¹Yulli Hariyani adalah mahasiswa Sastra Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang 2012. ²Maryaeni dan Imam Agus Basuki adalah dosen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI SISWA SMP/MTs
Yulli Hariyani¹ Maryaeni² Imam Agus Basuki²
Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang Email: [email protected]
ABSTRACT: This research purposed to produce instrument assessment learning poem reading for SMP/MTs students. Instrument assessmen use to measure of step successfully potry learning. Product result in use include, the trial tests and the subjective test. The trial test, student exercising for can performantion in esthetic reading. The subjective test specially for understanding mean from poetry. For result try to two expert people and two practitioner can take rate percentage is 85,775%. So, the product appertain suitable and can to implementation.
Key words: instrument assessmen, poem reading
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan menghasilkan instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi untuk siswa SMP/MTs. Instrumen asesmen digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran puisi. Produk yang dihasilkan meliputi, tugas unjuk kerja dan tes subjektif. Tugas unjuk kerja, siswa dilatih untuk mampu performansi dalam ranah membaca indah. Tes subjektif pada pembelajaran dikhususkan untuk memahami makna dari puisi. Dari hasil uji coba yang dilakukan kepada dua ahli dan praktisi maka diambil rata-rata persentase 85,775%. Maka, produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan.
Kata kunci: instrumen asesmen, membaca puisi
Instrumen asesmen sangat diperlukan dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran membaca puisi. Setiap kinerja yang dilakukan siswa tidak akan terlepas dari asesmen. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, 2009:57). Salah satu unsur yang mempengaruhi yaitu prosedur dalam pembelajaran. Prosedur dalam pembelajaran dapat meliputi kegiatan pembelajaran, penilaian, serta evaluasi dalam mengetahui kemampuan siswa.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar pendidikan menegaskan bahwa pendidikan nasional harus memenuhi standar nasional pendidikan. Adapun standar nasional yang dimaksudkan meliputi, (a) tenaga kependidikan, (b) standar sarana dan prasarana, (c) standar penilaian pendidikan. Pada standar penilaian pendidikan, juga harus memenuhi kriteria dalam asesmen, pengukuran dan penilaian hasil yang menjadi acuan evaluasi pendidikan. Asesmen yang digunakan juga harus meliputi proses kinerja siswa dalam proses belajar yang dilakukan.
Instrumen asesmen adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan informasi tentang peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat lakukan. Instrumen asesmen yang digunakan untuk melakukan asesmen membaca puisi bisa berbagai macam instrumen, antara lain tes objektif, tes subjektif, unjuk kerja, produk, laporan, performansi, dan sebagainya. Tetapi instrumen-instrumen asesmen yang dikembangkan di dalam penelitian ini adalah tugas unjuk kerja, tes subjektif dan rubrik sebagai alat penilaiannya.
Selama ini penilaian proses yang diberikan kepada peserta didik, masih banyak yang belum menyangkut proses keseharian dari peserta didik. Banyak yang masih mengandalkan pada penilaian hasil saja. Padahal jika ditelusuri, penilaian proses pada peserta didik sangat berpengaruh terhadap penilaian hasil. Dengan demikian, sistem penilaian pada peserta didik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari guru dan juga penilaian di sekolah. Penelitian-penelitian yang dilaksanakan akan menguji keunggulan penilaian dengan teknik tes maupun nontes. Menguji lebih jauh kesahihan tentang pengembangan instrumen asesmen membaca puisi dalam mengembangkan berbagai penilaian hasil, maka penelitian terhadap penilaian harus dilakukan untuk memperoleh dukungan. Tujuan penelitian ini yaitu agar guru dalam menilai peserta didik dapat menilai proses maupun hasil kinerja peserta didik. Penilaian-penilaian dapat diterapkan pada berbagai aspek kebahasaan yaitu meliputi berbicara, membaca, menulis dan menyimak.
Produk hasil pengembangan instrumen asesmen ini ada dua, yakni tugas unjuk kerja untuk kelas VII/tes subjektif untuk kelas VIII dan rubrik penilaian membaca puisi. KD yang dikembangkan menghasilkan seperangkat instrumen asesmen. Keterbatasan yang terdapat pada penelitian ini adalah penyesuaian waktu pada pencarian sekumpulan bukti pembelajaran peserta didik yang diberikan guru dan waktu dilaksanakannya penelitian. Penelitian ini hanya membahas dua KD, yakni KD 15.1 kelas VII dan KD 15.2 kelas VIII. Sementara itu, pembatasan masalah pada penelitian ini adalah instrumen asesmen dalam pembelajaran membaca puisi.
