Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) 1. 10 28.122 22,5 0,015294 29.975 24,0 0,015294 2. 20 27.686 22,1 0,015294 40.439 32,4 0,015294 3. 30 20.274 16,2 0,015294 58.642 46,9 0,015294 4. 40 9.374 7,5 0,015294 70.959 56,8 0,015294 5. 50 27.468 22,0 0,015294 42.728 34,2 0,015294 6. 60 11.118 8,9 0,015294 41.420 33,1 0,015294 7. 70 23.108 18,5 0,015294 46.652 37,3 0,015294 8. 80 27.359 21,9 0,015294 22.563 18,1 0,015294 9. 90 20.165 16,1 0,015294 23.762 19,0 0,015294 10. 100 30.411 24,3 0,015294 42.837 34,3 0,015294 11. 110 23.435 18,7 0,015294 76.954 61,6 0,015294 12 120 23.871 19,1 0,015294 67.362 53,9 0,015294 Total/Rata2 272.391 18,2 0,015294 564.293 37,6 0,015294

(8)

8

Gambar 12. Throughput TCP New reno dan Westwood+ e=0,01

Dari gambar 12 di atas terlihat bahwa

throughput TCP Westwood+ masih berada di atas TCP New reno. Secara keseluruhan berdasarkan tabel 5, selama simulasi rata-rata throughput dari TCP Westwood+ sekitar 37,6 Kbps, nilai itu sekitar dua kali lipat dari throughput dari TCP New reno yang hanya berkisar pada 18,2 Kbps. Klo dilihat dari total paket yang diterima, pada TCP Westwood+ dapat mengirimkan paket sejmlah 564.293 Byte dan TCP New reno dapat mengirimkan paket sejumlah 272.391

Byte. Jadi paket yang dapat dikirimkan TCP Westwood+ lebih tinggi 107% dibandingkan pada TCP New reno. Perbedaan yang cukup jauh tersebut membuktikan bahwa kinerja dari TCP Westwood+ lebih baik dalam kondisi jaringan yang agak buruk tersebut. Untuk waktu tunda rata-rata masih sama untuk masing-masing TCP dan tidak terjadi kenaikan dibandingkan pada kondisi jaringan dengan error rate

sebelumnya yaitu pada 0,015294 detik.

4.1.3 Error Rate 0,1

Pada simulasi ketiga ini menghasilkan data sebagai berikut:

Gambar 13. Congestion window (cwnd) antara TCP New reno dengan TCP Westwood+ e=0,1

Dari gambar 13 di atas terlihat pada error rate

0,1 terjadi kongesti yang cukup besar selama simulasi hal ini ditandai dengan nilai cwnd yang jatuh ke nilai awal slow start berulang-ulang. Namun jika dibandingkan antara TCP Westwood+ dan TCP New reno maka masih terlihat kinerja yang lebih baik pada TCP Westwood+ namun tidak terlalu jauh. Nilai maksimum dari TCP Westwood+ lebih tinggi pada nilai 12 sedangkan TCP New reno pada nilai 9. Dari gambar tersebut jg dilihat bahwa nilai minimum TCP Westwood+ adalah 2 sedangkan pada TCP New reno adalah 1.

Tabel 6. Perbandingan kinerja TCP New reno dan TCP Westwood+ pada e=0,1

No Waktu (detik)

TCP New reno TCP westwood+

Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) Jmh paket diterima (Byte) Throughput (Kbps) Waktu tunda rata-rata (detik) 1. 10 1.199 1,0 0,015294 2.398 1,9 0,015294 2. 20 3.815 3,1 0,015294 3.597 2,9 0,015294 3. 30 7.085 5,7 0,015294 8.611 6,9 0,015294 4. 40 8.284 6,6 0,015294 6.540 5,2 0,015294 5. 50 5.014 4,0 0,015294 6.540 5,2 0,015294 6. 60 5.777 4,6 0,015294 8.502 6,8 0,015294 7. 70 5.777 4,6 0,015294 6.976 5,6 0,015294 8. 80 4.905 3,9 0,015294 6.104 4,9 0,015294 9. 90 5.341 4,3 0,015294 7.521 6,0 0,015294 10. 100 4.033 3,2 0,015294 5.123 4,1 0,015294 11. 110 5.232 4,2 0,015294 5.450 4,4 0,015294 12 120 4.142 3,3 0,015294 5.668 4,5 0,015294 Total/Rata2 60.604 4,0 0,015294 73.030 4,9 0,015294

(9)

9

Gambar 14. Throughput TCP New reno dan Westwood+ e=0,1

Dari gambar 14 di atas terlihat bahwa

throughput TCP Westwood+ masih berada di atas TCP New reno. Secara keseluruhan berdasarkan tabel 6, selama simulasi rata-rata throughput dari TCP Westwood+ sekitr 4,9 Kbps, tidak terpaut jauh dari

throughput dari TCP New reno yang berkisar pada 4,0 Kbps. Klo dilihat dari total paket yang diterima, pada TCP Westwood+ dapat mengirimkan paket sejumlah 73.030 Byte dan TCP New reno dapat mengirimkan paket sejumlah 60.604 Byte. Jadi paket yang dapat dikirimkan TCP Westwood+ lebih tinggi 20,5% dibandingkan pada TCP New reno. Perbedaan yang tidak terlampau jauh tersebut masih dapat membuktikan bahwa kinerja dari TCP Westwood+ lebih baik dalam kondisi jaringan yang sangat buruk tersebut. Untuk waktu tunda rata-rata masih sama untuk masing-masing TCP dan tidak terjadi kenaikan dibandingkan pada kondisi jaringan dengan error rate

sebelumnya yaitu pada 0,015294 detik.

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 0.001 0.01 0.1 Jm h B yt e error rate

Perbandingan Jumlah Paket

diterima

TCP Newreno TCP Westwood+

Gambar 15.Perbandingan jumlah paket yang diterima TCP dengan variasi error rate

4.2 Skenario 2: Konfigurasi Jaringan Antar Layanan QoS WiMAX

4.2.1 Error Rate 0,001

Pada simulasi keempat ini menghasilkan data sebagai berikut:

Gambar 16. Congestion window (cwnd) antara TCP New reno dengan TCP Westwood+ e=0,001

Dari gambar 16 di atas dapat dilihat kinerja TCP Westwood+ saat diuji pada jaringan yang ada trafik lain masih menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan TCP New reno. Nilai maksimum cwnd TCP Westwood+ mampu mencapai di atas 170 sedangkan pada TCP New reno hanya 40.

Throughput secara keseluruhan antar layanan QoS dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

Tabel 7. Perbandingan kinerja TCP New reno dan TCP Westwood+ e=0,001

Layanan QoS

TCP New reno TCP Westwood+

Paket diterima (Byte) Throughput rata-rata (Kbps) delay rata-rata (detik) Paket diterima (Byte) Throughput rata-rata (Kbps) delay rata-rata (detik) UGS 521.783 34,79 0,004835 521.347 34,76 0,004835 ertPS 469.790 31,32 0,006752 469.681 31,31 0,006752 rtPS 2.769.690 184,65 0,005514 2.762.605 184,17 0,005514 nrtPS 553.175 36,88 0,003028 1.271.812 84,79 0,003028

(10)

10

Dari data di atas dapat dilihat kinerja masing-masing TCP berdasarkan nilai throughput rata-rata pada jaringan dengan trafik jamak. Throughput TCP New reno adalah throughput dari layanan nrtPS mengalami fluktuasi anatar 30 Kbps sampai dengan 60 Kbps dengan nilai throughput rata-rata 36,88 Kbps. Nilai throughput layanan QoS UGS, ertPS dan rtPS dilihat dari tabel 7 dengan throughput rata-rata sekitar 34,79 Kbps, 31,32 Kbps dan 184,65 Kbps. Sedangkan waktu tunda rata-rata UGS, ertPS, rtPS dan nrtPS yaitu berturut-turut 0,004835 detik, 0,006752 detik, 0,005514 detik dan 0,003028 detik. Jumlah paket yang diterima pada TCP New reno berjumlah 553.175 Byte. Pada TCP Westwood+ ini memiliki nilai throughput rata-rata sebesar 84,79 Kbps, lebih tinggi dari TCP New reno. Perbandingan

throughput antara TCP New reno dan TCP Westwood+ dapat dilihat pada gambar 17. Jumlah paket yang diterima pada TCP Westwood+ terjadi kenaikan sebesar 130% menjadi 1.271.812 Byte. Jumlah paket untuk layanan QoS lainnya dapat dilihat di tabel 7, dengan jumlah paket terbesar yang terkirim adalah pada layanan rtPS. Untuk waktu tunda tidak mengalami perubahan dan masih sama baik pada simulasi menggunakan TCP Newereno dan TCP Westwood+. Dari data simulasi tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja TCP Westwood+ pada jaringan trafik jamak lebih baik dibandingkan TCP New reno.

4.2.2 Error Rate 0,02

Pada simulasi kelima ini menghasilkan data sebagai berikut:

Gambar 18.Congestion window (cwnd) antara TCP New reno dengan TCP Westwood+ e=0,02

Dari gambar 18 di atas dapat dilihat bahwa nilai cwnd dari TCP Westwood+ rata-rata masih berada di atas cwnd TCP New reno. Nilai maksimum cwnd TCP Westwood+ bisa sampai nilai 28 sedangkan nilai maksimum cwnd TCP New reno hanya 17. Hal itu menunjukkan dengan kenaikan

error rate menjadi 0,02, TCP Westwood+ masih lebih baik dalam menangani error jaringan.

Tabel 8.Perbandingan kinerja TCP New reno dan Westwood+

Layanan QoS

TCP New reno TCP Westwood+

Paket diterima (Byte) Throughput rata-rata (Kbps) delay rata-rata (detik) Paket diterima (Byte) Throughput rata-rata (Kbps) delay rata-rata (detik) UGS 502.381 33,50 0,004835 500.419 33,36 0,004835 ertPS 451.478 30,10 0,006752 452.677 30,18 0,006752 rtPS 2.664.287 177,62 0,005514 2.650.880 176,73 0,005514 nrtPS 126.113 8,41 0,003028 192.603 12,84 0,003028

Gambar 19.Throughput TCP New reno dan Westwood+ Dari data di atas dapat dilihat kinerja masing-masing TCP berdasarkan nilai throughput rata-rata pada jaringan dengan trafik jamak. Throughput TCP New reno adalah throughput dari layanan nrtPS mengalami fluktuasi antara 2 Kbps sampai dengan 17 Kbps dengan nilai throughput rata-rata 8,41 Kbps. Nilai throughput layanan QoS UGS, ertPS dan rtPS dilihat dari tabel 8 memiliki throughput rata-rata sekitar 33,50 Kbps, 30,10 Kbps dan 177,62 Kbps. Sedangkan waktu tunda rata-rata UGS, ertPS, rtPS dan nrtPS yaitu berturut-turut 0,004835 detik, 0,006752 detik, 0,005514 detik dan 0,003028 detik. Jumlah paket yang diterima pada TCP New reno berjumlah 126.113 Byte. Pada TCP Westwood+ memiliki nilai throughput rata-rata sebesar 12,84 Kbps, lebih tinggi dari TCP New reno. Perbandingan

throughput antara TCP New reno dan TCP Westwood+ dapat dilihat pada gambar 19. Jumlah paket yang diterima pada TCP Westwood+ terjadi kenaikan sebesar 53% menjadi 192.603 Byte. Jumlah paket yang terkirim untuk layanan QoS lainnya dapat dilihat di tabel 8, dengan jumlah paket terbesar yang terkirim adalah pada layanan rtPS. Untuk waktu tunda tidak mengalami perubahan dan masih sama baik pada simulasi menggunakan TCP Newereno dan TCP

(11)

11

Westwood+. Dari data simulasi tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja TCP Westwood+ pada jaringan trafik jamak lebih baik dibandingkan TCP New reno.

Satu hal yang mungkin bisa kita ketahui dengan membandingkan tabel 7 dan tabel 8, kita bisa melihat bahwa throughput rata-rata dari UGS, ertPS dan rtPS cenderung stabil dan tidak berubah banyak dibandingkan nrtPS meskipun terjadi perubahan error rate dari 0,001 menjadi 0,02 (20 kali lipat). WiMAX masih memberikan rata-rata throughput relatif sama yaitu UGS dikisaran 33 Kbps, ertPS dikisaran 30 Kbps dan rtPS dikisaran 177-184 Kbps.Hal ini sesuai dengan garansi dari WiMAX yang menjaga QoS dan memberikan jaminan alokasi lebar pita sesuai yang dibutuhkan dari ketiga QoS.

4.3 Uji Fairness TCP

4.3.1 Waktu Pembangkitan Trafik Bersamaan

Hasil simulasi keenam hanya menghasilkan data grafik congestion window dari ketiga TCP yang dibangkitkan. Saat ketiga TCP dibangkitkan secara bersamaan memiliki grafik berikut:

Gambar 20. Cwnd TCP New reno 1, New reno 2, dan New reno 3 yang dibangkitkan bersamaan

Dari gambar di atas dapat dilihat cwnd dari ketiga TCP New reno yang dibangkitkan. Dari gambar tersebut terlihat bahwa dalam pembagian lebar pita masih relatif adil karena tidak ada TCP yang terlalu mendominasi walaupun TCP 1 memiliki cwnd yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Gambar 21. Cwnd TCP Westwood+ 1, Westwood+ 2 dan Westwood+ 3 yang dibangkitkan secara bersamaan

Dari gambar di atas dapat dilihat cwnd dari ketiga TCP Westwood+ yang dibangkitkan. Dari gambar tersebut terlihat bahwa dalam pembagian lebar pita masih adil karena tidak ada TCP yang terlalu mendominasi dari yang lainnya.

4.3.2 Waktu Pembangkitan Trafik Berbeda

Hasil simulasi ke tujuh dilakukan dengan membangkitkan 3 trafik TCP dengan jeda 30 detik.

Gambar 22. Cwnd TCP New reno 1, New reno 2, dan New reno 3 yang dibangkitkan dengan jeda 30 detik

Dari gambar di atas, walaupun pembangkitan trafik dilaksanakan secara bertahap dengan selang waktu 30 detik masih menunjukkan bahwa pembagian lebar pita masih relatif adil dengan tidak adanya TCP yang terlalu mendominasi dengan mengambil

resource lebih banyak dibandingkan dengan TCP lainnya.

Gambar 22.Cwnd TCP Westwood+ 1, Westwood+ 2 dan Westwood+ 3 yang dibangkitkan dengan jeda 30 detik

Pada TCP Westwood+ yang dibangkitkan secara bertahap memperlihatkan pembagian lebar pita yang adil antar TCP meskipun psampai detik ke-70 memperlihatkan TCP 1 mendominasi jaringan. Setelah detik ke-70 mulai terjadi pembagian lebar pita yang cukup adil.

Dari skenario 3 dapat disimpulkan bahwa pembagian lebar pita (fairness) antar TCP relatif masih adil karena tidak adanya TCP yang mengambil

resource lebih banyak dari pada TCP yang lainnya dilihat dari congestion window tiap TCP.

(12)

12

V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

1. Cara kerja AIAD (Additive Increse, Adaptive Decrease) TCP Westwood+ pada fase

Congestion Avoidance memiliki kinerja yang lebih baik dari pada AIMD (Additive Increse, Multiplicative decrease ) TCP New reno.

2. Kenaikan jumlah Byte yang diterima antara TCP Westwood+ dibandingkan TCP New reno bervariasi tergantung konfigurasi yang diterapkan. Pada konfigurasi server client

menghasilkan kenaikan sebesar 19,45% (e=0,001), 107% (e=0,01) dan 20,5% (e=0,1). Pada konfigurasi jaringan trafik jamak menghasilkan kenaikan sebesar 130% (e=0,001) dan 53% (e=0,02).

3. Rata-rata waktu tunda TCP baik TCP New reno dan TCP Westwood+ tidak berubah pada konfigurasi berbeda.

4. Throughput dari layanan QoS UGS, ertPS dan rtPS dari jaringan WiMAX mendapat garansi dan relatif stabil pada variasi error rate dan konfigurasi yang berbeda.

5. TCP New reno dan TCP Westwood+ pada uji

fairness, antar protokol TCP cukup fair karena tidak adanya TCP yang mendominasi dibandingkan lainnya dan terjadi pembagian lebar pita yang cukup adil.

5.2 Saran

Untuk penelitian selanjutnya perlu diuji kinerja TCP Westwood+ pada hand over jaringan mobile

WiMAX 802.16e.

DAFTARPUSTAKA

[1] Allman, M. TCP Congestion Control RFC2581, ietf.org/rfc/rfc2581.txt, 1999.

[2] Amanda, D., Simulasi PemodelanKanal IEEE 802.16d dengan Menggunakan SUI Model, Laporan Tugas Akhir S1, ITB, Bandung, 2007.

[3] Bilich, C.G., TCP Over WiMAX Networks.

[4] Hedi, I.S., Algoritma Scheduling Weighted Round Robin dan Deficit Round Robin pada Jaringan WiMAX, Tesis S2, ITB, Bandung, 2007.

