• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK SELF-REGULATED LEARNING TERHADAP PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR (Penelitian pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Kota Magelang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEKNIK SELF-REGULATED LEARNING TERHADAP PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR (Penelitian pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Kota Magelang)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK SELF-REGULATED LEARNING TERHADAP

PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR

(Penelitian pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Kota Magelang)

Dwi Sumanti, Tawil, Indiati

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Penddkan, Unverstas Muhammadyah Magelang E-mal : [email protected]

Abstract

This research aimed to verify the influence of self-regulated learning training in enhance students independence in learning. This research was use one group pre test- post test design.subject of the research choosen by purposive sampling, they are 12 students of VII B of State junior highschool 4 Magelang who had low and average independence in learning . The reseacher use independence learning scale to collect the data, to analize the data the reseacher use non parametic Wiloxon Match Pairs Test. The result showed that self-regulated learning has positif influence in enhance students independence in learning. It proof on post-test score improvement from eksperiment group. The average improvement deviation was 14%. The improvement of students independence in learning also can be found at the changed of indicator in independence learning aspect of students who got the training and not. The students felt it help to find out their own way in learning.

Keywords: Training Self-Regulated Learning, Learning Independence.

PENDAHULUAN

Sswa yang memlk kemandran belajar dapat terlhat pada kebasaan-kebasaan belajar sswa sehar-har sepert cara sswa merencanakan dan melakukan belajar. Kemandran belajar yang tngg dar sswa juga sangat dperlukan dalam penngkatan prestas belajar karena akan berpengaruh terhadap tercptanya semangat dr untuk belajar. Oleh karena tu dbutuhkan kemandran sswa dalam belajar bak sendr maupun bersama teman-temannya untuk me-ngembangkan potensnya masng-masng.

Kemandran belajar merupakan suatu ak-tvtas atau kegatan belajar yang dlakukan oleh sswa atas kemauannya sendr dan mempunya rasa percaya dr tngg dalam menyelesakan tugasnya. Kemandran belajar juga cocok untuk semua tngkatan usa. Dengan kata lan, kemandran belajar sesua untuk semua jenjang sekolah bak untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), maupun Perguruan Tngg (PT) dalam rangka menngkatkan prestas dan kemampuan yang dmlk oleh sswa.

Trtaraharja dan Sulo (dalam An & Abdul, 2012:54) menegaskan bahwa, kemandran belajar dartkan sebaga aktvtas belajar yang berlangsungnya lebh ddorong oleh kemauan

sendr, plhan sendr, dan dserta rasa tanggung jawab dar dr sswa. Senada dengan pendapat Umar Trtaraharja dan La Sulo, pendapat yang sama berdasarkan peneltan yang dlakukan oleh Mujman (dalam Nurhayat, 2011 : 141) menegaskan bahwa, kemandran belajar merupakan kegatan belajar aktf yang ddorong oleh motf untuk menguasa sesuatu kompetens yang telah dmlk. Penetapan kompetens sebaga tujuan belajar dan cara pencapaannya bak penetapan waktu belajar, tempat belajar, rama belajar, tempo belajar, cara belajar, sumber belajar, maupun evaluas dar hasl belajar yang dlakukan oleh sswa sendr.

Kemandran belajar yang dmaksudkan kedua pendapat adalah kemampuan yang dmlk sswa untuk melakukan kegatan belajar secara aktf dengan kemauannya sendr dalam memlh sumber belajar dan menggunakan teknk-teknk belajar yang tepat untuk mencapa tujuan tersebut. Msalnya, sswa mampu mencapa kompetens yang telah dtetapkan, menetapkan kompetens sebaga tujuan belajar, dan cara pencapaannya bak penetapan waktu belajar, tempat belajar, rama belajar, tempo belajar, cara belajar, sumber belajar, maupun evaluas hasl belajar dlakukan sendr oleh sswa.

