Askep CA Testis

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DEFINISI DEFINISI

Kanker Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa Kanker Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung zakar).

zakar).

Kanker testikuler, yang menempati peringkat pertama dalam kematian akibat kanker diantara Kanker testikuler, yang menempati peringkat pertama dalam kematian akibat kanker diantara  pria dalam kelompok umur 20 sampai 35

 pria dalam kelompok umur 20 sampai 35 tahun, adalah kanker yang paling tahun, adalah kanker yang paling umum pada pria yangumum pada pria yang  berusia

 berusia 15 15 tahun tahun hingga hingga 35 35 tahun tahun dan dan merupakan merupakan malignansi malignansi yang yang paling paling umum umum kedua kedua padapada kelompok usia 35 tahun hingga 39 tahun.

kelompok usia 35 tahun hingga 39 tahun.

Kanker yang demikian diklasifikasikan sebagai germinal atau nongerminal. Tumor germinal Kanker yang demikian diklasifikasikan sebagai germinal atau nongerminal. Tumor germinal timbul dari sel-sel germinal testis (seminoma, terakokarsinoma, dan karsinoma embrional); timbul dari sel-sel germinal testis (seminoma, terakokarsinoma, dan karsinoma embrional); tumor germinal timbul dari epithelium.

(2)

Klasifikasi patologik tumor testis menurut WHO: Klasifikasi patologik tumor testis menurut WHO:

1.

1. Tumor sel bening:Tumor sel bening: 1.

1. Tumor dengan satu pola histologik:Tumor dengan satu pola histologik: 1.

1. SeminomaSeminoma 1.

1. Seminoma spermatositikSeminoma spermatositik 2.

2. Karsinoma embrionalKarsinoma embrional 3.

3. Yolk sac tumor (Karsinoma embrional tipe infantile)Yolk sac tumor (Karsinoma embrional tipe infantile) 2. 2. Teratoma:Teratoma: 1. 1. MaturMatur 2. 2. ImaturImatur 3.

3. Dengan transformasi malignaDengan transformasi maligna 2.

2. Tumor dengan lebih dari satu pola histoligik:Tumor dengan lebih dari satu pola histoligik: 1.

1. Karsinoma embrional plus teratoma (teratokarsinoma)Karsinoma embrional plus teratoma (teratokarsinoma) 2.

2. Kariokarsinoma dan tipe lain apapun (perinci tipe-tipenya)Kariokarsinoma dan tipe lain apapun (perinci tipe-tipenya) 3.

3. Kombinasi lain (perinci)Kombinasi lain (perinci)

1.

1. Tumor stromal-Tali kelamin:Tumor stromal-Tali kelamin: 1.

1. Bentuk berdiferensiasi baik:Bentuk berdiferensiasi baik: 1.

1. Tumor sel leydigTumor sel leydig 2.

2. Tumor sel sertoliTumor sel sertoli 3.

3. Tumor sel granulosaTumor sel granulosa 2.

2. Bentuk campuran (perinci)Bentuk campuran (perinci) 3.

3. Bentuk berdiferensiasi tidak lengkapBentuk berdiferensiasi tidak lengkap

Sebagian besar neoplasma adalah germinal, dengan sekitar 40% adalah seminoma. Seminoma Sebagian besar neoplasma adalah germinal, dengan sekitar 40% adalah seminoma. Seminoma cenderung untuk tetap setempat, sementara tumor nonseminomas tumbuh cepat. Penyebab tumor cenderung untuk tetap setempat, sementara tumor nonseminomas tumbuh cepat. Penyebab tumor testikuler tidak diketahui, tetapi kriptokhidisme, infeksi, dan faktor-faktor genetic dan endokrin testikuler tidak diketahui, tetapi kriptokhidisme, infeksi, dan faktor-faktor genetic dan endokrin tampak berperan dalam terjadinya tumor tersebut.

(3)

Risiko kanker testikuler adalah 35 kali lebih tinggi pada pria dengan segala tipe testis yang tidak turun ke dalam skrotum dibanding dengan populasi umum. Tumor testis biasanya malignan dan cenderung untuk bermetastasis lebih dini, menyebar dari testis ke dalam nodus limfe dalam retroperineum dan ke paru-paru.