Menurut Sudjana (2010:5), dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Tes ini yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan) ada tes tulisan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada pula yang disusun dalam bentuk esai atau uraian.
Banyak pengertian asesmen yang bisa didapat. Menurut Nurhadi (2009:62), asessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa mem- berikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Tujuan penelitian pengembangan ini adalah mengembangkan perintah unjuk kerja dan tes uraian dalam pembelajaran membaca puisi siswa SMP/MTs, mengembangkan rubrik penilaian pembelajaran membaca puisi siswa SMP/MTs, mengembangkan tes subjektif dan rubrik penilaian dalam pembelajaran membaca puisi siswa SMP/MTs dengan memperhatikan validitas.
METODE
Metode pengembangan intrumen asesmen ini mengadaptasi dari desain model pengembangan Djaali dan Puji Mulyono. Menurut Djaali dan Puji Mulyono (2004:81 85) pengembangan instrumen asesmen membaca puisi ini dihasilkan berdasarkan pada kebutuhan pemerolehan bukti dalam pembelajaran yang diberikan pada peserta didik. Adapun penilaian yang diberikan adalah penilaian pada membaca puisi.
Bentuk pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan instrumen asesmen yang disajikan dalam bentuk pedoman/petunjuk pelaksanaan dalam memperoleh bukti serta kolom proses capaian belajar siswa. Jenis penelitian yang sesuai diaplikasikan adalah penelitian pengembangan. Hasil pengembangan didefinisikan sesuai dengan data uji kelayakan sehingga menggambarkan kualitas produk pengembangan yang sebenarnya.
Prosedur pengembangan instrumen asesmen terdiri dari tiga tahap, yakni (a) tahap prapengembangan, (b) tahap perancangan instrumen asesmen, (c) tahap uji coba instrumen asesmen hingga sesuai. Pada tahap perencanaan adalah menerjemahkan pengetahuan/teori yang bersifat umum ke dalam bentuk spesifikasi terperinci untuk keperluan asesmen pembelajaran. Perancangan instrumen asesmen, yakni kegiatan kisi-kisi rancangan instrumen asesmen dengan memilih Kompetensi Dasar (KD) membaca puisi di SMP/MTs. Kompetensi Dasar itu dibuat indikator masing-masing dan menentukan instrumen yang digunakan dan rambu-rambu jawaban. Uji Ahli dan Uji Lapangan, yakni kegiatan pengujian instrumen asesmen oleh para ahli dan uji instrumen asesmen di lapangan oleh guru dan siswa. Uji ahli diharapkan dapat memperbaiki instrumen asesmen dari aspek validitas isi. Uji lapangan diharapkan dapat memperbaiki instrumen asesmen dari aspek kesesuaian/berterimanya asesmen untuk siswa.