(2)

Kenyataan yang terjad d lapangan menge-na kemandran belajar, sebagamamenge-na yang ter-jad d SMP N 4 Kota Magelang yang beralamat Jl. Pahlawan No. 41 Magelang, Magelang Utara. Berdasarkan nformas dar koordnator bm-bngan konselng (BK)bapak Mujono, bahwa pada setap kelas past terdapat sswa yang me-mlk kemandran belajar yang rendah dtanda dengan sswa mengerjakan tugas pekerjaan rumah d sekolah, sswa kurang memperhatkan guru pada saat kegatan belajar mengajar ber-langsung sepert melamun dan mengobrol dengan teman, dan kurang percaya dr dengan jawaban yang sendr saat mengerjakan soal ujan. Fenomena n sudah terjad dalam kurun waktu yang cukup lama sehngga sudah banyak usaha yang dlakukan untuk menngkatkan kemand-ran belajar pada sswa.

Usaha-usaha yang pernah dlakukan oleh guru pembmbng dan juga guru mapel d SMP Neger 4Kota Magelang untuk mengatas sswa yang memlk kemandran belajar yang rendah adalah memberkan motvas atau pemahaman tetang kemandran belajar, dengan dserta kerjasama dengan orang tua murd dalam pendampngan d rumah. Namun demkan usaha yang telah dlakukan tersebut belum mencapa hasl yang maksmal, karena mash banyak sebagan dar mereka yang mash kurang memlk kemandran belajar, sehngga perlu dcarkan solus lan untuk menngkatkan kemandran belajar. Salah satu solus yang menurut penuls perlu dlakukan adalah dengan memberkan pelathan, dengan menerapkan teknk self-regulated learning.

Self-regulated learning merupakan proses yang membantu sswa dalam mengelola pkran, perlaku, dan emos agar berhasl menavgas pengalaman belajar mereka. Proses n terjad ketka tndakan terarah sswa dan proses d-arahkan perolehan nformas atau keteramplan. Sswa mandr dapat merencanakan, menetapkan tujuan, mengatur, memantau dan mengevaluas dr. Proses n membuat sswa menjad sadar dr dan berpengetahuan dalam pendekatan mereka untuk belajar.

Pendapat d atas memberkan pemahaman bahwa self-regulated learning merupakan suatu pro-ses yang terarah untuk membantu sswa dalam mengelola pkran mereka, perlaku, dan emos agar berhasl mengarahkan pengalaman belajar mereka agar berhasl dalam proses belajar yang sswa lakukan. Proses n juga dgunakan untuk membuat sswa menjad lebh sadar dr dan

berpengetahuan dalam pendekatan mereka untuk belajar.

Peneltan yang dlakukan oleh Tr Darmayant pada tahun 2008 membuktkan bahwa pengem-bangan keteramplan self-regulated learning merupa- kan salah satu cara untuk menngkatkan keman-dran. Oleh karena tu, pada peneltan n konsep

self-regulated learning dgunakan sebaga dasar pe-ngembangan program penngkatan kemampuan belajar mandr dar mahasswa jarak jauh. Ber-dasarkan uraan d atas, maka dalam artkel n akan dbahas tentang pengaruh teknk Self-Regulated Learning dapat berpengaruh terhadap penngkatan kemandran belajar.

Kemandirian Belajar

Kemandran belajar hendaknya harus dmlk oleh setap ndvdu supaya mereka dapat mengatur sendr pola belajar mereka sesua dengan kemampuan dan kebutuhannya. Sswa yang mandr bukan berart mereka harus selalu belajar sendr, dan menjad prbad yang ndvduals. Peserta ddk yang mandr juga dtuntut untuk mampu bekerjasama dengan orang lan dalam stuas dan konds apapun.

Ahmad (dalam An & Abdullah, 2012:54), mengatakan bahwa kemandran belajar adalah sebaga belajar mandr, tdak menggantungkan dr pada orang lan. Sswa dtuntut memlk nsatf, keaktfan, dan keterlbatan dalam proses pembelajaran untuk menngkatkan prestas belajar. Teor yang hampr sama juga dsampakan oleh Knowles (dalam Nurhayat, 2011:140) menyatakan bahwa kemandran belajar adalah suatu proses dmana sswa mengambl nsatf dengan atau bantuan orang lan dalam mendagnoss kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memlh dan mengmplementaskan strateg belajar, dan mengevaluas hasl belajar.