PATOFISIOLOGI

Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler yang akhinya mengenai seluruh parenkim testis. Sel-sel tumor kemudian menyebar ke rate testis, epididimis, funikulus spermatikus, atau  bahkan ke kulit scrotum. Tunika albugenia merupakan barrier yang sangat kuat bagi penjalaran

tumor testis ke organ sekitarnya, sehingga kerusakan tunika albugenia oleh invasi tumor membuka peluang sel-sel tumor untuk menyebar keluar testis.

Kecuali kariokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke kelenjar limfe retroperitoneal (para aorta) sebagai stasiun pertama, kemudian menuju ke kelenjar mediastinal dan supraclavikula, sedangkan kariokarsinoma menyebar secara hematogen ke paru, hepar, dan otak.

PENYEBAB

Kebanyakan kanker testis terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang terjadinya kanker testis:

1. Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum) 2. Perkembangan testis yang abnormal

3. Sindroma Klinefelter (suatu kelainan kromosom seksual yang ditandai dengan rendahnya kadar hormon pria, kemandulan, pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang kecil).

(4)

Faktor lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih dalam taraf  penelitian adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV. Jika di dalam keluarga

ada riwayat kanker testis, maka resikonya akan meningkat. 1% dari semua kanker pada pria merupakan kanker testis. Kanker testis merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada  pria berusia 15-40 tahun. Kanker testis dikelompokkan menjadi:

1. Seminoma : 30-40% dari semua jenis tumor testis. Biasanya ditemukan pada pria berusia 30-40 tahun dan terbatas pada testis.

2.  Non-seminoma: merupakan 60% dari semua jenis tumor testis. Dibagi menjadi subkategori:

1. Karsinoma embrional: sekitar 20% dari kanker testis, terjadi pada usia 20-30 tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan menyebar ke paru-paru dan hati.

2. Tumor yolk sac: sekitar 60% dari semua jenis kanker testis pada anak laki-laki. 3. Teratoma: sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40% pada anak

laki-laki. - Koriokarsinoma.

4. Tumor sel stroma: tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel sertoli dan sel granulosa. Tumor ini merupakan 3-4% dari seluruh jenis tumor testis. Tumor bisa menghasilkan hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala kanker testis, yaitu ginekomastia.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala berupa :

1. Testis membesar atau teraba aneh (tidak seperti biasanya) 2. Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis 3.  Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah - Ginekomastia 4. Rasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis atau skrotum terasa berat.

(5)

Tetapi mungkin juga tidak ditemukan gejala sama sekali. Gejala timbul dengan sangat bertahap dengan massa atau benjolan pada testis yang tidak nyeri. Pasien dapat mengeluh rasa sesak pada skrotum, area inguinal, atau abdomen dalam. Sakit pinggang (akibat perluasan nodus retroperineal), nyeri pada abdomen, penurunan berat badan, dan kelemahan umum dapat diakibatkan oleh metastasis. Pembesaran testis tanpa nyeri adalah temuan diagnostik yang signifikan.

Satu-satunya metode deteksi dini yang efektif adalah pemeriksaan testis mandiri. Suatu bagian  penting dari promosi kesehatan untuk pria harus mencakup pameriksaan mandiri. Pengajaran

tentang pemeriksaan mandiri adalah intervensi penting untuk deteksi dini penyakit ini.

EVALUASI DIAGNOSTIK

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan lainnya yang  biasa dilakukan:

1. USG skrotum

2. Pemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (alfa fetoprotein), HCG (human chorionic gonadotrophin) dan LDH (lactic dehydrogenase).

Hampir 85% kanker non-seminoma menunjukkan peningkatan kadar AFP atau beta HCG.

1. Rontgen dada (untuk mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru) 2. CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker ke organ perut) 3. Biopsi jaringan.

Human chorionic gonadotropin dan a-fetoprotein adalah penanda tumor yang mungkin meningkat pada pasien kanker testis. (Penanda tumor adalah substansi yang disintesis oleh sel-sel tumor dan dilepaskan ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang abnormal).

