• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. 2001:106). Sementara itu Riyanto (2001:285) menyatakan bahwa pasar modal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. 2001:106). Sementara itu Riyanto (2001:285) menyatakan bahwa pasar modal"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pasar Modal

Pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi) maupun modal sendiri (saham) yang diterbitkan pemerintah dan perusahaan swasta (Husnan, 2001:106). Sementara itu Riyanto (2001:285) menyatakan bahwa pasar modal adalah pasar dalam pengertian abstrak yang mempertemukan calon pemodal (investor) dengan emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga di pasar modal) yang membutuhkan dana jangka panjang. Handaru et al (2009:113) menyatakan bahwa pasar modal adalah organized market yang memperdagangkan saham dan obligasi dengan mengunakan jasa pialang dan underwriter.

2.1.2 Investasi

Investasi menurut Harianto dan Sudomo (2009:52) diartikan sebagai suatu kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih dari satu aset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan atau peningkatan nilai investasi. Hartono (2007:93) membagi investasi menjadi dua yaitu investasi langsung dan investasi tak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara

(2)

atau dengan cara lain, sedangkan investasi tak langsung dilakukan dengan membeli surat-surat berharga dari perusahaan investasi.

2.1.3 Agency Theory

Pada agency theory principal adalah pemegang saham dan agen adalah manajemen yang mengelola perusahaan.Dalam manajemen keuangan, tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan kemakmuran pemiliknya atau pemegang saham.Maka manajer yang diangkat oleh pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan pemegang saham.Namun ternyata sering terjadi konflik antara manajemen dan pemegang saham.Konflik ini disebabkan karena adanya kepentingan antara manajer dan pemegang saham.

Teori keagenan menekankan pada penentuan pengaturan kontrak yang efisien dalam hubungan pemilik dengan agen.Kontrak yang efisien merupakan kontrak yang jelas untuk masing-masing pihak yang berisi tentang hak dan kewajiban, sehingga dapat meminimalkan konflik keagenan (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).

Hubungan keagenan dapat menimbulkan masalah pada saat pihak-pihak yang bersangkutan mempunyai tujuan yang berbeda.Agency problem lahir dari adanya pemisahan antara manajemen dan penyandang dana, dimana manajer berusaha untuk meningkatkan insentif mereka dalam rangka memakmurkan dirinya dan mengabaikan tugas utamanya yaitu memaksimumkan kemakmuran pemilik. Herawaty (2008) menyatakan bahwa konflik kepentingan antara pemilik (investor) dengan manajer (agen) muncul ketika pemilik modal menghendaki bertambahnya kekayaan dan kemakmuran para pemilik modal, sedangkan

(3)

manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan bagi para manajer. Pemilik ingin memaksimalkan return dan harga sekuritas dari investasinya, namun manajer mempunyai kebutuhan psikologis dan ekonomi yang luas, termasuk memaksimalkan kompensasinya (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).

Konflik agensi tersebut mengakibatkan adanya sifat opportunistic dari manajemen yang akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan kepada para pemakainya seperti para investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang di masa yang akan datang (Herawaty, 2008).

2.1.4 Trade off Theory

Teori ini menganggap bahwa penggunaan utang 100 persen sulit dijumpai.Kenyataannya semakin banyak utang, maka semakin tinggi beban yang harus ditanggung.Satu hal yang penting bahwa dengan meningkatnya utang, maka semakin tinggi probabilitas kebangkrutan.Beban yang harus ditanggung saat menggunakan utang yang lebih besar adalah biaya kebangkrutan, biaya keagenan, beban bunga yang semakin besar dan sebagainya.

2.1.5 Pecking Order Theory

Teori pecking order menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan dimana para manajer pertama kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan, utang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir. Penggunaan utang lebih disukai karena biaya yang dikeluarkan untuk utang lebih murah dibandingkan dengan biaya penerbitan saham.Pecking order theory menjelaskan, umumnya perusahaan lebih menyukai modal sendiri yang berasal dari dalam perusahaan daripada modal

(4)

sendiri yang berasal dari luar perusahaan (hutang).Dikarenakan perusahaan-perusahaan yang profitable (menguntungkan) umumnya meminjam dalam jumlah yang sedikit. Hal tersebut bukan karena perusahaan mempunyai target debt ratio yang rendah, tetapi karena memerlukan external financing yang sedikit. Sedangkan perusahaan yang kurang profitable cenderung mempunyai utang yang lebih besar karena dana internal tidak cukup dan utang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai.

2.1.6 Obligasi

1. Pengertian Obligasi

Menurut Sulistyastuti (2002:55) yang dimaksud dengan obligasi (bond) adalah sekuritas berpendapatan tetap (fixed income securities) yang diterbitkan sehubungan dengan perjanjian hutang.Sebagai sekuritas pendapatan tetap, obligasi memberikan penghasilan secara rutin. Obligasi memiliki karakteristik sebagaimana karakteristik sekuritas pendapatan tetap (fixed income securities) lainnya, yaitu:

a. Surat berharga yang mempunyai kekuatan hukum, b. Memiliki jangka waktu tertentu atau masa jatuh tempo, c. Memberikan pendapatan tetap secara periodik,

d. Ada nilai nominal. Nilai nominal obligasi disebut juga nilai pari, par value, stated value, face value, atau nilai kopur.

Empat ketentuan yang menjadi daya tarik obligasi:

1) Emiten membayar bunga dalam jumlah tertentu yang dibayar secara reguler. 2) Emiten akan membayar kembali pinjaman tersebut dengan tepat waktu.

(5)

3) Obligasi mempunyai jatuh tempo yang telah ditentukan ketika obligasi habis masanya dan pinjaman harus dibayar penuh padanilai nominal.

4) Tingkat bunga kompetitif, dapat dibandingkan dengan keuntungan yang didapat investor dari tempat lain.

Adanya pengetatan prosedur pinjaman di lembaga perbankan menyebabkan pihak perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk ekspansi bisnis atau melakukan pelunasan hutangnya mulai melirik instrumen obligasi sebagai salah satu alternatif penggalangan dana. Beberapa alasan di antaranya adalah penerbitan obligasi lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan melakukan prosedur pinjaman bank.Selain itu, tingkat suku bunga obligasi bisa dibuat lebih menguntungkan bagi perusahaan dibandingkan tingkat suku bunga pinjaman dari bank yang cenderung meningkat. Dalam melakukan pembelian obligasi, investor di pasar modal itu sendiri bisa mendapatkan keuntungan, yakni mendapatkan tingkat suku bunga (kupon), selain itu bisa menghasilkan pendapatan atas kenaikan nilai nominal obligasi ke harga premium tersebut di pasar sekunder.

Melakukan investasi obligasi selain menghasilkan kupon juga memberikan tingkat potensi risiko investasi.Risiko ini bisa berbentuk wan prestasi (default) atas pembayaran kupon obligasi tersebut. Selain itu risiko yang paling ditakuti, yakni apabila pihak penerbit obligasi (emiten), karena kondisi perusahaannya mengalami likuidasi, tidak mampu membayar kewajiban pokok utangnya. Investor obligasi jangka pendek bisa juga mengalami kerugian akibat nilai pasar dari obligasi tersebut turun atau lebih rendah daripada harga beli obligasi tersebut.

(6)

Santoso (2008:201) menyatakan bahwa investor yang punya sifat konservatif cenderung melakukan investasi di pasar obligasi yang cenderung lebih aman dan tidak fluktuatif. Pelaku investasi obligasi sekarang ini didominasi oleh lembaga dana pensiun, lembaga asuransi, manajer investasi pengelola reksadana yang lebih mengutamakan keamanan atas dana yang diinvestasikannya. Dalam struktur keuangan perusahaan, obligasi mempunyai urutan lebih diutamakan daripada saham untuk mendapatkan haknya apabila perusahaan melakukan likuidasi (Rahardjo, 2003:52).

Sementara obligasi mempunyai urutan senioritas ketiga. Urutannya adalah sebagai berikut (Rahardjo, 2003:64): pajak pemerintah, utang jangka pendek, obligasi (utang jangka panjang), kemudian preffered stock dan yang terakhir adalah common stock. Oleh karena itu, pemegang obligasi lebih dipentingkan daripada pemegang saham perusahaan publik apabila menuntut hak pembayaran pada saat perusahaan mengalami pailit. Setelah hak pemegang pemegang obligasi terpenuhi maka baru dipenuhi hak pemegang preffered stock dan common stock (Robbert, 2000:34).

2. Risiko-risiko pada Investasi Obligasi

Dalam investasi obligasi, seringkali terdapat risiko. Risiko-risiko dalam investasi obligasi antara lain:

a. Risiko tingkat bunga pasar (market interest rate risk)

Risiko ini merupakan sumber resiko bagi investor pada efek pendapatan tetap.Hal ini disebabkan tingkat bunga pasar yang memicu ketidakstabilan harga pasar obligasi.

(7)

b. Risiko daya beli (purchasing power risk)

Risiko daya beli ini sangat dipengaruhi oleh inflasi suatu negara. Pada tingkat inflasi yang rendah, return atas obligasi akan menjadi baik pula. Tetapi jika tingkat inflasi yang cukup tinggi, kemungkinan besar return akan habis atau bahkan negatif karena harus menyerap tingkat inflasi yang tinggi itu, dengan demikian akan menurunkan daya beli.

c. Risiko wan prestasi (default risk)

Risiko yang terjadi karena ketidakmampuan issuer dalam membayar kewajibannya baik bunga maupun pokoknya, bahkan kelalaian atau keterlambatan pembayaran.

d. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Risiko likuiditas obligasi yang dimiliki ini sangat penting, sebab jika suatu obligasi tidak likuid, maka proses pencairan menjadi uang kas akan terhambat. Inilah yang akan mempengaruhi struktur keuangan.

e. Risiko jangka waktu jatuh tempo (maturity risk)

Makin panjang suatu jangka waktu jatuh tempo obligasi, maka makin labil harga pasar obligasi yang bersangkutan. Karena dengan maturity yang semakin panjang, maka proyeksi terhadap suatu komponen tertentu akan semakin panjang.

f. Risiko mata uang (currency risk)

Risiko ini dihadapi oleh investor yang membeli obligasi dalam nominal mata uang asing.Resiko yang dihadapi adalah kerugian atas perbedaan nilai tukar mata uang asing dengan mata uang lokal.

(8)

g. Risiko call (call risk)

Risiko call adalah resiko yang dihadapi oleh investor obligasi karena penerbit obligasi dapat melaksanakan haknya untuk menebus obligasi tersebut sesuai dengan aturan yang digariskan dalam kontrak. Resiko ini terdapat pada obligasi yang bersifat callable.

h. Risiko politik (political risk)

Situasi politik suatu negara dimana issuer berdomisili.Ini merupakan faktor yang sangat menentukan kelancaran usaha issuer yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja perusahaan.Kinerja perusahaan yang tidak baik dapat menjurus ke default risk.

i. Risiko sektor industri (industry sector risk)

Pertumbuhan sektor industri dari issuer secara makro akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang proyeksi pertumbuhan issuer. Jika pertumbuhan sektor industri mengalami penurunan, maka secara langsung juga akan mempengaruhi kinerja perusahaan serta tingkat harga pasar obligasi. 3. Kelebihan Obligasi

Menurut Sunariyah (2004) terdapat kelebihan dan kelemahan pada obligasi. Beberapa kelebihan obligasi diantaranya:

a. Tingkat bunga obligasi bersifat konstan.

Konstan disini dimaksudkan bahwa bunga obligasi tidak dipengaruhi oleh harga pasar obligasi.

(9)

Dalam kontrak perjanjian sudah ditentukan secara pasti hak-hak yang akan diterima pemegang obligasi. Apabila dibandingkan dengan saham, return saham sangat bervariasi karena dividen saham sangat tergantung pada laba perusahaan.

c. Mampu melindungi pemegang obligasi dari resiko kemungkinan terjadinya inflasi.

Investasi pada perusahaan yang mempunyai resiko tinggi, sedangkan tingkat likuiditasnya bagus, pemodal dapat mengatasi masalah inflasi apabila tingkat bunga obligasi lebih tinggi daripada tingkat inflasi.Sehingga kekuatan beli tidak mengalami penurunan.

d. Obligasi dapat digunakan sebagai agunan kredit bank dan untuk membeli instrumen aktiva lain.

4. Obligasi Berdasarkan Peringkatnya

a. Investment grade Bonds: peringkat minimal BBB. Adalah obligasi yang layak untuk dijadikan investasi dan memiliki risiko yang tidak terlalu besar. b. Non Invetsment grade Bonds: dengan peringkat CC atau spekulatif dan D

atau junk bond. Adalah obligasi yang memiliki peringkat dibawah investment grade. Disebut junk karena obligasi ini lebih berisiko dari obligasi yang berkategori investment grade.

5. Penerbit Obligasi

Penerbit obligasi ini sangat luas sekali, hampir setiap badan hukum dapat menerbitkan obligasi, namun peraturan yang mengatur mengenai tata cara penerbitan obligasi ini sangat ketat sekali.

(10)

Penggolongan penerbit obligasi biasanya terdiri atas:

a. Lembaga supranasional, seperti misalnya Bank investasi Eropa (European investment bank) atau bank pembangunan Asia (Asian development bank), b. Pemerintah suatu Negara menerbitkan obligasi pemerintah dalam mata uang

negaranya maupun obligasi pemerintah dalam denominasi valuta asing yang biasa disebut dengan obligasi internasional (sovereign bond),

c. Sub-sovereign, propinsi, Negara atau otoritas daerah. Di Amerika dikenal sebagai obligasi daerah (municipal bond). Di Indonesia dikenal sebagai Surat Utang Negara (SUN),

d. Lembaga pemerintah. Obligasi ini biasa juga disebut agency bond, atau agencies.

e. Perusahaan yang menerbitkan obligasi swasta.

f. Special purpose vehicle adalah perusahaan yang didirikan dengan suatu tujuan khusus guna menguasai aset tertentu yang ditujukan guna penerbitan suatu obligasi yang biasa disebut Efek Beragun Efek.

6. Peringkat Obligasi

Peringkat merupakan sebuah pernyataan tentang keadaan penghutang dan kemungkinan apa yang bisa dan akan dilakukan sehubungan dengan hutang yang dimiliki. Dapat dikatakan bahwa peringkat mencoba mengukur risiko kegagalan, yaitu peluang emiten atau peminjam akan mengalami kondisi tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan (Rosten, 2005:92), peringkat obligasi perusahaan memberikan petunjuk bagi investor tentang kualitas investasi obligasi yang mereka minati. Berdasarkan definisi Peringkat PEFINDO adalah sebagai berikut:

(11)

Tabel 1

Peringkat Obligasi Berdasar PEFINDO

Peringkat Keterangan

AAA

Efek utang yang peringkatnya paling tinggi dan beresiko paling rendah yang didukung oleh kemampuan obligor yang superior relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian.

AA

Efek utang yang memiliki kualitas kredit sedikit dibawah peringkat tertinggi, didukung oleh kemampuan obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian, relatif dibanding dengan entitas Indonesia lainnya. Dan tidak mudah dipengaruhi oleh perubahan keadaan.

A

Efek utang yang beresiko investasi rendah dan memiliki kemampuan dukungan obligor yang kuat dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian namun cukup peka terhadap perubahan yang merugikan.

BBB

Efek utang yang beresiko investasi cukup rendah didukung oleh kemampuan obligor yang memadai, relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan.

BB

Efek utang yang menunjukkan dukungan kemampuan obligor yang agak lemah relative dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian serta peka terhadap keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu dan merugikan.

B

Efek utang yang menunjukkan parameter perlindungan yang sangat lemah. Walaupun obligor masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya, namun adanya perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan tersebut untuk memenuhi kewajiban finansialnya.

CCC Efek utang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban finansialnya serta hanya bergantung kepada perbaikan keadaan eksternal.

D Efek utang yang macet atau emitennya sudah berhenti berusaha. Sumber: Raharja dan Sari (2008:215)

7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peringkat Obligasi

Rating obligasi membantu investor dalam penilaian hutang dan risiko kegagalan (default risk) dari obligasi.Peringkat obligasi mencoba mengukur adanya risiko kegagalan berupa ketidakmampuan emiten sebagai penghutang

(12)

dalam membayar bunga selama umur obligasi dan pelunasannya pada jatuh temponya. Penetapan rating sekuritas lembaga peringkat, seperti halnya agen peringkat internasional Standard & Poor’s(S&P’s) dan Moody’s terdapat kriteria kualitatif dan kuantitatif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi menurut Brigham dan Houston adalah sebagai berikut:

a. Berbagai macam risiko rasio-rasio keuangan, termasuk debt ratio, current ratio, profitability dan fixed charge coverage ratio. Semakin baik rasio-rasio keuangan tersebut semakin tinggi rating tersebut.

b. Jaminan aset untuk obligasi yang diterbitkan (mortage provision). Apabila obligasi dijamin dengan aset yang bernilai tinggi, maka rating pun akan membaik.

c. Kedudukan obligasi dengan jenis hutang lain. Apabila kedudukan obligasi lebih rendah dari utang lainnya maka rating akan ditetapkan satu tingkat lebih rendah dari yang seharusnya.

d. Penjamin. Emiten obligasi yang lemah namun dijamin oleh perusahaan yang kuat maka emiten diberi rating yang kuat.

e. Adanya singking fund (provisi bagi emiten untuk membayar pokok pinjaman sedikit demi sedikit setiap bulan).

f. Umur obligasi. Cateris Paribus, obligasi dengan umur yang lebih pendek mempunyai risiko yang lebih kecil.

g. Stabilitas laba dan penjualan emiten.

(13)

i. Faktor-faktor lingkungan dan tanggung jawab produk.

j. Kebijakan akuntansi. Penerapan kebijakan akuntansi yang konservatif mengindikasikan laporan keuangan yang lebih berkualitas.

2.1.7 PT. PEFINDO

PT. PEFINDO atau “PT Pemeringkat Efek Indonesia” didirikan di Jakarta pada tanggal 21 Desember 1993, atas prakarsa BAPEPAM dan Bank Indonesia. Pada tanggal 13 Agustus 1994, PT. PEFINDO memperoleh lisensi dari BAPEPAM (No. 39/PM-PI/1994) dan menjadi salah satu institusi pendukung di pasar modal Indonesia. Fungsi utama PT. PEFINDO adalah memberikan peringkat yang obyektif, independen dan dapat dipercaya terhadap risiko kredit (credit risk) sekuritas utang (debt securities) secara publik.Perusahaan ini berafiliasi dengan S&P’sdan secara aktif terus berpartisipasi dalam ASEAN Forum of Credit Rating Agencies (AFCRA), yang mendukung pengembangan dan penyempurnaan standar dimasa mendatang.Guna meningkatkan metodologi pemeringkatan yang digunakan dan kriteria dalam melakukan pemeringkatan, maka PEFINDO didukung oleh mitra global yaitu Standard & Poor’s Rating Services (S&P’s).

Disamping melaksanakan kegiatannya dalam melakukan pemeringkatan surat hutang, PEFINDO juga menerbitkan dan mempublikasikan informasi kredit sehubungan dengan pasar perdagangan efek. Publikasi ini terdiri dari opini kredit atas perusahaan-perusahaan penerbit obligasi beserta sektor aset acuannya.

(14)

PEFINDO adalah merupakan Perseroan Terbatas yang sahamnya per Desember 2006 tercatat dimiliki oleh 96 perusahaan domestik, yang terdiri dari dana pensiun, perbankan, asuransi, Bursa Efek Indonesia, dan perusahaan sekuriti. 2.1.8 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa yang akan datang dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Tingkat profitabilitas akan menggambarkan posisi laba perusahaan. Para investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan meningkatkan laba, hal ini merupakan daya tarik bagi investor dalam melakukan jual beli saham, oleh karena itu manajemen harus mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.Semakin tinggi profitabilitas perusahaan, semakin tinggi efisiensi perusahaan tersebut dalam memanfaatkan fasilitas perusahaan.Profitabilitas menunjukan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor, Soesetio, (2008).

Menurut Manurung et al, (2009) profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubunganya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas mengukur tingkat kinerja keuangan dari suatu perusahaan.Profitabilitas ini memberikan gambaran seberapa efektif perusahaan beroperasi sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Menurut Sartono (2002: 120) dalam Almilia dan Devi (2007) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Sedangkan menurut Mamduh dan

(15)

Halim (2000: 83) dalam Almilia dan Devi (2007) rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu.Profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.

Pada tingkat profitabilitas yang rendah, perusahaan menggunakan hutang untuk membiayai operasioanal sebagai mekanisme pentransfer kekayaan antara kreditur kepada principal.Sebaliknya pada tingkat profitabilitas tinggi perusahaan mengurangi penggunaan hutang. Hal ini disebabkan perusahaan mengalokasikan sebagian besar keuntungan pada laba ditahan sehingga mengandalkan sumber internal dan menggunakan hutang rendah atau dengan kata lain jika perusahaan profitable maka perusahaan tersebut cenderung mengurangi rasio hutang mereka. Indahningrum dan Handayani,(2009).

Profitabilitas merefleksikan earnings untuk pendanaan investasi.Myers (1984) dalam Indahningrum dan Handayani, (2009) menyarankan manajer untuk menggunakan pecking order untuk keputusan pendanaan.Pecking order merupakan urutan penggunaan dana untuk investasi yaitu laba ditahan sebagai pilihan pertama, kemudian diikuti oleh hutang dan ekuitas.

2.1.9 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan (Firm size) dapat menggambarkan besarnya kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan, firm size merupakan proksi bagi informasi asimetri antara perusahaan dan pasar memunculkan sinyal bahwa semakin besar perusahaan, semakin kompleks organisasinya, semakin tinggi costs of

(16)

asymmetries information sehingga lebih sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pendanaan dari eksternal (Rajan dan Zingales,1995) dalam Sugiarto (2009).

Ukuran perusahaan dapat dilihat dari total aset yang dimiliki perusahaan,

total penjualan yang dilakukan oleh perusahaan, apabila perusahaan dihadapkan

pada kebutuhan dana yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penjualan, dan dana dari sumber intern sudah digunakan semua, maka tidak ada pilihan lain bagi perusahaan untuk menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan, baik hutang maupun dengan mengeluarkan saham baru. Salah satu alasan perusahaan melakukan pinjaman karena dilihat dari total aktiva yang dijadikan jaminan lebih besar dan tingkat kepercayaan bank juga lebih tinggi. Salah satu persyaratan mengajukan pinjaman adalah adanya aktiva tetap berwujud yang dapat dijaminkan sehingga semakin besar nilai aktiva tetap berwujud yang dimiliki ada kecenderungan semakin besar pinjaman yang dapat diperoleh (Soesetio, 2008).

Dua peran ukuran perusahaan yang pertama, memiliki dampak yang berbeda pada keputusan pendanaan perusahaan.Semakin tinggi risiko produk berkaitan dengan semakin tinggi risiko pasar dan rasio hutang yang makin rendah. Hal ini berhubungan dengan static trade off theory yang menyatakan bahwa perusahaan yang lebih berisiko akan berutang lebih sedikit. Semakin besar perusahaan semakin baik aksesnya ke pasar modal, namun juga memiliki biaya meminjam yang lebih rendah.Perusahaan besar yang telah terdiversifikasi, lebih mudah untuk memasuki pasar modal, menerima penilain kredit yang lebih tinggi dari bank komersial untuk hutang-hutang yang diterbitkan dan membayar tingkat bunga yang lebih rendah dari hutangnya.

(17)

Sedangkan menurut Elton dan Gruber (1995) perusahaan-perusahaan besar kurang beresiko dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil.Brister (1994) dalam Andry (2005) mengatakan bahwa kemampuan pasar obligasi bisa dilihat berdasarkan derajat akses emiten di pasar keuangan dunia.Derajat akses adalah fungsi dari ukuran peusahaan atau ukuran besarnya nilai obligasi yang diterbitkan. Untuk menguji kemampuan pasar obligasi digunakan variabel total asset pada saat mengemisi obligasi. Semakin besar total asset maka semakin tinggi peringkat obligasi perusahaan tersebut.

2.1.11 Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan perusahaaan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat ada waktu jatuh temponya.Perusahaan yang mampu melunasi kewajibannya tepat waktu berarti perusahaan tersebut mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada kewajibannya. Likuiditas yang tinggi menunjukkan kuatnya posisi keuangan perusahaan sehingga akan mempengaruhi peringkat obligasi. Kondisi tersebut akan memudahkan perusahaan untuk menarik investor untuk melakukan investasi pada perusahaannya (Amalia, 2013:118). Salah satu rasio likuiditas yang akan digunakan dalam penelitian ini current ratio (rasio lancar). Menurut Weston dan Copeland (2005:128) current ratio (rasio lancar) merupakan rasio antara aktiva lancar terhadap kewajiban lancar.Rasio menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Biasanya aktiva lancar terdiri dari kas, surat berharga, piutang, dan persediaan. Sedangkan kewajiban lancar

(18)

terdiri dari hutang bank jangka pendek atau hutang lainnya yang mempunyai jangka waktu kurang dari satu tahun.

2.1.12 Profitabilitas dan Prediksi Peringkat Obligasi

Salah satu indikator penting diperhatikan untuk menilai peringkat obligasi di masa datang adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Indikator ini sangat penting diperhatikan untuk mengetahui investasi yang akan dilakukan investor disuatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang disyaratkan investor, salah satunya dengan menggunakan ROA (Tandelilin, 2001). Selain itu Burton (2003) menyatakan bahwa tingkat profitabilitas yang lebih tinggi menurunkan resiko insolvency (ketidakmampuan membayar hutang), akibatnya rating obligasi perusahaan tersebut akan semakin baik.

Pengukuran dari profitabilitas yang diinterpretasikan dengan ROA memberikan pandangan manajemen untuk mengendalikan pengeluaran secara efektif. Dengan demikian perusahaan diharapkan memperoleh rating yang baik untuk meningkatkan profil perusahaandan mengamankan bisnis baru mereka dimasa mendatang (Brotman, 1989 ; Bouzouita &Young, 1998 dalam Burton, 2003).

Dapat disimpulkan sesuai penelitian Mark et al (2001:240) mengatakan bahwa rasio profitabilitas yang diukur dengan ROA mempunyai pengaruh positif terhadap peringkat obligasi karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu. Apabila laba

(19)

perusahaan tinggi maka akan memberikan peringkat yang baik pula sehingga variabel ini dikatakan dapat mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.

2.1.13 Ukuran Perusahaan (Size) dan Prediksi Peringkat Obligasi

Ukuran perusahan merupakan salah satu variabel akuntansi yang mempengaruhi peringkat obligasi.Menurut Miswanto dan Husnan (1999) ukuran perusahaan dapat diukur dengan menggunakan total asset, penjualan atau ekuitas.Jika jumlah asset, penjualan atau ekuitas tersebut besar, maka logaritma terhadap jumlah tersebut digunakan untuk tujuan penelitian.Sedangkan menurut Elton dan Gruber (1995) perusahaan-perusahaan besar kurang beresiko dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil karena perusahaan kecil memiliki resiko yang lebih besar.Dan apabila semakin besar perusahaan, potensi mendiversifikasikan resiko non systematic-nya juga semakin besar sehingga membuat resiko obligasi perusahaan tersebut menurun.

Ogden (1987) dalam Andry (2005) berpendapat bahwa karena total utang dan ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang kuat dan positif, ukuran perusahaan juga bisa digunakan sebagai proksi untuk mengukur likuiditas. Pada umumnya perusahaan yang besar akan memberikan peringkat yang baik (investment grade). Disamping itu, ukuran perusahaan juga bisa mempunyai korelasi terhadap tingkat resiko kebangkrutan atau kegagalan sehingga dapat mempengaruhi perigkat obligasi.

2.1.14 Likuiditas dan Prediksi Peringkat Obligasi

Rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur

(20)

likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio).Menurut Arifin (2005:111) menyatakan bahwa perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar dari hutang lancarnya. Hal tersebut akan membawa perusahaan untuk memperoleh peringkat obligasi yang lebih baik.

Sedangkan menurut Rahardjo (2003:210) menyatakan bahwa apabila obligasi yang mempuyai likuiditas cukup tinggi maka harga obligasi cenderung tinggi, sehingga peringkat obligasi perusahaan tersebut juga akan meningkat. Sehingga dapat disimpulkan sesuai dengan penelitian Burton (2003:80) bahwa tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara finansial akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.

Menurut Sartono (2002:116), likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban financial jangka pendek tepat pada waktunya. Sedangkan menurut Mamduh dan Halim (2000:77), rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan).Analis keuangan dapat menggunakan beberapa rasio likuiditas untuk menilai apakah perusahaan mempunyai kemampuan untuk membayar kewajiban-kewajibannya yang segera jatuh tempo (Tandelilin, 2002:74).

(21)

Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio).Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya. Burton et al (2003) menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara financial akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.

2.2 Rerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan bagian dari tinjauan pustaka yang berisikan rangkuman atas semua dasar-dasar teori penelitian terdahulu yang dijadikan landasan dalam penelitian ini. Dimana dalam kerangka pemikiran ini diberikan skema singkat mengenai alur penelitian yang menggambarkan proses penelitian yang dilakukan.

(22)

Gambar 1 Rerangka Pemikiran Tinjauan Teori Tinjauan Empiris

Peringkat obligasi adalah indikator ketepatan waktu pembayaran pokok dan bunga hutang obligasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi adalah profitabilitas, ukuran perusahaan dan likuiditas. Permasalahan Apakah profitabilitas, ukuran perusahaan, dan likuiditas mempengaruhi peringkat obligasi? Variabel Bebas: - Profitabilitas - Ukuran Perusahaan - Likuiditas Variabel Terikat: Peringkat Obligasi Hipotesis Variabel profitabilitas, ukuran perusahaan dan likuiditas berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi.

SKRIPSI

Penelitian Terdahulu Mark, Peter & Kin (2001) mengatakan bahwa rasio profitabilitas yang diukur dengan ROA mempunyai pengaruh positif terhadap peringkat obligasi.

Bouzouita & Young (1998) dalam Burton (2003) menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang positif terhadap peringkat obligasi. Burton (2003) menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara finansial akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi.

(23)

Dari gambar kerangka konseptual diatas, dijelaskan bahwa variabel terikat yaitu peringkat obligasi yang dilihat berdasarkan peringkat yang dikeluarkan oleh PEFINDO, dapat dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu profitabilitas yang diukur dengan Return on Asset, ukuran perusahaan (size) yang diukur dengan log natural total aset dan likuiditas yang diukur dengan current ratio.

2.3 Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan uraian pada landasan teori tersebut di atas, maka dapat dirumuskan suatu hipotesis dari penelitian ini adalah:

H1: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur.

H2: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur.

H3: Likuiditas perusahaan berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur.

Gambar

Gambar 1  Rerangka Pemikiran Tinjauan Teori  Tinjauan Empiris

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai penelitian antropologi, maka perspektif struktural fungsional tetap saja berada dalam kawasan kajian budaya dalam kaitannya dengan struktur dan sistem

masih melakukan berbagai pemberdayaan pada masyarakatnya seperti membentuk kelompok usaha kecil dan terdapat juga berbagai hambatan dalam proses pemberdayaan

Hasil penelitian menunjukan lebih dari setengah kejadian penyakit kulit pada pekerja PTPN VIII Unit Perkebunan Teh Ciater adalah dermatitis, kurang dari setengah kejadian

Hasil yang didapat juga adanya beberapa karakter yang menonjol di cerita sejarah perang Makassar, yaitu Sultan Hasanudin, Aru Palakka dan Cornelis Janzoon Spellman

Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut diatas, terdakwa melaporkan H.Pauzi Alias Pauzi Bin Gudang kepada pihak yang berwajib (Polres Pelalawan) dengan

Gulabivala (2001) melakukan penelitian terhadap gigi molar mandibula dan mengungkapkan tujuh konfigurasi tambahan.Tipe I: tiga saluran akar yang terpisah dari

IRIS, Immune Reconstitution Inflammatory syndrome timbul sebagai reaksi pemulihan dari kekebalan terhadap antigen infeksi spesifik atau non-infeksi pada bagian pasien yang

Dari hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwa laju tumbuh daun sejak embrio dalam biji kacang merah Phaseolus vulgaris, samapai mencapai