Pendapat dar kedua ahl tersebut memlk persamaan tentang kemandran belajar, adalah suatu proses dmana sswa dharapkan dapat mengambl nsatf dalam proses pembelajaran, dapat mengidentifikasi sumber belajar maupun strateg belajar, dan dapat mengevaluas hasl belajar.

Al dan Mohammad (2005:117-118), cr-cr kemandran terbag menjad beberapa tngkatan yang dgunakan penuls dalam pembuatan skala kemandran belajar, yatu (1) tngkat sadar;(2) tngkat saksama;(3) tngkat ndvdualsts; dan

(3)

Pelatihan Self-Regulated Learning Banyak ahl berpendapat tentang art, tujuan dan manfaat pelathan. Namun dar berbaga pendapat tersebut pada prnspnya tdak jauh berbeda. Pelathan merupakan suatu proses lathan yang merupakan serangkaan tndakan yang dlaksanakan secara berkesnambungan, bertahap, dan terpadu (Hamalk, 2001:10-11).

Skula (dalam Sumantr, 2000:2) mengatakan bahwa pelathan sebaga proses penddkan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sstemats dan terorgansr. Para peserta pelathan akan mempelajar pengetahuan dan keteramplan yang sfatnya prakts untuk tujuan tertentu.

Pendapat datas memberkan pemahaman bahwa pelathan adalah suatu proses penddkan yang ddalamnya terdapat proses pembelajaran yang dlakukan dalam waktu jangka pendek, dan bertujuan untuk menngkatkan pengetahuan dan keteramplan ndvdu dalam menghadap kehdupan nyata.

Bentuk pelathan dalam peneltan n adalah pelathan self-regulated learning. Teor-teor self-regulation memfokuskan pada bagamana sswa menggerakkan, mengubah, dan mempertahankan kegatan belajar bak secara sendr maupun pada lngkungan sosalnya. Pendapat tersebut sejalan dengan pemkran Zmmerman & Martnez Pons (dalam Latpah, 2010:112) mengatakan bahwa

self-regulated learning sebaga tngkatan dmana partspan secara aktf melbatkan metakogns, motvas, dan perlaku dalam proses belajar.

Self-regulation merupakan salah satu kompo-nen pentng dalam teor kogntf socal (social cognitive theory). Albert Bandura adalah orang yang pertama kal mempublkaskan teor belajar socal pada awal 1960-an. Konsep tentang self-regulation, menyatakan bahwa ndvdu tdak dapat secara efektf beradaptas terhadap lngkungannya se-lama mampu membuat kemampuan kotrol pada proses pskolog dan perlakunya Suryan (dalam Ghufron & Rn, 2010:57-58).

Memaham pendapat datas, maka penelt menympulkan bahwa yang dmaksud dengan self-regulated learning adalah suatu upaya agar sswa dapat mengatur dr terhadap suatu aktvtas de- ngan mengkut sertakan kemampuan metakog-ntf, motvas, dan perlaku aktf. Sehngga dapat mencapa tujuan yang telah dtetapkan sebelumnya. Karena peneltan n terkat de- ngan pemberan pelathan self-regulated learning

pada sswa, maka yang dmaksud dengan pe- lathan self-regulated learning adalah suatu proses lathan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sstemats dan ter- organsr untuk dapat mengatur dr terhadap suatu aktvtas dengan mengkut sertakan ke-mampuan metakogntf, motvas, dan perlaku aktf.

Ormrod (2008 : 38-39) menyatakan bahwa secara khusus, pembelajaran yang datur sendr (Self-Regulated Learning) mencakup proses-proses berkut n, dantaranya pada dasarnya bersfat meta kogntf, yatu a. Penetapan tujuan (goal setting), b. Perencanaan (plannng), c. Motvas dr (self-motivation), d. Kontrol atens (attention control), e. Penggunaan strategi belajar yang fleksibel (flexible use of learning strategies), f. Montor dr ( self-monitoring), g. Mencar bantuan yang tepat (appropriate help seeking), h. Evaluas dr ( self-evaluation).

METODE

Varabel terkat dalam peneltan n adalah kemandran belajar. Kemandran belajar adalah belajar yang dlakukan dengan nsatf sendr tanpa bantuan orang lan dengan tujuan untuk dapat menguasa suatu kompetens. Sswa yang memlk kemandran belajar akan berusaha belajar tanpa menggantungkan dr pada orang lan, melankan sswa d tuntut memlk nsatf, keaktfan dan dapat memlh teknk dalam proses pembelajaran untuk memperoleh hasl belajar yang bak. Indkator yang termasuk dalam kemandran belajar yatu tngkat sadar, tngkat ndvduals, tngkat mandr, dan tngkat saksama.

Varabel bebas dalam peneltan n adalah pelathan self-regulated learning. Pelathan self-regulated learning adalah suatu proses lathan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sstemats dan terorgansr dalam proses belajar untuk berusaha mengatur, mengawas, mengontrol drnya sendr bak secara meta-kogntf, motvas, dan perlaku aktf dengan memperhatkan lngkungan. Bentuk pelathan

self-regulated learning yang akan dlaksanakan da-lam peneltan n adalah goal setting (penetapan tujuan), planning (perencanaan), self motivation

(motvas dr), attention control (kontrol atens),

flexible use of learning strategies (penggunaan strateg yang fleksibel), self monitoring (montor dr),

(4)

appropriate help seeking (mencar bantuan yang tepat), dan evaluas dr.

Subjek dalam peneltan n adalah sswa kelas VII B SMP N 4 Kota Magelang sejumlah 12 sswa. Teknk pengamblan sampel dalam peneltan n menggunakan teknk purposive sampling, yatu pem-lhan sample sesua dengan yang dkehendak.

Rancangan peneltan yang penuls gunakan adalah peneltan pra ekspermen. Dalam peneltan n, dgunakan jens desan one group pre-test-post-test design. Desan tersebut merupakan desan ekspermen yang dlakukan dengan cara melakukan satu kal pengukuran ddepan (pre-test) sebelum adanya perlakuan (treatment), kemudan melakuan pengukuran dakhr (post-test). Secara umum dapat dgambarkan pada tabel berkut:

Tabel 1.One group pre-test-post-test design

Pre-test Perlakuan Post-test

Kelompok

Ekspermen O1 X O2

(Sarwono, 2006 : 86)

Instrumen yang dgunakan dalam peneltan n adalah skala kemandran belajar. Skala n mengungkapkan tngkatan kemandran belajar sswa dengan menggunakan cr-cr kemandran belajar sebaga ndkator yang akan dungkap. Dalam penjarngan sampel skala pskolog d-gunakan untuk mencar nformas sampel, maka hasl skala pskolog djadkan sebaga data pre-test

dan post-test. Metode pengukuran yang dgunakan berupa skala lkert.

Peneltan n menggunakan analss data kuanttatf statstk, yatu analss non parametric Wilcoxon Match Pairs Test atau Wilcoxon Singned Rank Test dengan bantuan computer program SPSS For Windows Vers 16.0. Alasan menggunakan uj

Wilcoxon Match Pairs Test, yatu: Jumlah sampel yang dgunakan kurang dar 30 sampel, data yang dperoleh dalam peneltan n berbentuk ordnal, dstrbus data tdak normal, dan varans tdak homogen. Kemudan analss n dgunakan untuk mengetahu perbedaan yang sesungguhnya antara dua pasang data yang dambl dar satu atau dua sampel yang salng terkat, selanjutnya teknk analss n langkahnya palng pendek untuk menguj hpotess, yatu untuk menentukan ada tdaknya pengaruh pemberan pelathan self-regulated learning.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Langkah awal yang dlakukan dalam peneltan n adalah dengan memberkan tes awal (pre-test) untuk mengukur konds awal subjek peneltan sebelum dberkan perlakuan. Pre-test

n termasuk pre-test terpaka, karena pre-test n juga dgunakan untuk penentuan sampel yang sesua dengan kategor dalam tabel berkut :