(6)

Tehnik imunositokimia yang terbaru dapat membantu mengidentifikasi sel-sel yang tampaknya menghasilkan penanda ini. Kadar penanda tumor dalam darah digunakan untuk mendiagnosis, menggolongkan, dan memantau respon terhadap pengobatan. Uji diagnostic lainnya mencakup urografi intravena untuk mendeteksi segala bentuk penyimpangan uretral yang disebabkan oleh massa tumor; limfangiografi untuk mengkaji keluasan penyebaran tumor ke sistem limfatik; dan  pemindai CT dada dan abdomen untuk menentukan keluasan penyakit dalam paru-paru dan

retroperineum.

PENATALAKSANAAN

Pengobatan tergantung kepada jenis, stadium dan beratnya penyakit. Setelah kanker ditemukan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis sel kankernya, selanjutnya ditentukan stadiumnya:

1. Stadium I: kanker belum menyebar ke luar testis

2. Stadium II: kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di perut

3. Stadium III: kanker telah menyebar ke luar kelenjar getah bening, bisa sampai ke hati atau paru-paru.

Ada 4 macam pengobatan yang bisa digunakan:

1. Pembedahan: pengangkatan testis (orkiektomi) dan pengangkatan kelenjar getah bening (limfadenektomi).

2. Terapi penyinaran: menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya, seringkali dilakukan setelah limfadenektomi pada tumor non-seminoma. Juga digunakan sebagai pengobatan utama pada seminoma, terutama pada stadium awal. 3. Kemoterapi: digunakan obat-obatan (misalnya cisplastin, bleomycin dan etoposid) untuk

membunuh sel-sel kanker.

Kemoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor non-seminoma. 4. Pencangkokan sumsum tulang: dilakukan jika kemoterapi telah menyebabkan kerusakan

(7)

Tumor seminoma

1. Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening perut

2. Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan kemoterapi dengan sisplastin

3. Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi multi-obat.

Tumor non-seminoma:

1. Stadium I diobati dengan orkiektomi dan kemungkinan dilakukan limfadenektomi perut 2. Stadium II diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti

dengan kemoterapi

3. Stadium III diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi.

Jika kankernya merupakan kekambuhan dari kanker testis sebelumnya, diberikan kemoterapi  beberapa obat (ifosfamide, cisplastin dan etoposid atau vinblastin).

Kanker testikuler adalah salah satu tumor padat yang dapat disembuhkan. Tujuan  penatalaksanaan adalah untuk menyingkirkan penyakit dan mencapai penyembuhan. Pemilihan  pengobatan tergantung pada tipe sel dan keluasan anatomi penyakit. Testis diangkat dengan

orkhioektomi melalui suatu insisi inguinal dengan ligasi tinggi korda spermatikus.

Prosthesis yang terisi dengan jel dapat ditanamkan untuk mengisi testis yang hilang. setelah orkhioektomi unilateral untuk kanker testis, sebagian besar pasien tidak mengalami fungsi endokrin. Namun demikian, pasien lainnya mengalami penurunan kadar hormonal, yang menandakan bahwa testis yang sehat tidak berfungsi pada tingkat yang normal. Diseksi nodus limfe retroperineal (RPLND) untuk mencegah penyebaran kanker melalui jalur limfatik mungkin dilakukan setelah orkhioektomi.

Meskipun libido dan orgasme normal tidak mengalami gangguan setelah RPLND, pasien mungkin dapat mengalami disfungsi ejakulasi dengan akibat infertilitas. Menyimpan sperma di  bank sperma sebelum operasi mungkin menjadi pertimbangan.

(8)

Iradiasi nodus limfe pascaoperasi dari diagfragma sampai region iliaka digunakan untuk mengatasi seminoma dan hanya diberikan pada tempat tumor saja. Testis lainnya dilindungi dari radiasi untuk menyelamatkan fertilitas. Radiasi juga digunakan untuk pasien yang tidak menunjukkan respon terhadap kemoterapi atau bagi mereka yang tidak direkomendasikan untuk dilakukan pembedahan nodus limfe.

Karsinoma testis sangat responsive terhadap terapi medikasi. Kemoterapi multiple dengan sisplantin dan preparat lainnya seperti vinblastin, bleomisin, daktinomisin, dan siklofosfamid memberikan persentase remisi yang tinggi. Hasil yang baik dapat dicapai dengan mengkombinasi tipe pengobatan yang berbeda, termasuk pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi. Bahkan kanker testikuler diseminata sekalipun, prognosisnya masih baik, dan  penyakit kemungkinan dapat disembuhkan karena kemajuan dalam diagnosis dan pen gobatan.

