DIA?
Guy de Maupassant
Dia?
Diterjemahkan dari Lui? karangan Guy de Maupassant terbit tahun 1883
(Hak cipta dalam Domain Publik) Penerjemah : Ilunga d’Uzak Penyunting : Kalima Insani Penyelaras akhir : Bared Lukaku Penata sampul : Bait El Fatih Diterbitkan dalam bentuk e-Book oleh:
RELIFT MEDIA
Jl. Amil Sukron No. 47 Kec. Cibadak Kab. Sukabumi Jawa Barat 43351
SMS : 0853 1179 4533 Surel : [email protected] Situs : reliftmedia.com
Pertama kali dipublikasikan pada: November 2016 Revisi terakhir:
-Copyright © 2016 CV. RELIFT
Hak kekayaan intelektual atas terjemahan dalam buku ini adalah milik penerbit. Dilarang mengutip dan/atau memperbanyak seluruh atau sebagian isi buku ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
Buku ini adalah karya fiksi. Semua nama, karakter, bisnis, organisasi, tempat, peristiwa, dan kejadian hanyalah imajinasi penulis. Segala kemiripan dengan seseorang, hidup atau mati, peristiwa, atau lokasi kejadian hanyalah kebetulan belaka.
Ebook ini adalah wujud kesungguhan kami dalam proyek penerjemahan sastra klasik asing. Kami menyebutnya RELIFT: Mengangkat Kembali, dari masa lalu untuk masa kini hingga masa
depan. Pembaca dapat turut mendukung kami dengan mengklik iklan sponsor di situs dan blog kami.
AU bilang kau tak bisa memahaminya, dan aku percaya.
Kau pikir aku hilang akal? Mungkin ya, tapi untuk alasan selain yang kau bayangkan, sobat.
K
Ya, aku akan menikah, dan akan kuceritakan apa yang membuatku mengambil langkah itu.
Boleh kutambahkan, aku tidak tahu banyak tentang gadis yang akan jadi isteriku besok; baru empat atau lima kali kami bertemu. Aku tahu, tak ada yang tidak menyenangkan darinya, dan itu cukup untuk rencanaku. Dia mungil, langsat, dan begap; jadi pasti lusa aku akan menginginkan wanita jangkung, gelap, kurus.
Dia tidak kaya, dari golongan menengah. Dia gadis yang dapat kau jumpai rata-rata, cocok untuk ikatan pernikahan, tanpa cela kentara, dan tanpa kualitas mencolok. Orang-orang berpendapat tentangnya:
“Mlle. Lajolle gadis yang sangat baik,” dan besok mereka akan bilang: “Sungguh wanita yang sangat baik Madame Raymon ini.” Pendek kata, dia termasuk gadis-gadis kebanyakan yang disenangi seorang pria untuk jadi isterinya, sampai tiba momen ketika pria tersebut merasa lebih menyukai semua wanita lain dibanding wanita yang telah dinikahinya.
“Well,” kau akan bilang padaku, “lantas kenapa kau menikah?” Aku enggan memberitahukan alasan aneh dan mustahil yang terus mendorongku kepada tindakan bodoh ini; namun faktanya aku takut sendirian.
Entah bagaimana mengatakannya padamu atau membuatmu mengerti, tapi kondisi pikiranku begitu buruk; kau pasti akan
mengasihaniku dan menganggapku hina.
Aku tak mau lagi sendirian di malam hari. Aku ingin merasa ada seseorang di dekatku, menyentuhku, seorang makhluk yang bisa bicara dan mengatakan sesuatu, tak peduli apapun itu.
Aku ingin bisa membangunkan seseorang di sampingku, agar aku bisa menanyakan suatu pertanyaan mendadak, bahkan pertanyaan konyol, kalau aku mau, agar aku bisa dengar suara manusia, dan merasa ada suatu jiwa terjaga di dekatku, seseorang yang nalarnya bekerja; agar ketika tergesa-gesa menyalakan lilin, aku dapat melihat wajah manusia di sisiku—karena—karena—aku malu mengakuinya—karena aku takut sendirian.
Oh, kau belum mengerti.
Aku tidak takut bahaya apapun; andai seorang pria masuk ke dalam kamar, pasti kubunuh dia tanpa gentar. Aku tidak takut hantu, pun tidak percaya supranatural. Aku tidak takut orang mati, sebab aku percaya pada pembinasaan total setiap makhluk yang lenyap dari muka bumi ini.
Well—ya, well, ini harus diungkapkan: aku takut pada diriku
sendiri, aku takut akan sensasi ketakutan yang mengerikan dan sulit dimengerti.
Kau boleh tertawa, kalau mau. Ini buruk, dan aku tak sanggup mengatasinya. Aku takut tembok, perabot, benda familiar; yang digerakkan, menurutku, oleh sejenis kehidupan hewan. Terutama, aku takut pada pikiran seramku sendiri, nalarku, yang seolah-oleh hendak meninggalkanku, diusir oleh penderitaan misterius dan gaib.
Mulanya aku merasakan kegusaran samar dalam akalku, yang membuat seluruh tubuhku merinding. Kutengok sekeliling, dan tentu saja tak terlihat apa-apa, padahal kuharap ada sesuatu di sana, apa saja, asalkan berwujud. Aku ketakutan hanya karena aku tak paham terorku sendiri.
Jika aku bicara, aku takut dengan suaraku sendiri. Jika aku berjalan, aku takut dengan entah apa, di balik pintu, di balik gorden, di dalam lemari makanan, atau di kolong ranjang, tapi selama itu pula aku tahu tidak ada apa-apa di manapun, lalu aku berbalik tiba-tiba karena aku takut dengan apa yang ada di belakangku, padahal tidak ada apa-apa, dan aku tahu itu.
Aku jadi goyah. Aku merasa ketakutanku bertambah-tambah, jadi aku mengunci diri di dalam kamar, naik ke tempat tidur, dan bersembunyi di bawah selimut. Di sana, meringkuk, bergulung, kupejamkan mata dalam keputusasaan, dan tetap seperti itu untuk waktu tak terbatas. Aku ingat lilin masih menyala di atas meja di samping ranjang, dan harus dipadamkan, tapi—aku tak berani.
Buruk sekali, bukan, menjadi seperti itu?
Dulu-dulu aku tak merasakan semua itu. Aku pulang cukup tenang, dan mondar-mandir di apartemenku tanpa ada sesuatu yang mengusik kedamaian pikiranku. Andai seseorang menyebutku terserang penyakit—habis, mau disebut apa lagi—penyakit ketakutan paling mustahil, penyakit demikian konyol dan buruk, aku pasti langsung tertawa. Dulu aku tak pernah takut membuka pintu dalam gelap. Aku pergi tidur perlahan-lahan, tanpa menguncinya, dan tak pernah terbangun di tengah malam untuk
memastikan segalanya tertutup rapat.
Itu berawal tahun lalu dengan cara sangat aneh, pada suatu malam musim gugur yang lembab. Setelah pembantuku meninggalkan kamar, sehabis aku makan malam, aku bertanya-tanya apa yang akan kukerjakan. Aku mondar-mandir di kamar beberapa lama, merasa lelah tanpa alasan, tak sanggup bekerja, dan bahkan tak ada tenaga untuk membaca. Hujan sedang turun rintik-rintik, dan aku merasa sengsara, mangsa salah satu sawan kemurungan, tanpa sebab yang jelas, yang membuat kita ingin menangis, atau bicara, tak masalah kepada siapapun, demi membuang pikiran muram.
Aku merasa sendirian, dan kamarku terasa lebih kosong daripada sebelumnya. Aku berada di tengah-tengah kesunyian ananta dan perkasa. Apa yang harus kulakukan? Aku duduk, tapi sejenis ketidaksabaran gugup menjangkiti kakiku, maka aku berdiri dan mulai berkeliling lagi. Mungkin aku agak demam, sebab kedua tanganku, yang berdekapan di belakang, sebagaimana orang-orang lakukan ketika berjalan pelan, hampir terasa saling membakar. Lalu tiba-tiba punggungku merinding, kupikir udara lembab telah menyusup ke dalam kamarku. Maka kunyalakan perapian untuk pertama kalinya tahun itu, dan kembali duduk, memandangi api. Tapi segera aku merasa tidak bisa tetap tenang. Jadi aku berdiri lagi dan memutuskan untuk pergi keluar, untuk menguasai diri, dan untuk menemukan rekan yang dapat menemani.
Aku tak bertemu siapa-siapa, jadi aku berjalan ke jalan raya untuk menjumpai kenalan atau yang lain.
Di mana-mana terasa pahit. Trotoar basah berkilauan oleh lampu gas, sementara kehangatan hujan ringan menutupi jalanan dan seolah mengaburkan cahaya lampu-lampu.
Aku terus berjalan pelan, bergumam: “Aku takkan ketemu teman bicara.”
Aku melirik ke dalam beberapa kafe, dari Madeleine hingga Faubourg Poissoniere, dan melihat banyak orang berparas sengsara sedang duduk di meja-meja. Mereka bahkan tampak tak punya sisa cukup tenaga untuk menghabiskan makanan yang dipesan.
Untuk waktu lama aku keluyuran tanpa arah, dan kira-kira tengah malam aku beranjak pulang. Aku sangat tenang dan sangat letih. Penjaga rumah langsung membukakan pintu, yang cukup tak biasa baginya; aku mengira pemondok lain baru saja masuk.
Saat pergi keluar aku selalu mengunci ganda pintu kamarku. Nyatanya itu hanya ditutup. Aku jadi heran. Tapi aku menduga ada kiriman surat untukku malam itu.
Aku masuk, dan kudapati perapian masih menyala hingga menerangi kamar sedikit. Sewaktu mengambil sebatang lilin, kuperhatikan ada seseorang duduk di kursi lengan dekat perapian, menghangatkan kakinya, membelakangiku.
Aku tidak ketakutan sedikitpun. Aku pikir, wajar saja, seorang teman atau lainnya datang berkunjung. Tak salah lagi, penjaga pintu, yang kuberitahu tentang kepergianku, telah meminjamkan kuncinya pada orang ini. Seketika aku ingat semua kondisi kepulanganku, bagaimana pintu jalan dibuka segera, dan bahwa pintuku sendiri cuma dipalang, tidak dikunci.
Aku tak bisa melihat temanku selain kepalanya, dan dia pasti tertidur selagi menungguku. Jadi aku mendekat untuk membangunkannya. Aku melihatnya cukup jelas; lengan kanannya bergelantung ke bawah dan dua kakinya bersilang; posisi kepalanya, yang miring ke sebelah kiri kursi, mengindikasikan dia tertidur. “Siapa gerangan?” tanyaku dalam hati. Aku tak bisa melihat jernih, karena kamar agak gelap, jadi kuulurkan tangan untuk menyentuh pundaknya, dan justru bersentuhan dengan sandaran kursi. Tak ada siapa-siapa di situ; kursi itu kosong.
Aku agak terperanjat ketakutan. Sejenak aku mundur seolah-olah berhadapan dengan suatu bahaya dahsyat; lalu aku berbalik, didorong oleh posisi tegak angkuh, terengah ketakutan, sangat terkesima, sampai-sampai tak mampu menenangkan pikiran, dan siap pingsan.
Tapi aku orang yang santai, dan segera pulih. Aku berpikir: “Ini cuma halusinasi, itu saja,” dan aku mulai merenungkan fenomena ini. Pikiran-pikiran melesat cepat di momen seperti itu.
Aku baru mengalami halusinasi, itu fakta yang tak usah dipersoalkan. Akalku waras dan berfungsi normal dan logis, jadi tak ada masalah dengan otak. Matakulah yang terkecoh; mataku baru mendapat pandangan ilusi, pandangan yang menggiring rakyat biasa untuk percaya mukjizat. Itu perampasan alat optik secara senéwen, tidak lebih; mataku agak tersumbat, jangan-jangan.
Saat membungkuk ke perapian untuk menyalakan lilin, kuperhatikan tubuhku gemetar, dan aku berdiri terperanjat seolah
ada yang menyentuhku dari belakang. Aku sama sekali tidak tenang.
Aku mondar-mandir sebentar, dan menyenandungkan satu atau dua lagu. Lalu aku mengunci ganda pintu kamarku dan merasa lebih tenteram. Kini, bagaimanapun, tak ada yang bisa masuk.
Aku duduk lagi dan memikirkan petualanganku untuk waktu lama; lalu aku naik ke tempat tidur dan memadamkan pelita.
Selama beberapa menit semua berjalan lancar; aku berbaring tengadah, tapi segera hasrat tak tertahankan mencengkeramku untuk menengok sekeliling kamar, dan aku bolak-balik di atas pinggangku.
Perapian hampir padam, dan beberapa bara pijar menyorotkan cahaya redup ke lantai dekat kursi, di mana aku kembali merasa melihat orang itu sedang duduk.