Revisi instrumen asesmen, yakni kegiatan revisi oleh ahli yang dilakukan setelah instrumen asesmen diujicobakan oleh ahli dan lapangan sampai instrumen asesmen jadi. Prosedur pengembangan instrumen asesmen terdapat langkah-langkah sebagai berikut. Tujuan merancang adalah menerjemahkan pengetahuan/teori yang bersifat umum ke dalam bentuk spesifikasi terinci untuk keperluan pembuatan capaian belajar peserta didik dalam pembelajaran membaca puisi. Adapun kegiatan yang dilakukan tahap merancang penilaian pembelajaran membaca puisi meliputi, memilih instrumen, analisis instrumen asesmen, analisis asesmen, seleksi model, melakukan analisis kurikulum, penataan instrumen asesmen. Tahap menilai dilakukan untuk menilai kelayakan hasil awal yang dihasilkan pada tahap merancang. Pengembang harus menyerahkan hasil awal kepada ahli mata pelajaran/matakuliah. Hasil akhir skema instrumen asesmen yang berhasil dikembangkan setelah diadakan penilaian formatif dan revisi berulang selanjutnya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Validasi oleh kelompok ahli dilakukan oleh dosen bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang. Validasi dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 18 Malang. Revisi dilakukan setelah tahap validasi dan uji coba produk. Revisi produk instrumen asesmen dilakukan untuk menghasilkan produk akhir yang siap digunakan. Produk pengembangan instrumen asesmen yang dihasilkan dilakukan uji coba, dengan tujuan untuk mengukur validitas, reliabilitas, keterterapan dan nilai tambahnya. Desain uji coba produk dilakukan untuk mengukur tingkat kelayakan instrumen asesmen yang
dikembangkan. Desain uji coba untuk kelas VII dan kelas VIII dilakukan seperti halnya siswa sedang ulangan KD yakni siswa mengerjakan semua prosedur . HASIL PENGEMBANGAN
Hasil penelitian diperoleh dari uji coba kelompok ahli, kelompok praktisi, dan kelompok kecil siswa. Adapun data penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu (1) Tugas unjuk kerja kelas VII dan (2) Tes subjektif kelas VIII. Produk utama dari pengembangan ini adalah instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi. Produk yang dikembangkan yaitu meliputi dua KD yakni KD 15.1 pada kelas VII berupa tugas unjuk kerja dan KD 15.2 pada kelas VIII. Kelas VII berupa tes subjektif. KD 15.1 Membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi dan kelas VIII KD 15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi. Produk pengembangan instrumen asesmen ini diujicobakan kepada (1) ahli instrumen asesmen, (2) ahli pembelajaran puisi, (3) praktisi (guru Bahasa Indonesia), dan (4) siswa.
Alat yang digunakan untuk penilaian instrumen asesmen ini adalah pedoman penilaian kelayakan instrumen asesmen. Data dari pedoman penilaian kelayakan instrumen asesmen menghasilkan data nonverbal berupa skor. Selain pedoman penilaian kelayakan instrumen asesmen, digunakan juga catatan yang menghasilkan data nonverbal yang berupa saran-saran perbaikan. Sedangkan dari pedoman wawancara diperoleh data verbal yang berupa masukan-masukan, saran perbaikan maupun komentar terhadap produk. Kriteria penyekoran uji coba kelayakan adalah sebagai berikut.
1) Jika uji kelayakan instrumen asesmen mencapai tingkat presentase 85%- 100%, instrumen asesmen tergolong layak dan siap diimplementasikan.
2) Jika uji kelayakan instrumen asesmen mencapai tingkat presentase 75%- 84%, instrumen asesmen tergolong layak dan siap diimplementasikan.
3) Jika uji kelayakan instrumen asesmen mencapai tingkat presentase 55%- 74%, instrumen asesmen tergolong cukup layak dan perlu direvisi.
4) Jika uji kelayakan instrumen asesmen mencapai tingkat presentase kurang dari 54%, instrumen asesmen tergolong tidak layak dan harus direvisi.
Tugas Unjuk Kerja
Dari hasil uji coba yang dilakukan kepada dua ahli dan dua praktisi maka diambil rata-rata persentase hasil uji coba yaitu untuk tugas unjuk kerja kelas VII, validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%. Sedangkan untuk persentase tes subjektif kelas VIII yaitu validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%. Rubrik penilaian hasil membaca puisi didapatkan persentase hasil uji yaitu validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%.
Selain data yang dipaparkan pada tabel juga diperoleh data tertulis yang berasal dari kolom catatan dan data verbal yang ditranskripkan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi tentang keterbacaan tugas unjuk kerja dan tes subjektif kelas VII. Adanya perbedaan dalam menangkap perintah dalam
membaca tes unjuk kerja yaitu yang sebenarnya telah dibuatnya variasi pemberian tanda jeda yang dikerjakan siswa.