INTERVENSI KEPERAWATAN/PENDIDIKAN PASIEN

Karena pasien mungkin mengalami kesulitan dalam menerima kondisi ini, isu-isu yang  berhubungan dengan citra tubuh dan seksualitas harus diungkapkan. Pasien memerlukan

dorongan untuk mempertahankan sikap yang positif selama perjalanan terapi. Pasien juga harus mengetahui bahwa terapi radiasi tidak harus selalu menghambat pasien untuk menjadi seorang ayah, dan eksisi tumor unilateral tidak harus menurunkan virilitas.

Pasien dengan riwayat satu tumor testikuler mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengalami tumor berikutnya. Pemeriksaan tindak lanjut mencakup rontgen, urografi ekskretori, radioimmunoassay untuk human chorionic gonadotropins dan kadar a-fetoprotein, serta  pemeriksaan nodus limfe untuk mendeteksi malignansi kambuhan

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TUMOR TESTIS

Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan penyakit tunggal. Saat ini ada lebih dari

(9)

120 perbedaan tipe pengetahuan tentang kanker. Karena kanker adalah penyakit seluler, ini dapat timbul dari jaringan mana saja. Dengan manifestasi yang mengakibatkan kegagalan untuk mengontrol proliferasi dan maturasi sel.

Selama bertahun-tahun observasi dan dokumentasi, telah ditemukan bahwa perilaku metastatik dari kanker bervariasi sesuai dengan sisi primer diagnosis. Pola perilaku ini diketahui sebagai "riwayat alamiah". Pengetahuan tentang etiologi dan riwayat alamiah dari tipe kanker adalah  penting pada perencanaan keperawatan pasien dan pada evaluasi kemajuan, prognosis, dan

keluhan fisik pasien.

DATA DASAR PENGKAJIAN PASIEN

Aktivitas/istirahat

Gejala: Kelemahan dan/atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, misalnya nyeri, ansietas, berkeringat malam. Keterbatasan partisipasi dalam hobby, latihan. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stress tinggi.

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.

Kebiasaan: Perubahan pada tekanan darah.

Integritas ego

Gejala: Faktor stress (keuangan, pekerjaan,  perubahan peran) dan cara mengatasi stress (misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religious/spiritual).

Masalah tentang perubahan dalam penampilan, misalnya alopesia, lesi cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya,

(10)

 putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa  bersalah, kehilangan control, depresi.

Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah.

Eliminasi

Gejala: Perubahan pada pola defekasi, misalnya darah pada feses, nyeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urinarius, misalnya nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuri, sering berkemih. Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.

Makanan/cairan

Gejala: Kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat, tinggi lemak, adiktif, bahan pengawet). Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi makanan. Perubahan pada berat badan; penurunan berat  badan, kakeksia, berkurangnya massa otot. Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema.

Neurosensori Gejala: Pusing; sinkope.

Nyeri/kenyamanan

Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi, misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses  penyakit).

Pernapasan

Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok) Pemajanan asbes

Keamanan

Gajala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen.

(11)

Tanda: Demam. Ruam kulit, ulserasi.

Seksualitas

Gejala: Masalah seksualitas, misalnya dampak  pada hubungan, perubahan pada tingkat

kepuasan.

 Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini. Herpes genital.

Interaksi sosial

Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem  pendukung.

Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan). Masalah rentang fungsi/tanggung jawab peran.

Penyuluhan/pembelajaran

Gejala: Riwayat kanker pada keluarga, misalnya ibu atau bibi dengan kanker  payudara.

Sisi primer: penyakit primer dalam rumah tangga ditemukan/didiagnosis. Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari  primer akan memberikan informasi penting

untuk mencari metastatik.

Pemeriksaan diagnostik 

(12)

1. Scan (misalnya MRI, CT, gallium) dan ultrasound: dilakukan untuk tujuan diagnostic, identifikasi metastatik, dan evaluasi respon pada pengobatan.

