RESIDU NITROFURAN PADA TELUR AYAM RAS YANG
DIJUAL DI BEBERAPA PASAR DI JAWA BARAT
(Nitrofuran Residues in the Layers Egg Sold in Some Markets in West Java)
R.WIDIASTUTI danYUNINGSIHBalai Besar Penelitian Veteriner, Jl. R.E. Martadinata 30, Bogor 16114
ABSTRACT
Improper use of veterinary drugs may arise on the occurrence of residue in the animal products including eggs. This research was conducted to monitor the occurrence of nitrofurans (nitrofurantoin, nitrofurazon, furazolidon and furaltadone) residues in 40 layer eggs collected from traditional markets and supermarkets in several districts in West Java. Those eggs were extracted using organic solvents and analysed by HPLC. The results showed that 4 eggs (10%) positively contained furaltadone at concentration of 22.6 to 30.2 ng/g, and still below the maximum residue limits (MRL) stated by SNI (2001). The results showed that the type of nitrofuran used for layer chicken was furaltadone.
Key Words: Nitrofurans, Residue, Egg
ABSTRAK
Pemakaian obat hewan yang tidak sesuai anjuran dan tidak mematuhi waktu henti dapat mengakibatkan adanya residu dalam produk ternak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan residu nitrofuran (nitrofurantoin, nitrofurazon, furazolidon dan furaltadon) pada telur yang beredar di beberapa kota/kabupaten di Jawa Barat.Telur diekstraksi menggunakan pelarut-pelarut oraganik dan dideteksi secara KCKT. Hasil analisis residu nitrofuran pada 40 sampel telur menunjukkan bahwa 4 (10%) sampel positif residu furaltadon dengan kisaran 22,6 – 30,02 ng/g. Hasil analisis terhadap keberadaan residu dari sampel-sampel yang positif belum melampaui batasan maksimum residu (BMR) yang ditetapkan SNI (2001). Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa penggunaan yang dominan dari antibiotika nitrofuran untuk ayam petelur adalah furaltadon.
Kata Kunci: Nitrofuran, Residu, Telur Ayam Ras
PENDAHULUAN
Penggunaan antibiotika dalam bidang peternakan unggas hampir tidak dapat dihindari. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah ataupun mengatasi penyakit pada unggas yang ditimbulkan oleh mikroba khususnya bakteri. Salah satunya adalah penggunaan antibiotika golongan nitrofuran yang digunakan sebagai imbuhan pakan dan untuk mengobati infeksi pada ayam yang disebabkan Escerichia coli dan Salmonella spp.
Nitrofuran adalah kelompok obat hewan yang bersifat sebagai antibakteri. Antibiotika utamanya adalah nitrofurazon (NFZ), nitrofurantoin (NFT) furazolidon (FZD) dan furaltadon (FTD). Antibakteri ini efektif melawan Salmonella spp., coliform,
Mycoplasma spp., Coccidia spp. dan berbagai
protozoa lainnya. Nitrofuran biasanya digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan obat hewan lain secara oral maupun topikal dan dapat digunakan sebagai pemicu pertumbuhan atau meningkatkan efisiensi pakan. Namun pemakaian nitrofuran yang berlebihan maupun dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan residu baik dalam bentuk senyawa induknya maupun metabolitnya (MCCRACKENet al., 2001).
Nitrofuran diketahui bersifat mutagenik (JUNGet al., 1985) dan genotoksik (GONZALES
BORROTO et al., 2005). Dengan
mempertimbangkan segi bahayanya, maka penggunaan nitrofuran di banyak negara sangat dibatasi dan batas maksimum residu (BMR) umumnya berkisar antara 1 – 2 hingga 5 ng/g
(KUMAR et al., 1994), bahkan oleh beberapa
negara yang tergabung pada Uni Eropa melarang penggunaan furaltadon, nitrofurantoin and nitrofurazon sejak 1993 dan untuk furazolidon pada tahun 1995, diikuti oleh Australia pada tahun 1992 (PHONGVIVAT,
2004) dan FDA melalui AVMA pada tahun 2002 (FEDERAL REGISTER, 2002). Adapun
batas maksimum residu (BMR) nitrofuran yang diijinkan di Indonesia yang diperbolehkan dalam daging dan telur di Indonesia menurut SNI adalah 50 ng/g untuk nitrofuran dan 100 ng/g untuk furazolidon (SNI, 2000).