Pada aspek kesesuaian antara soal-soal tes subjektif dengan Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar, validator 1 memberikan skor dua, validator 2 memberi skor empat, praktisi 1 memberikan skor 3, dan praktisi 2 memberikan skor 4. Pada aspek kesesuaian antara kisi-kisi dengan kompetensi dasar, validator 1 memberi skor dua, validator 2 memberi skor empat, praktisi 1 memberi skor empat, dan praktisi 2 memberi skor empat. Pada aspek proporsionalitas cakupan materi kompetensi dasar, validator 1 memberi skor dua, validator 2 memberi skor empat, praktisi 1 memberi skor tiga, dan praktisi 2 memberi skor tiga. Pada aspek proporsionalitas tingkatan berpikir dalam kompetensi dasar, validator 1 memberi skor satu, validator 2 memberi skor tiga, praktikan 1 memberi nilai empat, dan praktikan 2 memberi nilai tiga. Dengan demikian, rata-rata setiap aspek untuk hasil uji validitas isi tugas unjuk kerja adalah 3,125 (78,125%). Jadi tugas unjuk kerja yang dikembangkan telah memiliki syarat validitas isi yang baik.
Pada aspek bahasa yang digunakan komunikatif, validator 1 memberikan skor empat, validator 2 memberi skor tiga, praktisi 1 memberikan skor empat, dan praktisi 2 memberikan skor empat. Pada aspek bahasa yang dipakai menggunakan aspek pembentukan kata dan kalimat yang tepat, validator 1 memberi skor empat, validator 2 memberi skor tiga, praktisi 1 memberi skor tiga, dan praktisi 2 memberi skor empat. Pada aspek bahasa yang dipakai menggunakan kosakata dan istilah yang benar, validator 1 memberi skor empat, validator 2 memberi skor empat, praktisi 1 memberi skor empat, dan praktisi 2 memberi skor tiga. Pada aspek bahasa yang dipakai menggunakan ejaan yang tepat, validator 1 memberi skor empat, validator 2 memberi skor empat, praktikan 1 memberi nilai empat, dan praktikan 2 memberi nilai tiga. Pada aspek penggunaan tanda baca yang tepat, validator 1 memberi skor empat, validator 2 memberi skor tiga, praktisi 1 memberi skor empat, dan praktisi 2 memberi skor tiga. Dengan demikian, rata-rata setiap aspek untuk hasil uji keterbacaan rubrik hasil membeca puisi adalah 3,65 (91,25%). Jadi rubrik penilaian hasil membaca puisi yang dikembangkan telah memiliki syarat keterbacaan yang baik.
Tes Subjektif
Pada aspek tampilan dan tata letak dengan tampilan yang rapi, validator 1 memberikan skor empat, validator 2 memberikan skor tiga, praktisi 1 memberikan skor empat, dan praktisi 2 memberikan skor empat. Rata-rata untuk aspek tampilan dan tata letak yang baik yaitu 3,75 (93,75%). Pada aspek bidang cetak yang terdiri dari margin kiri, kanan, atas, dan bawah didesain dengan proporsional, validator 1 memberikan skor empat, validator 2 memberikan skor empat, praktisi 1 memberikan skor empat, dan praktisi 2 memberikan skor empat. Rata-rata untuk aspek bidang cetak yang terdiri dari margin kiri, kanan, atas, dan bawah didesain dengan proporsional adalah 4 (100%). Pada aspek adanya keserasian ukuran huruf dan jenis huruf, validator 1 memberikan skor empat, validator 2 memberikan skor tiga, praktisi 1 memberikan skor empat, dan praktisi 2 memberikan skor tiga. Jadi, rata-rata untuk aspek adanya keserasian ukuran huruf dan jenis huruf memiliki skor 3,5 (87,5%). Dengan demikian rata-rata keseluruhan aspek adalah 3,75 (93,75%).
Pada aspek kesesuaian dengan konstruk, validator 1 memberi skor dua, validator 2 memberi skor empat, praktisi 1 memberi skor tiga, dan praktisi 2 memberi skor tiga. Pada aspek kesesuaian proporsi indikator dengan tingkat berpikir kompetensi dasar, validator 1 memberikan skor dua, validator 2 memberikan skor empat, praktisi 1 memberikan skor tiga, praktisi 2 memberikan skor tiga. Pada aspek kelengkapan atau proporsi indikator dalam mencapai kompetensi dasar (penafsiran sesuai kompetensi dasar), validator 1 memberikan skor tiga, validator 2 memberikan skor empat, praktisi 1 memberikan skor tiga, praktisi 2 memberikan skor tiga. Pada aspek kesesuaian alat atau teknik dengan data yang dihasilkan (konsep hasil akhir kompetensi dasar), validator 1 memberikan skor dua, validator 2 memberikan skor empat, praktisi 1 memberikan skor tiga, dan praktisi 2 memberikan skor empat. Dengan demikian, rata-rata setiap aspek untuk hasil uji validitas konstruk isi rubrik adalah tiga koma satu dua lima (78,125%). Jadi rubrik yang dikembangkan telah memiliki syarat validitas konstruk yang baik.
PEMBAHASAN
Data yang diperoleh dari hasil uji coba instrumen asesmen dengan ahli dan praktisi tidak hanya berupa data skor dari angket rubrik kelayakan produk, tetapi juga diperoleh data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi. Catatan dan data verbal yang diperoleh dari ahli terkait validitas dan kepraktisan instrumen asesmen yang dikembangkan, yakni teknik tes dan rubrik penilaian membaca puisi. Data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi pada uji coba validitas kelas VII, dan kelas VIII adalah instrumen asesmen antara kelas VII, dan kelas VIII seharusnya berbeda karena tuntutan dari SK dan KD berbeda.
Menurut Sudjana (2010:5), dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Pada penelitian ini menggunakan bentuk tes. Data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi pada uji coba validitas kelas VII, dan kelas VIII adalah kriteria pada pedoman penyekoran kurang detail karena variabel kemungkinan jawaban kurang lengkap dan pemberian bobot pada poin rubrik membaca puisi dari setiap kriteria belum ada.
Menurut Nurhadi (2009:62), asessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi pada uji coba kepraktisan tes kelas VIII adalah model yang ditawarkan pada soal masih sulit dipahami siswa. Hal ini menyebabkan siswa sulit melakukan apresiasi puisi dengan tepat dan adanya berbagai macam penampilan dari siswa yang tidak sesuai dengan maksud dari perintah. Data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi pada kelas VII dan VIII adalah ada beberapa kriteria penyekoran yang membingungkan siswa dalam memahami maksud dari arah yang diinginkan, sehingga siswa kesulitan membacakan puisi. Pada uji coba kepraktisan tes subjektif yang dikembangkan tidak didapatkan data tertulis pada
kolom catatan atau data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi karena menurut ahli dan praktisi dari segi kepraktisan tes yang dikembangkan sudah tidak ada masalah dan sudah baik. Data tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi pada uji coba validitas isi rubrik penilaian hasil membaca kelas VII, dan kelas VIII adalah indikator semestinya disamakan redaksinya dengan kriteria yang ada.
Pada uji coba rubrik penilaian membaca puisi yang dikembangkan tidak didapatkan data tertulis pada kolom catatan atau data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara dengan ahli dan praktisi karena menurut ahli dan praktisi dari segi validitas dan kepraktisan rubrik penilaian membaca puisi yang dikembangkan sudah tidak ada masalah dan sudah baik.
Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai (Sudjana, 2010:12). Uji validitas tugas unjuk kerja, tes subjektif, dan rubrik penilaian hasil membaca puisi dilakukan dengan dua ahli (satu ahli instrumen asesmen dan satu ahli pembelajaran sastra/ahli puisi) serta dua praktisi (guru bahasa Indonesia 1 dan guru bahasa Indonesia 2). Berdasarkan uji validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga benar-benar menilai apa yang seharusnya dinilai yaitu membaca puisi. Validitas tugas unjuk kerja/tes subjektif dan rubrik penilaian telah memiliki kelayakan dan siap diimplementasikan.
Validitas tugas unjuk kerja, validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai (Sudjana, 2010:12). Tugas unjuk kerja yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Seperti memberikan perintah membaca, perintah menjelaskan, menghubungkan dan sebagainya. Dari kemampuan siswa melakukan unjuk kerja, siswa mengeri apa yang diperintahkan guru. Pada tugas unjuk kerja kelas VII, siswa diharapkan mampu untuk performansi dalam membacakan puisi. Siswa menanggapi dengan maju di depan kelas dan mulai membacakan puisi.