[5] Indarto, E., dan Wirawan, A.B., Mudah Membangun Simulasi dengan Network Simulator-2, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.

[6] Jiménez, T., dan Altman, E., NS Simulator for beginners, 2003.

[7] Marieska, M.D., Analisis Algoritma Penjadwalan Berbasis Quality of Service, Laporan Tugas Akhir S1, ITB,Bandung, 2008.

[8] Mascolo, S., dan Grieco, L.A., Performance Comparison of Reno, Vegas and Westwood+ congestion Control, Tech Rep N. 07/03/S.

[9] NS2 Simulator, http://www.isi.edu/nsnam/ns

[10] Nishida, Y., TCP and Congestion Control (Day 2), Materi Presentasi, Sony Computer Science Lab Inc.

[11] Rakiminputra, P.P., Analisa Perbandingan Performansi TCP Cubic dan TCP Westwood+ pada Jaringan IEEE 802.11S, Laporan Tugas Akhir S1, ITT, Bandung, 2011. [12] Siyamta, Sistem Keamanan Pada Wireless Interoperability

for Microwave Access(WiMAX), Tesis S2, ITB, Bandung, 2004.

[13] Sukiswo, TCP Westwood+ Enhancement, Tesis S2, ITB, Bandung, 2007.

[14] Standard for Local and metropolitan area network, IEEE Standard 802.16, 2004.

[15] TCP Westwood-modules for NS2, http://www.cs.ucla.edu/NRL/hpi/tcpw/tcpw_ns2/tcp-westwood.htm, November 2009.

[16] Vaidya, N.H., TCP for Wireless and Mobile Host (MobiComm’99 Tutorial), Texas A&M University, 1999. [17] Varadhan, K., dan Fall, K.. The ns manual (formerly ns

note and documentation), 2008.

[18] Westwood+ TCP, http://www-ictserv.poliba.it/mascolo/ tcp%20westwood/home.htm, Januari 2010.

[19] WiMAX v2.03, http://ndsl.csie.cgu.edu.tw/download.php, Maret 2009.

Toni Rachmanto (L2F307047) Lahir di Grobogan, 8 April 1985. Menyelesaikan pendidikan Diploma 3 di Politeknik Negeri Semarang. Saat ini sedang menempuh pendidikan Strata 1 di jurusan Teknik Elektro bidang Konsentrasi Teknik Elektronika Telekomunikasi Universitas Dipenegoro. Email : [email protected]

Menyetujui dan Mengesahkan

Pembimbing I

Sukiswo, S.T., M.T. NIP. 19690714 199702 1001 Tanggal………

Pembimbing II

Ajub Ajulian Zahra, S.T., MT. NIP. 19710719 199802 2001

Gambar

Tabel 1. Spesifikasi teknologi WiMAX [2]
Gambar 2. Struktur layer fisik dan data link WiMAX 802.16d [8]
Gambar 4. Kontrol kongesti pada TCP Reno [18]
Gambar 5. Kontrol ukuran congestion window (cwnd) pada TCP  Westwood+ [18]
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tanggung jawab sosial dalam perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap

Assurance merupakan kemampuan petugas dalam memberikan jaminan dari segi ketepatan waktu, biaya, legalitas, serta kepastian biaya dalam proses pelayanan di kantor

Hasil penelitian menunjukan bahwa pemanasan dan pendinginan pada 9 titik pengukuran temperatur oleh termokopel pada permukaan semi-sphere memiliki kurva kenaikan dan

tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2004) sebagaimana

Dari hasil eksplorasi yang dilakukan di ka- wasan gunung Watuwila dan daerah sekitarnya, telah ditemukan 2 infraspesifik takson dari pisang liar M.. acuminata Colla

Pemetaan ini tidak memerlukan gerakan yang keras atau kuat, tetapi pengulangan meniadi penting karena akan teriadi ialur saraf yang kuat terhubung dan meniadi

Atmosfer dari planet merkurius terdiri dari gas natrium dan kalium yang sangat tipis sehingga kadang-kadang dikatakan bahwa planet ini tidak memiliki atmosfer.. Jarak

Visualisasi Social Network Analysis (SNA) pada Jejaring Sosial Twitter dengan Metode Centrality Measurement ( Studi Kasus : Usaha Kecil. Menengah ) WRH AAG