Kekhawatiran akan adanya residu nitrofuran pada produk pangan asal hewan khususnya telur ayam ras dan untuk mengetahui keamanannya bila dikonsumsi, maka perlu dilakukan deteksi residu nitrofuran pada sampel lapang yang berasal dari peternak, pasar maupun swalayan khususnya di beberapa lokasi (Bandung, Bogor dan Depok) di Jawa Barat.
MATERI DAN METODE Penyiapan sampel
Sebanyak 40 butir telur ayam yang dikumpulkan pada bulan Agustus 2006 dari Kabupaten dan Kotamadya Bandung, Kotamadya Depok dan Kabupaten Bandung. Secepatnya sampel-sampel tersebut dibuang kulitnya dan diblender (bukan dikocok), kemudian dibungkus dengan aluminium foil dan akhirnya disimpan pada suhu -18°C hingga saat analisis.
Ekstraksi sampel
Menjelang dianalisis, sampel dicairkan terlebih dulu dengan meletakkan di ruang gelap pada suhu ruang. Selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan metode yang diadopsi dari ANGELINI et al. (1997). Sampel telur ayam
diblender, ditimbang sebanyak 10 g, lalu asamkan hingga pH 6 dengan 10% asam asetat, tambahkan 30 ml asetonitril. Kemudian dihomogenkan dengan ultraturrax selama 3 menit, dilanjutkan dengan disentrifus selama 10 menit (2800 rpm), lalu diambil supernatan
vortex selama 3 menit, kemudian disentrifus selama 10 menit (2800 rpm). Pisahkan lapisan bawah dan lapisan atas. Ambil lapisan atas dan keringkan dengan rotary evaporator pada suhu
45°C hingga 1 ml, bilas dengan 2 ml asetonitril-heksan jenuh, masukkan bilasan ke residu 1 ml, lalu kocok dengan vortex selama 2 menit. Buang lapisan atas, lalu keringkan.
Penetapan kadar residu dan kondisi KCKT Ekstrak sampel kering dilarutkan dengan 200 µL larutan fase gerak yang digunakan. Kemudian sebanyak 40 µL larutan uji dan larutan baku campuran 0,5 mg/l; 0,25 mg/l; 0,5 mg/l; 1 mg/l. disuntikkan ke dalam alat KCKT (LC-20AD Prominence, Shimadzu Corp., Japan) yang dideteksi dengan dengan detektor
photo diode array (PDA) (SPD-M20A
Prominence, Shimadzu Corp., Japan) pada panjang gelombang 365 nm menggunakan kolom µ-Bondapak TM C18 (Waters, USA) dan fasa gerak campuran natrium asetat 0,01 M pH 4,5 dan asetonitril (HPLC grade) dan air (80 : 20) dengan kecepatan alir 1,2 ml/menit.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji perolehan kembali untuk analisis residu nitrofuran pada telur dengan metode yang telah dijelaskan di atas adalah 74,34% (nitrofurazon), 48,12% (nitrofurantoin), 50,52% (furazolidon) dan 57,37% (furaltadon). Hasil tersebut masih kurang memuaskan, penyebabnya kemungkinan adalah sifat matriks telur yang mengandung protein dan lemak tinggi yang mengikat kuat keberadaan residu dalam sampel, dimana hal itu salah satunya dapat diatasi dengan penggunaan solid phase extraction (SPE) seperti Extrelut-3 (YOSHIDA
dan KONDO, 1995). Deteksi limit untuk analisis
untuk masing-masing nitrofuran tersebut adalah 19,93 ng/g untuk nitrofurazon, 11,45 ng/g untuk nitrofurantoin, 19,89 ng/g untuk furazolidon dan 22,52 ng/g untuk furaltadon, dimana bila nilainya lebih rendah dari nilai tersebut, maka sampel tersebut akan dinyatakan sebagai tidak terdeteksi.
Sedangkan hasil analisis residu nitrofuran pada 40 sampel telur di 4 lokasi di Jawa Barat
pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa 4 (10%) sampel positif terhadap residu furaltadon dengan perincian 1 (2,5%) sampel dari Kabupaten Bogor dengan besaran residu 26,76 ng/g dan 3 (7,5%) berasal dari Kotif Depok dengan kisaran 22,6 – 30,02 ng/g. Sedangkan di Kodya Bandung serta Kabupaten Bandung tidak terdeteksi adanya residu nitrofuran. Jenis nitrofuran yang terdeteksi hanya furaltadon, salah satu alasannya kemungkinan karena senyawa tersebut paling stabil diantara yang lain pada penyimpanan -18°C sebagaimana yang dinyatakan KUMAR et al. (1994) atau
disebabkan telur yang diproduksi berasal dari ayam yang kurang dari 5 hari mendapat pakan yang mengandung nitrofuran sebagaimana yang dikemukakan oleh BEEK dan AERTS
(1985) yang menyatakan bahwa ayam yang mendapat pakan yang mengandung 30 mg furazolidon, 5 hari pascapemberian furazolidon masih terdeteksi adanya residu tersebut.
Sebagian besar (90%) dari sampel yang dianalisis tidak terdeteksi adanya residu nitrofuran jenis manapun, hal itu kemungkinan karena senyawa tersebut tidak digunakan atau akibat ketidakstabilan residu tersebut dalam bentuk senyawa induk sebagaimana hasil penelitian BOTSOGLOU (1988) yang mendapatkan adanya penurunan kadar furazolidon sebesar 44% pada penyimpanan -20ºC selama 55 hari, sementara dalam bentuk metabolitnya 3-amino 2 oxalidinon (AOZ) tidak ada perubahan.
Metabolit AOZ keberadaannya lebih stabil dibandingkan senyawa induknya (furazolidon) dan dapat bertahan hingga 40 hari, dimana
pada pemberian 300 mg/kg dengan satu jenis nitrofuran selama 1 minggu akan menimbulkan residu dalam bentuk senyawa induk dengan rasio albumin terhadap kuning telur 0,7 (furazolidon), 0,82 (furaltadon), 0,83 (nitrofurantoin) dan 0,31 (nitrofurazon) (MCCRACKEN dan KENNEDY, 2007). Namun, untuk mendeteksi metabolit nitrofuran, metode deteksinya harus menggunakan liquid chromatograph-mass spectrometry (LC-MS)
(EDDER, 2003).
Hasil analisis residu dari sampel telur untuk sampel-sampel yang positif belum melampaui batas maksimum residu (BMR) yang ditetapkan SNI (2001) yaitu 50 ng/gr, sehingga masih relatif aman untuk dikonsumsi manusia. Disamping itu terlihat bahwa penggunaan terbesar dari jenis antibiotika golongan nitrofuran untuk ayam petelur adalah furaltadon.
KESIMPULAN
Hasil analisis residu nitrofuran pada 40 sampel telur yang dikumpulkan di beberapa lokasi di Jawa Barat memperlihatkan bahwa 4 (10%) sampel positif residu furaltadon dengan kisaran 22,6 – 30,02 ng/g dan mengindikasikan bahwa jenis antibiotika nitrofuran yang digunakan untuk ayam petelur adalah furaltadon. Hasil analisis residu dari sampel-sampel yang positif belum melampaui batasan maksimum residu (BMR) yang ditetapkan SNI (2001) yaitu 50 ng/g.
Tabel 1. Hasil analisis residu nitrofuran pada sampel telur
Jumlah sampel positif terhadap residu (konsentrasi, ng/g) Lokasi Jumlah sampel swalayan Asal Asal pasar tradisional
NFZ NFT FZ FT Kabupaten Bandung 9 4 5 tt tt tt tt Kodya Bandung 11 5 6 tt tt tt tt Kotif Depok 12 6 6 tt tt tt 3 (22,6 – 30,3) Kabupaten Bogor 8 3 5 tt tt tt 1 (26,76) Total 40 18 22 tt tt tt 4 (22,6 – 30,3)
tt: tidak terdeteksi untuk nitrofurazon (NFZ) ≤ 19,93 ng/g; nitrofurantoin (NFT) ≤ 11,45 ng/g; furazolidon (FZ) ≤ 19,89 ng/g dan furaltadon (FT) ≤ 22,52 ng/g
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner beserta jajarannya yang telah memfasilitasi penelitian ini, juga Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung, Dinas Pertanian Kodya Bandung, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, dan Dinas Pertanian Kodya Depok khususnya KaSubdit Peternakan yang telah membantu dan mengijinkan dalam pelaksanaan pengumpulan sampel lapang. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada rekan-rekan di Kelti Toksikologi yang telah membantu dan memberi masukan dalam pelaksanaan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
ANGELINI,N.M,O.D.RAMPINI and H.MUGICA H.
1997. Liquid chormatographic determination of nitrofuran residues in bovine muscle tissues. J. AOAC Int. 80(3): 481 – 485.
BOTSOGLOU, N.A. 1988. Determination of
furazolidone in eggs by high performance chromatography. J. Agric. Food Chem. 36: 1224 – 1227.
BEEK,W.M.andM.M.AERTS. 1985. Determination
of furazolidone residues in eggs by HPLC followed by confirmation with a diode-array UV/Vis detector. Z Lebensm Unters Forsch.
180(3): 211 – 214.
EDDER,P., S.VARGAS,D.ORTELLI and C.CORVI. 2003. Analysis of nitrofuran metabolites in food by high-performance liquid chromatography with tandem mass spectrometry detection. Clin Chem Lab Med.
41(12): 1608 – 1614.
FEDERAL REGISTER. 2002. Topical nitrofurans: extralabel animal drug use: order of prohibition. Federal Register. 67(25): 5470 –
5471. http://www.access.gpo.gov/su_docs/ fedreg/frcont02.html. (26 Januari 2005).
GONZALES BORROTO,J.I.,G.P.MACHADO,A.CREUS AND R. MARCOS Comparative genotoxic evaluation of 2-furylethylenes and 5-nitrofurans by using the comet assay in TK6 cells. Mutagenesis. 2005 May; 20(3): 193 – 197.
KUMAR L., J.R. TOOTHILL and K.B. HO. 1994.
Determination of nitrofuran residues in poultry muscle tissues and eggs by liquid chromatography. J. AOAC Int. 1994 May –
Jun; 77(3): 591 – 595.
JUNG R,J.Y.LE,F.WENGENMAYER,E.WOLF andM. KRAMER. 1985. Mutagenicity studies of a
carcinogenic nitrofuran and some analogues.
Biomed Biochim Acta. 44(3):485 – 492. MORRIS,J.E.,J.M.PRICE,J.J.LALICH andR.J.STEIN.
1969. The carcinogenic activity of some 5-nitrofuran derivatives in the rat. Cancer Res.
1969 29(12): 2145 – 2156.
MCCRACKEN R.J., D.E. SPENCE, S.D. FLOYD and D.G. KENNEDY. 2001. Evaluation of the
residues of furazolidone and its metabolite, 3-amino-2-oxazolidinone (AOZ) in eggs. Food Addit Contam. 18(11): 954 – 959.
MCCRACKEN R.J. and D.G. KENNEDY. 2007.
Detection, accumulation and distribution of nitrofuran residues in egg yolk, albumen and shell. Food Addit. Contam. 24(1): 26 – 33.
PHONGVIVAT. 2004. Nitrofuran case study:
Thailand’s experiences. The Joint FAO/WHO Technical Workshop on Residues of Veterinary Drugs without ADI/MRL. Bangkok, Thailand, in August 2004. http://www.fao.org/documents/show_cdr.asp? url_file=/docrep/008/y5723e/y5723e0n.htm. (24 Januari 2006).
SNI. 2001. Batas maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian.
YOSHIDA, K. and F. KONDO. 1995. Liquid chromatographic determination of furazolidone in swine serum and avian egg. J. AOAC Int.
DISKUSI Pertanyaan:
Apa kesimpulan hasil penelitian dan seberapa bahayanya?
Jawaban:
Disimpulkan bahwa hasil nitrofuran belum banyak digunakan sebagai obat hewan. Meski dari sampel ditemukan positif namun dosis di bawah ambang batas. Dalam dosis tertentu dapat menyebabkan tumor kelenjar susu dan ovary pada tikus percobaan.