2. Biopsy (aspirasi, eksisi, jarum, melubangi): dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ, dan sebagainya.

3. Penanda tumor (zat yang dihasilkan dan disekresi oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum, misalnya CEA, antigen spesifik prostat, a-fetoprotein, HCG, asam fosfat prostat, kalsitonin, antigen onkofetal pancreas, CA 15-3, CA 19-9, CA 125 dan sebagainya): dapat membantu dalam mendiagnosis kanker tetapi lebih bermanfaat sebagai prognostic dan/atau monitor terapeutik.

4. Tes kimia skrining, misalnya elektrolit (natrium, kalium, kalsium); tes ginjal (BUN/Cr); tes hepar (bilirubin, AST/SGOT alkalin fosfat, LDH); tes tulang (alkalin fosfat, kalsium) 5. JDL dengan diferensial dan trombosit: dapat menunjukan anemia, perubahan SDM dan

SDP; trombosit berkurang atau meningkat.

6. Sinar x dada: menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

Prioritas keperawatan

1. Dukungan adaptasi dan kemandirian. 2. Meningkatkan kenyamanan.

3. Memeprtahankan fungsi fisiologis optimal. 4. Mencegah komplikasi.

5. Memberikan informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan  pengobatan.

Tujuan pemulangan

1. Pasien menerima situasi denga realistis. 2.  Nyeri hilang/terkontrol.

(13)

3. Homeostatis dicapai.

4. Komplikasi dicegah/dikurangi.

5. Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

1. Cemas/takut  berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga.

1. Tujuan:

1. Klien dapat mengurangi rasa cemasnya

2. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.

3. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam  pengobatan.

2. Intervensi Keperawatan:

1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.

2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.

3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai. 4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien

mempersiapkan diri dalam pengobatan.

5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak  berdayaan.

6. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system. 7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar. 3. Rasional:

1. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi.

(14)

2. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses  penyakitnya.

3. Dapat menurunkan kecemasan klien.

4. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.

5. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.

6. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga. 7. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat. 8. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia

benar- benar di tolong.

2. Nyeri (akut)  berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping terapi kanker.

1. Tujuan:

1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas 2. Melaporkan nyeri yang dialaminya

3. Mengikuti program pengobatan

4. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin

2. intervensi Keperawatan:

1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas

2. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya

3. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV

4. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi,  bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.

5. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu. 3. Kolaboratif:

(15)

1. Disusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien.

2. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narcotik dll 4. Rasional:

1. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan. 2. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah

menyebabkan komplikasi.

3. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

4. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.

5. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.

6. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran. 7. Untuk mengatasi nyeri.

3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh)  berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekuensi kemotherapi, radiasi,  pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional

distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri. 1. Tujuan:

1. Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi

2. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat

3. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan  penyakitnya

2. Intervensi Keperawatan:

1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.

2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat  badan.

(16)

3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar  parotis.

4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.

5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.

6. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.

7. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan. 8. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami

klien. 3. Kolaboratif:

1. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin

2. Berikan pengobatan sesuai indikasi Phenotiazine, antidopaminergik, corticosteroids, vitamin khususnya A, D, E dan B6, antacida

3. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

4. Rasional:

1. Memberikan informasi tentang status gizi klien.

2. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.

3. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk. 4. Kalori merupakan sumber energi.

5. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan  penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat

meningkatkan ansietas.

6. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.

(17)

8. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).

9. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat  perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.

10. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping, meningkatkan status kesehatan klien.

11. Mempermudah intake makanan/minuman dengan hasil yang maksimal dan sesuai kebutuhan.

4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan  berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif.

1. Tujuan:

1. Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan  pada tingkatan siap.

2. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut.

3. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam  pengobatan.

4. Bekerjasama dengan pemberi informasi. 2. Intervensi Keperawatan:

1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.

2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan  pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.

3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.

4. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur  pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.

5. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.

(18)

7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin,  perhatikan adanya eritema, ulcerasi.

8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut. 3. Rasional:

1. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.

2. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian.

3. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.

4. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan. 5. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai

 penyakit klien.

6. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.

7. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.

8. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

5. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemoterapi dan radiasi/radiotherapi.

1. Tujuan:

1. Membran mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi

2. Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.

3. Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga mulut.

2. Intervensi Keperawatan:

1. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik.

2. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.

(19)

3. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygiene.

4. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, makanan keras.

5. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral. 3. Kolaboratif:

1. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi

2. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash preparation.

3. Kultur lesi oral. 4. Rasional:

1. Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.

2. Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman.

3. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut dan gigi.

4. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran mukosa. 5. Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda

tersebut.

6. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi.

7. Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik.

8. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.

6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake.

1. Tujuan:

1. Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilary refill normal, urine output normal.

(20)

1. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.

2. Timbang berat badan jika diperlukan.

3. Monitor vital sign. Evaluasi pulse peripheral, capilary refill.

4. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan  pada klien.

5. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.

6. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan petekie.

7. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah. 3. Kolaboratif:

1. Berikan cairan IV bila diperlukan. 2. Berikan therapy antiemetik.

3. Monitor hasil laboratorium: Hb, elektrolit, albumin. 4. Rasional:

1. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia. 2. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada

ketidakseimbangan cairan.

3. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi. 4. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya

hipovolemia.

5. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

6. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan. 7. Mencegah terjadinya perdarahan.

8. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang. 9. Mencegah/menghilangkan mual muntah. 10. Mengetahui perubahan yang terjadi.

7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.

(21)

1. Tujuan:

1. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan  pencegahan infeksi.

2. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka  berlangsung normal.

2. Intervensi Keperawatan:

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Batasi  pengunjung.

2. Jaga personal hygine klien dengan baik. 3. Monitor temperatur.

4. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi.

5. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur. 3. Kolaboratif:

1. Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets. 2. Berikan antibiotik bila diindikasikan. 4. Rasional:

1. Mencegah terjadinya infeksi silang.

2. Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup. 3. Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi. 4. Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi.

5. Mencegah terjadinya infeksi.

6. Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi.

7. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.

8. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual  berhubungan dengan defisit  pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan,  penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.

1. Tujuan:

1. Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan terapi terhadap seksualitas

(22)

2. Intervensi:

1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya.

2. Berikan advis tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya.

3. Berikan privacy kepada klien dan pasangannya. Ketuk pintu sebelum masuk.

3. Rasional:

1. Meningkatkan ekspresi seksual dan meningkatkan komunikasi terbuka antara klien dengan pasangannya.

2. Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual yang dihadapinya. 3. Memberikan kesempatan bagi klien dan pasangannya untuk

mengekspresikan perasaan dan keinginan secara wajar.

9. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit  berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, defisit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

1. Tujuan:

1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik

2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan  penyembuhan

2. Intervensi Keperawatan:

1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.

2. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal. 3. Ubah posisi klien secara teratur.

4. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

3. Rasional:

1. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.

2. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.

(23)

4. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki B Purnomo, Dasar-dasar Urologi.Edisi kedua, cetakan ketiga, CV. Sagung Seto: Jakarta 2007.

2. Carpenito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 2001.

3. Danielle Gale & Jane Charette, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 2000.

4. Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan  Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta,

1999.

5. Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Edisi VI, Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1996.

6. Long Barbara C.  Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung, 1996

7. Price A. Sylvia & Wilson M. Lorraine, Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit , Edisi 4, Buku II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1995.

8. Robbins Stanley L,  Buku Saku  Dasar Patologi Penyakit , Edisi 5, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1996.

9. Suzanne. C. Smeltzer & Brenda.G.Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2001.

(24)

Teknik Relaksasi Nafas Dalam Oleh : Niken Jayanthi, S.Kep A. Pengertian

Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini  perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat

(menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002).

(25)

B. Tujuan

Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru,

meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

C. Prosedur teknik relaksasi napas dalam menurut P riharjo (2003)

Bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang

mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi.

Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut : 1) Ciptakan lingkungan yang tenang

2) Usahakan tetap rileks dan tenang

3) Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3 4) Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan  bawah rileks

5) Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali

6) Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan 7) Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks

8) Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam 9) Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri

10) Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang 11) Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.

12) Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu :

1) Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh

 peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic.

2) Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002)

3) Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat

Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu.

Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi sistem syaraf otonom yang merupakan bagian dari sistem syaraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti  bradikinin, prostaglandin dan substansi, akan merangsang syaraf simpatis sehingga

menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8 Vol.1. Alih Bahasa : Agung waluyo. Jakarta. EGC.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :