Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
1
SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA V
“Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan
Bangsa yang Berkarakter”
Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 6 April 2013
MAKALAH UTAMA
KIMIA DAN
KETAHANAN ENERGI
ISBN : 979363167-8
PERAN KIMIA DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL SEKTOR
ENERGI
Jumina
11
Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Periode 2010-2012 Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara Yogyakarta 55281
ABSTRAK
Energi merupakan sektor pembangunan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Begitu pentingnya peran energi dalam pembangunan sebuah bangsa sehingga keberlangsungan hidup dari bangsa tersebut sangat dipengaruhi oleh ketahanan energinya. Krisis energi dunia pada tahun 2008 yang juga melanda Tanah Air telah memberikan pelajaran dan sekaligus kenangan akan besarnya pengaruh gonjang-ganjing komoditas energi terhadap berbagai sendi kehidupan. Energi dapat pula diibaratkan sebagai gadis cantik nan rupawan yang kehadirannya selalu menarik perhatian khalayak luas. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa diskusi-diskusi tentang energi selalu menarik bagi khalayak luas. Pada saat yang sama, energi merupakan bidang pembangunan yang bersifat multidisiplin dan sangat kompleks sehingga permasalahan energi yang telah terjadi beberapa puluh tahun yang lalu pun masih dijumpai hingga sekarang.
Jika benar bahwa energi merupakan bidang pembangunan yang bersifat multidisiplin dan sangat kompleks, maka pertanyaan yang muncul adalah dimana dan sejauh apakah peran Kimia dalam pembangunan sektor energi? Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka di dalam artikel ini akan diuraikan tentang apa, dimana, dan sejauh manakah peran Kimia dalam pembangunan sektor energi. Tidak kalah penting adalah gerakan internasional di bidang pelestarian alam dan lingkungan yang sering dikemas dalam paket pembangunan berkelanjutan. Dalam persperktif inilah maka di dalam tulisan ini juga akan duraikan kontribusi Kimia dalam pembangunan sektor energi secara berkelanjutan. Semoga paparan ringkas ini akan dapat menjadi sumber inspirasi dan sekaligus menggugah para Kimiawan Indonesia akan pentingnya peran Kimia dalam pembangunan nasional di sektor energi.
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
2
Kimia dan
Ketahanan Energi Nasional
Prof. Dr. Jumina Jurusan Kimia FMIPA UGM Kepala Pusat Studi Energi UGM 2010-2012
Disampaikan pada
Seminar Nasional Kimia & Pendidikan Kimia di FPMIPA UNS Surakarta, 6 April 2013
2
DISTRIBUSI MINYAK BUMI GLOBAL
3.29% Bumi
ØMinyak bumi
Batu Bara Bumi
46,93%.
ØKetahanan energi
KONDISI ENERGI NASIONAL 2010
Panas Tenaga Air 1.5%
berkontribusi hingga Minyak
26.38% 46.93%
Indonesia sangat Gas Bumi
rentan terhadap 21.9%
gejolak minyak bumi dunia.
Minyak Bumi Gas Bumi Batu Bara Panas Bumi Tenaga Air
3
ENERGI TAK CADANGAN PRODUKSIP.A. PAKAI (CD/PD) No
PD/RS NO ENERGI TERBARUKAN
CADANGAN DAN PRODUKSI ENERGI NASIONAL SISA WAKTU TERBARUKAN (CD) (PD) (YEAR)*)
1 2 3 4 5 = 3/4
1 Oil (billion barrel) 8 0.35 23 2 Natural Gas (TSCF) 160 2.9 55 3 Coal (billion ton) 21 0.25 83
*) Wit h assumption of no new reserve discovered
CADANGAN PRODUKSI TERMANFAATKAN (CD) (PD) (%) 1 2 3 4 5 = 4/3 1 Hydro Power 75,670 MW 5,705 MW 7.54 2 Geothermal 29,038 MW 1,189 MW 4.10 3 Mini/Micro Hydro 1,014 MW 462 MW 46.0 4 Biomass 49,810 MW 1,618 MW 3.25 5 Solar Energy 4.80 kWh/m2/day 13.5 MW - 6 Wind Power 3 – 6 m/s 1.87 MW - 7 Uranium 24,112 ton (Uranium) 1,500 ton (Thorium) 30 MW 1.00
Sumber: KEMESDM RI, 2010 4
739,5 11,4 % (dalam juta SBM) Minyak Bumi Batubara 525,4 Gas Bumi SUPPLY 1066,0 4,8 %
PERKEMBANGAN KONSUMSI DAN PENYEDIAAN ENERGI PRIMER 1990 - 2010
DEMAND Rumah Tangga
594,6 Komersial 3,7% 508,9 Transportasi 40,6% 350,9 248,0 18,5% 2,5% Industri 30,7% 44,2% 48,2% 56,6 % 4,6% 46,93%` 34,2 % 4,5 % 26,4% 700,4 726,7 896,4 21,9 % EBT (dalam juta SBM) 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Sumber: KEMESDM RI, 2010
PRODUKSI DAN KONSUMSI ENERGI 2003-2010
Tahun Produksi Konsumsi Surplus Energi Energi Energi (setara juta (setara juta (setara juta kiloliter kiloliter BBM) kiloliter BBM) 2003 831,0 560,0 271,0 2004 831,0 591,6 239,4 2005 896,4 594,6 301,8 2006 867,3 591,6 275,7 2007 921,5 633,9 287,6 2008 867,3 581,0 286,3 2009 957,6 655,0 302,6 2010 1066,0 739,0 327,0 Pertanyaan: jika memang surplus energi, mengapa sampai terjadi krisis energi
khususnya pada tahun 2008-2009? 6
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
3
T h o u s a n d s b a r rel s / d a yPRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI INDONESIA TAHUN 1966-2008 (BOEPD)
3500 3000 2500 BOEPD (Gas) 2000 1500 BOPD 1000 500 0 1966 1971 1976 1981 1986 1991 1996 2001 2006 Source BPMIGAS Report
7 T h ou s a n d s Ba r r e ls / d a y
SKENARIO PRODUKSI MINYAK BUMI INDONESIA 1800 1600 1400 Target 1200 1000 800 600 400 200 0
Actual High Target
8
(juta kiloliter) (setara juta Transportasi (juta kiloliter)
PRODUKSI DAN KONSUMSI BBM 2003-2010
Produksi Energi Konsumsi Energi Tahun BBM Batubara BBM Industri
kiloliter) (juta kiloliter)
2003 50,7 18,0 19,8 35,9 2004 55,0 16,9 22,2 37,1 2005 56,8 20,8 22,8 36,7 2006 50,6 23,3 21,0 37,1 2007 50,7 29,6 22,2 39,6 2008 50,7 23,2 23,5 33,4 2009 52,8 27,5 30,9 37,1 2010 58,5 32,9 35,0 38,2 9
HARGA PREMIUM GLOBAL MARET 2012
Negara Harga Negara Harga Negara Harga (Rp) (Rp) (Rp)