Buru-buru kunyalakan korek, tapi aku keliru; tak ada apa-apa di situ. Namun aku bangkit, dan menyembunyikan kursi di belakang ranjang, dan berusaha tidur, karena kini kamar sudah gelap. Tapi selama lebih dari lima menit aku belum lupa, sewaktu bermimpi melihat semua pemandangan yang sebelumnya kusaksikan, sangat jernih, seolah itu nyata. Aku bangun terkaget. Usai menyalakan lilin, aku duduk tegak di ranjang, tanpa berani mencoba tidur lagi.
Namun, dua kali tidur menguasaiku beberapa saat, dan dua kali kulihat hal yang sama lagi, sampai aku merasa akan gila. Ketika fajar datang, kupikir aku sudah sembuh, lantas tidur damai sampai tengah hari.
Itu semua masa lalu dan sudah lewat. Aku habis demam, habis bermimpi buruk. Entah apa. Bahkan aku habis sakit, tapi merasa sangat tolol.
*****
Aku menikmati malam itu bukan kepalang. Aku makan malam di restoran dan pergi ke teater, terus pulang. Tapi sewaktu mendekati rumah, sekali lagi aku dicengkeram oleh perasaan resah yang aneh. Aku takut melihatnya lagi. Aku tak takut padanya, tak takut akan keberadaannya, yang tidak kupercayai; tapi aku takut terkecoh lagi. Aku takut dengan halusinasi baru, takut dirasuki ketakutan.
Lebih dari satu jam aku mondar-mandir di trotoar. Lantas, merasa terlalu konyol, aku pulang. Nafasku begitu berat sampai-sampai aku nyaris tak sanggup naik ke lantai atas, dan tetap berdiri di luar pintu lebih dari sepuluh menit. Lalu tiba-tiba aku mendapat dorongan keberanian, dan kemauanku timbul. Kusisipkan kunci ke dudukannya, dan masuk ke dalam apartemen sambil memegang lilin. Kutendang pintu kamar tidur, yang terbuka sebagian, lalu melirik cemas ke arah perapian. Tak ada apa-apa di situ. Ah! Sungguh lega dan senang! Selamat! Aku mondar-mandir cepat dan nekat, tapi aku tidak tenteram sama sekali, dan terus-terusan berbalik terperanjat; bayangan di sudut-sudut menggelisahkanku.
Tidurku tidak nyenyak, dan senantiasa diusik oleh suara-suara khayali, tapi aku tidak melihat dia; tidak, itu semua sudah lewat.
Sejak saat itu aku takut sendirian di malam hari. Aku merasa 12
hantu itu ada di sana, dekat denganku, di sekitarku; tapi ia belum menampakkan diri lagi.
Lagipula andaikan ya, apa pentingnya, mengingat aku tak percaya hantu, dan aku tahu itu bukan apa-apa?
Namun, ia masih membuatku risau, karena aku terus kepikiran tentangnya. Lengan kanannya bergelantung ke bawah dan kepalanya miring ke sebelah kiri seperti orang yang ketiduran— aku tak mau memikirkan itu!
Tapi kenapa aku begitu terasuki pemikiran ini? Kakinya dekat dengan perapian!
Dia menghantuiku; ini konyol sekali, siapa dan apa dia? Aku tahu dia tidak eksis kecuali dalam khayalan pecundangku, dalam ketakutanku, dan dalam penderitaanku. Nah—sudah cukup!
Ya, tidak masalah jika aku berunding dengan diriku, mengeraskan tekadku, begitu kira-kira; tapi aku tak sanggup tinggal di rumah karena aku tahu dia ada di sana. Aku tahu aku takkan melihatnya lagi; dia takkan menampakkan diri lagi; itu sudah lewat. Tapi dia ada di sana, sama saja, di dalam pikiranku. Dia tetap gaib, tapi itu tak mencegah keberadaannya di sana. Dia ada di balik pintu-pintu, di dalam lemari makanan tertutup, di dalam lemari baju, di kolong ranjang, di setiap sudut gelap. Jika kubuka pintu atau lemari makanan, jika kubawa lilin untuk mengintip ke kolong ranjang dan kuarahkan pelita ke tempat-tempat gelap, dia tak lagi di sana, tapi aku merasa dia di belakangku. Aku berbalik, yakin bahwa aku takkan melihatnya, bahwa aku takkan pernah melihatnya lagi; tapi tetap saja dia ada di
belakangku.
Ini konyol sekali, ini buruk; tapi apa yang harus kuperbuat? Aku tak punya pilihan.
Tapi jika ada dua orang di tempat itu, aku yakin dia takkan lagi ada di sana, sebab dia ada justru karena aku sendirian, semata dan sekadar karena aku sendirian!