7
II
KAJIAN TEORITIS
Mama Raja Negeri Adat di Maluku
(Studi Kasus Terhadap Eksistensi Raja Perempuan di Negeri Rumah Tiga, Soahuku dan Tananahu dalam Perspektif Jender)
Aspek budaya merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Budaya dalam hal ini adat, menjadi penopang dan pemberi makna dalam suatu masyarakat. Dalam bagian dua ini, penulis membahas eksistensi perempuan dalam negeri-negeri adat di Maluku sebagai Mama Raja, yang didahului pembahasan tentang apa itu negeri adat, kepemimpinan Raja, dan dilanjutkan dengan bahan teoritis tentang jender.
2.1. Adat
Kata adat berasal dari bahasa Arab yang artinya kebiasaan. Pendapat lain mengenai adat datang dari Cooley. Ia membagi dua pengertian adat secara umum dan khusus. Secara umum merupakan sisa-sisa agama asli yang masih terdapat secara luas, khususnya pada kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan kepercayaan pada arwah leluhur dan kekuatan gaib yang berhubungan dengan tempat-tempat dan obyek-obyek tertentu, dan lain-lain semacam itu. Secara khusus, adat adalah kebiasaan tata kehidupan
yang telah diturunkan dari para leluhur.1 Dengan demikian maka adat merupakan
kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat yang berkaitan erat dengan sistem kepercayaan. 2.1.1 Negeri Adat
Negeri adat merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang terbentuk
berdasarkan sejarah dan asal usul, hukum adat setempat serta diakui oleh Pemerintah.2
2.1.2. Raja sebagai Pemimpin
Istilah Raja sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta dan setelah itu
diperkenalkan sebelum orang Belanda tiba.3 Raja adalah gelar Kepala Pemerintahan
1 Frank L. Cooley, Mimbar dan Takhta (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), 107. 2
Pemerintah Kota, Peraturan Daerah Kota Ambon Nomor-13 tahun 2008 tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan Dan Pelantikan serta Pemberhentian Raja, BAB I (Ketentuan Umum Pasal 1), 6
8
Negeri yang merupakan unsur penyelenggaraan kesatuan masyarakat hukum adat, berfungsi mengurus hukum adat dan adat istiadat serta tugas-tugas pemerintahan sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.4 Raja-Raja yang dimaksud disini adalah
hanya satu orang dalam satu negeri dan berasal dari Soa Parenta5 yang berhak sebagai
raja, diusulkan oleh soa parenta kepada Saniri Negeri Lengkap6 untuk diproses sebagai
calon Raja sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut salah satu persyaratannya, calon Raja merupakan laki-laki atau perempuan yang berwarganegaraan Indonesia.
Menjadi Raja dalam suatu organisasi kemasyarakatan adat, berarti juga menjadi pemimpin atas masyarakat adat tersebut. Dalam sebuah organisasi kemasyarakatan, kepemimpinan seorang pemimpin menjadi faktor penting yang mendukung organisasi tersebut mencapai kesuksesan dan keberhasilan atas tujuan-tujuannya. Kartini Kartono mendefinisikan pemimpin sebagai seseorang atau pribadi yang mempunyai kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang
dipimpinnya, untuk melakukan upaya bersama demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.7
Dengan demikian, kepemimpinan menunjukan kemampuan seseorang untuk dapat mempengaruhi orang-orang dan mencapai hasil melalui himbauan emosiaonal dibandingkan dengan penggunaan kekuasaan. Selain itu, Kartini kartono juga mengungkapkan tiga hal penting yang menjadi syarat kepemimpinan. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kekuasaan atau otoritas dan legalitas untuk mempengaruhi bawahannya. Kedua, pemimpin harus memiliki kewibawaan, supaya ia mampu mengatur orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Ketiga, seorang pemimpin harus memiliki daya atau kekuatan, dan kecakapan serta keungulan secara teknis juga
sosial yang melampaui bawahannya.8
Davies dan Gunawardena mengungkapkan bahwa terdapat beberapa wilayah perbedaan anatara laki-laki dan perempuan dalam kepemimpinannya. Laki-laki lebih
concern terhadap hal-hal yang berhubungan dengan finansial dibanding perempuan yang
3
Frank L. Cooley, Mimbar dan Takhta, 225.
4 Pemerintah Kota, Peraturan Daerah Kota Ambon Nomor-13 tahun 2008 tentang Tata Cara Pencalonan,
Pemilihan, Pengangkatan Dan Pelantikan serta Pemberhentian Raja, BAB I (Ketentuan Umum Pasal 1), 4.
5
Pemerintah Kota, Peraturan Daerah, 6
6 Pemerintah Kota, Peraturan Daerah, 4 7
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, 35.
8
9
lebih berfokus terhadap orang-orang dalam lingkup pekerjaannya dan beban kerja mereka. Dalam upaya kompetitif perempuan lebih concern terhadap kerjasama dan team
work. Laki-laki lebih menginginkan status dan penghargaan berbanding terbalik dengan
perempuan.9 Schmuck juga menjelaskan bahwa, perempuan yang menjadi pemimpin juga
harus menemukan cara-cara baru untuk bertindak karena mereka tidak memenuhi ekspektasi-ekspektasi kultural sebagaimana yang dilakukan dan dipenuhi oleh laki-laki dalam peran kepemimpinan. Perempuan berperan sebagai insider dan mengadopsi peran-peran, norma-norma, sikap-sikap dan ekspektasi-ekspektasi tentang peran sebagai pemimpin. Namun, karena kondisi peran-peran jender sosial membutuhkannya, maka mereka tetap sebagai outsider karena mereka tidak merefleksikan ekspektasi-eskpektasi
kultural peran pemimpin seperti laki-laki.10
2.2. Jender
2.2.1 Pengertian Jender
Menurut Fakih, Jender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara kultural maupun sosial. Dalam Women’s Studies
Encylopedia, dijelaskan Jender merupakan suatu konsep kultural yang berupaya membuat
perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional
antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.11 Webster’s New
World Dictionary mengartikan jender sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki
dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku. Oakley12 juga mengartikan jender sebagai
perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Ia mengartikan jender sebagai
konstruksi sosial pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia13. Hal ini
dipertegas oleh Melly Tan, menurutnya jender adalah suatu konsep sosial budaya, yang digunakan untuk menggambarkan peran, fungsi, dan perilaku laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.
9 Tony Bush dan Marianne Coleman, Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan (Terjemahan),
(Jogkakarta: IRCiSoD, 2006), 98.
10
Tony Bush dan Marianne Coleman, Manajemen , 99.
11
Helen Toerney (Ed), Women’s Studies Encylopedia Vol 1 (New York: Green Wood Press, 1990), 153.
12 Beliau orang yang pertama kali mengembangkan pendekatan analisis gender untuk melihat posisi dan
kerja kaum perempuan.
10
Dengan menggunakan konsep jender, penggambaran laki-laki dan perempuan merujuk pada pemahaman bahwa identitas, peran, fungsi, pola perilaku, kegiatan, serta persepsi tentang perempuan dan laki-laki berakar dalam kekayaan budaya dan bukan
berdasarkan aspek biologis saja.14 Dapat disimpulkan bahwa jender berbeda dengan seks
yang merujuk kepada perbedaan jenis kelamin. Menurut Aan Oakley, dalam memahami
jender dengan baik diperlukan pembedaan jender dan seks.15
2.2.2 Bentuk-Bentuk Ketidak-adilan Jender
Ketidak-adilan jender banyak dijumpai di berbagai wilayah kehidupan yaitu negara, masyarakat, organisasi, gereja, dan keluarga. Ketidakadilan jender ini termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni : subordinasi, stereotip, marginalisasi, kekerasan, dan beban kerja ganda.
a. Subordinasi
Subordinasi diartikan sebagai pandangan yang menyatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang irasional dan emosional, oleh sebab itu perempuan dipandang tidak
bisa memimpin dan ditempatkan pada posisi yang tidak penting16. Subordinasi kepada
perempuan juga akan berakibat pada tidak diakuinya potensi perempuan, sehingga perempuan sulit mengakses posisi-posisi strategis dan sentral dalam komunitasnya,
terutama yang berkaitan dengan pengambilan kebijakan dan keputusan.17
b. Marginalisasi
Marginalisasi berarti menempatkan perempuan ke pinggiran. Perempuan selalu dinomorduakan apabila ada kesempatan memimpin. Marginalisasi juga berakibat
diskriminasi terhadap pembagian kerja menurut jender (jenis kelamin).18 Bentuk
marginalasi terhadap kaum perempuan tidak terjadi hanya dalam dunia pekerjaan tetapi
juga terjadi dalam rumah tangga, gereja, masyarakat dan bahkan negara19. Marginalisasi
14
Melly Tan dalam Smita Notosusono dan E. Kristi Powerwandari (ed), Perempuan dan Pemberdayaan (Jakarta: YOI, 1997), 6.
15 Ann Oakley adalah seorang sosiolog inggris yang mula-mula membedakan makna seks dan jender. Lih.
Ratna Saptri dan Briggite Holzner, Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial (Jakarta: Pustaka Grafiti, 1997), 88.
16Achmad Muthali’in, Bias Jender dalam Pendidikan (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta,
2001), 35.
17 Kasiyan, Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan (Yogyakarta: Ombak, 2008), 59-60. 18
Elison Scoot dalam Achmad Muthali’in, 34.
11
terhadap perempuan juga saling berkaitan erat maknanya dengan subordinasi.20
Maksudnya yaitu, perempuan berada di wilayah marginal secara sosial dan kultural karena posisinya yang tersubordinasi. Demikian juga sebaliknya, subordinasi yang dialami oleh perempuan di masyarakat selama ini, juga dapat berdasar dari konsep marginalisasi perempuan yang berkembang dan diyakini oleh masyarakat.
c. Stereotip
Stereotip adalah pelabelan atau penandaan negatif terhadap kelompok atau jenis
kelamin21. Sterotip ini menyebabkan ketidakadilan, diskriminasi dan ketidakadilan22.
Streotip yang bias jender adalah suatu bentuk penindasan ideologi dan kultural yakni dengan pemberian label tertentu yang memojokan kaum perempuan. Label tertentu, dan pada kondisi tertentu menjadikan perempuan terpojok dan sangat tidak menguntungkan
bagi eksistensi dirinya.23 Adanya stereotip tertentu yang dikenakan kepada perempuan
dalam masyarakat sering membuat mereka tidak bebas untuk berperan. Perempuan dibatasi karena dianggap tidak pantas, lemah dan tidak mampu melakukan peran-peran
tertentu dalam masyarakat.24 Stereotip tanpa disadari seringkali membuat laki-laki dan
perempuan yang hidup dalam budaya patriarkhi tidak menyadari bahwa diri mereka mengalami ketidakadilan jender dalam masyarakat dan keluarga. Wolf, menegaskaskan bahwa salah satu dari mereka seharusnya tidak boleh dianakemaskan hanya karena
berbeda jenis kelamin.25
Rupanya, dengan penstereotipan perempuan jarang terlibat dalam pengambilan keputusan atau bahkan menjadi pemimpin. Perlakuan yang setara dapat mematahkan penstereotipan yang selama ini berlaku dalam masyarakat terhadap peran dan tugas perempuan maupun laki-laki.
d. Kekerasan
Kekerasan (violence) dapat diartikan sebagai serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya
20 Kasiyan, 59-60
21
Riant Nugroho, Gender ,42.
22 Riant Nugroho, Gender, 43. 23
Mutali’in A, Bias, 37-38.