Norwegia 23.184,- New Zealand 13.248,- Thailand 6.348,- Belanda 21.712,- Australia 12.610,- Cina 5.888,- Jerman 20.976,- Singapura 12.604,- Meksiko 5.704,- Inggris 19.872,- Yunani 11.960,- Malaysia 4.876,- Denmark 19.780,- Canada 11.500,- Finlandia 19.320,- India 11.224,- Hongkong 18.372,- Pakistan 9.752,- Italia 17.756,- Jepang 9.292,- Croasia 15.916,- Rusia 9.200,- Ciprus 14.996,- Pilipina 8.648,- Brazil 14.352,- Amerika 8.464,- Serikat INDONESIA *4.500,-Kuwait 1.932,- Saudi Arabia 1.104,- Nigeria 920,- Iran 828,- Turkmenistan 736,- Venezuela 460,- Catatan: 1 USD = Rp 9.200,- 10
GNP 2011 & HARGA PREMIUM NEGARA-NEGARA ASEAN
No Negara Pendapatan Harga Premium Perkapita (Rp) (USD) 1. Singapura 57.238 12.604,- 2. Brunei 47.200 3.498,- 3. Malaysia 14.603 4.876,- 4. Thailand 8.643 6.348,- 5. Indonesia 4.380 *4.500,-6. Filipina 3.725 8.648,- 7. Vietnam 3.123 10.120,- 8. Laos 2.435 13.440,- 9. Burma 1.900 8.580,- 10. Kamboja 1.266 12.880,- 11 1212 12. Nigeria 1.180 920,-
PERBANDINGAN GNP 2011 & HARGA PREMIUM GLOBAL
No Negara GNP (USD) Harga Premium (Rp) 1. Norwegia 85.380 23.184,- 2. Singapura 57.238 12.604,- 3. Amerika Serikat 47.140 8.464,- 4. Jerman 43.330 20.976,- 5. Jepang 42.150 9.292,- 6. Inggris 38.540 19.872,- 7. Saudi Arabia 17.200 1.104,- 8. Malaysia 14.603 4.876,- 9. Thailand 8.643 6.348,- 10. Indonesia 4.380 *4.500,-11. Cina 4.260 5.888,-
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
4
13
REGULASI DI BIDANG ENERGI TERBARUKAN
13
No. Nama Peraturan Perihal
1. UU No. 22/2001 Minyak dan Gas Bumi 2. PerPres No. 5/2005 Kebijakan Energi Nasional 3. Kepmen ESDM No.
0002/2004
Kebijakan Pengembangan Energi Hijau
4. Inpres No. 1/2006 Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati 5. Keppres No. 10/2006 Pembentukan dan Tugas Tim Nasional Percepatan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati untuk Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran
6. Permen ESDM No. 051/2006
Prosedur dan Tatacara Izin Usaha Tata Niaga Biofuel 7. Permen Keuangan No.
117/PMK.06/2006
Kredit Pengembangan Energi Nabati & Revitalisasi Perkebunan
8. Permen ESDM No. 32/ 2008
Mandatory Bahan Bakar Nabati
PERMEN ESDM NO. 32 TAHUN 2008 TENTANG
MANDATORY BAHAN BAKAR NABATI
Essensi kewajiban untuk menggunakan bahan bakar nabati mulai tahun 2009, dengan ketentuan :
Blue print energi nasional komponen BBN pada 2015 adalah 5 %.
14
Sektor Jenis BBN Persentase Minimal
Penggunaan BBN yang Diwajibkan (%)
Industri Biodiesel 2,5 % dari total konsumsi solar
Transportasi
Biodiesel 1 % dari total konsumsi solar Bioetanol 3 % dari total konsumsi premium
KONSEKUENSI PERMEN ESDM NO. 32 TAHUN 2008
TENTANG MANDATORY BAHAN BAKAR NABATI
15 Jenis BBM/ BBN Konsumsi Nasional Tahun 2008 Kewajiban Komponen BBN Jenis BBN Pengganti Volume BBN yang Diperlukan Produksi Nasional BBN Tahun 2008 Solar 14,5 juta kiloliter 2,5 % Biodiesel 0,36 juta kiloliter 1,8 juta kiloliter* Premium 25,5 juta kiloliter 3,0 % Bioetanol 0,77 juta kiloliter 240 juta liter (0,24 juta kiloliter; 31%)
STATISTIK PRODUKSI MINYAK SAWIT
16
17 17
STATISTIK KONSUMSI MINYAK SAWIT INDONESIA
Domestic consumption --Export forfood (/) c 600 0 M 0 ~ 300 0
Data ekspor dan konsumsi dalam negeri minyak sawit tahun 1965-2005
12000
_ Other domestic consumptions
_ Domestic consumption for industry
9000
-
0 -x o 18LUAS AREA TANAMAN SAWIT INDONESIA
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
5
PELAKU BISNIS SAWIT INDONESIA TAHUN 200719
8 East mantan)n)n)
LUAS AREA TANAMAN SAWIT INDONESIA & PROYEKSINYA TAHUN 2020 9 7 (West Kalimantan) 15 Sumatera) 6 5 Sulawesi) (Bangka Kalimantan) Sumatera) 12 3 (Papua) 13 (South Kalimantan)(South
(Bengkulu) 11 (South East
20 14 (Nanggroe Aceh Darussalam) 4 (North Sumatera) ( 2 Kali (Riau) 1
(West (Jambi) (Central (South 17 (Central 10
Belitung) 16 (Lampung) Sulawesi) Sulawesi)
18 (Banten and West Java)
PRODUKSI TEBU DAN TETES TEBU NASIONAL
21
Tahun Produksi tebu
(ton) Produksi tetes tebu (ton) 2002 25.533.431 1.276.672 2003 22.611.108 1.130.555 2004 26.742.180 1.337.109 2005 31.138.625 1.556.931 2006 30.232.832 1.511.642
PABRIK BIOETANOL NASIONAL DAN KAPASITAS PRODUKSINYA TAHUN 2009
22
No. Nama Perusahaan Kapasitas
(liter/tahun)
Bahan Baku 1. PT. Molindo Raya, Jatim 50.000.000 Tetes tebu 2. PT. Indo Lampung Distilery, Lampung 50.000.000 Tetes tebu 3. Pt. Indo Acidatama, Jateng 45.000.000 Tetes tebu 4. PT. Aneka Kimia, Jatim 17.000.000 Tetes tebu 5. PASA Djatiroto, Jatim 7.500.000 Tetes tebu 6. PT. Madu baru, Yogyakarta 7.000.000 Tetes tebu 7. PSA Palimanan, Jabar 7.000.000 Tetes tebu 8. Basis Indah, Sul Sel 5.500.000 Tetes tebu 9. Permata Sakti, Sumut 5.000.000 Tetes tebu 10. Molasindo Alur Pratama, Sumut 3.600.000 Tetes tebu 11. PT. Medco Ethanol Indonesia, Lampung 60.000.000 Singkong 12. Sampoerna Bio Energi, Jateng & Jatim 60.000.000 Singkong 13. Humpuss, Lampung 60.000.000 Singkong
23
Apa, bagaimana dan
dimana peran Kimia
Kimiawan?
dan
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
6
252525
2525552555
BREAKTHROUGH PADA INDUSTRI BIODIESEL
Minyak Sawit (CPO) transesterifikasi Industri lainnya (sabun, sampho dll) Biodiesel Minyak goreng Gliserol sebagai produk samping
GREEN DIESEL GREEN DIESEL
Hanya menjadi limbah industri biodiesel
PERLU TEROBOSAN BARU UNTUK DAPAT LEBIH MEMANFAATKAN GLISEROL Triasetin (Octane booster) Propanol 26 26 26 26 26 BREAKTHROUGH
INDUSTRI BIOETANOL KONVENSIONAL
Bahan bakar
Bioetanol pengganti premium
Bahan baku dan proses produksinya
Tetes tebu atau singkong Dengan proses fermentasi
Keterbatasan bahan baku
Rendemen proses relatif rendah (+ 27 %)
Boros energipada proses pemurniannya
Kapasitas produksi nasional bioetanol sulit ditingkatkan dari 240 juta liter per tahun
Kelemahan
27 BREAKTHROGH DI BIDANG BATUBARA:
ØCoal upgrading (from low to high calory)
ØSintesis batubara dari biomassa
ØTeknologi desulfurisasi batubara yang efisien
ØPengolahan abu layang
BREAKTHROUGH DI BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI:
ØPetrogeokimia
ØRadiogeokimia
ØSurfaktan untuk Enhanced Oil Recovery (EOR)
ØKatalis perengkahan
ØCCS & CCSU (carbon capture, storage & utilization – rekayasa CO2)
ØOctane and cetane boosters
28 BREAKTHROUGH ANEKA ENERGI BARU & TERBARUKANI:
ØBiodiesel dan diversifikasinya
ØBioetanol dan bioalkohol generasi ke-2
ØBiogas
ØHidrogen
ØEnergi surya
ØSel bahan bakar
ØBiomassa
ØRekayasa karbon dioksida (CO2)
GAMBARAN EMISI NASIONAL PER SEKTOR
Juta Ton CO2e
(8,67 %) (9,83 %) (9,14 %) (9,46 %) (1,28 %) (1,02 %) (0,86 %) (1,21 %) (48,76 %) (55,48 %) (56,45 %) (55,70 %) (41,3 %) (33,66 %) (33,55 %) (33,64 %) 29 2011 2015 2020 2025 25,1 35,5 44,5 60,3 3,7 3,7 4,2 7,7 141,2 200,3 274,9 355 119,6 121,5 163,4 214,4 289,6 361 487 637,4 Sektor 1990 1995 2000 2005 2009 2010 R. Tangga (18,14 %) (14,44 %) (15,08 %) (11,85 %) (7,73 %) (8,92 %) 17,4 19,6 29,5 27,1 19,3 23,6 Komersial (1,46 %) (2,28 %) (2,25 %) (1,97 %) (1,48 %) (1,36 %) 1,4 3,1 4,4 4,5 3,7 3,6 Industri (46,72 %) (50,18 %) (52,45 %) (53,19 %) (52,52 %) (47,41 %) 44,8 68,1 102,6 121,6 131,2 125,4 Transportasi (33,68 %) (33,09 %) (30,21 %) (32,98 %) (38,31 %) (42,31 %) 32,3 44,9 59,1 75,4 95,7 111,9 Total 95,9 135,7 195,6 228,6 249,8 264,5 30
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia V
7
PROGRAM FOR CO2 CONVERSION IN ENERGY SECTOROctane Super-octane t-Butanol Methanol & Methane
CO
2 n-Butanol Ethanol Isopropanol Propanol 31PENUTUP
ØKebijakan energi di Indonesia harus diarahkan pada upaya penguatan struktur energi terbarukan dalam bauran energi nasional demi kokohnya ketahanan energi di Tanah Air. Kimia dan para kimiawan harus mampu mengambil peran
Ø
sentral sebagai agent of change dalam mendukung
hakekatnya
ketahanan energi nasional karena pada
hampirsemuajenisenergiadalahenergikimia.
32
TANYA JAWAB :
Nama Penanya : Zainus Salimin Nama Pemakalah : Jumina
Pertanyaan :
1. Bagaimana mengatasi masalah emisi CO2 ?
Jawaban :
1. Emisi karbon dioksida (CO2) dunia meningkat sehingga menimbulkan pemanasan global dan perubahan
iklim. Sumber utama emisi CO2
adalah kegiatan industri. Hal ini yang menimbulkan dilema antara
pengurangan CO2, dan
peningkatan kegiatan industri untuk
memenuhi kebutuhan umat
manusia yang terus menerus
meningkat. Mengatasi peningkatan
emisi CO2 adalah dengan
mengandalkan kepada energi
natural non fosil.
Nama Penanya : D. Martono Nama Pemakalah : Jumina Pertanyaan :
1. Bagaimana mengatasi kesulitan dalam pengelolaan sumber energi alternatif, misalnya peningkatan
rendemen dan peningkatan
aktivitas enzim dalam pengelolaan serbuk gergaji sebagai sumber energi ?
Jawaban :
1. Mengatasi kesulitan dalam
pengelolaan sumber energi
alternatif perlu riset yang terus
menerus, yang melibatkan
berbagai disiplin ilmu. Kimiawan harus mampu mengambil peran
sentral sebagai agent of change
dalam mendukung ketahanan
energi nasional karena pada
hakekatnya hampir semua jenis energi adalah energi kimia