Tabel 2. Kategor Skor Skala Kemandran Belajar

Frekuensi Kategori Jumlah Presentase

>200 Tngg 0 0

142-200 Sedang 26 86.67 %

<142 Rendah 4 13.33 %

Jumlah 30 100 %

(Azwar, 2012 : 149)

Pre-test dlaksanakan dengan menyebar ska- la kemandran belajar kepada subjek peneltan yang berjumlah 30 sswa. Hasl pre-test kemudan dkategorkan dan dambl 4 sswa yang menda-pat kategor rendah dan 8 sswa dengan kategor sedang untuk djadkan anggota kelompok

treatment.

Treatment akan dlakukan sebanyak enam kal sesua dengan kesepakatan anggota. Sete- lah dlakukan treatment, maka peneltan dakhr dengan pelaksanaan post-test. Langkah selanjutnya adalah melakukan analss data terhadap hasl

post-test termasuk d dalamnya uj hpotess dan menyusun laporan hasl peneltan ke dalam bentuk yang sstemats.

Uji Hipotesis

Hpotess dalam peneltan n mengguna-kan model analss statstc non parametrc dengan 12 sswa. Hpotess yang dajukan ada- lah adanya pengaruh pelathan self-regulated learning terhadap penngkatan kemandran be-lajar. Data peneltan yang terdr dar pre test

dan post test danalss melalu model statstc non parametrc yatu dengan uj wilcoxon. Untuk mempermudah menganalss data dgunakan model statstc non parametrc dar program

SPSS versi 16.0 for window dengan teknk two related sample, dengan hasl sebaga berkut :

(5)

Tabel 3. Test Statstecs Post_test - Pre_Test Z Asymp. Sg. (2-taled) -3.059a .002

Berdasarkan tabel datas, menunjukkan bah-wa nla Zhtung = -3.059 dengan Asymp. Sg. (2-taled) = 0,002. Adapun crtera pengujan hpotess adalah jka nla Asymp. Sg. (2-taled) > α, maka Ho diterima. Karena nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,002 < α = 5% (0,05), maka Ho ditolak dan Ha dterma, artnya pemberan perlakuan berupa pelathan dengan teknk self-regulated learning memlk pengaruh postf terhadap penngkatan kemandran belajar pada sswa. Adapun penngkatan skor tersebut selengkapnya dsajkan dalam table berkut :

Tabel 4. Penngkatan Skor Pre-test dan Post-test

Subjek

Penelitian Pre-test Post-test

Peningkatan Nilai % AYSP 175 185 10 6% DANS 184 195 11 6% DSK 144 172 28 19% ESW 143 165 22 15% FMP 130 171 41 32% HRA 163 178 15 9% KF 135 155 20 15% MF 135 160 25 19% MSPFP 180 198 18 10% MEPR 140 159 19 14% MAP 182 205 23 13% PM 164 181 17 10% Rata-Rata 20.75 14% Maxmum 41 32% Mnmum 10 6%

Berdasarkan tabel d atas dapat dketahu bahwa penngkatan skor terendah sebesar 10 atau 6% dan tertngg sebesar 41 atau 32%, sedangkan nla rata-rata penngkatan skor sebesar 20,75 atau 14%. Adanya penngkatan skor menympulkan bahwa kemandran belajar dar kelompok ekspermen rata-rata mengalam peningkatan yang signifikan.

Pembahasan

Hasl peneltan analss wilcoxon match pairs test pelathan dengan teknk self-regulated learning

terbukt dapat menngkatkan kemandran be-lajar pada sswa. Hal n dbuktkan dengan adanya perbedaan penngkatan pada skor post test yang signifikan dari kelompok eksperimen. Selsh penngkatannya rata-rata sebesar 14%.