Validitas Isi tugas unjuk kerja yang dikembangkan telah memilki syarat validitas isi yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas isi adalah 3,3 (82,5%). Rata-rata skor hasil uji validitas isi 82,5% menunjukkan bahwa tugas unjuk kerja telah layak atau memenuhi syarat validitas isi yang baik untuk diimplementasikan di lapangan. Selain itu, untuk menyempurnakan tugas unjuk kerja, juga dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari ahli atau praktisi terkait validitas isinya. Perbaikan tugas unjuk kerja kelas VII terkait validitas isi yang dilakukan. Jadi, tugas unjuk kerja kelas VII yang dikembangkan telah memenuhi syarat validitas isi yang baik.
Validitas konstruk tugas unjuk kerja yang dikembangkan telah memilki syarat validitas konstruk yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas konstruk adalah 3,125 (78,125%). Rata-rata skor hasil uji validitas konstruk 78,125% menunjukkan bahwa tugas unjuk kerja telah layak atau memenuhi syarat validitas konstruk yang baik untuk diimplementasikan di lapangan.
Selain itu, untuk menyempurnakan tugas unjuk kerja juga dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari ahli atau praktisi. Perbaikan tugas unjuk kerja
kelas VII yang dilakukan. Jadi, tugas unjuk kerja kelas VII yang dikembangkan telah memenuhi syarat validitas konstruk yang baik.
Validitas Tes Subjektif, tes subjektif yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Menurut Arifin (2009:248), validitas isi sering digunakan dalam penelitian hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan, dan perubahan-perubahan psikologis apa yang timbul pada diri peserta didik setelah mengalami proses pembelajaran. Dari adanya revisi baik dari ahli, praktisi, maupun siswa, maka apa yang terkandung dalam tes subjektif sudah mampu dipahami oleh siswa. Terbukti dari adanya pengerjaan siswa yang sudah memenuhi kriteria pengerjaan jawaban yang benar.
Validitas isi, tes subjektif yang dikembangkan telah memilki syarat validitas isi yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas isi adalah 3,3 (82,5%). Rata-rata skor hasil uji validitas isi 82,5% menunjukkan bahwa tes subjektif telah layak atau memenuhi syarat validitas isi yang baik untuk diimplementasikan di lapangan. Selain itu, untuk menyempurnakan tes subjektif, juga dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari ahli atau praktisi terkait validitas isinya. Perbaikan tes subjektif kelas VIII terkait validitas isi yang dilakukan. Jadi, tes subjektif kelas VIII yang dikembangkan telah memenuhi syarat validitas isi yang baik.
Validitas konstruk tes subjektif yang dikembangkan telah memilki syarat validitas konstruk yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas konstruk adalah 3,125 (78,125%). Rata-rata skor hasil uji validitas konstruk 78,125% menunjukkan bahwa tes subjektif telah layak atau memenuhi syarat validitas konstruk yang baik untuk diimplementasikan di lapangan.
Selain itu, untuk menyempurnakan tes subjektif juga dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari ahli atau praktisi. Perbaikan tes subjektif kelas VIII yang dilakukan. Jadi, tes subjektif kelas VIII yang dikembangkan telah memenuhi syarat validitas konstruk yang baik.
Validitas rubrik penilaian hasil membaca puisi, rubrik penilaian yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Praktisi sudah mampu membaca dan memahami rubrik yang telah dibuat.
Validitas isi rubrik penilaian hasil membaca puisi yang dikembangkan telah memilki syarat validitas isi yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas isi adalah 3,3 (82,5%). Rata-rata skor hasil uji validitas isi 82,5% menunjukkan bahwa rubrik penilaian hasil membaca puisi yang dikembangkan telah layak atau memenuhi syarat validitas isi yang baik untuk diimplementasikan di lapangan.
Selain itu, untuk menyempurnakan rubrik hasil membaca puisi, juga dilakukan perbaikan berdasarkan saran dari ahli atau praktisi terkait validitas isinya. Perbaikan rubrik penilaian hasil membaca puisi kelas VII terkait validitas isi yang dilakukan. Perbaikan rubrik penilaian hasil membaca puisi kelas VIII terkait validitas isi yang dilakukan. Jadi, rubrik hasil membaca puisi kelas VII dan kelas VIII yang dikembangkan telah memenuhi syarat validitas isi yang baik.
Validitas konstruk rubrik penilaian hasil membaca puisi yang dikembangkan telah memilki syarat validitas konstruk yang baik. Hal ini dapat dibuktikan pada hasil uji kelayakan yang sudah dipaparkan. Diketahui bahwa rata-rata skor uji validitas konstruk adalah 3,125 (78,125%). Rata-rata-rata skor hasil uji validitas konstruk 78,125% menunjukkan bahwa rubrik hasil membaca puisi yang dikembangkan telah layak atau memenuhi syarat validitas konstruk yang baik untuk diimplementasikan di lapangan.
PENUTUP Kesimpulan
Bentuk instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi ini berbentuk produk I dan produk II. Produk I adalah instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi kelas VII semester 2 berupa tugas unjuk kerja dengan KD membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi. Sedangkan produk II adalah instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi kelas VIII semester 2 berupa tes subjektif dengan KD mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi.
Instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi untuk kelas VII terdiri atas dua instrumen, yakni tugas unjuk kerja dan tes perbuatan/performance test berupa perintah pembacaan puisi. Berikut ini akan diuraikan tentang tugas unjuk kerja dan tes perbuatan/performance test berupa perintah pembacaan puisi setelah dilakukannya uji kelayakan dan revisi.
Tugas unjuk kerja yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Seperti memberikan perintah membaca, perintah menjelaskan, menghubungkan dan sebagainya. Dari kemampuan siswa melakukan unjuk kerja, siswa mengeri apa yang diperintahkan guru. Pada tugas unjuk kerja kelas VII, siswa diharapkan mampu untuk performansi dalam membacakan puisi. Siswa menanggapi dengan maju di depan kelas dan mulai membacakan puisi.
Tes subjektif yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Dari adanya revisi baik dari ahli, praktisi, maupun siswa, maka apa yang terkandung dalam tes subjektif sudah mampu dipahami oleh siswa. Terbukti dari adanya pengerjaan siswa yang sudah memenuhi kriteria pengerjaan jawaban yang benar.
Rubrik penilaian yang telah dibuat sudah menunjukkan kemudahan dalam menangkap makna yang dimaksudkan. Praktisi sudah mampu membaca dan memahami rubrik yang telah dibuat.
Saran
Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini adalah instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi untuk siswa SMP/MTs. Produk yang dihasilkan dapat digunakan sebagai saran untuk keperluan pemanfaatan produk, diseminasi produk ke sasaran yang lebih luas, dan saran untuk keperluan pengembangan lebih lanjut. Adapun saran pemanfaatan, diseminasi, dan saran untuk keperluan pengembangan lebih lanjut dipaparkan sebagai berikut.
Pada kondisi yang terjadi di lapangan saat ini, evaluasi tentang pembelajaran membaca puisi masih pada aspek mengerti saja. Alat penilaian yang mampu mengajak siswa untuk tidak hanya mengerti, tetapi juga mengapresiasi
karya sastra masih sangat minim. Produk pengembangan instrument asesmen pembelajaran membaca puisi untuk siswa SMP/MTs dihasilkan untuk disampaikan kepada guru kolaborasi atau praktisi sebagai alternatif instrumen asesmen yang menuntut siswa tidak hanya mengerti dan tahu, tetapi juga mengapresiasi karya sastra yang berupa puisi.
Guru disarankan dapat menggunakan produk sebagai instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi yang dapat diterapkan di lapangan. Melalui pengenalan produk pengembangan instrumen asesmen, diharapkan evaluasi pembelajaran membaca puisi akan lebih maksimal dan tidak hanya mengukur pemahaman siswa, tetapi juga apresiasi siswa terhadap karya sastra, terutama puisi.
Penulis instrumen asesmen disarankan untuk mengembangkan kriteria instrumen asesmen yang lebih detail dan lengkap karena kriteria penilaian adalah aspek yang penting dalam instrumen asesmen. Selain itu, dengan sempurnanya kriteria penilaian akan menjadikan instrumen asesmen lebih mudah digunakan dan mampu mengukur keberhasilan belajar siswa agar menjadi lebih baik.Produk pengembangan instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi ini dapat disebarluaskan melalui forum MGMP. Disarankan kepada peneliti lain agar menyusun pengembangan model instrumen asesmen pada tingkatan lain.
Daftar Rujukan
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Djaali, dan Pudji Mulyono. 2004. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.
Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru: Algesindo.
Nurhadi. 2009. Pembelajaran Kontekstual. Surabaya: PT JePe Press Media Utama.
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.