24 Gandhi, Kaum Perempuan dan Ketidakadilan Sosial, 44. 25
Naomi wolf, Gegar Jender: Kekuasaan Perempuan Menjelang Abad 21 (Terjemahan), (Yogyakarta: Pustaka Semesta Press, 1997), 205.
12
perempuan.26 Bentuk dari kekerasan ini seperti pemerkosaan, pelacuran, pemukulan
hingga pada bentuk yang lebih halus yakni pelecehan seksual dan penciptaan ketergantungan. Parahnya dalam kasus pelacuran, masyarakat dan pemerintah memberikan label tuna susila kepada para pelacur tetapi tidak memberikan label tuna
susila juga bagi kaum laki-laki yang merupakan konsumennya.27
Kekerasan terhadap perempuan sering tejadi karena budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan. Kekerasan ini disebut sebagai gender-related violence yang pada dasarnya disebabakan oleh kekuasaan. Hal ini terbukti lewat berbagai macam kenyataan di masyarakat yang menunjukan bahwa perempuan masih dianggap sebagai objek untuk dinikahi, menjadi harta milik laki-laki, dituntut untuk mengabdi, patuh kepada petunjuk dan perintah laki-laki. Perempuan merupakan kelompok masyarakat yang tersisih. Hak-hak asasi perempuan mudah dilanggar seperti terlihat dari berbagi tindak kekerasan,
pemerkosaan dan perdagangan perempuan.28
e. Triple Peran/Beban Kerja Ganda
Menurut Fakih beban kerja ganda adalah beban kerja yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Perempuan dalam hal ini sering menerima beban kerja ganda. Selain harus bekerja di ranah domestik mereka juga
harus melakukan tugas pelayanan di gereja dan masyarakat.29 Jika hal tersebut terjadi
pada kalangan yang memiliki tingkat ekonomi yang cukup maka seringkali beban kerja domestik dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga, namun jika terjadi pada kalangan yang memiliki tingkat ekonomi di bawah rata-rata (miskin) maka beban kerjanya akan
menjadi berlipat ganda.30 Tugas-tugas yang banyak dan padat dalam rumah-tangga
membuat perempuan kehilangan kesempatan yang sama seperti laki-laki untuk
mengembangkan dirinya secara optimal sebagai individu yang bebas.31 Perempuan harus
seorang diri melakukan berbagai tugas rumah tangga. Meskipun demikian pekerjaan tersebut sama sekali tidak dihargai secara ekonomi bahkan status sosialnya dalam
26
Riant Nugroho, Gender, 43.
27Mutali’in A, Bias, 41. 28 Karman, Bunga Rampai, 70. 29
Trisakti/Sugiarti, Konsep, 20.
30Riant Nugroho, Gender, 47.
31Thobias Messakh, Konsep Keadilan dalam Pancasila, (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2007),
13
masyarakat dianggap lebih rendah32. Beban kerja ganda yang dikenakan kepada
perempuan di sektor publik merupakan konstruksi sosial budaya, yang berkaitan dengan stereotip feminitas yang disandang perempuan. Oleh karena perempuan menyandang serangkaian sifat feminim, yaitu: lemah, emosional, tidak tegas, dan tergantung sehingga secara sosial perempuan dianggap pantas dan cocok berada di wilayah domestik dengan
peran-peran yang reproduktif.33
2.2.3 Penyebab Ketidak-adilan Jender
Perbedaan jenis kelamin melahirkan perbedaan jender dan perbedaan jender telah melahirkan adilan dan setaraan jender. Ketidak-setaraan dan ketidak-adilan jender antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, pemerintah dan gereja merupakan akibat dari adanya konstruksi sosial dan budaya tentang laki-laki dan
perempuan34. Ada beberapa faktor utama yang melatar-belakangi adanya hal tersebut.
Pertama, pengaruh budaya dan dogma agamawi. Di Indonesia masyarakat masih menjalani kehidupannya dalam pengaruh adat budaya dan dogma agama yang kuat. Umumnya budaya yang berkembang di dalam masyarakat adalah budaya patriarkhi. Menurut Elisabeth Fiorenza, inti dari patriarkhi adalah ketergantungan pada kontrol
kekuasaan laki-laki, kepatuhan menjadi esensi utama laki-laki.35Ebert mendefenisikan
patriarkhi sebagai organisasi dan divisi dari semua praktek dalam pengertian dalam hal jender yang mengistimewakan salah satu jenis kelamin atas yang lain dengan kontrol
laki-laki atas perempuan dalam hal seksualitas, kesuburan dan tenaga kerja.36
Konsekuensi dari kekuasaan bersifat patriarkhi mengakibatkan munculnya klaim masyarakat bahwa sudah kodratnya laki-laki memiliki posisi superior, dominatif,
menikmati posisi-posisi istimewa, dan sejumlah priviledge lainnya dari perempuan.37
Patriarkhi mengakibatkan adanya dominasi satu pihak dengan pihak yang lain.
32Mutali’in A, Bias, 39-40. 33 Kasiyan, 64.
34 Trisakti/Sugiarti, Konsep, 11. 35
Elisabeth S. Fiorenza, Discipleship of Equals, A Critical Feminist Ekklesiologi of Liberation (London: SCM Press, 1993), 213.
36Elisabeth Schussler Fiorenza, But She Said, Messachusetts: Beacon Press Boston, 1992, 110 37
14
Dalam teori yang dijelaskan oleh Gilman peranan-peranan seksual telah ditanamkan pada masa anak-anak, lewat institusi keluarga, pendidikan, adat dan hukum. Perilaku dan pemikiran jender seseorang baik laki-laki maupun perempuan dibentuk berdasarkan penstereotipan yang diciptakan oleh masyarakat tempat mereka lahir, dan
berkembang.38 Budaya patriarkhi menggambarkan dominasi laki-laki atas perempuan,
dimana laki-lakilah yang memegang kekuasaan atas semua peran penting di dalam masyarakat, pemerintah, pendidikan, industri, bisnis, perawatan, kesehatan, iklan, agama,
dan lain sebagainya.39 Sementara dogma-dogma agama pun kebanyakan bersifat
patriarkhi yang lebih mengedepankan kaum laki-laki. Dengan begitu maka, berbagai persepsi atau pandangan yang tumbuh dalam masyarakat akan menganggap laki-laki sebagai yang lebih utama dan lebih tinggi posisinya daripada perempuan.
Kedua, kecendrungan perempuan untuk dipimpin oleh laki-laki. Dalam kenyataanya, ada banyak perempuan yang berjuang untuk mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Namun masih banyak pula perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam kehidupan yang tidak setara dengan laki-laki. Mereka justru menganggap bahwa kehidupan yang dijalani setiap hari itu sudah menjadi kodrat mereka, termasuk ketika harus selalu berada di dalam keluarga dengan peran-peran yang hanya terbatas pada sektor domestik. Kedudukan laki-laki yang selalu lebih tiggi dari perempuan, membatasi perempuan untuk bebas dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan sendiri. Laki-laki yang selalu dipandang sebagai pemimpin yang dianggap pantas untuk mengambil keputusan sendiri. Menurut Julia Cleves Mosse, peran jender yang tradisional dalam masyarakat sangat sulit untuk dirubah, sebab jika hal itu terjadi maka akan mengubah tatanan mapan masyarakat yang sudah terbentuk sejak
lama.40 Menolak ketidak-adilan jender merupakan suatu ancaman karena hal itu berarti
menolak seluruh struktur sosial. Faktor-faktor tersebut merupakan penghalang yang kuat, yang membatasi gerak perempuan untuk berperan dan memiliki kedudukan yang setara dengan kaum laki-laki di masyarakat atau dalam kepemimpinan publik.
38 Sue Thornham, Teori Feminis dan Cultural Studies (terjemahan), (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), 29. 39
Happy Budi Febriasih et. Al., Jender, 32.
40