Bukt bahwa pelathan self-regulated learning

dapat menngkatkan kemandran belajar ada-lah adanya perubahan ndkator dalam aspek kemandran belajar pada sswa sebelum dberkan pelathan dengan sesudah dberkan pelathan. Sswa yang semula cenderung tdak mampu berfikir alternative terhadap rencana dan tujuan belajar yang ngn dcapanya, setelah dberkan pelathan self-regulated learning sswa menjad lebh mengetahu bagamana cara mencapa target belajar yang dngnkan sepert yang dlakukan oleh A. begtu juga dengan sswa lannya yang mengalam penngkatan kemandran belajar dalam semua ndkator kemandran belajar.

SIMPULAN

Berdasarkan peneltan d atas menunjukkan bahwa bahwa pelathan self-regulated learning ber- pengaruh postf terhadap penngkatan keman-dran belajar pada sswa kelas VII B SMP Neger 4 Kota Magelang.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

An, Pratstya Nor & Abdullah Taman. 2012. “Pengaruh Kemandran Belajar Dan Lngkungan Belajar Sswa Terhadap Prestas Belajar Akuntans Sswa Kelas XI IPS SMA Neger 1 Sewon Bantul Tahun Ajaran 2010/2011”. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Volume 10 (I). Hlm 51-54

Al, Mohammad dan Mohammad Asror. 2005. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT Bum Aksara

Azwar, Safuddn. 2012. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Darmayanti, Tri. “Efektifitas Intervansi Keterampilan Self-Regulated Learning dan Keteladanan Dalam Menngkatkan Kemampuan Belajar Mandr dan Prestas Belajar Mahasswa Penddkan Jarak Jauh”.

Jurnal Pendidikan Terbuka dan jarak Jauh. Volume 9 (II). Hlm 68-82

Ghufron, M. Nur & Rn Rsnawat S. 2010. Teori-teori Psokologi. Jogjakarta : Ar-Ruzz Meda

Hamalk, Oemar. 2001. Pengembangan Sumber Daya Manusia Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan Pendekatan Terpadu. Jakarta : PT Bum Aksara

Latpah, Eva. 2010. “Strategi Self Regulated Learning dan Prestas Belajar : Kajan Meta Analss”. Jurnal Psikologi.

Volume 37 (I). Hlm 112 – 113

Nurhayat, Et. 2011. Psikologi Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Ormrod, Jeanne Ells. 2008. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh Dan Berkembang Eds Keenam. Eds keenam. Dterjemahkan oleh : Amtya Kumara. Jakarta : Erlangga

Gambar

Tabel 1. One group pre-test-post-test design Pre- test Perlakuan Post-test Kelompok
Tabel 3. Test Statstecs Post_test -  Pre_Test Asymp. Sg.  Z (2-taled) -3.059a.002

Referensi

Dokumen terkait

dan prestasi belajar matematika melalui strategi Problem Based Learning bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Purwodadi tahun 2012/2013´ VHEDJDL VDODK VDWX syarat untuk

Kemandirian diamati dari empat indikator antara lain yaitu (1) mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab (2) mampu mengatasi masalah (3) percaya pada kemampuan

(5) Guru bersama dengan siswa menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pembelajaran matematika dengan strategi PBL dapat meningkatkan kemandirian belajar

Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika melalui strategi discovery learning untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa kelas VIIG semester genap SMP Negeri

siswa juga akan merasa kesulitan. Hal inilah yang menyebabkan kemandirian belajar dan pemecahan masalah matematika siswa masih relatif rendah. Untuk itu guru matematika harus

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar matematika siswa dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) di kelas VII E SMP N 15

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana problem based learning dapat meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa Kelas VII

Tindak lanjut pada kegiatan teknik sosiodrama menggunakan materi “ cara belajar yang efektif ”, selanjutnya akan diadakan kegiatan dengan menggunakan teknik